I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2024 ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM KELAS i DI SEKOLAH DASAR NEGERI 4 ABUAN I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. ITP Markandeya Bali Bangli. Indonesia agungdedi04@gmail. com1, puturisma210403@gmail. Abstrak Penelitian ini menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas i di Sekolah Dasar Negeri 4 Abuan. Kurikulum Merdeka, sebagai respons terhadap perubahan dalam pembelajaran akibat pandemi COVID-19, memberikan kebebasan kepada guru dan peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas mereka. Guru memiliki fleksibilitas dalam pemilihan metode, materi, dan penilaian, sementara peserta didik diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi pembelajaran di luar kelas. Integrasi mata pelajaran IPA di kelas i bertujuan untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang alam dan dunia sekitar. Namun, implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan kesiapan guru yang maksimal dan peran mereka sebagai fasilitator pembelajaran. Penilaian dalam kurikulum ini mencakup penilaian formatif sepanjang pembelajaran dan penilaian sumatif dengan format digital. Kurikulum Merdeka menciptakan pembelajaran yang lebih dinamis, mengaktifkan peserta didik, dan mendorong kreativitas, dengan harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih Kata Kunci : Kurikulum Merdeka. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sekolah Dasar Abstract This research analyzes the implementation of the Merdeka Curriculum in class i Natural Sciences (IPA) learning at the Abuan 4 State Elementary School. The Merdeka Curriculum, as a response to changes in learning due to the COVID-19 pandemic, gives teachers and students the freedom to develop their potential and creativity. Teachers have flexibility in choosing methods, materials and assessments, while students are given the freedom to explore learning outside the classroom. The integration of science subjects in class i aims to develop a deep understanding of nature and the world around us. However, implementing the Independent Curriculum requires maximum teacher readiness and their role as learning facilitators. Assessment in this curriculum includes formative assessments throughout learning and summative assessments in digital format. The Merdeka Curriculum creates more dynamic learning, activates students and encourages creativity, with the hope of improving the quality of education in a more sustainable Keywords : Merdeka Curriculum. Natural Sciences (IPA). Elementary School PENDAHULUAN Kurikulum adalah komponen utama dalam proses pendidikan disemua tingkat pendidikan di Indonesia. Sejak tahun 1947, sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan kurikulum yang dimulai dengan kurikulum yang sederhana, hingga mencapai puncaknya pada Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2024 tahun 201 3. Perubahan kurikulum ini sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin digital (Muhsam et al. , 2. Meskipun terjadi pergantian kurikulum dari waktu ke waktu, tujuannya tetap sama, yaitu untuk memperbaiki kurikulum sebelumnya. Salah satu bentuk perbaikan terbaru adalah Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kurikulum Merdeka ini lahir sebagai respons terhadap perubahan drastis dalam pembelajaran yang disebabkan oleh pandemi COVID-1 9. Konsep inti dari Kurikulum Merdeka adalah memberikan peserta didik kebebasan untuk mengembangkan bakat dan minat mereka sendiri. Awalnya. Kurikulum Merdeka diterapkan secara terbatas di beberapa sekolah penggerak, tetapi sekarang telah diperluas untuk diterapkan di seluruh jenjang sekolah, dengan penyesuaian sesuai dengan kesiapan dan kondisi masing-masing sekolah (Rahayu et al. , 2. Dalam Kurikulum Merdeka, peserta didik memiliki kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan potensi dan kemampuan mereka, karena pendekatan ini mendorong pembelajaran yang kritis, berkomitmen, dan berorientasi pada penerapan nyata (Kemdikbud. RI. Kurikulum Merdeka merupakan perubahan kurikulum yang menjawab tantangan pendidikan di era saat ini. Teknologi yang semakin berkembang cepat menjadikan ancaman bagi setiap individu untuk mampu mengimbangi perkembangan teknologi yang terjadi sehingga hal tersebut juga mempengaruhi terhadap dunia pendidikan (Marisa, 2. Hadirnya Kurikulum Merdeka juga diharapkan dapat membantu pemulihan pendidikan akibat pandemic Covid 19 serta mampu menyempurnakan implementasi kurikulum 2013 (Angga et al. , 2. Karena Kurikulum Merdeka diharapkan menjadi solusi learning loss sehingga peserta didik berkesempatan untuk dapat mengembangkan dan menumbuhkan kemampuan sesuai yang diminati (Jusuf et al. , 2. Kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan Kurikulum Merdeka yang menuntut agar peserta didik menjadi mandiri serta memberikan kebebasan dalam mengakses ilmu yang diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun non formal (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, guru memiliki kebebasan untuk memilih format, pengalaman, dan materi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Di sisi lain, peserta didik diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai aspek pembelajaran, tidak terbatas hanya pada ruang kelas, tetapi juga di luar kelas. Salah satu inovasi signifikan dari Kurikulum Merdeka adalah penggabungan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di jenjang Sekolah Dasar (SD) kelas i. IPA menjadi salah satu mata pelajaran inti yang harus dikuasai oleh peserta didik (Fitriyah & Wardani, 2. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sering disebut sebagai Mata Pelajaran IPA di Sekolah Dasar telah diajarkan sejak kelas i. Materi pembelajaran IPA di SD mencakup berbagai aspek mengenai alam dan makhluk hidup. Mata pelajaran ini memiliki peran penting dalam membantu manusia dalam memecahkan masalah sehari-hari dan juga memahami lingkungan sekitar agar dapat menjaganya dengan berkelanjutan. Menurut Iskandar . IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam alam. Dalam konteks pembelajaran di SD. Ilmu Pengetahuan Alam bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisir tentang lingkungan sekitar. Pengetahuan ini diperoleh melalui pengalaman yang melibatkan serangkaian proses ilmiah, seperti penyelidikan, penyusunan, dan penyajian gagasan-gagasan. Dengan demikian, pembelajaran IPA di SD bukan hanya sekadar memahami fakta-fakta, tetapi juga mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang alam dan dunia sekitar, serta keterampilan ilmiah yang dapat membantu siswa dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah sehari-hari. Hasil observasi di lapangan mengungkapkan adanya beberapa permasalahan terkait penerapan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dalam Konteks Kurikulum Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2024 Merdeka. Salah satu permasalahan yang muncul berkaitan dengan persiapan materi, media, dan metode pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Dalam beberapa kasus, persiapan tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pembelajaran IPA. Penerapan pembelajaran IPA dalam Kurikulum Merdeka membutuhkan kesiapan guru yang maksimal. Selain hanya mengandalkan buku pegangan, guru perlu mampu mengembangkan pendampingan lainnya sebagai pelengkap pembelajaran. Khususnya dalam hal kegiatan pembelajaran, guru harus memiliki kemampuan untuk secara mandiri mengembangkan kreativitas mereka dalam proses pembelajaran IPA. Dengan kata lain, penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran IPA membutuhkan upaya tambahan dari guru, baik dalam hal persiapan materi, penggunaan media yang tepat, maupun pengembangan metode pembelajaran yang inovatif. Guru harus menjadi fasilitator yang mampu mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran IPA agar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam konteks Sekolah Dasar Negeri 4 Abuan, implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran IPA kelas i menjadi aspek yang menarik untuk diteliti. Pentingnya pemahaman tentang bagaimana kurikulum ini diterapkan, tantangan yang dihadapi oleh guru, serta dampaknya terhadap hasil pembelajaran peserta didik, menjadikan penelitian ini relevan dan bermanfaat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terkait implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas i di Sekolah Dasar Negeri 4 Abuan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang proses implementasi ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga untuk perbaikan pendidikan di tingkat dasar dan kontribusi positif terhadap perkembangan kurikulum di Indonesia. Oleh karena itu penelitian ini akan mendeskripsikan tentang bagaimana mengimplementasikan kurikulum merdeka pada pembelajaran IPA kelas i di sekolah dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memahami fenomena yang terjadi. Subjek penelitian melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa kelas i di SDN 4 Abuan. Pemilihan subjek tersebut didasarkan pada tujuan penelitian, yaitu untuk memahami implementasi pembelajaran IPA dalam Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Tabel 1. Responden Responden Keterangan Kepala Sekolah Guru Siswa kelas i Lokasi penelitian dilakukan di SDN 4 Abuan. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrumen berupa lembar wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumeninstrumen ini digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar. Dalam analisis data, peneliti menerapkan tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan . oncluding drawin. Proses penelitian melibatkan beberapa tahap, termasuk tahap pra-persiapan, tahap persiapan, tahap pelaksanaan penelitian, analisis data, dan tahap akhir. Penelitian ini memiliki fokus yang jelas pada pemahaman tentang bagaimana Kurikulum Merdeka diimplementasikan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2024 Metode kualitatif deskriptif yang digunakan cocok untuk menggali pemahaman mendalam tentang fenomena ini dan menganalisis data yang diperoleh secara mendetail. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Kurikulum Merdeka Penelitian ini menemukan bahwa sekolah yang menjadi objek penelitian telah berhasil mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, dan sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah penggerak dalam menerapkan kebijakan ini. Dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, guruguru diberikan kebebasan yang signifikan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Mereka memiliki fleksibilitas dalam pemilihan metode, materi pembelajaran, dan bahkan dalam proses penilaian, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Hal yang menarik adalah bahwa aturan pelaksanaan Kurikulum Merdeka tidak memberlakukan kriteria tertentu, namun cukup berfokus pada sekolah yang memiliki niat dan minat untuk menjalankan Kurikulum Merdeka. Selain itu, kepala sekolah atau madrasah yang ingin mengimplementasikan Kurikulum Merdeka diminta untuk mempelajari materi yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai konsep Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan komitmen dalam memahami dan menjalankan kebijakan tersebut dengan baik. Selain itu. Kurikulum Merdeka ini memiliki penyusunan yang terstruktur, dimulai dari tahun pertama . elas 1 dan . , tahun kedua . elas 2 dan . , dan tahun ketiga . elas 3 dan . Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini telah mengikuti berbagai proses yang diperlukan, termasuk sosialisasi Kurikulum Merdeka untuk memahami pembaruan dalam kurikulum, serta melaksanakan kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai sarana untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengimplementasikannya. Penelitian ini mencerminkan keseriusan sekolah dan guru dalam menjalankan Kurikulum Merdeka, yang memberikan ruang untuk kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran, dan menunjukkan komitmen mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dalam konteks pelaksanaan Kurikulum Merdeka, guru-guru di Sekolah Dasar Negeri 4 Abuan juga menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memahami dan menjalankan kebijakan ini dengan baik. Kurikulum Merdeka tidak memberlakukan kriteria tertentu dalam pelaksanaannya, melainkan fokus pada sekolah yang memiliki niat dan minat untuk mengimplementasikannya. Sebelumnya, kepala sekolah atau madrasah yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka diminta untuk mempelajari materi yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai konsep Kurikulum Merdeka. Ini mencerminkan komitmen dalam memahami dan menjalankan kebijakan tersebut dengan baik. Selanjutnya. Kurikulum Merdeka membawa perubahan dalam penyusunan materi kurikulum, di mana IPA dan IPS digabung menjadi satu mata pelajaran yang disebut IPAS. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk belajar mandiri dan berkolaborasi dalam pembelajaran, seperti yang tercermin dalam diskusi kelompok dan presentasi. Pendekatan pembelajaran ini sejalan dengan profil pelajar Pancasila yang mencakup aspek mandiri, gotong royong, dan berpikir Guru memainkan peran kunci dalam mendesain pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka, dan modul pembelajaran menjadi alat bantu yang penting dalam proses ini. Kurikulum Merdeka juga mendorong penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran, seperti penilaian menggunakan Google Forms. Hal ini mencerminkan upaya untuk memanfaatkan perkembangan zaman sebagai alat bantu dalam meningkatkan kualitas Penilaian formatif sepanjang pembelajaran dan penilaian sumatif di akhir semester menjadi bagian dari evaluasi yang lebih berkelanjutan. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2024 Secara keseluruhan, implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri 4 Abuan menciptakan pembelajaran yang lebih dinamis, mengaktifkan peserta didik, dan mendorong kreativitas. Diharapkan bahwa hal ini akan berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan yang lebih berkelanjutan di tingkat dasar. Implementasi Pembelajaran IPA dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Dalam Kurikulum Merdeka, terdapat integrasi antara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang membentuk mata pelajaran baru yang disebut IPAS, seperti yang telah dijelaskan oleh Agustina et al. Pembelajaran IPAS di kelas i dilaksanakan dalam satu semester dengan pembelajaran IPA dan IPS yang digabungkan. Ini merupakan perubahan dari kurikulum sebelumnya di mana IPA dan IPS dipisahkan menjadi dua semester yang berbeda. Kebebasan yang diberikan oleh Kurikulum Merdeka kepada guru dan siswa adalah salah satu karakteristik utama. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang menyatakan bahwa guru dan siswa memiliki kebebasan untuk berinovasi, belajar mandiri, dan menjadi kreatif dalam pembelajaran, seperti yang telah diungkapkan oleh Sherly dkk. (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Pembelajaran IPAS juga mendorong peserta didik untuk belajar mandiri dan bekerja dalam kelompok, seperti yang terlihat dalam diskusi kelompok dan presentasi. Hal ini sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang mencakup aspek mandiri, gotong royong, dan berpikir kritis. Guru memiliki peran penting dalam mendesain pembelajaran yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka, dan modul pembelajaran menjadi alat bantu yang penting dalam proses ini, seperti yang diungkapkan oleh Menurut syahrir (Wijayanti dkk. , 2. Kurikulum Merdeka juga memungkinkan guru untuk berperan sebagai fasilitator dan peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran yang berpusat pada mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih santai dan menyenangkan, seperti yang telah dijelaskan oleh Prianti dkk. Dalam keseluruhan. Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas dan kebebasan dalam pembelajaran, yang bertujuan untuk meningkatkan pengembangan pengetahuan dan keterampilan esensial peserta didik, yang sesuai dengan tingkat mereka. Pembelajaran IPA dan IPS yang tergabung menjadi IPAS dalam Kurikulum Merdeka menunjukkan ciri-ciri pembelajaran yang lebih dinamis dan melibatkan peserta didik secara aktif. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai fasilitator, memandu peserta didik selama proses belajar, dan memberikan bantuan saat peserta didik menghadapi kesulitan. Hal ini menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih nyata dan mendalam. Selain itu, pembelajaran sering kali dilakukan dalam kelompok, memungkinkan peserta didik berkomunikasi dan berkolaborasi dengan teman sejawat mereka. Evaluasi pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka melibatkan penilaian formatif yang dilakukan sepanjang proses pembelajaran, dan juga penilaian sumatif di akhir semester ganjil dan Penilaian ini telah beralih ke format digital, seperti Google Forms, yang mencerminkan penyesuaian dengan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, penting untuk dicatat bahwa penilaian tengah semester (PTS) telah dihapuskan dalam Kurikulum Merdeka, menggarisbawahi perubahan dalam pendekatan penilaian dan penekanan pada evaluasi yang lebih berkelanjutan. Secara keseluruhan, dalam Kurikulum Merdeka, guru berperan dalam mendukung peserta didik untuk belajar secara aktif dan kreatif, menjadikan pembelajaran lebih menarik, dan mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, integrasi teknologi dalam proses pembelajaran juga menunjukkan upaya untuk memanfaatkan perkembangan zaman sebagai alat bantu dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka I Ketut Dedi Agung Susanto Putra1. Putu Risma Widiari2 E-ISSN: 2798-091X P-ISSN: 2685-7928 Vol. No. Desember 2024 SIMPULAN Dalam konteks implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas i di Sekolah Dasar Negeri 4 Abuan, dapat disimpulkan bahwa kurikulum ini memberikan kebebasan kepada guru dan peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas mereka. Guru memiliki fleksibilitas dalam memilih format, materi, dan metode pembelajaran, sementara peserta didik diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi pembelajaran di luar kelas. Integrasi mata pelajaran IPA di kelas i memungkinkan peserta didik untuk tumbuh sesuai dengan kemampuan mereka, dengan tujuan mengembangkan pemahaman mendalam tentang alam dan dunia sekitar. Namun, implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan kesiapan guru yang maksimal, dengan perluasan peran mereka sebagai fasilitator pembelajaran. Penilaian dalam kurikulum ini mencakup penilaian formatif sepanjang pembelajaran dan penilaian sumatif dengan format digital, mencerminkan penyesuaian dengan teknologi informasi. Dalam keseluruhan. Kurikulum Merdeka menciptakan pembelajaran yang lebih dinamis, mengaktifkan peserta didik, dan mendorong kreativitas, dengan harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA