Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HUBUNGAN KEKERASAN VERBAL ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR Azizurrohman1. Kadek Cahya Utami*1. Ni Luh Putu Shinta Devi1. Luh Mira Puspita1 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Udayana *korespondensi penulis, email: cahyautami@unud. ABSTRAK Kekerasan verbal merupakan tindakan negatif yang sering dilakukan orang tua terhadap anak. Tindakan ini berdampak buruk karena dapat menghambat pola pikir positif dan kreatif pada anak. Aspek pola pikir tersebut sangat berkaitan dengan perkembangan kognitif, hambatan yang terjadi pada proses berpikir pada anak akhirnya akan mengganggu perkembangan kognitifnya secara keseluruhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kekerasan verbal dengan perkembangan kognitif anak. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan pendekatan yang digunakan yaitu cross sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proportional stratified random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 70 orang. Responden diambil menggunakan teknik acak sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi penelitian ini yaitu: tinggal bersama orang tua, mendapatkan izin dari wali kelas. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah tidak hadir saat pengumpulan data dengan alasan apapun. Berdasarkan hasil uji statistik spearman rank didapatkan koefisien korelasi -0. =-0,. , menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna dengan kekuatan hubungan yang lemah dan arah negatif antara kekerasan verbal orang tua dengan perkembangan kognitif anak . =0,. Arah hubungan negatif memiliki arti bahwa semakin tinggi kekerasan verbal yang dilakukan orang tua maka semakin rendah perkembangan kognitif anak. Orang tua diharapkan mengetahui bentuk dan dampak dari kekerasan verbal sehingga dapat mengurangi tindakan kekerasan verbal yang dilakukan pada anak. Kata kunci: anak usia sekolah, kekerasan verbal, perkembangan kognitif ABSTRACT Verbal abuse is a negative behavior frequently perpetrated by parents toward their children. This action has detrimental effects as it can inhibit a child's positive and creative mindset. These cognitive aspects are closely linked to overall development. thus, disruptions in a child's thinking process will ultimately hinder their cognitive growth. This study aims to examine the relationship between verbal abuse and children's cognitive The research employs a quantitative method with a cross-sectional approach. A proportional stratified random sampling technique was used to select 70 respondents based on specific inclusion and exclusion criteria. The inclusion criteria required children to live with their parents and have permission from their homeroom teacher, while the exclusion criteria included absence during data collection for any reason. Based on the Spearman Rank statistical test, the results showed a correlation coefficient of . = -0,. , indicating a significant but weak relationship with a negative direction between parental verbal abuse and children's cognitive development . = 0,. The negative direction implies that higher levels of parental verbal abuse are associated with lower levels of cognitive development in children. It is expected that parents become more aware of the forms and impacts of verbal abuse to reduce such actions toward their children. Keywords: cognitive development, school-age children, verbal abuse Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 PENDAHULUAN Anak usia sekolah dasar berada pada rentang usia 6 hingga 12 tahun, sebuah periode yang krusial bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang terjadi secara sangat cepat (Rizal, 2. Masa ini, yang sering disebut sebagai middle childhood, dianggap sebagai usia yang sangat matang bagi anak untuk belajar karena mereka cenderung lebih mudah dididik dan dibandingkan fase kehidupan lainnya. Salah satu aspek yang sangat fundamental dalam fase ini adalah perkembangan kognitif, mengingat anak lebih banyak terlibat dalam aktivitas yang berkaitan erat dengan proses berpikir harian (Prijadi et al. , 2. Kemampuan berkembang secara optimal akan membuat anak mampu menangkap ide-ide kompleks, mengikuti pelajaran dengan lebih baik, serta memperluas pemahaman mereka tentang dunia di sekitarnya (Pasalli et al. , 2. Selain itu, seiring dengan kemajuan kognitif tersebut, kemandirian anak juga akan memungkinkan mereka untuk mengelola waktu dan menyelesaikan tugas-tugas secara lebih efektif (Rahmadani et al. Dallam false perkembalngan alnak, lingkungaln keluargal merupalkan tempalt alnak mulali belaljar dan menerimal pengasuhaln dalri oralng tual. Polal alsuh yalng diterapkaln oleh oralng tual memegalng peralnan penting kalrena oralng tual dan keluargal merupalkan lingkungaln pertalma balgi alnak (Prijadil et al. , 2. Pendidikaln dall am kelualrgal alkan membalntu alnak untuk merallngsang perkemballngan kognitif allnak (Pasallil et al. , 2. Lingkungaln kelualrga yalng mendildik, penuh kalsih, melndukung, dan pelnuh perhaltian alkan membalwa dalmpak posiltif balgi perkembalngan kognitif Sedalngkan, lingkungaln kelualrga yalng memiliki balnyak malsalah, tidalk aldanya kehalngataln, sertal adalnya kekeralsan fisik malupun verball dalpat memberikaln dalmpak perkembalngan kognitif alnak. Kekerasan verbal didefinisikan secara Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 operasional sebagai tindakan lisan yang melibatkan kata-kata atau bahasa yang bersifat merendahkan, seperti mencela, membentak, menghina, memberikan label negatif . , hingga mengintimidasi anak dengan ancaman (Cahyani et al. Tindakan ini sering kali dipicu oleh stres pengasuhan, terutama di area urban, dimana tingginya stres yang dialami orang tua berkorelasi positif dengan peningkatan tindakan kekerasan verbal terhadap anak (Rahmadani et al. , 2. Kekerasan lisan yang dilakukan secara terus-menerus ini pada akhirnya akan menghambat pola pikir positif dan kreatif, yang secara keseluruhan kognitif anak (Pasalli et al. , 2. Jumlalh kalsus kekeralsan verbal palda alnak di Indonesial yang dilaporkan berdalsarkan dalta dari Komisil Perlindunganl Anakl Indonesial (KPAIl, 2. , menyatakan sebanyak 62% anak Indonesia yang berusia dibawah 18l talhun telalh mengallami kekeralsan verball selalma palndemi Covild19. Adapun jenis kekerasan verbal yang paling seringl diterimal olehl alnak sepertil dimalrahi, dibalndingkan-bandingkan dengaln alnak yalng lalin, serta dibentalk. Dalta Sisteml Informasil Online Perlindunganl Perempuanl daln Alnak (SIlMFONI-PPA. palda talhun 2021-2022 di Provinsi Bali tercatat sebanyak 368 kasus kekerasan pada anak dimana terdapat 109 korban laki-laki dan 259 korban perempuan. Diantara jumlah kekerasan tersebut terdapat 112 korban mengalami kekerasan psikis yang salah satunya disebabkan kekerasan verbal. Studi pendahuluan yang dilakukan di salah satu SD Negeri di Kota Denpasar dalam hal ini wawancara terhadap 12 orang siswa, didapatkan hasil bahwa orang tua mengarah pada kekerasan verbal. Sebagian besar anak-anak yang diwawancara mengatakan bahwa orang tua sering marah ketika hasil ujian anak jelek, ketika bermain game online orang tua melarang dengan nada yang keras dan sampai menyita Selain itu, anak juga mengatakan bahwa orang tua tidak jarang atau bahkan Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 sering membandingkan anak dengan anak Dari hasil wawancara terhadap siswa tersebut, diketahui juga bahwa anak yang orang tuanya tidak pernah atau jarang melakukan kekerasan verbal lebih aktif ketika melakukan tanya jawab atau diskusi di kelas. Berdasarkan data tingginya prevalensi kasus kekerasan verbal yang terjadi di Indonesia serta dampak destruktif terhadap pola pikir anak yang mungkin diakibatkan karena tindakan kekerasan verbal, maka METODE PENELITIAN Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian (KEP) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan nomer kelaikan 1230/UN14. VII. 14/LT/2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif korelatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerasan verbal orang tua terhadap perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar di SD Negeri Kota Denpasar. Responden dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6. Responden menggunakan teknik acak sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi penelitian ini yaitu: tinggal bersama orang tua serta diizinkan menjadi responden penelitian oleh wali kelas. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah tidak hadir saat pengumpulan data dengan alasan apapun. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei 2024. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan 3 kuesioner yang harus diisi oleh anak. Kuesioner yang digunakan yaitu kuesioner karateristik responden, kuesioner kekerasan verbal, serta kuesioner perkembangan kognitif. Kuesioner kekerasan verbal telah dilakukan uji validitas serta reliabilitas dengan hasil hasil r hitung > r tabel . =0,449-0,673. r tabel=0,2. serta nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,710 (CronbachAos Alpha > 0,. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner kekerasan verbal yang digunakan dalam penelitian ini sudah valid serta reliabel. Skoring untuk kuesioner kekerasan verbal terdiri dari skoring 0-10 yang menggambarkan indikator Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hal tersebut. Selain itu, hasil temuan fenomena di lokasi studi pendahuluan didapatkan bahwa terdapat adanya tanda-tanda anak mengalami tindakan kekerasan verbal dari orang tua, seperti dibentak, dimarahi, dan juga dibandingkan dengan anak lalin. Malka dalri itu, penelitil inginl mengetalhui apalkah kekerasan verbal pada interaksi orang tua dan anak memiliki hubungan terhadap perkembangan kognitif anak. kekerasan verbal seperti, mencela, membentak, membandingkan, intimidasi, mempermalukan anak, serta sikap menolak. Kategori skoring terdiri dari 0=tidak ada kekerasan verbal, 13=ringan, 4-6=sedang, 7-10=berat. Perkembangan kognitif dilihat dari indikator perkembangan tahap operasional konkret, yaitu pengurutan, klasifikasi, descentring, reversibility, konservasi, serta penghilangan sifat egosentrisme. Kuesioner perkembangan kognitif telah dilakukan uji validitas serta reliabilitas dengan hasil r hitung > r tabel . =0,264-0,779. r tabel=0,2. serta nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,628 (CronbachAos Alpha > 0,. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa kuesioner perkembangan kognitif yang digunakan dalam penelitian ini sudah valid serta reliabel. Skoring untuk kuesioner perkembangan kognitif terdiri dari skoring 0-10 dengan kategori skor <3=kurang, 3-7=cukup, >7=baik. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan utama, yaitu analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden, kategori kekerasan verbal, dan tingkat perkembangan kognitif anak dalam bentuk distribusi frekuensi serta Khusus untuk variabel usia, data disajikan menggunakan nilai median karena distribusi data. Selanjutnya, dilakukan analisis bivariat untuk menguji hubungan antara kekerasan verbal orang tua dan perkembangan kognitif anak dengan menggunakan uji korelasi Sparman Rank. Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 HASIL PENELITIAN Hasil dari penelitian dijelaskan berupa tabel berikut ini: Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Anak pada Mei 2024 . Karakteristik Responden Usia Median . 11,0 . Tabel 1. menunjukkan bahwa nilai median pada usia anak di SD Negeri Kota Denpasar yaitu 11 tahun dengan usia Minimal Maksimal termuda anak yaitu 9 tahun dan usia tertuanya 13 tahun. Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Tingkat Pendidikan, dan Hubungan Keluarga pada Mei 2024 . Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tidak Sekolah Tingkat Pendidikan SMP Ibu SMP Perguruan Tinggi Tingkat Pendidikan SMP Ayah SMP Perguruan Tinggi Hubungan dengan Kandung Ibu Tiri Hubungan dengan Kandung Ayah Tiri Frekuensi . Tabel 2 menunjukkan bahwa jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan memiliki proporsi yang sama yaitu masingmasing berjumlah 35 orang . ,0%). Hasil penelitian juga menunjukkan ba hwa sebagian besar tingkat pendidikan ibu dan ayah adalah perguruan tinggi yaitu sebanyak 47 orang . ,1%). Ditinjau dari hubungan dengan orang tua, menunjukkan bahwa anak memiliki status hubungan kandung dengan ibu sebanyak 68 orang . ,1%) dan status hubungan kandung dengan ayah sebanyak 69 orang . ,6%). Tabel 3. Gambaran Kategori Kekerasan Verbal Orang Tua pada Mei 2024 . Variabel Kategori Frekuensi . Tidak Ada Ringan Kekerasan Verbal Sedang Berat Berdasarkan Tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa mayoritas anak mendapatkan kekerasan verbal dari orang Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Persentase 4,3% 44,3% 32,9% 18,6% tua dalam kategori ringan, yaitu sebanyak 31 orang . ,3%). Tabel 4. Gambaran Kategori Perkembangan Kognitif Anak pada Mei 2024 . Variabel Kategori Frekuensi . Kurang Perkembangan Cukup Kognitif Baik Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa distribusi mayoritas perkembangan kognitif Persentase 50,0% 50,0% 1,4% 1,4% 1,4% 28,6% 67,1% 1,4% 1,4% 30,0% 67,1% 97,1% 2,9% 98,6% 1,4% Persentase 11,4% 67,1% 21,4% anak adalah perkembangan kognitif cukup, yaitu sebanyak 47 orang . ,1%). Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 Tabel 5. Analisis Hubungan Kekerasan Verbal Orang Tua dengan Perkembangan Kognitif Anak pada Mei 2024 . Variabel Kekerasan Verbal Perkembangan Kognitif p-value 0,021 -0,275 Berdasarkan Tabel 5, diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kekerasan verbal dan perkembangan kognitif pada anak . value=0,021. r=0,. Nilai r -0,275 menunjukkan hubungan yang lemah dan nilai r yang kekerasan verbal dari orang tua maka semakin kurang perkembangan kognitif PEMBAHASAN Jumlah responden laki-laki dan perempuan menunjukkan proporsi yang sama banyak. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh proporsi keseluruhan siswa dan siswi yang memiliki jumlah Berdasarkan Kemendikbud . , sekolah ini memiliki jumlah siswa laki-lakil sebanyakl 215 oralng daln siswi perempuanl sebanyakl 218 oralng. Distribusi gender yang merata ini menjadi karakteristik psikologis dalam merespon Menurut Sari dan Utami laki-laki menunjukkan sifat yang lebih agresif dan resisten terhadap aturan dibandingkan anak Karakteristik khas anak lakilaki yang sering dianggap sulit diatur sering kali menjadi pemicu utama munculnya kekesalan orang tua yang kemudian bermanifestasi dalam bentuk kekerasan Munculnya kekerasan verbal tersebut dioperasionalkan dalam beberapa bentuk nyata yang sering tidak disadari oleh orang tua sebagai tindakan abusif. Berdasarkan hasil temuan kasus di salah satu SD Negeri di Kota Denpasar ini, kekerasan verbal yang ditemukan meliputi penggunaan label negatif atau penghinaan seperti menyebut anak AubodohAy, pembentakan dengan nada tinggi untuk mengintimidasi, hingga ancaman yang merusak rasa aman anak. Menurut Wahyuni . , tindakantindakan ini merupakan bentuk agresi psikis yang bertujuan untuk mengendalikan perilaku anak secara instan, namun dampak traumatisnya menetap jauh lebih lama di memori jangka panjang anak. Berdasarkan data usia, didapatkan hasil rata-rata usia anak yaitu 11 tahun dengan rentang usia 9 sampai 13 tahun. Menurut Rizal . , alnak usiall dalsar mengallami perkembalngan otalk yalng begitul cepalt daln terjaldi secalra bertalhap palda balgian-balgian tertentul otalk. Hal ini dipengalruhi olehl kecenderungaln alnak usial sekolalh dalsar yalng lebihl menyukali alktivitas-alktivitas fisilk. Anak usia sekolah dasar mengalami pekembangan kognitif seperti kemampuan memahami abstraksi, serta peningkatan daya ingat. Selain itu, anak usia sekolah dasar sudah mampu menanggapi stimulasi intelektual, alnak sudahl mampu melalksanalkan tugas-tugasl menghiltung (Susilowatil & Rahmalwati. Distribusi tingkat pendidikan ibu dan ayah dalam penelitian ini menunjukkan hasil sebagian besar orang tua yaitu ayah dan ibu memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi . ,1%). Fenomena kekerasan verbal ini tetap muncul meskipun mayoritas orang tua responden memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Secara teoritis, pendidikan tinggi seharusnya berbanding lurus dengan pola asuh yang lebih humanis (Fitriani et al. , 2. , namun fakta di lapangan menunjukkan adanya dinamika stres pengasuhan . arenting stres. yang tinggi di area urban seperti Denpasar. Penelitian Hidayat dan Putri . mengungkapkan bahwa orang tua di wilayah perkotaan sering kali terpapar tekanan pekerjaan dan ekspektasi akademik yang tinggi terhadap anak. Beban emosional inilah yang memicu orang tua Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 melakukan peluapan stres melalui kata-kata kasar, sehingga status pendidikan tinggi tidak selalu menjamin bebasnya anak dari kekerasan verbal. Berdasarkan data status hubungan, menunjukkan bahwa mayoritas anak memiliki satus hubungan kandung dengan ayah dan ibunya . ,6% dan 97,1%). Kebanyakan bahwa antara orang tua kandung dan orang tua tiri akan memiliki perbedaan dalam segi mendidik maupun memberikan kasih sayang kepada anak, orang tua kandung akan lebih menunjukkan perhatian, kedekatan, dan kasih sayang. Penelitian Febriani . menyatakan bahwa terdapat perbedaan pola asuh dan pemberian kasih sayang oleh oralng tual tiril kepalda alnak tiri, sikap oralng tual tiril cenderungl tidalk memberikan kasih sayang seutuhnya kepada anak tiri. Penelitian yang dilakukan mengenai gambaran kekerasan verbal didapatkan bahwa mayoritas responden pernah mengalami kekerasan verbal dalam kategori ringan . ,3%). Halsil anal isis inil sejallan dengaln Penelitialn yalng dilalkukan olehl Cahyanil et al . palda alnak dil SDN Blengorkulon yang mendapatkan hasil sebanyak 55% dari 131 anak mengalami kekerasan verbal ringan. Dampak dari kekerasan verbal secara langsung memengaruhi perkembangan kognitif anak, yang dalam penelitian ini mayoritas berada pada kategori AucukupAy . ,1%). Hasil analisis menunjukkan hubungan yang bermakna dan negatif . = -0. , artinya bahwal semakin berat tingkat kekeralsan verbal yang diterima malka semalkin rendah tingkat perkembalngan kognitifl alnak. Secara neurosains. Ramadhani . menjelaskan bahwa stres akibat bentakan dan hinaan memicu lonjakan hormon kortisol yang dapat menghambat fungsi Prefrontal Cortex. Hal ini berakibat pada penurunan daya ingat, kesulitan konsentrasi, serta melaksanakan tugas-tugas kompleks seperti membaca dan berhitung. Mengingat dampak kognitifnya yang signifikan, orang tua yang terlanjur melakukan kekerasan verbal perlu segera immediate repair. Langkah pertama yang direkomendasikan adalah meminta maaf secara tulus kepada anak setelah emosi mereda, guna memulihkan kepercayaan diri anak yang sempat runtuh. Selain itu, orag tua disarankan menerapkan teknik time-out atau jeda sejenak saat merasa amarah mulai memuncak, agar komunikasi yang terjalin tetap berada dalam koridor pola asuh yang positif dan suportif (Pradnyana & Antari. Bagi anak yang sudah mengalami dampak psikologis yang mendalam, diperlukan intervensi klinis melalui rehabilitasi mental yang terstruktur. Merujuk pada protokol Kemenkes RI . , pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sangat efektif untuk membantu anak merekonstruksi konsep diri yang negatif akibat sering dihina. Selain itu. Parent-Child Interaction Therapy (PCIT) juga direkomendasikan sebagai solusi klinis untuk memperbaiki kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Melalui rehabilitasi ini, diharapkan fungsi kognitif anak dapat kembali optimal seiring dengan terciptanya lingkungan rumah yang lebih sehat dan bebas dari kekerasan verbal. SIMPULAN Hasil penelitian ini menunjukkan balhwa terdalpat hubungaln yalng bermalkna alntara kekeralsan verbal oralng tual terhaldap perkembalngan kognitifl alnak. Berdasarkan nilai correlation coefficient . =-0,. menunjukklan balhwa kedual valriabel memilikil hubungan yalng lemalh daln alrah nilali r yang negaltif berarti semakin berat tingkat kekeralsan verbal dalri oralng tual malka semalkin kuralng perkembalngan kognitifl alnak daln begitul pulal sebal iknya. Olehl kalrena itu, oralng tual diharapkan mengetahui bentuk dan dampak dari mengurangi tindalkan kekeralsan verball yalng dilalkukan terhaldap alnak. Balgi penelitil Volume 13. Nomor 6. Desember 2025 Community of Publishing in Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 selalnjutnya dalpat melalkukan penelitianl denganl judull yalng serupa,l nalmun dengan menambahkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kekerasan verbal oleh orang tua, seperti stres dan pola asuh orang tua. DAFTAR PUSTAKA