E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 Analisis Pendapatan Petani Pengguna Benih Padi Bersertifikat dan Tidak Bersertifikat di Kabupaten Bantul Ayu Putri Merry Anisya*. Teguh Nova Eko Wibowo Program Studi Agribisnis. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Putra Bangsa. Kebumen. Indonesia Corresponding author: merryanisya@gmail. Abstrak Padi sebagai komoditas yang memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tidak hanya berfungsi sebagai sumber utama pangan, tetapi sektor pertanian padi juga menjadi sumber penghidupan bagi petani dan masyarakat. Salah satu cara agar hasil produksi padi meningkat adalah menggunakan varietas dan jenis padi yang bersertifikat. Benih memainkan peran penting di bidang pertanian, salah satu bentuk penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas benih adalah melalui penggunaan benih varietas unggul yang memiliki lisensi atau sertifikasi resmi. Selain itu benih tidak bersertifikat memiliki kelemahan seperti ketahanan yang rendah terhadap hama dan penyakit, pertumbuhan yang tidak seragam, serta penurunan kualitas jika ditanam berulang dalam jangka waktu lama. Perbedaan penggunakan benih bersertifkat dan non sertifikat dapat memengaruhi produktivitas serta pendapatan petani. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan produktivitas antara petani yang menggunakan benih padi bersertifikat dan tidak bersertifikat di Kabupaten Bantul. Teknik penentuan lokasi dilakukan secara Purposive Sampling Methode sedangkan pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara simple random sampling yaitu pengambilan data secara acak terhadap sebagian dari keseluruhan elemen populasi. Jumlah sampel pengrajin yang diambil sebanyak 50 petani. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh petani dapat diketahui bahwa pendapatan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih tinggi dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat. Hal ini dapat dilihat bahwa produksi yang dihasilkan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih besar dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat. Dapat dilihat pendapatan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat sebesar Rp 7,017,358 pada musim hujan dan Rp 7,378,604 pada musim kemarau sedangkan pendapat petani yang menggunakan benih non sertifikat sebesar Rp 6,604,672 pada musim hujan dan Rp 6,248,007 pada musim kemarau. Pendapatan tersebut dipengaruhi oleh benih bersertifikat dan biaya yang dikeluarkan petani pada tiap musimnya serta produksi yang dihasilkan, biaya yang dikeluarkan serta produksi yang dihasilkan tiap musimnya bervariasi, sehingga pendapatan yang diperoleh petani bervariasi pula. Kata kunci: benih padi, pendapatan, sertifikat Abstract Rice, as a commodity that plays a central role in Indonesian society, not only serves as the primary source of food but also the rice farming sector is a source of livelihood for farmers and the community. One way to increase rice production is by using certified rice varieties and E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 Seeds play an important role in agriculture, and one form of technology application to increase seed productivity is through the use of superior varieties with official licenses or In addition, uncertified seeds have weaknesses such as low resistance to pests and diseases, non-uniform growth, and a decline in quality if planted repeatedly over a long The difference in the use of certified and uncertified seeds can affect farmer productivity and income. Thus, this study aims to analyze the difference in productivity between farmers who use certified and uncertified rice seeds in Bantul Regency. The location determination technique was carried out using the Purposive Sampling Method, while sample taking in this study was carried out using simple random sampling, which is random data taking from a portion of the entire population. The number of samples of craftsmen taken was 50 farmers. The results of the analysis show that the income obtained by farmers can be seen that the income obtained by farmers who use certified seeds is higher than that of farmers who use uncertified seeds. This can be seen that the production produced by farmers who use certified seeds is greater than that of farmers who use uncertified seeds. It can be seen that the income obtained by farmers who use certified seeds is Rp 7,017,358 in the rainy season and Rp 7,378,604 in the dry season, while the income of farmers who use uncertified seeds is Rp 6,604,672 in the rainy season and Rp 6,248,007 in the dry season. This income is influenced by certified seeds and the costs incurred by farmers each season, as well as the production produced, and the costs incurred and production produced each season vary, so the income obtained by farmers also varies. Keywords: Rice seeds, income, certification Pendahuluan Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat vital dalam perekonomian Indonesia, berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Di antara berbagai komoditas pertanian, padi memiliki peranan yang sangat penting. Kabupaten Bantul di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas wilayah sekitar 506,85 km2 dan populasi penduduk mencapai 955. 051 orang pada tahun 2014, terdiri dari 17 kecamatan, 75 desa, dan 933 pedukuhan (BPS Kabupaten Bantul, 2. Topografi daerah ini didominasi oleh dataran rendah dan perbukitan serta dilewati oleh 6 sungai, hal tersebut sangat mendukung kegiatan pertanian, sehingga bisa menjadikannya sebagai salah satu daerah dengan potensi besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman padi. Padi sebagai komoditas yang memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tidak hanya berfungsi sebagai sumber utama pangan, tetapi sektor pertanian padi juga menjadi sumber penghidupan bagi petani dan masyarakat. Menurut Badan Pusat Statistik . sektor pertanian menyumbang 12,98% Produk Dometik Bruto (PDB) Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi dan bertambahnya jumlah penduduk, petani dihadapkan pada E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 tantangan untuk meningkatkan hasil panen guna memenuhi kebutuhan pangan yang terus Sementara itu pada tahun 2025 Kementerian Pertanian menargetkan produksi beras sebesar 32,29 juta ton. Salah satu cara agar hasil produksi padi meningkat adalah menggunakan varietas dan jenis padi yang bersertifikat. Benih memainkan peran penting di bidang pertanian, salah satu bentuk penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas benih adalah melalui penggunaan benih varietas unggul yang memiliki lisensi atau sertifikasi resmi (Angelia et al. Benih bersertifikat yang telah melalui proses pemeriksaan kualitas memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit serta potensi hasil yang lebih tinggi (Soedarto, et , 2. Benih bermutu merupakan syarat utama untuk mencapai hasil panen optimal karena jika pemilihan benih kurang tepat, hasil panen tetap tidak akan maksimal meskipun perawatan seperti pemupukan dan pengendalian hama serta penyakit telah dilakukan dengan baik, sehingga semua upaya perawatan tersebut tidak akan memberikan hasil memuaskan apabila benih yang ditanam berkualitas rendah (Novianti, at al. , 2. Di sisi lain benih tidak bersertifikat memiliki kelemahan seperti ketahanan yang rendah terhadap hama dan penyakit, pertumbuhan yang tidak seragam, serta penurunan kualitas jika ditanam berulang dalam jangka waktu lama (Puspitasri. , 2. Perbedaan penggunakan benih bersertifkat dan non sertifikat dapat memengaruhi produktivitas serta pendapatan petani. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan produktivitas antara petani yang menggunakan benih padi bersertifikat dan tidak bersertifikat di Kabupaten Bantul. Metode Penelitian ini dilakukan di Bantul. Yogyakarta. Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling Methode (Sugiyono, 2. , dengan berdasarkan pertimbangan tertentu yaitu banyak petani yang berbudidaya padi yang bersertifikat. Pengambilan sampel dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling atau sampel acak sederhana dengan cara undian, dimanapengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi di Pajangan. Sedayu. Kretek. Jetis. Pleret. Piyungan. Kasihan. Bangutapan. Pandak, dan Sewon . Dimana dari setiap desa dipilih 1 kelompok tani secara acak sederhana E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 dan disetiap kelompok tani diambil 5 responden dengan menggunakan teknik acak sederhana sehingga totalsampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 50 responden. Tingkat pendapatan petani ditentukan teknik analisis data menggunakan persamaan sebagai Biaya Biaya yang diambil dari biaya total (Total cos. yang merupakan penjumlahandari keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usahatani. Biaya total ialah penjumlahan antara biaya eksplisit dan implisit. Dapat dirumuskan sebagai berikut: TC = TEC TIC Keterangan: : Biaya total . otal cos. TIC : Biaya implisit . mplicit cos. TEC : Biaya eksplisit . xplicit cos. Penerimaan Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual untuk melihat penerimaan petani dalam usahatani padi dapat menggunakanrumus: TR = Y. Keterangan: : Penerimaan total . otal revenu. : Output atau produksi : Input atau harga jual Pendapatan Pendapatan dapat diperoleh dari pengurangan penerimaan total yang dengan total biaya eksplisit untuk melihat pendapatan petani dalam usahatani padi dapat menggunakan rumus: NR = TR Ae TEC Keterangan: : Pendapatan . et revenu. : Penerimaan total . otal revenu. TEC : Biaya eksplisit . xplicit cos. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 Hasil dan Pembahasan Biaya Pendapatan yang diperoleh petani maka harus dilihat biaya eksplisit. Biaya eksplisit adalah biaya yang secara nyata dikeluarkan petani. Biaya eksplisit tersebut terdiri dari biaya benih,biaya pupuk,biaya pestisida, dan biaya tenaga kerja. Biaya eksplisit yang dikeluarkan petani dapat dilihat pada tabel berikut. Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa biaya eksplisit yang di dari kegiatan usahatani terdiri dari biaya sarana produksi . enih, pupuk, dan pestisid. , biaya tenaga kerja, biaya penyusutan dan biaya lain-lain. Pada biaya benih dapat dilihat bahwa biaya yang digunakan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih tinggi daripada petani menggunakan benih non Biaya benih yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih bersertifikat pada musim hujan sebesar Rp 514. 973 dan Rp 507. 629 pada musim kemarau. Sedangkan biaya benih yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih non bersertifikat sebesar Rp 324. pada musim hujan dan Rp 316. 382 pada musim kemarau. Dari data tersebut dapat dianalisis bahwa penggunaan biaya benih petani menggunakan benih bersertifikat tinggi dari petani menggunakan benih non bersertifikat. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 Tabel 1. Biaya Eksplisit Usahatani Padi di Kabupaten Bantul . er Hekta. Musim Hujan Musim Kemarau Jenis Biaya Benih Non Benih Non Sertfikat Sertifikat Sertfikat Sertifikat Sarana Produksi Benih Pupuk Pestisida 2 Biaya Tenaga Kerja 3 Biaya Penyusutan 4 Biaya Lain-Lain Biaya Pajak Biaya Bawon Biaya Sewa Lahan Biaya Sakap Jmlh Biaya Lain-Lain Jumlah Sumber: Data primer diolah, 2024 Hal ini disebabkan karena petani yang menggunakan benih bersertifikat setiap musimnya membeli benih bersertifikat sedangkan petani yang menggunakan benih non bersertifikat tersebut menyisihkan hasil produksinya untuk dijadikan benih pada musim selanjutnya sehinggan biaya yang dikeluarkan lebih sedikit. Jika dilihat dari musim tanam yang dilakukan penggunaan benih yang dikeluarkan petani lebih tinggi musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau hal ini dikarenakan pada musih hujan serangan hama lebih rentan sehingga petani melakukan penyulaman benih untuk mengganti benih yang mati. Hasil panen pada musim hujan mengalami produksi tinggu karena ketersediaan air yang melimpah, karena air merupakan unsur pokok dalam fotosintesis (Barrakah, 2. Biaya pupuk yang digunakan petani biaya yang digunakan petani yang menggunakan benih bersertifikat relatif sama dengan petani menggunakan benih non bersertifikat. Pada musim hujan, biaya pupuk yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih bersertifikat sebesar Rp 123 dan pada musim kemarau sebesar Rp 1. Sedangkan pada petani yang menggunakan benih non bersertifikat biaya pupuk yang digunakan pada musim hujan Rp 965 dan Rp 1. 177 pada musim kemarau. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 Biaya pestisida yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih rendah di bandingkan petani yang menggunakan benih non bersrtifikat. hal ini dikarenakan petani yang menggunakan benih non bersertifikat lebih rentan terkena hama dibandingkan petani yang menggunakan benih bersertifikat. Pada musim hujan, biaya pestisida yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih bersertifikat sebesar Rp 194. 170 dan pada musim kemarau sebesar Rp 191. Sedangkan pada petani yang menggunakanbenih non bersertifikat biaya pestisida yang digunakan pada musim hujan Rp 208. 503dan Rp 198. 657 pada musim kemarau. Biaya tenaga kerja luar keluarga cenderung sama antara petani yang menggunakan benih bersertifikat dan petani yangmenggunakan benih non bersertifikat. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih bersertifikat ada musim hujan, sebesar Rp 3,013,144 dan pada musim kemarau sebesar Rp 3,060,114. Sedangkan pada petani yang menggunakan benih non bersertifikat biaya pestisida yang digunakan pada musim hujan Rp 3,149,150dan Rp 3,216,556pada musim kemarau. Biaya penyusutan alat merupakan biaya yang dikeluarkan petani secara berkala untuk membeli peralatan usahatani yang dibutuhkan. Peralatan usahatani terdiri dari cangkul, sabit, bajak, gosrok, dan spayer. Besarnya nilai biaya penyusutan alat tergantung dari jumlah alat yang dimiliki oleh petani. Biaya penyusutan yang dikeluarkan petani yang menggunkan benih bersertifikat Rp 238. 226 pada musim hujan dan Rp 243. 618 pada musim kemarau sedangakan pada petani yang menggunkan benih non bersertifikat sebesar Rp160. pada musim hujan dan Rp 153. 125 pada musim kemarau. Biaya lain-lain terdiri dari biaya pajak, bawon, sewa lahan dan biaya sakap. Biaya lain-lain yang dikeluarkan petani berbeda pada tiap musimnya yang dilihat dari produksi yang dihasilkan karena produksi tersebut menentukan biaya sakap dan bawon yang di keluarkan oleh petani tetapi tidak pada biaya sewa lahan dan pajak yang dikeluarkan petani karena pajak dan sewa lahan yang dikeluarkan petani tidak dipengaruhi oleh produksi. Dari tabel 18 dapat dilihat perbedaan biaya sakap yang dikeluarkan hal ini disebabkan karena adanya peningkatan luas lahan sakap pada musim kemarau menjadikan biaya sakap yang dikeluarkan lebih tinggi. Dapat dilihat bahwa biaya lain-lain yang dikeluarkan petani dapa musim hujan sebesar Rp 5. dan Rp5. 886 pada musim kemarau sedangkan pada petani yang menggunakan benih non E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 bersertifikat biaya lain-lain yang dikeluarkan sebesar Rp 5. 831 pada musim hujan dan Rp6. 975 pada musim kemarau. Biaya lain-lain yang dikeluarkan petani pada musim kemarau lebih besar dari musim hujan hal ini disebabkan oleh produksi yang dihasilkan pada musim kemarau lebih tinggi sehingga biaya sakap dan bawon yang dikeluarkan petani lebih besar pada musim kemarau. Produksi dan Penerimaan Produksi merupakan suatu kegiatan untuk meningkatkan manfaat denganmengkombinasikan faktor-faktor produksi Capital, tenaga kerja, teknologi, serta managerial skill . Dalam proses produksi akan mengasilkan luaran sehingga petani mendapatkan penerimaan dari proses produksi tersebut. Menurutsoekartawi . , penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yangdiperoleh dengan harga jual. Hasil yang diperoleh petani dalam kegiatan usahatani bervariasi dan perbedaan harga akan mempengaruhi penerimaan yang diperolehpetani. Semakin tinggi produksi yang dihasilkan petani serta harga jual yang tinggiakan memhasilkan penerimaan yang tinggi pula begitupun sebaliknya penerimaan yang diperoleh petani akan menurun jika produksi yang dihasilkan menurun danharga jual rendah. Produksi dan penerimaan petani dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Produksi dan penerimaan petani di Kabupaten Bantul Uraian Benih Sertfikat Produksi Harga Jual Penerimaan Sumber: Data primer diolah, 2024 Musim Hujan Non Sertifikat Benih Sertfikat Musim Kemarau Non Sertifikat Dapat dilihat bahwa produksi yang dihasilkan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih tinggi dibandingkan petani yang menggunakan benih non bersertifikat. Dapat dilihat bahwa produksi petani yangmenggunakan benih bersertifikat lebih tinggi dibandingkan benih non sertifikat yaitu 4. 287 kg/ha gabah kering pada petani yang menggunakan benih bersertifikat dan 4. 170 kg/ha gabah kering pada petani yang menggunakan benih non sertifikat, selisih antara petani yang menggunakan benih bersertifikat dan menggunakan benih non E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 bersertifikat adalah sebesar 117 kg/ha gabah pada musim hujan dan pada musim kemarau produksi yang dihasilkan sebesar 4. 338 kg/ha gabah kering pada petani yang menggunakan benih bersertifikat dan 4. 279 kg/ha gabah kering pada petani yang menggunakan benih non sertifikat, selisih antara petani yang menggunakan beniih bersertifikat dan menggunakan benih non sertifikat adalah sebesar 59 kg/ha gabah. Produksi padi pada musim hujan cenderung lebih rendah dibandingkan pada musim kemarau hal ini di karena beberapa hal, diantaranya hama dan penyakit yang mudah menyerang tanaman padi serta rontoknya calon bulir karena adanya hujan dan hama pengerek batang yang memakan batang padi sehingga padi mati. Dengan produksi petani yang menggunakan benih bersertifikat yang lebih tinggi dibandingkan petani yang menggunkan benih non sertifikat maka dapat dilihat penerimaan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih tinggi pula dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat (Kurniawati, 2. Pendapatan Pendapatan merupakan salah satu indikator keberhasilan petani dalam melakukan usahatani. Pendapatan diperoleh dari endapatan dapat diperoleh dari pengurangan penerimaan total yang dengan total biaya eksplisit yang dikeluarkan oleh petani. Pendapatan yang diperoleh petani dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Pendapatan Petani Pada Usahatani Padi di Kabupaten Bantul. Uraian Musim Hujan Musim Kemarau Benih Sertfikat Non Sertifikat Benih Sertfikat Non Sertifikat Penerimaan Biaya Eksplisit Pendapatan (NR) Sumber: Data primer diolah, 2024 Dapat dilihat bahwa pendapatan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih besar dibandingkan petani yang menggunakan benih non bersertifikat hal ini dikarenakan produksi dan penerimaan petani yang menggunakan benih bersertfikat lebih tinggi dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat dan biaya yang dikeluarkan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih rendah dibanding petani yang menggunakan benih non sertfikat. E-ISSN: 2809-7424 | Journal of Agribusiness Science and Rural Development (JASRD). Vol. 4 No. 1 2024 | 088 - 098 Sehingga pendapatan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih tinggi dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat. Dapat dilihat pendapatan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat sebesar Rp 7. 358 pada musim hujan dan Rp 7. 604 pada musim kemarau sedangkan pendapat petani yang menggunakan benih non sertifikat sebesar Rp 6. 672 pada musim hujan dan Rp 6. 007 pada musim Pemilihan benih sangat mempengaruhi pendapatan yang didapat oleh petani, sehingga perlu diperhatikan dalam pemilihan benih padi (Syahul, 2. Kesimpulan Pendapatan yang diperoleh petani dapat diketahui bahwa pendapatan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih tinggi dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat. Hal ini dapat dilihat bahwa produksi yang dihasilkan petani yang menggunakan benih bersertifikat lebih besar dibandingkan petani yang menggunakan benih non sertifikat. Dapat dilihat pendapatan yang diperoleh petani yang menggunakan benih bersertifikat sebesar Rp 7. 358 pada musim hujan dan Rp 7. 604 pada musim kemarau sedangkan pendapat petani yang menggunakan benih non sertifikat sebesar Rp 6. padamusim hujan dan Rp 6. 007 pada musim kemarau. Pendapat tersebut dipengaruhi oleh biaya yang dikeluarkan petani pada tiap musimnya serta produksi yang dihasilkan, biaya yang dikeluarkan serta produksi yang dihasilkan tiap musimnya bervariasi, sehingga pendapatan yang diperoleh petani bervariasi pula. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga bagi petani dan pemangku kepentingan dalam pengembangan kebijakan pertanian yang lebih efekti. Pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pilihan benih memengaruhi pendapatan dapat membantu petani dalam membuat keputusan yang lebih tepat dan strategis. Daftar Pustaka