Volume 16 Nomor 1 . ISSN (P): 2087-4820 ISSN (E): 2579-8995 DOI:https/doi. org/10. 54180/elbanat. INTEGRASI NILAI - NILAI EKOTEOLOGI DALAM PROGRAM ADIWIYATA SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS DAN TAUHID (STUDI KASUS DI SMP NEGERI 3 MRANGGEN . DEMAK) Muhamad Misbahul Munir. Muhammad Ahsanul Husna. Nurul Azizah Universitas Wahid Hasyim Semarang. Jawa Tengah. Indonesia ABSTRAK Program Adiwiyata sebagai upaya pengembangan budaya peduli lingkungan di sekolah tidak hanya berorientasi pada pembentukan perilaku ekologis, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan penanaman nilai-nilai religius dan tauhid peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter religius dan tauhid siswa di SMP Negeri 3 Mranggen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru, serta siswa. Analisis data dilakukan secara tematik melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai ekoteologi diintegrasikan dalam berbagai kegiatan Adiwiyata, seperti pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, penghijauan sekolah, dan pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran. Integrasi tersebut mengindikasikan adanya penguatan karakter religius dan kesadaran tauhid siswa melalui pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Penelitian ini menegaskan bahwa program Adiwiyata tidak hanya berfungsi sebagai pendidikan lingkungan, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai-nilai keagamaan dan pembentukan karakter peserta didik secara holistik. Kata Kunci. Ekoteologi. Program Adiwiyata. Karakter Religius. Tauhid. Pendidikan Lingkungan ABSTRACT The Adiwiyata program, as an effort to develop an environmental awareness culture in schools, is not only focused on shaping ecological behavior but also connected to instilling religious values and monotheism in This study aims to analyze the integration of ecotheology values in the Adiwiyata program and its contribution to shaping students' religious character and monotheism at SMP Negeri 3 Mranggen. The research uses a qualitative approach with a case study design. Data was collected through interviews, observations, and documentation involving the principal, teachers, and students. Data analysis was done thematically through stages of data reduction, categorization, data presentation, and drawing conclusions. Research results show that eco-theology values are integrated into various Adiwiyata activities, such as developing habits of keeping the environment clean, managing waste, greening the school, and using the environment as a learning medium. This integration indicates the strengthening of students' religious character and awareness of monotheism through the understanding that taking care of the environment is part of human responsibility as caliphs on Earth. This study confirms that the Adiwiyata program not only serves as environmental education but also as a medium for internalizing religious values and shaping students' character holistically. Keywords: Ecotheology. Adiwiyata Program. Religious Character. Monotheism. Environmental Education. Pendahuluan Meningkatnya kerusakan lingkungan, seperti pencemaran, penumpukan sampah, dan menurunnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian alam, menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga rendahnya masmunir48@gmail. Jl. Menoreh Tengah X No. Sampangan. Kec. Gajahmungkur. Kota Semarang. Jawa Tengah 50232 Muhamad Misbahul Munir, dkk. kesadaran moral dan spiritual manusia dalam memandang lingkungan. 1 Dalam konteks pendidikan, kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena pembelajaran lingkungan di sekolah sering kali masih berorientasi pada aspek pengetahuan dan praktik ekologis semata, tanpa diimbangi dengan penguatan nilai-nilai religius yang dapat membentuk kesadaran ekologis secara lebih mendalam. 2 Akibatnya, kepedulian terhadap lingkungan cenderung bersifat sementara dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari karakter serta kesadaran spiritual peserta didik. Padahal, dalam perspektif ekoteologi, menjaga lingkungan tidak hanya dipahami sebagai tanggung jawab sosial, tetapi juga sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai tauhid dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di 3 Oleh karena itu, diperlukan integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam pendidikan lingkungan agar pembentukan karakter peduli lingkungan dapat berjalan secara lebih holistik dan berkelanjutan. Lingkungan hidup merupakan bagian penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dalam perspektif ekologis, lingkungan tidak hanya dipahami sebagai ruang fisik tempat berlangsungnya aktivitas kehidupan, tetapi juga sebagai sistem yang saling berkaitan antara manusia, alam, dan berbagai unsur pendukung kehidupan. 4 Kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin relevan di tengah meningkatnya berbagai persoalan ekologis, seperti pencemaran, kerusakan hutan, dan krisis sampah yang terjadi di Indonesia. 5 Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan kebijakan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran moral, budaya, dan spiritual masyarakat dalam memandang hubungan manusia dengan alam. Dalam konteks pendidikan, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peduli lingkungan melalui berbagai program pendidikan lingkungan hidup, salah satunya melalui program Adiwiyata. 6 Program ini dirancang untuk membangun budaya MaAomuroh MaAomuroh. Satriani Satriani, and Mawaddati Rahmi. AuEkospiritualitas Islam Dan Kesadaran Lingkungan: Transformasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Pada Masyarakat Urban,Ay Jurnal Jembatan Efektivitas Ilmu dan Akhlak Ahlussunah Wal JamaAoah 7, no. : 11Ae20. 2 Muhammad Jenal Aripin. AuKetika Sampah Menjadi Dosa: Studi Moral Dan Spiritual Masalah Lingkungan Di Indonesia,Ay Muqaddimah 16, no. : 26Ae35. 3 Marthinus Ngabalin. AuEkoteologi: Tinjauan Teologi Terhadap Keselamatan Lingkungan Hidup,Ay CARAKA: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika 1, no. : 118Ae134. 4 Hesty Widiastuty and Khairil Anwar. AuEkoteologi Islam Ekoteologi Islam: Prinsip Konservasi Lingkungan Dalam Al-QurAoan Dan Hadits Serta Implikasi Kebijakannya,Ay Risylah Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam 11, no. : 465Ae480. 5 Amir Mahmud. Maisyanah Maisyanah, and Arif Rahman. AuIntegrasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Ekologi Di Sekolah Menengah Pertama Bina Karya Surabaya,Ay EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam 14, no. : 326Ae345. 6 Yanti Dasrita et al. AuKesadaran Lingkungan Siswa Sekolah Adiwiyata,Ay Dinamika Lingkungan Indonesia 2, no. : 61Ae64. El Banat Vol. 16 No. Integrasi Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Program Adiwiyata sebagai penguatan Karakter Religius dan Tauhid sekolah yang berorientasi pada pelestarian lingkungan melalui pembiasaan, pengelolaan lingkungan sekolah, dan integrasi nilai-nilai lingkungan dalam pembelajaran. 7 Namun demikian, implementasi program Adiwiyata di berbagai sekolah masih cenderung berfokus pada aspek administratif dan praktik ekologis yang bersifat teknis, seperti pengelolaan sampah, penghijauan, dan kebersihan lingkungan. 8 Aspek religius dan spiritual yang dapat menjadi landasan kesadaran ekologis peserta didik belum banyak mendapat perhatian secara mendalam. Padahal, dalam perspektif ekoteologi, menjaga lingkungan dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah di bumi. Sejumlah penelitian sebelumnya lebih banyak membahas efektivitas program Adiwiyata dalam membentuk perilaku peduli lingkungan dan budaya sekolah berwawasan ekologis. Akan tetapi, kajian yang secara khusus membahas integrasi nilainilai ekoteologi dalam program Adiwiyata serta kaitannya dengan pembentukan karakter religius dan kesadaran tauhid peserta didik masih relatif terbatas. Penelitian mengenai pendidikan lingkungan umumnya masih memisahkan dimensi ekologis dan dimensi spiritual-keagamaan, sehingga hubungan antara praktik pelestarian lingkungan dan internalisasi nilai religius belum banyak dikaji secara mendalam. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini berupaya mengisi celah kajian dengan menganalisis bagaimana integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata di SMP Negeri 3 Mranggen berkontribusi terhadap pembentukan karakter religius dan kesadaran tauhid peserta Pentingnya penelitian ini terletak pada relevansinya terhadap tantangan pendidikan masa kini, di mana banyak lembaga pendidikan masih memisahkan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual. Di sisi lain, ekoteologi menawarkan paradigma holistik yang menyatukan pengetahuan, pengalaman, dan nilai. Sebagaimana diungkapkan oleh Tucker dan Grim, ekoteologi bukan sekadar disiplin ilmu, tetapi sebuah spiritual ekologi pandangan bahwa perlindungan alam adalah bentuk ibadah. Bayu Indra Permana and Nurul Ulfatin. AuBudaya Sekolah Berwawasan Lingkungan Pada Sekolah Adiwiyata Mandiri,Ay Ilmu Pendidikan: Jurnal Kajian Teori Dan Praktik Kependidikan 3, no. : 11Ae21. 8 Nafsiyah Nafsiyah. AuImplementasi Sekolah Adiwiyata Sebagai Upaya Pembentukan Sikap Peduli Lingkungan Siswa Dan Relevansinya Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Di SMP Negeri 2 PetarukanAy (UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, 2. 9 Laili Farikha MamAoluah. Dwi Fitri Wiyono, and Dian Mohammad Hakim. AuKARAKTER EKOLOGIS BERBASIS NILAI ISLAM: IMPLEMENTASI PROGRAM ADIWIYATA DI SMPN 13 MALANG,Ay Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 8, no. 10 Mary Evelyn Tucker and John Grim. AuThomas Berry: A New Cosmology and Practical Spirituality,Ay in Practical Spirituality and Human Development: Transformations in Religions and Societies (Springer, 2. , 435Ae443. El Banat Vol. 16 No. Muhamad Misbahul Munir, dkk. Penelitian ini difokuskan pada tiga pertanyaan utama, yaitu: . bagaimana integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam pelaksanaan program Adiwiyata di SMP Negeri 3 Mranggen, . bagaimana lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai media pembentukan karakter religius dan kesadaran tauhid peserta didik, dan . bagaimana praktik ekoreligius dalam program Adiwiyata diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari Dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian ini bertujuan mengungkap hubungan antara pendidikan lingkungan dan pembentukan karakter religius secara lebih mendalam. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian ekoteologi dalam pendidikan, khususnya terkait integrasi pendidikan lingkungan dan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi model konseptual bagi pengembangan program pendidikan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekologis, tetapi juga pada penguatan nilai spiritual dan kesadaran tauhid peserta didik. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus . ase stud. untuk memahami secara mendalam proses integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter religius dan kesadaran tauhid peserta didik. 11 Pendekatan studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti mengeksplorasi fenomena secara kontekstual dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu. 12 Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Mranggen yang dipilih secara purposif berdasarkan karakteristik sekolah yang mengintegrasikan program Adiwiyata dengan nilai-nilai religius dalam aktivitas pembelajaran dan budaya Fokus penelitian diarahkan pada praktik pendidikan lingkungan yang dikaitkan dengan pembentukan karakter religius peserta didik melalui kegiatan berbasis Subjek penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, tiga guru kelas, dan sepuluh siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pemilihan informan didasarkan pada tingkat keterlibatan dan pemahaman mereka terhadap implementasi program Adiwiyata dan kegiatan berbasis ekoteologi di sekolah. Jumlah subjek yang relatif terbatas dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk generalisasi statistik, melainkan untuk memperoleh data yang mendalam . n-depth Nasarudin Nasarudin et al. Studi Kasus Dan Multi Situs Dalam Pendekatan Kualitatif (CV. Gita Lentera, 2. Sugiyono. Metode Penelitian Studi Kasus (Pendekatan: Kuantitatif. Kualitatif. Dan Kombinas. , ed. Rina Fadliah, 1st ed. (Bandung: ALFABETA, 2. El Banat Vol. 16 No. Integrasi Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Program Adiwiyata sebagai penguatan Karakter Religius dan Tauhid dat. mengenai pengalaman, pandangan, dan praktik religius-ekologis yang berkembang di lingkungan sekolah. Dengan demikian, fokus penelitian kualitatif ini terletak pada kedalaman informasi dan makna yang diperoleh dari informan, bukan pada jumlah partisipan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. 13 Observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung aktivitas sekolah yang berkaitan dengan program Adiwiyata dan praktik pembiasaan religius-ekologis peserta didik. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali pandangan, pengalaman, serta pemaknaan informan mengenai hubungan antara pendidikan lingkungan dan nilai-nilai keagamaan. Sementara itu, dokumentasi diperoleh dari program sekolah, laporan kegiatan lingkungan, foto kegiatan, serta dokumen pendukung lainnya yang relevan dengan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama yang terlibat secara langsung dalam proses pengumpulan dan interpretasi data. Oleh karena itu, peneliti berupaya menjaga objektivitas melalui refleksi kritis terhadap proses penelitian dan interpretasi data yang dilakukan selama penelitian berlangsung. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik . hematic analysi. melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, open coding, kategorisasi tema, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 14 Pada tahap open coding, data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi diidentifikasi berdasarkan tema-tema yang berkaitan dengan nilai ekoteologi, karakter religius, kesadaran tauhid, dan praktik Adiwiyata di sekolah. 15 Selanjutnya, data dikategorikan untuk menemukan pola hubungan antar tema sehingga diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam pembentukan karakter peserta didik. 16 Keabsahan data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan member check. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan dan sumber dokumentasi, sedangkan member check dilakukan dengan mengonfirmasi hasil interpretasi kepada informan guna memastikan kesesuaian antara temuan penelitian dan pengalaman yang mereka alami. 13 Muhammad Rijal Fadli. AuMemahami Desain Metode Penelitian Kualitatif,Ay Humanika 21, no. : 33Ae54. 14 Fadli. AuMemahami Desain Metode Penelitian Kualitatif. Ay Yasri RifaAoi. AuAnalisis Metodologi Penelitian Kulitatif Dalam Pengumpulan Data Di Penelitian Ilmiah Pada Penyusunan Mini Riset,Ay Cendekia Inovatif Dan Berbudaya 1, no. : 31Ae37. 16 Bungin Burhan. AuMetode Penelitian Kualitatif Komunikasi. Ekonomi Dan Kebijakan Publik Serta Ilmu Sosial Lainnya,Ay Jakarta: Kencana . El Banat Vol. 16 No. Muhamad Misbahul Munir, dkk. Hasil dan Pembahasan Integrasi Nilai Ekoteologi dalam Kegiatan Pembelajaran Hasil SMP Negeri Mranggen mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi dalam kegiatan pembelajaran melalui implementasi Kurikulum Merdeka dan program berbasis lingkungan. Integrasi tersebut dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan budaya sekolah yang menghubungkan pembelajaran lingkungan dengan nilai religius dan kesadaran spiritual peserta didik. Kepala SMP Negeri 3 Mranggen menjelaskan bahwa sekolah mengembangkan proyek Eksplorasi Alam Sekitar dan Spiritualitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari isu lingkungan berdasarkan minat masing-masing, seperti konservasi air, energi terbarukan, dan pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal. AuSalah satu implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah ini adalah melalui proyek Eksplorasi Alam Sekitar dan Spiritualitas. Ay (Wawancara, 2 Desember Selain itu, sekolah juga mengembangkan program AuSayangi BumikuAy yang dilaksanakan selama satu minggu melalui kegiatan pembuatan kompos, penghijauan, pembersihan lingkungan, hidroponik, dan edukasi lingkungan. Berdasarkan hasil observasi, seluruh kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama sebagai bentuk integrasi nilai religius dalam aktivitas lingkungan. Guru Pendidikan Agama Islam menjelaskan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga membimbing siswa untuk memahami hubungan antara manusia, alam, dan tanggung jawab spiritual. AuJika terjadi longsor di hutan, kami ajak murid merenung apakah ini karena manusia abai terhadap alam. Ay (Wawancara, 3 Desember 2. Temuan penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai ekoteologi di SMP Negeri 3 Mranggen tidak ditempatkan sebagai materi tambahan yang terpisah dari kurikulum, melainkan diinternalisasikan secara sistematis ke dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini terlihat dari pemanfaatan Kurikulum Merdeka yang memberikan ruang bagi sekolah untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual melalui proyek-proyek berbasis lingkungan. Melalui proyek Eksplorasi Alam Sekitar dan Spiritualitas, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan ekologis, tetapi juga diajak membangun kesadaran reflektif mengenai makna spiritual di balik hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian, pembelajaran lingkungan tidak El Banat Vol. 16 No. Integrasi Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Program Adiwiyata sebagai penguatan Karakter Religius dan Tauhid berhenti pada aspek kognitif, tetapi berkembang menuju pembentukan kesadaran etis dan religius. Program Sayangi Bumiku memperlihatkan bahwa sekolah menerapkan pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman. Kegiatan seperti penghijauan, pembuatan kompos, hidroponik, dan pembersihan lingkungan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui praktik nyata. Menariknya, setiap aktivitas tersebut diintegrasikan dengan doa bersama sehingga terbentuk hubungan yang erat antara tindakan ekologis dan kesadaran spiritual. Temuan ini mengindikasikan bahwa sekolah berupaya menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan. Peran guru Pendidikan Agama Islam dalam temuan ini juga menunjukkan adanya transformasi fungsi guru dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator refleksi moral dan spiritual. Ketika guru mengajak peserta didik merenungkan pembelajaran bergerak dari transfer pengetahuan menuju pembentukan kesadaran Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekoteologi yang memandang kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi dari krisis moral dan spiritual manusia dalam memperlakukan alam. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku, tetapi juga pada perubahan cara pandang dan nilai yang mendasarinya. Selain itu, pemanfaatan kearifan lokal masyarakat Mranggen menunjukkan bahwa integrasi ekoteologi dilakukan secara kontekstual sesuai dengan lingkungan sosial peserta didik. Nilai-nilai lokal seperti larangan membuang sampah ke sungai dan pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan berfungsi sebagai jembatan antara ajaran agama, budaya masyarakat, dan praktik pelestarian lingkungan. Temuan ini menguatkan bahwa keberhasilan pendidikan ekoteologi tidak hanya ditentukan oleh materi pembelajaran, tetapi juga oleh kemampuan sekolah menghubungkan nilainilai universal agama dengan realitas kehidupan sehari-hari peserta didik. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi nilai ekoteologi di SMP Negeri 3 Mranggen telah berkembang dari sekadar pendidikan lingkungan menuju model pendidikan karakter berbasis spiritualitas lingkungan. Melalui sinergi antara Kurikulum Merdeka, program Adiwiyata, pembelajaran reflektif, dan kearifan lokal, sekolah berhasil membangun kesadaran bahwa manusia El Banat Vol. 16 No. Muhamad Misbahul Munir, dkk. memiliki tanggung jawab ekologis yang tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga merupakan amanah spiritual yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan ekoteologi berpotensi menjadi pendekatan efektif dalam membentuk generasi yang religius, berkarakter, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Temuan lain menunjukkan bahwa sekolah memanfaatkan kearifan lokal masyarakat Mranggen sebagai bagian dari pembelajaran ekoteologi, seperti larangan membuang sampah ke sungai dan pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan Integrasi Nilai Ekoteologi sebagai Media Pendidikan Karakter Berbasis Spiritualitas Lingkungan Integrasi nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata di SMP Negeri 3 Mranggen pembentukan perilaku ekologis, tetapi juga pada internalisasi nilai religius dan kesadaran tauhid peserta didik. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa aktivitas lingkungan di sekolah dikonstruksi sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual manusia terhadap alam. Dalam perspektif ekoteologi, hubungan manusia dan lingkungan dipahami sebagai relasi teologis yang menempatkan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Program Adiwiyata yang diterapkan di SMP Negeri 3 Mranggen tidak hanya berorientasi pada pembentukan kesadaran ekologis peserta didik, tetapi juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai spiritual yang berkaitan dengan hubungan manusia dan lingkungan. Dalam perspektif ekoteologi, alam dipahami sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. 17 Oleh karena itu, berbagai aktivitas lingkungan yang dilaksanakan di sekolah tidak semata-mata diarahkan pada pencapaian kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menanamkan kesadaran religius tentang pentingnya menjaga amanah Tuhan terhadap alam semesta. Widiastuty and Anwar. AuEkoteologi Islam Ekoteologi Islam: Prinsip Konservasi Lingkungan Dalam Al-QurAoan Dan Hadits Serta Implikasi Kebijakannya. Ay Mahmud. Maisyanah, and Rahman. AuIntegrasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Ekologi Di Sekolah Menengah Pertama Bina Karya Surabaya. Ay El Banat Vol. 16 No. Integrasi Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Program Adiwiyata sebagai penguatan Karakter Religius dan Tauhid Integrasi nilai ekoteologi tersebut terlihat dari upaya sekolah menghubungkan kegiatan-kegiatan Adiwiyata dengan ajaran agama yang menekankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Peserta didik diajak memahami bahwa menjaga kebersihan kelas, merawat tanaman, mengelola sampah, serta menghemat penggunaan air dan energi merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman ini membantu peserta didik melihat aktivitas pelestarian lingkungan bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan bentuk ibadah dan manifestasi ketaatan kepada Tuhan. Temuan Thomas Lickona menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya dilakukan melalui transfer pengetahuan moral, tetapi juga melalui pembiasaan dan pengalaman langsung . oral 19 Program AuSayangi BumikuAy menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius siswa dilakukan melalui praktik ekologis yang berulang, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan perawatan lingkungan sekolah. 20 Aktivitas tersebut tidak hanya membentuk kepedulian lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan kesadaran spiritual peserta didik. Selain itu, penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran menunjukkan adanya penerapan teori experiential learning dari David Kolb yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses pembelajaran. 21 Pembelajaran berbasis pengalaman di alam terbuka memungkinkan siswa membangun pemahaman ekologis melalui interaksi nyata dengan lingkungan. 22 Dalam konteks ini, pengalaman ekologis tidak hanya menghasilkan pemahaman kognitif, tetapi juga membentuk refleksi spiritual mengenai hubungan manusia dengan alam. Proses internalisasi nilai ekoteologi juga berlangsung melalui pembiasaan dan keteladanan yang diberikan oleh guru serta warga sekolah. Guru tidak hanya menyampaikan materi tentang lingkungan secara teoritis, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah. Keteladanan tersebut memperkuat proses pembentukan karakter peserta didik Thomas Lickona. Character Matters (Persoalan Karakte. : Bagaimana Membantu Anak Mengembangkan Penilaian Yang Baik. Integritas. Dan Kebajikan Penting Lainnya (Bumi Aksara, 2. 20 Liyandita Kusuma Dewi. I Putu Wirayasa Prajadhita, and I Gede Mardi Yasa. AuIMPLEMENTASI EKOTEOLOGI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS MURID DI ADI WIDYALAYA GURUKULA BANGLI,Ay Dharma Widya Buddayah: Journal of Religion Education and Culture 1, no. : 1Ae10. 21 David A Kolb. Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development (FT press, 2. David A Kolb. Richard E Boyatzis, and Charalampos Mainemelis. AuExperiential Learning Theory: Previous Research and New Directions,Ay in Perspectives on Thinking. Learning, and Cognitive Styles (Routledge, 2. , 227Ae247. El Banat Vol. 16 No. Muhamad Misbahul Munir, dkk. karena nilai-nilai yang diajarkan dapat diamati dan dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan sekolah. Dengan demikian, pendidikan lingkungan hidup tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi berkembang menjadi kesadaran moral dan spiritual yang tertanam dalam diri peserta didik. Selain itu, kegiatan-kegiatan Adiwiyata yang dilakukan secara rutin membentuk budaya sekolah yang mendukung pengembangan karakter peduli lingkungan. Melalui keterlibatan aktif dalam berbagai program lingkungan, peserta didik belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepedulian sosial, serta sikap menghargai kehidupan. Nilai-nilai karakter tersebut tumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran bahwa manusia memiliki keterikatan yang erat dengan alam sebagai sesama ciptaan Tuhan. Kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam membangun spiritualitas lingkungan yang mendorong perilaku ramah lingkungan secara berkelanjutan. Integrasi nilai ekoteologi yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Mranggen juga memperlihatkan bahwa program Adiwiyata dapat berfungsi sebagai media pendidikan karakter berbasis spiritualitas lingkungan. Integrasi nilai ekoteologi menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat berfungsi sebagai media pendidikan karakter berbasis spiritualitas lingkungan. Program ini tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjaga lingkungan, tetapi juga membentuk individu yang memiliki kesadaran religius, tanggung jawab moral, serta komitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan dan kepedulian terhadap keberlanjutan kehidupan Temuan ini memperkuat pandangan Mary Evelyn Tucker dan John Grim yang menegaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan bagian dari praktik spiritual dan etika keagamaan. 23 Dengan demikian, program Adiwiyata tidak hanya berfungsi sebagai pendidikan lingkungan berbasis teknis-ekologis, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai religius dan pembentukan kesadaran tauhid peserta didik. Dampak Praktik Ekoreligius terhadap Perilaku Karakter Religius Murid Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata di SMP Negeri 3 Mranggen tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kepedulian lingkungan peserta didik, tetapi juga pada pembentukan karakter religius dan kesadaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini terlihat dari perubahan perilaku siswa dalam pengelolaan sampah, pengurangan Tucker and Grim. AuThomas Berry: A New Cosmology and Practical Spirituality. Ay El Banat Vol. 16 No. Integrasi Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Program Adiwiyata sebagai penguatan Karakter Religius dan Tauhid penggunaan plastik, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, serta kebiasaan menjaga tanaman dan fasilitas sekolah secara mandiri. Perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang diintegrasikan dengan nilai spiritual mampu membentuk hubungan yang lebih reflektif antara manusia, alam, dan nilai Dalam konteks ini, siswa tidak hanya memahami lingkungan sebagai objek fisik yang harus dijaga, tetapi juga sebagai bagian dari amanah spiritual manusia sebagai khalifah di bumi. Temuan tersebut sejalan dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona yang menegaskan bahwa pembentukan karakter berlangsung melalui tiga komponen utama, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. 24 Praktik ekoteologi di SMP Negeri 3 Mranggen menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius tidak hanya dilakukan melalui penyampaian nilai secara kognitif, tetapi juga melalui pembiasaan dan keteladanan dalam aktivitas ekologis sehari-hari. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai model perilaku ekologisreligius yang dicontoh oleh siswa. Dengan demikian, integrasi nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata memperlihatkan bahwa pembelajaran lingkungan dapat menjadi media internalisasi nilai religius secara kontekstual dan aplikatif. Selain itu, penggunaan lingkungan alam sebagai media pembelajaran menunjukkan adanya penerapan pendekatan experiential learning dari David Kolb yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses pembelajaran. Kegiatan seperti penanaman pohon, pengelolaan kompos, hidroponik, dan pembelajaran di luar kelas memberikan pengalaman konkret kepada siswa untuk memahami hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Pengalaman langsung tersebut mendorong terbentuknya refleksi personal dan kesadaran ekologis yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran teoritis di dalam kelas. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman tidak hanya memperkuat aspek kognitif siswa, tetapi juga membentuk dimensi afektif dan spiritual dalam proses pendidikan. Dalam perspektif ekoteologi, hasil penelitian ini mendukung pandangan Mary Evelyn Tucker dan John Grim yang menyatakan bahwa krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknologis, tetapi juga memerlukan transformasi kesadaran spiritual manusia terhadap alam. Integrasi nilai religius dalam Lickona. Character Matters (Persoalan Karakte. : Bagaimana Membantu Anak Mengembangkan Penilaian Yang Baik. Integritas. Dan Kebajikan Penting Lainnya. Kolb. Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. El Banat Vol. 16 No. Muhamad Misbahul Munir, dkk. program Adiwiyata di SMP Negeri 3 Mranggen menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat menjadi sarana untuk membangun ecological conscience, yaitu kesadaran ekologis yang didasarkan pada nilai moral dan spiritual. Temuan ini berbeda dengan sebagian penelitian terdahulu yang umumnya memosisikan program Adiwiyata hanya sebagai instrumen pembentukan perilaku peduli lingkungan dan budaya sekolah hijau. Penelitian ini menunjukkan bahwa program Adiwiyata juga dapat berfungsi sebagai media internalisasi nilai tauhid dan pembentukan karakter religius peserta didik melalui praktik ekologis yang terintegrasi dalam budaya Secara pengembangan kajian ekoteologi dalam pendidikan dengan menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan berbasis spiritualitas memiliki potensi dalam membentuk karakter peserta didik secara holistik. Penelitian ini memperluas pemahaman bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan aspek moral dan sosial, tetapi juga dapat dibangun melalui relasi ekologis dan kesadaran spiritual peserta didik terhadap Sementara itu, secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan pendidikan lingkungan di sekolah. Program Adiwiyata tidak seharusnya hanya difokuskan pada aspek administratif dan teknis lingkungan, tetapi juga perlu diintegrasikan dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai religius melalui kurikulum, budaya sekolah, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Dengan demikian, pendidikan lingkungan dapat menjadi sarana strategis dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran ekologis, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial secara bersamaan. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai ekoteologi dalam program Adiwiyata di SMP Negeri 3 Mranggen berkontribusi terhadap pembentukan karakter religius dan kesadaran tauhid peserta didik melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pembiasaan ekologis, serta penguatan nilai spiritual dalam aktivitas sekolah sehari-hari. Integrasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran lingkungan, pengelolaan kebersihan sekolah, penghijauan, pemanfaatan lingkungan sebagai media belajar, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan yang dikaitkan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa pendidikan lingkungan yang dipadukan dengan nilai-nilai religius mampu membentuk karakter El Banat Vol. 16 No. Integrasi Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Program Adiwiyata sebagai penguatan Karakter Religius dan Tauhid peserta didik yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan perspektif bahwa program Adiwiyata tidak hanya berfungsi sebagai pendidikan lingkungan berbasis ekologis, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai ekoteologi dalam pembentukan karakter religius peserta didik. Penelitian ini menawarkan model konseptual pendidikan karakter berbasis ekoteologi yang menghubungkan tiga aspek utama, yaitu pendidikan lingkungan, spiritualitas keagamaan, dan pembiasaan perilaku ekologis dalam budaya Dengan demikian, penelitian ini memperluas kajian pendidikan karakter melalui pendekatan yang lebih holistik dan integratif antara dimensi ekologis dan spiritual. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena dilakukan dalam lingkup studi kasus pada satu sekolah sehingga temuan penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas pada konteks pendidikan yang berbeda. Selain itu, penelitian ini lebih menitikberatkan pada eksplorasi pengalaman dan praktik pendidikan berbasis ekoteologi sehingga belum mengkaji secara mendalam pengaruhnya terhadap perubahan perilaku peserta didik dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan studi komparatif pada berbagai jenis sekolah, menguji implementasi model pendidikan berbasis ekoteologi secara lebih luas, serta mengkaji hubungan antara pendidikan lingkungan, spiritualitas, dan pembentukan karakter peserta didik melalui pendekatan multidisipliner dan metode penelitian yang lebih beragam. Referensi