JURNAL NUANSA AKADEMIK Jurnal Pembangunan Masyarakat . ISSN: 1858-2826. ISSN: 2747-0954 Vol. 6 No. Juni 2021, p. 75 - 88 Potret Prosesi Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul Heri Kuswanto1. Ricy Fatkhurrokhman2. Khoirul Anam3. Ahmad S. Rahman4* IIQ An-Nur Yogyakarta, 2STAIYO Wonosari, 3UIN Sunan Kalijaga. Universitas Cokroaminoto Yogyakarta *Penulis Koresponden. sunksam3@gmail. Diterima: 27-05-2021 Disetujui: 31-05-2021 Dipublikasi: 10-06-2021 Abstract: The apostolic tradition in the life of the Muslim community in Gunug Kidul Regency has been going on for generations. The people have followed the ritual since pre-Islamic times until there was an adjustment to the Islamic creed The strong belief in this tradition has led to research by shooting Data were collected through observation and in-depth interviews with selected informants by triangulation for verification. The apostle has been modified according to the dominant Islamic belief in society. As a result, there has been a change in the Muslim community in viewing sacredness even though they still have a strong desire to participate in this ritual. The role of modin in this matter cannot be ignored in maintaining the values of monotheism parallel to local wisdom in the apostolic tradition which is in accordance with its social role in society, including preaching it. Keywords: tradition, modin, muslims society, portrait Abstrak: tradisi rasulan dalam kehidupan masyarakat muslim Kabupaten Gunug kidul telah berlangsung turun temurun. Masyarakatnya telah mengikuti ritualnya sejak zaman pra Islam hingga terjadi penyesuain dengan akidah Islam sekarang ini. Keyakinan kuat terhadap terhadap tradisi ini telah mendorong untuk diteliti dengan memotret secara etnografik. Data terkumpul melalu observasi dan wawancara mendalam dengan informan terpilih dengan triangulasi untuk verifikasi. Rasulan telah mengalami modifikasi sesuai dengan keyakinan Islam yang dominan dalam masyarakat. Akibatnya terjadi perubahan pada masyarakat muslim dalam memandang sakralitas meski masih tetap berkeinginan kuat untuk berpartisipasi dalam ritual tersebut. Peran modin dalam hal ini tidak bisa diabaikan dalam menjaga nilai-nilai ketauhidan parallel dengan kearifan local dalam tradisi rasulan yang sesuai dengan peran sosialnya dalam masyarakat termasuk mendakwahkannya. Kata kunci: tradition, modin, muslim society, portrait Pendahuluan Salah satu tradisi masyarakat Kabupaten Gunungkidul yang masih dijalankan sejak zaman pra-Islam hingga berkembang pesat sekarang ini pada adalah AurasulanAy. Tradisi ini telah mengalami akulturasi budaya dari sisi nilai keagamaan sejak kedatangan Islam di wilayah tersebut. Awalnya berjalan mengungkapkan syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan panen This is an open access article under the CC BY-SA license Heri Kuswanto. Ricy Fatkhurrokhman. Khoirul Anam. AS. Rahman Namun kedatangan Islam telah memberikan kesegaran tersendiri dalam prosesi tradisi itu dalam memandang doa kepada Tuhan YME melalui nilai ketauhidan. Masyarakat muslim Gunungkidul bahkan telah meyakininya sebagai hari raya ketiga setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hampir semua masyarakat termasuk warga muslim di berbagai wilayah Gunungkidul antusias mengikuti semua ritus rasulan ini. Mereka yang berada di perantauan bahkan rela untuk untuk pulang kampung agar tetap terlibat dalam ritual tradisi khas salah satu Kabupaten di Propinsi DIY itu. Tradisi ini sebenarnya juga ada di daerah-daerah lainnya, namun dengan sebutan yang berbeda-beda, seperti bersih desa, selametan dan merti Desa (Brahmanto 2014. Mixdam 2017. Yuliana dan Purwanto 2. ini juga menggunakan simbol-simbol kesenian dan kebudayaan local Jawa seperti arakan gunungan yang berisi macam-macam hasil bumi, seperti tebon, padi, ketan, kacang tanah, kacang panjang, cabai, benguk, jeruk peras, tomat, kentang, jagung dan juwawut. Berbagai kesenian Jawa juga terlihat memeriahkan rasulan, seperti jathilan, reog, atau wong ireng. Keyakinan kuat masyarakat muslim Gunung Kidul terhadap tradisi telah mendorong penelitian mendalam untuk memotret lebih dekat upaya masyarakat dalam pelestariannya tanpa kehilangan iman tauhid. Penelitian sebelumnya banyak melihatnya dari sisi kepariwisataan relijius berbasis kearifan local Gununkidul (Brahmanto 2014. Rahayu 2. Latar belakang sosiologisnya juga telah dikupas (Harjanti dan Sunarti 2019. Mixdam 2017. Wungo 2020. Yuliana dan Purwanto 2. Unsur kearifan local dari tradisi tersebut juga telah banyak menarik perhatian (Adriyanto dan Kusdarini 2020. Dewanti. Assingkily, dan Kamala 2019. Wulandari. Nurkholidah, dan Solikhah 2. Rasulan juga telah diulas dari sisi keagamaan (Isfironi 2. Penlitian tersebut masih memerulukan penjelasan bagaimana tradisi local seperti rasulan bisa juga menjadi sarana penting dalam dakwah meluaskan dan menguatkan ketauhidan bagi masyarakat sekitarnya. Metode Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Potret Prosesi Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul Penelitian etnografis ini berusaha mendeskripsikan bagaimana prosesi tradisi rasulan dalam kehidupan masyarakat muslim di Kabupaten Gunung kidul sekarang ini. Karena merupakan penelitian kualitatif, data sebagian besar diperoleh dengan observasi dan wawancara mendalam. Informan diambil dari para sesepuh dan tokoh masyarakat di dua lokasi penelitian yang diamati yaitu. Kecamatan Purwosari termasuk Kepek dan Girisobo, dengan karakter masing-masing yang khas antara masyarakat pedalaman dan pesisir dari Kabupaten Gunungkidul. Triangulasi dilakukan guna verifikasi data dengan cara perpanjangan waktu penelitian. Data-data kualitatif tersebut kemudian dianalisa dengan metode deskriptif-kualitatif analitis secara interdisipliner melalui antropologi-sosiologi serta komunikasi dakwah. Tradisi Rasulan bagi Masyarakat Gunungkidul Berbagai ritus budaya dan adat istiadat Jawa tersebut hidup dan berkembang di masyarakat pesisir Gunungkidul. Salah satu yang masih berkembang dan menjadi identitas masyarakat Gunungkidul adalah tradisi Sejarah rasulan masih menjadi misteri, karena mayoritas tokoh adat tidak mengetahui sejak kapan tradisi ini dimulai. Belum ada catatan resmi mengenai sejak kapan Rasulan ini dilaksanakan (Suharjo 2. Namun yang pasti, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan merupakan warisan dari nenek moyang yang dilaksanakan oleh masyarakat Gunungkidul dari ujung barat, yakni Kecamatan Panggang dan sampai yang paling timur, yakni Kecamatan Girisubo. Rasulan adalah suatu tradisi tahunan yang sudah lama dilaksanakan oleh masyarakat pesisir Gunungkidul dengan maksud dan tujuan tertentu. Tradisi ini sudah menjadi adat kebiasaan yang sulit dihilangkan. Meskipun saat ini peradaban manusia sudah moderen, namun kebudayaan ini tetap eksis dan keberadaanya tidak tergantikan oleh budaya apapun. Rasulan telah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Gunungkidul yang setiap tahunnya mampu mengundang animo masyarakat. Masyarakat Gunungkidul yang merantau di berbagai daerah dan negara akan pulang untuk mengkuti prosesi rasulan yang menurut mereka mempunyai makna yang penting dalam kehidupan mereka. Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Heri Kuswanto. Ricy Fatkhurrokhman. Khoirul Anam. AS. Rahman Kata rasulan mirip bahasa Arab, namun sebenarnya dalam konteks rasulan di Gunungkidul, tidak ada hubungannya secara langsung. Kata rasulan sendiri bukanlah suatu kegiatan yang berhubungan dengan peringatan terhadap suatu moment hidup Nabi Muhammad SAW, seperti Maulid Nabi atau IsraAo MiAoraj. Tradisi ini muncul dalam kehidupan masyarakat di desadesa di Gunungkidul sebagai bentuk bakti manusia terhadap tuhannya. Rasulan merupakan salah satu bentuk tradisi perayaan pasca-panen Jawa. Tradisi diselenggarakan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur terhadap panen hasil bumi yang melimpah sekaligus untuk merti atau bersih desa mengharap keselamatan dan menolak mara-bahaya terhadap seluruh warga desa (Harjanti dan Sunarti 2019. Rahayu 2. Di tempat lain, tradisi rasulan dinamakan bersih dusun. Disebut bersih dusun karena dalam tradisi ini terdapat ritus kerja bakti, gotong royong, merapikan tempat-tempat umum, tempat makam, selamatan, kendurian, dan di lanjutkan dengan mengirim doa kepada leluhur masyarakat tersebut, yang bertujuan meminta kemakmuran, kesehatan, terhindar dari bencana kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kedekatan dengan Tuhan telah mewarnai ritus rasulan mempunyai makna mistis spiritual. Berbagai ritus acara dilaksanakan dalam tradisi rasulan tersebut, seperti mengundang wayang kulit atau kesenian lainnya. Tradisi rasulan dilaksanakan setelah musim panen yang kedua atau sudah musim kemarau. Maksud dan tujuan adanya rasulan menurut tokoh adat di Girisubo adalah untuk memohon kepada Tuhan YME supaya dalam kehidupannya diberi keselamatan dan kemudahan dalam mencari rezeki sekaligus ucapan ungkapan Syukur pada-Nya atas hasil panen yang diperoleh. Hal itulah yang diutarakan oleh sudiyanto, tokoh pemuda di Desa Kepek Saptosari Gunungkidul. bapak Suharto sekretaris camat Purwosari menerangkan. AuBersih Desa atau Rasulan adalah sebuah ritus dalam masyarakat kita. Rasulan menjadi ritual bebersih desa warisan dari nilai-nilai luhur nenek moyang yang menunjukkan bahwa manusia menyatu dengan alam. Ritus ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Potret Prosesi Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul menghidupi mereka. Ay Dalam teknis pelaksanaannya, pemerintah desa membentuk panitia Rasulan dan kemudian panitia rasulan merencanakan acara, waktu pelaksanaan serta jumlah biaya yang dibutuhkan. Wibowo, satu tokoh pemuda Kecamatan Girisubo, menceritakan. AuSetelah teknis pelaksanaan diputuskan, kemudian biaya pelaksanaan dibebankan kepada warga masyarakat per-keluarga. Ay Kecamatan Purwosari, serangkaian acara yang bisa memakan waktu berhari-hari. Acara tradisi Rasulan ini diawali dengan gugur gunung --gotong royong/kerja bakti-membersihkan lingkungan, seperti memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, membersihkan makam, membersihkan sungai dan membersihkan tempat persemayaman dhanyang. Sementara sesepuh Giri Sobo. Ritus sesaji dan persiapan-persiapan segala hal untuk hari berikutnya juga dilakukan oleh masyarakat. Sesaji ditaruh di titik yang meliputi pusat-pusat desa, tempat-tempat keramat, tempat-tempat yang berkaitan dengan air . umur, sungai, mata ai. , batasbatas desa . tara, selatan, timur, bara. , setiap perempatan, dan setiap pertigaan di wilayah tersebut. Waktunya ditetapkan pada saat panen pertama atau pada waktu memetik padi untuk yang pertama kali. Bahan-bahan yang dijadikan sesaji antara lain: janur kuning, kembang setaman . unga 7 rup. , kaca, sisir, air dalam kendhi . empat air dari tanah lia. , jajan pasar, nasi dan pisang. Sesaji itu kemudian di doakan secara bersama-sama yang dipimpin oleh sesepuh desa atau biasa di sebut dengan pak Kaum atau pak Modin sampai selesai. Masing-masing benda itu mempunyai fungsi dan makna yang berbedabeda, di antaranya: Nasi Gurih, sebagai persembahan kepada para leluhur. Ingkung, sebagai lambang manusia ketika masih bayi dan sebagai lambang kepasrahan pada Yang Maha Agung. Jajan Pasar, sebagai lambang agar masyarakat mendapat berkah. Pisang Raja, sebagai lambang harapan agar mendapat kemuliaan dalam masa kehidupan. Nasi Ambengan, sebagai ungkapan syukur atas rezeki dari Yang Maha Agung. Jenang, berupa jenang merah putih . ambang bapak dan ib. dan jenang palang . enolak Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Heri Kuswanto. Ricy Fatkhurrokhman. Khoirul Anam. AS. Rahman Tumpeng, berupa tumpeng lanang . ambang Yang Maha Agun. dan tumpeng wadon . ambang penghormatan pada leluhu. yang ukurannya lebih kecil. Ketan Kolak Apem, untuk memetri pada dhanyang yang ada di wilayah desa tersebut. Makanan yang tidak pernah tertinggal adalah peyek. Peyek merupakan makanan yang terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan kacang tanah dan digoreng dengan tipis-tipis. Penyajian hidangan ini dilakukan untuk bersyukur kepada Allah dan menyisihkan sebagian rejekinya kepada orang lain. Semua Makanan dan sesaji tersebut harus ada dalam pelaksanaan rasulan karena masing-masing makanan dan sesajen mempunyai makna dan nilai spiritual yang berbeda-beda. Acara selanjutnya adalah makan bersama. Demikian yang dituturkan oleh bapak Suharto, salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Purwosari. Disinilah uniknya tradisi rasulan yang ada di masyarakat pesisir Gunungkidul. Meskipun zaman sudah berubah, namun tradisi leluhur masih tetap terjaga dan menjadi magnet tersendiri bagi para pendatang. Malam harinya dilaksanakan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk dengan disaksikan oleh segenap warga masyarakat dan juga pengunjung dari luar daerah atau luar kelurahan. Bila dhalang wayang kulit yang diundang adalah dhalang yang sudah terkenal di tingkat nasional, maka biaya untuk dhalang dan perangkatnya bisa mencapai dua puluh juta atau lebih, tetapi jika dalang yang diundang biasa saja maka biayanya lebih murah. Bila tambahan acara lebih banyak maka dana yang ditanggung warga masyarakatpun akan bertambah besar pula. Meskipun dana yang dikeluarkan tergolong banyak, memberikan donasinya. Inilah kekhasan masyarakat Gunungkidul yang senantiasa menempatkan kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupannya, meskipun secara ekonomi juga sulit. Para peserta dari luar desa dianggap tamu sehingga jamuan bagi pendatang ini juga disediakan. mbah Atmo Wilopo, tokoh sesepuh Desa Giri sekar mengutarakan. AuIni semua mereka lakukan dengan sukarela dan dengan senang hati. Mereka meyakini bahwa apa yang Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Potret Prosesi Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul dikeluarkan adalah bentuk dari cinta baktinya kepada Tuhan demi mendapatkan keberkahan. Ay Hari selanjutnya, rangkaian acaranya acara berisikan keseniankesenian budaya lokal. Acara-acara seperti warok, kuda lumping dan taritarian mewarnai kemeriahan seperti reog, jathilan dan kethoprak. Perlombaan sepak bola antar dusun, volley dan berbagai macam pertunjukan dan tontonan lain juga bagian dari rasulan tergantung pada kesiapan kemampuan masingmasing wilayah peneyelenggara rasulan. Tradisi yang sama, seluruh masyarakat menyiapkan hidangan yang istimewa untuk saudara atau tetangga yang ingin bersilaturrahmi dengan menu yang sangat komplit selama tradisi berjalan. Biaya yang diperlukan per-keluarga untuk mendukung acara rasulan tersebut bisa dua puluh ribu rupiah, namun bisa mencapai ratusan ribu rupiah per-keluarga. Ditambah biaya untuk menyediakan perangkat lainnya. Meskipun harus mengeluarkan uang, namun masyarakat sangat antusias karena meyakini bahwa rasulan mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan mereka. Mereka tidak pernah merasa keberatan dan akan berusaha semaksimal mungkin demi terselenggaranya acara rasulan yang mereka anggap sebagai pintu keberkahan. Nilai-nilai yang ada dalam ritus-ritus tradisi rasulan memang sudah ada yang berubah sesuai dengan pola beragama warga mayoritas di Gunug kidul meski rasulan tetap dilaksanakan dengan cara yang sama, mulai memilih hari, tempat, sesaji, kesenian dan ritus yang sama. Rasulan tetap dilaksanakan di hari tertentu yang dianggap sakral, di tempat-tempat yang dianggap banyak ditempati oleh makhluk-makhluk ghaib seperti pohon besar, laut ataupun sungai yang dianggap angker. Selain tempat yang belum berubah, ritus dan sesajen beraroma mistis yang dilakukan dan disajikan juga masih sama, seperti kemenyan, janggrung (Laksono 2. , ingkungan (Khalim 2. , wayangan (Cohen 2. , dan jathilan (Kuswarsantyo 2. Meskipun waktu, prosesi, tempat kegiatan dan ritus rasulan masih sama, namun sebagian generasi muda telah menjadikan tradisi rasulan sebagai tradisi yang nilainya disesuaikan dengan zaman, kebudayaan dan Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Heri Kuswanto. Ricy Fatkhurrokhman. Khoirul Anam. AS. Rahman kepercayaan masyarakat sekarang. Sebagian kaum muda lebih menekankan makna kebersamaan, makna bentuk syukur kepada Allah Swt atas limpahan nikmat yang diterima oleh warga serta nilai saling tolong menolong dan gotongroyong daripada makna mistik yang selama ini dipercayai oleh kaum Paling penting bagi sebagian pemuda adalah bagaimana mereka bisa berkumpul bersama, bernyanyi, makan bersama dan menikmati gebyar seluruh acara. Inilah sedikit perubahan yang terjadi di kalangan pemuda pesisir Gunungkidul meskipun belum semua bisa mempunyai pola pemahaman yang sama. Keyakinan sebagian generasi muda tidak terlalu mempercayai nilainilai mistik yang terdapat dalam ritus-ritus tradisi rasulan seperti yang diyakini oleh kaum tua. Mereka melaksanakan ritus dan prosesi rasulan bukan semata mempercayai nilai-nilai mistik yang ada, tetapi lebih kepada gebyarnya, nilai kebersamaan dan silaturrahimnya. Nilai yang mereka ambil dari tradisi rasulan ini adalah, mereka bisa makan bersama, nonton bersama, bercengkrama bersama dan bersilaturrahim. Mereka juga bisa menari, menyanyi dan bersenda gurau bersama. Inilah nilai-nilai yang dipahami oleh sebagian kalangan pemuda yang mencoba melakukan perubahan pola pikir terhadap tradisi rasulan yang ada di wilayah mereka. Nilai-nilai mistik yang diyakini oleh generasi tua lambat laun bergeser, meskipun belum sepenuhnya Masih ada juga kelompok muda yang mempercayai nilai-nilai mistik dalam ritus meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Demikian pandangan 2 tokoh pemuda kecamatan Giri Subo dari desa Pucung dan Jepitu Setelah datangnya Islam. Rasulan memang mengalami perubahan nilai dan paradigm. Rasulan yang awalnya dijadikan sebagai kepercayaan terhadap roh-roh halus, danyang, roh nenek moyang dan dewa-dewa mencoba diubah oleh para wali yang memperjuangkan Islam di Gunungkidul. Setelah pengaruh Islam masuk ke daerah pesisir selatan pulau Jawa maka tradisi ini mengalami akulturasi dengan nilai-nilai Islam. Para wali menyebarkan ajaran Islam melalui media seni dan budaya. AuMedia seni dan budaya merupakan Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Potret Prosesi Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul mengumpulkan orang lalu menyampaikan pesan Islam dalam kemasan seni dan budayaAy. Para wali memunculkan kisah kisah itu dengan versi Islam. Dengan cara itu, penanaman akidah mulai merasuk dalam sanubari masyarakat bahkan lambat laun mengalahkan kisah mitologi Hindu yang asli. Bentuk kepercayaan masyarakat pun mulai berubah. Masyarakat mulai mengenal Tuhan YME. Sang penguasa kehidupan yang sejati yang menciptakan bumi dan segala isinya tanpa ada yang bisa menyamainya. Tuhan mengatur kehidupan manusia dari lahir hingga mati. Masyarakat mengenal Al QurAoan yang berisi aturan dan hikmah-hikmah. Semua makhluk sama yaitu ciptaan Tuhan yang tidak patut disembah. Amanah para wali kemudian diwujudkan dengan peran Modin yang kuat dalam tradisi rasulan. Dia lah yang memimpin acara tersebut. Modin menjadi nama jabatan perangkat desa yang membidangi bidang keagamaan (Atmadja 2017. Nugraha 2020. Sholichah dan Bukhori 2. Karena itu peran dakwah bagi kehidupan masyarakat pedesaan tidak bisa dipungkiri. Bahkan ia tidak berdiri sendiri dan berhubungan dengan Kantor Urusan Agama di wilayah Kecamatan (Fauzi 2019. Segara 2. KUA sebagai salah satu instrument pemerintah yang penting dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan ajaran Islam dalam masyarakat di berbagai bidang (Atmaja et al. Muthmainnah et al. 2019, 2020. Nurkholis. Istifianah, dan Rahman 2020. Wafiq dan Santoso 2017. Zainuri et Kolaborasi keduanya menjadi ujung tombak yang penting dalam penyebaran agama Islam di masyarakat Gunung kidul termasuk dalam melestarikan tradisi-tradisi local yang bermanfaat bagi dakwah. Rasulan dalam kosmos Jawa termasuk dalam salah satu kategori slametan yang tidak bisa terlepas dari peran modin atau kaum. Sutiyoso telah menjelaskan ragam slametan dalam budaya jawa. AuPertama, slametan siklus hidup manusia yaitu slametan dalam rangka memuliakan peristiwa penting kehidupan orang Jawa, mulai dari peristiwa kelahiran, supitan, tetesan, pernikahan, sampai kematian. Slametan untuk peristiwa kelahiran antara lain: . brokohan, dan . Slametan untuk peristiwa supitan/tetesan antara lain: . supitan/tetesan dan . Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Heri Kuswanto. Ricy Fatkhurrokhman. Khoirul Anam. AS. Rahman Slametan untuk peristiwa perkawinan antara lain: sepasaran, . Slametan untuk peristiwa kematian antara lain: . hari ke3, ke-7, ke-40, ke-100, setahun, dua tahun, dan hari ke-1000. Kedua, slametan ziarah merupakan tradisi slametan yang dilakukan dengan melakukan suatu ritual yang diikuti oleh orang banyak . ecara kolekti. dan sendiri . ke tempat-tempat keramat, seperti makam, pohon, dan sendang. Secara kolektif dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Secara individual dilakukan dengan waktu bebas. Ketiga, slametan alam yaitu bentuk ritual yang dilakukan masyarakat agraris, guna melestarikan kehidupan tanaman padi, antara lain tedun, metik, dan Mboyong Mbok Sri. Ay(Sutiyono 2. Sutiyono mengungkapkan lebih lanjut. Aspek terpenting dalam upacara Tanpa hadirnya mitos kepercayaan, tentu upacara ini tidak memiliki roh, yang berarti akan mudah ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Sebagaimana Geertz . menyebut- kan, makna slametan adalah orang tidak akan merasa dibedakan dengan yang lain dalam satu komunitas wilayah. Kenyataanya orang yang tidak melakukan slametan dianggap ora umume wong atau dianggap bukan manusia, yang artinya dianggap tidak umum dalam kelompok Oleh karena itu, upacara slametan dianggap sebagai salah satu elemen tradisi masyarakat yang paling sulit untuk berubah dibanding dengan elemen kebudayaan Jawa yang lain. (Sutiyono 2. Dengan demikian Modin pun menjadi peran yang tak tergantikan dalam rasulan yang termasuk slametan alam. Hingga dalam konteks perkawinan, salah satu peristiwa kehidupan yang perlu diselameti, dalam penjelasan Segara . AuSecara antropologis, modin dianggap sebagai Aodewa penolongAo yang sangat berjasa dalam membantu dan mengurus segala keperluan perkawinan yang kini tidak mungkin dilakukan oleh keluarga calon Tugas modin yang juga mengerjakan kebutuhan sosial keagamaan masyarakat dari kebutuhan saat kelahiran hingga kematian, makin menempatkannya pada posisi yang sangat istimewa di masyarakat. Ay Modin dalam memimpin rasulan dengan pengantar bahasa Jawa, dilanjutkan memimpin doa dengan berbahasa Arab. Dalam doa ini biasa terlontar kata-kata bahasa Arab berlidah Jawa kental. Aungalaikum, bismillah. Jurnal Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 6 No. Juni 2021 Potret Prosesi Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul Mukammad, alkamdulilah, ngalamin, dan amien. Ay Doa-doa berbahasa Arab sering dibaca dengan lidah Jawa. Menurut Sutiyono, kesalahan-kesalahan demikian dimaklumi oleh masyarakat. Meski demikian doa lisan itu tersusun dalam sebuah satuan wacana yang utuh dan tersusun menjadi sebuah rangkaian bahasa yang mampu membawa pelaku ritual hanyut dalam segala permohonan mereka (Nuryani 2. Inilah yang menjadi kekuatan dari peran Modin dalam memnyelenggarakan rasulan agar bisa menjadi sarana dakwah penting bagi peneyebaran dan penguatan ajaran Islam. Kesimpulan Tradisi rasulan di Kabupaten Gunungkidul sekarang ini telah Gunungkidul. Karenanya masyarakatnya masih fanatik dan melestarikan tradisi tahunan yang telah mendarah daging dalam kehidupan mereka meski mengalami pergeseran juga dalam cara memandang nilai sakralitas yang melekat dalam ritual tersebut. Modin selaku pemimpin dalam ritual rasulan berperan dalam dakwah dengan memegang teguh dan menyebarkan nilainilai kearifan local yang mengalami persesuaian dengan kehidupan masyarakat muslim Gunungkidul selama tradisi ini berjalan. Diantara nilai tersebut adalah. Nilai penghormatan terhadap leluhur. doa keselamatan dari mara bahaya erta penangkal dari roh-roh jahat. kebersamaan/sosial yaitu masyarakat secara bersama-sama bekerja bakti membersihkan makam dan membuat umbul-umbul sehingga kebersamaan antar mereka tetap terjalin dengan baik. penguatan hubungan religi yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dapat terjalin dengan baik jika mereka menjalankan agama dan tradisi upacara bersih desa setiap tahunnya. keamanan yaitu masyarakat bisa terbebas dari pagebluk dan seluruh desa akan merasa aman. Nilai ekonomi termasuk di dalamnya. Dengan tetap melaksanakan upacara masyarakat akan lebih mudah dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, serta hasil panen akan meningkat di tahun depan. Daftar Pustaka