Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik. Volume XI Nomor 2 September 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 DOI: https:// 10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo Vinsensia Yulisa Crespany1* Maria Imelda2 Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda Indonesia Alamat: Jl. WR. Soepratman. No. Samarinda, 75121. Kalimantan Timur. Indonesia. Korespondensi penulis: vinsensiayulisac@gmail. Abstract. The ecological crisis has attracted much attention worldwide. The Church has also called for action. Through the encyclical written by Pope Francis, a call for positive transformation in response to the ecological crisis has been made. This study aims to examine the role of the Church as an agent of transformation and to implement the understanding of Laudato si' in concrete action. The method used is a literature review with a qualitative descriptive approach, examining Church documents such as Laudato siAo and other secondary data. The results of this study indicate that the Church is an agent of ecological transformation with a crucial role in promoting ecological wellbeing. Within Laudato siAo, three aspects form the ChurchAos implications: ecological conversion, liturgy, and faith education, which foster ecological awareness and solidarity with the victims of the ecological crisis. The Church is not merely a messenger but actively serves as a driving force for sustained change. Keywords: Agents, implications Laudato siAo, transformation. Abstrak. Krisis ekologis telah menarik perhatian besar di seluruh dunia. Gereja juga telah menyerukan tindakan nyata. Melalui ensiklik yang ditulis oleh Paus Fransiskus, disampaikan ajakan untuk melakukan transformasi positif sebagai tanggapan terhadap krisis ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Gereja sebagai agen transformasi serta mengimplementasikan pemahaman atas Laudato siAo dalam tindakan konkret. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif, menelaah dokumen Gereja seperti Laudato siAo dan data sekunder lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gereja merupakan agen transformasi ekologis yang memiliki peran penting dalam memajukan kesejahteraan ekologis. Dalam Laudato siAo, terdapat tiga aspek yang membentuk implikasi peran Gereja: pertobatan ekologis, liturgi, dan pendidikan iman, yang menumbuhkan kesadaran ekologis serta solidaritas terhadap para korban krisis Gereja tidak hanya menjadi pembawa pesan, tetapi juga secara aktif berperan sebagai penggerak perubahan berkelanjutan. Kata kunci: Agen, implikasi Laudato siAo, transformasi. Received: Agustus 28, 2025. Revised: September 25, 2025. Accepted: September 28, 2025. Online Available: September 30, 2025. *Corresponding author, vinsensiayulisac@gmail. E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 LATAR BELAKANG Sejak awal mula penciptaan, manusia hidup berdampingan dengan alam ciptaan Allah. Dalam kisah penciptaan Allah menciptakan alam semesta terlebih dahulu dari pada manusia (Kej 1:. Manusia adalah penguasa seluruh ciptaan sebab manusia merupakan gambar dan citra Allah itu sendiri. Hal ini terdapat dalam kejadian 1: 28 AuAllah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: AuBeranakcuculah dan bertambah banyak. penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Ay Allah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk mengelola dengan baik seluruh ciptaanNya. Namun, semakin manusia berkembang dan semakin zaman terus melangkah Manusia mulai sedikit lebih serakah, ia semakin lupa akan apa yang dipercayakan Allah kepadanya yaitu mengelola alam semesta bukan mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri. Paus Paulus VI dalam surat apostoliknya Octogesima Advenias menyoroti tentang ekspoloitasi alam yang dilakukan secara tidak bertanggunng jawab oleh manusia (OA art. Paus Paulus VI juga mengkritik penafsiran yang kurang tepat perihal perintah Allah ketika penciptaan yang terdapat dalam Kejadian 1:28. Manusia adalah rekan kerja Allah dalam karya penciptaan . ooperator De. , dan oleh karena itu, tugas manusia adalah memelihara, menjaga, dan menyempurnakan dunia ciptaan, bukan merusaknya demi kepentingan egoistik atau konsumtif. Krisis lingkungan hidup dewasa ini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan, salah satunya ditandai oleh fenomena desertifikasi, yaitu degradasi lahan subur menjadi tanah gersang akibat ulah manusia dan perubahan iklim. Proses ini tidak hanya menyebabkan hilangnya produktivitas lahan, tetapi juga berdampak luas terhadap ketahanan pangan, migrasi penduduk, kemiskinan, dan ketidakstabilan sosial. Desertifikasi kini bukan sekadar persoalan ekologi teknis, tetapi juga merupakan masalah moral, sosial, dan spiritual. Selain itu juga, muncul aktivitas pertambangan yang Aktivitas pertambangan ini menyebabkan kerusakan hutan yang megancam ekosistem alami Indonesia secara serius (Ardhana 2. Berbagai macam aktivitas pertambangan yang telah ada di Indonesia. Salah satunya adalah pertambangan batu bara, kegiatan pertambangan batu bara yang terjadi secara terus menerus akan merusak kualitas GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo Bahkan, aktivitas pertambangan batu bara telah merusak sumber-sumber mata air dan sungai yang digunakan masyarakat bagi kebutuhan sehari-hari. (Razi 2. Manusia memang membutuhkan hasil alam untuk kebutuhannya sehari-hari dan keberlangsungan hidupnya. Tetapi mengelola bukan berarti mengeruknya habis, apa lagi hanya demi keuntungan diri sendiri. Alam semesta memberikan dirinya menjadi sumber pencaharian atau lapangan perkerjaan bagi manusia (Wijaya 2. Tetapi, manusia justru menjadi agen yang mempertahankan budaya keserakahan, kerusakan lingkungan merupakan bagian dari merebaknya budaya kekerasan antar manusia . konom, politik, sosial dan fisi. dan sekaligus bentuk akhir dari tindak kekerasan manusia (AumasyarakatA. terhadap alam. Ketidaknyamanan hidup karena banjir rutin . etiap musim huja. , kenaikan suhu udara, kekeringan, dan erosi merupakan beberapa bentuk AupembalasanAy alam terhadap tindakan keserakahan manusia (Pranadji 2. Bentuk pembalasan ini sekaligus merupakan peringatan bahwa alam semesta sedang dalam kondisi yang Data Global Forest Watch menunjukkan paparan deforestasi di Indonesia sangat tinggi, khususnya di Kalimantan dan Papua. Dalam kurun waktu tahun 2002 hingga 2024. Indonesia kehilangan sekitar 10,7 juta hektare hutan primer basah, yang mewakili 34% dari total kehilangan tutupan pohon pada kurun waktu yang sama. Luas keseluruhan hutan primer basah di Indonesia tercatat menyusut sebesar 11% selama dua dekade tersebut. (Watch n. Kemudian, berdasarkan laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), para ilmuwan mencatat bahwa perubahan iklim telah terjadi secara menyeluruh di berbagai wilayah dan sistem iklim global. Sejumlah fenomena yang diamati tergolong ekstrem dan belum pernah terjadi dalam ribuan hingga ratusan ribu tahun terakhir. Beberapa dampak, seperti kenaikan permukaan laut, diperkirakan bersifat ireversibel dalam rentang waktu ratusan hingga ribuan tahun ke depan. Aktivitas manusia secara tegas diidentifikasi sebagai penyebab utama perubahan iklim, dengan karbon dioksida (COCC) sebagai pendorong utama, di samping gas rumah kaca dan polutan udara lainnya. Arah perubahan iklim di masa depan sangat ditentukan oleh tindakan manusia saat ini. (Change 2. Hal yang menyedihkan dari sifat manusia adalah kesadaran dan hati nurani yang sudah mulai pudar. Pemahaman sudah diberikan dan bahkan dengan tingkat Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 kecerdasannya manusia sudah mengetahui apa yang ia lakukan tetapi tetap Pengandaian dari sifat ini adalah Ausaya sadar, saya tau tetapi tetap saya lakukanAy. Manusia memiliki kecerdasan tetapi belum mampu memilih tindakan yang Oleh sebab itu, keprihatinan terhadap ekologi dan sifat manusia ini menarik banyak perhatian dunia, banyak sekali seruan-seruan yang digaugkan untuk memberikan kesadaran bagi manusia dan langkah awal untuk sebuah transformasi yang baik bagi lingkungan hidup. Gereja katolik pun memberikan perhatian akan hal ini. Karena keprihatinan ini Paus Yohanes Paulus II menyuarakan berkaitan tentang lingkungan hidup dalam sebuah ensiklik Centessimus Annus. Paus merasa prihatin karena manusia bukannya melaksanakan tugas sebagai rekan kerja Allah dalam karya penciptaan, manusia justru menempatkan dirinya seolah-olah sebagai Allah yang memiliki seluruh ciptaan. Dalam ensiklik Centessimus Annus no 37 Paus Yohanes Paulus II melihat bahwa manusia sangat dipenuhi oleh hasrat untuk AumemilikiAy dan AumenikmatiAy ketimbang memperhatikan soal AukodratAy dan AupertumbuhanAy. Hasrat untuk AumemilikiAy dan AumenikmatiAy itulah yang menyebabkan manusia menyimpang dari tugas dan kewajibannya yang utama, yakni ambil bagian dalam karya penciptaan Allah dengan menjaga dan melestarikan alam ciptaan. AuSelain masalah konsumerisme, yang memprihatinkan juga dan erat berhubungan dengannya adalah soal lingkungan hidup. Karena manusia lebih ingin memiliki dan menikmati daripada menemukan dan mengembangkan dirinya, ia secara berlebihan dan tidak teratur menyerap sumber-sumber daya bumi maupun hidupnya sendiriAAy(Yohanes Paulus II 1. Krisis lingkungan hidup dan kerusakan alam semesta juga menjadi keprihatinan Paus Fransiskus. Paus mengeluarkan sebuah ensiklik yang merupakan dokumen magisterial Gereja pertama yang secara khusus didedikasikan pada persoalan ekologis. Dalam ensiklik ini Paus Fransiskus mengajak Gereja dan seluruh dunia untuk berlaku adil terhadap alam. Alam mengalami perubahan yang luar biasa karena aktivitas manusia dalam menggali serta memanfaatkan ilmu pengetahuan, tanpa memperhitungkan keseimbangannya dan konsekuensinya (Wonorahardjo 2. Ensiklik ini hadir sebagai usaha untuk memikirkan dan memperbaiki situasi dunia berserta dengan akar-akar sosial manusia, baik dalam tingkah laku terhadap sesama manusia maupun dalam sikap sebagai sahabat bagi alam (Ranboki 2. GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato SiAo menyoroti krisis lingkungan hidup secara global. Dalam ensiklik ini Paus tidak hanya mengajak umat katolik tetapi seluruh umat di dunia untuk bersama-sama memperhatikan alam semesta dan mengemban tugas untuk menjadi pengerak perbaikan lingkungan hidup. Dalam hal ini yang paling utama adalah Gereja. Gereja dipanggil menjadi agen bagi transformasi yang lebih baik dari lingkungan hidup. Melalui Laudato SiAo Gereja menyuarakan seruan moral dan spiritual untuk menjaga dan merawat bumi sebagai ciptaan Allah. Gereja dalam Laudato SiAo memiliki cara-cara ideal yang patut diwujudkan sebagai bentuk nyata ialah mengangkat kembali kearifan lokal, mengkonkretisasi usaha pemeliharaan dan perawatan lingkungan, menanamkan prinsip deep ecology dalam diri umat. Gereja harus bersaksi tentang keadilan ekologis. Gereja menggalakkan teologi pertobatan ekologis, dan mempromosikan spiritualitas relasi manusia dengan alam (Idaman 2. Gereja memandang bahwa merawat bumi bukan hanya tugas ekologis, melainkan panggilan iman yang bersumber dari kasih Allah kepada ciptaan. Partisipasi umat dalam melestarikan lingkungan hidup adalah bentuk konkret dari spiritualitas inkarnatoris yang melihat dunia sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. Bertumpu dari seruan Laudato SiAo yang berusaha mengajak seluruh manusia melalui Gereja inilah yang mendasari pentingnya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk Menggali pemahaman Gereja terhadap krisis ekologis berdasarkan ensiklik Laudato SiAoAo dan menganalisis bagaimana ajaran Laudato SiAoAo diimplementasikan dalam kegiatan pastoral dan kehidupan komunitas Gereja. KAJIAN TEORITIS Ensiklik Laudato SiAo Ensiklik Laudato SiAoAo dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada 24 Mei 2015 dan menjadi salah satu dokumen penting dalam Ajaran Sosial Gereja yang membahas krisis lingkungan hidup dari perspektif iman Katolik. Ensiklik ini menegaskan bahwa bumi adalah Aurumah bersamaAy yang harus dijaga demi kelangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Paus mengajak seluruh umat manusia, tanpa memandang agama, untuk melakukan pertobatan ekologis dan mengambil tanggung jawab moral dalam menghadapi krisis iklim dan kehancuran lingkungan. Laudato SiAo adalah ensiklik. Paus Fransiskus yang sangat penting karena berkaitan erat dengan pencipta, manusia, dan alam semesta. Ensiklik ini berisi berbagai ajaran sosial Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 Gereja yang menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia, memberikan panduan hidup yang holistik, di mana umat Kristiani diundang untuk melihat hubungan mereka dengan Allah, sesama, dan alam semesta secara lebih mendalam. Umat kristiani diundang untuk terlibat aktif dalam kehidupan alam semesta yang ditempati hingga saat ini, sebagai umat manusia yang hidup dalam harmoni dengan diri sendiri, masyarakat, dan alam. Ensiklik ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dan keberlanjutan hubungan kita dengan bumi, serta menanggapi tantangan ekologis yang semakin nyata di dunia modern. Ensiklik Laudato SiAo berbicara dengan penuh keprihatinan tentang masalah ini dari sudut pandang kristiani. Paus Fransiskus mengajak umat untuk menjalani pertobatan, agar manusia bisa kembali berdamai dengan alam, merawat ciptaan Allah, dan hidup dalam harmoni dengan bumi. Paus juga mengundang seluruh umat manusia untuk menjadikan bumi sebagai rumah bersama, tempat di mana kita saling menghargai dan menjaga kehidupan di dalamnya. Lingkungan Hidup Secara etimologis, istilah Aulingkungan hidupAy berasal dari kata AulingkunganAy yang dalam Bahasa Inggris disebut AuenvironnerAy. Kata AuenvironmentAy sendiri berasal dari bahasa Perancis AuenvironnerAy yang berarti AumelingkupiAy atau AumengelilingiAy. Jadi, lingkungan hidup dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup, termasuk manusia, dan mempengaruhi kehidupan serta perkembangannya. Inti permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan benda mati, khususnya manusia dan linkungannya. Jadi, lingkungan hidup merupakan media hubungan timbal balik antara mahkluk hidup dengan benda mati yang merupakan satu kesatuan yang utuh, dan manusia ada didalamnya. Dikatakan manusia ada di dalamnya karena manusia adalah salah satu mahkluk hidup yang sangat dominan peranannya dalam lingkungan hidup. Manusia dengan tingkah lakunya dapat mempengaruhi lingkungan . apat mencemari, merusak atau melestarikan linkunga. , sedangkan makhluk hidup lain tidaklah demikian. Secara ekologi manusia merupakan bagian integral dari lingkungan hidupnya. Manusia terbentuk oleh lingkungan hidupnya dan sebaliknya manusia membentuk lingkungan hidupnya. Manusia tidak dapat berdiri sendiri di luar lingkungan hidupnya. Lingkungan hidup merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik yang GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo hidup maupun tak hidup yang memiliki hubungan timbal balik satu sama lain. Manusia membutuhkan lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan lingkungan alam membutuhkan manusia untuk bisa menjaga dan merawatnya agar bisa bertumbuh dan berkembang baik. Salah satu yang konkret adalah manusia mereboisasi hutan yang Timbal baliknya, lingkungan alam jauh dari tanah longsor karena ditopang pepohonan yang ditanam manusia. Karenanya, dapat dipahami bahwa pola hidup manusia sangat mempengaruhi lingkungan hidup. Begitu pun sebaliknya, lingkungan mempengaruhi dan menunjang kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Lingkungan yang terawat dengan baik akan banyak memberikan manfaat dan hasil yang berlimpah bagi manusia dan mahluk hidup lain di bumi. Lingkungan memegang peran sangat penting bagi kehidupan mahluk di bumi. Dikatakan demikian, karena bumi adalah tempat tinggal atau rumah bagi semua mahluk hidup dan semua kehidupan bergantung pada lingkungan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar. Gereja Gereja, sebagai komunitas umat beriman, memiliki tanggung jawab sosial yang besar dalam membentuk kesadaran umat terhadap persoalan kemanusiaan dan ekologis. Dalam tradisi Katolik, tanggung jawab sosial Gereja termanifestasi dalam ajaran sosial Gereja (ASG), yang menekankan prinsip-prinsip martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, dan kesejahteraan bersama. Dokumen Konsili Vatikan II. Gaudium et Spes, mengajak Gereja untuk terlibat aktif dalam realitas dunia, termasuk persoalan keadilan sosial dan lingkungan hidup. Gereja bukan hanya pewarta keselamatan spiritual, tetapi juga pelayan bagi dunia yang konkret. Oleh karena itu. Gereja dipanggil untuk menjadi suara kenabian yang menyerukan perlunya perubahan struktur dan pola hidup yang merusak lingkungan dan menindas yang lemah. Dalam Laudato SiAo. Paus Fransiskus menekankan bahwa Gereja memiliki peran strategis sebagai agen transformasi ekologis. Gereja tidak hanya mengajak umat untuk berubah, tetapi juga menjadi contoh dalam praktik hidup yang berkelanjutan. Transformasi ekologis yang dimaksud tidak sekadar transformasi struktural, tetapi juga spiritual dan moral. Terdapat tiga peran konkret Gereja sebagai agen transformasi ekologis: Pendidikan dan Kesadaran Umat Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 Gereja berperan dalam membentuk kesadaran umat tentang pentingnya merawat ciptaan melalui pendidikan iman, liturgi, dan katekese. Khotbah, pelajaran agama, serta retret lingkungan menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai ekologis yang bersumber dari Injil. Pertobatan Ekologis Gereja mengajak umat untuk mengubah gaya hidup yang eksploitatif menjadi hidup yang sederhana, bertanggung jawab, dan bersyukur atas anugerah ciptaan. Pertobatan ekologis ini mengandung dimensi personal dan komunal, dan mencakup perubahan sikap terhadap konsumsi, energi, dan relasi dengan alam. Keterlibatan Sosial dan Aksi Nyata Gereja harus aktif dalam kegiatan lingkungan seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan advokasi kebijakan ramah lingkungan. Melalui aksi konkret. Gereja menyatakan bahwa iman tidak hanya berhenti pada doktrin, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata demi kelestarian bumi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi pustaka . ibrary researc. Metode studi pustaka memiliki empat ciri utama. Salah satu dari ciri tersebut adalah berhadapan langsung dengan teks dan bukan berhadapan langsung dengan pengetahuan di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan dengan menelaah berbagai literature yang relevan, baik berupa dokumen Gereja, ensliklik. Kitab Suci, artikel jurnal ilmiah maupun sumber-sumber akademik lainnya yang membahas tema tentang lingkungan hidup dan peran Gereja Katolik. Kemudian riset kepustakaan dari penelitian ini memiliki empat tahap yaitu menyiapkan alat perlengkapan yang diperlukan, menyiapkan bibliografi kerja, mengorganisasikan waktu dan yang terakhir adalah membaca dan mencatat bahan peneitian (Zed 2. Ensiklik Laudato SiAo Paus Fransiskus menjadi sumber utama dalam penelitan ini. Selain itu, penelitian ini juga merujuk pada dokumen-dokumen penting lain seperti Octogesima Adveniens (Paus Paulus VI). Centesimus Annus (Paus Yohanes Paulus II), serta ajaran Kitab Suci, khususnya Kitab Kejadian pasal 1, yang menjadi dasar pemahaman teologis tentang relasi antara manusia dan alam. Data dikumpulkan melalui telaah teks . extual analysi. yaitu proses pengumpulan data yang dilakukan dengan membaca, mengkaji dan menganalisis isi dari berbagai teks yang relevan dan interpretasi GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo kritis terhadap isi dokumen. Proses analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif, dengan menekankan pada pemahaman makna teologis, spiritualitas ekologis, serta implikasi pastoral dari ajaran Gereja terkait pelestarian lingkungan hidup. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gereja Katolik, sebagaimana tertuang dalam ensiklik Laudato SiAoAo, memaknai krisis ekologis merupakan hal yang perlu untuk diperhatikan karena bukan semata sebagai persoalan ilmiah atau teknis tetapi mencakup yang mencakup aspek moral, spiritual, dan sosial. Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis ekologi ini disebabkan oleh pemahaman manusia yang salah yakni pemahaman manusia sebagai penguasa mutlak atas alam. Dalam kerangka teologi penciptaan, alam dipahami sebagai Aurumah bersamaAy . ommon hom. yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia untuk dipelihara, bukan dieksploitasi. Gereja mengambil peran penting dalam usaha untuk perubahan yang lebih baik dalam mengatasi krisis ini. Gereja adalah promotor yang terus mengayuh rodanya untuk mencapai suatu kebaikan. Implikasi pastoral dari ajaran ekologis Gereja dalam Laudato SiAoAo menegaskan bahwa Gereja sebagai komunitas umat beriman dipanggil untuk menjadi agen transformatif dalam merespons krisis ekologis yang kian meluas. Ajaran ini tidak hanya bersifat moral, tetapi menuntut tindakan nyata dalam seluruh aspek pelayanan Gereja, seperti liturgi, katekese, pendidikan, sosial-karitatif, dan advokasi. Pertobatan ekologis menjadi panggilan iman yang bersifat pribadi sekaligus komunal, yang menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh ciptaan adalah anugerah Allah yang harus dihormati dan Liturgi memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis umat, dengan menghadirkan pengalaman spiritual yang memperdalam relasi dengan alam sebagai karya Allah. Selain itu. Laudato SiAoAo menekankan pentingnya solidaritas terhadap korban krisis ekologis, terutama kelompok miskin yang paling terdampak namun paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Dalam konteks ini. Gereja dipanggil untuk berpihak, bertindak nyata, dan memperjuangkan keadilan ekologis sebagai bentuk pewartaan Injil yang kontekstual dan profetik di tengah dunia yang Gereja Sebagai Agen Transformasi Ekologis Lumen Gentium no 7 menyatakan Gereja merupakan Tubuh Kristus dan Kritus sendirilah yang menjadi kepalanya (Konstitusi Dogmatis and Tentang Gereja 1. Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 Layaknya tubuh manusia, biarpun banyak jumlahnya anggotanya, tetapi membentuk hanya satu tubuh, . Kor. Begitu pula para beriman yakni Gereja dalam Kristus juga terdapat aneka ragam anggota dan jabatan. Tetapi tetap satulah Roh, yang membagikan aneka anugerah-Nya. Karena Gereja adalah Tubuh Kristus dan Kristus adalah kepalanya maka Gereja dengan sadar mengikuti teladan Yesus Kristus sebagai Gereja diutus untuk menjadi misioner yang mewartakan sukacita injil. Perutusan Gereja yang mulia ini merupakan karya Allah yang harus diwujudkan oleh Gereja. Tugas perutusan Gereja, seperti halnya tugas perutusan Yesus, merupakan karya Allah atau karya Roh, sebagaimana seringkali dikatakan oleh Lukas. Sesudah Kebangkitan dan Kenaikan Yesus, para Rasul memiliki suatu pengalaman yang kuat yang sama sekali mengubah mereka: yaitu pengalaman Pantekosta (Paulus II 1. Gereja menjadi tanda kehadiran Allah di dunia ini. Oleh sebab itu. Gereja menjadi agen yang berusaha keras untuk perbaikan dan mengupayakan usaha-usaha yang secara konkret dapat berdampak baik bagi lingkungan hidup. Sebagai agen transformasi lingkungan hidup. Gereja harus mengetahui batasan pemanfaatan sumber daya alam yang rasional. Ada 3 batas pemanfaatan yang harus dipahami dan diserukan oleh Gereja (Naja 2. Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan dengan tidak merusak lingkungan hidup manusia. Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan dengan kebijaksanaan yang Pemanfaatan sumber daya alam harus memperhitungkan kepentingan generasi Gereja diberikan mandat untuk bergerak menjadi agen yang terus menerus menyerukan seruan perbaikan dan tanggung jawab manusia terhadap alam semesta. Koinonia Gereja merupakan salah satu respon Gereja dalam memberantas krisis ekologi Tidak menutup kemungkinan bahwa krisis ekologi juga merupakan perbincangan mengenai koinonia Gereja, sebab koinonia manusia yang berhasrat pada kekuasaan yang menguasai, mengisolasi, dan mengeksploitasi memperburuk situasi dari krisis ekologi. Koinonia semacam iniah yang harus dihentikan dan dipulihkan dan seharusnya menjadi koinonia Gereja. (Ginting 2. Gereja sebagai persekutuan umat Allah memiliki tanggungjawab untuk memberikan nasehat, peringatan dan aksi nyata bagi perubahan kebaikan lingkungan hidup. Dalam Ad Gentes no 51 menunjukan bahwa AuGereja GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo bertanggung jawab atas ciptaan dan harus menegaskan tanggung jawab ini di depan Dengan demikian. Gereja harus melindungi bukan hanya bumi, air dan udara sebagai anugerah ciptaan milik semua orang. Gereja terutama harus melindungi umat manusia dari penghancuran diri sendiri. Ay (Dokumen Konsili Vatikan II 2. Dalam ensklik Laudato SiAo Paus Fransiskus mengajak Gereja meneladani Santo Fransisikus dari Asisi yang mencintai alam semesta. Jika kita merasa bersatu erat dengan semua yang ada maka kesahajaan dan kepedulian akan menjadi spontanitas manusia. Dalam enskliknya Paus Fransiskus kembali mengajak Gereja untuk menanggapi ajakan Santo Frasiskus AuSanto Fransiskus, yang setia kepada Alkitab, mengajak kita untuk memandang alam sebagai sebuah kitab yang sangat indah. Di dalamnya Allah berbicara kepada kita dan memberi kita sekilas pandangan tentang keindahan dan kebaikan-Nya yang tanpa batas. "Dari kebesaran dan keindahan benda-benda ciptaan, tampaklah gambaran tentang Khalik mereka" (Kebijaksanaan 13: . memang, "kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya dapat nampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan" (Roma 1:. AAy (LS no . Lalu Paus Fransiskus melanjutkan lagi dalam Luadato SiAo No 13 AuTantangan mendesak untuk melindungi rumah kita bersama mencakup kepedulian untuk menyatukan seluruh keluarga manusia guna mencari suatu pengembangan berkelanjutan dan terpadu, karena kita tahu bahwa segala sesuatu bisa Sang Pencipta tidak meninggalkan kita. ia tidak pernah mengabaikan rencana kasih-Nya atau menyesal telah menciptakan kita. Umat manusia masih memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam membangun rumah kita bersamay Implikasi Pastoral dari Ajaran Ekologis Gereja Laudato SiAo Gereja adalah komunitas umat beriman, yang dipanggil untuk menjadi agen transformatif dalam merespons kerusakan lingkungan yang kian meluas. Seruan ini berakar kenyataan bahwa ciptaan alam semesta merupakan karya awal Allah . KGK NO . Oleh karena itu. Laudato SiAo tidak berhenti pada seruan moral, tetapi juga menuntut Gereja untuk mentransformasikan ajaran ekologis ini ke dalam tindakan pastoral yang kokrit, berkelanjutan, dinamis dan transformatif. Implikasi pastoral bukanlah sekadar angan-angan rencana, melainkan menjadi bagian integral dari misi evangelisasi Gereja. Artinya, perhatian terhadap lingkungan hidup harus tertanam dalam seluruh dimensi pelayanan Gereja baik liturgi, katekese, pendidikan, sosial-karitatif, hingga advokasi publik. Dengan demikian, pastoral ekologis bukan sekadar tanggapan Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 terhadap krisis, tetapi merupakan bentuk pewartaan Injil yang kontekstual dan menyeluruh di zaman ini yang secara nyata diwujudkan (Benedictus XVI). Pertobatan Ekologis sebagai Tugas Iman (LS Art. Teladan santo Fransiskus dari Asisi menyadarkan kita bahwa hubungan yang baik terhadap dunia ciptaan merupakan salah satu dimensi pertobatan manusia. Pertobatan dan perbaikan bagi seorang pribadi manusia itu baik, tetapi belum cukup perlu juga bahwa semua orang menyadari pertobatan dan perbaikan diri ini. AuPertobatan ekologis yang diperlukan untuk menciptakan suatu dinamisme perubahan yang berkelanjutan, juga merupakan pertobatan komunal. Ay AuPertobatan ini menyiratkan berbagai sikap yang bersama-sama menumbuhkan semangat perlindungan yang murah hati dan penuh Pertama, menyiratkan rasa syukur dan kemurahan hati, artinya, pengakuan bahwa dunia merupakan anugerah yang diterima dari kasih Bapa, yang menimbulkan sikap pengingkaran diri dan kemurahan hati tanpa pamrih,AAy pertobatan ekologis ini juga memberikan kita kesadaran bahwa dalam kasih kita tidak terpisahkan dari makhluk ciptaan lainnya manusia dan seluruh jagat raya merupakan persekutuan yang universal. Dalam iman kita melihat alam semesta dari sudut pandang yang dalam sehingga kita mampu mengembangkan antusiasme dan kreativitasnya, untuk menghadapi masalah dunia dengan mempersembahkan diri kepada Allah (LS art. Pertobatan ini merupakan bentuk kerendahan hati manusia. Laudato SiAo Art 221 mengingatkan kita akan Aukesadaran bahwa setiap makhluk mencerminkan sesuatu dari Allah dan memiliki pesan untuk disampaikan kepada kita. atau juga kepastian bahwa Kristus telah mengenakan pada diri-Nya sendiri dunia materil ini dan bahwa Ia sekarang, sebagai yang dibangkitkan, hadir dalam setiap makhluk, melingkupinya dengan kasih sayang-Nya dan meresapinya dengan cahaya-Nya. dan juga keyakinan bahwa Allah menciptakan dunia dengan menuliskan di dalamnya tata tertib dan dinamisme, dan manusia tidak berhak untuk mengabaikan hal itu. Ay Pertobatan Ekologis dalam perwujudannya memerlukan pendidikan dan spiritualitas untuk mampu memandang ciptaan bukan sebagai barang. (Maru. Silan, and Lengkey 2. Manusia harus dengan kerendahan hati untuk berkomitmen dalam kasih untuk memelihara alam dengan sepenuh hati. Kita manusia harus menyadari bahwa alam semesta ini merupakan anugrah Allah kepada manusia untuk memuji dan memuliakan nama-Nya. Pertobatan GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo Ekologis menjadi hal yang penting untuk di serukan oleh Geraja agar mampu bergema dan banyak diperaktekkan oleh semua pihak (Tukan 2. Gereja dalam Pertobatan harus terus menerus menyerukan kasih dan kebenaran sebab dalam Caritas in varitate art 3 Aukasih dapat dikenali sebagai suatu ungkapan autentik kemanusiaan dan suatu unsur yang sangat fundamental dalam relasi manusia, juga yang bersifat publik. Hanya dalam kebenaran, kasih memancarkan cahaya hanya dalam kebenaran, kasih dapat dihayati secara autentik. Kebenaran adalah terang yang memberi makna dan nilai pada kasih. Terang itu adalah terang akal budi dan terang iman, yang dengan melaluinya akal budi mencapai kebenaran kodrati dan adikodrati akan kasih: menangkap maknanya sebagai anugerah, penerimaan dan persekutuanAy (Benediktus XVI Manusia harus mampu memahami bahwa dirinya sungguh dikasihi Allah, maka manusia juga harus mengasihi alam ciptaan Allah. Gereja sebagai penggerak perubahan baru bagi kebaikan lingkungan hidup harus terus berjalan bersama dunia agar mampu menjaga dan melindungi bumi menjadi lebih indah dan damai. Liturgi dan Pendidikan Iman yang Membentuk Kesadaran Ekologis (LS art. 209Ae Krisis ekologis global yang terjadi saat ini tidak dapat disikapi semata-mata melalui pendekatan teknis, moral, atau sosial. Gereja, sebagai komunitas iman yang hidup dan dinamis, turut dipanggil untuk memberikan kontribusi yang mendalam dalam menghadapi tantangan ini melalui dimensi spiritual. Salah satu aspek penting dalam kehidupan Gereja yang memiliki potensi transformatif adalah liturgi. Liturgi bukan hanya sekadar tindakan peribadatan yang bersifat simbolis, tetapi merupakan ruang formasi Iman yang menyeluruh, yang mencakup pembentukan habitus, orientasi makna, dan motivasi untuk bertindak nyata. Sebagai pusat kehidupan umat kristiani, liturgi memainkan peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis yang integral. Melalui simbol, ritus, doa, dan pengalaman komunal dalam liturgi, umat diajak untuk mengalami keterhubungan yang mendalam dengan seluruh ciptaan sebagai bagian dari karya Allah. Liturgi menjadi sarana di mana umat diajar untuk melihat dunia bukan sebagai objek eksploitatif, melainkan sebagai anugerah ilahi yang harus dirawat dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Dalam terang ensiklik Laudato SiAoAo. Paus Fransiskus menekankan pentingnya pertobatan ekologis yang mencakup perubahan cara pandang, cara hidup, dan Dalam konteks ini, liturgi berperan sebagai wahana pembentukan horizon Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 makna yang baru, yang menghubungkan iman dengan tanggung jawab ekologis. Liturgi juga menciptakan pengalaman komunal yang mendorong umat untuk hidup dalam solidaritas ekologis dan sosial. Oleh karena itu, liturgi dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan profetik yang menggerakkan Gereja untuk berpartisipasi aktif dalam merawat bumi sebagai rumah bersama (Roppelt 2. Solidaritas terhadap Korban Krisis Ekologis (LS art. 25, 48Ae. Krisis ekologi dewasa ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan semata, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang mendalam. Kehancuran alam, perubahan iklim, serta pencemaran dan eksploitasi sumber daya alam membawa konsekuensi serius terhadap kehidupan manusia, khususnya mereka yang hidup dalam kondisi kemiskinan dan keterpinggiran. Dalam ensiklik Laudato SiAo. Paus Fransiskus menegaskan bahwa keluhan bumi dan keluhan kaum miskin tidak dapat dipisahkan (LS, art. Pernyataan ini mengajak umat beriman untuk melihat krisis ekologi sebagai juga krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan tindakan nyata. Laudato SiAo menyatakan bahwa masyarakat miskin merupakan kelompok yang paling terdampak oleh kerusakan Mereka tinggal di wilayah-wilayah yang mudah terkena bencana alam seperti banjir atau kekeringan, tetapi tidak memiliki perlindungan sosial maupun sumber daya yang memadai. Ironisnya, kelompok ini justru tidak banyak berkontribusi terhadap penyebab utama krisis lingkungan. Paus Fransiskus melalui artikel 48Ae52 lebih lanjut menegaskan bahwa masalah ekologis tidak bisa dilepaskan dari ketidakadilan sosial, karena eksploitasi alam sering kali sejalan dengan penindasan terhadap manusia. Dalam menghadapi kenyataan ini. Gereja dipanggil untuk menunjukkan solidaritas aktif. Solidaritas bukan hanya sebatas rasa empati, tetapi wujud nyata dari iman yang diwujudkan dalam tindakan. Umat kristiani diundang untuk berpihak pada mereka yang terdampak, memperjuangkan keadilan ekologis, serta mendorong gaya hidup yang lebih adil dan berkelanjutan. Laudato SiAo menekankan pentingnya membangun kesejahteraan bersama . onum commun. , termasuk dengan menolak pola hidup konsumtif yang tidak memperhatikan keberlanjutan bumi dan kesejahteraan Solidaritas terhadap korban krisis ekologis sejatinya adalah bentuk pewartaan Injil yang hidup. Seperti Yesus yang hadir di tengah-tengah mereka yang menderita, demikian pula Gereja dipanggil untuk menjadi tanda harapan dan pemulihan di tengah dunia yang terluka. Melalui Laudato SiAo. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa membela GEREJA SEBAGAI AGEN TRANSFORMASI EKOLOGIS: STUDI TENTANG PERAN GEREJA DALAM MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN LAUDATO SIAo lingkungan berarti membela kehidupan. Maka dari itu, menunjukkan solidaritas ekologis adalah salah satu cara paling nyata untuk menghayati kasih Kristiani dalam konteks dunia masa kini. (Art. (Paus Fransiskus 2. KESIMPULAN Kajian ini menunjukan bahwa Gereja merupakan agen tranformasi bagi lingkungan hidup. Ensiklik Laudato SiAo mengajak Gereja terus berusaha menjaga alam yang merupakan rumah bersama yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia untuk Gereja merupakan agen penting dalam usaha mengwujudkan perubahan yang lebih baik dalam mengatasi krisis. Gereja sebagai komunitas yang hidup yang turut dipanggil untuk memberikan konstribusi yang mendalam dalam menghadapi tantangan ini melalui dimensi spiritual. Sebagai komuntitas yang hidup Gereja berupaya mengupayakan impelementasi ajaran Laudato SiAo dalam bentuk yang konkrit. Dalam penelitan ini ada 3 aspek yang ditemukan sebagai wujud implikasi dari ajar Laudato SiAo yang Gereja upayakan yaitu pertobatan ekologis yang menunutut kesadaran pribadi dan komunal akan hubungannya dengan alam, liturgi dan pendidikan iman yang membangun kekuatan spiritual dan solidaritas terhadap korban krisis ekologi. Maka. Seruan Laudato SiAo tidak hanya Gereja gaungkan kepada umat Katolik tetapi kepada seluruh dunia. DAFTAR REFERENSI Ardhana. Putu Gede. AuKajian Kerusakan Sumberdaya Hutan Akibat Kegiatan Pertambangan. Ay Ecotrophic 6. :375494. Benedictus XVI. AuMessage of His Holiness Pope Benedict XVI For The Celebration Of The World Day Of Peace. Ay 1Ae9. Benediktus XVI. Paus. Caritas In Veritate. Konferensi Waligereja Indonesia. Change. Intergovernmental Panel on Climate. AuClimate Change Widespread. Rapid, and Intensifying Ae IPCC. Ay Dokumen Konsili Vatikan II. AD Gentes Kepada Semua Bangsa. 3rd ed. edited by KWI. Ginting. Bayu Kaesarea. AuKoinonia: Respon Gereja Atas Krisis Ekologi. Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 7. :184Ae204. Idaman. Yosef Tavelik. AuImbauan Laudato Si Terkait Masalah Kerusakan Hutan Dan Implikasinya Bagi Karya Misi Gereja. Ay Konstitusi Dogmatis, and Tentang Gereja. Lumen Gentium. Departemen Jurnal Sepakat VOLUME XI. NO. SEPTEMBER 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 154-169 Dokumentasi dan Penerangan KWI. Maru. Titus Paulus Maru. Kristofel Silan, and Seravin Lengkey. AuPertobatan Ekologis Dalam Terang Ensiklik Laudato Si. Ay Pineleng Theological Review 1. :1Ae Naja. HR Daeng. Bank Hijau Kebijakan Kredit Berwawasan Lingkungan. Media Pressindo. Paulus II. Yohanes. AuRedemtoris Missio (Tugas Perutusan Sang Penebu. Ay Seri Dokumen Gerejawi No. Paus Fransiskus. AuSeri-Dokumen-Gerejawi-No-98-LAUDATO-SI-1. Ay Ensiklik Paus Fransiskus 1Ae161. Pranadji. Tri. AuKeserakahan. Kemiskinan. Dan Kerusakan Lingkungan. Ay Analisis Kebijakan Pertanian 3. :313Ae25. Ranboki. Buce A. AuMenemukan Teologi Leonardo Boff Dalam Ensiklik Paus Fransiskus Laudato SiAo. Ay Indonesian Journal of Theology 5. :42Ae67. Razi. Muhammad Fahrul. AuDampak Aktivitas Pertambangan Batubara Terhadap Lingkungan Dan Masyarakat Kalimantan Timur. Ay Roppelt. Rowena. AuTransformative Liturgy: Shaping an Ecological Spirituality. Ay LIMINA-Grazer Theologische Perspektiven 7. :95Ae118. Tukan. Paulus Barekama. AuPertobatan Ekologis Sebagai Upaya Pemulihan Moral Bangsa: Tinjauan Ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus. Ay Jurnal AKADEMIKA 22. :50Ae64. Watch. Global Forest. AuIndonesia Deforestation Rates Statistics. Ay https://w. org/dashboards/country/IDN/?utm_source. Wijaya. Ketut Kasta Arya. AuPemanfaatan Sumber Daya Alam Yang Berkelanjutan: Tantangan Dalam Tata Kelola Industri Pariwisata Yang Berbasis Kearifan Lokal. Ay Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren 5. :45Ae53. Wonorahardjo. Surjani. AuEnsiklik Laudato Si Aodi Era Digital Gereja. Ay PROSIDING Yohanes Paulus II. Centesimus Annus Ulang Tahun Ke-Seratus. Zed. Mestika. Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.