Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Penerapan Prinsip Desain D. Ching pada Bangunan Sessat Agung Ilham Bani Safari1 *. Josephine Roosandriantini2 1 Program Studi Arsitektur. Universitas Widya Kartika . Surabaya . Indonesia 2 Program Studi Arsitektur. Universitas Katolik Darma Cendika. Surabaya. Indonesia Korespondensi Author: ilhambanisafari@gmail. com 1* , jose. roo@ukdc. Abstract: The Sessat Agung building is the cultural community centre of the Islamic Centre in Tubaba. West Tulang Bawang. Lampung. This building is an example of traditional architecture rich in local cultural values. This research focuses on the application of D. Ching's design principles found in the Sessat Agung building. The application of D. Ching's design principles is an important basis for understanding the visual and functional qualities of an architectural work. Ching's principles are one of the western theoretical ideas that tend to be applied in modern architecture. So is there no application of D. Ching's design principles in the Great Sessat Building? The research method uses a qualitative descriptive method with data collection techniques using literature studies, especially on the application of I. Ching's architectural design principles. This research aims to identify the application of D. Ching's design principles namely balance, proportion, contrast and unity contained in the Sessat Agung building. Thus, this research is expected to provide a deeper insight into the connection between modern design theory and Indonesia's traditional architectural heritage. Keywords: sessat agung. Ching, architecture, design principle Abstrak: Bangunan Sessat Agung adalah pusat komunitas budaya di Islamic Center yang berada di Tubaba. Tulang Bawang Barat. Lampung. Bangunan ini merupakan salah satu contoh arsitektur tradisional yang kaya akan nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini berfokus pada penerapan prinsip -prinsip desain D. Ching, yang terdapat pada bangunan Sessat Agung. Penerapan prinsip desain D. Ching menjadi landasan penting dalam memahami kualitas visual dan fungsional sebuah karya arsitektur. Prinsip D. Ching merupakan salah satu pemikiran teori barat yang cenderung penerapannya pada Arsitektur modern. Sehingga apakah pada bangunan Sessat Agung tidak ada penerapan prinsip desain D. Ching? Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur terutama tentang penerapan prinsip desain arsitektur D. Ching. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan prinsip desain D. Ching yaitu, keseimbangan, proporsi, kontras, dan kesatuan yang terdapat dalam bangunan Sessat Agung. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan lebih dalam tentang menghubungkan teori desain modern dengan warisan arsitektur tradisional Indonesia. Kata Kunci: sessat agung. Ching, arsitektur, prinsip desain PENDAHULUAN Arsitektur, sebagai disiplin ilmu yang terus berkembang, menggabungkan elemen estetika, fungsi, dan konteks budaya dalam setiap desainnya. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam memahami dan merancang ruang adalah prinsip desain yang dijabarkan oleh Derek Kirk Ching. Prinsip-prinsip yang diajukan oleh Ching mengenai ruang, bentuk, dan elemen struktural memberikan dasar yang kuat bagi para arsitek untuk menciptakan bangunan yang tidak hanya fungsional tetapi juga bermakna secara visual dan simbolik (Ching D. , 2. Penerapan prinsip desain ini sangat relevan untuk bangunan keagamaan, di mana aspek spiritual dan budaya harus terintegrasi dengan baik dalam setiap elemen desainnya. Prinsip desain dapat membantu menentukan menggunakan elemen desain seperti melakukan penataan, pengorganisasian dalam menyatukan Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 komponen ruangan menghasilkan bentuk bangunan yang harmonis (Setiawan & Roosandriantini, 2. Prinsip desain arsitektur yang dapat diterapkan pada suatu objek, seperti kesatuan, proporsi, irama, keseimbangan, penekanan dan kesederhanaan (Umar & Kurniawan, 2. Bangunan Sessat Agung, sebagai sebuah tempat ibadah dan pusat kegiatan sosialreligius, memerlukan perencanaan yang matang untuk menciptakan ruang yang mendalam dan bermakna. Sessat Agung tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai simbol dari tradisi dan spiritualitas komunitas yang mendirikannya (Siregar, 2. Oleh karena itu, penerapan prinsip desain D. Ching pada bangunan ini sangat penting, terutama untuk mencapai keseimbangan antara aspek fungsional dan simbolik dalam ruang yang ditawarkan. Prinsip-prinsip dasar yang dikemukakan oleh Ching, seperti hubungan antara ruang dan bentuk, penggunaan skala dan proporsi, serta penataan elemen struktural dan material, memberikan panduan yang komprehensif untuk merancang bangunan yang tidak hanya estetis tetapi juga sesuai dengan tujuan spiritualnya. Konsep-konsep ini juga sangat relevan dalam konteks bangunan keagamaan seperti Sessat Agung, di mana ruang harus dapat membangkitkan pengalaman spiritual dan mendalam bagi para penggunanya (Purnomo. Penerapan prinsip-prinsip ini memungkinkan arsitek untuk merancang bangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan praktis, tetapi juga memberikan dampak emosional dan spiritual yang mendalam. Dalam penelitian ini, akan dianalisis penerapan prinsip desain D. Ching dalam desain bangunan Sessat Agung, dengan fokus pada pengaruh elemen-elemen desain yang ditawarkan Ching terhadap kualitas ruang, kenyamanan pengguna, dan pemaknaan simbolik yang ada dalam bangunan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan baru mengenai bagaimana prinsip-prinsip desain yang berbasis pada teori Ching dapat memperkaya pengalaman pengguna dalam ruang-ruang religius, khususnya dalam konteks budaya Indonesia. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat tercipta pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya prinsip desain dalam perancangan bangunan keagamaan, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi signifikan dalam dunia arsitektur religius, khususnya dalam meningkatkan kualitas ruang bagi kehidupan spiritual masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip desain D. Ching dalam perancangan bangunan Sessat Agung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus. Penelitian ini memanfaatkan analisis dokumentasi, wawancara dengan praktisi arsitektur, dan observasi langsung terhadap bangunan Sessat Agung yang menjadi objek studi. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk menggali pemahaman mendalam tentang penerapan prinsip desain D. Ching dalam konteks bangunan Sessat Agung. Metode kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi elemen-elemen desain yang diaplikasikan serta menginterpretasi makna dan pengaruhnya terhadap pengguna dan penghayatan ruang dalam bangunan keagamaan ini. Pendekatan studi kasus digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai aplikasi teori desain pada objek yang spesifik. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini dimulai dengan studi literatur untuk memahami teori dan prinsip desain D. Ching yang relevan dengan ruang keagamaan, serta kajian-kajian terkait penerapan desain dalam bangunan keagamaan. Sumber-sumber yang digunakan mencakup buku, jurnal akademik, dan artikel-artikel terkini di bidang arsitektur dan desain ruang religius. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur akan dianalisis secara deskriptif dan interpretatif. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bagaimana elemen desain yang diusung oleh D. Ching, seperti skala, proporsi, dan organisasi ruang, dapat diterapkan untuk menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional tetapi juga spiritual. Analisis dilakukan dengan membandingkan teori-teori yang ada dalam karya D. Ching dengan desain ruang yang teramati pada bangunan Sessat Agung. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana prinsip-prinsip ini dapat memenuhi kebutuhan spiritual dan kultural pengguna, serta bagaimana pengaruhnya terhadap pengalaman ruang di dalam bangunan. Validasi Data Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, yaitu dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan teori yang ada. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih objektif dan mendalam mengenai penerapan prinsip desain dalam bangunan Sessat Agung. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian hasil dan pembahasan ini, akan dijabarkan hasil penelitian terkait penerapan prinsip desain D. Ching pada bangunan Sessat Agung. Hasil penelitian diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan praktisi arsitektur, serta analisis dokumentasi terhadap desain dan elemen-elemen ruang dalam bangunan. Pembahasan ini akan menghubungkan temuan lapangan dengan teori dan prinsip desain yang diusulkan oleh D. Ching, serta membahas relevansi dan pengaruh prinsip-prinsip tersebut terhadap pengalaman ruang di bangunan religius seperti Sessat Agung. Sessat Agung di Tubaba. Tulang Bawang Barat. Lampung adalah balai adat yang merepresentasikan budaya masyarakat Lampung. Bangunan ini menggunakan prinsipprinsip desain yang kuat untuk menyampaikan identitas budaya lokal dan nilai-nilai Berikut ini adalah beberapa prinsip desain yang diterapkan pada Sessat Agung, merujuk pada teori desain D. Ching: Keseimbangan . Keseimbangan adalah salah satu konsep fundamental dalam desain arsitektur, yang mengacu pada cara elemen-elemen dalam suatu ruang disusun secara harmonis dan proporsional, sehingga menciptakan rasa stabilitas dan ketenangan bagi penghuninya. Dalam konteks arsitektur religius seperti bangunan Sessat Agung, keseimbangan bukan hanya berfungsi untuk menciptakan ruang yang estetis dan fungsional, tetapi juga untuk mendukung pengalaman spiritual yang mendalam. Oleh karena itu, penerapan prinsip desain yang memperhatikan keseimbangan sangat penting untuk menciptakan ruang yang tidak hanya nyaman secara fisik tetapi juga menyentuh aspek emosional dan spiritual penggunanya (Ching, 2. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Keseimbangan Simetris Keseimbangan simetris adalah keseimbangan yang memiliki berat visual yang berfokus pada sumbu atau garis imajiner, seimbang dalam bentuk, warna, ukuran dan (Ihsani Fadhillah & Chandra, 2. Bangunan Sessat Agung umumnya memiliki bentuk yang simetris, dengan dua sisi yang serupa dan teratur. Hal ini dapat dilihat pada tampak samping bangunan yang terlihat memiliki bentuk yang sama dari bentuk atap dan Gambar 1. Konsep Keseimbangan Simetris & Asimetris . umber: https://galaxign. com/my-blog/konsep-dasar-desain-layou. Keseimbangan Asimetris Berbeda dengan keseimbangan simetris, keseimbangan asimetris dicapai dengan menggunakan elemen-elemen yang berbeda, namun tetap menciptakan kesan keseimbangan secara visual. Dalam beberapa ruang di bangunan Sessat Agung, keseimbangan asimetris dapat ditemukan pada penggunaan material dan bentuk-bentuk yang berbeda pada bagian eksterior dan interior bangunan. Keseimbangan asimetris adalah keseimbangan yang dicapai melalu distribusi bobot visual yang berbeda-beda, namun tetap memberikan kesan stabil(Ihsani Fadhillah & Chandra, 2. Gambar 2. Konsep Sessat Agung . umber: https://w. org/arsip/proyek/detail?oid=12&page=. Keseimbangan Radial Pada prinsip ini, elemen-elemen desain terdistribusi secara merata mengelilingi titik pusat, yang sangat relevan dalam desain bangunan religius yang berfokus pada sumbu atau titik utama, seperti altar atau pusat ibadah. Penerapan keseimbangan radial dapat ditemukan pada perancangan ruang ibadah di bangunan Sessat Agung, di mana ruang utama memiliki distribusi elemen yang mengarah pada titik pusat ibadah, menciptakan fokus visual dan spiritual bagi para pengguna. Proporsi (Proportio. Proporsi adalah prinsip yang berhubungan dengan hubungan atau perbandingan ukuran antara elemen-elemen dalam desain (Ching, 2. Salah satu prinsip utama yang Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 dijelaskan oleh D. Ching adalah pentingnya organisasi ruang yang jelas dan proporsional dalam menciptakan pengalaman visual dan fungsional yang harmonis (Ching, 2. Dalam bangunan Sessat Agung, pengaturan ruang dilakukan dengan memperhatikan hierarki ruang, di mana ruang utama untuk ibadah diletakkan di pusat, sementara ruangruang sekunder seperti ruang pertemuan, ruang pendukung, dan ruang terbuka ditempatkan di sekelilingnya. Hal ini mengacu pada prinsip desain Ching yang mengutamakan skala dan proporsi dalam perancangan ruang, yang memungkinkan pemisahan dan alur yang jelas antara ruang publik dan ruang pribadi (Ching, 2. Pada bangunan Sessat Agung di Tubaba dapat dilihat dari beberapa aspek yang mencakup hubungan antara ukuran, bentuk, dan fungsi ruang dalam konteks arsitektur Proporsi adalah salah satu prinsip desain penting yang mengatur hubungan antara elemen-elemen bangunan untuk menciptakan harmoni visual dan fungsional. Gambar 3. Sessat Agung & Lingkungan sekitar (Sumber: https://w. com/id/project/sessat-agung-tubab. Kontras (Contras. Kontras merupakan salah satu prinsip dasar dalam desain arsitektur yang sangat penting untuk menciptakan perbedaan yang jelas antar elemen dalam sebuah ruang. Dalam konteks desain bangunan religius seperti Sessat Agung, kontras dapat menciptakan ketegasan visual, memperjelas hierarki ruang, serta memberikan dimensi emosional yang kuat bagi penggunanya. Kontras bukan hanya terletak pada perbedaan warna atau bentuk, tetapi juga melibatkan variasi dalam elemen ruang, material, cahaya, dan tekstur untuk memperkaya pengalaman pengguna. Dalam Prinsip desain menurut D. Ching, kontras adalah Teknik atau prinsip yang digunakan untuk menciptakan perbedaan visual antara elemen-elemen dalam desain, sehingga menonjolkan bagian bagian tertentu atau penekanan (Ching, 2. Prinsip desain Kontras pada bangunan sessat agung ini digunakan untuk menciptakan daya Tarik visual dan menonjolkan identitas budaya yang kuat. Kontras disini diterapkan dengan berbagai cara, baik dalam pemilihan warna, bentuk, tekstur, maupun materia. Berikut adalah analisi dari penerapan prinsip kontras pada bangunan Sessat Agung: Gambar 4. Sessat Agung (Sumber: https://w. com/id/project/sessat-agungtubab. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Kontras antara Interior dan Eksterior Bangunan Sessat Agung menunjukkan kontras yang jelas antara bagian interior dan Eksterior bangunan menggunakan material batu alam yang memberikan kesan kokoh dan monumental, sementara interiornya menggunakan material kayu dan kaca yang lebih ringan dan transparan. Penggunaan kaca sebagai material transparan memungkinkan pandangan ke luar, menciptakan hubungan visual dengan alam, sementara kayu menciptakan kesan hangat dan alami di dalam ruang. Kontras ini mendukung fungsi bangunan sebagai tempat yang terbuka bagi masyarakat sekaligus tetap mempertahankan rasa kedalaman dan ketenangan di dalamnya. Kontras dalam Komposisi Ruang Kontras juga terlihat pada komposisi ruang dalam bangunan Sessat Agung. Ruang utama ibadah dirancang lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan ruang-ruang lain seperti ruang pertemuan atau ruang doa kecil. Perbedaan skala ini menciptakan kontras visual yang jelas antara ruang yang digunakan untuk ibadah massal dengan ruang yang lebih pribadi dan intim. Hal ini mencerminkan prinsip kontras dalam desain yang juga diusung oleh Ching, di mana variasi skala dan bentuk memberi dampak langsung pada pengalaman pengguna ruang (Ching, 2. Kontras dalam Penggunaan Pencahayaan Bangunan Sessat Agung memanfaatkan pencahayaan alami yang masuk melalui skylight dan jendela besar untuk menciptakan kontras dengan area yang lebih gelap dan teduh di sekitar ruang ibadah. Pencahayaan alami yang mengarah langsung ke altar atau pusat ibadah memberikan titik fokus yang kuat dan menciptakan suasana sakral, sementara pencahayaan yang lebih lembut di ruang-ruang lainnya menciptakan suasana yang lebih tenang dan reflektif. Kontras antara area terang dan gelap ini meningkatkan intensitas pengalaman spiritual yang dialami oleh pengunjung. Kesatuan (Unit. Kesatuan . merupakan salah satu prinsip desain yang penting dalam menciptakan ruang yang terintegrasi, di mana semua elemen desain bekerja sama untuk menciptakan keseluruhan yang harmonis. Dalam konteks arsitektur, kesatuan mengacu pada penggabungan berbagai elemen visual dan struktural yang berbeda sehingga menghasilkan kesan kohesif dan terpadu. Dalam bangunan religius seperti Sessat Agung, kesatuan tidak hanya berfungsi untuk tujuan estetis, tetapi juga untuk menciptakan atmosfer yang mendalam, mendukung pengalaman spiritual, serta memperkuat fungsi Dalam prinsip desain menurut D. Ching, kesatuan atau unity mengacu pada hubungan harmonis antara elemen-elemen dalam desain sehingga mereka membentuk keseluruhan yang kohesif. (Ching, 2. Pada bangunan Sessat Agung menunjukkan bagaimana elemen elemen desain bekerja secara harmonis untuk menciptakan kesalarasan visual dan fungsional. Kesatuan antara bentuk dan fungsi bangunan terlihat dari desain bangunan yang mendukung aktivitas adat, seperti ruang utama yang luas dan atap yang langit langit yang tinggi. Material alami seperti kayu dan bambu menciptakan hubungan yang kuat dengan lingkungan sehingga memperkuat kesan utuh dari bangunan. Secara keselurahan, setiap elemen dalam Sessat Agung berfungsi Bersama sehingga menciptakan satu kesatuan yang harmonis, baik dari segi estetika maupun makna budaya. Kesatuan dalam Organisasi Ruang Salah satu aspek utama dari kesatuan dalam bangunan Sessat Agung adalah cara ruang-ruang diatur untuk menciptakan alur yang jelas dan mudah dimengerti oleh Ruang ibadah utama ditempatkan di pusat bangunan, sementara ruang-ruang pendukung seperti ruang doa, ruang pertemuan, dan ruang terbuka disusun di Penataan ruang ini memperkuat kesatuan dan memberikan pengalaman yang Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 terorganisir, di mana setiap ruang memiliki peran dan fungsi yang jelas namun saling Ruang-ruang tersebut tidak hanya berfungsi secara terpisah, tetapi juga memiliki hubungan satu sama lain yang terintegrasi. Pengunjung dapat bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya dengan alur yang terarah, menghubungkan pengalaman fisik dan emosional mereka di setiap tahap perjalanan mereka di dalam bangunan. Hal ini menunjukkan bagaimana organisasi ruang yang baik dapat menciptakan kesatuan yang menyeluruh dan mempermudah pengalaman pengguna. Kesatuan dalam Penggunaan Material dan Tekstur Material yang digunakan pada bangunan Sessat Agung juga memperkuat kesatuan Penggunaan batu alam untuk eksterior menciptakan kesan keteguhan dan keabadian, sementara kayu yang digunakan pada interior memberi kesan hangat dan alami. Penggunaan material yang sama pada berbagai elemen bangunanAibaik untuk lantai, dinding, atau furniturAimenciptakan tekstur yang serasi dan menyatu dengan suasana ruang, memperkuat kesan kesatuan dalam keseluruhan desain. Selain itu, pencahayaan alami yang dipilih dengan bijak melalui jendela besar atau skylight menciptakan kesatuan visual antara interior bangunan dan alam luar, memperluas batasan ruang sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dan Kesatuan dalam Bentuk dan Skala Bangunan Sessat Agung dirancang dengan memperhatikan kesatuan dalam bentuk dan skala. Meskipun terdapat variasi dalam ukuran ruang, baik yang besar maupun kecil, keseluruhan desain tetap mempertahankan kesatuan yang kohesif. Ruang utama untuk ibadah yang lebih besar dan lebih tinggi memberikan kontras dengan ruang-ruang yang lebih kecil dan lebih intim, namun semuanya terhubung dengan alur yang jelas dan desain yang seimbang. Penggunaan bentuk geometris sederhana dan elemen-elemen struktural yang serasi di seluruh bangunan memberikan kesan bahwa bangunan ini adalah kesatuan yang padu, bukan hanya sebuah kumpulan ruang dan bentuk yang terpisah. Setiap bagian dari bangunan, baik interior maupun eksterior, dirancang dengan mempertimbangkan hubungan antar elemen, menghasilkan desain yang harmonis dan menyeluruh. KESIMPULAN Penerapan prinsip desain D. Ching, seperti keseimbangan, kontras, dan kesatuan, pada bangunan Sessat Agung menunjukkan bagaimana elemen-elemen arsitektural dapat bekerja bersama untuk menciptakan ruang yang harmonis, fungsional, dan penuh makna. Setiap prinsip tersebut memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman ruang yang mendalam, baik bagi pengguna yang mencari kenyamanan fisik maupun pengalaman Keseimbangan dalam bangunan Sessat Agung tercapai melalui penggunaan elemenelemen yang simetris, asimetris, dan radial, serta pengaturan ruang yang mendukung aliran pergerakan yang teratur. Keseimbangan ini tidak hanya berfungsi untuk menciptakan kesan visual yang menarik, tetapi juga memfasilitasi pengalaman ibadah yang tenang dan fokus. Kontras memberikan dimensi visual yang lebih dinamis, memperjelas perbedaan antara berbagai elemen dalam desain, seperti material, skala, dan pencahayaan. Dalam konteks bangunan religius, kontras ini juga berfungsi untuk memperkuat hierarki ruang, memberikan perhatian pada elemen-elemen penting seperti altar, dan menciptakan atmosfer yang mendalam dan reflektif. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Kesatuan sebagai prinsip yang paling mendasar memperlihatkan pentingnya integrasi seluruh elemen desain, mulai dari ruang, material, bentuk, hingga skala. Kesatuan ini menciptakan pengalaman ruang yang terpadu dan harmonis, yang memfasilitasi pengunjung dalam perjalanan spiritual mereka dan memperkuat fungsi ruang ibadah sebagai tempat yang sakral dan reflektif. Bangunan Sessat Agung, dengan penerapan prinsip-prinsip desain ini, berhasil menggabungkan aspek estetika, fungsionalitas, dan spiritualitas dalam satu kesatuan ruang yang mengundang rasa damai, kedamaian, dan refleksi. Penerapan konsep-konsep tersebut dalam desain arsitektur religius membuktikan bahwa arsitektur tidak hanya tentang penciptaan ruang fisik, tetapi juga tentang membentuk pengalaman emosional dan spiritual yang mendalam bagi setiap individu yang mengalaminya. Dengan demikian, prinsip-prinsip desain D. Ching yang diterapkan dalam bangunan Sessat Agung tidak hanya memperkaya aspek visual, tetapi juga memperdalam makna dan tujuan dari ruang tersebut sebagai tempat ibadah dan pertemuan spiritual. UCAPAN TERIMA KASIH Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam penyusunan jurnal ini. Terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan, serta rekanrekan yang telah memberikan saran dan dukungan selama proses penulisan ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan teman-teman atas segala doa dan motivasi yang telah Semoga jurnal ini bermanfaat dan memberikan kontribusi positif bagi bidang keilmuan yang terkait. DAFTAR PUSTAKA