Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 450-461 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Peran Ibu Dalam Stimulasi Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Study Kualitatif Di PAUD Bina Pelita Hati Intan Susanti1. Muthia Sari2. Galuh Mulyawan3. Amat Hidayat4 Info Artikel Abstract Keywords: MotherAos Role. Language Development. Early Childhood. This study was motivated by the lack of understanding regarding the motherAos role in stimulating children's language development. The purpose of this research is to describe the role of mothers in supporting the language development of early childhood, specifically children aged 4 to 5 years at PAUD Bina Pelita Hati. Employing a qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation involving six mothers and six students from Class A. The findings reveal that the mother plays a vital role in stimulating language development through everyday interactions such as reading books, storytelling, engaging in play, and providing emotional support. This research is grounded in VygotskyAos theory of development, which emphasizes that social interaction with adults particularly the mother is fundamental to language development through the Zone of Proximal Development (ZPD) and scaffolding. Additionally. SkinnerAos behaviorist theory supports the finding that verbal reinforcement from mothers significantly contributes to the formation and enrichment of young childrenAos vocabulary. The study concludes that children who receive regular language stimulation from their mothers demonstrate more advanced language skills. Therefore, active maternal involvement and collaboration with early childhood education institutions (PAUD) are essential to fostering optimal language development in early childhood. Kata kunci: Peran Ibu. Perkembangan Bahasa. Anak Usia Dini. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi tentang kurangnya pemahaman peran ibu dalam menstimulasi perkembangan bahasa anak. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan peran ibu terhadap perkembangan bahasa anak usia dini, khususnya usia 4-5 tahun di PAUD Bina Pelita Hati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap Enam ibu walimurid dan Enam peserta didik di kelas A. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa peran ibu sangat penting dalam menstimulasi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: intansusantti@gmail. 2 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: muthiasari1991@gmail. 3 Bimbingan dan Konseling. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: galuh. muliawan@gmail. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang. Indonesia Email: amathidayat01@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 perkembangan bahasa anak usia dini melalui interaksi sehari-hari, seperti membacakan buku, bercerita, bermain bersama, dan memberikan dukungan secara emosional. Penelitian ini mengacu pada teori perkembangan Vygotsky, yang menyatakan bahwa interaksi sosial dengan orang dewasa, dalam hal ini ibu, merupakan kunci utama dari perkembangan bahasa anak melalui Zona Proximal Development (ZPD) dan Scaffolding. Terdapat juga teori Behavioristik yakni Skinner yang mendasari temuan penguatan bahwa penguatan verbal dari ibu mampu membentuk dan memperkaya kosa kata anak usia dini. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa anak-anak yang mendapatkan stimulasi secara rutin dari ibu menunjukan perkembangan kemampuan berbahasa yang lebih baik, keterlibatan aktif ibu serta kolaborasi dengan pihak PAUD sangat penting dalam mendukung perkembangan bahasa anak usia dini. Artikel Histori: Disubmit: 16 November 2025 Direvisi: 29 November 2025 Diterima: 07 Desember 2025 Dipublish: 07 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Susanti. Sari. Mulyawan. Hidayat. Peran Ibu Dalam Stimulasi Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Study Kualitatif Di Paud Bina Pelita Hati. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 450-461, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Intan Susanti. Nahda, intansusantti@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Anak-anak usia dini adalah individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan usia mereka (Erviana et al. , 2. Masa usia dini, yang berkisar antara usia enam dan enam tahun, dikenal sebagai masa keemasan, di mana semua aspek perkembangan distimulasi, yang sangat penting untuk tugas perkembangan berikutnya (Haeriyah et al. , n. Suminah et al. , 2. Masa-masa awal kehidupan seseorang anak adalah periode terpenting dalam kehidupan mereka. Saat ini, pertumbuhan otak sedang berkembang dengan sangat cepat. Bahasa, sosial emosional, seni, kognitif, nilai agama dan moral, dan fisik motorik adalah enam aspek perkembangan (Mulyawan et al. karena pematangan fungsi-fungsi fisik dan mental yang menjadi lebih siap untuk menanggapi sinyal lingkungan Stimulasi harus diberikan sesuai dengan tahap perkembangan anak karena ini adalah saat meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan anak (Lestari, 2. Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk belajar, dan orang tua memiliki peran untuk membantu anak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, termasuk meningkatkan keterampilan bahasanya. Setiap tindakan yang dilakukan orang tua dalam lingkungan keluarga dan sosial akan berdampak pada perkembangan bahasa anak (Pradita et al. , 2. Anak usia dini merupakan individu yang sedang dalam masa awal mengenal diri, termasuk sosial dan emosionalnya. Masa ini anak mulai paham berbagai perasaan seperti sedih, senang, dan marah. Akan tetapi masih terdapat anak yang belum memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosinya secara wajar. Penting memberikan dukungan dan binaan agar anak dapat mengenali dan mengatasi perasaan tersebut (Nurfadilah, 2. Keluarga memainkan peran penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang Orang tua dan keluarga bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan keamanan anakanaknya serta memberikan fasilitas dan sarana untuk menumbuhkan kepribadian dan kemampuan mereka dalam sosial dan media (Ayuningtyas et al. , 2. mengembangkan nilai-nilai sosial dan budaya secepat mungkin. Anak-anak menerima, menerima, menghargai, mengakui, dan memberi nasihat atau bimbingan kepada orang tua mereka. Hubungan antara anak dan orang tua sangat Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 penting untuk membangun kepercayaan pada diri dan orang lain. Ini juga dapat membantu perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak-anak (Mulyawan et al. , 2. Dalam Penelitiannya menunjukkan bahwa hubungan orang tua-anak yang hangat, terbuka, dan komunikatif, batas usia yang wajar, dan komunikasi alasan mengapa anak-anak tidak boleh melakukan sesuatu, akan meningkatkan rasa percaya diri dan prestasi anak-anak di sekolah dan di masyarakat (Hanifah, 2. Menurut Hurlock mengungkapkan bahwa anak usia dini khususnya anak usia 4-5 tahun dapat mengembangkan kosakatanya melalui pengulangan. Mereka sering mengulangi kosa kata yang baru dan unik sekalipun mungkin belum memahami artinya. Anak usia 4-5 tahun rata-rata dapat menggunakan 900 sampai 1000 kosa kata yang berbeda. Mereka menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat yang berbentuk kalimat negatif, tanya dan perintah (A. Putri, 2. Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif untuk menyampaikan pikiran, niat, dan tujuan seseorang kepada orang yang kita ajak berbicara. Salah satu fungsi utama bahasa adalah untuk berkomunikasi, yaitu menyampaikan pesan atau makna. Bahasa melakukan lima fungsi dasar sebagai alat komunikasi manusia yaitu berekspresi, informasi, eksplorasi, persuasi, dan hiburan. Karena cakupan kehidupan manusia yang sangat luas, tidak jarang kita berbicara tentang fungsi bahasa yang berbeda-beda tergantung pada situasi dan tempat bahasa digunakan. Bahasa adalah kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Bahasa sangat penting bagi manusia karena memungkinkan mereka untuk berinteraksi dan berbicara tentang apa pun. Berdasarkan cara penyajiannya bahasa dibedakan menjadi dua sarana, yaitu sarana dengan bahasa tulis dan bahasa lisan. Baik bahasa lisan atau bahasa tulis salah satu fungsinya adalah untuk berkomunikasi sehingga mempengaruhi interaksi sosial dalam masyarakat dapat terjalin (Mailani et al. , 2. Perkembangan bahasa adalah bertambahnya kemampuan . dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan. Sebagai hasil dari proses pematangan, menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel tubuh, organ-organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Salah satu aspek perkembangan yang memerlukan perhatian adalah perkembangan bahasa dan bicara (Rohmah et al. , 2. erkembangan bahasa salah satu indikator utama pada saat anak memasuki jenjang pendidikan, seperti sekolah PAUD bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk berpikir, memahami instruksi dan berinteraksi sosial. Anak yang memiliki kemampuan bahasa yang baik cenderung akan lebih siap secara akademik maupun sosial saat memasuki sekolah. Oleh karena itu peran keluarga terutama ibu sangat di butuhkan terhadap perkembangan bahasa anak. Vgotsky meyakini bahwa pengetahuan interaksi sosial anak merupakan hal yang penting bagi perkembangan dalam proses berpikir anak. Anak-anak memerlukan perhatian khusus dari pendidik dan orang tua karena perkembangan bahasa dan komunikasi mereka merupakan komponen penting dari tahapan pertumbuhan mereka. Pemerolehan bahasa merupakan prestasi luar biasa yang menunjukkan kemampuan manusia. Anakanak tidak belajar bahasa atau kosakata secara formal selama masa awal kehidupan mereka, dari lahir hingga usia enam tahun. Namun, pada akhirnya, mereka mampu menyimpan lebih dari 14. Ini adalah contoh betapa cepatnya anak-anak menyerap dan beradaptasi dengan lingkungan Orang dewasa harus membantu dan mendukung perkembangan bahasa anak melalui interaksi dan stimulasi yang tepat. Ini akan membantu mereka berbicara dan memahami lingkungan mereka (Kholilullah et al. , 2. Perkembangan bahasa anak dimuali sejak bayi dan bergantung pada pengalam, kecakapan, dan kemajuan dalam berbahasa. Perkembangan bahasa adalah media yang efektif dan efisien untuk anak melakukan komunikasi sosial. Dengan berkembangnya bahasa maka anak-anak akan dapat lebih Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mudah mengkomunikasikan apa yang mereka butuhkan dan yang diinginkannya. Karena itu, tujuan dari pengembangan bahasa anak usia dini adalah agar mereka dapat berkomunikasi dengan baik (Wahidah et al. , 2. Untuk bertahan hidup, manusia perlu berkomunikasi, salah satunya dengan menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif untuk menyampaikan pikiran, perasaan, tujuan, dan pesan kepada orang lain dan memungkinkan orang bekerja sama satu sama Akibatnya, peran bahasa sangat penting dalam berbagai aktivitas keseharian manusia (Mailani et , 2. Ibu sangat berperan dalam perkembangan bahasa anak. Sebagai orang tua, ibu membantu anak belajar bahasa. Ibu belajar kosa kata baru dan cara berkomunikasi dengan baik melalui interaksi sehari-hari. Bahasa anak sangat dipengaruhi oleh percakapan, nyanyian, atau cerita yang dibacakan Ibu juga menawarkan contoh dalam penggunaan bahasa yang tepat dan baik. Ibu dengan kasih sayang dan perhatian membantu anak memahami arti kata dan konteksnya. Peran ibu sangat penting dalam proses ini karena dapat membentuk cara anak berkomunikasi di masa depan (Nabila, 2. Presentase hasil peneliti lain tentang perkembangan bahasa penelitian pada tahun 2019 menunjukan bahwa cakupan deteksi dini tumbuh kembang balita di Sumatera Selatan adalah 89,33% dan 32,6% diantaranya mengalami gangguan perkembangan. Di Kabupaten Ogan Ilir, cakupannya lebih tinggi yaitu 98,2%, namun presentase balita yang mengalami gangguan tetap tinggi yaitu 32,3%. Survei tahun 2021 di Kecamatan Pemulutan Selatan mencatat jumlah anakusia 3-5 tahun yang bersekolah di PAUD cukup banyak, namun berdasarkan wawancara dengan kepala PAUD, stimulasi perkembangan bahasa, terutama pada usia 3 tahun, masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan orang tua, yang sebagian besar hanya tamatan SD dan SMP, sehingga pengetahuan mereka tentang perkembangan bahasa anak masih sangat kurang (Lopiyanah et al. Secara teoretis, perkembangan bahasa anak usia dini dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan terdekat, sebagaimana ditegaskan oleh teori Sociocultural Vygotsky yang menyatakan bahwa bahasa berkembang melalui hubungan anak dengan orang dewasa yang lebih kompeten. Melalui scaffolding, orang tua terutama ibu memberikan dukungan bertahap agar anak mampu memahami dan menggunakan bahasa secara mandiri. Teori perkembangan kognitif Piaget juga menekankan bahwa pada usia 4Ae5 tahun, anak berada pada tahap praoperasional, di mana bahasa menjadi alat utama dalam membangun representasi Pada tahap ini, stimulasi berupa percakapan, bercerita, dan interaksi emosional sangat berpengaruh pada perkembangan kosakata dan kemampuan berbicara anak. Orang tua merupakan orang yang paling terdekat dengan anak di dalam keluarga. Orang tua sangat memainkan peran penting dalam pemerolehan bahasa anak, terutama peran seorang ibu, karena seorang ibu lebih banyak berinteraksi dengan anak dibandingkan dengan seorang ayah. Peniruan bahasa, pemahaman makna, dan pemakaian kata lebih banyak di dapatkan anak dari seorang Karena itu, anak akan selalu meniru apa yang dikatakan ibu, maka ibu harus lebih cerdas memilih kata kata saat berbicara dengan anak (Choirunnisa, 2. Dalam fase ini, ibu bertindak bukan sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik yang memberikan dukungan sosial dan emosional. Ibu tidak hanya harus memiliki kemampuan untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan aman bagi anak, tetapi juga harus memilki kemampuan untuk memberikan bimbingan yang tepat untuk membantu anak berkembang dalam keterampilan bahasa, sosial, dan kognitif (Pangesti et al. , 2. Peran ibu dalam perkembangan bahasa anak usia dini, khususnya pada 4 sampai dengan 5 tahun, sangat berpengaruh baik secara positif maupun negatif. Secara positif, ibu yang aktif brinteraksi dengan anak, seperti melalui kegiatan bermain ibu sebagai fasilitator lingkungan belajar bahasa anak, dengan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 menjadi fasilitator bahasa anak ibu bisa memfasilitasi lingkungan yang akan kaya bahasa bagi anak dengan mengajak bernyanyi, bercerita, berbicara tentang aktivitas yang sedang di lakukan anak ketika Fasilitator memiliki peran terpenting dalam perkembangan sosial peserta didik PAUD pada masa berkeskplorasi (Mucharomah et al. , 2. Peran ibu sebagai pemberi dukungan secara emosional kepada anak dengan memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak, anak akan bereksplorasi dengan semua bahasa yang di ucapkan tanpa anak merasa takut dan malu. Pengaruh negatif juga perlu di perhatikan. Misalnya, ibu dapat menghambat pertumbuhan bahasa anak jika mereka kurang perhatian atau menggunakan bahasa yang tidak sesuai. Pola asuh yang terlalu otoriter atau kurang komunikasi dapat membuat anak tertekan, menyebabkan mereka tidak mau bicara. Peran ibu sebagai cermin utama anak. Sebagai orangtua harus mempunyai komunikasi yang baik dengan anak. Hal ini dapat dimulai dari orangtua atau khususnya pada pembahasan ini adalah ibu untuk saling terbuka dengan anak (Yuliasari et al. , 2. Memberikan stimulasi bahasa dengan membaca cerita, bernyanyi, dan berbicara tentang aktivitas sehari-hari, dapat meningkatkan keterampilan berbahasa pada anak. Lingkungan yang memiliki kaya bahasa, seperti memiliki buku-buku yang bervariasi, menonton program pendidikan, dan berkomunikasi dengan orang lain yang menggunakan bahasa dengan baik, dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berbahasa (Ulfadhilah et al. , 2. Kemampuan anak untuk membaca, menulis, memperhatikan, dan berinteraksi sosial dikaitkan dengan keterlambatan bicara dan berbahasa. Sangat penting untuk melakukan evaluasi perkembangan menyeluruh pada anak yang tidak memenuhi syarat perkembangan bicara sesuai usianya (William, 2. Meskipun berbagai penelitian telah membahas perkembangan bahasa anak usia dini serta peran orang tua dalam memberikan stimulasi, sebagian besar kajian sebelumnya masih berfokus pada stimulasi bahasa secara umum, pola asuh terhadap kemampuan berbahasa, atau hambatan keluarga dalam mendukung perkembangan anak. Penelitian-penelitian tersebut belum menjelaskan secara rinci bagaimana keterlibatan ibu secara nyata dalam proses stimulasi bahasa, khususnya pada anak usia 4Ae 5 tahun di lingkungan PAUD. Selain itu, penelitian terdahulu juga belum banyak mengkaji bagaimana bentuk kolaborasi yang terbangun antara ibu dan guru dalam proses stimulasi bahasa anak di sekolah, serta bagaimana kedua pihak saling melengkapi peran dalam mendukung perkembangan bahasa anak secara menyeluruh. Belum adanya kajian yang menggambarkan secara komprehensif dinamika keterlibatan ibu dan hubungan kemitraan antara keluarga dan lembaga PAUD dalam stimulasi bahasa inilah yang menjadi kesenjangan penelitian . esearch ga. yang perlu dijawab. Penelitian ini hadir untuk mengisi ruang kosong tersebut dengan mendeskripsikan secara lebih mendalam keterlibatan ibu dalam stimulasi perkembangan bahasa serta pola kolaborasi yang terbentuk antara orang tua dan guru di PAUD Bina Pelita Hati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan bahasa anak usia 4Ae5 tahun di PAUD Bina Pelita Hati sekaligus menganalisis bagaimana keterlibatan ibu dalam memberikan stimulasi bahasa kepada anak di lingkungan rumah, sehingga dapat terlihat keterkaitan antara kemampuan berbahasa anak dengan bentuk dukungan dan interaksi yang diberikan oleh ibu dalam keseharian. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk memahami fenomena sosial secara mendalam sesuai konteks alamiah tempat peristiwa berlangsung. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada proses, makna, serta pengalaman subjektif individu yang tidak dapat dijelaskan melalui angka, namun membutuhkan pemahaman langsung dari situasi sosial yang diteliti. Sebagaimana dikemukakan oleh (Safarudin et al. , 2. , penelitian kualitatif menekankan proses pengumpulan data melalui observasi dan wawancara, menggunakan teknik triangulasi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 menganalisis data secara induktif, serta menghasilkan temuan yang bersifat mendalam dibandingkan Dalam penelitian kualitatif, terdapat dua karakter utama yaitu deskriptif dan analitis. Sifat deskriptif digunakan untuk menggambarkan peristiwa, fenomena, serta interaksi sosial sebagaimana adanya di lapangan, sedangkan sifat analitis digunakan untuk menafsirkan, memaknai, serta membandingkan data sehingga diperoleh pemahaman utuh terhadap realitas yang diteliti (Waruwu et , 2. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya menguraikan apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga menggali makna yang muncul dari pengalaman para subjek penelitian. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai keterlibatan interaksi antara ibu dan anak dalam perkembangan bahasa anak usia dini. Untuk memperoleh data yang kaya dan relevan, peneliti mengumpulkan informasi melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menggali pengalaman, persepsi, dan pandangan subjek secara langsung. Observasi dilakukan untuk melihat interaksi alami yang terjadi di lingkungan belajar anak, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai pelengkap untuk memperkuat data hasil observasi dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di PAUD Bina Pelita Hati, yang berlokasi di Kampung Jakung Seler RT 01 RW 01. Kelurahan Cilowong. Kecamatan Taktakan. Kota Serang. Provinsi Banten. Penelitian ini melibatkan 6 peserta didik dan 6 walimurid kelas A di PAUD Bina Pelita Hati, yang memiliki anak berusia 4 sampai dengan 5 tahun. Pemilihan subjek dilakukan untuk mendapatkan informasi dan data yang HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Perkembangan Bahasa Anak Berdasarkan Hasil Observasi Guru Berdasarkan hasil observasi guru kelas A di PAUD Bina Pelita Hati, dari 10 peserta didik ditemukan bahwa 6 anak menunjukkan perkembangan bahasa yang berkembang sangat baik, sementara 4 anak berada pada kategori mulai berkembang. Anak-anak yang berada pada kategori berkembang sangat baik mampu menggunakan kalimat tersusun dengan jelas, menjawab pertanyaan guru dengan tepat, serta mampu mengungkapkan gagasan dengan percaya diri. Mereka juga menunjukkan partisipasi aktif dalam kegiatan bermain sambil belajar yang menuntut komunikasi, seperti bercerita, berdialog, dan berinteraksi dengan teman maupun guru. Sementara itu, empat anak lainnya berada pada tahap perkembangan bahasa mulai berkembang. Mereka mulai mencoba menyampaikan ide dan pendapat melalui percakapan sederhana, namun kosakata yang digunakan masih terbatas dan memerlukan bimbingan serta stimulasi yang konsisten dari guru maupun orang tua. Persepsi Ibu tentang Perkembangan Bahasa Anak Hasil wawancara dengan beberapa ibu menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menilai perkembangan bahasa anak mereka sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari ungkapan Ibu Adita yang menyatakan bahwa perkembangan bahasa anaknya Aucukup baikAy, serta Ibu Jehan yang mengatakan bahwa anaknya Audiajak bicara segala tuh nyambungAy. Pendapat serupa muncul dari Ibu Vania dan Ibu Rehan yang mengungkapkan bahwa anak-anak mereka mulai banyak bertanya, menunjukkan rasa ingin tahu tinggi, dan menikmati proses belajar melalui interaksi sehari-hari. Keaktifan bertanya ini mencerminkan peningkatan kemampuan bahasa sekaligus perkembangan kognitif anak. Ibu Vania menyampaikan bahwa anaknya kini Ausering nanya-nanya terus, panjang kalau nanyaAy. Sementara itu. Ibu Rehan menceritakan bahwa anaknya kerap meminta diajari dan menunjukkan keinginan besar untuk memahami bacaan atau gambar dalam buku cerita. Peran Lingkungan Rumah dan Interaksi Keluarga Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Seluruh partisipan menegaskan bahwa lingkungan rumah dan interaksi keluarga memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa anak. Anak yang terbiasa diajak komunikasi dua arah, ditanya, atau diajak menjawab pertanyaan oleh anggota keluarga menjadi lebih lancar berbicara. Ibu Vania mengungkapkan bahwa sering terjadi percakapan antara anak dan saudara di rumah sehingga anak semakin terlatih dalam berbicara. Hal serupa disampaikan oleh Ibu Adita dan Ibu Zia yang menyatakan bahwa interaksi di rumah membuat anak Aujadi banyak ngomongAy. Temuan ini menegaskan bahwa frekuensi percakapan dalam keluarga berkontribusi langsung terhadap kemampuan anak dalam memperkaya kosakata serta menggunakan bahasa secara lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk Dukungan Moril dan Materil dari Ibu Dukungan moril dari ibu terlihat dari pemberian semangat, nasihat, dan kenyamanan emosional saat anak berkomunikasi. Ibu Jehan menyampaikan bahwa ia selalu berupaya membimbing anaknya agar mampu berkembang seperti teman sebaya: AuSetiap hari semampunya saya biar anak itu bisa seperti anak-anak yang lain. Ay Sementara itu. Ibu Zia menambahkan bahwa anaknya membutuhkan bujukan untuk berani berbicara. Selain dukungan emosional, para ibu juga memberikan dukungan materil untuk mendukung perkembangan bahasa anak. Ibu Adita mengaku sering menyediakan buku cerita bergambar sebagai media belajar anak. Ibu Rehan bahkan menyediakan kertas dan buku cerita dalam jumlah cukup untuk menunjang aktivitas menggambar dan membaca anak setiap hari. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan moril dan materil berperan signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi stimulasi bahasa anak usia dini. Tantangan Ibu dalam Menstimulasi Perkembangan Bahasa Anak Meskipun memberikan dukungan maksimal, para ibu menghadapi beberapa tantangan. Tantangan yang paling sering muncul adalah anak sulit diajak belajar atau membaca, sebagaimana disampaikan oleh Ibu Adita. Selain itu, beberapa anak sering mengulang pertanyaan yang sama sehingga membuat ibu kesulitan memberikan jawaban, seperti yang dialami oleh Ibu Zia dan Ibu Vania. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat anak terus bertanya dan memerlukan penjelasan detail, namun hal ini terkadang membuat ibu kehabisan cara dalam menjawab. Tantangan lain adalah kurangnya keberanian anak berbicara di depan orang lain, sehingga diperlukan bimbingan dan pendekatan khusus untuk membangun rasa percaya diri anak. Strategi Ibu dalam Menghadapi Tantangan Para ibu menggunakan beberapa strategi untuk mengatasi tantangan tersebut, antara lain memberikan penjelasan secara perlahan, menggunakan kata-kata lembut, serta menciptakan komunikasi dua arah yang nyaman. Beberapa ibu juga melibatkan anggota keluarga lain, seperti ayah atau kakak, ketika menghadapi pertanyaan anak yang sulit dijawab. Strategi ini tampak dari ungkapan Ibu Adita yang memilih menjelaskan secara baik-baik, serta Ibu Vania dan Ibu Rehan yang sesekali meminta anak bertanya kepada ayah ketika mereka tidak mampu menjawab. Pendekatan sabar dan komunikatif ini membantu anak merasa dihargai sehingga lebih terbuka dalam belajar dan berinteraksi. Bentuk Stimulasi Bahasa yang Diberikan Ibu Para ibu secara aktif menstimulasi bahasa anak melalui kegiatan bermain, bercerita, berdiskusi, hingga percakapan ringan. Ibu Jehan menjelaskan bahwa anaknya sering bermain boneka sambil berbicara, dan ia sesekali mendampingi anak dalam bermain. Ibu Safira menekankan kegiatan bermain dan bercerita sebagai sarana komunikasi, sementara Ibu Rehan membiasakan anak menggunakan bahasa sopan dan mengajarkan ungkapan-ungkapan positif dalam percakapan sehari-hari. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Stimulasi ini membantu anak memperluas kosakata sekaligus melatih kemampuan memahami dan menggunakan bahasa dalam konteks sosial. Respon Anak terhadap Kegiatan Membaca dan Bercerita Sebagian besar anak menunjukkan respon positif saat dibacakan cerita. Mereka terlihat antusias, banyak bertanya, dan menunjukkan rasa ingin tahu besar terhadap isi cerita. Namun, terdapat pula anak yang cepat lupa isi cerita meskipun saat dibacakan tampak fokus. Temuan ini disampaikan oleh Ibu Rehan dan Ibu Jehan yang melihat adanya variasi dalam kemampuan anak mengingat isi cerita. Perbedaan Interaksi Anak di Rumah dan di Sekolah Hasil wawancara menunjukkan adanya perbedaan tingkat komunikasi anak antara di rumah dan di sekolah. Beberapa anak lebih banyak berbicara di rumah karena merasa lebih nyaman, sementara beberapa lainnya justru lebih aktif di sekolah karena adanya teman dan aktivitas belajar yang menarik. Ada pula anak yang perilaku komunikasinya relatif sama di kedua lingkungan. Temuan ini menegaskan bahwa konteks lingkungan turut memengaruhi keberanian dan kemampuan anak dalam berkomunikasi. Kemampuan Anak Berinteraksi dengan Teman Sebaya Mayoritas ibu menilai bahwa anak mereka mampu berinteraksi dengan baik bersama teman. Anak-anak dapat merespons percakapan dengan tepat, memahami ucapan temannya, dan mengungkapkan pendapat mereka secara jelas. Beberapa anak bahkan menunjukkan kemampuan mengasuh atau membimbing temannya, sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Vania. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi sosial anak telah berkembang dengan baik dan mendukung hubungan sosial mereka di lingkungan PAUD. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak usia dini di PAUD Bina Pelita Hati secara umum berada pada kategori baik. Enam anak menunjukkan kemampuan bahasa yang berkembang sangat baik, ditandai dengan kemampuan mengungkapkan gagasan, menjawab pertanyaan dengan jelas, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan bermain sambil belajar yang memerlukan komunikasi verbal. Temuan ini sejalan dengan pandangan Vygotsky . dalam A. Putri et al. , . yang menekankan bahwa perkembangan bahasa anak sangat ditentukan oleh interaksi sosial dalam lingkungan terdekatnya. Lingkungan yang kaya komunikasi, seperti kelas PAUD yang memungkinkan anak berdialog dan bercerita, mendukung anak untuk mengembangkan struktur bahasa yang lebih kompleks. Hal ini sejalan pula dengan penelitian (Goodacre et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa kemampuan bahasa anak berkembang pesat melalui aktivitas sosial kolaboratif, terutama dalam konteks bermain dan percakapan alami. Persepsi ibu terhadap perkembangan bahasa anak juga menggambarkan kondisi yang konsisten dengan teori perkembangan kognitif Piaget. Ibu menyatakan bahwa anak-anak mereka banyak bertanya, mengekspresikan rasa ingin tahu, dan mampu memahami percakapan sehari-hari. Rasa ingin tahu yang muncul secara alami merupakan bagian dari perkembangan kognitif yang memicu anak untuk menggunakan bahasa sebagai sarana memahami dunia. Penelitian (Nasser & Sagr, 2. turut menguatkan temuan ini, bahwa kualitas dialog antara ibu dan anak berpengaruh signifikan terhadap perkembangan kosakata dan kemampuan berbahasa anak. Peran lingkungan rumah terlihat sangat dominan dalam membentuk kemampuan bahasa anak. Para ibu mengungkapkan bahwa anak yang sering diajak berbicara oleh orang tua atau saudara menjadi lebih lancar dan percaya diri dalam berbahasa. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Sundqvist et al. , 2. yang menemukan bahwa lingkungan rumah yang kaya percakapan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan kosakata anak. Dalam penelitiannya, anak yang Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 hidup dalam lingkungan yang aktif berkomunikasi menerima paparan kata yang jauh lebih banyak dibandingkan anak yang minim dialog sehingga kemampuan bahasa mereka berkembang lebih cepat. Dukungan yang diberikan ibu dan ayah, baik berupa dukungan moril maupun materil, juga berperan penting dalam perkembangan bahasa anak. Dukungan moril seperti memberikan semangat, mendengarkan, serta menciptakan suasana komunikasi yang nyaman membuat anak lebih berani Sementara dukungan materil, seperti memberikan buku cerita, kertas gambar, atau permainan edukatif, menyediakan media yang memungkinkan anak memperluas kosakata. Penelitian (Rivero et al. , 2. menunjukkan bahwa membaca buku cerita bersama orang tua terbukti meningkatkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif anak. Meskipun demikian, para ibu juga menghadapi tantangan dalam menstimulasi bahasa anak. Beberapa anak sulit diajak belajar atau membaca, sebagian lainnya cenderung mengulang pertanyaan yang sama sehingga membuat ibu kehabisan penjelasan. Ada pula anak yang merasa malu ketika harus berbicara di depan orang lain. Tantangan-tantangan ini juga ditemukan dalam penelitian (King, 2. yang menjelaskan bahwa anak usia dini sering menunjukkan hambatan komunikasi, namun hambatan tersebut dapat diatasi melalui komunikasi dua arah yang responsif. Untuk mengatasi hambatan tersebut, ibu menggunakan strategi yang lembut dan komunikatif, seperti berbicara dengan pelan, memberikan penjelasan sederhana, dan memberikan nasihat tanpa memarahi anak. Beberapa ibu memilih melibatkan ayah atau anggota keluarga lain ketika mereka tidak mampu menjawab pertanyaan anak. Strategi ini mencerminkan pola pengasuhan responsif sebagaimana dijelaskan (Almaghfiroh et al. , 2. bahwa responsivitas orang tua berpengaruh langsung terhadap perkembangan bahasa ekspresif anak. Ibu juga memberikan stimulasi bahasa melalui kegiatan bermain, membaca cerita, serta percakapan sehari-hari. Anak yang bermain boneka sambil bercerita atau terlibat dalam dialog sederhana bersama ibu cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih kuat. Hal ini didukung oleh penelitian (Bunayyah et al. , 2. , yang menemukan bahwa aktivitas bermain peran dan bercerita memberikan dampak positif terhadap kemampuan naratif dan kosakata anak Respon anak terhadap kegiatan membaca menunjukkan antusiasme yang tinggi, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan. Namun, kemampuan mereka dalam mengingat isi cerita berbeda-beda. Penelitian (Ratnasari & Zubaidah, 2. menjelaskan bahwa membaca buku cerita memang meningkatkan pemahaman bahasa anak, tetapi tingkat retensi informasi dapat bervariasi bergantung pada perkembangan memori anak. Terdapat pula perbedaan yang menarik antara kemampuan komunikasi anak di rumah dan di Beberapa anak lebih banyak berbicara di rumah karena merasa nyaman, sementara lainnya lebih aktif berbicara di sekolah karena banyaknya teman sebaya dan kegiatan yang menstimulasi Fenomena ini sejalan dengan teori ekologi Bronfenbrenner yang menjelaskan bahwa anak berkembang dalam berbagai sistem lingkungan yang saling terkait. Penelitian (Achenbach, 1. menegaskan bahwa kualitas hubungan dengan guru dan teman sebaya mempengaruhi kemampuan komunikasi anak secara signifikan. Temuan lain menunjukkan bahwa mayoritas anak mampu berinteraksi dengan baik bersama teman sebaya. Anak dapat merespons pembicaraan temannya, memahami ucapan teman, dan bahkan membantu mengarahkan teman lainnya. Hasil ini sejalan dengan (Yau et al. , 2. , yang menyatakan bahwa kemampuan bahasa anak mendukung kemampuan sosialnya dalam berteman dan Dengan demikian, pembahasan ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak usia dini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti rasa ingin tahu dan perkembangan kognitif, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti interaksi keluarga, strategi pengasuhan. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 lingkungan bermain, dan hubungan sosial di rumah maupun sekolah. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori dan temuan penelitian terdahulu, menguatkan bahwa stimulasi berbahasa yang konsisten dan lingkungan yang komunikatif memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa anak usia dini. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak usia 4Ae5 tahun di PAUD Bina Pelita Hati berada pada kategori yang cukup baik, ditandai dengan kemampuan anak dalam mengungkapkan pendapat, aktif bertanya, serta berinteraksi secara lancar baik di rumah maupun di Temuan ini sekaligus mempertegas bahwa peran ibu memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam mendukung perkembangan bahasa anak melalui komunikasi sehari-hari, membaca cerita, bermain bersama, serta pemberian stimulasi verbal yang konsisten. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya pemahaman tentang hubungan antara keterlibatan ibu dan kemampuan bahasa anak, khususnya dalam konteks kolaborasi antara keluarga dan lingkungan PAUD. Secara praktis, hasil penelitian mengimplikasikan bahwa lingkungan rumah yang komunikatif dan dukungan emosional maupun materil dari ibu menjadi fondasi utama bagi perkembangan bahasa yang Oleh karena itu, guru dan lembaga PAUD perlu memperkuat kerja sama dengan orang tua untuk memastikan stimulasi bahasa yang dilakukan di rumah dapat selaras dengan kegiatan pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan pengetahuan dan keterampilan orang tua mengenai strategi stimulasi bahasa yang efektif, penguatan program literasi keluarga, serta dukungan kolaboratif antara guru dan orang tua dalam memantau perkembangan bahasa anak. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi lebih jauh peran ayah serta pengaruh lingkungan digital terhadap kemampuan bahasa anak usia dini agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif. DAFTAR KEPUSTAKAAN Achenbach. Integrative guide for the 1991 CBCL/4-18. YSR, and TRF profiles. (No Titl. Almaghfiroh. Qomariyah. Maulana. Elbarkah. , & Sulaiman. Implementasi perkembangan bahasa dan sosial anak melalui pendidikan orang tua yang Innovative: Journal Of Social Science Research, 4. , 13158Ae13180. Ayuningtyas. Mulyawan. , & Syahidah. Persepsi Orang Tua dalam Pengenalan Numerasi Secara Digital dan Konfensional Pada Anak Usia Dini di Lingkungan Keluarga. Jurnal Inovasi Dan Teknologi Pendidikan, 3. Bunayyah. Setyowati. Malaikosa. Adhe. Kristanto. , & Fitri. Exploring the Influence of Storytelling Activities on the Development of Literacy of Children Aged 5-6 Ye. Journal of Innovation and Research in Primary Education , 4. , 1333Ae1342. Choirunnisa. Peranan Ibu dalam Pemerolehan Bahasa Anak Usia 4-5 tahun. Jubindo: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia , 5. , 30Ae37. https://doi. org/10. 32938/jbi. Erviana. Kasanah. Sari. Munawir. Mahendra. Munawaroh. Maulidia. Fajrinur. Mulyawan. , & Mulyani. Perkembangan Anak Usia Dini: Kunci untuk Orang Tua dan Pendidik. Penerbit Mifandi Mandiri Digital , 1. Goodacre. Fink. Ramchandani. , & Gibson. Building connections through play : Influences on children Ao s connected talk with peers . January 2021, 203Ae226. https://doi. org/10. 1111/bjdp. Haeriyah. Laili. , & Mulyawan. Meninjau Kemandirian Anak Usia Dini melalui Gaya Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Pengasuhan Demokratis di PAUD As-SaAoadah Kota Cilegon. Asian Journal of Early Childhood and Elementary Education, 2. Kholilullah. Hamdan. id 75 | P g e. Jurnal Penelitian Sosial Dan Keagamaan, 10(Jun. , 75Ae94. King. From African American Vernacular English to African American Language : Rethinking the Study of Race and Language in African Americans Ao Speech . 285Ae300. Lestari. Perkembangan Bahasa pada Anak Usia 3-4 Tahun. , 113Ae118. Lopiyanah. Anggraini. , & Amalia. Hubungan Pendidikan. Pola Asuh Orang Tua dan Status Gizi dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia Prasekolah di Paud Wilayah Pemulutan Selatan Tahun 2021. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi , 22. , 687. https://doi. org/10. 33087/jiubj. Mailani. Nuraeni. Syakila. , & Lazuardi. Bahasa Sebagai Alat Komunikasi Dalam Kehidupan Manusia. Kampret Journal, 1. , 1Ae10. https://doi. org/10. 35335/kampret. Mucharomah. Mardliyah. , & Sos. Peran Fasilitator Parenting Dalam Pengembangan Sosial Anak Usia Dini. , 8Ae20. Mulyawan. Kurniawati. , & Sari. Pengembangan Buku Bertekstur dalam Menstimulus Motorik Halus Anak. , 749Ae756. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Nabila. Peran Ibu Dalam Perkembangan Bahasa Anak Usia Sekolah Dasar Di Sd N 4 Jekulo Farah Nur Nabila Universitas Muria Kudus . Indonesia Diterima : Abstrak Direvisi : Disetujui : Peran Ibu Dalam Perkembangan Bahasa Anak Usia Sekolah Dasar Di Sd N 4 Jekulo Pendah . 1(Septembe. , 1142Ae1151. Nasser. , & Sagr. The effects of parents implementing language interventions on children with delayed language development. , 1Ae11. Nurfadilah Imtikhani. Modifikasi Perilaku Anak Usia Dini untuk Mengatasi Temper Tantrum pada Anak. Jurnal Pendidikan Anak, 10. , 69Ae76. https://doi. org/10. 21831/jpa. Pangesti. , & Agussafutri. Hubungan Peran Ibu Dengan Konsep Diri Anak Usia 3-5 Tahun. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 160Ae165. https://doi. org/10. 34035/jk. Pradita. Kumala Dewi. Nasywa Tsuraya. , & Fauziah. Peran Orang Tua dalam Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5. , 1238Ae1248. https://doi. org/10. 54373/imeij. Putri. Studi Tentang Kemampuan Berbicara Anak Usia 4-5 Tahun di TK Pertiwi Dwp Setda Provinsi Riau. Putri. Undayasari. , & Mariacarbela. Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Metode Bercerita Pada Sebuah Rumah di Cimahpar. Bogor. Jurnal Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Kramat Jati, 6. , 479Ae489. Ratnasari. , & Zubaidah. Pengaruh penggunaan buku cerita bergambar terhadap kemampuan berbicara anak. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 9. , 267Ae275. Razita Hanifah. Peran Keluarga dalam Mengoptimalkan Perkembangan Anak. c, 24Ae33. Rivero. Vilaseca. Valls-vidal. , & Leiva. Relations between Positive Parenting Behavior during Play and Child Language Development at Early Ages . 1Ae16. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Rohmah. Dwi Astikasari. , & Weto Prodi Di Kebidanan STIKES Strada Kediri. Analisis Pola Asuh Orang Tua dengan Keterlambatan Bicara Pada Anak Usia 3-5 Tahun Analysis of Parenting Patterns With Speech Delay in Children Aged 3-5 Years. Februari, 2018. , 32Ae42. Safarudin. Kustati. , & Sepriyanti. Penelitian Kualitatif. 3, 9680Ae9694. Suminah. Sari. , & Mulyawan. The Effect of Lego Educational Games on SocioEmotional Development of Early Childhood At Rifa PAUD Cilegon City. ICoCSE Proceedings, 1. Sundqvist. Majerle. Heimann. , & Koch. Home literacy environment , digital media and vocabulary development in preschool children. https://doi. org/10. 1177/1476718X241257337 Ulfadhilah. Islam. , & Bangsa. Peran Parenting Dalam Pengembangan Bahasa. Wahidah. , & Latipah. Pentingnya Mengetahui Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Dan Stimulasinya. (JAPRA) Jurnal Pendidikan Raudhatul Athfal (JAPRA), 4. , 43Ae62. https://doi. org/10. 15575/japra. Waruwu. Pendidikan. Kristen. , & Wacana. Pendekatan Penelitian Pendidikan : Metode Penelitian Kualitatif . Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kombinasi ( Mixed Method ). 7, 2896Ae2910. William. Deteksi keterlambatan bicara dan bahasa pada anak. Cermin Dunia Kedokteran, 45. , 545Ae266. Yau. Tasopoulos-chan. , & Smetana. Disclosure to Parents About Everyday Activities Among American Adolescents From Mexican . Chinese , and European Backgrounds . , 1481Ae1498. Yuliasari. , & Lestari. Peran Ibu Yang Bekerja Dalam Mengelola Anak Usia Dini. J Plus Unesa, 10. , 98Ae105.