Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Tersedia: https://prin. id/index. php/JURRIKES Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Eflin Elianora Betaria Pasaribu1. Nelli Roza2*. Huzaima3 Yunisa Friscia Yusri 4 Program Studi Sarjana Keperawatan. Institut Kesehatan Mitra Bunda. Indonesia Program Studi Sarjana Kebidanan. Institut Kesehatan Mitra Bunda. Indonesia *Korespondensi Penulis: nelliroza101201@gmail. Abstract. Background: Globally, stunting in children under five years old in 2022 is around 22. 3% or 148 million children under 5 years old. In Southeast Asia alone, the prevalence of stunting is 26. 4% or 14. 4 million. Objective: This study was to determine the correlation complete basic immunization and the incidence of stunting in toddlers in the Working Area of UPT Puskesmas Batu Aji Batam City. Methods: This research is a quantitative study observational analytic design with a case control approach. The sample is 42 toddlers and using purposive sampling technique. Data collection tools use observation sheets and the chi-square test. Findings: The results of the chi square statistical test obtained a p-value of 0. 005 <0. 05 (OR = 6. % CI . 654 - 24. There is a significant relationship between complete basic immunization and the incidence of stunting in toddlers in the Working Area of UPT Puskesmas Batu Aji Batam City. Implication: Complete basic immunization has a significant impact on the growth and development of toddlers. Keywords: Case control study. Complete Basic Immunization. Nutritional health. Stunting. Toddlers. Abstrak. Latar Belakang: Secara global, stunting pada anak di bawah lima tahun pada tahun 2022 sekitar 22,3% atau 148 juta anak di bawah lima tahun. Di Asia Tenggara saja, prevalensi stunting adalah 26,4% atau 14,4 juta. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara imunisasi dasar lengkap dan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam. Metode: Penelitian ini adalah studi kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan case control. Sampel terdiri dari 42 balita dan menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data menggunakan uji chi-square. Temuan: Hasil uji statistik chi square memperoleh nilai p-value sebesar 0,005 <0,05 (OR = 6,400 . % CI . ,654 - 24,. Ada hubungan yang signifikan antara imunisasi dasar lengkap dan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam. Implikasi: Imunisasi dasar lengkap memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita. Kata kunci: Balita. Imunisasi Dasar Lengkap. Kasus kontrol. Kesehatan gizi. Stunting. LATAR BELAKANG Stunting adalah salah satu masalah gizi pada anak balita yang menjadi perhatian utama, baik di dunia maupun di negara-negara berkembang. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang memadai selama masa kehamilan dan usia dini. Anak balita yang mengalami stunting tidak akan mencapai tinggi badan optimal, dan perkembangan otaknya pun akan terhambat (WHO, 2. Stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak seusianya (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2. Stunting pada balita disebabkan oleh berbagai faktor yang terbagi menjadi dua kategori yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung meliputi kekurangan gizi yang dialami oleh ibu hamil dan anak balita. Sementara itu, faktor tidak langsung mencakup kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi sebelum, selama, dan setelah masa Naskah Masuk: 24 Agustus 2025. Revisi: 11 September 2025. Diterima: 29 September 2025. Tersedia: 07 Oktober 2025 Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam kehamilan, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan seperti ANC. PNC, dan imunisasi yang berkualitas dan rutin sesuai jadwal. Selain itu, akses yang terbatas terhadap makanan bergizi, air bersih, dan sanitasi juga menjadi faktor tidak langsung yang memengaruhi terjadinya stunting (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Faktor langsung dan tidak langsung penyebab stunting dapat menimbulkan dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek dari stunting meliputi gangguan perkembangan otak, penurunan kecerdasan, hambatan pertumbuhan fisik, dan masalah metabolisme dalam tubuh. Sementara itu, dampak jangka panjang dari stunting antara lain penurunan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, lemahnya sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan anak rentan terhadap penyakit, serta risiko lebih tinggi terhadap berbagai penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung, kanker, stroke, dan disabilitas di usia lanjut. Pada balita, stunting juga meningkatkan risiko sakit dan kematian (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2. Kematian pada balita < 5 tahun disebabkan oleh stunting diperkirakan sebesar 17%. Secara global, stunting pada balita pada tahun 2022 sekitar 22,3% atau 148 juta balita < 5 tahun. Negara-negara dengan tingkat prevalensi stunting tertinggi terdapat di Asia Selatan dan Asia Tenggara serta Afrika sub-Sahara. Sementara itu, di Asia Tenggara sendiri prevalensi stunting sebesar 26,4% atau 14,4 juta (UNICEF, 2023. Menurut Estimasi UNICEF . , prevalensi stunting di Indonesia pada anak usia dibawah 5 tahun menempati urutan ke-2 sebesar 31,8% setelah negara Timor Leste sebesar 45,1% yang menempati urutan 1 di Asia Tenggara pada tahun 2022. Prevalensi tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan negara Myanmar 24,1%. Malaysia 21,9%. Thailand 11,8%. Brunei Darussalam 10,9%, dan Singapura 3% (UNICEF, 2023. Masalah stunting pada anak usia dibawah 5 tahun di Indonesia menempati urutan ke-2 yaitu sebesar 21,6% dan masih menjadi isu gizi pada balita yang masih belum teratasi, dengan target menurunkan angka stunting menjadi 14% pada tahun 2024 (Peraturan Presiden Republik Indonesia, 2. Prevalensi stunting Indonesia berhasil turun dari 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022 (Kemenkes RI, 2. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, persentase stunting tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur sekitar 35,3% dan persentase stunting terendah terdapat pada Provinsi Bali sebesar 8% (Kemenkes RI. Sementara itu, di Provinsi Kepulauan Riau menempati urutan ke-31 pada tahun 2022 Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. dengan persentase stunting sebesar 15,4% (Kemenkes RI, 2. Walaupun prevalensi stunting tidak terlalu tinggi, tetapi masih menjadi permasalahan kesehatan pada anak. Kepulauan Riau mempunyai 5 Kabupaten/Kota yang memiliki persentase stunting yaitu Kabupaten Lingga sebesar 7,4%. Kabupaten Natuna sebesar 11,9%. Kabupaten Bintan sebesar 3,4%. Kota Tanjung Pinang sebesar 3,9%. Kabupaten Kepulauan Anambas sebesar 6,5%. Kota Batam merupakan bagian dari Kepulauan Riau yang juga memiliki masalah stunting. Stunting didapatkan di Kota Batam pada tahun 2023 sebesar 15,2% sebanyak 1022 kasus dari 21 Puskesmas di Kota Batam. Stunting dengan kasus terbanyak terdapat di Puskesmas Batu Aji sebesar 5,9% dengan jumlah 219 kasus. Puskesmas Botania sebesar 4,56%. Puskesmas Bulang sebesar 3,89% dan Puskesmas Tanjung Sengkuang sebesar 2,31% (Laporan Seksi Kesga & Gizi, 2. Pencegahan dari masalah kesehatan jangka pendek dan panjang akibat stunting dapat dilakukan melalui intervensi gizi spesifik, yang berfokus pada 1. 000 hari pertama kehidupan. Periode ini mencakup 270 hari selama kehamilan . dan 730 hari pertama setelah bayi lahir . Salah satu bentuk intervensi gizi spesifik ini ditargetkan pada anak usia 0-23 Program intervensi juga ditujukan untuk ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan dengan memberikan imunisasi dasar lengkap (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Hasil studi penelitian yang dilakukan oleh Nusantri et al. , . mengenai hubungan pemberian imunisasi dasar lengkap dengan kejadian stunting di Kabupaten Pasaman Barat 2023 didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p-value = 0. 001, maka dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara pemberian imunisasi dengan kejadian stunting. Juwita et al. , . juga menunjukkan bahwa hasil uji chi-square pada tingkat kemaknaan 95% dan a = 0,05 menghasilkan nilai probabilitas p<0,05 . -value=0,. Hasil ini membuktikan bahwa adanya hubungan signifikan antara kelengkapan imunisasi dasar dengan kejadian stunting pada balita di Kabupaten Pidie. Penelitian tentang stunting ini sudah banyak dilakukan. Namun, masalah stunting masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dari berbagai faktor yang mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan imunisasi dasar lengkap dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024. KAJIAN TEORITIS Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Balita Masa bayi dan balita adalah periode sejak lahir hingga sebelum mencapai usia 59 bulan, yang terbagi menjadi bayi baru lahir usia 0-28 hari, bayi usia 0-11 bulan, dan anak balita usia 12-59 bulan (Kemenkes, 2. Anak balita adalah anak yang berusia antara 12 bulan hingga 59 bulan (Kemenkes RI, 2. Balita merujuk pada anak berusia 0-59 bulan, di mana periode ini ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, serta perubahan yang memerlukan asupan zat gizi dalam jumlah lebih banyak dan kualitas yang tinggi (Darwis. Stunting Stunting adalah kondisi di mana anak atau balita berusia di bawah 5 tahun mengalami pertumbuhan yang terhambat akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi badannya tidak sesuai dengan usianya. Kekurangan gizi ini bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan atau pada masa awal setelah kelahiran. Namun, kondisi stunting biasanya baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Sementara itu, definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan adalah balita dengan nilai z-score nya kurang dari -2SD/standar deviasi . dan kurang dari Ae3SD . everely stunte. (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, 2. Imunisasi Dasar Lengkap Imunisasi dasar lengkap menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, setiap bayi usia 0-11 bulan wajib mendapatkan imunisasi dasar lengkap, yang terdiri dari 1 dosis Hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-HiB, 4 dosis polio tetes atau Oral Polio Vaccine (OPV), 1 dosis polio suntik atau Inactivated Polio Vaccine (IPV) dan 1 dosis Campak Rubela. Informasi imunisasi dasar lengkap diperoleh dari catatan imunisasi maupun pengakuan ibu atau orang yang paling mengetahui riwayat imunisasi baduta (Kemenkes RI, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dimana menggunakan rancangan analitik observasional dengan pendekatan case control. Populasi penelitian ini adalah balita yang terdiagnosa stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji. Jumlah sampel sebesar 42 balita . balita dengan stunting dan 21 balita yang tidak stuntin. dan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data sekunder didapatkan dari data Puskesmas mengenai balita yang terdiagnosa stunting dan kemudian melihat kelengkapan imunisasi dasar anak melalui sertifikat imunisasi dan buku KIA/KMS anak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan chi-square untuk melihat hubungan imunisasi dasar lengkap dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Upt Puskesmas Batu Aji Kota Batam. HASIL DAN PEMBAHASAN Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Hasil Berdasarkan hasil penelitian analisis mengenai Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam didapatkan hasil sebagai berikut: Analisis Univariat Imunisasi Dasar Lengkap pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024 Tabel 1. Distribusi Frekuensi Imunisasi Dasar Lengkap pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024. Imunisasi Dasar Lengkap Tidak Sesuai Standar Sesuai Standar Total Kasus 66,7% 33,3% Kontrol 23,8% 76,2% Tabel 1. menunjukkan bahwa balita stunting (Kasu. yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang sesuai standar sebanyak 14 balita . ,7%), artinya lebih dari separuh balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai Kondisi ini juga ditemui pada kelompok kontrol dimana masih didapatkan balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai standar sebanyak 5 balita . ,8%). Analisa Bivariat Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024 Tabel 2. Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024. Imunisasi Dasar Lengkap Tidak Sesuai Standar Sesuai Standar Total Stunting Kasus Kontrol Total % CI) p-value 6,400 7,785 . ,654 - 0,005 24,. Berdasarkan Tabel 2. hasil uji chi square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p-value Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam = 0,005 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada yang signifikan hubungan bermakna antara imunisasi dasar lengkap dengan kejadian stunting. Dengan demikian hipotesis menyatakan H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan antara imunisasi dasar lengkap dengan kejadian stunting yang terbukti secara statistik dan data ini terbukti secara hipotesis. Hasil Odds Ratio (OR) diperoleh nilai OR95% CI = 6,400 . ,654 -24,. artinya mengindikasikan bahwa balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap berisiko 6,4 kali lebih besar untuk mengalami Pembahasan Imunisasi Dasar Lengkap Penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024 pada tanggal 23 September - 10 Oktober 2024 didapatkan hasil bahwa balita stunting (Kasu. yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai standar mencapai 66,7%. Kondisi ini berpotensi memperburuk kesehatan balita, karena balita yang tidak menerima imunisasi dasar lengkap cenderung rentan terhadap infeksi yang dapat menghambat penyerapan nutrisi, sehingga berisiko mengalami masalah gizi dan pertumbuhan. Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai standar. Kemudian dari hasil penelitian yang didapatkan juga masih terdapat balita yang tidak mengalami stunting (Kontro. tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai standar yang dimana seharusnya semua balita yang tidak stunting (Kontro. memiliki imunisasi dasar lengkap sesuai standar. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sebesar 23,8% balita yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai standar. Data ini sejalan dengan data profil Dinkes Kota Batam tahun 2022, dimana cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Batam sebesar 87,5%, hal ini menunjukkan bahwa masih ada 12,5% balita yang belum mendapatkan imunisasi dasar Studi ini juga sejalan dengan penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Setiawan & Wijayanto, . tentang AuDeterminants of immunization status of children under two years old in Sumatera. Indonesia: A multilevel analysis of the 2020 Indonesia National SocioEconomic SurveyAy, menunjukkan bahwa terdapat 30,8% anak usia 12-23 bulan yang telah menerima imunisasi dasar lengkap di Sumatera. Sementara itu, masih terdapat sebesar 10,3% anak yang tidak menerima imunisasi dasar sama sekali. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fenta et al. , . Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. tentang AuDeterminants Of Full Childhood Immunization Among Children Aged 12Ae23 Months in Sub-Saharan Africa: A Multilevel Analysis Using Demographic And Health Survey DataAy, menunjukkan bahwa prevalensi cakupan imunisasi lengkap pada anak di sembilan negara SubSaharan Africa (SSA) adalah 59,40% . % CI: 58,70, 60,. Ghana . ,2%). Malawi . ,2%), dan Tanzania . ,8%) adalah negara dengan proporsi cakupan imunisasi lengkap Sebaliknya, pada negara Rwanda . %). Kongo . ,7%), dan Ethiopia . ,6%) adalah negara dengan proporsi cakupan imunisasi lengkap terendah pada balita usia 12-23 bulan di Sub-Saharan Afrika. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Najikhah et al. , . mengenai AuDeterminants of Complete Basic Immunization in Children Aged 12-23 Months in IndonesiaAy, didapatkan hasil penelitian bahwa imunisasi dasar lengkap pada balita usia 12-39 bulan di Indonesia adalah sebesar 17,4%. Sebaliknya, imunisasi dasar tidak lengkap memiliki proporsi yang tinggi yaitu sebesar 82,6% pada balita usia 12-39 bulan di Indonesia. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Almeida et al. , . mengenai AuRisk Factor Analysis Of Incomplete Basic Immunization In Children Aged 12-23 Months In East Nusa Tenggara ProvinceAy, menunjukkan bahwa 63,2% anak tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap, dan hanya 35,8% yang mendapatkan imunisasi dasar Hasil temuan penelitian ditemukan bahwa terdapat 5 . ,3%) balita yang tidak stunting tetapi memiliki imunisasi dasar lengkap tidak sesuai standar. Peneliti menarik kesimpulan bahwa balita yang tidak stunting tetapi memiliki imunisasi dasar lengkap yang tidak sesuai standar dikarenakan ibu balita tersebut memiliki jumlah anak > 2 dimana ibu yang mempunyai jumlah anak yang banyak merasa malas untuk membawa anaknya untuk diimunisasi. Serta dengan jumlah anak yang banyak tersebut maka para ibu cenderung sibuk dirumah dan merasa kerepotan jika harus membawa anaknya diimunisasi. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa terdapat 7 . ,4%) balita yang stunting tetapi memiliki imunisasi dasar lengkap sesuai standar. Peneliti menarik kesimpulan bahwa salah satunya penyebab stunting ini adalah imunisasi dasar yang tidak sesuai standar. Namun, terdapat beberapa responden yang memiliki imunisasi dasar sesuai standar tetapi masih mengalami stunting. Hal tersebut dikarenakan faktor dari stunting itu sendiri yang tidak hanya dari imunisasi dasar lengkap saja tetapi masih terdapat faktor lain dari stunting seperti sanitasi lingkungan dan sosial ekonomi . Semuanya sangat berpengaruh, tetapi pendapatan keluarga yang rendah menyebabkan berkurangnya daya beli keluarga terhadap Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam makanan yang mengandung zat gizi yang baik sehingga menyebabkan kekurangan gizi baik zat gizi makro maupun zat gizi mikro. Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam Tahun 2024 Berdasarkan uji statistik Chi-Square, didapatkan bahwa imunisasi dasar lengkap memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting . -value = 0,. Hal ini menunjukkan bahwa imunisasi dasar lengkap merupakan salah satu faktor protektif dalam mencegah stunting. Dengan demikian, hipotesis menyatakan H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan antara imunisasi dasar lengkap dengan kejadian stunting terbukti secara statistik dan data ini terbukti secara hipotesis. Hasil Odds Ratio (OR) diperoleh nilai OR:6,400 artinya mengindikasikan bahwa balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap berisiko 6,4 kali lebih besar untuk mengalami stunting. Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung dari stunting. Walaupun imunisasi dasar lengkap ini merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung dari stunting, namun imunisasi ini dapat berperan penting dalam pencegahan stunting pada balita. Kemudian jika imunisasi ini tidak dilaksanakan dengan baik maka akan mengakibatkan masalah jangka pendek maupun jangka panjang yang disebabkan oleh stunting (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2. Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) merupakan hal yang sangat penting bagi imunitas anak. Bayi atau anak yang belum mendapatkan imunisasi untuk jenis penyakit tertentu tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap kuman dan virus tertentu sesuai dengan jenis Akibatnya, tubuh bayi atau anak tidak akan mampu melawan kuman sehingga kuman akan berkembang biak di dalam tubuhnya. Berkembang biaknya kuman didalam tubuh bayi atau anak ini dapat menyebabkan anak menderita sakit berat, cacat bahkan kematian (Satgas Imunisasi IDAI, 2. Anak yang tidak diimunisasi secara lengkap akan terdapat gangguan kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi karena produksi antibodi menurun mengakibatkan mudahnya bibit penyakit masuk, hal dapat mengganggu produksi berbagai jenis enzim untuk pencernaan Makanan tidak dapat dicerna dengan baik yang berarti penyerapan zat gizi akan mengalami gangguan sehingga dapat memperburuk keadaan gizi. Reaksi pertama pada tubuh anak adalah berkurangnya nafsu makan sehingga anak menolak makanan yang diberikan Penolakan terhadap makanan berarti berkurangnya pemasukan zat gizi ke dalam tubuh Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan - Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Dampak akhirnya adalah gagalnya pertumbuhan optimal yang sesuai dengan umur anak (Rahmad & Miko, 2. Studi ini juga sejalan dengan penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Solis-Soto et al. , . mengenai Relationship Between Vaccination And Nutritional Status In Children: Analysis of Recent Demographic And Health Surveys, didapatkan hasil penelitian . OR 1,07, 95% CI 1,00-1,. , yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian imunisasi dengan kejadian stunting pada balita. Anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap memiliki risiko 1,07 kali lebih tinggi mengalami stunting. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayuwati et al. tentang Analysis Of Factors Affecting The Prevalence Of Stunting On Children Under Five Years, menunjukkan bahwa kelengkapan dan ketepatan waktu imunisasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p-value 0,000. Imunisasi yang tidak lengkap memiliki risiko terjadinya stunting pada balita 3,111 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang mendapatkan imunisasi lengkap. Imunisasi yang tidak sesuai jadwal juga memiliki risiko stunting pada balita 3,289 kali lebih besar dibandingkan yang mendapatkan imunisasi tepat waktu. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dadras et al. dengan judul Prevalence Of Stunting And Its Correlates Among Children Under 5 In Afghanistan: The Potential Impact Of Basic And Full Vaccination menunjukkan bahwa adanya hubungan antara vaksinasi dasar lengkap pada balita dibawah 5 tahun dengan nilai p-value <0,001 dimana pada anak usia 12Ae35 dan 24Ae35 bulan untuk vaksinasi dasar lengkap yang tidak lengkap memiliki risiko stunting. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Afriansyah & Fitriyani . , tentang hubungan riwayat imunisasi dasar lengkap dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita < 5 tahun di Kota Depok tahun 2023 dikatakan bahwa balita < 5 tahun dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan stunting sebesar 31,5% . Hasil uji chi square didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan riwayat imunisasi dasar lengkap . value = 0,042. OR95% CI = 1,508 . ,104-2,. ) dengan kejadian stunting pada balita > 5 tahun di Kota Depok. Nilai OR memiliki arti bahwa balita yang memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap 1,508 kali lebih beresiko mengalami stunting jika dibandingkan dengan balita dengan riwayat imunisasi dasar lengkap. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, proporsi balita stunting lebih banyak ditemukan pada balita dengan Hubungan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Batu Aji Kota Batam riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap dibandingkan balita dengan riwayat imunisasi dasar yang lengkap. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fajariyah & Hidajah . tentang Hubungan Kejadian Stunting dengan Status Imunisasi dan Tinggi Ibu pada Anak Usia 2-5 Tahun di Indonesia, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara status imunisasi . = 0,01. OR =1,78 . 95% CI = 1. 26