Teknik Dan Vol.Instrumen 20, No. 2,Penilaian 2021 …… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) P-ISSN 2087-3638, E-ISSN 2655-7746 https://journal.uinmataram.ac.id/index.php/eltsaqafah TEKNIK DAN INSTRUMEN PENILAIAN MAHĀRAH AL-QIRĀ`AH DITINJAU DARI TINGKAT DAN TUJUAN PEMBELAJARANNYA Syindi Oktaviani R. Tolinggi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Corresponding Author : syindioktaviani0410@gmail.com Erni Wahyuningsih Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta erniwahyuningsih6@gmail.com Article History Submitted: 13 Oct 2021; Revised: 29 Dec 2021; Accepted: 9 Jan 2022 DOI 10.20414/tsaqafah.v20i2.4024 Abstract Assessment in learning reading skills needs to be done in order to determine the achievement of learning objectives. As for the assessment, there are still many discrepancies in the techniques and assessment instruments used by educators. Whereas good assessment techniques and instruments will determine the actual learning outcomes of students. Therefore, this library research aims to examine the techniques and instruments for the assessment of mahārah al-qirā'ah in terms of the level and learning objectives. The data sources of this research are primary and secondary data in the form of books, journal articles and others related to the theme of this research. The results of the study were reviewed using descriptive data analysis techniques. The results of this study are, educators must always pay attention to the techniques and instruments used to suit the previously formulated learning objectives, the level or level of students' abilities, the language skills being studied, and the form of learning being carried out. the selection of techniques and the use of reading skills assessment instruments can be adapted to the learning objectives at each level/level of student development as, namely for elementary/beginner level learners (mubtadi'), for intermediate level learners (mutawassit), and for advanced learners (mutaqaddim). Keyword: assessment techniques, assessment instruments, reading skills Abstrak Penilaian dalam pembelajaran mahārah al-qirā`ah perlu dilakukan guna mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran. Adapun dalam melakukan penilaian, masih banyak ditemukan ketidaksesuaian teknik dan instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik. Padahal teknik dan instrumen penilaian yang baik, akan menentukan hasil belajar peserta didik yang sesungguhnya. Oleh karena itu, penelitian kepustakaan (library reseacrh) ini bertujuan untuk mengkaji teknik dan instrumen penilaian mahārah al-qirā’ah ditinjau dari tingkat dan tujuan pembelajarannya. Sumber data penelitian ini ialah data primer dan sekunder yang berupa buku-buku, artikel jurnal dan lainnya terkait dengan tema penelitian ini. Hasil penelitian dikaji dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Adapun hasil penelitian ini adalah, pendidik harus selalu | 187 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 memperhatikan teknik dan instrumen yang digunakan agar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya, tingkat atau jenjang kemampuan peserta didik, keterampilan berbahasa yang sedang dipelajari, serta bentuk pembelajaran yang dilakukan. pemilihan teknik dan penggunaan instrument penilaian keterampilan membaca dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran pada masingmasing jenjang/tingkat perkembangan peserta didik sebagai, yaitu bagi pembelajar tingkatan dasar/pemula (mubtadi’), bagi pembelajar tingkat menengah (mutawassit), bdan agi pembelajar tingkat lanjut (mutaqaddim). Kata-kata Kunci: teknik penilaian, instrumen penilaian, mahārah al-qirā`ah A. Pendahuluan Dalam teori penyusunan dan perencanaan pembelajaran, pembelajaran digambarkan sebagai suatu proses yang terdiri dari tiga komponen pokok yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain. Ketiga komponen itu adalah perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian (evaluasi) hasil pembelajaran. Ketiganya memiliki hubungan yang erat satu sama lain, baik secara langsung dalam hubungan sebab akibat, maupun secara tidak langsung dalam bentuk umpan balik.1 Selain menguasai konsep penyusunan rencana pembelajaran dan pemilihan model pembelajaran yang tepat dalam pelaksanaannya, seorang pendidik dituntut untuk profesional dalam melaksanakan evaluasi yang didalamnya terkait dengan proses penilaian hasil pembelajaran.2 Dengan kata lain, dalam suatu program pembelajaran, bukan hanya proses perencanaan dan pelaksanaan saja yang memiliki peranan penting, tetapi juga penilaian, baik penilaian kognitif, afektif, dan psikomotori yang harus mampu memberikan hasil maksimal. Artinya, penilaian harus autentik atau menilai dengan sebenar-sebenarnya menilai. Pembahasan mengenai penilaian tentu tidak terpisahkan lagi dari proses belajar mengajar selama satu semester atau setengah semester. Penilaian dalam pembelajaran adalah proses atau upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh pendidik untuk memperbaikan proses dan hasil belajar peserta didik.3 Penilaian berfungsi untuk mengetahui ketercapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hasil dari proses penilaian akan memberikan masukan yang berharga tentang pencapaian peserta didik terhadap target kompetensi yang telah ditapkan dalam tujuan. Lebih dari itu, hasil dari penilaian juga dapat memberi masukan pada pendidik/pengambil Ubaid Ridho, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, An-Nabighoh: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab, Vol. 20 No. 1, 2018, h. 20-21. 2 Sudirman dkk, “Pengembangan Instrumen Penilaian Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan IPA Berbasis Berpikir Kritis pada Konsep Listrik Siswa SMP”, Jurnal Inovasi dan Pembelajaran Fisika, Vol 7 No 1, 2020, h. 29. 3 Robbiatul Wahidah, “Penilaian Sikap Tanggung Jawab pada Pembelajaran Bahasa Arab Daring Via Whatsapp di Madrasah Tsanawiyah”, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab VI, Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang, 2020, h. 506. 1 | 188 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) kebijakan lainnya tentang kemungkinan perlunya peninjauan kembali terhadap rumusan kompetensi/tujuan, materi, dan strategi pembelajaran.4 Usaha peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaian. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Selanjutnya sistem penilaian yang baik dan benar akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar selanjutnya yang baik pula dan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik lagi.5 Dengan demikian, salah satu faktor yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses pembelajaran yang dilakukan, sedangkan salah satu faktor penting untuk efektivitas pembelajaran adalah faktor evaluasi baik penilaian proses maupun penilaian hasil pembelajaran.6 Hasil belajar yang baik juga ditentukan dengan penilaian yang baik pula, dalam arti objektif sesuai kenyataan. Oleh karena itu dalam penilaian diperlukan kesahihan yang mutlak.7 Kemampuan melaksanakan penilaian merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh seorang pendidik maupun calon pendidik sebagai salah satu kompetensi profesionalnya. Kompetensi tersebut sejalan dengan instrumen penilaian kemampuan guru, yang salah satu indikatornya adalah melakukan evaluasi pembelajaran (termasuk penilaian). Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, memberikan penekanan bahwa pendidik dalam melaksanakan tugas keprofesionalan berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. 8 Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menyatakan bahwa pendidik adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (dosen).9 Oleh karenanya, penilaian hasil belajar harus dilaksanakan sebagai implementasi dari komponen pokok pembelajaran yang ketiga. Robbiatul Wahidah, “Penilaian Sikap Tanggung Jawab pada Pembelajaran Bahasa Arab Daring Via Whatsapp di Madrasah Tsanawiyah”, … h. 506-507 5 Cahya Edi Setyawan, “Desain Evaluasi Program Pembelajaran Bahasa Arab”, Al-Manar: Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Vol. 4 No. 1, 2015, h. 162. 6 Cahya Edi Setyawan, “Desain Evaluasi Program Pembelajaran Bahasa Arab”, … Vol. 4 No. 1, 2015, h. 163. 7 Syaifudin, Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penilaian pada Mata Pelajaran Bahasa Arab, CrossBorder: Jurnal Kajian Perbatasan Antarnegara, Diplomasi dan Hubungan International, Vol. 3 No. 2, 2020, h. 106. 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Pasal 20 Poin A, h. 10. 9 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 39 Ayat 2, h. 20. 4 | 189 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 Ketika menilai pencapaian dan hasil belajar peserta didik, pendidik dituntut menggunakan teknik yang sesuai dengan instrumen penilaian yang tepat.Teknik penilaian yang digunakan dapat berbentuk tes dan non-tes dengan instrumen yang sesuai dengan kedua teknik tersebut. Untuk menilai ranah kognitif dapat berupa tes tulis, tes lisan dan penugasan. Ranah psikomotorik dapat berupa tes praktik/tes unjuk kerja, proyek, portofoliodan jurnal. Kemudian untuk ranah afektif berupa observasi, penilaian diri, laporan diri, dan penilaian sejawat. Akan tetapi, kegiatan menilai proses dan hasil pembelajaran merupakan aktivitas. Kependidikan yang sering kurang mendapatkan perhatian secara serius oleh pendidik, baik guru maupun dosen. Dalam melakukan penilaian masih banyak ditemukan ketidaksesuaian teknik dan instrument penilaian yang digunakan oleh pendidik. Dengan kata lain, pendidik masih belum melakukan proses penilaian dengan baik dan benar. Sebagai contoh, dalam penelitian yang dilakukan oleh Abdul Munip, ditemukan masih banyak guru dan dosen yang membuat instrumen penilaian tanpa melalui langkah-langkah pengembangan instrumen sebagaimana mestinya. Padahal penyusunan dan pengembangan instrumen penilaian merupakan persoalan yang serius untuk dipahami karena jika keliru dalam mengembangkan instrumen penilaian akan berdampak pada pengambilan keputusan tentang keberhasilan atau kegagalan dari kegiatan pembelajaran. 10 Moh. Ainin, dalam penelitiannya terkait Kesahihan dalam Menyusun Tes Bahasa Arab di Madrasah atau Sekolah mengatakan bahwa dalam pelaksanaan penyusunan tes bahasa Arab, tidak jarang dijumpai proses penyusunannya yang tanpa memperhatikan prosedur yang benar. Penyusun tes membiasakan diri mengambil butir-butir soal dari sana-sini tanpa melihat apakah butir-butir soal yang didunakan tersebut benar-benar dapat mengukur kemampuan atau kompetensi yang seharusnya diukur. Model penyusunan tes seperti ini dapat berdampak pada ketidaksahihan tes yang dibuat. Implikasinya instrument tes yang dibuat kurang atau tidak memenuhi persyaratan tes yang baik.11 Pada penelitian Moh. Ainin yang lain dengan topik Kesalahan Peserta PPG Dalam Jabatan Ketika Menyusun RPP, ditemukan salah satu kesalahan tersebut terjadi pada poin instrumen penilaian, yaitu guru menyusun instrumen penilaian tidak sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Misalnya, Indikator Pencapaian Keberhasilan untuk keterampilan berbicara (mahārah alkalām), tetapi tes yang digunakan adalah berbentuk pilihan ganda/isian. Padahal yang seharusnya 10 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: Fakultas Ilmu Terbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017), h. iii. 11 Moh. Ainin, “Kesahihan dalam Penyusunan Tes Bahasa Arab di Madrasah/Sekolah”, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab II, Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang, 2016, h. 292. | 190 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) peserta didik diminta untuk melakukan praktek atau unjuk kerja berupa percakapan dan sejenisnya.12 Dalam pembelajaran bahasa Arab memiliki empat keterampilan, yaitu keterampailan menyimak (mahārah al-istimā`), keterampilan berbicara (mahārah al-kalām), keterampilan membaca (mahārah al-qirā`ah) dan keterampilan menulis (mahārah al-kitābah). Keempat keterampilan tersebut harus dikuasai oleh para peserta didik, tidak terkecuali keterampilan membaca. Mahārahal-qirā’ah atau keterampilan membaca merupakan keterampilan dasar dalam berbahasa asing yang juga penting. Meskipun, mahārah al-istimā’ dan mahārah kalām lebih penting, namun di Indonesia ini kesempatan praktek untuk melatih keterampilan keduanya dalam kehidupan sehari-hari sangat sedikit. Sebaliknya, keterampilan membaca justru lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mengingat informasi yang ditulis dalam bahasa asing yang sedang dipelajari itu sangat melimpah. Apalagi ketika mempelajari bahasa Arab terkait dengan mempelajari Al-Quran, hadis, dan literatur keislaman lainnya yang berbahasa Arab. 13 Oleh karena itu, tidak salah jika ada yang berpendapat bahwa dalam hal tertentu, keterampilan membaca juga menjadi sangat strategis untuk ditingkatkan kualitasnya. Menurut Solekah, dalam penelitiannya bahwa keterampilan membaca (mahārah qirā’ah) merupakan keterampilan yang sangat penting karena peserta didik yang kompeten dalam keterampilan ini mampu menguak warisan budaya yang tertulis dalam teks-teks klasik dan mampu menganalisa perkembangan ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan manusia (Solekha S.M, 2015). Oleh karena itu, fokus penulisan artikel ini yaitu untuk mengkaji tentang teknik dan instrumen penilaian maharah al-qira’ahditinjau dari tingkat atau jenjang pembelajar dan tujuan pembelajarannya, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu referensi pendidik ketika hendak memilih teknik penilaian dan menyusun instrumen yang digunakan dalam menilai keterampilan membaca (maharah al-qira’ah) peserta didik. B. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Ada dua jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. 12 Moh. Ainin dkk, “Pengembangan Model Penyusunan RPP Berbasis Kesalahan bagi Peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan Mapel Bahasa Arab Melalui Sistem Pembelajaran dalam Jaringan”, Hasil Penelitian yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional Bahasa Arab Pengembangan RPP Mata Pelajaran Bahasa Arab yang dilaksanakan oleh Jurusan Bahasa Sastra Arab Universitas Malang Hari Kamis 19 Agustus 2021. 13 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, … h. 171. | 191 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 Sumber data primer berasal dari buku Evaluasi Pembelajaran karya Asrul Dkk (2014), buku Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa karya Ujang Suparman (2016), dan Buku Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab karya Abdul Munip (2017). Adapun sumber data sekunder meliputi buku dan artikel jurnal yang berkaitan dengan teknik dan instrumen penilaian bahasa Arab, tingkat/jenjang pembelajar mahārah al-qirā’ah, tujuan pembelajaran mahārah al-qirā’ah dan lain sebagainya. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa pencarian buku-buku, artikel jurnal, prosiding hasil seminar, atau apapun yang terkait dengan teknik dan instrumen penilaian bahasa Arab untuk mahārah al-qirā’ah. Kemudian setelah bahan-bahan tersebut terkumpul, penulis menyajikannya dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Dalam penelitian ini, data yang telah terkumpul dideskripsikan kemudian dianalisis berdasarkan content analizing atau menganalisis isinya yang terkait dengan teknik dan instrumen penilaian mahārah al-qirā’ah berdasarkan tingkat dan tujuan pembelajaran bahasa Arab. C. Landasan Teori 1. Teknik dan Instrumen Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab Tugas utama pendidik profesional adalah sebagai pengambil keputusan dalam proses pembelajaran yaitu melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian (evaluasi). Pada tahap perencanaan, tugas operasional pendidik meliputi, analisis kebutuhan peserta didik, merumuskan tujuan yang sesuai, menentukan model dan strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan, serta merencanakan bahan ajar. Pada tahap pelaksanaan atau implementasi, pendidik melaksanakan apa yang telah direncanakan. Sementara itu, pada tahap evaluasi, pendidik menilai sejauh manakah tujuan pembelajaran tercapai, baik yang terkait dengan proses maupun hasil belajar. 14 Penilaian merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Arab. Sebagai bagian integral, penilaian memiliki peranan yang signifikan untuk menentukan keberhasilan pembelajaran itu sendiri, baik dari sisi proses maupun dari sisi hasil. Bahkan menurut Moh. Ainin, penilaian bukan saja berfungsi untuk memberikan informasi tentang keberhasilan atau kekurangan proses dan hasil belajar, tetapi juga sebagai umpan balik (feed back) untuk perbaikan sistem pembelajaran. Ia juga sebagai bahan refleksi terhadap kualitas alat penilaian (tes) itu sediri.15 Sebelum membicarakan lebih jauh tentang penilaian, akan dibahas istilah-istilah yang sering membingungkan yaitu evaluasi, penilaian, dan pengukuran. 14 15 | 192 Moh. Ainin, “Kesahihan dalam Penyusunan Tes Bahasa Arab di Madrasah/Sekolah”, …, h. 291. Moh. Ainin, “Kesahihan dalam Penyusunan Tes Bahasa Arab di Madrasah/Sekolah”, …, h. 291. Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) (1) Evaluasi adalah proses pengumpulan informasi untuk menentukan sejauh mana tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan tercapai. Informasi itu dapat berupa pendapat pendidik, orang tua, kualitas buku, hasil penilaian, dan sikap peserta didik. Evaluasi berfungsi untuk menentukan hasil belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan penilaian dan pengukuran belajar dan pembelajaran, menggambarkan perkembangan peserta didik serta menimbangnya dari segi nilai dan arti. Sehingga evaluasi berkaitan dengan nilai dan arti. 16 (2) Penilaian adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembelajaran secara kualitatif (Dimyati dan Mudjiono, 2009). Penilaian merupakan semua metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai pengetahuan, kemampuan, pemahaman, sikap, dan motivasi peserta didik yang di antaranya dapat dilakukan melalui tes, penilaian diri, baik secara formal maupun informal.17 Dalam ungkapan lain, hasil penilaian dapat dijadikan sebagai bahan refleksi dan evaluasi terhadap kualitas input, proses, dan out put. Penilaian merupakan bagian dari evaluasi dan salah satu tahapan guna mengetahui kemampuan peserta didik dalam pembelajaran.18 (3) Adapun pengukuran adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif.19 Dengan kata lain, evaluasi dapat menjawab pertanyaan tentang kualitas pencapain hasil proses belajar mengajar. Evaluasi meliputi proses pengukuran dan penilaian. Pengukuran berkaitan dengan ukuran kuantitatif, adapun penilaian terkait dengan kualitas. 20 Evaluasi lebih luas ruang lingkupnya daripada penilaian, sedangkan penilaian lebih terfokus pada aspek tertentu saja yang merupakan bagian dari ruang lingkup tersebut. Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk. Sedangkan evaluasi mencakup kedua langkah tersebut, yaitu mengukur dan menilai.21 Jundi Miladya, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab I, Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang, 2015, h. 180. 17 Jundi Miladya, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, …, h. 181. 18 Kuswoyo, “Instrumen Penilaian Mufradat, El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, Vol. 4 No. 2, 2016, h. 99. 19 Jundi Miladya, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, …, h. 181. 20 Jundi Miladya, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, …, h. 179. 21 Ubaid Ridho, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, … , h. 22. 16 | 193 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 Untuk lebih memudahkan pemahaman, berikut adalah ilustrasi dari ketiga proses tersebut. Gambar 1 : Hubungan evaluasi, penilaian, pengukuran dan tes Kegiatan penilaian dilakukan secara menyeluruh, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor. Ranah kognitif (pengetahuan) adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Ranah afektif (sikap) berkaitan dengan perilaku-perilaku yang menekankan pada aspek perasaan dan emosi, sedangkan ranah psikomotor (keterampilan) berkaitan dengan perilaku yang menekankan pada aspek keterampilan motorik. Adapun secara umum yang dimaksud dengan instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur dan menilai suatu objek atau alat untuk mengumpulkan data mengenai suatu veriabel. Dalam bidang pendidikan, instrumen penilaian disebut juga alat untuk menilai atau mengukur prestasi belajar peserta didik, faktor-faktor yang diduga mempunyai hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar peserta didik, keberhasilan proses belajar mengajar pendidik, dan keberhasilan pencapaian suatu program tertentu. 22 Instrumen dapat mempermudah seseorang melakukan tugas atau mencapai tujuan secara efektif atau efisien. Instrumen (alat) penilaian dapat dikatakan baik bila mampu menilai sesuatu yang hendak dinilai dengan hasil seperti keadaan sebenarnya. Instrument yang baik adalah instrumen yang memenuhi syarat-syarat atau kaidah-kaidah tertentu, dapat memberikan data yang akurat sesuai dengan fungsinya, dan hanya mengukur sampel perilaku tertentu (Arifin, 2009). Dalam melakukan penilaian pembelajaran, diperlukan mekanisme atau tata cara tentang bagaimana data dikumpulkan. Mekanisme inilah yang dikenal dengan teknik penilaian.23 Secara umum, teknik penilaian yang lazim digunakan adalah teknik tes dan non tes. Kedua teknik ini dipergunakan sesuai dengan tujuan penilaian itu sendiri.24 Selain model pembelajaran, pemilihan teknik penilaian juga harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik, materi, dan termasuk Aisyatul Hanun dkk, “Inovasi Media Penilaian Bahasa Arab Menggunakan Power Point”, Lahjah Arabiyah: Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab, Vol 2 No 1, 2021, h. 73. 23 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab,…, h. iv. 24 Ubaid Ridho, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, …, h. 32. 22 | 194 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) keterampilan dalam berbahasa. Agar mendapatkan hasil yang akurat ketika melakukan penilaian baik melalui tes dan non tes, dibutukan suatu instrument (alat) yang baik. Adapun karakteristik instrument penilaian yang baik adalah valid, reliable, relevan, representatif, praktis, otentik, spesifik dan proporsional(Arifin, 2009). Instrumen untuk penilaian melalui tes biasanya terdiri dari sejumlah soal secara lisan dan/atau tertulis kemudian peserta didik diminta untuk menjawab soal tersebut secara lisan dan/atau tertulis pula. Misalnya, penilaian untuk ranah pengetahun/kognitif dapat berbentuk tes tulis yaitu soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian; tes lisan/wawancara berupa daftar pertanyaan; dan bentuk non tes (penugasan) berupa pekerjaan rumah atau projek yang dapat dikerjakan baik secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Sedangkan instumen untuk penilaian berbentuk non-tes misalnya untuk menilai ranah sikap/afektif dan keterampilan/psikomotori yaitu terdiri dari skala sikap; quesioner; pengamatan/observasi; penilaian antar teman; jurnal; penilaian diri; portofolio; projek; dan praktek (Roviin: 196). Dalam pembelajaran bahasa Arab, penilaian melalui tes dan non-tes dapat digunakan. Adapun melalui tes yang dapat digunakan dalam penilaian pembelajaran bahasa Arab, yaitu berbentuk tes tulis dan tes lisan. Tes tulis digunakan untuk keterampilan menyimak (istimā’), keterampilan membaca (qirā’ah) dan keterampilan menulis (kitābah). Tes tulis ini bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang telah diajarkan. Adapun tes lisan digunakan untuk keterampilan berbicara (kalām). Tes lisan ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana peserta didik dapat berbicara bahasa Arab sehingga diharapkan agar para peserta didik mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab yang baik dan benar. 25 Secara visual pemahaman terkait teknik dan instrument penilaian dapat digambarkan sebagai berikut: 25 Jundi Miladya, “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, …, h. 184. | 195 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 Gambar 2. Teknik dan instrumen penilaian Dalam artikel ini akan dibahas mengenai teknik penilaian tes dan non tes beserta instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mahārah al-qirā`ah (keterampilan membaca) yang akan dibahas berdasarkan tingkat dan tujuan pembelajarannya. 2. Pembelajaran Mahārah Al-Qirā’ah Mahārahal-qirā’ah atau keterampilan membaca merupakan kemahiran dasar dalam berbahasa asing yang juga penting. Meskipun mahārah al-istimā’ dan mahārah kalām lebih penting, namun di Indonesia ini, kesempatan praktek untuk melatih keterampilan keduanya sangat sedikit. Sebaliknya, keterampilan membaca justru lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mengingat informasi yang ditulis dalam bahasa asing yang sedang dipelajari itu sangat melimpah.26 Oleh karena itu, tidak salah jika ada yang berpendapat bahwa dalam hal tertentu, keterampilan membaca justru bisa menggantikan keterampilan berbicara, sehingga pembelajaran keterampilan membaca menjadi sangat strategis untuk ditingkatkan kualitasnya. Secara lebih rinci, mahārah al-qirā’ah bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan:27 1. Berdasarkan Aktifitas Pembaca a. Qirā’ah Jahriyah (Membaca Keras), yakni kemampuan membaca teks Arab dengan cara melafalkannya secara keras. Indikator kemampuan ini bisa dilihat dari kefasihan, kelancaran, intonasi, dan kebenaran gramatika (nahwiyah-sharfiyah). Dalam hal ini, aspek memahami teks (fahm al-maqrū’) belum mendapatkan perhatian, karena titik tekan keterampilan membaca ini lebih pada aspek pelafalannya. Namun demikian, jika teks bacaan tidak berharakat, maka kemampuan membaca keras ini juga memerlukan pengetahuan tentang struktur (tarkīb) frase/kalimat, terutama dalam aspek `i’rāb atau 26 27 | 196 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 171. Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 174. Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) perubahan bentuk dan harakat akhir suatu kata dalam rangkaian susunan frase atau kalimat tertentu. b. Qirā’ah Shāmitah (Membaca Diam), yakni kemampuan membaca teks bahasa Arab dengan tidak melafalkanya secara keras. Pembaca membaca teks tersebut di dalam hati. Pada umumnya, kegiatan membaca diam ini bertujuan pada upaya menangkap isi atau makna yang terkandung di dalam teks (fahm al-maqrū’). Kemampuan membaca diam ini tidak bisa langsung terlihat oleh orang lain, berbeda dengan membaca keras. Kemampuan membaca diam ini bisa diketahui melalui kemampuan pembaca dalam: menjelaskan isi atau makna teks, menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan teks, meringkas isi bacaan, dan lain-lain. Berikut ini aspek yang dikembangkan dalam pembelajaran qirā’ah shāmitah; (1) Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyimpulkan isi teks bacaan. (2) Meningkatkan kemampuan dalam memahami informasi baru dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. (3) Meningkatkan kemampuan dalam membaca cepat terhadap isi buku yang tidak membutuhkan refleksi pemikiran. (4) Meningkatkan kemampuan dalam membaca untuk kepentingan rekreatif dan mengisi waktu luang.28 2. Berdasarkan Tujuan Umum Pembaca a. Qirā’ah Istimtā’iyah (Membaca Rekreatif), yakni kegiatan membaca untuk tujuan hiburan atau kepuasan psikologis, seperti membaca novel, cerpen, dan lain-lain. b. Qirā’at Dars wa Tahlil (Membaca Pelajaran dan Analisis), yakni kegiatan membaca yang bertujuan mempelajari dan menganalisis isi teks bacaan. Contohnya membaca buku teks pelajaran, teks agama, dan lain-lain. 3. Berdasarkan Tujuan Khusus Pembaca a. Membaca untuk mengisi waktu luang, seperti membaca iklan, surat kabar, dan lain-lain. b. Membaca untuk memperoleh pengetahuan tertentu, misalnya membaca panduan mengoperasikan barang elektronik, membaca untuk mendapatkan jawaban mengenai pertanyaan tertentu, dan lain-lain. c. Membaca untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu secara mendetail. Contohnya adalah membaca materi pelajaran, atau buku ilmiah untuk kepentingan akademis. d. Membaca untuk kepentingan reflektif, analitik, dan produktif. Misalnya membaca literatur untuk kepentingan riset atau menulis makalah. 28 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 174. | 197 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 4. Berdasarkan Tahapan Pembelajarannya a. Membaca sebagai aktifitas mengidentifikasi dan mengubah simbol tertulis menjadi bunyi. Inilah yang disebut sebagai tahapan penguasaan mekanistik dalam kegiatan membaca. b. Membaca untuk memperoleh pemahaman. Inilah tahapan membaca dan relasinya dengan makna. c. Membaca intensif (al-qirā’ah al-mukatsafah), yakni tahapan membaca sebagai aktifitas belajar dan analisis. d. Membaca ekstensif (al-qirā’ah al-muwassa’ah), yakni tahapan membaca informasi secara luas yang meliputi berbagai aspek keilmuan. Sasaran keterampilan membaca (mahārah al-qirā’ah) bisa dilihat dari 5 hal, yaitu; keterampilan lafziyah, kecakapan dalam memahami bacaan dan maknanya, tingkatan bacaan secara umum, praktek membaca cepat, dan kebiasaan membaca yang menghasilkan kompetensi dan kecakapan(Yasmadi, 2015). Pada hakikatnya, mahārah al-qirā’ah mengandung dua aspek:29 (1) Aspek mekanistik, yaitu berupa respon fisiologis terhadap simbol-simbol tertulis, yakni mengidentifikasi kata perkata dan melafalkannya atau mengucapkannya. Dalam aspek mekanistik ini, pembaca berinteraksi dengan materi teks tertulis untuk kemudian melafalkannya. Inilah yang kemudian dikenal dengan membaca keras (al-qirā’ah al-jahriyyah). (2) Aspek mentalistik (aqliyah), yang mencakup pemahaman terhadap makna teks dan penjelasannya, menyimpulkan gagasan penulis teks dan menilainya, mengaitkan teks dengan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki pembaca, dan mengambil manfaat dari teks yang dibacanya. Aktifitas ini berkaitan dengan upaya mengambil makna dari teks tertulis dengan cara yang rasional dan cepat serta tidak perlu dilafalkan dengan suara keras. Inilah yang disebut dengan membaca diam (al-qirā’ah ashshamitah).30 Keterampilan membaca yang diajarkan mencakup kedua aspek membaca di atas yang bertumpu pada empat hal, yaitu (1) mengidentifikasi teks tertulis, (2) mengucapkan teks tertulis, (3) memahami dan mengkritik teks tertulis, dan (4) mengambil manfaat dari teks tertulis untuk memecahkan problem yang dihadapinya, misalnya memperoleh pemahaman tentang sesuatu yang selama ini belum diketahuinya.31 D. Pembahasan Hasil Penelitia Berdasarkan penjelasan mengenai aspek pembelajaran mahārah al-qirā’ah di atas, tujuan pembelajaran mahārah al-qirā’ah dalam bahasa Arab bisa dirinci sebagai berikut ini: (1) Peserta Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 171. Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 172. 31 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 172. 29 30 | 198 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) didik mampu mengucapkan simbol-simbol yang ditulis dengan aksara Arab dengan pengucapan yang benar dan bisa diterima oleh pengguna bahasa Arab. (2) Peserta didik mampu membaca teks berbahasa Arab dengan suara keras dan dengan pengucapan serta intonasi yang benar. (3) Peserta didik mampu mendapatkan makna (informasi) global secara langsung dari teks yang dibaca dan mampu memahami perubahan makna akibat perubahan struktur (tarkīb). (4) Peserta didik mampu memahami perbedaan antara makna mufradat secara leksikal dan secara kontekstual, serta memahami perbedaan antara mufradat yang digunakan dalam bahasa lisan dan tulisan. (5) Peserta didik memahami makna kalimat-kalimat yang digunakan dalam paragraf serta keterkaitan maknanya satu sama lain. (6) Peserta didik mampu membaca disertai dengan pemahaman umum mengenai teks tanpa terhambat masalah qawā’id. (7) Peserta didik mampu memahami pikiran-pikiran penjelas dan menemukan keterkaitannya dengan pikiran utama dalam paragraf. (8) Peserta didik memahami keberadaan tanda-tanda baca dan fungsinya. (9) Peserta didik mampu memahami teks bahasa Arab tanpa membutuhkan kamus atau kumpulan kosa kata yang telah diterjemahkan. (10) Peserta didik mampu membaca secara ekstensif berbagai bidang informasi, seperti surat kabar, sastra, sejarah, ilmu pengetahuan, dan peristiwa-peristiwa aktual lainnya.32 Kesepuluh tujuan pembelajaran qirā’ah di atas bisa dicapai secara bertahap. Artinya tujuan yang satu menjadi prasyarat tercapainya tujuan di tahap selanjutnya. Bisa dikatakan bahwa, pembelajaran keterampilan membaca merupakan proses pengembangan yang berlangsung secara gradual atau bertahap, dari satu tahap ke tahap berikutnya. Teknik dan Instrumen Penilaian Mahārah Al-Qirā’ah Teknik dan instrumen penilaian mahārah al-qirā`ah adalah suatu cara dan alat bantu yang digunakan untuk menilai atau mengetahui kemampuan mahārah al-qirā`ah (keterampilan membaca) peserta didik. Bentuk-bentuk instrumen tersebut dapat berupa tes dan non-tes.33 Menurut Maimun, dalam penilaian bahasa Arab, penilaian keterampilan membaca memiliki indikator kompetensi yang perlu diperhatikan meliputi: (1) memahami arti kata-kata sesuai dengan siyaq al-kalām, (2) mengenali susunan dan hubungan antar bagian kalimat, (3) mengenali pokok-pokok pikiran, (4) mampu menjawab pertanyaan yang jawabannya ada di wacana, (5) mampu menarik kesimpulan isi wacana, dan (6) mampu mengenali pesan yng ingin di sampaikan penulis(Maimun, 2011). 32 33 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 173. Kuswoyo, “Instrumen Penilaian Mufradat, …, h. 100. | 199 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 Sebagaimana wacana dalam penilaian keterampilan menyimak, tingkat kesulitan wacana dalam penilaian keterampilan membaca ini juga terkait erat dengan tingkat kerumitan kosa kata dan struktur kalimat yang dipergunakan, serta isi dan cakupan wacana. Wacana yang baik untuk penilaian keterampilan membaca adalah wacana yang tingkat kesulitannya sedang atau sesuai dengan kemampuan peserta didik. Di samping itu, wacana yang diteskan hendaknya tidak terlalu panjang jika peserta didik berada di tingkat dasar/pemula. Sebaiknya menggunakan wacana pendek berkisar satu atau dua paragraf, atau kira-kira 50 sampai 100 kata. Jenis wacana yang dipergunakan sebagai bahan tes keterampilan membaca dapat berupa wacana jenis prosa nonfiksi, dialog, tabel, diagram, iklan, dan lain-lain. Adapun soal-soal yang digunakan dalam penilaian keterampilan membaca pada teknik penilaian berbentuk tes umumnya mencakup: mengungkapkan kembali fakta, menemukan tema, gagasan pokok, gagasan pendukung, makna tersurat dan tersirat, bahkan juga makna istilah dan ungkapan. Jadi, tes kosa kata dapat pula disisipkan pada tes keterampilan membaca. Soal tes membaca dapat juga hanya terdiri dari satu atau dua kalimat atau pernyataan, kemudian disediakan pilihan jawaban yang sesuai dengan pernyataan dalam soal. Jenis tes yang digunakan untuk tes keterampilan membaca bisa berbentuk tes objektif pilihan ganda. Dilihat dari cara kerja peserta tes dan koreksi jawaban, jenis tes ini lebih praktis, cara penilaian atau pemberian skornya pun lebih objektif. Ditambah lagi, jenis tes ini dapat mencakup macam-macam wacana dan banyak soal, walaupun pembuatan soalnya lebih sulit dan lebih lama. Menurut Sayiful Musthafa, berdasarkan tingkatan/jenjang pembelajar bahasa, penilaian keterampilan membaca bisa dikelompokkan menjadi tiga tingkatan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik sebagai berikut: (1) Bagi pembelajar tingkatan dasar/pemula (mubtadi’): mengenali lambang atau simbol bahasa, membaca huruf hijaiyah dan mufrodat, menentukan arti kosakata dalam konteks kalimat, bentuk tes benar-salah, mengenali atau mencocokkan kata dan kalimat. (2) Bagi pembelajar tingkat menengah(mutawassit)atau yang oleh Heaton disebut dengan intermediate and advanced stages of reading: Menemukan ide pokok, penunjang dan kata-kata kunci, menceritakan kembali isi bacaan pendek, melengkapi dan menyusun kembali kalimat-kalimat yang tersedia secara benar sesuai dengan aturan dan urutannya.(3) Bagi pembelajar tingkat lanjut(mutaqaddim): menafsirkan isi bacaan, membuat intisari bacaan, menceritakan kembali berbagai jenis isi bacaan yang lebih panjang, mengkritisi isi bacaan, menghubungkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan, membaca teks dengan lancar,menentukan fakta-fakta tersurat dalam teks,menyimpulkan isi pokok bacaan, dan menerjemahkan isi bacaan (Sayiful Musthafa, 2011). | 200 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) Berdasarkan tujuan pembelajaran keterampilan membaca sebagaimana dikemukakan di atas, maka teknik dan instrumen penilaian keterampilan membaca (mahārah al-qirā`ah) dijabarkan dalam tabel sebagai berikut:34 No 1 2 3 4 5 Teknik Contoh Penilaian Instrumen Penilaian Peserta didik mampu mengucapkan Non tes Peserta didik diminta membaca simbol-simbol yang ditulis dengan (unjuk kerja) huruf, kata, dan kalimat berbahasa aksara Arab dengan pengucapan yang Arab yang berharakat lengkap benar dan bisa diterima oleh pengguna dengan suara keras bahasa Arab. Peserta didik mampu membaca teks Non tes Peserta didik diminta membaca berbahasa Arab dengan suara keras (unjuk kerja) teks berbahasa Arab yang dan dengan pengucapan serta intonasi berharakat lengkap dengan suara yang benar. keras dan intonasi yang benar Peserta didik mampu mendapatkan Tes Peserta didik diminta membaca makna (informasi) global secara diam (qirā’ah shāmitah) teks langsung dari teks yang dibaca dan sederhana berharakat lengkap, mampu memahami perubahan makna kemudian diminta menjawab akibat perubahan struktur (tarkib) pertanyaan umum tentang teks tersebut. Tujuan Mahārah Al-Qirāh Peserta didik mampu memahami Tes perbedaan antara makna mufradat secara leksikal dan secara kontekstual, serta memahami perbedaan antara mufradat yang digunakan dalam bahasa lisan dan tulisan Peserta didik memahami makna Tes kalimat-kalimat yang digunakan dalam paragraf serta keterkaitan maknanya satu sama lain. Peserta didik diminta menunjukkan mufradat kunci dalam teks dan menjelakan makna kontekstualnya. Peserta didik diminta membaca diam (qirā’ah shāmitah) teks berbahasa Arab tanpa harakat, kemudian diminta menjawab pertanyaan tentang makna mufradat dalam teks tersebut. Peserta didik diminta menunjukkan mufradat kunci dalam teks dan menjelakan makna kontekstualnya. Peserta didik diminta membaca diam (qirā’ah shāmitah) teks berbahasa Arab tanpa harakat, kemudian diminta untuk menyebutkan makna kalimat utama dalam teks tersebut. Peserta didik diminta menerjemahkan teks tersebut ke 34 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 217-219. | 201 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 dalam bahasa Indonesia. 6 7 8 9 10 Peserta didik mampu membaca Tes disertai dengan pemahaman umum mengenai teks tanpa terhambat masalah qawā’id. Peserta didik mampu memahami Tes pikiran-pikiran penjelas dan menemukan keterkaitannya dengan pikiran utama dalam paragraf. Peserta didik memahami keberadaan Non tes tanda-tanda baca dan fungsinya Peserta didik mampu memahami teks Tes bahasa Arab tanpa membutuhkan kamus atau kumpulan kosa kata yang telah diterjemahkan Peserta didik mampu membaca secara Tes ekstensif berbagai bidang informasi, seperti surat kabar, sastra, sejarah, ilmu pengetahuan, dan peristiwaperistiwa aktual lainnya. Peserta didik diminta menyimpulkan isi teks. Peserta didik diminta membaca diam (qirā’ah shāmitah) teks berbahasa Arab tanpa harakat, kemudian diminta untuk menyebutkan makna kalimat utama dalam teks tersebut. Peserta didik diminta menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Peserta didik diminta menyimpulkan isi teks. Peserta didik diminta menyebutkan pikiran utama dan penjelas dalam paragraf. Peserta didik diminta membaca teks dengan intonasi yang benar. Peserta didik diminta menyimpulkan isi teks. Peserta didik diminta menyebutkan pikiran utama dan penjelas dalam paragraph. Peserta didik menerjemahkan teks. Peserta didik menyimpulkan isi teks. mampu diminta Peserta didik diminta menyebutkan pikiran utama dan penjelas dalam paragraph. Peserta didik mampu menerjemahkan teks. Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan contoh-contoh instrumen penilaian kemahiran membaca.35 35 | 202 Abdul Munip, Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab, …,h. 220. Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) a. Membaca huruf hijaiyah dan mufrodat ‫ي‬,‫ه‬,‫ال‬,‫و‬,‫ن‬,‫م‬,‫ل‬,‫ك‬,‫ق‬,‫ف‬,‫غ‬,‫ع‬,‫ظ‬,‫ط‬,‫ض‬,‫ص‬,‫ش‬,‫س‬,‫ز‬,‫ر‬,‫ذ‬,‫د‬,‫خ‬,‫ح‬,‫ج‬,‫ث‬,‫ت‬,‫ب‬,‫ا‬ ٌ‫ ُرْكبَة‬,‫ ِم ْرفَ ٌق‬,‫س‬ ٌ ْ‫َرأ‬ b. Membaca teks dengan lancar c. Menentukan arti kosa kata dalam konteks kalimat | 203 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 d. Menentukan fakta tersurat dalam tesks e. Menemukan ide pokok dalam paragraf f. Menemukan ide penunjang dalam paragraf g. Menghubungkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan | 204 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) h. Menyimpulkan isi pokok bacaan i. Mengkritisi isi bacaan j. Menerjemahkan isi bacaan | 205 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 E. Kesimpulan Penilaian dalam pembelajaran mahārah al-qirā`ah perlu dilakukan guna mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran. Adapun dalam melakukan penilaian, masih banyak ditemukan ketidaksesuaian teknik dan instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik. Padahal pendidik harus selalu memperhatikan teknik dan instrumen yang digunakan agar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya, tingkat atau jenjang kemampuan peserta didik, keterampilan berbahasa yang sedang dipelajari, serta bentuk pembelajaran yang dilakukan. Karena teknik dan instrumen penilaian yang baik akan menentukan hasil belajar peserta didik yang sesungguhnya. Pemilihan teknik dan penggunaan instrument penilaian keterampilan membaca dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran pada masing-masing jenjang/tingkat perkembangan peserta didik sebagai berikut: (1) Bagi pembelajar tingkatan dasar/pemula (mubtadi’): mengenali lambang atau simbol bahasa, membaca huruf hijaiyah dan mufrodat, menentukan arti kosakata dalam konteks kalimat, bentuk tes benar-salah, mengenali atau mencocokkan kata dan kalimat. (2) Bagi pembelajar tingkat menengah (mutawassit) atau yang oleh Heaton disebut dengan intermediate and advanced stages of reading: Menemukan ide pokok, penunjang dan kata-kata kunci, menceritakan kembali isi bacaan pendek, melengkapi dan menyusun kembali kalimat-kalimat yang tersedia secara benar sesuai dengan aturan dan urutannya. (3) Bagi pembelajar tingkat lanjut (mutaqaddim): menafsirkan isi bacaan, membuat intisari bacaan, menceritakan kembali berbagai jenis isi bacaan yang lebih panjang, mengkritisi isi bacaan, menghubungkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan, membaca teks dengan lancar, menentukan fakta-fakta tersurat dalam teks, menyimpulkan isi pokok bacaan, dan menerjemahkan isi bacaan. Daftar Pustaka Ainin, Moh. (2016). “Kesahihan dalam Penyusunan Tes Bahasa Arab di Madrasah/Sekolah”.Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab II Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang, h. 291-303. Ainin, Moh dkk. (2006).Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab.Malang: Misykat. Ainin, Moh dkk. (2021) “Pengembangan Model Penyusunan RPP Berbasis Kesalahan bagi Peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan Mapel Bahasa Arab Melalui Sistem Pembelajaran dalam Jaringan”.Hasil Penelitian yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional Bahasa Arab Pengembangan RPP Mata Pelajaran Bahasa Arab yang dilaksanakan oleh Jurusan Bahasa Sastra Arab Universitas Malang Hari Kamis 19 Agustus 2021. Arifin, Z. (2009).Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik Prosedur.Bandung: Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2009).Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. Dimyati, dan Mudjiono. (2009).Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hanun, A, dkk. (2021). “Inovasi Media Penilaian Bahasa Arab Menggunakan Power Point”, Lahjah Arabiyah: Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab 2(1) h. 67-74. Available at DOI: https://doi.org/10.35316/lahjah.v2i1.67-74 | 206 Teknik Dan Instrumen Penilaian…… (Syindi O.R.T, Erni Wahyuningsih) Kuswoyo. (2016). “Instrumen Penilaian Mufradat”. El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama 4(2) h. 213224. Available at DOI: http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/2640 Maimun. (2011). “Strategi Pengembangan Evaluasi Hasil Pembelajaran Bahasa Arab”.Okara: Jurnal Bahasa dan Sastra, 5(2), h. 243-260. Available at https://doi.org/10.19105/ojbs.v5i2.511 Miladya, J. (2015).“Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”. Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab I, Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang, h. 179 – 187. Munip, A. (2017). Penilaian Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Terbiyah dan Keguruan UIN Suanan Kalijaga Yogyakarta. Nurgiantoro, B. (2010).Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE. Rosyidi, A.W. (2012).Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UIN Maliki Press. Roviin. Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab. IAIN Salatiga. Ridho, U. (2018). “Evaluasi dalam Pembelajaran Bahasa Arab”, An-Nabighoh: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Arab 20(1) h. 19-26. Available at DOI: https://doi.org/10.32332/an-nabighoh.v20i01.1124 Salamah, U. (2018). “Penjaminan Mutu Penilaian Pendidikan”. Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2(1) h. 274-293. Available at DOI: http://dx.doi.org/10.32478/evaluasi.v2i1.79 Setyawan, C. E. (2015). “Desain Evaluasi Program Pembelajaran Bahasa Arab”, Al-Manar: Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam 4(1) h. 161-200. Available atDOI: https://doi.org/10.36668/jal.v4i1.64 Solekha, S.M. (2015). Tesis.Pengembangan Instrumen Tes Maharah Qira’ah untuk Mahasiswa Bahasa Arab Berbasis Komputer Menggunakan Software Lectora Inspire. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sudirman, dkk. (2020). “Pengembangan Instrumen Penilaian Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan IPA Berbasis Berpikir Kritis pada Konsep Listrik Siswa SMP”, Jurnal Inovasi dan Pembelajaran Fisika 7(1) h. 28-40. Available at DOI: https://doi.org/10.36706/jipf.v7i1.10903 Suparman, U. (2016). Penilaian dalam Pembelajaran Bahasa. Tangerang: Suluh Media. Syaifudin. (2020).“Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penilaian pada Mata Pelajaran Bahasa Arab”, Cross-Border: Jurnal Kajian Perbatasan Antarnegara, Diplomasi dan Hubungan International 3(2) h. 106-118. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Pasal 20 Poin A. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 39 Ayat 2. Wahidah, R. (2020). “Penilaian Sikap Tanggung Jawab pada Pembelajaran Bahasa Arab Daring Via Whatsapp di Madrasah Tsanawiyah”. Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab VI, Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang h. 506. Yasmadi. (2015). “Evaluasi Buku Ajar Bahasa Arab: Telaah Terhadap Instrumen Penilaian Abdurrahman Ibrahim Fauzan.”Jurnal At-Tarbiyah 6(1). | 207 El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, Vol. 20, No.2, 2021 | 208