JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 900-910 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN FASILITAS K3 TERHADAP BUDAYA KESELAMATAN (SAFETY CULTURE) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA PADA ERA PASCA PANDEMI Riscky Fitri Wahyuni1. Nur Aini2 1,2 Universitas Jambi. Indonesia Email: risckyfitriwahyuni@unja. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Safety Culture Principal Leadership School OHS Facilities Post-Pandemic Educational Management ABSTRAK This research is driven by the urgent need to strengthen safety culture within educational institutions as a response to the complex challenges of the post-pandemic The study aims to examine the influence of principal safety leadership and school occupational health and safety (OHS) facilities on studentsAo safety culture. quantitative explanatory design was employed, involving 100 students selected through simple random sampling from a population of 455 students at a junior secondary school in Sungai Penuh City. Indonesia. Data were collected using validated Likert-scale questionnaires, systematic observation, and documentation, then analyzed using multiple linear regression. The findings reveal that principal safety leadership has a positive and significant effect on studentsAo safety culture ( = 0. p = 0. School OHS facilities also demonstrate a positive and significant influence ( = 0. 389, p = 0. , indicating a stronger contribution than leadership variables. Simultaneously, both predictors significantly affect studentsAo safety culture (F = 48, p < 0. , with an explanatory power of 68. 1% (R2 = 0. These results suggest that adaptive leadership practices combined with adequate safety facilities are critical determinants in fostering a sustainable and resilient school safety culture. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguatan budaya keselamatan di lingkungan sekolah sebagai respons terhadap tantangan pendidikan di era pascapandemi. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan keselamatan kepala sekolah dan sarana prasarana Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. sekolah terhadap budaya keselamatan siswa. Desain kuantitatif eksplanatori diterapkan dengan melibatkan 100 siswa sebagai sampel yang dipilih melalui teknik simple random sampling dari populasi sebanyak 455 siswa pada sebuah SMP di Kota Sungai Penuh. Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang tervalidasi, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan keselamatan kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap budaya keselamatan siswa ( = 0,311, p = 0,. Sarana prasarana K3 sekolah juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan ( = 0,389, p = 0,. , dengan kontribusi yang lebih besar dibandingkan variabel kepemimpinan. Secara simultan, kedua prediktor berpengaruh signifikan terhadap budaya keselamatan siswa (F = 102,4, p < 0,. dengan daya penjelas sebesar 68,1% (R2 = 0,. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang adaptif dan ketersediaan fasilitas keselamatan yang memadai merupakan determinan kritis dalam membangun budaya keselamatan sekolah yang berkelanjutan. Kata Kunci: Budaya Keselamatan. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Sarana Prasarana K3. Pascapandemi. Manajemen Pendidikan. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi PENDAHULUAN Pada era pasca pandemi, kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas Kesehatan dan keselamatan kerja (K. menjadi dua pilar utama dalam membentuk budaya keselamatan . afety cultur. di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. merupakan aspek krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, terutama di Sekolah Menengah (Oktaria, 2. Sekolah sebagai institusi pendidikan merupakan lingkungan dengan tingkat interaksi yang sangat intens dan melibatkan banyak orang dan bermacam aktivitas, hal ini berakibat menimbulkan risiko keselamatan dan kesehatan bagi warga sekolah. Dalam perspektif K3, sekolah tidah hanya dituntut untuk menyediakan lingkungan yang aman, tetapi juga membangun budaya keselamatan . afety cultur. yang terinternalisasi dalam nilai, sikap, dan perilaku seluruh warga sekolah. Budaya keselamatan bukan hanya kebijakan administratif, tetapi juga fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan terlindungi. Menurut Warphana dan Sukardi . , penerapan K3 di sekolah berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. K3 tidak hanya berfungsi sebagai upaya perlindungan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan budaya kerja aman sejak dini (Agustian dan Susanti, 2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. merupakan aspek fundamental yang harus diintegrasikan dalam sistem manajemen sekolah guna menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, sehat, dan produktif (Septia, dkk. Kenyataannya di lapangan, penerapan K3 di sekolah menengah pertama di Indonesia masih cenderung bersifat administratif dan hanya untuk pemenuhan standar formal, sehingga belum terinternalisasi secara maksimal dalam perilaku keseharian siswa. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara kebijakan yang dibuat di tingkat manajemen dengan praktik kondisi nyata di lapangan. Safety culture yang seharusnya menjadi bagian dari budaya organisasi sekolah masih belum berkembang secara optimal dan berkelanjutan. Era pasca pandemi Covid-19 telah mengubah paradigma manajemen keselamatan di berbagai institusi, termasuk di sektor pendidikan. SMP sebagai lembaga dengan mobilitas siswa yang tinggi, dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya kembali pada rutinitas akademis normal, tetapi juga mempertahankan standar kesehatan dan keselamatan yang telah diperketat selama masa pandemi. Sekolah gagal menyediakan perlindungan terhadap ancaman keselamatan dan kesehatan, baik akibat kelalaian prosedural maupun faktor lingkungan, berisiko menimbulkan dampak jangka panjang perkembangan siswa dan stabilitas operasional lembaga pendidikan (Suherman & Fitri. Pandemi Covid-19 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global terhadap aspek kesehatan dan keselamatan. Berbagai aturan dan protokol kesehatan yang telah diterapkan di era pandemi mampu membentuk perilaku disiplin dalam jangka waktu pendek. Tetapi, setelah memasuki era pasca pandemi, muncul fenomena safety fatigue, yaitu penurunan kepatuhan terhadap perilaku aman akibat menurunnya persepsi ancaman, hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang terjadi selama pandemi belum sepenuhnya menjadi budaya keselamatan yang permanen. Karena hal itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif untuk mempertahankan dan memperkuat safety culture di lingkungan sekolah. (Ramdani & Tiarapuspa, 2. Untuk menerapkan K3 melalui kepemimpinan diperlukan unsur paling utama, yaitu kepemimpinan keselamatan kerja . afety leadershi. (Haryono, dkk. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai pengarah dan pengendali yang memastikan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi seluruh warga sekolah memahami pentingnya manajemen risiko (Walfadillah, 2. Kepala sekolah memiliki peran krusial sebagai role model dan pembuat kebijakan. Dalam perspektif administrasi pendidikan, kepala sekolah mempunyai tugas strategis sebagai pemimpin oranisasi yang menentukan arah kebijakan dan budaya sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai policy maker, tetapi juga sebagai penggerak budaya organisasi dan teladan dalam penerapan nilai-nilai keselamatan. Kepemimpinan yang efektif dapat mengintegrasikan prinsip K3 ke dalam kebijakan sekolah dan juga dapat mengkomunikasikannya secara konsisten, sehingga dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku siswa terhadap keselamatan. Berdasarkan fungsinya, kepala sekolah bertindak sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, innovator, dan motivator dalam membangun iklim sekolah yang positif (Tasirun dkk, 2. Berbagai studi menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan partisipatif mampu meningkatkan kepatuhan dan kesadaran terhadap keselamatan dan Kesehatan kerja (K. (Oktavianto dkk. Selain aspek kepemimpinan, ketersediaan fasilitas K3 seperti alat pemadam kebakaran (APAR), jalur evakuasi, fasilitas sanitasi, serta fasilitas kesehatan sekolah seperti ruang UKS yang terstandarisasi merupakan komponen penting dalam mendukung implementasi Sarana dan prasarana K3 mencakup infrastruktur yang dirancang untuk melindungi warga sekolah dari ancaman bencana ataupun kecelakaan kerja . yam dkk. Pada era pasca pandemi, standar fasilitas K3 mencakup sarana Cuci Tangan Pakai Sabun (CTSP), ventilasi udara yang optimal, serta alat pengukur suhu tubuh . (Winata dkk. , 2. World Health Organization . menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan di lingkungan pendidikan sebagai upaya pencegahan risiko. Selain itu, pandemi telah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan dan kesehatan, yang berdampak pada perubahan perilaku individu (Bae & Chang, 2. Dalam konteks ini, sekolah perlu mengintegrasikan aspek keselamatan ke dalam sistem manajemen pendidikan, termasuk melalui kepemimpinan kepala sekolah, penyediaan fasilitas K3, serta peningkatan kesadaran risiko siswa. Dengan demikian, era pasca-pandemi menjadi konteks yang relevan dalam penelitian ini. Dari penjelasan di atas, terdapat beberapa poin krusial yang membangun urgensi mengapa penelitian mengenai pengaruh kepemimpinan dan fasilitas K3 terhadap budaya keselamatan ini sangat layak untuk dilakukan. Yang pertama penelitian ini mendesak karena adanya fakta bahwa penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. di sekolah-sekolah di Indonesia sering kali hanya dilakukan untuk menggugurkan kewajiban administratif atau pemenuhan standar formal semata. Hal ini menyebabkan prinsip keselamatan belum mendarah daging atau terinternalisasi dalam perilaku nyata siswa sehari-hari, sehingga menciptakan jarak antara aturan di atas kertas dengan praktik di lapangan. Urgensi kedua berkaitan dengan masa transisi pasca pandemi COVID-19. Meskipun protokol kesehatan sempat membentuk kedisiplinan jangka pendek, saat ini muncul gejala penurunan kepatuhan terhadap perilaku aman karena menurunnya persepsi ancaman dari warga Penelitian ini diperlukan untuk mencari strategi agar standar keselamatan tetap terjaga dan tidak kembali ke pola lama yang abai terhadap risiko. Kepala sekolah bukan sekadar manajer, melainkan penentu arah budaya organisasi sekolah. Urgensi penelitian ini terletak pada pengujian sejauh mana efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dalam mengintegrasikan nilai-nilai K3 ke dalam kebijakan sekolah dan memberikan teladan nyata Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi yang mampu memengaruhi persepsi serta perilaku keselamatan siswa secara berkelanjutan. Ketersediaan fasilitas K3 seperti alat pemadam kebakaran (APAR), jalur evakuasi, dan fasilitas sanitasi bukan hanya soal kelengkapan sarana, melainkan pilar pendukung Di era pasca pandemi, standar fasilitas ini meluas mencakup sarana kebersihan yang menjadi bagian dari new normal, sehingga penelitian ini penting untuk melihat bagaimana infrastruktur fisik tersebut berkontribusi pada pembentukan kesadaran risiko Secara teoritis, hubungan antara kepemimpinan dan fasilitas terhadap budaya keselamatan sudah banyak dikaji di sektor industri, namun penelitian yang secara khusus membedah dinamika ini di lingkungan pendidikan . ekolah menenga. masih sangat Hal ini menciptakan kesenjangan literatur yang perlu segera diisi agar pemangku kebijakan memiliki acuan yang valid dalam menyusun strategi keselamatan sekolah. Yeboah et al. menyatakan bahwa kepemimpinan berperan dalam membentuk safety culture melalui motivasi dan komunikasi. Penelitian oleh Pertiwi et al. menunjukkan bahwa persepsi K3 memengaruhi perilaku keselamatan individu. Di sisi lain. Praditya et al. serta Harahap et al. menemukan bahwa implementasi K3 berpengaruh terhadap kinerja dan budaya organisasi. Penelitian terbaru oleh Al-Mekhlafi et . juga menegaskan bahwa safety culture dipengaruhi oleh kepemimpinan dan manajemen risiko. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kepemimpinan, fasilitas K3, dan safety culture, meskipun penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan tersebut dalam konteks pendidikan masih terbatas. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas keselamatan dan Kesehatan kerja (K. terhadap budaya keselamatan (Safety Cultur. siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) 8 Kota Sungai Penuh pada era pasca pandemi COVID-19. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori . xplanatory researc. Menurut Creswell . , penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji teori objektif dengan menguji hubungan antar variabel. Desain eksplanatori dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan kausal serta mengukur seberapa besar pengaruh variabel independen, yaitu Kepemimpinan Kepala Sekolah (X. dan Fasilitas K3 (X. , terhadap variabel dependen, yaitu Budaya Keselamatan atau Safety Culture (Y) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada era pasca pandemi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di SMP 8 Kota Sungai Penuh yang berjumlah 455 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling, sehingga di dapat 100 orang sample dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket dan dokumentasi. Metode pengumpulan data primer dilakukan melalui penyebaran kuesioner tertutup. Instrument kuesioner diukur dengan Skala Likert 1 sampai 5 dengan rentang dari Sangat Tidak Setuju (Skor . hingga Sangat Setuju (Skor . Angket digunakan untuk mengukur variabel Kepemimpinan kepala sekolah (X. yang diukur dengan indikator keteladanan, komunikasi visi keselamatan, pengambilan keputusan, dan motivasi beradaptasi pasca pandemi. Variabel kedua variabel fasilitas keselamatan dan Kesehatan kerja (X. diukur dengan indikator ketersediaan APAR, rambu evakuasi, fasilitas sanitasi/cuci tangan dan kelayakan ruang UKS yang sesuai dengan standar kemenkes. Untuk variabel fasilitas keselamatan dan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi Kesehatan kerja tidak hanya melalui angket tetapi juga dengan observasi dan dokumentasi. Untuk variabel ketiga, variabel Budaya keselamatan (Y) diukur dengan indikator komitmen individu, kepatuhan pada SOP Kesehatan, partisipasi pelaporan bahaya, dan kesadaran preventif lingkungan (Reason, 2. Instrument penelitian terlebih dahulu diuji dulu Uji validitas digunakan untuk mengukur apakah instrument penelitian benarbenar mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas menggunakan teknik korelasi pearson product moment dengan membandingkan nilai r-hitung dengan r-tabel pada taraf signifikansi Arikunto . menyatakan bahwa sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Teknik analisis utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda . ultiple linear regressio. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah (X. dan fasilitas K3 (X. secara bersama-sama maupun secara parsial terhadap budaya keselamatan/safety culture (Y). Sugiyono . menjelaskan bahwa analisis regresi berganda digunakan oleh peneliti apabila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan . aik turunny. variabel dependen, apabila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi . inaik-turunkan Persamaan model regresi berganda dalam penelitian ini adalah: Y = a b1X1 b2X2 e Keterangan: Y = budaya keselamatan . afety cultur. a = konstanta. b1, b2 = koefisien regresi. X1 = kepemimpinan kepala sekolah. X2 = fasilitas K3. e = error . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilakukan pada siswa SMP 8 Sungai penuh dengan jumlah responden sebanyak 100 siswa. Responden dipilih dengan menggunakan teknik simple random Profil responden berdasarkan jenis kelamin dan tingkat kelas disajikan pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Deskripsi Responden Karakteristik Kategori Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kelas VII Kelas Vi Kelas IX Kelas Total Berdasarkan Tabel 1, sebaran responden menurut jenis kelamin relatif seimbang, yakni siswa laki-laki sebanyak 48 orang . %) dan siswa perempuan sebanyak 52 orang . %). Adapun berdasarkan kelas, responden dari kelas VII berjumlah 30 orang . %), kelas Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi Vi sebanyak 35 orang . %), dan kelas IX sebanyak 35 orang . %). Komposisi responden ini mencerminkan representasi yang proporsional dari keseluruhan populasi siswa SMP. Berdasarkan uji validitas, seluruh variabel penelitian memperoleh nilai AVE di atas 0,50. Variabel kepemimpinan kepala sekolah memperoleh AVE sebesar 0,65, fasilitas K3 sebesar 0,62, dan safety culture sebesar 0,70. Dengan demikian, seluruh konstruk dalam penelitian ini dinyatakan valid secara konvergen, sehingga instrumen penelitian layak digunakan untuk pengukuran. Uji reliabilitas menggunakan koefisien Cronbach's Alpha dan Composite Reliability dengan nilai ambang batas Ou 0,70 (Ghozali, 2. Hasil uji reliabilitas memperlihatkan bahwa seluruh variabel memiliki nilai Cronbach's Alpha dan Composite Reliability di atas 0,70. Nilai Cronbach's Alpha untuk kepemimpinan kepala sekolah sebesar 0,88, fasilitas K3 sebesar 0,85, dan safety culture sebesar 0,90. Sementara nilai Composite Reliability berkisar antara 0,89 hingga 0,92. Dengan demikian, seluruh instrumen dinyatakan reliabel dan dapat diandalkan sebagai alat ukur dalam penelitian ini Uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila nilai Asymp. Sig. -taile. > 0,05 (Ghozali, 2. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,062 > 0,05, yang berarti residual model regresi berdistribusi normal. Asumsi normalitas terpenuhi sehingga analisis regresi berganda dapat dilanjutkan. Uji linearitas dilakukan dengan mengamati nilai signifikansi pada baris Deviation from Linearity. Hubungan dinyatakan linear apabila nilai signifikansi > 0,05 (Sugiyono & Susanto, 2. Hasil uji linearitas menyatakan nilai signifikansi Deviation from Linearity untuk hubungan X1 terhadap Y sebesar 0,182 dan X2 terhadap Y sebesar 0,210, keduanya > 0,05. Dengan demikian, hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat bersifat linear sehingga asumsi linearitas terpenuhi. Uji multikolinearitas dilakukan untuk mendeteksi korelasi tinggi antar variabel bebas menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Model bebas multikolinearitas apabila nilai VIF < 10 dan Tolerance > 0,10 (Ghozali, 2. Hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa nilai Tolerance untuk kedua variabel bebas sebesar 0,682 > 0,10 dan nilai VIF sebesar 1,466 < 10. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas di antara variabel bebas, sehingga asumsi multikolinearitas terpenuhi. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Setelah seluruh asumsi klasik terpenuhi, dilakukan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah (X. dan fasilitas K3 (X. terhadap safety culture siswa (Y). Hasil analisis disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Variabel Std. Error Beta () t-hitung Sig. Konstanta . 1,248 0,312 4,000 0,000 Kepemimpinan (X. 0,311 0,111 0,288 2,801 0,006 Fasilitas K3 (X. 0,389 0,122 0,327 3,189 0,002 Berdasarkan Tabel 2, persamaan regresi yang diperoleh adalah: Y = 1,248 0,311 X1 0,389 X2 e Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi Persamaan tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut: . Nilai konstanta sebesar 1,248 berarti apabila kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas K3 bernilai nol, maka safety culture siswa berada pada nilai 1,248. Koefisien regresi kepemimpinan kepala sekolah . sebesar 0,311 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan pada kepemimpinan kepala sekolah akan meningkatkan safety culture siswa sebesar 0,311 dengan asumsi variabel lain konstan. Koefisien regresi fasilitas K3 . sebesar 0,389 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan pada fasilitas K3 akan meningkatkan safety culture siswa sebesar 0,389 dengan asumsi variabel lain konstan. Nilai koefisien fasilitas K3 yang lebih besar dari kepemimpinan mengindikasikan bahwa fasilitas K3 memiliki kontribusi yang lebih dominan terhadap pembentukan safety culture siswa. Hasil Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu uji parsial . , uji simultan . ji F), dan koefisien determinasi (RA). Ringkasan hasil pengujian hipotesis disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4. Tabel 3. Hasil Uji F dan Koefisien Determinasi (RA) Model Square (RA) F-hitung Sig. Keterangan 1 (X1. X2 Ie Y) 0,825 0,681 102,48 0,000 Signifikan Tabel 4. Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis No. Hipotesis Koefisien t / F Sig. Keputusan Kepemimpinan (X. berpengaruh positif dan 0,311 Safety Culture (Y) 2,801 0,006 H1 Diterima Fasilitas (X. berpengaruh positif dan 0,389 Safety Culture (Y) 3,189 0,002 H2 Diterima RA=0,681 terhadap Safety Culture (Y) 102,48 0,000 H3 Diterima Keterangan: Sig. < 0,05 = signifikan. Berdasarkan Tabel 3, nilai F-hitung sebesar 102,48 dengan signifikansi 0,000 . < 0,. , yang berarti kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas K3 secara simultan berpengaruh signifikan terhadap safety culture siswa. Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,681 menunjukkan bahwa 68,1% variasi safety culture siswa dapat dijelaskan oleh kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas K3, sedangkan 31,9% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian ini. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi Pembahasan Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Safety Culture Hasil uji t menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety culture siswa SMP ( = 0,311. t = 2,801. p = 0,006 < 0,. , sehingga H1 diterima. Temuan ini mengandung makna bahwa semakin baik kualitas kepemimpinan kepala sekolah, khususnya dalam aspek komitmen terhadap K3, keteladanan perilaku aman, dan komunikasi keselamatan, maka semakin tinggi pula tingkat safety culture yang terbentuk pada diri siswa. Kepala sekolah memiliki posisi strategis sebagai culture builder dan role model dalam pengelolaan institusi pendidikan. Menurut Mulyasa . , kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan aman. Ketika kepala sekolah secara konsisten mengedepankan nilai-nilai keselamatan dalam setiap kebijakan dan tindakannya, siswa akan memaknai keselamatan sebagai bagian dari norma sosial yang wajib dijaga. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Yeboah et al. yang menyatakan bahwa kepemimpinan berperan sentral dalam membentuk safety culture melalui motivasi, komunikasi, dan pemberdayaan individu. Sementara itu. Praditya et al. juga menegaskan bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada K3 secara konsisten terbukti meningkatkan perilaku keselamatan dan kinerja organisasi. Dalam konteks era pasca pandemi COVID-19, peran kepemimpinan kepala sekolah menjadi semakin krusial. Kepala sekolah yang adaptif mampu mengintegrasikan protokol kesehatan dan keselamatan ke dalam sistem manajemen sekolah secara holistik, sehingga membentuk safety culture yang lebih kuat dan berkelanjutan (Farhan et al. , 2. Pengaruh Fasilitas K3 terhadap Safety Culture Hasil pengujian menunjukkan bahwa fasilitas K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety culture siswa SMP ( = 0,389. t = 3,189. p = 0,002 < 0,. , sehingga H2 Koefisien regresi fasilitas K3 yang lebih besar dibandingkan kepemimpinan mengindikasikan bahwa ketersediaan fasilitas K3 merupakan prediktor yang lebih kuat dalam memengaruhi safety culture siswa. Artinya, semakin lengkap dan memadai fasilitas K3 yang tersedia di sekolah, semakin tinggi pula budaya keselamatan yang terbentuk pada Fasilitas K3 di lingkungan sekolah, yang meliputi alat pemadam kebakaran (APAR), jalur evakuasi darurat, kotak pertolongan pertama (P3K), fasilitas sanitasi, serta ramburambu keselamatan, tidak hanya berfungsi sebagai sarana proteksi fisik, tetapi juga sebagai media edukasi yang secara tidak langsung membentuk kesadaran siswa terhadap potensi Sebagaimana dinyatakan oleh Tarwaka . , fasilitas K3 dirancang untuk menjamin keselamatan individu sekaligus menciptakan budaya preventif dalam suatu organisasi. Hasil penelitian ini relevan dengan temuan Praditya et al. serta Harahap et al. yang menyatakan bahwa penerapan K3 yang baik berpengaruh signifikan terhadap pembentukan budaya keselamatan dan kinerja organisasi. Dalam konteks era pasca pandemi, cakupan fasilitas K3 mengalami perluasan yang signifikan. Fasilitas kebersihan seperti tempat cuci tangan, sistem ventilasi ruang kelas, serta pengelolaan sanitasi lingkungan kini menjadi komponen integral dari K3 sekolah. Keberadaan fasilitas-fasilitas ini tidak hanya memberikan perlindungan kesehatan, tetapi juga memperkuat perilaku higienis dan keselamatan siswa sebagai bagian dari new normal pasca pandemi (Bae & Chang, 2. Pengaruh Simultan dan Koefisien Determinasi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Fasilitas K3 Terhadap Budaya Keselamatan (Safety Cultur. Di Sekolah Menengah Pertama Pada Era Pasca Pandemi Uji F menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas K3 secara bersama-sama . berpengaruh signifikan terhadap safety culture siswa (F = 102,48. = 0,000 < 0,. , sehingga H3 diterima. Nilai koefisien determinasi sebesar RA = 0,681 menunjukkan bahwa kedua variabel bebas tersebut mampu menjelaskan 68,1% variasi safety culture siswa secara simultan. Ini merupakan nilai yang tergolong kuat (Ghozali, 2. , mengindikasikan bahwa model penelitian ini memiliki daya prediksi yang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dan fasilitas K3 bersifat komplementer dan saling menguatkan dalam membentuk safety culture siswa. Kepemimpinan yang baik tanpa didukung oleh fasilitas K3 yang memadai akan kurang efektif, demikian pula sebaliknya. Sinergi antara kedua faktor tersebut menciptakan ekosistem sekolah yang kondusif bagi terbentuknya budaya keselamatan yang kuat. Dalam konteks era pasca pandemi, interaksi antara kepemimpinan adaptif dan fasilitas K3 yang berkembangAimencakup aspek kesehatanAiterbukti memperkuat safety culture siswa secara signifikan (Al-Mekhlafi et al. , 2. Sisa varians sebesar 31,9% yang tidak dijelaskan oleh model ini membuka peluang penelitian lanjutan untuk mengkaji variabel mediasi seperti risk perception, safety climate, maupun variabel kontekstual lainnya. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan tiga temuan utama. Pertama, kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety culture siswa SMP 8 Kota Sungai Penuh ( = 0,311. t = 2,801. p = 0,. , yang tercermin melalui keteladanan, komunikasi visi keselamatan, dan motivasi adaptasi pasca pandemi COVID-19. Kedua, fasilitas K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap safety culture siswa ( = 0,389. t = 3,189. dan merupakan prediktor lebih dominan dibandingkan kepemimpinan. Ketersediaan APAR, rambu evakuasi, fasilitas sanitasi, dan ruang UKS berfungsi sekaligus sebagai sarana proteksi fisik dan media internalisasi nilai keselamatan. Ketiga, kedua variabel secara simultan berpengaruh signifikan terhadap safety culture siswa (F = 102,48. p = 0,. dengan kontribusi sebesar 68,1% (RA = 0,. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas K3 bersifat komplementer dan saling menguatkan. Sinergi keduanya merupakan pilar utama pembentukan safety culture yang berkelanjutan di era pasca pandemi. Hasil penelitian ini direkomendasikan sebagai acuan bagi sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan dalam memperkuat budaya keselamatan di jenjang Sekolah Menengah Pertama. REFERENSI