Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal HUBUNGAN PERILAKU SUAMI TERHADAP DUKUNGAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATANG PANE II Iin Wahyuni ,2Yulinda Aswan,3Sakinah Yusro Pohan Dosen Program Studi Kebidanan Program Sarjana Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan sakinahyusropohan@gmail. 1,2,2 ABSTRAK Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi anak dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran. Bayi yang diberikan ASI ekslusif dapat mencapai pertumbuhan perkembangan dan kesehatan optimal. Pemberian ASI Eksusif sangat dipengaruhi perilaku kesehatan berupa, pengetahuan, tidakan, sikap, mencakup dukungan suami. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perilaku suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020. Jenis penelitian penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Populasi yaitu seluruh ibu yang mempunyai bayi berusia O6 bulan yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta yang sebanyak 90 orang. Sampel yaitu seluruh ibu yang mempunyai bayi berusia O6 bulan yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta sebanyak 90 orang dengan menggunakan metode total sampling. Analisa yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku suami . = 0,. , pengetahuan suami . = 0,. , sikap suami . = 0,. , tindakan suami . = 0,. berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif. Kesimpulan diperoleh bahwa perilaku suami berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif. Saran bagi suami agar memberikan perhatian lebih terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif. Kata Kunci : Perilaku Dukungan. Pemberian ASI Eklusif ABSTR ACT Providing exclusive breast milk (ASI) is an effort to improve the nutritional status of children in the first 1000 days of birth. Babies who are exclusively breastfed can achieve optimal developmental growth and Exusive breastfeeding is strongly influenced by health behavior in the form of knowledge, actions, attitudes, including husband's support. The purpose of this study was to determine the relationship between husband's behavior and support for exclusive breastfeeding for infants in the Work Area of the Batang Pane II Public Health Center. East Halongonan District. Paluta Regency in 2020. This type of research is a quantitative study with a cross sectional study approach design. The population in this study were all mothers who had babies aged O6 months in the Work Area of the Batang Pane II Public Health Center. Halongonan Timur District. Paluta Regency, as many as 90 people. The sample in this study were all mothers who had babies aged O6 months in the Work Area of the Batang Pane II Public Health Center. Halongonan Timur District. Paluta Regency, as many as 90 people using the total sampling method. The analysis used is the Chi Square test. The results of this study indicate that husband's behavior . = 0. , husband's knowledge . = 0. , husband's attitude . = 0. husband's actions . = 0. are related to support for exclusive breastfeeding. The conclusion is that husband's behavior is related to support for exclusive breastfeeding. Suggestions for husbands to pay more attention to support for exclusive breastfeeding. Keywords : Behavior Support. Exclusive Breastfeeding Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal PENDAHULUAN Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan status gizi anak dalam 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK). Pemberian ASI eksklusif di Negara berkembang berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi/tahun. World Health Organization (WHO) telah mengkaji lebih dari 000 peneliti menunjukkan pemberian ASI selama 6 bulan adalah jangka waktu yang paling optimal untuk pemberian ASI eksklusif (Haryono dan Setianingsih, 2. World Health Organization (WHO) . menunjukkan rata-rata angka pemberian ASI eksklusif di dunia baru berkisar 50 persen. Cakupan ASI ekslusif di Afrika Tengah sebanyak 25%. Amerika Latin dan Karibia sebanyak 32%. ASIA Timur sebanyak 30%. ASIA Selatan sebanyak 47%, dan Negara berkembang sebanyak 46% (Dian, 2. Situasi gizi balita di dunia saat ini sebanyak 155 juta balita pendek . , 52 juta balita kurus . , dan 41 juta balita gemuk . Pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang benar dapat mencegah anak mengalami gizi kurang, buruk dan tumbuh pendek . (Kemenkes, 2. Hasil pengamatan di Indonesia peroleh hasil 63% pemberian ASI hanya pada bulan pertama, 45% pada bulan kedua, 30% bulan ketiga, 19% bulan keempat, 12% bulan kelima dan turun dratis pada bulan ke enam yaitu hanya 6%, bahkan lebih 000 bayi atau 5% dari populasi bayi di Indonesia saat itu tidak di berikan ASI sama sekali. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar . proporsi pola pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan di Indonesia sebanyak 37,3% ASI Ekslusif, 9,3%. ASI Parsial, dan 3,3% ASI Predominan. Provinsi Sumatera Utara . , proporsi pola pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan sebanyak 50% ASI Ekslusif, 15%. ASI Parsial, dan 7,5% ASI Prevalensi status gizi bahwa anak pendek sebesar 34,1% di Provinsi Sumatera Utara, anak mengalami stunting pernah mendapat ASI ekslusif kurang dai 6 bulan dan sudah pernah diberi susu formula sebelum usia 6 bulan, dan sebagian anak mengalami stunting meskipun sudah mendapatkan ASI ekslusif selama 6 bulan (Kemenkes, 2018. Nurkarimah, 2. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) . , persentase bayi baru lahir yang mendapat Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sebesar 51,9% terdiri dari 42,7% mendapatkan IMD dalam kurang dari 1 jam setelah lahir, dan 9,2% dalam satu jam atau lebih. Persentase bayi 0-5 bulan yang masih mendapat ASI eksklusif sebesar 54,0%. Persentase bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia enam bulan adalah sebesar 29,5%. Mengacu pada target Vol. 6 No. 2 Desember 2021 renstra tahun 2018 sebesar 42%, maka secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan telah mencapai target (Wulandari, 2. Menurut Haryono . dalam penelitian Fartaeni . , faktor-faktor mempengaruhi pemberian ASI eksklusif antanya adalah tingkat pengetahuan orang tua, peran tenaga kesehatan, pada ibu bekerja pemberian susu formula menjadi satusatunya anternatif dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan di rumah. Tingkat pendapatan orang tua, orang tua dengan pengahasilan cukup, susu formula lebih sering diberikan pada bayi karena didukung dengan ekonomi baik serta anggapan bahwa susu formula pilihan terbaik untuk bayi. Data Puskesmas Batang Pane bulan April Ae Mei 2020 bayi berusia O6 bulan sebanyak 90 orang dan yang diberikan ASI ekslusif selama 6 bulan sebanyak 47 orang. Berdasarkan survey awal yang dilakukan dengan wawancara kepada 10 orang terdapat 7 orang suami tidak mendukung pemberian ASI ekslusif kepada anaknya selama 6 bulan, dan 3 orang suami mendukungan pemberian ASI ekslusif, mengetahui manfaat pemberian ASI ekslusif. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui hubungan perilaku suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah Desain penelitian menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian Di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli 2020 sampai dengan Agustus 2020. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berusia O6 bulan berjumlah 90 orang. Tekhnik pengambilan sampel yaitu total sampling, dimana semua populasi dijadikan sampel sebanyak 90 orang. Uji statistik dengan Chi Square dengan tingkat signifikasinya p=0,05. Jika . <0,. maka H0 ditolak berarti Ha diterima, sebaliknya jika . >0,. maka H0 diterima dan Ha ditolak (Notoatmodjo, 2. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal HASIL PENELITIAN Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020 Karakteristik Responden Umur 20-35 tahu >35 tahun Pendidikan SMP SMA S-1 Pekerjaan PNS/TNI/POLRI Petani Wiraswasta Pegawai Swasta Penghasilan Tinggi Rendah Suku Jawa Batak Umur bayi 1 Bulan 2 bulan 3 Bulan 4 bulan Berat Badan Bayi 2,5 kg Ae 4,5 kg 4,6 kg Ae 7,5 kg 7,6 kg Ae 9,5 kg Tinggi Badan bayi 56-65 cm 66-75 cm Jumlah dan minoritas berpenghasilan tinggi sebanyak 39 orang . ,3%). Berdasarkan suku mayoritas bersuku batak sebanyak 76 orang . ,4%), dan minoritas bersuku jawa sebanyak 14 orang . ,6%). Berdasarkan umur bayi mayoritas umur bayi 5 bulan sebanyak 63 orang . ,0%), dan minoritas umur bayi 2 bulan sebanyak 6 orang . ,7%). Berdasarkan berat badan bayi mayoritas berat badan bayi 4,6 kg Ae 7,5 kg sebanyak 76 orang . ,4%), dan minoritas berat badan bayi 2,5 kg Ae 4,5 kg sebanyak 2 orang . ,2%). Berdasarkan tinggi badan bayi mayoritas tinggi badan 56-65 cm sebanyak 75 orang . ,3%), dan minoritas tinggi badan bayi 65Ae75 cm sebanyak 15 orang . ,7%). Tabel 2 Distribusi Perilaku Suami di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020 Perilaku Suami Kurang Baik Jumlah Pengetahuan Suami Kurang Cukup Baik Jumlah Sikap Suami Negatif Positif Jumlah Tindakan Suami Tidak dilakukan Dilakukan Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Tidak diberikan ASI ekslusif Diberikan ASI Jumlah Sumber: Data Primer, 2020 Berdasarkan hasil didapatkan bahwa umur mayoritas berumur 20-35 tahun sebanyak 80 orang . ,9%), dan minoritas berumur >35 tahun sebanyak 10 orang . ,1%). Berdasarkan SMP sebanyak 52 orang . ,8%), dan minoritas berpendidikan S-1 sebanyak 12 orang . ,3%). Berdasarkan pekerjaan mayoritas bekerja sebagai petani sebanyak 47 orang . ,3%), dan minoritas bekerja sebagai PNS sebanyak 5 orang . ,6%). Berdasarkan jumlah penghasilan mayoritas berpenghasilan rendah sebanyak 51 orang . ,7%). Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Sumber: Data Primer, 2020 Berdasarkan hasil didapatkan bahwa perilaku suami mayoritas berperilaku kurang sebanyak 56 orang . ,2%), dan minoritas berperilaku baik sebanyak 34 orang . ,8%). Berdasarkan hasil didapatkan bahwa berpengetahuan kurang sebanyak 40 orang . ,4%), dan minoritas berpengetahuan baik sebanyak 20 orang . ,2%). Berdasarkan hasil didapatkan bahwa sikap suami mayoritas bersikap negatif sebanyak 59 orang Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal . ,6%), dan minoritas bersikap positif sebanyak 31 orang . ,4%). Berdasarkan hasil didapatkan bahwa tindakan suami mayoritas bertindak dilakukan sebanyak 52 orang . ,8%), dan minoritas bertindak tidak dilakukan sebanyak 38 orang . ,2%). Berdasarkan hasil didapatkan bahwa dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi mayoritas tidak diberikan ASI ekslusif pada bayi sebanyak 52 orang . ,8%), dan minoritas diberikan ASI ekslusif sebanyak 38 orang . ,2%). Tabel 6 Hubungan Perilaku Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020 Perilak Suami Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Jumlah Diberikan ASI Ekslusif Kurang Tidak Diberika n ASI Ekslusif 40 71,4 Baik Jumla 0,00 Sumber: Data Primer, 2020 Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai p= 001 . < 0,. , artinya ada hubungan perilaku suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020. Tabel 7 Hubungan Pengetahuan Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020 Penge Suami Kuran Cukup Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Tidak Diberika n ASI Ekslusif 37 92,5 Diberika ASI Ekslusif Jumlah pengetahuan suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun Tabel 8 Hubungan Sikap Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020 Sika Sua Nega Posit Jum Baik Jumla Sumber: Data Primer, 2020 Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai p= 000 . < 0,. , artinya ada hubungan Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Tidak Diberika n ASI Ekslusif 41 69, 11 35, 52 57, Diberik ASI Ekslusif Jumlah Sumber: Data Primer, 2020 Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai p= 0. < 0,. , artinya ada hubungan sikap suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun Tabel 9 Hubungan Tindakan Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020 Tind Suam Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Tidak Dilak Juml Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Tidak Diberika n ASI Ekslusif 37 71,2 Diberik ASI Ekslusif 15 28, Jumlah Sumber: Data Primer, 2020 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai p= 001 . < 0,. , artinya ada hubungan tindakan suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020. PEMBAHASAN Umur Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa umur responden mayoritas berumur 20-35 tahun sebanyak 80 orang . ,9%), dan minoritas berumur >35 tahun sebanyak 10 orang . ,1%). Umur merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan baru. Semakin bertambahnya umur seseorang maka semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam hal ini tentang tanda-tanda bahaya kehamilan (Notoatmojo, 2. Hasil penelitian Sahulika, dkk . menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara umur ayah dengan dukungan pemberian ASI pada bayi. Sebagian besar ayah berumur lebih dari >35 tahun . ,5%) pada kelompok ASI eksklusif. ASI ekslusif pada bayi. Semua responden sudah masuk kedalam usia dewasa, yang mana pada usia dewasa manusia bisa berpikir baik untuk melakukan sesuatu, dengan bertambahnya umur akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis. Pendidikan Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa pendidikan responden mayoritas berpendidikan SMP sebanyak 52 orang . ,8%), dan minoritas berpendidikan S-1 sebanyak 12 orang . ,3%). Pendidikan ayah tidak berpengaruh terhadap dukungan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi usia 0-6 bulan. Masih ada bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif dikarenakan tingkat pendidikan ayah yang rendah sehingga tidak mengetahui kepentingan pemberian ASI Eksklusif kepada bayinya (Rahayu, 2. Hasil penelitian ini sama dengan Suhulika . yang menyatakan tingkat pendidikan rendah . ,9%) dan pendidikan tinggo . ,1%). Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru. Pekerjaan Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa pekerjaan responden mayoritas bekerja sebagai petani sebanyak 47 orang . ,3%). Vol. 6 No. 2 Desember 2021 dan minoritas bekerja sebagai PNS sebanyak 5 orang . ,6%). Pekerjaan ayah tidak berpengaruh terhadap dukungan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi usia 0-6 bulan. Masih ada bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif dikarenakan ayah berada di lingkungan publik yang lokasi dan intensitasnya lebih banyak di luar rumah. Sehingga kondisi tersebut dapat tidak memperhatikan tumbuh kembang anaknya (Rahmawati, 2. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Suhulika . diketahui pendidikan dan status pekerjaan ayah tidak berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi, disebabkan karena pendidikan tinggi tidak menjamin ayah mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai ASI yang dapat mendukung ibu untuk menyusui secara eksklusif, karena pendidikan formal tidak memberi ayah informasi dan pengetahuan tentang ASI dan menyusui. Pekerjaan berkaitan dengan aktivitas atau kesibukan. Kesibukan suami akan menyita waktu sehingga pemenuhan dukungan pemberian ASI ekslusif agar ibu menyusui bayinya berkurang (Sumarni, 2. Penghasilan Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa berpenghasilan rendah sebanyak 51 orang . ,7%), dan minoritas berpenghasilan tinggi sebanyak 39 orang . ,3%). Pendapatan penghasilan yang diterima, yang jika dibandingkan dengan pengeluaran,masih memungkinkan ibu memberikan makanan tambahan bagi bayi usia kurang dari 6 bulan. biasanya semakin baik perekonomian keluarga maka daya beli akan makanan tambahan juga mudah. sebaliknya semakin buruk perekonomian keluarga, maka daya beli akan makanan tambahan lebih sukar. Faktor pendapatan sangat mendukung pemberian ASI Eksklusif (Afifah,2. Hasil penelitian sama dengan penelitian Rahayu . tidak terdapat hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Dadok Tunggul Hitam Kecamatan Koto Tangah Kota Padang dari 29 orang yang pendapatan tinggi 21 . ,0%) orang yang memberikan ASI Eksklusif pada bayi nya, sedangkan 23 orang yang pendapatan rendah 13 . ,0%) Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal yang memberikan ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 Keluarga dengan kemampuan ekonomi tinggi, akan memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan kualitas yang baik dan bagus dengan dampak biaya yang lebih mahal. Sedangkan keluarga yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah, tentunya akan menggunakan fasilitas kesehatan sesuai dengan kemampuan ekonominya, sehingga informasi dan fasilitas yang diperoleh pun terbatas (Rahmawati, 2. Suku Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa suku responden mayoritas bersuku batak sebanyak 76 orang . ,4%), dan minoritas bersuku jawa sebanyak 14 orang . ,6%). Manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kebudayaan pada setiap saat dimanapun dia berada. Kebudayaan berperan terhadap perilaku kesehatan individu maupun kelompok masyarakat. Begitupun dengan perilaku pemberian ASI ekslusif yang tidak terlepas dari pandangan budaya yang telah diwariskan turun temurun dalam kebudayaan yang bersangkutan. Umur Bayi Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa umur bayi responden mayoritas umur bayi 5 bulan sebanyak 63 orang . ,0%), dan minoritas umur bayi 2 bulan sebanyak 6 orang . ,7%). Umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun dan semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya (Auliya, 2. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Lidya S dan Rodiah . yang melakukan penelitian tentang hubungan pemberian ASI Eksklusif dengan Tumbuh Kembang pada Anak Usia 3 sampai 6 Bulan di Puskesmas karanganyar yang menunjukkan hasil ada hubungan yang signifikan pemberian ASI eksklusif dengan tumbuh kembang pada anak umur 3 sampai 6 Air Susu Ibu dapat memenuhi semua kebutuhan dasar anak untuk tumbuh dan berkembang, baik kebutuhan fisisbiomedis . , kebutuhan kasih sayang/emosi . , maupun kebutuhan akan stimulasi . Berat Badan Bayi Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa berat badan bayi responden mayoritas berat badan bayi 4,6 kg Ae 7,5 kg sebanyak 76 orang . ,4%), dan minoritas berat Vol. 6 No. 2 Desember 2021 badan bayi 2,5 kg Ae 4,5 kg sebanyak 2 orang . ,2%). Pada usia beberapa hari, berat badan akan mengalami penurunan yang sifatnya normal, yaitu sekitar 10% dari berat badan Hal ini disebabkan karena keluarnya mekonium dan air seni yang belum diimbangi asupan yang mencukupi misalnya produksi ASI yang belum lancar. Umumnya berat badan akan kembali mencapai berat (Soetjiningsih, 2. ASI merupakan makanan utama, terbaik dan alami pertama untuk bayi yang diberikan tanpa makanan sampai usia 6 bulan. Karena didalam ASI terkandung zat-zat kekebalan, anti infeksi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang secara optimal (Harjanto, 2. Tinggi Badan Bayi Responden Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Batang Pane II didapatkan bahwa tinggi badan bayi responden mayoritas tinggi badan 56-65 cm sebanyak 75 orang . ,3%), dan minoritas tinggi badan bayi 65Ae75 cm sebanyak 15 orang . ,7%). Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pemantauan pertumbuhan bayi dapat dilakukan dengan menimbang berat badan, serta mengukur panjang badan dan lingkar kepala bayi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna secara statistik antara rata-rata perubahan panjang badan kelompok neonatus yang diberikan ASI eksklusif dan kelompok neonatus yang diberikan ASI non eksklusif (Rahayu, 2. Pola pemberian makan pada bayi, akan mempengaruhi panjang tungkai yang merupakan komponen utama panjang badan. Ketika bayi, pertumbuhan tungkai bawah lebih cepat dibanding bagian tubuh lainnya sehingga penting untuk memberikan nutrisi terbaik anak sejak bayi. Hubungan Perilaku Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku suami berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif dengan nila p= 0. Pada penelitian ini ditemukan hasil penelitian perilaku suami mayoritas berperilaku baik dukungan pemberian ASI ekslusif sebanyak 22 orang . ,7%), dan minoritas berperilaku kurang dukungan Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal pemberian ASI ekslusif sebanyak 16 orang . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan yang dimiliki oleh suami tentu sejalan dengan perilakunya dalam melakukan dukungan pemberian ASI ekslusif. Dimana walaupun sudah memiliki pengetahuan yang baik mengenai terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif akan tetapi pengetahuan, sikap dan tindakan tersebut belum terwujud dalam perilaku yang baik pula. Pengetahuan tentang ASI ekslusif yang diperoleh suami dapat meningkatkan kesadaran diri yang selanjutnya menimbulkan minat atau sikap yang positif dan seterusnya diikuti dengan komitmen untuk berubah, dengan adanya dukungan yang berkelanjutan dari anggota kelompok suami akan mampu mengadopsi tindakan sehingga menjadi perilaku yang baru. Hubungan Pengetahuan Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan suami berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif dengan nila p= Pada penelitian ini ditemukan hasil berpengetahuan baik dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi sebanyak 18 orang . ,0%), dan minoritas berpengetahuan kurang dukungan pemberian ASI Ekslusif pada bayi sebanyak 3 orang . ,5%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yulia . sebagian besar ayah dan ibu memiliki tingkat pengetahuan ASI yang baik. Hal ini diduga karena sebagian besar akses informasi ayah dan ibu tergolong sedang sehingga mereka mudah dalam memperoleh informasi tentang ASI, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang baik akan berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan pemberian ASI, memiliki hubungan yang baik dengan ibu dan terlibat dalam keharmonisan hubungan pola menyusui tripartit . aitu ayah, ibu dan bay. merupakan ayah yang mendukung praktik pemberian ASI. Hubungan Sikap Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap suami berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif dengan nila p= 0. Pada penelitian ini ditemukan hasil penelitian sikap suami mayoritas bersikap positif dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi sebanyak 20 orang . ,5%), dan minoritas bersikap negatif Vol. 6 No. 2 Desember 2021 dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi sebanyak 18 orang . ,5%). Ayah dengan sikap tentang dukungan pemberian ASI eksluisf yang baik memiliki peranan yang baik . dalam pemberian ASI bagi ibu daripada ayah yang memiliki sikap tentang dukungan pemberian ASI rendah . Hal ini diduga karena sebagian besar tingkat pengetahuan ASI ayah dan ibu adalah baik sehingga mempengaruhi terbentuknya sikap yang baik tentang pemberian ASI pada bayi. Seluruh ayah setuju ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi dan ayah setuju bayi diberi ASI saja selama 6 . bulan (Fartaeni, 2. Hal ini sejalan dengan Roesli . bahwa dalam proses keberlangsungan pemberian ASI ekslkusif selain peranan sikap ibu, ternyata ayah juga mempunyai peran yang sangat menentukan dalam keberhasilan menyusui bagi ibu, karena ayah akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI yang sangat dipengaruhi oleh keadaan atau perasaan ibu. Hubungan Tindakan Suami Terhadap Dukungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Bayi Berdasarkan menunjukkan bahwa tindakan suami berhubungan dengan dukungan pemberian ASI ekslusif dengan nila p= 0. Pada penelitian ini ditemukan hasil penelitian tindakan suami mayoritas bertindak tidka dilakukan dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi sebanyak 23 orang . ,5%), dan minoritas bertindak dilakukan dukungan peberian ASI ekslusif pada bayi sebanyak 15 orang . ,8%). Penelitian ini sejalan dengan dengan Kushawa et al . yang menunjukkan adanya pengaruh pemberian konseling yang dilakukan oleh kelompok pendukung ibu terhadap praktek pemberian ASI ekslusif . = 0,. Ayah yang memiliki sikap positif tetapi gagal dalam dukungan pemberian ASI eksklusif karena adanya tindakan atau dorongan dari orangtua untuk memberikan minuman dan makanan selain ASI sebelum usia bayi 6 bulan KESIMPULAN Dari kesimpulan di atas Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa nilai p= 0. < 0,. , artinya ada hubungan tindakan suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia Indonesian Health Scientifie Journal Batang Pane II Kecamatan Halongonan Timur Kabupaten Paluta Tahun 2020. Disarankan Dapat menambah wawasan peneliti tentang perilaku suami terhadap dukungan pemberian ASI ekslusif pada bayi. Bagi suami yang memiliki bayi <6 bulan sebaiknya memberikan dukungan ASI ekslusif kepada ibu dan bayinya sampai usia 6 bulan, serta menghindari pemberian susu formula dan makanan atau minuman lain selama ASI masih mencukupi kebutuhan bayi. REFERENSI