Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Islamic Religious Education through Inquiry-Based Learning: A Case Study at RA Muslimat NW Sayang Sayang Ana Sukmawati 1. Kusnadi2 1 RA Muslimat NW Sayang Sayang 2 MIS Mathla'ul Huda Bojongkamal legok Correspondence: anasukma1988@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Inquiry-Based Learning. Islamic Religious Education. Classroom Action Research. Early Childhood Education. PAI. Student Engagement ABSTRACT This research aims to explore the implementation of Inquiry-Based Learning (IBL) in improving the understanding of Islamic Religious Education (PAI) at RA Muslimat NW Sayang Sayang. Islamic Religious Education plays a vital role in shaping studentsAo moral and spiritual development, particularly in early childhood education settings. However, traditional teaching methods, which mainly focus on memorization and passive learning, have been shown to limit students' ability to critically engage with religious texts and teachings. In response to this. Inquiry-Based Learning was introduced as a student-centered approach, encouraging students to ask questions, explore, and discover deeper meanings of Islamic This study uses a Classroom Action Research (CAR) design, which consists of two cycles: planning, action, observation, and reflection. The research involves a combination of qualitative and quantitative data, including classroom observations, student interviews, and performance assessments. The study's findings highlight a significant improvement in studentsAo engagement, understanding, and appreciation of Islamic values. Through IBL, students became more active participants in their learning, asking relevant questions, discussing religious concepts, and applying their learning in everyday life. Additionally, teachersAo roles shifted from being sole providers of information to facilitators guiding students through their inquiry process. The study concludes that Inquiry-Based Learning can be an effective method for enhancing the quality of Islamic Religious Education in early childhood settings. It provides students with opportunities to critically engage with religious teachings, fostering both cognitive and spiritual The research also identifies the challenges and strategies for implementing IBL effectively in religious education, offering valuable insights for educators in similar contexts. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan agama Islam merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran di tingkat pendidikan dasar, termasuk di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pembelajaran agama Islam, khususnya terkait dengan Al-QurAoan dan Hadith, memiliki tujuan untuk menanamkan nilainilai moral, spiritual, dan intelektual pada siswa. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran yang berbasis hafalan dan ceramah dinilai kurang memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap ajaran agama (Arlina, 2. Hal ini menjadi tantangan dalam mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai teksteks suci Islam, yang pada gilirannya dapat memengaruhi implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Salah satu pendekatan yang saat ini mendapat perhatian dalam pendidikan agama Islam adalah Inquiry-Based Learning (IBL). IBL merupakan metode pembelajaran yang mengedepankan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar melalui pertanyaan dan eksplorasi yang mendalam (Mansur, 2. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong siswa untuk tidak hanya memahami isi teks agama secara tekstual, tetapi juga menghayati dan mengaitkannya dengan konteks kehidupan mereka. Dalam hal ini. IBL menawarkan ruang bagi siswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam pembelajaran Al-QurAoan dan Hadith, yang pada akhirnya akan meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai agama (Miftahudin, 2. Namun, meskipun IBL menawarkan potensi besar, penerapannya dalam konteks pendidikan agama Islam di madrasah dasar seperti RA Muslimat NW Sayang Sayang belum banyak Banyak guru yang masih terbiasa dengan pendekatan pembelajaran konvensional yang lebih menekankan pada ceramah dan hafalan teks. Oleh karena itu, eksperimen dengan IBL diharapkan dapat membuka jalan bagi inovasi dalam pembelajaran agama Islam yang lebih interaktif, reflektif, dan kontekstual bagi siswa (Fitriyah, 2. Penerapan IBL dalam pendidikan agama Islam di tingkat madrasah dasar menjadi sangat relevan mengingat banyaknya tantangan dalam menjembatani antara teori dan praktik ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dalam konteks ini. IBL tidak hanya membantu siswa memahami teks agama, tetapi juga memberikan mereka ruang untuk mengeksplorasi aplikasi praktis dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka . nztyrk dkk. , 2. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan pembelajaran berbasis inquiry yang mampu mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan mengenai ajaran agama, serta menggali pemahaman lebih dalam tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam Al-QurAoan dan Hadith. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa IBL dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Melalui pendekatan ini, siswa tidak lagi menjadi penerima informasi pasif, melainkan aktif terlibat dalam proses pencarian makna dan refleksi (Sam, 2. madrasah seperti RA Muslimat NW Sayang Sayang, yang memiliki ciri khas dalam mengajarkan nilai-nilai agama Islam kepada anak-anak usia dini, penerapan IBL menjadi salah satu cara untuk merangsang rasa ingin tahu dan rasa tanggung jawab siswa terhadap ajaran agama yang mereka pelajari (Santoso dkk. , 2. Namun, penerapan IBL juga menghadapi tantangan yang signifikan. Salah satunya adalah kesiapan guru untuk beralih dari metode pembelajaran tradisional yang lebih terstruktur ke metode yang lebih terbuka dan berbasis pada pertanyaan (Gholam, 2. Guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang mendukung eksplorasi, sehingga siswa merasa aman dan percaya diri untuk mengajukan pertanyaan yang relevan. Tanpa kesiapan ini. IBL mungkin tidak dapat diterapkan dengan maksimal dan berpotensi membuat siswa merasa kebingungan atau tidak terarah dalam belajar. Selain itu, siswa yang terbiasa dengan metode pembelajaran yang berfokus pada hafalan juga menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan IBL. Proses berpikir kritis yang dituntut dalam IBL, seperti merumuskan pertanyaan atau mencari jawaban atas suatu masalah, mungkin belum menjadi kebiasaan mereka. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dan pembimbingan yang intensif dari guru untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan bertanya yang efektif dalam pembelajaran agama (Arlina, 2. Hal ini juga menunjukkan bahwa implementasi IBL memerlukan kesiapan siswa dalam hal keterampilan berpikir dan pengelolaan diri yang lebih baik. Selain itu, hasil penelitian yang lebih spesifik tentang IBL dalam pembelajaran agama Islam di madrasah dasar masih terbatas. Banyak penelitian yang lebih fokus pada penggunaan IBL dalam konteks pembelajaran sains atau mata pelajaran umum lainnya, sementara penelitian di bidang pendidikan agama Islam masih kurang dieksplorasi secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memberikan kontribusi baru dalam kajian pendidikan agama Islam. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 khususnya terkait dengan penerapan IBL untuk pembelajaran Al-QurAoan dan Hadith (Budi. Penerapan IBL di RA Muslimat NW Sayang Sayang juga dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran agama yang lebih relevan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran agama yang baik seharusnya tidak hanya menekankan pada penguasaan teks, tetapi juga pada pengamalan nilai-nilai yang diajarkan. IBL memberikan peluang bagi siswa untuk tidak hanya menghafal ayat atau hadis, tetapi juga memahami dan mengaitkan nilai-nilai agama dengan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan aplikatif (Yuliana, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan IBL dalam meningkatkan pemahaman Al-QurAoan dan Hadith di RA Muslimat NW Sayang Sayang. Melalui pendekatan ini, diharapkan siswa dapat lebih memahami makna ajaran agama secara kritis dan reflektif, serta mampu mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, pendidikan agama Islam di madrasah dasar dapat menjadi lebih dinamis, bermakna, dan relevan dengan tantangan zaman (Hidayatullah, 2. Salah satu tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauh mana penerapan IBL dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap Al-QurAoan dan Hadith, serta dampaknya terhadap pengembangan karakter dan spiritualitas mereka. IBL yang berfokus pada pertanyaan dan eksplorasi diharapkan dapat memicu rasa ingin tahu siswa, meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran, dan memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran agama Islam (Mansur, 2. Di sisi lain, penelitian ini juga berupaya untuk menggali tantangan yang mungkin dihadapi dalam penerapan IBL dalam konteks pendidikan agama Islam di madrasah dasar. Beberapa tantangan, seperti ketidakmampuan siswa dalam merumuskan pertanyaan atau keterbatasan guru dalam mengelola diskusi berbasis inquiry, perlu menjadi perhatian penting dalam implementasi IBL (Zulfikar, 2. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya akan fokus pada hasil yang dicapai, tetapi juga pada proses perbaikan yang diperlukan agar IBL dapat diterapkan secara lebih efektif dan optimal dalam konteks pembelajaran agama Islam. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengeksplorasi penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap Al-QurAoan dan Hadith di RA Muslimat NW Sayang Sayang. PTK dipilih karena pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui tindakan yang dilakukan dalam siklus berulang yang melibatkan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk secara langsung mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang muncul dalam praktik pembelajaran di kelas (Arlina, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yang masing-masing terdiri dari empat tahapan utama: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahap pertama adalah perencanaan, di mana peneliti bekerja sama dengan guru untuk merancang kegiatan pembelajaran berbasis IBL yang sesuai dengan karakteristik siswa dan tujuan pembelajaran. Pada tahap ini, peneliti merancang strategi pembelajaran yang akan digunakan untuk mendorong siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi makna ajaran Al-Qur'an dan Hadith (Mansur, 2. Pada siklus pertama, tindakan dilakukan dengan mengimplementasikan rencana pembelajaran berbasis IBL. Guru bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam merumuskan pertanyaan, mengeksplorasi jawaban, serta mendiskusikan pemahaman mereka mengenai teksteks agama. Siswa diberi kesempatan untuk aktif terlibat dalam diskusi dan refleksi terhadap ajaran yang dipelajari. Data yang dikumpulkan selama siklus ini mencakup catatan observasi, wawancara dengan siswa dan guru, serta dokumentasi hasil belajar siswa dalam bentuk tugas Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 atau kuis yang dirancang untuk mengukur pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran . nztyrk dkk. , 2. Observasi dilakukan untuk memantau interaksi siswa dan guru selama pembelajaran Catatan lapangan dicatat oleh peneliti untuk mengidentifikasi proses pembelajaran, termasuk bagaimana siswa merespons pertanyaan, bagaimana mereka bekerja dalam kelompok diskusi, dan sejauh mana mereka dapat menghubungkan nilai-nilai agama dengan kehidupan mereka. Selama tahap ini, peneliti juga mencatat tantangan yang dihadapi, baik dari segi keterampilan berpikir kritis siswa maupun cara guru mengelola kelas berbasis inquiry (Sam, 2. Setelah siklus pertama selesai, refleksi dilakukan untuk mengevaluasi hasil pembelajaran dan Refleksi ini melibatkan diskusi antara guru dan peneliti mengenai kelebihan dan kekurangan dari penerapan IBL. Beberapa pertanyaan refleksi yang diajukan antara lain: Apakah siswa lebih terlibat dalam pembelajaran? Apa yang perlu diperbaiki dalam metode bertanya dan diskusi? Apa yang telah berhasil dan apa yang perlu diperbaiki dalam siklus berikutnya? Berdasarkan hasil refleksi, peneliti dan guru merencanakan perbaikan untuk siklus kedua (Fitriyah, 2. Pada siklus kedua, perbaikan yang telah direncanakan diterapkan. Peneliti menyesuaikan pendekatan pembelajaran dan strategi pengajaran berdasarkan temuan dari siklus pertama. Misalnya, guru dapat memberikan lebih banyak waktu bagi siswa untuk merumuskan pertanyaan atau memperkenalkan teknik diskusi yang lebih terstruktur. Peneliti kemudian mengamati dan mencatat bagaimana perubahan ini memengaruhi keterlibatan dan pemahaman Data observasi yang diperoleh pada siklus kedua akan dianalisis untuk melihat apakah ada peningkatan dalam pemahaman dan partisipasi siswa (Hidayatullah, 2. Setelah selesai dengan siklus kedua, dilakukan evaluasi akhir untuk menganalisis hasil yang diperoleh dari penerapan IBL dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadith. Peneliti dan guru bersama-sama mengidentifikasi perubahan yang terjadi, baik dari sisi pemahaman siswa, keterampilan berpikir kritis, maupun penguatan nilai-nilai moral dan spiritual yang terkait dengan ajaran agama. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metode pengajaran agama Islam yang lebih efektif dan relevan di masa depan (Santoso dkk. , 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) di RA Muslimat NW Sayang Sayang, ditemukan bahwa sebagian besar siswa menunjukkan ketertarikan yang lebih tinggi dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadith. Sebelum implementasi IBL, siswa cenderung pasif dan lebih fokus pada hafalan teks tanpa banyak mengajukan pertanyaan atau berdiskusi. Namun, setelah penerapan IBL, mereka lebih sering mengajukan pertanyaan dan terlibat aktif dalam diskusi kelompok. Proses ini membuka peluang bagi siswa untuk lebih mendalami materi, menggali makna dari ajaran Islam, serta melihat relevansi teks-teks suci dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan bahwa IBL berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Mansur, 2. Salah satu temuan penting dalam siklus pertama adalah peningkatan rasa ingin tahu siswa terhadap materi ajaran Islam. Mereka mulai bertanya tentang makna ayat-ayat Al-Qur'an yang sebelumnya tidak mereka pahami dan mencari hubungan antara hadis dengan situasi kehidupan Tindakan ini menandakan bahwa siswa tidak hanya sekadar menghafal, tetapi juga berusaha memahami substansi dan konteks ajaran yang ada. Penerapan IBL telah memberi mereka kesempatan untuk berpikir kritis dan reflektif, yang pada gilirannya memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran agama (Sam, 2. Namun, meskipun banyak siswa mulai terlibat dalam pembelajaran dengan lebih aktif, masih ada beberapa siswa yang kesulitan dalam merumuskan pertanyaan yang tepat. Beberapa dari Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mereka merasa ragu untuk bertanya atau merasa tidak yakin dengan jawaban yang mereka temukan dalam diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun IBL dapat meningkatkan keterlibatan, ada tantangan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Dibutuhkan pembimbingan lebih lanjut agar siswa merasa lebih percaya diri dalam berpartisipasi aktif, terutama dalam merumuskan pertanyaan yang mendalam dan relevan (Fitriyah, 2. Kendala lain yang dihadapi selama siklus pertama adalah manajemen waktu. Pembelajaran berbasis IBL, yang mengutamakan diskusi dan eksplorasi mendalam, membutuhkan waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional yang lebih fokus pada pengajaran langsung. Beberapa topik memerlukan waktu lebih banyak untuk dibahas, dan dalam beberapa sesi, siswa belum dapat menyelesaikan seluruh pembelajaran yang Oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan waktu yang dialokasikan untuk setiap kegiatan pembelajaran agar proses diskusi tidak terburu-buru dan tetap memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi pemahaman mereka (Gholam, 2. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan berdasarkan refleksi siklus pertama, di mana guru memberikan lebih banyak waktu bagi siswa untuk merumuskan pertanyaan dan mendiskusikan Penerapan perbaikan ini terlihat dalam peningkatan kualitas pertanyaan yang diajukan oleh siswa. Mereka mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam mengenai makna ajaran Islam, bukan sekadar mengulangi pemahaman dari teks yang diajarkan. Siswa juga terlihat lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat dan menyimak penjelasan temanteman mereka, yang menunjukkan bahwa mereka semakin terbiasa dengan pendekatan berbasis inquiry . nztyrk dkk. , 2. Meskipun terdapat peningkatan dalam partisipasi siswa, tantangan dalam hal pengelolaan diskusi kelompok masih tetap ada. Beberapa siswa cenderung mendominasi percakapan, sementara siswa lain lebih pasif. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu menerapkan strategi pengelolaan kelas yang lebih efektif, seperti membagi siswa ke dalam kelompok yang lebih kecil dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap siswa untuk berbicara. Hal ini penting agar setiap siswa merasa didengar dan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pemahaman mereka, sehingga pembelajaran berbasis diskusi dapat berjalan lebih seimbang (Arlina, 2. Selain tantangan dalam pengelolaan waktu dan diskusi, siklus kedua juga menunjukkan bahwa IBL dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengaitkan ajaran Islam dengan kehidupan Dalam diskusi, banyak siswa yang mulai menghubungkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Hadith dengan perilaku sehari-hari, seperti bagaimana mereka berinteraksi dengan temanteman dan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa IBL tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif, tetapi juga membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka, yang merupakan salah satu tujuan utama pendidikan agama Islam (Hidayatullah. Salah satu temuan positif yang lebih mencolok pada siklus kedua adalah peningkatan sikap religius siswa. Setelah terlibat aktif dalam pembelajaran berbasis IBL, siswa tidak hanya menunjukkan peningkatan dalam pemahaman materi, tetapi juga dalam sikap mereka terhadap ajaran agama. Mereka menjadi lebih terbuka terhadap ajaran agama dan lebih sering berdiskusi tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadith. Sikap ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis inquiry dapat memperdalam kesadaran spiritual siswa (Santoso , 2. Namun, meskipun terdapat perbaikan dalam pemahaman dan sikap siswa, masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal evaluasi. Evaluasi yang dilakukan selama siklus pertama dan kedua lebih berfokus pada hasil belajar kognitif, sementara aspek afektif dan spiritual belum sepenuhnya tercakup. Oleh karena itu, evaluasi yang lebih holistik, yang melibatkan pengukuran sikap dan nilai-nilai agama siswa, perlu diterapkan agar dapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang dampak IBL dalam pembelajaran agama Islam (Yuliana, 2. Secara keseluruhan, temuan dari siklus pertama dan kedua menunjukkan bahwa IBL memiliki potensi besar dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap Al-Qur'an dan Hadith. Pembelajaran berbasis pertanyaan dan diskusi memungkinkan siswa untuk berpikir lebih kritis, mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam, dan mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari mereka. Meskipun ada beberapa tantangan dalam penerapan IBL, perbaikan yang dilakukan antara siklus pertama dan kedua menunjukkan bahwa model ini efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran agama Islam (Zulfikar, 2. Namun, untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh, diperlukan dukungan lebih lanjut bagi guru dalam mengelola kelas berbasis inquiry. Guru perlu dilatih lebih lanjut dalam menerapkan strategi IBL yang efektif, termasuk dalam merancang pertanyaan yang dapat memicu diskusi yang lebih mendalam dan memberikan kesempatan bagi semua siswa untuk berpartisipasi aktif. Dukungan ini penting agar IBL dapat diterapkan secara maksimal dan memberikan hasil yang lebih optimal bagi siswa (Miftahudin, 2. Evaluasi akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan IBL di RA Muslimat NW Sayang Sayang berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap Al-Qur'an dan Hadith. Meskipun terdapat beberapa tantangan, seperti pengelolaan waktu dan diskusi, hasil akhir menunjukkan bahwa IBL dapat meningkatkan kualitas pembelajaran agama Islam secara Selain itu, penerapan IBL juga memberikan dampak positif terhadap sikap religius siswa, yang lebih menghayati ajaran agama dalam kehidupan mereka (Gholam, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti bahwa IBL dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran agama Islam, terutama dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks-teks suci dan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi sekolah-sekolah dan madrasah lain yang ingin mengadopsi pendekatan pembelajaran berbasis inquiry untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam (Mansur. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RA Muslimat NW Sayang Sayang mengenai penerapan Inquiry-Based Learning (IBL) dalam pembelajaran Al-QurAoan dan Hadith, dapat disimpulkan bahwa pendekatan IBL efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi agama. Selama dua siklus penelitian, terlihat bahwa IBL dapat meningkatkan keterlibatan siswa, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Penerapan IBL juga membantu siswa untuk tidak hanya menghafal teks, tetapi untuk memahami dan mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari mereka, yang merupakan tujuan utama pendidikan agama Islam. Pada siklus pertama, meskipun banyak siswa yang mulai terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran, masih terdapat tantangan dalam hal pengembangan keterampilan berpikir kritis dan merumuskan pertanyaan. Beberapa siswa merasa ragu dan kesulitan dalam mengajukan pertanyaan yang mendalam. Meskipun demikian, setelah penerapan IBL, sebagian besar siswa menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap materi yang diajarkan dan mulai mengaitkan nilai-nilai agama dengan situasi sehari-hari mereka. Hal ini menunjukkan bahwa IBL berhasil membuka ruang bagi siswa untuk berpikir lebih kritis dan reflektif terhadap ajaran Islam. Selama siklus kedua, perbaikan dilakukan berdasarkan hasil refleksi siklus pertama, terutama dalam memberikan lebih banyak waktu bagi siswa untuk merumuskan pertanyaan dan memperjelas tujuan diskusi. Perubahan ini membawa hasil yang positif, di mana siswa menunjukkan peningkatan dalam kualitas pertanyaan yang diajukan dan diskusi yang lebih Selain itu, siswa mulai merasa lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dan menjelaskan pemahaman mereka. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis inquiry tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif tetapi juga membantu siswa untuk mengembangkan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi. Namun, terdapat tantangan yang masih perlu diatasi, terutama terkait dengan pengelolaan diskusi kelompok. Beberapa siswa masih mendominasi percakapan, sementara siswa lain lebih cenderung pasif. Pengelolaan waktu juga menjadi tantangan, karena pembelajaran berbasis IBL membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diskusi dan eksplorasi. Guru perlu menyesuaikan manajemen kelas dan waktu agar setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pembelajaran. Penerapan IBL juga membawa dampak positif pada sikap religius siswa. Setelah terlibat aktif dalam pembelajaran berbasis inquiry, banyak siswa yang lebih mendalami ajaran agama dan mengaitkannya dengan nilai-nilai moral yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada pengetahuan kognitif saja, tetapi juga mencakup dimensi afektif dan spiritual. Siswa mulai menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap ajaran agama dan lebih sering berdiskusi tentang cara-cara mereka dapat mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, penerapan IBL dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadith di RA Muslimat NW Sayang Sayang terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman agama siswa. Meskipun tantangan dalam pengelolaan waktu dan diskusi masih ada, perbaikan yang dilakukan antara siklus pertama dan kedua menunjukkan bahwa IBL dapat meningkatkan kualitas pembelajaran agama secara signifikan. Dengan adanya kesempatan bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi pemahaman mereka. IBL tidak hanya memperdalam pemahaman kognitif mereka terhadap teks-teks agama, tetapi juga membantu mereka mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa IBL memiliki potensi untuk diimplementasikan lebih luas dalam pendidikan agama Islam, terutama di madrasah dasar. Dengan pembimbingan yang tepat dari guru. IBL dapat menjadi metode yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama, memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, dan membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam mengenai ajaran Islam. Ke depan, diperlukan pelatihan lebih lanjut bagi guru untuk memaksimalkan penggunaan IBL dalam pembelajaran agama, serta evaluasi berkelanjutan untuk memastikan bahwa metode ini dapat diadaptasi dengan baik di berbagai konteks pendidikan agama lainnya. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES