Volume 8 | Nomor 2 | Tahun 2025 | Halaman 551Ai558 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1189 Digitalisasi dan bahasa Indonesia: Tantangan melestarikan bahasa Indonesia pada era globalisasi di sekolah dasar Digitalization and the Indonesian language: Challenges in preserving the Indonesian language in the era of globalization in elementary schools Arindra Ikhwan Nur Huda1,*. Ana Fitrotun Nisa2, & Akbar Al Masjid3 1,2,3 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jalan Batikan. Yogyakarta. Indonesia Email: arindra085017@ustjogja. Orcid: https://orcid. org/0009-0003-8495-2016 Email: ananisa@ymail. Orcid: https://orcid. org/0000-0002-3912-4962 Email: almasjida@ustjogja. Orcid: https://orcid. org/0000-0003-3585-5263 Article History Received 13 January 2025 Revised 15 April 2025 Accepted 4 May 2025 Published 17 June 2025 Keywords role of parents. preservation of the Indonesian language. Kata Kunci peran orang tua. bahasa Indonesia. sekolah dasar. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract The era globalization has an impact on culture, especially on use of the Indonesian language, particularly among students. Ease of accessing information and interacting with foreign cultures through the internet and social media often encourages use of foreign languages or mixed languages in daily communication. This phenomenon can erode the proper and correct use of Indonesian language, even potentially shifting the preference Indonesian as the primary language and identity. The purpose of this article is to preserve use of the Indonesian language among students. Eight from Kayumas 2 elementary school participated in this research. Furthermore, the data collection techniques involved interviews and active participation Then, data analysis of this research includes data reduction, data presentation, and data conclusion drawing. The findings of this study indicate that parental involvement plays important role in maintaining studentsAo interest in using Indonesian language. Therefore, this research aims to identify specific challenges faced in preserving Indonesian language, as well as the innovative strategies implemented by teachers in facing this era globalization. The research results are expected to provide insights into efforts to preserve Indonesian language at school level and implications for character formation and national identity among students at Kayumas 2 elementary school. Abstrak Era globalisasi memiliki dampak pada budaya khususnya pada penggunaan Bahasa Indonesia terutama bagi peserta didik SD. Kemudahan akses informasi dan interaksi dengan budaya asing melalui internet dan media sosial sering kali mendorong penggunaan bahasa asing atau campuran bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Fenomena ini dapat mengikis penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan berpotensi menggeser preferensi terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan identitas nasional. Tujuan penyusunan artikel ini sebagai upaya melestarikan penggunaan Bahasa Indonesia pada peserta didik SD. Adapun 8 peserta didik dan 8 kelas IV SDN 2 Kayumas menjadi partisipan dalam penelitian ini. Lebih lanjut teknik pengumpulan data ini dengan melalui wawancara, observasi partisipasi aktif. Kemudian analisis data penelitian ini meliputi reduksi data, menampilkan data, dan penarikan kesimpulan data. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki peranan penting dalam mempertahankan minat peserta didik terhadap penggunaan bahasa Indonesia, sehingga penelitian ini berupaya mengidentifikasi tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi dalam melestarikan Bahasa Indonesia, serta strategi-strategi inovatif yang diterapkan guru dalam menghadapi era globalisasi ini. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai upaya pelestarian Bahasa Indonesia di tingkat pendidikan dasar dan implikasinya terhadap pembentukan karakter serta identitas nasional peserta didik kelas IV di SDN 2 Kayumas. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Huda. Nisa. , & Masjid. Digitalisasi dan bahasa Indonesia: Tantangan melestarikan bahasa Indonesia pada era globalisasi di sekolah dasar. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 551Ae558. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Arindra Ikhwan Nur Huda. Ana Fitrotun Nisa, & Akbar Al Masjid Pendahuluan Digitalisasi merupakan suatu proses yang mengacu pada kemajuan teknologi dan komunikasi. Perubahan yang terjadi mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap interaksi serta Digitalisasi yang saat ini berkembang pada internet, seperti platform media sosial dan pesan instan, memberikan dampak signifikan pada pola penggunaan bahasa pada kalangan anakanak dan remaja. Pada lingkup pendidikan, digitalisasi merupakan upaya transformasi teknologi yang membawa inovasi modern dalam sistem pendidikan, termasuk metode pembelajaran, kurikulum, dan sistem manajemen sekolah (Cristiana, 2021. Muchson & Widyartono, 2. Dewasa ini, kemajuan teknologi sangat mempengaruhi inovasi di bidang pendidikan pada kehidupan sehari-hari. Digitalisasi pendidikan membantu pemerataan pendidikan di wilayah terluar, tertinggal, dan terpencil. Digitalisasi pendidikan berdampak pada akses yang mudah ke berbagai platform digital. Era globalisasi telah mengubah cara pandang serta memberikan pengaruh hidup pada interaksi dengan sesama manusia di seluruh dunia. Pandangan mengenai globalisasi merupakan suatu proses asimilasi, di mana proses bercampurnya suatu budaya yang berasal dari pemikiran luar masuk ke dalam negeri. Dampak dari globalisasi ini juga memengaruhi beberapa aspek, di antaranya: politik, ideologi, ekonomi, budaya, dan terutama pendidikan. Pada bidang pendidikan, diharapkan mampu memberi manfaat positif yang tersebar di seluruh dunia (Saodah et al. , 2020. Ramadhan et al. , 2. Perkembangan bidang pendidikan diharapkan mampu memberi manfaat positif yang tersebar di seluruh dunia. Perubahan pendidikan di era globalisasi menuntut seorang guru harus mampu memainkan peran ganda sekaligus (Winata et al. , 2. Pertama, guru harus mampu mendidik individu berkualitas tinggi dan mengoperasikan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk membuat peserta didik bertindak sesuai moral yang baik serta kapasitas mental yang luas. Kedua, peserta didik mampu memiliki kapasitas mental yang kuat dan bermoral tinggi. Selain itu, guru mampu mengajarkan peserta didik untuk dapat melakukan seleksi terhadap budaya asing dan mengamalkan ilmu pengetahuan di masyarakat. Peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda, pada butir ketiga, menyatakan, "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan. Bahasa Indonesia. " Pernyataan ini merefleksikan persetujuan dan komitmen seluruh warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dalam berinteraksi. Bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi, dan salah satu muatan pembelajaran dapat berfungsi sebagai simbol identitas serta memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan sikap (Agustin et al. , 2021. Ali. Pentingnya mempelajari bahasa Indonesia di semua tingkat pendidikan karena diharapkan peserta didik termotivasi untuk belajar dengan apa yang dipelajari. Kemudian, nilai-nilai positif pada bahasa Indonesia dapat tersampaikan dan bermanfaat di masa depan. Pembelajaran bahasa Indonesia memuat sikap dan keterampilan yang menunjang peserta didik untuk memperoleh keterampilan pendidikan internasional berupa 4R, yaitu membaca, menulis, menghitung, dan menalar pada pembelajaran (Fithriyah & Isma, 2. Para milenial dan zilenial saat ini lebih tertarik menggunakan bahasa Inggris di tengah digitalisasi (Khansa, 2. Bahasa Inggris tersebut memberikan kemudahan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang dari mancanegara. Selain itu, bahasa yang digunakan untuk bermain game online adalah bahasa Inggris, sehingga generasi milenial dan zilenial lebih tertarik untuk belajar bahasa asing tersebut. Akibatnya, bahasa Indonesia menjadi kurang penting sebagai bahasa nasional. Sejalan dengan pendapat sebelumnya, adanya globalisasi pada aspek penggunaan bahasa Indonesia terlihat pada banyak peserta didik di Indonesia berbicara dalam bahasa asing atau bahasa gaul setiap hari (Julianty, 2022. Sihombing et al. , 2. Beberapa peserta didik menggunakan bahasa Indonesia, namun makna yang dimiliki mengalami pergeseran. Sebenarnya, globalisasi memberikan manfaat nilai positif yang dapat kita maksimalkan. Namun, tetap terdapat dampak buruk seperti mengikisnya identitas nasional. Beberapa peserta didik lebih memilih menggunakan bahasa gaul atau bahasa asing dalam percakapan. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 551Ai558 Digitalisasi dan bahasa Indonesia: Tantangan melestarikan bahasa Indonesia pada era globalisasi di sekolah dasar Kemudian, ditemukan permasalahan pada aktivitas di lingkungan sekolah yang mengakibatkan kurangnya minat peserta didik dalam penggunaan bahasa Indonesia. Salah satu temuan di lapangan, ada peserta didik lebih menyukai tontonan televisi yang menggunakan bahasa asing. Hal tersebut berdampak pada penggunaan bahasa asing dalam keseharian peserta didik yang meniru tontonan televisi. Misalnya, peserta didik kelas IV mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu setelah menonton serial Upin & Ipin. Pada saat bermain game online, peserta didik lebih senang menggunakan bahasa asing. Hal tersebut terbawa pada pembicaraan yang digunakan dengan teman-teman sebayanya. Akibat yang ditimbulkan dari penurunan penggunaan bahasa Indonesia, di antaranya: pemahaman bahasa Indonesia yang benar dan baik akan menurun, mulai hilangnya rasa cinta akan tanah air, dan bahasa akan dipandang rendah oleh masyarakat (Saragih K, 2. Masyarakat akan lebih tertarik pada budaya asing daripada budaya dan tradisi asli Indonesia, yang mengakibatkan penurunan eksistensi bahasa Indonesia. Diketahui lebih lanjut, penurunan minat belajar bahasa Indonesia membuat beberapa orang meneliti permasalahan tersebut. Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu harus dibangun dan dikembangkan dengan salah satu upaya peningkatan kemampuan dalam menggunakan bahasa Indonesia (Marsudi & Zahrok, 2. Penggunaan bahasa asing dianggap lebih modern dan Hal tersebut yang menjadi minat anak-anak milenial dalam mempelajari bahasa asing (Rahmawati et al. , 2. Sebagai warga Indonesia yang berbudi luhur, kita harus melestarikan dengan menggunakan bahasa yang tepat dan benar. Apabila pergeseran dalam bahasa Indonesia dengan bahasa asing ini dibiarkan berlarut-larut, akan mengakibatkan penggunaan bahasa Indonesia luntur. Hal tersebut disebabkan adanya digitalisasi bahasa asing yang semakin meningkat. Untuk mencegah hal tersebut, penting bagi masyarakat, terutama peserta didik, untuk memahami bahasa Indonesia sejak dini. Dalam era globalisasi, dampak bahasa asing terhadap bahasa Indonesia sendiri menjadi ancaman. Salah satunya masih kurangnya minat dan kebanggaan peserta didik terhadap bahasa Indonesia. Peserta didik menganggap bahasa Indonesia kurang menarik atau ketinggalan zaman dibandingkan dengan bahasa asing yang diasosiasikan dengan modernitas dan teknologi. Tujuan pembuatan artikel ini adalah untuk melestarikan penggunaan bahasa Indonesia pada peserta didik sekolah Pelestarian penggunaan bahasa Indonesia dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah, berkolaborasi dengan pihak terkait seperti kepala sekolah, guru, dan orang tua. Salah satunya dengan cara menciptakan sudut-sudut di kelas atau perpustakaan yang menampilkan karya sastra anak-anak Indonesia, kamus bergambar, dan materi-materi menarik lainnya tentang bahasa Indonesia. Berkolaborasi dengan orang tua dalam mendukung pelestarian bahasa Indonesia di rumah, misalnya dengan membacakan buku berbahasa Indonesia, mendorong penggunaan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, dan membatasi paparan konten berbahasa asing. Metode Penelitian ini disusun dengan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi, yang berfokus pada pandangan objektif partisipan terhadap fenomena yang diangkat. Metode penelitian kualitatif deskriptif memiliki ciri menggali informasi sedalam-dalamnya dan fokus pada suatu permasalahan tertentu secara objektif, tidak terlalu dipengaruhi oleh seberapa banyak narasumber yang terlibat, tetapi oleh seberapa baik peneliti mendapatkan informasi khusus dari narasumber yang dipilih (Fiantika et al. , 2. Sementara itu, pendekatan fenomenologi menurut Fiantika merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mempelajari dan memahami secara menyeluruh pengalaman orang yang diteliti, kemudian memandang teori sebagai hasil induksi dari pengamatan terhadap fakta atau pengumpulan informasi. Jadi, penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi disusun untuk mendapatkan pemahaman mendalam suatu fenomena atau konsep. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kayumas. Kecamatan Jatinom. Kabupaten Klaten, pada semester gasal Tahun Pembelajaran 2024/2025. Objek penelitian ini adalah peserta didik kelas IV berjumlah 8 anak. Kemudian, subjek penelitian ini adalah wali murid peserta didik yang nantinya sebagai narasumber. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 551Ai558 Arindra Ikhwan Nur Huda. Ana Fitrotun Nisa, & Akbar Al Masjid Penelitian ini didasarkan pada fenomena adanya pergeseran penggunaan bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari yang tergantikan dengan bahasa asing. Tujuan penelitian ini berupaya untuk melestarikan bahasa Indonesia di era globalisasi. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi dan wawancara. Lembar observasi dan wawancara telah tervalidasi secara konten oleh ahli. Lembar observasi diberikan kepada orang tua peserta didik, digunakan untuk mendapatkan data terkait pengalaman wali murid dalam mendampingi peserta didik pada saat di Selain itu, lembar observasi digunakan guru untuk mengetahui aktivitas kebahasaan peserta didik di sekolah. Lembar wawancara digunakan untuk mengetahui upaya pelestarian bahasa Indonesia dan mendapatkan informasi lebih akurat tentang rancangan perbaikan bersama. Data yang telah tersusun akan dilanjutkan dengan langkah menganalisis data. Pada tahap ini, data berupa hasil observasi dan pengamatan diubah menjadi sebuah narasi yang menjelaskan data (Sofwatillah et al. , 2. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan metode triangulasi sumber. Metode triangulasi sumber bertujuan memverifikasi data dengan mengumpulkan informasi dari wawancara sebelumnya. Sementara itu, triangulasi metode memverifikasi data dengan menggunakan lebih dari satu teknik analisis. Analisis data yang digunakan terdiri dari tiga tahap, yaitu reduksi data, menampilkan data, dan penarikan kesimpulan Pembahasan Orang tua sebagai subjek atau narasumber menjadikan fokus penelitian ini terhadap pelestarian penggunaan bahasa Indonesia di era digitalisasi. Pelaksanaan wawancara bersama orang tua peserta didik lainnya, pada penelitian ini ditemukan jawaban mengenai pendampingan peserta didik oleh orang tua. Upaya melestarikan bahasa Indonesia di era digitalisasi pada peserta Pada pertanyaan wawancara yang disusun dan disiapkan, salah satunya tentang bagaimana pendampingan peserta didik selama di rumah oleh orang tua. Hal tersebut digunakan untuk mengetahui apakah peserta didik dalam kesehariannya memperhatikan aktivitas kebahasaan orang Orang tua memiliki peranan utama dalam aktivitas kebahasaan peserta didik, di mana peserta didik cenderung meniru apa yang dikatakan orang tua. Selanjutnya, orang tua merupakan guru pertama bagi anak sehingga dalam bertingkah laku maupun pendampingan anak selama di rumah dapat mempererat hubungan orang tua dengan anak. Sikap dan pola tingkah laku yang dilakukan peserta didik mampu diberikan oleh orang tua (Fajriati et al. , 2022. Miftakhi & Aridansah, 2. Tingkah laku berbahasa orang tua secara langsung membentuk fondasi kemampuan komunikasi dan kebahasaan anak di masa depan. Orang tua, sebagai yang bertanggung jawab pada pendampingan belajar anak, memiliki pengaruh ke depannya sangat besar, dan lingkungan keluarga memiliki faktor yang besar pada perkembangan seorang anak, serta sikap atau pertumbuhan yang dibentuk pada anak merupakan hasil yang ditiru atau diperhatikan. Pendampingan pembelajaran peserta didik oleh orang tua penting ketika anak-anak tidak tahu jawaban dari pertanyaan soal, maka di situ perlunya peran orang tua dalam memberi mereka Orang tua juga diharapkan mampu menyediakan fasilitas untuk mengatasi masalah belajar (Green et al. , 2. Selanjutnya, anak-anak akan merasa diperhatikan dan senang apabila dalam pembelajaran ada kerja sama orang tua dan anak yang akan menjadi inspirasi. Ini akan memastikan bahwa hasil belajar mereka akan terus meningkat. Pada pembahasan selanjutnya tentang adanya pembatasan penggunaan gawai pada anak, hal tersebut dilaksanakan dengan harapan untuk menetapkan pola khusus pada penggunaannya dan mendorong peserta didik untuk dapat beraktivitas lain yang lebih produktif. Pada penelitian sebelumnya, membatasi penggunaan gawai terhadap peserta didik dapat berdampak pada aktivitas yang lebih positif berupa tidak adanya kecanduan peserta didik pada gawai menjadi baik, meningkatnya rasa hormat kepada orang tua karena kontrol dan pengawasan pada penggunaan gawai, serta keluarga menjadi lebih harmonis karena saat proses belajar di rumah menjadi lebih menyenangkan dan bijak pada penggunaan gawai (Rahmawati & Sujarwo, 2. Peran penting Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 551Ai558 Digitalisasi dan bahasa Indonesia: Tantangan melestarikan bahasa Indonesia pada era globalisasi di sekolah dasar dipegang oleh orang tua dalam mendidik, mengawasi, dan membimbing anak-anak tentang penggunaan perangkat elektronik (Asmawati, 2. , supaya ke depannya anak tidak menyalahgunakannya untuk hal lain. Hal tersebut juga sejalan dengan kepedulian orang tua terhadap anak. Respons dari orang tua lain dalam mendampingi anak selama di rumah mengatakan belum terlaksana secara maksimal, hal tersebut diketahui karena beberapa dari orang tua masih memiliki kesibukan dalam bekerja. Hal tersebut yang menjadikan anak-anak harus dibawa ke lembaga pendidikan supaya mereka dapat belajar. Dipertegas oleh pendapat yang sama dari Hasgimianti . tentang tugas orang tua dalam mendampingi anak menjawab dari pertanyaan soal. hal ini menunjukkan orang tua diharapkan selalu memberi arahan. Orang tua juga membantu menyediakan fasilitas dan mencegah masalah belajar. Selanjutnya, pembahasan pada kegiatan sesi wawancara memuat pertanyaan sebagai upaya melestarikan minat penggunaan bahasa Indonesia dengan meningkatkan minat baca. Salah satu upaya berikut disusun dengan harapan peserta didik di kelas mengalami perubahan dalam minat belajar bahasa Indonesia yang meningkat. Diungkapkan oleh Rahmawati & Sujarwo . bahwa pada penelitiannya mengenai minat baca dilaksanakan dengan cara mengadakan literasi menggunakan metode yang variatif. Hal lain yang perlu disiapkan sebelum pelaksanaan adalah melaksanakan sosialisasi terhadap wali murid dan penambahan sarana dan pengadaan buku yang menarik, di antaranya: buku cerita rakyat, dongeng, fabel, dan mite. Penelitian ini mendapat hasil peningkatan pembelajaran, meningkatkan minat peserta didik dalam membaca. Kemudian, jawaban dari informan saat wawancara mengungkapkan bahwa sangat senang dan mendukung dengan penerapan kegiatan tersebut. Pada wawancara yang sudah dilaksanakan dan pembahasan lebih jauh diungkapkan kendala yang dialami oleh salah satu partisipan tentang faktor ekonomi yang dialami setiap keluarga Terdapat beberapa wali murid mengungkapkan bahwa dalam memberikan fasilitas belajar yang memadai belum maksimal. Beberapa orang tua mengungkapkan bahwa membimbing anak dalam pembelajaran merupakan tanggung jawab dari seorang guru dan sekolah. Sehingga, wali murid belum sepenuhnya mendampingi serta dalam melestarikan penggunaan bahasa Indonesia. Peran orang tua dalam bertanggung jawab dan membantu, membimbing, dan mengarahkan anak-anak mereka pada proses pembelajaran mampu menjadi bukti keberhasilan dalam tugas yang diberikan oleh guru untuk menyelesaikan masalah dengan tepat oleh (Sari et al. Pada pembahasan wawancara selanjutnya, wali murid peserta didik mengaku menemukan kendala bahwa lingkungan sekitar tempat mereka tinggal memungkinkan anak menginginkan untuk terus bermain dengan teman-temannya sehingga proses pembelajaran menjadi Penjabaran tentang lingkungan tempat tinggal dalam memengaruhi aktivitas peserta didik, hal tersebut terjadi apabila dalam praktiknya orang tua memberikan pola asuh memiliki demokratisasi yang tinggi. Kemudian, hal tersebut akan berbalik apabila pola asuh orang tua yang minim dalam menerapkan kedisiplinan dan dorongan dalam mencapai hasil belajar peserta didik (Kusumawati, 2. Hasil observasi terhadap interaksi dan penggunaan bahasa peserta didik selama di lingkungan sekolah dan interaksi informal. Terpantau terdapat tantangan dalam penggunaan bahasa Indonesia di era globalisasi. Hasil yang ditemui adalah: Beberapa peserta didik terlihat menggunakan kosakata Melayu. Contohnya, sering terdengar kata Aubetul, betul, betul,Ay Auih, ih, ih,Ay atau sapaan AuKak RosAy saat berinteraksi dengan teman yang lebih tua. Konteks penggunaannya seringkali tidak tepat dalam percakapan sehari-hari antar teman sebaya yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian, permasalahan lain yang ditemui tentang pengaruh gim Mobile Legends terlihat sangat kuat dalam penggunaan istilah-istilah berbahasa Inggris. Peserta didik sering menggunakan kata-kata seperti Auattack,Ay Audefense,Ay Aukill,Ay Auman down,Ay Aulegendary,Ay bahkan dalam percakapan di luar konteks gim. Penggunaan ini seringkali tanpa pemahaman yang mendalam tentang artinya dan menggeser penggunaan padanan kata dalam bahasa Indonesia. Kemudian, peserta didik juga terpantau menggunakan singkatan dan akronim yang umum dalam komunitas pemain gim, seperti AuGGAy (Good Gam. AuNoobAy . emain baru atau kurang Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 551Ai558 Arindra Ikhwan Nur Huda. Ana Fitrotun Nisa, & Akbar Al Masjid mahi. , yang kemudian terbawa ke dalam percakapan sehari-hari. Saat berada di sekolah, peserta didik berinteraksi informal dengan teman. Salah satu peserta didik A beberapa kali menggunakan singkatan seperti AuygAy . AubgtAy . , dan AugkAy . Serta, saat berinteraksi dengan teman sebangkunya, peserta didik C terdengar menggunakan kata AusorryAy dan AuthanksAy sesekali. Observasi ini menunjukkan bahwa paparan media global, khususnya film animasi populer, permainan daring, dan bahasa gaul memberikan pengaruh besar terhadap penggunaan bahasa peserta didik kelas IV SD. Meskipun film Upin Ipin mengenalkan kosakata Melayu, kata-kata tersebut sering kali digunakan secara tidak sesuai konteks. Sementara itu, dalam gim Mobile Legends, secara kuat mendorong anak-anak untuk menggunakan istilah asing dan singkatan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari. Sebagai upaya mendalam terhadap interaksi dan praktik berbahasa yang ditunjukkan oleh peserta didik dan guru saat di lingkungan Sekolah Dasar (SD) dan peran orang tua saat berada di rumah. Pada konteks era globalisasi, teks ini mengungkapkan peran krusial keduanya dalam pelestarian bahasa Indonesia. Solusi yang dirancang untuk memberdayakan kedua pihak secara sinergis: Membiasakan berbicara dalam bahasa Indonesia dalam keluarga, membaca buku dalam bahasa Indonesia, menceritakan kisah-kisah tentang budaya lokal, dan membatasi paparan konten berbahasa asing tanpa pendampingan dan diskusi. Langkah selanjutnya dengan menonton tayangan berkualitas tinggi dalam bahasa Indonesia, berbicara tentang istilah asing baru-baru ini, dan mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Kemudian, mengajak orang tua untuk membatasi waktu penggunaan gawai dan mendorong aktivitas berbahasa Indonesia lainnya. Untuk menghasilkan data yang lebih baik, perlu adanya kerja sama dengan orang tua dan guru, penting untuk memiliki pemahaman yang kuat dan pesan yang konsisten tentang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kemudian, menyusun jadwal sesi membaca terstruktur di pojok baca dengan tema tertentu. Guru dapat membacakan cerita pendek, memimpin diskusi tentang isi buku, atau memberikan tugas sederhana terkait pemahaman bacaan. Diketahui dari beberapa program dalam perbaikan, peran orang tualah yang memiliki andil besar dalam meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia. Peran orang tua dan guru memiliki partisipasi besar dalam mendampingi perkembangan anakanak mereka dengan memberikan arahan dan mengatur pola penggunaan gawai dengan tepat. Kemudian, dalam pembelajaran, apresiasi dari orang tua ketika anak mendapatkan hasil yang diterima orang tua seharusnya perlu diberikan sebagai dukungan. Pada peningkatan literasi pada program pojok baca dan bercerita yang sudah diterapkan, mendapatkan antusiasme peserta didik dalam penggunaan bahasa Indonesia mengalami peningkatan. Mengingat hasil yang telah didapat, wali murid melakukan pekerjaan yang sangat penting untuk membantu anak-anak, karena mereka dapat memengaruhi dan membantu anak-anak dengan bermain. Penutup Penelitian ini telah mengungkap secara mendalam pengalaman subjektif wali murid dan peserta didik SD terkait tantangan pelestarian bahasa Indonesia di era digital dan globalisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi dan globalisasi menghadirkan pandangan baru dalam penggunaan bahasa, di mana peserta didik terpapar pada beragam pengaruh bahasa asing dan gaya komunikasi digital yang sering kali berbeda dengan kaidah bahasa Indonesia Pengalaman guru mengindikasikan adanya kekhawatiran terhadap potensi erosi nilai-nilai bahasa Indonesia dan menurunnya kemampuan berbahasa peserta didik. Mereka merasakan adanya tekanan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi sambil tetap berupaya menanamkan kecintaan dan pemahaman yang baik terhadap bahasa Indonesia. Dari perspektif peserta didik, digitalisasi menawarkan kemudahan dan daya tarik dalam berkomunikasi dan mengakses informasi, namun di sisi lain, sering kali menempatkan bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua setelah bahasa pergaulan digital atau bahasa asing yang dianggap lebih trendi. Pengalaman mereka menunjukkan adanya percampuran bahasa dan penggunaan singkatan atau bahasa gaul digital yang semakin meluas, bahkan dalam konteks yang seharusnya Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 551Ai558 Digitalisasi dan bahasa Indonesia: Tantangan melestarikan bahasa Indonesia pada era globalisasi di sekolah dasar Meskipun demikian, sebagian peserta didik juga menunjukkan kesadaran untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa dan alat komunikasi utama dalam konteks pendidikan dan budaya. Esensi dari pengalaman partisipan mengungkapkan adanya dialektika antara kemudahan dan tantangan yang dibawa oleh era digital dan globalisasi terhadap pelestarian bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar. Tantangan utama terletak pada bagaimana menyeimbangkan antara adaptasi terhadap perkembangan zaman dengan upaya mempertahankan kemurnian dan identitas Upaya pelestarian memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan kesadaran peserta didik, peran aktif guru dalam mengintegrasikan isu digital dan globalisasi dalam pembelajaran, serta dukungan dari pihak sekolah dan keluarga. Implikasi dari penelitian ini menyoroti perlunya inovasi dalam metode pembelajaran bahasa Indonesia yang relevan dengan era digital, pengembangan materi ajar yang menarik dan kontekstual, serta penanaman kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia sejak dini. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi strategi intervensi yang efektif untuk mengatasi tantangan pelestarian bahasa Indonesia di era digital dan globalisasi pada tingkat Sekolah Dasar. Daftar Pustaka