CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Berbantuan Media Smart Box Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Cantika Ulfiana Putri1. Fina Fakhriyah2. Rizky Oktavian Saputra 3 Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Universitas Muria Kudus, 3SD 1 Barongan Email: cantikaulfianaa@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar belajar setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas i B SD 1 Barongan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) dalam dua siklus pada pembelajaran Pendidikan Pancasila. Adapun tahapan penelitian: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Data kuantitatif berasal dari hasil post test, pilihan ganda pada setiap akhir siklus yang diperoleh dari hasil tes yang diberikan guru kepada peserta didik untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar peserta didik. Data hasil belajar diukur melalui ketuntasan klasikal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pada kondisi awal atau sebelum diberi tindakan terdapat 28 siswa . ,5%) yang belum tuntas belajar dan 4 orang . ,5%) yang tuntas belajar dengan nilai rata-rata 58. Hasil analisis data menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar peserta didik, dengan ketuntasan klasikal mencapai 66% pada siklus I dan meningkat menjadi 84% pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila peserta didik kelas i B SD 1 Barongan. Kata Kunci : Hasil Belajar. Model Pembelajaran Kooperatif. Jigsaw. Media Smart Box Abstract This study aims to describe the improvement in learning outcomes after implementing the jigsaw type Cooperative learning model assisted by smart box media to improve the learning outcomes of class i B students of SD 1 Barongan. This study used a two-cycle classroom action research (CAR) design on Pancasila learning. The stages of the research are: planning, implementation, observation and reflection. In this study, the researcher used quantitative data analysis techniques. Quantitative data comes from the results of the post test, multiple choice at the end of each cycle obtained from the results of test given by the teacher to students to determine the extent to which student learning outcomes have improved. Learning outcomes data were measured through classical completeness. Based on the research results, it was found that in the initial conditions or before being given action, there were 28 students . ,5%) who had not completed their studies and 4 people . ,5%) who had completed their studies with an average score of 58. The results of data analysis showed a significant increase in in learner learning outcomes, with classical completeness reaching 66% in cycle I and increasing to 84% in cycle II. These results can be said to have increased. It can be concluded that the applications of the jigsaw type cooperative learning model assisted by smart box media can improve the learning outcomes on Pancasila learning of i B students at SD 1 Barongan. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Key Words: Learning Outcomes. Cooperative Learning Model. Jigsaw. Smart Box Media Pendahuluan Seorang individu tumbuh dan berkembang melalui pendidikan. Melalui pendidikan, seorang individu didorong untuk memahami dan mempelajari berbagai hal yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Di Indonesia. Pendidikan bertujuan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dari aspek intelektual dan karakter serta dapat berdaya saing secara global. Kualitas pendidikan tidak terlepas peran serta guru dan peserta didik serta pembelajaran yang diterapkan di kelas (Nugraha, 2. Pembelajaran bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik, melainkan merupakan proses aktif yang melibatkan peserta didik dalam menemukan sendiri ide dan konsep berdasarkan pengetahuan mereka. Tujuan dari dilakukan pembelajaran adalah untuk mendorong terjadinya peningkatan yang positif dalam ranah kemampuan berpikir . , sikap . , serta keterampilan . peserta didik. Hasil belajar merupakan suatu bentuk pengukuran dari proses pembelajaran yang dinilai dan di sajikan dalam bentuk simbol, huruf, atau pernyataan yang menggambarkan pencapaian setiap peserta didik dalam periode tertentu (Suratman et , 2. Menurut Nawawi . alam Suratman et al. , 202. ) hasil belajar adalah tingkat keberhasilan peserta didik dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan di seluruh jenjang pendidikan. Materi Pendidikan Pancasila memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan berperan penting dalam penbentukan karakter, sehingga hal ini menjadi aspek yang sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran. Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam Pendidikan Pancasila merupakan suatu keharusan karena akan memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter peserta didik. Hal ini memiliki tujuan untuk membentuk karakter yang baik berdasarkan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir sila Pancasila. Berdasarkan pengamatan awal, pembelajaran Pendidikan Pancasila di SD 1 Barongan cenderung bersifat satu arah dan membuat peserta didik pasif. Dalam proses pembelajaran, guru belum menggunakan model pembelajaran yang efektif yaitu materi disampaikan dengan metode ceramah dan hanya menggunakan sumber belajar dari buku paket dan buku LKS. Penggunaan media yang masih kurang bervariasi dalam mendukung pembelajaran menjadikan kurangnya hasil belajar siswa. Selain hal tersebut, ditemukan pula kurangnya tanggung jawab siswa terhadap tugas yang diberikan terutama dalam tugas kelompok. Kondisi ini berpotensi dapat melemahkan keterampilan sosial yang seharusnya dapat dikembangkan melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dimana siswa dapat belajar tentang nilai-nilai kebangsaan. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 toleransi, dmeokrasi, dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik (Mayasari. Oleh karena itu diperlukan suatu perangkat pembelajaran yang tepat dan sesuai sehingga dapat meningkatkan kualitas proses maupun hasil dalam pembelajaran. Model pembelajaran adalah faktor penting yang harus diidentifikasi,diterapkan dan dikembangkan dalam mendukung suatu proses pembelajaran (Mawikere, 2. Definisi model pembelajaran menurut Darmadi, . adalah rancangan bersifat konseptual yang menggambarkan tahapan secara terstruktur dalam mengorganisasikan pengalaman belajar siswa guna mencapai tujuan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi sangat penting, karena model yang tepat dapat mendukung kelancaran proses pembelajaran bagi guru maupun peserta didik (Rahmadani et al. , 2. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menjadi alternatif yang dapat memfasilitasi kolaborasi, partisipasi aktif, dan pemahaman mendalam terhadap materi. Menurut Rusman dalam Trihartoto & Indarini . , model pembelajaran tipe jigsaw mendorong siswa untuk bekerja sama, memberi banyak peluang bagi siswa untuk menyampaikan pendapat, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab baik terhadap pembelajaran diri sendiri maupun pembelajaran orang lain. Model pembelajaran jigsaw adalah pendekatan kolaboratif dimana peserta didik secara aktif terlibat dalam Pada pembelajaran jigsaw peserta didik bekerja dalam tim yang heterogen dan bekerja dalam kelompok kecil . -6 anggot. dengan berbagai Mereka saling bekerja sama dan bergantung satu sama lain untuk memahami dan menguasai sebagian dari materi pelajaran. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mendorong peserta didik untuk saling membantu dalam memahami materi yang di ajarkan. Penerapan model pembelajaran ini juga dapat memperbaiki pemahaman peserta didik terhadap materi dan dapat mengembangkan keterampilan sosial dan kolaborasi yang esensial dalam pembelajaran (Wanti et al. , 2. Keunggulan pembelajaran jigsaw menurut Johnson and Johnson dalam Sobari . menyatakan bahwa interaksi kooperatif memiliki pengaruh positif diantaranya: . meningkatkan hasil belajar. meningkatkan daya . meningkatkan hubungan antar manusia secara heterogen. meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong. Untuk mendukung penerapan model ini, diperlukan media pembelajaran yang menarik dan kontekstual sebagai upaya lain dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Media pembelajaran bermanfaat untuk membantu memperjelas materi yang disampaikan, membuat proses belajar menjadi lebih menarik, dan mendukung peningkatan hasil belajar siswa (Ningrum & Dahlan, 2. Media pembelajaran merupakan unsur penting dalam proses pembelajaran, sehingga penggunaan media pembelajaran yang tepat akan membantu proses pembelajaran menjadi lebih efektif (Nurjanah & Mustofa, 2. Salah satu media pembelajaran yang tepat dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu media smart box. Smart box adalah media pembelajaran berbentuk balok yang di dalamnya berisi materi yang akan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 diajarkan oleh pendidik (Widjayanti et. ,al, 2. Media smart box merupakan alat bantu pembelajaran yang berbentuk kotak yang berisi gambar dan materi, digunakan oleh guru untuk menarik minat siswa selama proses belajar berlangsung (Basori, 2. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas AuPenerapan Model Pembelajaran Tipe Jigsaw Berbantuan Media Smart Box untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan PancasilaAy. Metode Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau atau Classroom Action Research adalah suatu pendekatan penelitian yang dilakukan oleh seorang guru atau praktisi pendidikan dalam rangka meningkatkan praktik pembelajaran di dalam Menurut Tampubolon . penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan tujuan meingkatkan mutu proses belajar mengajar, meningkatkan prestasi belajar, serta merumuskan pola pembelajaran baru yang inovatif sebagai solusi atas hambatan yang dihadapi oleh para pendidik dan peserta didik. Model Kemmis dan Mc Taggart direkomendasikan untuk penelitian tindakan kelas (PTK) karena memberikan pendekatan terstruktur dalam merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan proses penelitian (Megawati, 2. Gambar 1. Desain PTK menurut Kemmis & Mc Taggart (Arikunto, 2. Subjek penelitian peserta didik di kelas i B SD 1 Barongan yang terdiri dari 32 peserta didik, pada semester 2, tahun ajaran 2024/2025. Penelitian ini bertempatkan di SD 1 Barongan Kecamatan Kota Kudus. Kabupaten Kudus. Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu meliputi perencanaan . , tindakan . , observasi . dan refleksi . Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu pengamatan, tes, dan dokumentasi. Dokumentasi kegiatan untuk JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 mengumpulkan informasi berupa foto selama penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti merefleksikan penggunaan media smart box dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik dan tes untuk mengukur hasil belajar peserta didik menggunakan soal post-test di setiap siklus. Hasil tes ini kemudian peneliti analisis dengan metode deskriptif kuantitatif menggunakan teknik presentase,termasuk dalam analisis mencari nilai ratarata . dan presentase keberhasilan. Rumus untuk menghitung rata-rata sesuai dengan metode yang dijelaskan oleh Arikunto . adalah sebagai berikut: ycuI = Oc x ycA Keterangan: ycuI = Rata-rata nilai . Oc ycu = Jumlah skor . ilai peserta didi. ycA = Banyaknya peserta didik Cara yang digunakan untuk menghitung peningkatan hasil belajar yaitu dengan rumus N-Gain sebagai berikut: N-Gain = Skor Postest Ae Skor Pretest Skor Ideal Ae Skor Pretest Kategori N-Gain menurut Sundayana . Tabel 1. Interpretasi Gain Ternormalisasi Nilai Gain Interpretasi G > 0,70 Tinggi 0,30 < G < 0,70 Sedang G < 0,30 Rendah G = 0,00 Tidak Terjadi Peningkatan -1,00 < G < 0,00 Terjadi Penurunan (Sundayana, 2016:. Keberhasilan penelitian diukur dengan ketuntasan hasil belajar siswa yaitu dengan kategori tuntas dan tidak tuntas. Hasil belajar dikatakan berhasil dengan ketuntasan apabila >75% peserta didik mencapai nilai >70 yang merupakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) serta persentase jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar sedang sampai dengan tinggi mencapai >75%. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Pra-Siklus Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan observasi awal untuk mengetahui kondisi lapangan yaitu di kelas i B SD 1 Barongan. Berdasarkan hasil observasi, kondisi awal sebelum diterapkannya siklus PTK di kelas i B yaitu terdapat permasalahan yang perlu diatasi meliputi: . siswa terlihat pasif dalam proses pembelajaran, mereka cenderung hanya mendengarkan penjelasan dari guru atau bahkan berbicara sendiri dengan teman, . Peserta didik jarang berpartisipasi dalam diskusi dengan guru atau teman sekelas mereka mengenai materi pembelajaran yang di ajarkan, . Pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas i B tidak menggunakan media pembelajaran, . Hasil belajar kognitif peserta didik pada prasiklus hanya 4 orang yang mencapai KKM 75. Tabel 2. Hasil Belajar Peserta Didik pada Pra-siklus Pencapaian Hasil Belajar Jumlah Tuntas Belum Tuntas Rata-Rata Persentase Ketuntasan 12,5% Persentase Ketidaktuntasan 87,5% Dilihat dari nilai rata-rata hasil pre-test peserta didik masih di bawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) yaitu sebesar 58 pada materi pelajaran Pendidikan Pancasila. Peserta didik yang tuntas sebesar 12,5% sedangkan yang tidak tuntas sebesar 87,5%. Banyaknya peserta didik yang belum tuntas disebabkan oleh proses pembelajaran yang belum optimal masih bersifat konvensional, berpusat pada guru, dan belum melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran. Sehingga peserta didik masih menemui kesulitas dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif peserta didik pada tahap prasiklus masih rendah. Pelaksanaan Siklus 1 Pelaksanaan penelitian siklus I terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada siklus I peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box. Pada tahap perencanaan, peneliti membuat modul ajar, menyiapkan soal asesmen formatif siklus I, menyiapkan media, alat dan sumber belajar, menyiapkan LKPD dan meminta bantuan rekan sejawat untuk menjadi observer ketika pembelajaran. Tahap pelaksanaan, di awali dengan menggali pengetahuan awal peserta didik, peneliti melakukan apersepsi dengan menunjukkan media smart box, kemudian membagikan soal pre-test di awal pembelajaran. pada kegiatan inti,peneliti menampilkan materi JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 melalui slide canva dengan menjelaskan tujuan pembelajan dan materi mengenai makna bunyi, simbol dan makna sila-sila Pancasila. Melalui media smart box, peserta didik dapat menempel simbol pancasila pada tiap-tiap bunyi pancasila dan bermain memasangkan perilaku yang sesuai makna sila Pancasila dengan sila Pancasila. Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, peneliti membagi peserta didik ke dalam kelompok asal berjumlah 5-6 orang kemudian membentuk kelompok ahli dengan satu orang dari masing-masing kelompok asal bergabung dengan peserta didik yang lain (Endang, 2. Kemudian setiap anggota kelompok diberikan materi bagian tertentu dari materi yang dipelajari. Selanjutnya peserta didik dengan materi yang sama dari kelompok lain berkumpul dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan memahami materi mereka secara mendalam. Selesai berdiskusi, mereka kembali ke kelompok asal untuk mengajarkan materi tersebut kepada teman-teman Setelah itu, peneliti meminta setiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Peserta didik yang tidak maju, mendengarkan dan diperbolehkan untuk bertanya atau membantu menjawab pertanyaan dari hasil diskusi. Pembelajaran diakhiri dengan melakukan refleksi, menarik kesimpulan, penguatan materi, memberikan soal post-test yang terdiri dari 10 butir soal pilihan ganda untuk menilai hasil belajar peserta didik secara kognitif dan menutup kegiatan pembelajaran. Hasil belajar peserta didik pada siklus 1 terdiri dari hasil pre-test dan hasil posttest. Berdasarkan hasil belajar tersebut dapat diketahui nilai peningkatan hasil belajar (N-Gai. Pada siklus 1, ketuntasan klasikal peserta didik pada saat pre-test yaitu 25%, sedangkan hasil post-test menunjukkan bahwa sebanyak 65,6% peserta didik tuntas KKM 70. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, maka diperoleh distribusi persentase peningkatan (N-Gai. pada siklus 1 yang dapat dilihat pada pada Tabel 3. Tabel 3. Rekapitulasi Jumlah Peserta Didik dan Nilai N-Gain Hasil Belajar Siklus I Kategori N-Gain Jumlah Peserta Didik Tinggi Sedang Rendah Tidak Terjadi Peningkatan Terjadi Penurunan Berdasarkan Tabel 3. Sebagian besar peserta didik mendapatkan kategori peningkatan hasil belajar sedang pada siklus 1 sebanyak 71%, kategori tinggi 0%, kategori rendah sebanyak 18,7% dan tidak terjadi peningkatan sebanyak 9,3%. Hasil belajar siklus 1 belum menunjukkan keberhasilan penerapan tindakan karena ketuntasan klasikal untuk post-test belum mencapai 75%. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan untuk memperbaiki hasil belajar pada siklus 1. Pelaksanaan Siklus II JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 Pada pelaksanaan siklus II, peneliti melakukan pelaksanaan kegiatan yang hampir sama dengan pelaksanaan siklus I namun terdapat perbaikan pada penjelasan materi agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pemberian LKPD , soal pre-test dan post-test serta media smart box. Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan modul ajar dan mengikuti sintaks model kooperatif tipe jigsaw. Peneliti menggunakan media smart box dan menunjukkan gambar-gambar yang sesuai dengan kegiatan mereka sehari-hari untuk dimasukkan pada tiap-tiap saku penerapan makna sila Pancasila. Hasil belajar peserta didik pada siklus II terdiri dari hasil pre-test dan hasil posttest. Berdasarkan hasil belajar tersebut dapat diketahui nilai peningkatan hasil belajar (N-Gai. Pada siklus II, ketuntasan klasikal peserta didik pada saat pre-test yaitu 44%, sedangkan hasil post-test menunjukkan bahwa sebanyak 84% peserta didik tuntas KKM 70. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, maka diperoleh distribusi persentase peningkatan (N-Gai. pada siklus II yang dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rekapitulasi Jumlah Peserta Didik dan Nilai N-Gain Hasil Belajar Siklus II Kategori N-Gain Jumlah Peserta Didik Tinggi Sedang Rendah Tidak Terjadi Peningkatan Terjadi Penurunan Berdasarkan Tabel 4. Sebagian besar peserta didik mendapatkan kategori peningkatan hasil belajar sedang pada siklus II sebanyak 59%, kategori tinggi 13% dan kategori rendah sebanyak 28%. Hasil belajar siklus II menunjukkan keberhasilan penerapan tindakan karena ketuntasan klasikal untuk post-test sudah mencapai lebih dari 75%. Peningkatan hasil belajar dengan menggunakan nilai N-Gain dapat dilihat pada Gambar 2. Skor N-Gain Hasil Belajar Kelas i B Tinggi Siklus I Sedang Siklus II Rendah Tidak Terjadi Peningkatan Terjadi Penurunan Gambar 2. Jumlah Peserta Didik dengan Kategori N-Gain Berdasarkan Gambar 2. Terjadi peningkatan jumlah peserta didik dengan nilai NGain yang tinggi sebanyak 4 orang atau 12,5%, hal ini menunjukkan bahwa intervensi JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 atau perlakuan yang diberikan berhasil meningkatkan kemampuan 4 orang peserta didik secara signifikan. Pada kategori N-Gain sedang terjadi penurunan N-Gain, penurunan ini berarti banyak peserta didik yang berpindah ke kategori N-Gain tinggi atau rendah. Di sisi lain, pada kategori N-Gain rendah meningkat sebesar 9,3% dari yang awalnya pada siklus I sebanyak 6 peserta didik kemudian pada siklus II sebanyak 9 peserta didik. Selain itu, pada kategori N-gain tidak terjadi peningkatan mengalami penurunan presentase dimana pada siklus I terdapat 3 peserta didik dalam tahap tidak terjadi peningkatan, sedangkan pada siklus II menurun menjadi 0 peserta didik. Hal ini bisa berarti bahwa peserta didik tersebut berpindah ke kategori N-Gain tinggi atau Pembahasan Dari hasil analisis data yang telah dilakukan dari setiap siklus menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas i B. Hal ini terlihat dari peningkatan ketuntasan belajar peserta didik mulai dari tahap prasiklus, siklus I, hingga siklus II. Dengan model pembelajaran tersebut dan media smart box dalam belajar menjadi lebih aktif, kreatif, menyenangkan bagi peserta didik dan pembelajaran menjadi lebih efektif. Berikut ini merupakan persentase hasil belajar pada siklus I dan siklus II. Tabel 5. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II Kriteria Tuntas Tidak Tuntas Jumlah Siklus I Frekuensi Persentase Siklus II Frekuensi Persentase Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, terlihat bahwa pada siklus I dan siklus II membuktikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila berhasil meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas i. Pada siklus I, terdapat 21 peserta didik dengan persentase ketuntasan sebesar 66% dengan nilai rata-rata 71,25, hasil ini menunjukkan hasil belajar peserta didik belum mencapai tingkat yang maksimal. Penggunaan media smart box berhasil meningkatkan ketertarikan peserta didik, karena media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun di awal pembelajaran, beberapa peserta didik menjadi tidak kondusif karena merasa penasaran dengan isi dari smart box dan ingin selalu memainkannya. Pada saat diskusi beberapa peserta didik juga masih terlihat tidak mengikuti diskusi dengan baik pada kelompoknya. Sehingga meskipun terjadi peningkatan hasil belajar dari tahap prasiklus ke siklus I, masih perlu JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 dilanjutkan ke siklus II karena mengingat target keberhasilan sebesar 80% belum Pada siklus II, peserta didik yang mendapatkan nilai ketuntasan KKM sebanyak 27 peserta didik dengan persentase ketuntasan mencapai 84% dan nilai rata-rata sebesar Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik pada materi Pendidikan Pancasila meningkat secara signifikan, karena tindakan pada siklus II ini berhasil mencapai tujuan yang diharapkan yaitu persentase ketuntasan mencapai lebih dari 80% dari seluruh peserta didik yang memperoleh nilai setara atau melebihi KKM sebesar > 70. Pembelajaran kooperatif menitikberatkan pada aspek sosial, yaitu melalui interaksi aktif antar peserta didik dalam kelompok. Guru berperan dalam menciptakan suasana yang kondusif dengan terus mendorong siswa untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan saling membutuhkan. Dengan demikian, akan terbentuk sikap saling membantu dalam perilaku sosial, karena model ini secara khusus dirancang untuk membiasakan peserta didik bekerja sama selama proses pembelajaran berlangsung (Lubis & Harahap, 2. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya dalam melatih diri, mengenali, menganalisis, serta menyelesaikan masalah secara logis, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menarik kesimpulan secara tepat. Rangkaian aktivitas ini secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik (Kata. Makaborang & Njoreomana, 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran dapat memperkuat interaksi antar peserta didik di dalam kelas, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap peningkatan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan (Kahar et al. , 2. Keberhasilan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini didukung oleh penelitian sebelumnya, dimana hasil dalam penelitian terbukti bahwa penerapan model pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dengan persentase ketuntasan pada siklus I sebesar 67% dan pada siklus II sebesar 92% (Putri et. , 2. Peningkatan hasil belajar juga tidak terlepas dari penggunaan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran dalam dunia pendidikan memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar, baik bagi peserta didik maupun pendidik yang mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik karena penyajian materi menjadi lebih Selain itu, materi pelajaran menjadi lebih mudah dipahami karena disampaikan secara lebih jelas, sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran (Putri, 2. Media pembelajaran yang peneliti pilih adalah media smart box. Smart Box merupakan media berbentuk kubus atau balok yang terbuat dari kardus, dimana didalamnya berisi berbagai macam alat bantu seperti gambar, kartu dan lainnya (Aspiati et al. , 2. Di dalam media smart box yang peneliti gunakan, terdapat 4 sisi yang berisi materi bunyi dan simbol Pancasila, makna sila-sila Pancasila dan penerapan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH Email : cessjcessj@gmail. CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 7 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2025 https://journal. id/index. php/cessj/index E-ISSN : 2686-3170 P-ISSN : 2686-3162 makna sila Pancasila di sekolah maupun di rumah. Dalam smart box terdapat berbagai permainan seperti memasangkan bunyi simbol dan perilaku yangs sesuai dengan sila pancasila, memasukkan gambar kegiatan sehari-hari ke saku penerapan sesuai sila Pancasila. Pemilihan media smart box, didukung oleh penelitian sebelumnya yaitu penelitiannya Manurung et al. , 2025 yang peningkatan persentase sebelum dan sesudah penerapan media smart box esentase ketuntasan belajar saat menerapkan media smart box materi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada siklus I sebesar 60% dan pada siklus II sebesar 85%. Selanjutnya peneliatian yang dilakukan oleh Widjayanti et. , 2024 dimana dengan penerapan media smart box dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPAS dengan presentae ketuntasan pada siklus I yaitu 58,6% dan pada siklus II sebesar 89,6%. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box menunjukkan peningkatan hasil belajar peserta didik materi pendidikan pancasila kelas i B SD 1 Barongan dari pra-siklus, siklus I dan siklus II. Hasil belajar pada prasiklus sebesar 12,5%, siklus I sebesar 66% dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 84%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas i B SD 1 Barongan, khususnya pada materi pelajaran Pendidikan Pancasila materi Ayo Mengenal Pancasila. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbantuan media smart box pada materi pelajaran Pendidikan Pancasila berhasil meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas i B di SD 1 Barongan. Kesimpulan ini di dasarkan pada persentase ketuntasan hasil belajar sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan penerapan media smart box pada pra-siklus 12,5% dan sesudah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan penerapan media smart box pada siklus I mencapai ketuntasan klasikal sebanyak 66% dan siklus II meningkat menjadi 84%. Adanya peningkatan dapat dilihat dari persentase sebelum penerapan dan sesudah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan media smart box. Referensi