Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 PENGARUH METODE THIN LAYER DRYING MIKROENKAPSULASI UMBI Dioscorea hispida Dennts. TERHADAP STABILITAS DAN EFEKTIVITAS BIOHERBISIDA Windi Egidya Putri1*. Asni1. Wa Ode Fatima1 Fakultas Pendidikan Sains dan Teknologi. Program Studi Pendidikan IPA. Universitas Karya Persada Muna. Jl. Gambas Kel. Sidodadi Kec. Batalaiworu Kab. Muna Telp . 2522260 * Corresponding author: windiegidyaputri@gmail. * Received for review November 18, 2025 Accepted for publication December 29, 2025 Abstract This study was conducted to investigate the microencapsulation properties of Dioscorea hispida Dennst. tuber extract processed using the thin layer drying method and to evaluate the effectiveness of the resulting microencapsulated product as a bioherbicide against broadleaf weeds. The extract was prepared at three concentration levels . %, 30%, and 40%) with three replications, and each extract was mixed with maltodextrin and Tween 80 as coating materials prior to the drying process to produce microencapsulated The analysis results showed that the microcapsules exhibited a spherical shape, good stability, and high encapsulation efficiency. SEM observations revealed the presence of two distinct layers, indicating that the active compounds were well entrapped within the coating matrix. Toxicity testing (%) was conducted through visual observation using a scoring method. Phytotoxicity tests on Ageratum conyzoides showed the highest toxicity symptoms at a concentration of 40%, with a score of 20%, characterized by chlorosis, leaf drop, and physiological disturbances. Ageratum conyzoides exhibited a phytotoxicity level of 20%. Overall, these results confirm that microencapsulated Dioscorea hispida Dennst. extract has strong potential as a natural bioherbicide for suppressing the growth of broadleaf weeds. Keywords: Bioherbicide. Dioscorea hispida Dennts. Microencapsulation. Phytotoxicity. Thin layer drying. Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sifat mikroenkapsulasi ekstrak umbi Dioscorea hispida Dennts. diproses menggunakan metode thin layer drying serta menilai kemampuan hasil mikroenkapsulasi tersebut sebagai bioherbisida terhadap gulma berdaun lebar. Ekstrak disiapkan dalam tiga tingkat konsentrasi, yaitu 20%, 30%, dan 40% dengan 3 kali ulangan, kemudian masing-masing ekstrak dicampur dengan maltodekstrin dan tween 80 sebagai bahan penyalut sebelum melalui tahap pengeringan untuk menghasilkan serbuk mikrokapsulasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa mikrokapsulasi memiliki bentuk bulat, stabil, dan mampu mencapai efisiensi yang tinggi. Pengamatan menggunakan SEM mengungkapkan adanya dua lapisan yang menandakan bahwa senyawa aktif terperangkap dengan baik di dalam matriks Metode uji toksisitas (%) dilakukan dengan mengamati secara visual dengan penggunaan metode Uji fitotoksisitas terhadap gulma Ageratum conyzoides menunjukkan adanya gejala keracunan paling tinggi pada konsentrasi 40% dengan skoring 20% yang terlihat mengalami klorosis, kerontokan daun, serta gangguan fisiologis. Ageratum conyzoides menunjukkan tingkat fitotoksisitas sebesar 20%. Secara keseluruhan, hasil ini menegaskan bahwa mikroenkapsulasi ekstrak Dioscorea hispida Dennts. besar digunakan sebagai bioherbisida alami untuk menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar. Kata kunci: Bioherbisida. Dioscorea hispida Dennts. Fitotoksisitas. Mikroenkapsulasi. Thin Layer Drying Copyright A 2026 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 PENDAHULUAN Tingkat keberadaan gulma saat ini tergolong tinggi, sehingga menyebabkan kerugian signifikan bagi para petani. Upaya pengendalian gulma dapat dilakukan melalui pendekatan kimiawi maupun biologis, dengan tujuan menekan populasi gulma hingga berada pada ambang ekonomi yang tidak Penggunaan herbisida secara berkelanjutan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan Arsa et al. , . Pendekatan pertanian berkelanjutan dapat dilakukan melalui pemanfaatan herbisida berbasis bioherbisida. Senyawa alelopati memiliki peran penting dalam formulasi herbisida alami tersebut. Berbagai jenis gulma berdaun lebar, seperti Rhapix excelsa. Torenia fournieri, dan Ageratum conyzoides, umum ditemukan di lahan perkebunan. Setiap jenis gulma menunjukkan mekanisme pertahanan yang berbeda, yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan biologis yang beragam. Salah satu pendekatan inovatif untuk mengatasi permasalahan ini adalah melalui teknik mikroenkapsulasi terhadap ekstrak senyawa metabolit sekunder. Mikroenkapsulasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk melapisi bahan aktif selama proses pengolahan inti. Teknik ini berpotensi melindungi senyawa yang rentan terhadap pengaruh lingkungan. Mikroenkapsulasi juga berperan dalam meningkatkan keberlanjutan senyawa aktif melalui pembentukan lapisan pelindung. Lapisan tersebut berfungsi sebagai penghalang fisik yang mampu menghambat difusi molekul dan mencegah terjadinya reaksi kimia, sehingga dapat meningkatkan kestabilan senyawa yang dikemas Pratama dkk, . Famili tumbuhan Dioscoreaceae merupakan salah satu kelompok tanaman yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Berdasarkan penelitian Sardar et al. , menyatakan bahwa spesies Dioscorea hispida Dennst. memiliki kemampuan sebagai agen herbisida alami. Umbi tanaman ini tumbuh di kawasan hutan dan masih jarang dimanfaatkan oleh masyarakat karena diketahui umbi tersebut memiliki kemampuan sebagai agen herbisida alami. Umbi tanaman ini tumbuh di kawasan hutan dan masih jarang dimanfaatkan oleh masyarakat karena diketahui mengandung getah yang dapat menyebabkan iritasi dan rasa gatal apabila bersentuhan dengan kulit manusia Obidiegwu et al. , . Kandungan senyawa toksik dalam umbi tersebut, seperti alkaloid dioscorine dan diosgenine, menunjukkan sifat racun yang efektif dalam menghambat pertumbuhan gulma, sehingga berpotensi digunakan sebagai bioherbisida alami. Menurut Wibawa, . menyatakan bahwa masyarakat memanfaatkan umbi yang bersifat toksik dari tanaman ini sebagai bahan alami untuk insektisida dan rodentisida, atau dikenal sebagai biopestisida. Senyawa bioaktif umumnya memiliki kestabilan yang rendah, sehingga perlu dilindungi dari kerusakan fisik dan kimia yang dapat terjadi selama proses penanganan maupun akibat faktor Berdasarkan karakteristik umbi dioscorea, metode pengeringan yang sesuai untuk proses mikroenkapsulasi adalah pengeringan lapisan tipis . hin layer dryin. Teknik ini dilakukan dengan menyusun bahan dalam bentuk irisan atau lapisan tipis, kemudian dipanaskan menggunakan aliran udara panas. Metode ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain konsumsi energi yang rendah, efisiensi pengeringan yang tinggi, serta kemampuan menjaga stabilitas senyawa sensitif terhadap panas. Metode ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan efektivitas proses pengeringan melalui perluasan luas permukaan bahan dalam medium pemanas Irwan et al. , . Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan akan pengembangan bioherbisida yang ramah lingkungan sebagai Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 alternatif pengendalian gulma yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk bioherbisida berbasis umbi Dioscorea hispida Dennst. dalam bentuk mikroenkapsulasi guna melindungi dan mempertahankan stabilitas serta masa simpan senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan formulasi bioherbisida alami yang efektif, stabil, dan berpotensi diaplikasikan dalam sistem pertanian berkelanjutan. BAHAN DAN METODE 1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu umbi Dioscorea hispida Dennts. yang diperoleh dari Pulau Muna, alkohol 70%, tween 80, maltodekstrin. Kertas saring. Aquadest, aluminium foil, handskun, tissue. 2 Metode Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental dengan dua variabel. Variabel terikat yaitu konsentrasi mikroenkapsulasi ekstrak umbi Dioscorea hispida Dennts. variabel bebas berupa senyawa bioaktif umbi Dioscorea hispida Dennts. sebagai bioherbisida. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan pada masing-masing konsentrasi mikroenkapusulasi ekstrak yaitu kontrol, mikroenkapsulasi ekstrak Dioscorea hispida Dennts. dengan konsentrasi 20%, 30% dan 40%. Digunakan ANOVA untuk analisis data dan akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Pembuatan Ekstrak Umbi Dioscorea hispida Dennts Umbi gadung (Dioscorea hispida Dennts. ) terlebih dahulu dikupas dan diiris tipis, kemudian Setelah kering, umbi digiling hingga menjadi tepung halus. Tepung umbi tersebut kemudian diekstraksi dengan mencampurkannya bersama aquades sesuai konsentrasi yang telah ditentukan, yaitu 20% . g/250 m. , 30% . g/250 m. , dan 40% . g/250 m. Campuran tersebut difermentasi selama tiga hari pada suhu ruang, dengan membuka tutup botol setiap hari untuk melepaskan gas hasil fermentasi, lalu ditutup kembali. Setelah proses fermentasi, dilakukan maserasi dan penyaringan menggunakan corong yang dilapisi kertas saring untuk memperoleh ekstrak bebas endapan. Ekstrak yang diperoleh kemudian dievaporasi pada suhu 78AC untuk menghilangkan pelarut, dilanjutkan dengan pemanasan menggunakan waterbath, dan ekstrak serbuk disimpan dalam botol vial. Mikroenkapsulasi Ekstrak Umbi Dioscorea hispida Dennts Proses mikroenkapsulasi ekstrak dilakukan dengan menambahkan 5 g maltodekstrin ke dalam masing-masing perlakuan konsentrasi ekstrak . %, 30%, dan 40%) di dalam gelas beker berkapasitas 100 mL. Setiap perlakuan ditambahkan 50 mL akuades, kemudian campuran dipanaskan menggunakan hot plate selama 30 menit. Ekstrak yang telah dicampur dengan 1 mL emulsifier Tween 80 dimasukkan ke dalam campuran dan diaduk hingga homogen serta membentuk Tahap konversi fase cair menjadi fase padat dilakukan menggunakan metode pengeringan lapisan tipis . hin layer dryin. Campuran dituangkan ke dalam cawan petri dengan ketebalan A3 mm dan dikeringkan dalam oven pada suhu 70 AC selama 13 jam hingga kering. Enkapsulat yang Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 dihasilkan digiling dan diayak hingga diperoleh serbuk halus. Data yang diperoleh berupa rendemen enkapsulat yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Data yang diperoleh berupa rendemen ekstrak kemudian akan dianalisis secara kuantitatif deskriptif. Adapun rumus rendemen ektrak yang digunakan sebagai berikut: yaAyaycIyaycN yayaycIyaya yayaycIycNycIyayaycIya y 100 yaAyaycIyaycN ycIyayaAyayaycOycA yayaycIycNycIyayaycIya Pengamatan Morfologi dan Aplikasi Mikroenkapsulasi Enkapsulat yang diperoleh dari konsentrasi 20%, 30%, dan 40% kemudian dianalisis bentuknya untuk mengevaluasi karakteristik penyalutan senyawa aktif dalam ekstrak umbi Dioscorea hispida (Tabel . Morfologi mikroenkapsulasi mencerminkan mekanisme kerja enkapsulat, yang dapat bervariasi tergantung pada jenis bahan penyalut dan proses Observasi struktur mikro dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Tabel 1. Faktor konsentrasi mikroenkapsulasi ekstrak umbi Dioscorea hispida Dennts. lahan perkebunan terdiri dari 3 taraf Perlakuan Keterangan Kontrol Mikroenkapsulasi ekstrak Dioscorea hispida Dennts. Mikroenkapsulasi ekstrak Dioscorea hispida Dennts. Mikroenkapsulasi ekstrak Dioscorea hispida Dennts. Konsentrasi Faktor jenis gulma berdaun lebar (A) yang berada di lahan perkebunan pada plot terdiri dari 3 jenis : A1 : Rhapix excelsa A2 : Torenia fournien A3 : Ageratum conyzoides. Uji Fitotoksisitas Uji fitotoksisitas (%) tingkat keracunan gulma akibat aplikasi ekstrak Dioscorea hispida diamati secara visual dengan penggunaan metode skoring yang disesuaikan dengan aturan dari Komisi Pestisida . oleh Halim, . Standar pengujian efikasi herbisida sebagai berikut : 0 = Tidak ada keracunan 0-5% bentuk dan atau warna daun dan atau pertumbuhan tidak normal. Keracunan ringan >5-20% bentuk dan atau warna daun dan atau pertumbuhan tidak normal. Keracunan sedang >20-50% bentuk dan atau warna daun dan pertumbuhan tidak normal. Keracunan berat >50-75% bentuk dan atau warna daun dan atau pertumbuhan tidak normal. Keracunan sangat berat >75% bentuk dan atau warna daun dan atau pertumbuhan tidak normal sampai mati. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA). Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Umbi Diocorea hispida Dennts. Hasil pengamatan yang dilakukan pada umbi Dioscorea hispida Dennts. menunjukkan karakteristik tinggi tanaman mencapai 5-10 meter, memiliki batang yang berbentuk bulat dan berduri yang tersebar panjang pada batang dan tangkai daun (Gambar . Batang berwarna hijau, umbinya berbentuk bulat tidak beraturan yang diselimuti oleh rambut akar yang kaku. Adapun kulit umbi berwarna coklat, daging umbi berwarna putih orange dengan umbi muncul dekat permukaan tanah. Gambar 1. Hasil pengamatan pada Umbi Dioscorea hispida Dennts. Menurut Davis dan Heywood . , takson di bawah jenis dapat diketahui dengan mengamati dan membandingkan perbedaan karakter morfologi, salah satunya pada karakter morfologi umbi. Berdasarkan karateristik dari berbagai sifat dan ciri yang ditemukan, karakteristik tersebut sesuai dengan pernyataan dari Pauner dkk, . menyatakan bahwa salah satu spesies Dioscorea yaitu umbi Dioscorea hispida Dennts. memiliki karakteristik yang berbeda dengan spesies lainnya yaitu adanya rambut-rambut akar yang besar dan kaku serta kulit umbinya yang berwarna coklat yang mengandung senyawa aktif dioscorin. 2 Profil Morfologi dan Efektivitas Mikroenkapsulasi Bioherbisida Tujuan utama mikroenkapsulasi adalah untuk melindungi bahan inti dari kondisi lingkungan yang merugikan, seperti efek cahaya, kelembaban, dan sehingga berkontribusi pada peningkatan umur simpan produk, dan mempromosikan pembebasan terkontrol enkapsulasi. Pembuatan ekstrak mikroenkapsulasi menggunakan tween 80 dan maltodestrin menghasilkan mikrokapsul yang baik terlihat pada 3 konsentrasi yang ada, karena sedikitnya agregasi, ukuran partikel kecil, dan mudah Hasil karakterisasi mikrokapsul yang diperoleh tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil karakterisasi ekstrak Konsentrasi Rendamen (%) 32,2% 42,3% Berdasarkan hasil pada Tabel 2, terlihat bahwa hasil rendamen konsentasi 40% sebesar 42,3%, konsentrasi 30% sebesar 35% dan konsentrasi 20% sebesar 32,2% dengan berbagai karakteristik material, seperti jenis bahan penyalut, komponen inti kapsul, viskositas, jenis pelarut, serta penggunaan zat aditif sebagai bagian dari parameter formulasi, berpengaruh terhadap nilai persentase yang diperoleh. Selain itu, kondisi proses seperti suhu, pH, dan kecepatan pengadukan Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 turut menentukan keberhasilan proses mikroenkapsulasi. Temuan ini sejalan dengan pendapat Khamidah et al. yang menjelaskan bahwa kualitas akhir produk mikroenkapsulasi dipengaruhi oleh banyak aspek, termasuk desain formulasi, jenis bahan penyalut, pengemulsi, dan keseluruhan proses enkapsulasi. Teknologi ini juga cocok diterapkan pada bahan yang sensitif terhadap panas karena inti bahan terlebih dahulu dilapisi sebelum proses pengeringan yang berlangsung relatif cepat. enkapsulasi dibantu oleh penggunaan polimer yang mempunyai tujuan atau kegunaan sebagai penyalut dari zat inti juga sebagai zat penstabil atau pelindung dari gangguan eksternal zat inti yang tersalut Karrar, et. Morfologi mikroenkapsulasi disajikan dengan analisis SEM (Scanning Electron Mikroscop. Hasil disajikan dengan perbesaran 1000x pada masing-masing sampel perlakuan. Morfologi dari mikroenkapsulasi umbi Dioscorea hispida Dennts. (Gambar . Gambar 2. Morfologi mikroenkapsulasi pada skala perbesaran 1000x (A) perlakuan 20% menunjukkan Bentuk bulat terang, (B) dan (C) Perlakuan 30% dan 40% menunjukkan bentuk bulat Hasil pengamatan menunjukkan bahwa struktur bulat yang terbentuk terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan transparan dan lapisan gelap. Lapisan transparan berada di bagian inti dan menggambarkan keberadaan ekstrak umbi sebagai komponen internal Sobari dkk, . Sementara itu, lapisan gelap terletak pada bagian luar sebagai penyalut yang membungkus lapisan internal tersebut. Luas lapisan gelap yang lebih besar dibandingkan lapisan transparan menunjukkan bahwa ekstrak umbi berhasil terperangkap dengan baik dalam matriks enkapsulat. Selain itu, keseragaman ukuran partikel yang tampak terutama pada perlakuan konsentrasi 20%, 30% dan 40% mengindikasikan distribusi partikel yang stabil dan merata. Pengamatan morfologi mikroenkapsulasi menggunakan SEM pada ketiga perlakuan konsentrasi, yaitu 20%, 30%, dan 40%, menunjukkan bahwa mikrokapsul yang terbentuk memiliki bentuk bulat. Bentuk ini terkait dengan mekanisme penyalut yang mampu menarik dan menahan senyawa alelokimia dari ekstrak umbi. Struktur mikroenkapsulasi yang menyerupai bola tersebut sejalan dengan temuan Maesaroh et al. , yang menjelaskan bahwa bentuk bulat dan tidak mengalami agregasi menandakan stabilitas fisik mikrokapsul. Mikroenkapsulasi tersusun dari polimer amfifilik, di mana senyawa hidrofobik terperangkap pada bagian inti, sementara senyawa hidrofilik berada di bagian luar sehingga mencegah terjadinya pemisahan Wicaksono dan Nurdyansyah, . Bentuk bulatan kecil yang tersebar merata dengan ukuran partikel yang seragam menunjukkan ketiadaan flokulasi, yang merupakan ciri dari indeks polidispersi rendah. Semakin kecil nilai indeks tersebut, semakin seragam ketebalan lapisan dan ukuran partikel dalam sistem yang diamati Kori et al. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 3 Uji Fitotoksisitas Bioherbisida Hasil pengamatan memperlihatkan munculnya gejala fitotoksisitas yang ditandai oleh perubahan morfologi tanaman yang tidak normal jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Berdasarkan hasil penilaian (Tabel . , tingkat fitotoksisitas pada gulma Rhapix excelsa dan Torenia fournien masing-masing mencapai 15%, sedangkan Ageratum conyzoides menunjukkan persentase sebesar Perbedaan ini disebabkan oleh variasi kemampuan pertahanan atau resistensi pada setiap jenis gulma, sehingga respons yang ditunjukkan pun berbeda-beda. Temuan ini sejalan dengan penelitian Pradana et al. , yang menjelaskan bahwa paparan senyawa toksik dapat menurunkan permeabilitas membran sel gulma, memungkinkan masuknya zat berbahaya dan pada akhirnya mengganggu proses metabolisme tanaman. Hal ini juga didukung oleh Pujisiswanto et al. 2022 menyatakan bahwa umbi Dioscorea hispida Dennts. mengandung senyawa alelokimia yaitu Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Indrawati et al. 2020 menyatakan kandungan senyawa alkaloid dioskorin umbi Dioscorea hispida Dennts. sebesar 31,4%. Senyawa dioscorin yang terdapat dalam bioherbisida tidak menyebabkan kematian tanaman secara langsung, melainkan melalui serangkaian gangguan fisiologis yang tercermin pada perubahan Temuan ini sejalan dengan penelitian Castillo et al. , yang melaporkan bahwa dioscorin pada umbi Dioscorea hispida terdeteksi pada kadar 2000 mg/kg dan berpotensi memicu perubahan genetik. Pada pengamatan daun, beberapa jenis gulma menunjukkan gejala klorosis, bercak-bercak pada permukaan daun, hingga matinya kuncup. Hal ini diperkuat oleh Bednarz et al. yang menjelaskan bahwa senyawa alelokimia mampu menimbulkan penyakit, nekrosis, dan klorosis yang menghambat pertumbuhan serta menurunkan aktivitas fotosintesis. Manifestasi fitotoksisitas tersebut tampak jelas melalui morfologi tanaman yang mengalami kelainan jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol Kim et al. Data tersebut menunjukkan bahwa variasi konsentrasi memberikan pengaruh signifikan terhadap respons berbagai jenis gulma. Beberapa gulma mengalami gejala keracunan pada seluruh perlakuan, mulai dari kontrol hingga konsentrasi 20%, 30% dan 40%. Reaksi paling jelas terlihat pada Ageratum conyzoides, yang mengalami kerontokan daun, perubahan warna, serta deformasi daun, sehingga berdampak pada penurunan fungsi fisiologis tanaman (Gambar . Berdasarkan temuan tersebut, efektivitas mikroenkapsulasi sebagai bioherbisida terhadap beberapa jenis gulma dapat dikategorikan dalam tingkat keracunan sedang. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Putri et al. , 2026 Tabel 3. Kondisi morfologi gulma sebelum dan sesudah perlakuan umur 4 Minggu Jenis Gulma Gambar Sebelum Hasil skoring Fitotoksisitas (%) Sesudah Rhapix excelsa Tingkat keracunan 15. Kerusakan mulai terlihat pada minggu ke-3 dengan bentuk atau warna daun tidak normal, adanya bercak Torenia fournien Tingkat keracunan 15. Kerusakan mulai terlihat pada minggu ke-3 dengan bentuk atau warna daun tidak normal, terdapat banyak bercak-bercak kuning pada daun. Ageratum conyzoides Tingkat keracunan 20. Kerusakan mulai terlihat pada minggu ke-3 dengan daun yang mulai rontok dan berwarna coklat Seluruh perlakuan memberikan respons fitotoksisitas yang relatif konsisten untuk setiap jenis gulma. Gulma Ageratum conyzoides menunjukkan tingkat fitotoksisitas paling tinggi pada seluruh perlakuan, dengan nilai sekitar 20% (Gambar . Hal ini menandakan bahwa jenis gulma tersebut paling sensitif terhadap paparan ekstrak mikroenkapsulasi maupun kondisi kontrol. Gulma Rhapix excelsa dan Torenia fournien menampilkan respons yang hampir serupa, dengan nilai fitotoksisitas sekitar 15% pada seluruh konsentrasi, termasuk pada kontrol. Kedua gulma ini menunjukkan tingkat ketahanan yang sedang terhadap bioherbisida. Agrisaintifika. Vol. No. 1, 2026 https://journal. id/index. php/agrisaintifika ISSN 2580-0345 . , 2580-748X . DOI: 10. 32585/ags. Fitotoksisitas (%) Putri et al. , 2026 Perlakuan Keterangan: P0= kontrol P1= perlakuan 20% P2= perlakuan 30% P3= perlakuan 40% A1= gulma Rhapix excelsa A2= gulma Torenia fournien A3= gulma Ageratum conyzoides Gambar 3. Hasil Pengukuran fitotoksisitas gulma berdaun lebar dengan pemberian bioherbisida mikroenkapsulasi ekstrak umbi Dioscorea hispida Dennts. pada umur 4 minggu SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses mikroenkapsulasi ekstrak umbi Dioscorea hispida menggunakan metode thin layer drying berhasil menghasilkan mikrokapsul yang stabil, berbentuk bulat, serta memiliki efisiensi enkapsulasi yang tinggi. Senyawa bioaktif, khususnya alkaloid dioscorin, terperangkap secara optimal sehingga lebih terlindungi dan tidak mudah mengalami Aplikasi mikrokapsul sebagai bioherbisida tertinggi terdapat pada konsentrasi 40% yang memberikan respons fitotoksik sebesar 20% terhadap gulma Ageratum conyzoides, yang ditandai dengan gejala keracunan sedang hingga berat berupa klorosis, kerontokan daun, serta gangguan fisiologis lainnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mikroenkapsulasi ekstrak umbi Dioscorea hispida Dennst. efektif digunakan sebagai bioherbisida alami untuk menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar. DAFTAR PUSTAKA