Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Edisi 1 Nomor 1 Juli 2012 ISSN : 2252 Ae 4495. Analisis Determinan Penanaman Modal Asing Langsung Di 20 kota di Indonesia Periode 2004Ae 2008 Neni Sri Wulandari. Program Studi Manajemen. STIE DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta Abstrak Indonesia merupakan negara berkembang sehingga investasi menjadi hal yang sangat penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kinerja ekonomi makro Namun, investasi di Indonesia belum menjadi daya tarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman modal asing (PMA) di 20 kota di Indonesia selama periode 2004 - 2008. Model regresi yang digunakan sebagai alat analisis adalah model regresi data panel fixed effect model (FEM) . Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDRB Riil. Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Upah Minimum Kota (UMK). Inflasi. Infrastruktur. Tingkat Kriminalitas. Kota yang dijadikan unit analisis sebanyak 20 kota selama periode 2004, 2006, dan 2008. Berdasarkan hasil estimasi diperoleh bahwa PDRB Riil. IPK, berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA. Sementara. UMK. Inflasi, dan tingkat kriminalitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMA. Sedangkan untuk variabel Infrastruktur berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PMA. Kata Kunci : PMA. PDRB Riil. UMK. Inflasi. IPK. Tingkat Kriminalitas JEL Codes : E22. E24. E31. E02. F43 Abstrack Indonesiais adeveloping country where investmentbecomesa very important factortospureconomicgrowthandmacroeconomic performance. However, investment inIndonesiahas notbecome attractivefor investors toinvestinIndonesia. This study aimstoanalyzethe factorsthat affectforeign direct investment(FDI) in 20cities inIndonesiaduring the period2004 to 2008. Regressionmodelisusedas an analytical toolis a model offixedeffectpaneldataregressionmodel (FEM). Variables arerealGDP. CorruptionPerceptionIndex(CPI). CityMinimumWage(CMW). Inflation. Infrastructure. CrimeRate. While thecityis used asthe unitof analysisas many as20 citiesover the period2004, 2006, and 2008. Based on the resultsobtainedrealGDP and CPI, have positiveand significant impact onFDI. Meanwhile. City Minimum Wage. Inflation, and thecrime ratehave significantnegativeeffectonFDI. significanteffectonFDI. Key Indicators : FDI. Real GDP. CPI City Minimum Wage. Crime Rate JEL Codes : E22. E24. E31. E02. F43 Penduhuluan Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang direncanakan yang mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Salah satu faktor penunjang bagi keberhasilan suatu pembangunan adalah adanya arus modal yang masuk atau biasa disebut investasi. Namun, iklim investasi di Indonesia belum dapat menjadi daya tarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satu penyebab buruknya iklim investasi tersebut adalah faktor administratif, yakni kebijakan yang terkait dengan proses perijinan di bidang investasi, khususnya yang ada di daerah. Kinerja investasi yang melamban secara langsung akan mempengaruhi proses pembangunan sehingga dibutuhkan suatu model pembangunan yang dapat mendorong terjadinya investasi masuk terutama dalam hal penanaman modal asing langsung ( Asropi 2. Gambar 1 Pertumbuhan Arus Masuk PMA ke Indonesia Tahun 1986 Ae 2006 PMA -2000 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 Sumber : ADB (Key Indicators of Developing Asian and Pacific Countrie. Dapat dilihat dari gambar diatas bahwa pertumbuhan nvestasi asing di Indonesia selama periode 1986 sampai dengan tahun 1996 mengalami pertumbuhan yang pesat. Namun, akibat krisis 1997 dan jatuhnyapemerintahan Soeharto yang sejak itu hingga saat ini pemerintahan pasca krisisbelum mampu sepenuhnya menciptakan iklim berusaha atau berinvestasi yang kondusif yang menyebabkan pertumbuhan arus masuk PMA kedalam negeri relatif mengalami perlambatan. Berikut ini adalah faktor-faktor penghambat utama yang menyebabkan menurunnya iklim investasi kota di Indonesia menurut World Economic Forum(WEF) tahun 2007: Gambar : 1. 2 Faktor-faktor Penghambat Investasi Asing di Kota di Indonesia Infrastruktur buruk 20,50% Birokrasi Tdk efisien Kebijakan pemerintah Peraturan TK yg restriktif Regulasi Pajak Inflasi Korupsi Regulasi uang asing Pemerintahan Tdk Stabil Pajak Etika Kerja Buruk Kriminalitas 16,10% 10,70% 8,50% 5,50% 4,20% 3,70% 2,20% 1,80% 0,50% 0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% Sumber :World Economic Forum, 2007 Dari Gambar 1. 2 diatas, salah satu penyebab lambatnya investasi asing di Indonesia yaitu merebaknya korupsidiberbagai daerah terutama didaerah kota. Permasalahan yang dihadapi di era otonomi daerah yang berkaitan dengan PMA adalah masalah ketenagakerjaan termasuk salah satunya adalah penetapan tingkat upah minimum. Dilema dari penetapan upah minimum adalah pemerintah daerah harus berusaha menetapkan kebijakan yang sama-sama memberikan keuntungan bagi perusahaan dan para pekerja. Disisi lain, penetapan upah minimum didaerah kota di Indonesia juga harus memenuhi standar of living dari tenaga kerja. Ada beberapa faktor lain penghambat masuknya arus PMAL, yaitu buruknya infrastruktur di daerah kota. Survey dari World Economic Forum (WEF) tahun 2007 menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi yang sangat buruk dilihat dari segi infrastruktur tak terkecuali infrastruktur di daerah kota yang sangat memprihatinkan. Masalah PMAL kota terkait juga dengan adanya biaya produksi yang tinggi , tingkat upah yang rendah serta tingkat keamanan. Secara ekonomi, uang yang diberikan untuk melicinkan urusan dengan birokrasi tidak termasuk pada anggaran biaya produksi. Dengan memberi sejumlah uang pelicin sebagai jaminan kelancaran dan keamanan menjadikan para investor . menanggung beban ganda. Berdasarkan latar belakang diatas maka diperlukan penelitian yang mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman modal asing di 20 kota di Indonesia dengan judul penelitian : AuAnalisis Determinan Penanaman Modal Asing Langsung di 20 Kota di Indonesia Periode 2004 - 2008Ay Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah : Bagaimana pengaruh positif PDRB. Tingkat Korupsi (IPK), dan Infrastruktur terhadap PMAL di 20 Kota di Indonesia periode 2004-2008 ? Bagaimana pengaruh negatif Tingkat Upah (UMK). Inflasi, dan Tingkat Keamanan(Kriminalita. terhadap PMAL secara bersama-samadi 20 Kota di Indonesia periode 2004 - 2008 ? Bagaimana pengaruh PDRB. Tingkat Korupsi (IPK). Tingkat Upah (UMK). Inflasi. Infrastruktur dan Tingkat Keamanan(Kriminalita. terhadap PMAL secara bersama-samadi 20 Kota di Indonesia periode 2004 - 2008 ? Metode Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi PMAL di 20 Kota di Indonesia periode 2004 - 2008 yang tercermin dari besarnya nilai PMAL pada kurun waktu tersebut. Adapun faktor-faktor yang diduga mempengaruhi PMAL pada periode tersebut adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ,Tingkat Korupsi (IPK) . Tingkat Upah (UMK). Inflasi. Infrastruktur dan Tingkat Keamanan (Kriminalita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan kuantitatif sementara data yang digunakan adalah data panel yaitu gabungan data runtun waktu . ime serie. dan data silang tempat . ross sectio. Dengan mempertimbangkan paparan sebelumnya maka model estimasi dalam penelitian ini adalah model regresi data panel dengan persamaan sebagai berikut : 1 Persamaan Model ycycycycyeOyei = yuya yuya ycycycycyeOyei yuya ycyeayeeyeeyenyecyeiyeOyei yuyc ycyeU. ycyecyeCyeOyeOyei yuye ycyeayeNyesyeCyeiyeO yuye ycyeayeNyeeyeCyeiyeiyeeyenyeUyeiyenyee yuyi ycyeU. ycyeIyeCyeayeCyeayeCyea yeIyeOyei Dimana : PMALit = Realisasi PMAL kota ke-i pada tahun t PDRBit = Realisasi PDRB riil kota ke-i pada tahun t Corruptit = Indeks Korupsi kota ke-i pada tahun t Tk. Upahit = Tingkat Upah kota ke-i pada tahun t Inflasiit = Tingkat Inflasi kota ke-i pada tahun t Infrastrit = Infrastruktur kota ke-i tahun pada tahun t Tk. Keamanan = Tingkat keamanan kota ke-I pada tahun t = Variabel pengganggu . rror ter. Ait = Parameter Regresi, i = 1, 2, 3,A. = Daerah i ( i = 1, 2, 3,A. = Tahun ke t ( t = 2004 -2. Operasionalisasi Variabel Operasionalisasi variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel dan penjelasan dibawah ini : Tabel 1Operasionalisasi Variabel Variabel Ukuran Skala BKPM Pusat dan Daerah. Asian Development Bank PMAL Rasio Jumlah seluruh produksi barang/jasa dihasilkan masyarakat yang berada di daerah regional tertentu dalam waktu satu tahun. BPS Pusat dan Propinsi PDRB Riil/Kapita Rasio CPI (Corruption Perception Index ) yaitu indeks korupsi yang diukur dengan skala 110 Tranparency International Indonesia Indeks CPI Rasio Daya beli dari uang yang diterima tenaga kerja suatu produk BPS Disnakertrans Upah Nominal / Tingkat Harga Rasio Kecenderungan harga-harga secara umum dan terusmenerus. BPS yaycAyayc = yayayayc OeyayayaycOe1 Rasio kebutuhan dasar fisik yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor privat sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan Bappeda Panjang Jalan Raya Berdasarkan Kondisi Baik Rasio Sesuatu yang melanggar meresahkan masyarakat Kejaksaan Tinggi Jumlah Narapidana Rasio Definisi Sumber Data Variabel Dependen Penanaman Modal Asing Langsung (Foreign Direct Investment/FDI) (Y) Seluruh jumlah investasi yang merupakan bentuk modal dari perusahaan asing kepada daerah Variabel Independen Produk Domestik Regional Bruto Riil (PDRB) (X. Tingkat Korupsi (X. Tingkat Upah Riil (X. Inflasi (INF) (X. Infrastruktur (X. Tk. Keamanan (Kriminalita. (X. Jenis dan Sumber Data yayayaycOe1 Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat dan Daerah dan Tranparency International (TI). Bappeda. Disnakertrans dan selama periode 2004-2008. Data yang dikumpulkan berupa data Time Series dan Data Cross Section. Dimana data Time Series yang digunakan mulai tahun 2004 sampai Sedangkan untuk data Cross Section digunakan data sebanyak 20 kota yang ada di Indonesia. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi, studi literatur. Metode Analisis dan Rancangan Uji Secara umum, terdapat dua jenis estimasi model ekonometrika data panel yaitu . Model Fixed effect Approach dan . Model random Effect Approach. Untuk menentukan salah satu estimasi model yang digunakan dalam penelitian ini maka akan dilakukan melalui Uji Hausman (Hausman Tes. Rancangan Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji Otokorelasi Uji Multikolinearitas Rancangan Pengujian Statistik Uji Parsial (Uji . Uji Simultan . ji F) Koefisien Determinasi (R. Lokasi Penelitian Adapun kota-kota yang termasuk dalam penelitian ini adalah Kota Banda Aceh. Medan. Padang. Batam. Pekanbaru. Palembang. DKI Jakarta. Cilegon. Bandung. Semarang. Yogyakarta. Surabaya. Pontianak. Palangkaraya. Banjarmasin. Balikpapan. Manado. Gorontalo. Makasar, dan Denpasar. Hasil dan Pembahasan Uji Hausman (Hausman Tes. Untuk menentukan pendekatan yang digunakan apakah fixed effect atau random effect dilakukan dengan menggunakan Uji Hausman. Dari hasil uji Hausman, diperoleh nilai probabilita sebesar 0,0000. Dengan nilai probabilitas yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 yang berarti tolak Ho dan dapat disimpulkan bahwa model fixed effect lebih baik daripada model random effect. Hasil Pengujian Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas . Hasil uji multikolinieritas di atas menunjukkan bahwa hubungan antara variabel bebas dalam model penelitian ini relatif kecil atau kurang dari 0,8. Hal ini menunjukkan bahwa model penelitian ini terbebas dari masalah multikolinieritas. Uji Otokorelasi Dari hasil output Eviews diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 2,397dengan observasi sebesar 60 dan banyaknya variable bebas . sebesar 6 maka pada tingkat signifikansi 5% diperoleh nilai dL adalah 1,41 dan dU adalah 1,77. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan,bahwa model penelitian terbebas dari masalah autokorelasi pada tingkat = 5 %. Pengujian Statistik Uji t untuk PDRB Dari hasil output Eviews untuk variabel PDRBdiperoleh koefisien sebesar 0,020 dan nilai thitung = 13,485 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 Dengan A = 0,05 dan df = n-k-1=53 diperoleh ttabel = 2 . Oleh karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMA diterima. Uji t Untuk Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Dari hasil output Eviews untuk variabel IPK diperoleh koefisien sebesar 175,816 dengan nilai thitung = 3,253 dan taraf signifikansi sebesar 0,002. Dengan menggunakan A = 0,05 dan df = n-k-1=53 diperoleh ttabel =2. Oleh karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa IPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMAL diterima. Uji t Untuk UMK Dari hasil output Eviews untuk variabel UMK diperoleh koefisien sebesar 3,079 dengan nilai thitung = -7,305 dan taraf signifikansi sebesar 0,000. Dengan menggunakan A = 0,05 dan df = n-k-1=53 diperoleh ttabel = 2. Oleh karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa UMK PMAL Uji t Untuk Inflasi Dari hasil output Eviews untuk variabel inflasi diperoleh koefisien sebesar -16,702 dengan nilai thitung = -2,354 dan taraf signifikansi sebesar 0,024 Dengan A = 0,05 dan df = n-k-1=53 diperoleh ttabel = 2. Oleh karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PMAL ditolak. Uji t Untuk Infrastruktur Dari hasil output Eviews untuk variabel infrastruktur diperoleh koefisien sebesar 0,000 dengan nilai thitung = 0,141 dan taraf signifikansi sebesar 0,888. Dengan menggunakan A = 0,05 dan df = n-k-1=53 diperoleh ttabel = 2. Oleh karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa infrastruktur berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMAL tidak ditolak Uji t Untuk Tingkat Kriminalitas Dari hasil output Eviews untuk variabel tingkat keamanan diperoleh koefisien sebesar 1,046 dengan nilai thitung = 11,137 dan taraf signifikansi sebesar 0,000. Dengan menggunakanA = 0,05 dan df n-k-1=53 diperoleh ttabel = 2,021. Oleh karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa tingkat kriminalitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap PMAL diterima. Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F) Dari hasil output Eviews diperoleh nilaiFhitung = 49,387 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000. Dengan A = 0,05. df1=6-1= 5 dan df2 = 60-6 =54 Ftabel = 2,37 . Dengan fhitung >ftabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa PDRB . IPK. Infrastruktur. UMK. Inflasi, dan Tingkat Keamanan berpengaruh signifikan terhadap PMAL diterima. Koefisien Determinasi (R. Dalam penelitian ini nilai adjusted R2 sebesar 0,9534 atau 95,34%. Artinya sebesar 95,34 % perubahan nilai PMAL dipengaruhi oleh PDRB. IPK. UMK. Inflasi. Infrastruktur, dan Tingkat Keamanan dan sisanya sebesar 4,66 % dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel yang diteliti dalam penelitian. Pembahasan Hasil Penelitian Setelah melakukan serangkaian pengujian secara statistik, maka dalam bagian ini akan dilakukan analisis ekonomi dan pembahasan terhadap hasil estimasi yang Dalam hal ini akan dianalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing Langsung (PMAL) di 20 Kota di Indonesia. Pengaruh PDRB Terhadap PMA di 20 Kota di Indonesia Pengaruh PDRB terhadap Penanaman Modal Asing ternyata positif dan Besarnya pengaruh PDRB dapat dilihat dari nilai koefisien parameter 0,02 dengan signifikansi 0,000 pada =5%. Pengaruh PDRB terhadap Penanaman Modal Asing Langsung (PMAL) didukung oleh hasil penelitian Mohamad Kholis . yang menyimpulkan bahwa dalam jangka panjang Produk Domestik Bruto berpengaruh secara positif terhadap aliran investasi asing dan dari hasil penelitian Daru Wahyuni . yang menyimpulkan bahwa dalam jangka panjang variabel PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penanaman Modal Asing di Indonesia Pengaruh Korupsi (IPK) Terhadap PMAL di 20 Kota di Indonesia Pengaruh Korupsi terhadap Penanaman modal Asing ternyata positif dan Besarnya pengaruh korupsi dapat dilihat dari nilai koefisien parameter 816 dan signifikansi 0,0026 pada = 5%. Koefisien parameter korupsi yang memiliki angka positif menunjukkan bahwa pada saat IPK tinggi . orupsi renda. investasi asing cenderung meningkat, sebaliknya pada saat IPK rendah . orupsi tingg. investasi asing cenderung menurun. Hasil penelitian ini penelitian dari C. Hsio & Y. Shen . yang menyimpulkan bahwa korupsi akan berdampak positif terhadap investasi asing. UMK Terhadap PMAL di 20 Kota di Indonesia Pengaruh Upah riil yang dihitung berdasarkan selisih upah nominal (UMK) dengan inflasi . roksi PDRB rii. memiliki koefisien negatif dan signifikan dalam mempengaruhi investasi asing. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien 175,816 dan signifikansi 0,0026pada =0,05. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Fransisca M. Beer dan Cory Suzanne . yang melakukan penelitian di Amerika, meyimpulkan bahwa upah riil yang tinggi akan menyebabkan investasi asing langsung berkurang. Pengaruh Inflasi Terhadap PMAL di 20 Kota di Indonesia Inflasi memiliki koefisien negatif dan signifikan dalam mempengaruhi investasi asing. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien -16,702 dan signifikansi 0,024pada =0,05. Bukti empiris yang mendukung hasil penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Nunnemberg. Marcelo Braga dan De Mendoca. Mario Cardosa . yang menyimpulkan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap investasi swasta. Pengaruh Infrastruktur Terhadap PMA di 20 Kota di Indonesia Infrastruktur/prasarana yang tersedia berpengaruh terhadap perilaku investor dalam menanamkan modal di Indonesia. Berdasarkan hasil perhitungan regresi bahwa koefisien infrastuktur yang sebesar 0,000 dengan signfikansi 0,888 pada = 0,05 Tidak signifikannya variabel infrastruktur terhadap penanaman modal asing langsung (PMAL) sesuai dengan penelitian Ahmad Saprianoor . yang melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi penanaman modal asing langsung di Indonesia dan menunjukkan bahwa infrastruktur tidak signifikan. Peneliti juga menyatakan bahwa infrastruktur yang tidak signifikan ini disebabkan oleh keterbatasan data yang hanya menggunakan indikator panjangnya jalan. Pengaruh Tingkat Kriminalitas Terhadap PMAL di 20 Kota di Indonesia Tingkat kriminalitas berpengaruh positif terhadap investasi asing langsung di 20 Kota di Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan regresi yang menunjukkan bahwa koefisien tingkat kriminalitas sebesar 1,046 dengan signifikansi 0,0003 ( = 0,. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Elizabeth Asiedu . yang menyimpulkan bahwa tingkat kemanan yang diindikasikan dengan tingkat kriminalitas dalam penelitian ini memiliki pengaruh negatif signifikan trehadap investasi asing langsung . Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang analisis tentang PMAL di 20 Kota di Indonesia Periode 2004 Ae 2006 dengan menggunakan regresi data panel dengan metode Fixed Effect Model (FEM) dapat disimpulkan bahwa : Faktor-faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Asing Langsung (PMAL) di 20 Kota di Indonesia pada periode 2004, 2006 dan 2008 adalah PDRB. Korupsi (IPK). Upah riil (UMK). Inflasi. Infrastuktur dan Keamanan (Tingkat Kriminalita. Hasil estimasi regresi menunjukkan bahwa PDRB. Korupsi (IPK) dan Keamanan (Tingkat Kriminalita. berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan infrastruktur berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap Penanaman Modal Asing Langsung (PMAL) di 20 Kota di Indonesia. Di sisi lain. Upah riil (UMK) dan inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Penanaman Modal Asing Langsung (PMAL) di 20 Kota di Indonesia. Saran