PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Formalisme Agama: Tinjauan Teologi Religionum tentang Formalisme Agama dan Relevansinya dalam Kerukunan Umat Beragama Denni Khas Juliana Br Nainggolan, 2Pitri Sartika Sihotang Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara dennikhasjuliananainggolan@gmail. com, 2pitrisihotang@gmail. Abstract: This study aims to examine religious problems which are only a formality and to find out about a symptom, event, event that is happening at the present time which is directly related to religious formalism. The research method used is library research, namely by collecting relevant literature in order to obtain the necessary data. The research finding is that if religion is to really function, it must be determined to break through its rigidity of dogmatism and ritualism, and start paying very serious attention to ethical challenges. Any religion that is aware of ethical challenges will recognize that these ethical challenges are common challenges. Religion is not just a formality because if it is only so then it is dangerous, both for the religion itself and its adherents. With formalization, religion will be amputated in such a way, separated from social and cultural contexts, weaned from its growth throughout history, and its messages will be determined based on the ideological frame and/or platform of political parties. Keywords: Formalism. multi-religious. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan agama yang hanya menjadi formalitas saja serta untuk mengetahui tentang suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang yang berhubungan langsung dengan formalisme agama. Metode penelitian yang dipakai adalah penelitian pustaka, yaitu dengan cara mengumpulkan literatur-literatur yang relevan guna memperoleh data yang diperlukan. Temuan penelitian adalah bahwa bila agama benar-benar mau berfungsi, harus bersiteguh hati menerobos kebekuan dogmatisme dan ritualismenya, dan mulai menaruh perhatian yang amat serius terhadap tantangan-tantangan etis. Setiap agama yang menyadari tantangan etis akan menyadari bahwa tantangan-tantangan etis ini adalah tantangan-tantangan bersama. Agama bukan hanya sekedar formalitas saja karena jika hanya demikian maka hal itu membahayakan, baik bagi agama itu sendiri maupun penganutnya. Dengan formalisasi, agama akan diamputasi sedemikian rupa, dilepaskan dari konteks sosial dan kultural, disapih dari pertumbuhannya sepanjang sejarah, dan pesan-pesannya akan ditentukan berdasarkan bingkai ideologis dan/atau platform partai politik. Kata kunci: Formalisme. multi religius. Pendahuluan Dewasa ini formalisme agama mungkin adalah virus sosial yang paling mematikan di dunia sekarang ini. Dalam arti, formalisme agama adalah pemahaman beragama yang terjebak pada bentuk . semata, seperti ritual dan aturan-aturan yang sudah ketinggalan jaman. Orang sibuk mengikuti aturan berdoa dan aturan moral yang dibuat ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu, tanpa paham isi dan tujuan sebenarnya. Ia lalu cenderung untuk tidak toleran terhadap perbedaan, bersikap fanatik dan radikal. Kebangkitan agama-agama tidak disertai dengan peningkatan yang substansial dalam kerjasama antar-agama, malah sebaliknya memperlihatkan kian mengentalnya pengkhotbah-pengkhotbah antar-umat. Hubungan antaragama cenderung begitu formalnya, menjadi hubungan Aantar-kotakA semakin kehilangan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 spontanitas, dinamika dan dimensi personalnya. Padahal ketika hubungan itu menjadi hubungan formal Aantar-kotakA, sulit sekali kalau tidak hendak dikatakan mustahil mengharapkan terjadinya terobosan-terobosan yang kreatif dan orisinal. Paling-paling yang maksimal dapat diharapkan adalah kesepakatan-kesepakatan formal yang mengukuhkan status Melihat berbagai peristiwa yang terjadi di dunia, khususnya dengan banyaknya kekerasan yang berhubungan dengan agama atau suatu gereja, mungkin muncul pertanyaan, apakah dunia lebih baik tanpa agama atau gereja. Pertanyaan dan ini nampaknya konyol, namun di dalamnya terkandung sebuah kerinduan bagaimana supaya umat beragama dapat memberikan perannya di tengah-tengah dunia ini. Bukan saja sekedar pengakuan Aaku percayaA tetapi bagaimana kepercayaan itu menjadi sumber nilai dan norma yang mendasari tatanan kehidupan dalam konteks pluralisme dewasa ini. (Saragih 2. Agama sebagai aktivitas hidup manusia membutuhkan bentuk-bentuk konkret dalam sikap hidup dan tindakan. Dengan demikian, beragama tidak sekedar meyakini sesuatu, tetapi bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya. Bahkan beragama seharusnya terwujud dalam totalitas kehidupan dan diamalkan dalam setiap tingkah laku, sehingga agama tidak hanya berarti bagi diri sendiri, melainkan juga bagi sesama dan lingkungan tempat seseorang berada. Ambiguisitas agama muncul atas dualisme, maka dapat dilihat bahwa agama memiliki sifat ambigu. Dualisme muncul dalam kategori-kategori misalnya transenden dan imanen, yang tunggal dan yang jamak . , yang universal dan yang partikular, ambiguisitas agama, dalam pandangan Aloysius Pieris terlihat dalam penampilannya dimana agama dapat sekaligus membebaskan dan juga memperbudak penganutnya. Menurutnya dalam wajahnya yang psikologis, watak memperbudak agama terwujud dalam takhyul, ritualisme, dogmatisme, sedangkan dalam wajahnya yang secara sosiologis memperbudak agama cenderung mengabsahkan suatu struktur status quo yang menindas. Di lain pihak wajah agama yang secara psikologis membebaskan dapat dilihat dalam pembebasan batin dari dosa . ammon, anti Allah, naluri-naluri memeras dan meninda. , sementara itu wajah agama yang secara sosiologis membebaskan tampak dalam potensi agama untuk melakukan transformasi Dengan kata lain, agama membebaskan apabila agama itu memungkinkan kita untuk bergaul dan berhubungan dengan orang-orang lain tanpa beban. Fanatisme adalah wujud yang sangat jelas dari wajah agama yang memperbudak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan agama yang hanya menjadi formalitas saja serta untuk mengetahui tentang suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang yang berhubungan langsung dengan formalisme agama. II. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif, yaitu dengan menggunakan sumber informasi berdasarkan sumber literatur atau pustaka . ibrary researc. yang relevan dengan topik yang ditelusuri. Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh oleh peneliti dalam menggali data dan menginterpretasi data guna menemukan jawaban permasalahan dalam penelitian. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Hasil dan Pembahasan Hakikat Agama dan Fungsinya Dalam bahasa Inggris, agama berarti religion, yang berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Pengertian ini menjelaskan bahwa agama adalah keterikatan manusia dengan Tuhan. Hal ini tampak dari gambaran agama yang memiliki sifat keterikatan manusia terhadap Tuhan di dalam menjalankan dan mematuhi semua ajarannya. (Kahjmad 2. Dalam bahasa Sansekerta, agama berarti ajaran atau kumpulan peraturan. Akar katanya adalah AugamAy yang berarti pergi dan awalan AuaAy berarti tidak. Jadi, pengertian agama yaitu yang tetap atau tidak berubah. (Heuken 1. Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong dan penggerak serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya. (Poerwadarminta 1. Elizabeth K. Notingham memandang bahwa agama bukan sesuatu yang dapat dipahami melalui defenisi, melainkan melalui deskripsi . Menurutnya, agama adalah gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana, dan agama berkaitan dengan usaha manusia untuk dapat mengukur dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadaan alam Selain itu, agama dapat membahagiakan batin yang paling sempurna, dan juga perasaan takut dan ngeri. Meskipun perhatian tertuju kepada adanya suatu dunia yang tidak dapat dilihat . , namun agama melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari dunia. (Notingham 1. Masalah yang berhubungan dengan agama terkadang menimbulkan konflik antar pemeluk agama. Apalagi jika agamanya dibandingkan dengan agama lainnya dan jika berkaitan dengan masalah keyakinan. Karena, beragama sudah menjadi darah dan daging di dalam jiwa dan raga yang melekat erat dalam kehidupannya. Manusia menginginkan sebuah agama karena dipahami agama dapat memberikan kenyamanan khususnya dalam spiritual. Manusia hidup dengan didampingi oleh pergumulan/permasalahan. Untuk menjawab permasalahan tersebut tidak selamanya dapat diatasi secara sosiologis, akhirnya manusia lari kepada agama karena agama diyakini memiliki kemampuan untuk menjawab permasalahan manusia tersebut. Selain dari pada itu, agama juga memberikan sebuah jalan keselamatan, pembelajaran dan inilah yang disebut sebagai fungsi agama tersebut. (Kristiantoro 2. Berikut ini diuraikan berkenaan dengan fungsi agama. Pertama, fungsi edukatif. Manusia mempercayakan fungsi edukatif kepada agama yang mencakup tugas mengajar dan tugas bimbingan. Tidak seperti instansi/institusi profan, agama dianggap sanggup memberikan pengajaran otoritatif, bahkan dalam hal-hal yang sakral tidak dapat salah. Agama menyampaikan ajarannya dengan perantaraan petugaspetugasnya baik di dalam upacara keagamaan, khotbah, renungan, . , pendalaman rohani, dll. Tugas bimbingan yang diberikan petugas-petugas agama juga dibenarkan dan diterima berdasarkan pertimbangan yang sama. Masyarakat mempercayakan anggotaanggotanya kepada instansi agama dengan keyakinan bahwa mereka sebagai manusia . i PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 bawah bimbingan agam. , akan mencapai pribadinya yang penuh melalui proses hidup yang telah ditentukan. Bahkan saat terakhir manusia menghadapi kematian, kehadiran petugas agama sebagai pembimbing. (Yewangoe 2. Kedua, fungsi penyelamatan. Berbicara tentang keselamatan adalah hal yang diinginkan setiap manusia, baik itu ketika masih hidup maupun sesudah mati. Untuk mencapai hal itu, agama adalah satu-satunya jaminan yang dapat dipercayai. Karena di dalam agama terdapat cara untuk mencapai kebahagiaan, mengenal yang sakral dan berkomunikasi dengannya. Agama juga sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhannya dengan jalan pengampunan dan penyucian. Perdamaian antara manusia dengan Tuhan dan pengenalannya akan yang sakral secara teologis akan mengarahkan pula terhadap perdamaian dengan sesama manusia dan lingkungannya. Ketiga, fungsi pengawasan sosial. Pada umumnya manusia mempunyai keyakinan yang sama, bahwa kesejahteraan kelompok sosial khususnya masyarakat besar umumnya tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan kelompok atau masyarakat itu pada kaidah-kaidah susila dan hukum-hukum rasional yang telah ada pada kelompok itu. Disadari pula bahwa penyelewengan terhadap nilai-nilai susila dan peraturan yang berlaku mendatangkan petaka dan kesusahan yang pada waktunya melemahkan fungsi masyarakat. Oleh karenanya agama ikut bertanggungjawab atas adanya norma-norma susila yang baik yang diperlakukan atas masyarakat manusia umumnya. Maka agama menyeleksi kaidah-kaidah susila yang ada yang mengukuhkan yang baik sebagai kaidah yang baik dan menolak kaidah yang buruk untuk ditinggalkan sebagai larangan atau tabu. Agama memberi juga sanksi-sanksi yang harus dijatuhkan kepada orang-orang yang melanggarnya dan mengadakan pengawasan yang ketat atas pelaksanaannya. Keempat, fungsi memupuk persaudaraan. Semua manusia mendambakan persaudaraan dan perdamaian dan hal ini merupakan kebutuhan dasar manusia. Dunia tidak menginginkan perpecahan dan permusuhan melainkan persatuan dan perdamaian. Disinilah letak agama untuk membina persaudaraan tanpa memandang sekat-sekat suku, ras, golongan, dll. Persaudaraan yang dibangun oleh agama, misalnya Kristen dan Islam telah berhasil mempersatukan sekian banyak bangsa yang berbeda ras dan kebudayaan dalam satu keluarga besar, dimana mereka menemukan ketenteraman dan kedamaian. Dengan demikian melalui agama ada harapan untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan. Kelima. fungsi transformatif. Mengubah bentuk kehidupan masyarakat yang lama dengan menemukan nilai-nilai baru. Maka agama disini bukan berada dalam keadaan statis melainkan dinamis. Dalam artian bahwa agama mengambil peran untuk mengubah nilai-nilai yang bertentangan dengan kaidah-kaidah kemanusiaan yang wajar dan membentuknya ke arah kepribadian manusia yang ideal. Bersamaan dengan itu, transformasi yang dibangun oleh agama adalah membina dan mengembangkan nilai-nilai sosial yang pada intinya baik dan bermanfaat untuk kepentingan masyarakat luas. Keenam, fungsi psikologis. Agama adalah gejala yang begitu sering Auterdapat di manamanaAy dan agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadaan alam semesta. Selain itu agama membangkitkan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 kebahagiaan batin yang paling sempurna, dan juga perasaan takut dan ngeri. Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat supranatural . ternyata seakan menyertai manusia dalam ruang lingkup kehidupan yang luas. Agama memiliki nilainilai bagi kehidupan manusia sebagai orang-perorang maupun dalam hubungannya dengan Selain itu agama juga memberi dampak bagi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian secara psikologis agama dapat berfungsi sebagai fungsi intrinsik . alam dir. dan motif ekstrinsik . uar dir. Dan secara khusus motif yang didorong keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan nonagama. (Jalaluddin 2. Ketujuh, fungsi profetis. Bentuk pengawasan sosial agama terhadap masyarakat dalam dimensi yang tajam. Kekhususan dari fungsi ini profetis ini terletak pada sasaran dan caranya. Sasaran AukritikAy tersebut aalah kategori atau golongan sosial yang sedang berkuasa atau pemegang tampuk pemerintahan yang dalam kedudukannya melakukan tindakan-tindakan yang melanggar kaidah-kaidah susila sehingga menimbulkan kerugian dan penderitaan baik moral maupun material kepada rakyat bawahannya. Dengan kata lain, keadilan dan ketenteraman masyarakat terganggu akibat ulah pemerintah yang salah. Formalisme Agama dari Sudut Pandang Religionum Agama sebagai paradigma yang luhur jelas memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan individu maupun masyarakat. Dan pengaruh itu tentu menimbulkan pengaruh tertentu dan sikap mental tertentu. Sadar atau tidak sadar, konsep supranatural dalam agama bisa menciptakan rasa takut, pesimisme, dan pasrah yang tidak mendasar dalam individu dan masyarakat dengan menciptakan berbagai larangan-larangan yang bisa saja menyiksa fisik yang harus dipatuhi, apabila tidak akan memberikan dampak yang negatif. Apa yang dikatakan (Putera 2. sesungguhnya adalah kebenaran tentang rendahnya perhatian agamaagama terhadap isu-isu pada nilai-nilai kemanusiaan bersama, seperti: masalah kemiskinan, ketidakadilan dan kesenjangan sosial dan ekonomi. Akan tetapi konsentrasi agama-agama dewasa ini tidak lain adalah islamisasi atau kristenisasi, proyek pembangunan rumah ibadah dan berbagai spekulasi teologi sebagai apologetika agama untuk mendapatkan prestise di mata publik, tidak peduli apakah sikapnya itu telah melecehkan dan mencemarkan suatu agama Sejarah mencatat bahwa agama-agama yang ada di dunia telah menjadi faktor penyebab lahirnya berbagai konflik yang dimotori oleh agama. (Mufid 2. Hal ini berlawanan dengan keberadaan agama yaitu menciptakan perdamaian, kebenaran dan kasih. Agama yang diharapkan sebagai pembawa angin penyejuk dalam kehidupan manusia, ternyata agama juga menimbulkan konflik. (Yewangoe 2. Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah mengapa hal ini terjadi dan apa yang menyebabkannya. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh kita bersama. Kecenderungan terjadinya konflik antar agama adalah disebabkan oleh sekelompok orang atau individu yang menganggap bahwa ajaran agamanya adalah yang paling benar dan memandang ajaran agama lain salah. (Yunus 2. Tambahan lagi banyaknya pihak-pihak PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik, ekonomi dan lainnya. Sehingga benturan antar kepentingan oleh pihak-pihak tersebut tidak dapat dihindarkan lagi dan menjurus kepada terjadinya konflik. Para pemeluk agama juga memiliki kecenderungan jatuh ke dalam pembenaran diri secara sepihak melalui pengangkatan ayat-ayat kitab suci yang disebabkan oleh pemahaman dan penafsiran yang keliru. Ironisnya lagi timbul pemahaman bahwa ayat-ayat tersebut dipandang sebagai dasar untuk mengijinkan terjadinya konflik. Sebab lainnya adalah pelegalan kekerasan oleh agama demi kepentingan agama tersebut, yang tanpa disadari mengantarkan kepada terjadinya konflik antar berbagai pihak. (Sitompul 2. mengemukakan bahwa bentuk-bentuk konflik yang berlangsung secara rasional dan moral keagamaan masih dapat diterima, yaitu apabila konflik tersebut tidak sampai kepada bentuk yang merugikan pihak lain seperti perusakan, penjarahan, pembunuhan atau peperangan. Sedangkan apabila konflik tersebut bersifat destruktif, tindakan yang merugikan pihak lain bukanlah suatu konflik yang dapat ditolerir. Ay Beranjak dari keadaan ini jelaslah bahwa telah terjadi penyelewengan oleh individu atau kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama demi kepentingannya sendiri. Sehingga menciptakan disharmoni di antara umat beragama dan kaburnya nilai-nilai serta tujuan luhur dari sebuah agama. Wacana Permasalahan Formalisme Agama Formalisasi agama jelas sangat membahayakan, baik bagi agama itu sendiri maupun Dengan formalisasi, agama akan diamputasi sedemikian rupa, dilepaskan dari konteks sosial dan kultural, disapih dari pertumbuhannya sepanjang sejarah, dan pesanpesannya akan ditentukan berdasarkan bingkai ideologis dan/atau platform partai politik. Dalam situasi demikian, identitas dan simbol-simbol keagamaan menjadi bagian terpenting, bahkan lebih penting dari substansi pesan agama itu sendiri, untuk diperjuangkan. Mereka mengejar simbol-simbol, bukan mengamalkan substansi ajaran agama. Pembacaan secara harfiah dan mengutamakan simbol-simbol agama akan mengarahkan umat menjadi monolitik. Tidak heran jika kelompok-kelompok tertentu menolak pluralisme, baik pluralisme agama-agama maupun dalam agama. Hal ini sangat berbahaya karena tidak akan pernah ada celah untuk perbedaan, setiap yang berbeda, dengan menggunakan term-term teologis, akan divonis kafir, murtad dan semacamnya. Pembacaan secara harfiah dan parsial memang sangat menguntungkan untuk membingkai pesan-pesan agama dengan ideologi dan/atau platform partai politik. Karena dengan dalih makna . , seseorang atau kelompok tertentu bisa menyembunyikan agenda politiknya pada saat membajak ajaran agama. Formalisasi agama memang anak kandung pembacaan harfiah atas teks-teks agama dan sangat berbahaya, baik bagi agama itu sendiri, para penganutnya, maupun penganut agama yang berbeda. Pesan-pesan luhur agama direduksi pada tingkat kepentingan ideologis, pemaknaan yang monolitik akan mengarah pada penyeragaman para penganut agama, dan penganut agama yang berbeda akan terpinggirkan, teralienasi dari komunitas umat beragama yang ekstrem. Disini pluralisme terasa ganjil bagi pejuang formalisasi agama, karena formalisasi dan pemaknaan harfiah ini pula, kelompokkelompok tertentu sulit menerima kehadiran non-Muslim dan Muslim dengan paham yang Pluralisme adalah sebuah asumsi yang meletakkan kebenaran agama-agama sebagai PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 kebenaran yang relatif dan menempatkan agama-agama pada posisi setara, apapun jenis agama itu. Pluralisme agama meyakini bahwa semua agama adalah jalan-jalan yang sah menuju Tuhan yang sama. Atau, paham ini menyatakan, bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga karena kerelatifanya, maka seluruh agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya yang lebih benar dari agama lain atau meyakini hanya agamanya yang benar. (Gunarsa n. Jelas bahwa literalisme tertutup dan formalisasi agama amat berbahaya, baik pada tataran epistemologis maupun praksis. Maka sangat penting untuk menyadari bahaya laten kelompok-kelompok garis keras yang biasa dengan literalisme tertutup dan mengagendakan formalisasi agama. Formalisasi agama yang diperjuangkan kelompok-kelompok garis keras lebih didorong oleh motivasi politik daripada agama. Dari sudut pandang manapun, sulit menerima politisasi agama sebagai bagian dari ajaran agama, karena formalisasi agama sendiri adalah pengebirian terhadap agama itu sendiri. Bagi mereka, agama sudah menjadi Maka agama pun, secara meyakinkan, akan kehilangan pesan-pesan luhurnya, yang tersisa hanyalah simbol-simbol keagungan agama itu sendiri. Ini merupakan salah satu kesalah-kaprahan dalam melihat dan memahami agama. Seharusnya, agama dilihat dan diikuti sebagai petunjuk, sebagai jalan, menuju ilahi agar penganut agama menjadi manifestasi substansi pesan utama dan luhur agama. Ketika agama menjadi tujuan, maka Tuhan pun sirna dalam semesta keagamaan itu sendiri. Dalam konteks inilah, formalisasi agama terlihat jelas tidak didorong oleh motivasi agama, melainkan politik. (Wahid 2. AuDi bawah Yesus Kristus, pemimpin kita, hendaklah kamu berjuang untuk Yerusalemmu, dalam barisan perang Kristen, barisan yang paling tidak terkalahkan, bahkan dengan lebih berhasil ketimbang perjuangan anak-anak Yakub pada zaman dahulu, sehingga kamu dapat menyerbu dan mengusir bangsa Turki, yang lebih buruk ketimbang orang-orang Yebus, yang berada di tanah ini, dan hendaklah kamu menganggap mati demi Kristus di kota tempat mati demi kita, sebagai sesuatu yang indahAy. (Saragih 2. Kutipan ini adalah pidato Paus Urbanus II pada tanggal 27 November 1095 ketika mengajak umat Kristen untuk berperang dalam Perang Salib. (Wellem 2. Dikisahkan, segera setelah pidato ini, massa berteriak AuDeus VultAy (Allah menghendakiny. , setelah itu perang pun dilaksanakan. Inilah salah satu masalah ketika berbicara tentang kaitan antara agama perdamaian dan kekerasan. Ada begitu banyak praktek kekerasan di dunia ini yang sedikit banyaknya berkaitan dengan Di satu sisi pelaku mengatakan bahwa hal itu adalah perjuangan di jalan Allah, di sisi lain kelompok lain menyebut itu terorisme. Terserah sebutannya apa, yang pasti praktek kekerasan telah terjadi dan korban sudah ada. Konflik global antar umat manusia yang terjadi dalam satu abad ini menyadarkan kita. Betapa umat manusia, yang notabene sudah beragama, ternyata sulit menghindari diri dan sikap permusuhan dan pertikaian. Agama yang semestinya AumembumikanAy kehendak Ilahi di tengah popularitas kehendak duniawi yang menyesatkan kerap dijadikan panglima untuk menggempur penganut keyakinan lain tanpa rasa bersalah sedikit pun. Karena itu tidak heran dewasa ini persaingan, tindak kekerasan, dan pertengkaran antar agama, dimana-mana terjadi, bahkan diantara penganut agama yang sama. Kendati pemicu utama munculnya kekerasan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 tersebut umumnya lebih bermuatan unsur politik dan ekonomi. Tetapi tidak sedikit orang menghubungkannya dengan unsur agama. Agama dalam Masyarakat yang Multi Religius Ajaran dan pesan-pesan yang disampaikan oleh para pendiri agama, yang merupakan pendiri agama-agama di dunia, terutama bertujuan meringankan penderitaan dan membawa kedamaian serta kebahagiaan bagi seluruh umat manusia melalui pelaksanaan etika moral sesuai dengan cara hidup yang benar. Namun dewasa ini agama-agama di dunia telah berkembang menjadi lembaga-lembaga yang terorganisasi secara besar-besaran tanpa mencerminkan keterlibatan perasaan manusia di dalamnya, dengan akibat bahwa ajaranajaran asli dari para pendiri agama masing-masing telah terkikis atau terabaikan sehingga hampir tidak meninggalkan pengaruh pada para pengikutnya terutama dalam hal kesederhanaan, pengendalian diri, kebenaran dan sifat tidak mementingkan diri sendiri. Isi moral dari suatu agama dan nilai-nilai rohaniahnya yang mendorong kehidupan damai diselimuti oleh nilai-nilai lahiriah yang tampak lebih menarik. Banyak pemeluk agama yang telah mengabaikan atau meremehkan pesan-pesan pemimpin agama mereka hanya untuk mencari kekuasaan, ketenaran, dan keuntungan lahiriah lainnya guna kepentingan pribadi. Penyalahgunaan semacam ini cenderung menodai pikiran para penganut agama modern dan menyebabkan persaingan-pesaingan tak sehat dan menimbulkan hambatan-hambatan diantara berbagai kelompok agama maupun di dalam kelompok agama yang sama. (Manullang 2. mengungkapkan formalisme agama berakar pada setidaknya lima hal, diantaranya pertama, ia berakar pada kesalahpahaman tentang makna iman dan agama. formalisme agama berakar juga pada kemalasan berpikir. formalisme agama juga sering digunakan sebagai pembenaran untuk mengumbar nafsu dan kerakusan. formalisme agama juga berakar pada keinginan untuk menindas orang lain. orang mengikuti ajaran sebuah agama secara buta, seringkali karena kerinduan untuk masuk surga, serta menghindari neraka. Sikap yang perlu diperhatikan dalam menghindari formalisme agama adalah sebagai berikut: pertama, toleransi dan rasa hormat. Toleransi dan rasa hormat merupakan dua kata yang amat penting, yang harus diingat dalam suatu masyarakat yang multi religius. Seseorang tidak boleh hanya mengkhotbahkan sikap tenggang rasa, tetapi harus berusaha, pada setiap kesempatan yang memungkinkan, untuk selalu melaksanakan semangat keramahan, toleransi, sebab semangat itu akan amat membantu menciptakan suasana yang mengarah pada kehidupan damai dan serasi. Kita mungkin tidak dapat memahami atau menghargai nilai-nilai intrinsik dari upacara atau kebiasaan tertentu yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu. Demikian pula orang lain, mungkin tidak bisa memahami atau menghargai upacara atau kebiasaan kita sendiri. Jika kita tak menghendaki orang lain menertawakan perbuatan kita, janganlah kita menertawakan orang lain. Kita harus berusaha mencari arti atau memahami kebiasaan-kebiasaan yang asing bagi kita karena hal ini akan membantu menimbulkan pengertian yang lebih baik, sehingga kita dapat meningkatkan semangat toleransi diantara para penganut agama yang bermacam-macam. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Telah disebutkan bahwa rasa hormat menimbulkan rasa hormat pula. Jika kita mengharap pemeluk agama lain menghormati ibadah agama kita, maka pada gilirannya kita juga tidak boleh ragu-ragu untuk menunjukkan rasa hormat kepada mereka pada saat mereka melakukan ibadah mereka. Sikap ini pasti akan mendukung hubungan yang lancar dan ramah dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama masyarakat multi religius. Tanpa melaksanakan semangat toleransi dan saling menghormati, maka racun diskriminasi, ejekan, dan kebencian yang berbahaya itu akan menyembur menghancurkan kedamaian dan ketenteraman masyarakat dan negara kita. Suatu kenyataan bahwa di negara-negara tertentu yang tidak terdapat semangat toleransi dan saling hormat antar agama, maka pembunuhan, pembakaran dan penghancuran milik yang berharga telah terjadi. Tindakan tak berguna seperti itu, yang menyebabkan hilangnya nyawa yang sangat berharga dan harta benda yang tak dapat ditebus, seharusnya membuka mata semua orang yang mendambakan kehidupan damai dan serasi. Semua umat yang beragama harus bersatu dalam persahabatan dan hubungan baik serta dengan kehendak baik antara satu sama lain guna mencapai harapan semua orang yang cinta damai dalam membangun masyarakat yang serasi, aman dan Kedua, penyebaran agama. Untuk menyebarkan suatu agama tertentu, maka segi-segi terbaik atau terpenting dari agama tersebut perlu dikemukakan. Penampilan demikian memang diharapkan, sebab wajah yang menarik yang menimbulkan minat harus dimantapkan agar memperoleh perhatian. Menampilkan yang terbaik merupakan suatu pengutaraan yang cukup jujur. Namun dalam masyarakat multi religius, persaingan keras untuk mendapatkan penganut baru atau mereka yang pindah agama, haruslah ada saling pengertian diantara para pemuka agama agar terhindar dari perbuatan saling meremehkan, mengkritik, atau menjelekjelekkan keyakinan dan kebiasaan penganut agama lainnya. Sesuatu yang bagus, menarik, dan berguna dalam suatu agama tertentu merupakan hal yang pantas dikemukakan oleh pendukungnya, tetapi seseorang tidak boleh melangkahi penganut agama lainnya untuk memberitahu kepada dunia luar bahwa agamanya sendirilah yang terbaik, paling benar, sedangkan agama serta tata upacara keagamaan lainnya adalah palsu. Sikap demikian cenderung untuk menimbulkan rasa dengki dan bahkan rasa permusuhan diantara sesama pemeluk agama, dengan akibat saling balas dendam dan saling memaki, yang pasti tidak dikehendaki oleh agama terhormat manapun yang layak disebut agama. Ketiga, korban keadaan. Jika seorang anak kebetulan dilahirkan dalam keluarga Kristen, tidak ada pilihan lain kecuali bahwa anak tersebut akan dibesarkan menurut keyakinan dan cara-cara keagamaan orang tuanya dalam keluarga Kristen. Demikian pula anak yang dilahirkan dalam keluarga Muslim akan dididik menurut keyakinan dan tata cara Islam, dan anak dari keluarga Buddhis akan selalu mengikuti cara hidup Buddhis. Anak yang dilahirkan dalam keluarga Hindu akan dibesarkan sebagai orang Hindu. Kita semua terikat oleh keadaan di sekitar kita, lingkungan, agama, ras, dan kebudayaan, yang tidak dapat kita elakkan. Sebagai anak dalam keluarga religius tertentu, kita akan dididik menurut petunjuk dan latar belakang keagamaan orang tua. Keyakinan agama orang tua kita selalu menjadi keyakinan kita sendiri dan latar belakang budaya menjadi cara hidup kita. Setiap penganut agama harus PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 berusaha memahami lingkungan dan kebudayaan yang diwarisi masing-masing serta menghormati orang yang menurut apa adanya dan apa yang diyakininya sebagai jalan hidupnya, bukannya memaksakan pada orang lain suatu keyakinan lain dengan menyatakan secara berlagak bahwa Auagama saya adalah agama yang benar, anda harus memeluk agama saya Ae agama anda adalah agama yang salahAy. Tidak boleh menggunakan tekanan, kekerasan atau paksaan dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama, bila kita ingin hidup secara damai dan harmonis. Keempat, politik dan agama. Suatu segi lain yang perlu diperhatikan dalam usaha mencari kedamaian dan ketentraman dalam masyarakat muti religius bahwa masalah politik dan rasial tidak boleh dimasukkan ke dalam mimbar agama. Dapat kita pahami bahwa dalam dunia politik dewasa ini dan bahkan pada masa lampau, para politisi ingin mempengaruhi semua lembaga termasuk lembaga keagamaan guna meningkatkan tujuan politik mereka. Segala cara merupakan permainan yang jujur dalam politik, tetapi agama harus menjauhkan diri dari politik dan politisi. Mimbar rohaniah memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohaniah mereka yang berpikir religius, termasuk politisi yang religius, namun mimbar tersebut tidak boleh dipakai oleh politisi yang mungkin dapat merusak kedamaian dan ketentraman tempat ibadah melalui naungan politik mereka. Agama meliputi segalanya dengan demikian tidak boleh terdapat kendala rasial apapun. Kita semua, sementara menghormati dan menjunjung tinggi agama kita masing-masing, dan dalam keadaan apapun tidak diperkenankan mencela atau memandang rendah ajaran agama yang dianut oleh orang lain. Kita harus berusaha untuk mempelajari dan memahami dasar-dasar semua agama dan memilih apa yang terbaik dan dapat dipraktekkan, serta menyampaikannya yang bersifat kontroversial. Kita bisa menjunjung tinggi agama sendiri namun senantiasa menghormati agama orang lain. Hal ini pasti akan membantu terpeliharanya suasana damai dan serasi dalam masyarakat yang multi Refleksi Teologis Agama yang hanya berhasil membuat umatnya khusuk berdoa, tetapi tidak bermanfaat apa-apa dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya, tidak bersuara apa-apa ketika hak-hak kepentingannya yang sah direnggut, cuma menanamkan kebencian tetapi tidak memberikan damai sejahtera di hati, yang menggunakan propaganda politis untuk mendapat kekuasaan yang mengatasnamakan agama. Agama-agama, bila benar mau berfungsi, harus bersiteguh hati menerobos kebekuan dogmatisme dan ritualismenya, dan mulai menaruh perhatian yang amat serius terhadap tantangan-tantangan etis. Ketika agama-agama secara sendiri-sendiri menyadari tantangan-tantangan etis ini, ia akan menyadari bahwa tantangan-tantangan etis ini adalah tantangan-tantangan bersama. Masalah-masalah mendasar yang sedang kita hadapi semuanya adalah masalah-masalah bersifat Alintas agamaA. Masalah-masalah yang menyangkut kemiskinan, ketidakadilan, kebebasan. HAM, demokrasi, lingkungan hidup, kesenjangan sosial, masalah politik dan ssebagainya adalah masalah-masalah yang tidak membeda-bedakan agama. Dan sesungguhnya kekuatan yang memiskinkan yang menindas, yang menimbulkan rasa takut, yang merampas hak asasi manusia, kekuatan-kekuatan yang PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 merusak alam ciptaan, keserakahan dan kerakusan akan kuasa dan kebendaan, dan sebagainya, itulah personifikasi dari kekuatan-kekuatan yang merusak alam ciptaan, keserakahan dan kerakusan akan kuasa kebendaan, dan sebagainya. Itulah personifikasi dari kekuatan-kekuatan demonis abad ini. Kekuatan-kekuatan itu adalah iblis atau setan, kuasa kegelapan, dalam arti sesungguhnya. Musuh agama bukanlah agama yang lain, tetapi setansetan itulah musuh bersama dan musuh utama agama-agama. Ketika agama-agama berhasil mengatasi jebakan institusionalisme, formalisme, dogmatisme dan ritualismenya, dan mulai dengan serius menaruh kepedulian, ketika itulah pintu bagi dialog dan kerja sama antar-agama terbuka dengan lebar. IV. Kesimpulan Memberikan label . sesuatu dengan dalil-dalil agama tentunya harus melihat bagaimana kondisi empiris sesuatu itu sehingga tidak membuat kerisauan bagi orang lain yang tidak sama dengan kita. Menerapkan ajaran agama di dalam kehidupan adalah sebuah Tetapi juga harus diingat bahwa kita tidak hidup dalam suatu komunitas yang sama tetapi kita selalu hidup dengan komunitas lain. Maka, menjaga perasaan, sikap dan tindakan kita terkait dengan orang lain merupakan suatu keniscayaan. Begitu juga kekristenan dalam menafsirkan teks-teks dalam Kitab Suci tidak dengan cara yang tertutup, melainkan dengan jujur. Penafsiran yang tertutup yang akan membuat formalisasi semakin menguat demi propaganda politis dalam meraih kekuasaan. Jika kita sudah menafsirkan teks dengan jujur teks dengan jujur dengan keseluruhan, maka keseluruhan teks dalam Kitab Suci bisa terlihat maknanya dan bisa diaplikasikan maknanya. Dengan itu kita akan semakin diperkaya dengan mengkaji ulang landasan teologis, mempertimbangkan ulang metode misi, dan menemukan kehadiran makna agama lain. Dengan demikian, kita bisa menghargai kehidupan yang pluralis diantara sesama anak bangsa. Referensi