Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Pengaruh GCG dan Green Accounting terhadap Pelaporan ESG dengan Reputasi Perusahaan sebagai Mediasi Metiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 Akuntansi. Universitas Peradaban. Indonesia *Email:tya. fr@peradaban. id*1,agungprayogi@peradaban. septibisri19@gmail. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel ABSTRAK Diterima : 2025-08-26 Diperbaiki : 2025-09-08 Disetujui : 2025-10-01 Fenomena globalisasi dan degradasi lingkungan meningkatkan tekanan bagi perusahaan untuk mengembangkan perilaku bisnis yang etis dan bertanggung jawab terhadap aspek keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh GCG dan Green Accounting terhadap pelaporan ESG dengan reputasi perusahaan sebagai variabel mediasi. Subjek penelitian perusahaan yang terdaftar dalam indeks LQ45 di BEI periode 2020Ae2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan analisis data meliputi statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, dan uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GCG tidak berpengaruh terhadap reputasi perusahaan. Green Accounting berpengaruh positif terhadap reputasi perusahaan. GCG dan Green Accounting berpengaruh positif terhadap pelaporan ESG, namun reputasi perusahaan tidak berpengaruh terhadap pelaporan ESG. Reputasi perusahaan tidak memediasi pengaruh GCG maupun Green Accounting terhadap pelaporan ESG. Kata Kunci: ESG. Good Governance. Accounting. Perusahaan Keywords: ESG. Good Governance. Accounting. Reputation Corporate Green Reputasi ABSTRACT The phenomenon of globalization and eviromental degradation increases pressure on companies to develop ethical and responsible business behavior toward sustainability aspects. This study aims to analyze the influence of GCG and Green Accounting on ESG reporting with corporate reputation as a mediating variable. The research subjects are companies listed in the LQ45 index on the Indonesia Stock Exchange for the period 2020Ae2024. The sampling technique uses purposive sampling, while data analysis includes descriptive statistics, classical assumption tests, multiple linear regression, and mediation tests. The results show that GCG has no effect on corporate reputation. Green Accounting has a positive effect on corporate reputation. GCG and Green Accounting have a positive effect on ESG reporting, but corporate reputation has no effect on ESG reporting. Corporate reputation does not mediate the influence of GCG or Green Accounting on ESG reporting. Corporate Green Company Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 54311 PENDAHULUAN Permasalahan yang berkembang dalam satu dekade terakhir, isu keberlanjutan dan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan sosial telah menjadi pusat perhatian global (Fosu et al. , 2024. Tsang et al. , 2. Meningkatnya perhatian stakeholders terhadap isu keberlanjutan menuntut perusahaan untuk tidak hanya berfokus pada maksimalisasi kinerja keuangan semata, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 melalui pelaporan ESG (Boulhaga et al. , 2023. Wiredu et al. , 2. Berdasarkan hasil survei pelaporan keberlanjutan oleh KPMG tahun 2020 sebanyak 80% dari semua perusahaan berkapasitas besar dan menengah dalam skala global telah menerbitkan laporan praktik ESG dan berperan dalam aspek keberlanjutan, angka ini meningkat 68% dari tahun 1993, di mana pada saat itu hanya sekitar 12% perusahaan yang ikut andil dalam pelaporan ESG (Tsang et al. , 2. Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan tuntutan dari stakeholders akan transparansi praktik ESG di perusahaan (Bui et al. , 2. Munculnya konsep ESG dan ekonomi berkelanjutan didorong oleh meningkatnya fenomena degradasi lingkungan yang berakibat pada penurunan kualitas lahan, air, perubahan iklim, ketergantungan pada bahan bakar fosil, meningkatnya limbah industri, yang pada dasarnya disebabkan oleh aktivitas manusia mencakup kegiatan industri, transportasi, manufaktur, serta produksi energi dalam jangka panjang (Afzal et al. , 2. Sebagai respon terhadap fenomena tersebut, pada 25 September 2015 PBB meresmikan perjanjian internasional bertajuk AuTransforming our world: The 2030 Agenda of Sustainable DevelopmentAy perjanjian internasional ini mendorong instansi untuk lebih mengedepankan aspek pelestarian lingkungan dalam aktivitas bisnis, kesadaran akan perubahan iklim, serta turut andil untuk mencapai program SDGs pada tahun 2030 (Oka & Hermawan, 2025. Zheng et al. , 2. Fenomena globalisasi serta degradasi lingkungan meningkatkan tekanan bagi perusahaan untuk mengembangkan perilaku bisnis yang etis dan bertanggung jawab terhadap aspek keberlanjutan, perusahaan yang menerapkan kepemimpinan bisnis yang etis dan bertanggung jawab terhadap isu keberlanjutan cenderung akan memiliki lebih banyak inisiatif dalam berkontribusi terhadap pelaporan ESG (Coelho et al. , 2. Di Indonesia, urgensi ESG diperkuat dengan dikeluarkannya salah satu regulasi yaitu POJK No. 51/POJK. 03/2017, regulasi ini mewajibkan penyampaian laporan keberlanjutan oleh lembaga keuangan serta emiten (Oka & Hermawan, 2. Urgensi pelaporan keberlanjutan di Indonesia juga diperkuat oleh visi pemerintahan Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045 yang tertera dalam 8 misi yang disebut Asta Cita (Kristantyo Wisnubroto, 2. Asta Cita kedua secara eksplisit menjelaskan transformasi keberlanjutan serta agenda ekonomi hijau sebagai prioritas nasional, ekonomi hijau ditujukkan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan tanpa merusak lingkungan dengan cara mengupayakan percepatan pencapaian net zero emission, penurunan carbon footprint serta penurunan water footprint (Prabowo & Gibran, 2. Asta Cita kedua menunjukkan bahwa isu keberlanjutan dan ekonomi hijau telah menjadi tujuan strategis dalam rangka pembangunan jangka panjang yang tentunya harus dipatuhi oleh korporasi-korporasi yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, implementasi pelaporan ESG di Indonesia menunjukkan variasi yang cukup signifikan, ditinjau dari sisi kelengkapan, transparansi, maupun kualitas informasi yang disampaikan. Variasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai berbagai faktor internal yang dapat mempengaruhi kualitas pelaporan ESG di perusahaan. Praktik Good Corporate Governance (GCG) dan Green Accounting disinyalir sebagai dua faktor internal yang dapat berpengaruh terhadap pelaporan ESG di suatu perusahaan. Good Corporate Governance mengacu pada seperangkat aturan, praktik, serta proses yang diterapkan untuk memastikan perusahaan beroperasi dengan mengedepankan efisieni, transparansi, dan akuntabilitas (Mansour et al. , 2. GCG memainkan peran penting terhadap pelaporan ESG di suatu perusahaan, namun hubungan antara kedua gagasan ini masih belum Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 dieksplorasi secara konklusif (Brogi & Lagasio, 2. Kerangka GCG dapat mempengaruhi cakupan dan kualitas pelaporan ESG karena perusahaan dengan GCG yang kuat cenderung mengadopsi kerangka kerja pelaporan keberlanjutan yang komprehensif serta mengungkapkan lebih banyak informasi ESG kepada para stkeholders (Brogi & Lagasio, 2. Penerapan GCG dapat meningkatkan kepercayaan para stakeholders terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan, penerapan prinsip-prinsip GCG yang mencakup keadilan, akuntabilitas, transparansi dan independensi dapat menjadi dasar serta mendorong adanya pelaporan ESG yang lebih baik (Tjahjadi et al. , 2. GCG memiliki peran penting dalam mendorong kualitas pelaporan ESG, pengimplementasian GCG di suatu perusahaan bertujuan untuk menyeimbangkan kepentingan individu dan komunal serta ekonomi dan sosial. Pelaporan ESG yang efektif sangat bergantung pada kualitas GCG yang diterapkan perusahaan, sehingga mengintegrasikan isu ESG ke dalam aspek tata kelola perusahaan merupakan kunci agar perusahaan dapat beroperasi secara bertanggungjawab dan berkelanjutan (Fahad & Rahman, 2. GCG yang diproksikan oleh komite audit akan mempengaruhi kinerja (Riziqiyah & Prayogi, 2. Pengaruh GCG terhadap pelaporan ESG dapat ditinjau melalui prespektif stakeholder theory (Tsang et al. , 2. Teori stakeholders menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab pada pemenuhan kepentingan pemegang saham semata, tetapi juga bertanggungjawaban kepada seluruh stakeholders misalnya karyawan, regulator, masyarakat serta GCG merupakan mekanisme yang dapat mendorong perusahaan untuk lebih respontif terhadap tuntutan dan kepentingan para stakeholders, sehingga semakin baik implementasi GCG di perusahaan maka semakin tinggi pula komitmen serta transparansi perusahaan untuk mengungkapkan informasi ESG (Brogi & Lagasio, 2025. Tsang et al. , 2. Selain GCG, faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap pelaporan ESG adalah Green Accounting. Green Accounting mangacu pada proses integratif dalam akuntansi yang ditujukkan untuk memasukkan environmental cost ke dalam sistem pelaporan keuangan perusahaan, environmental cost mencakup aspek keuangan maupun non-keuangan yang timbul sebagai konsekuensi dari operasional perusahaan yang berdampak pada kualitas lingkungan. Green Accouting memungkinkan perusahaan untuk mengukur, mengidentifikasi, dan melaporkan dampak lingkungannya secara transparan sebagai bentuk keberlanjutan serta tanggung jawab sosial perusahaan (Waty Hasibuan et al. , 2. Sehingga Green Accounting dapat memperkuat dimensi lingkungan dalam pelaporan ESG. Pengaruh Green Accounting terhadap pelaporan ESG dapat ditinjau melalui aspek teori institusional serta teori stakeholder. Berdasarkan preskpektif teori institusional, perusahaan terdorong untuk menerapkan Green Accounting sebagai bentuk pemenuhan kewajiban terhadap regulasi lingkungan serta tuntutan kebijakan keberlanjutan. Apabila ditinjau dari prespektif teori stakeholders, perusahaan perlu merespon ekspektasi para stakeholder yang semakin menuntut transparansi dalam aspek isu lingkungan serta sosial. Green Accounting membantu perusahaan menyediakan data lingkungan yang diperlukan untuk ESG disclosure sebagai bentuk akuntabilitas kepada para stakeholders (Wiredu et al. , 2. Reputasi perusahaan dapat memediasi pengaruh GCG serta Green Accounting terhadap pelaporan ESG. Reputasi perusahaan didefinisikan sebagai sebuah representasi perseptual dari tindakan masa lalu dan prospek masa depan suatu perusahaan yang menggambarkan daya tarik Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 keseluruhan perusahaan bagi semua pemangku kepentingan kuncinya (Javed et al. , 2. Sejalan dengan teori sinyal, reputasi suatu perusahan dapat memberikan sinyal kepada para stakeholders, perusahaan dengan reputasi yang baik cenderung akan lebih disukai oleh para stakeholders karena memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kepercayaan serta kepentingan stakeholders (Ghuslan et al. , 2021. Javed et al. , 2. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian (Pham & Tran, 2. reputasi dapat dibangun melalui perilaku perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan, tetapi nilai dari perilaku tersebut hanya akan dipertimbangkan oleh publik apabila disertai dengan adanya komunikasi dan transparansi melalui pelaporan ESG (Pham & Tran, 2. Oleh karena itu, reputasi perusahaan dapat memperkuat pengaruh variabel independen dalam penelitian ini yaitu GCG dan Green Accounting terhadap pelaporan ESG, karena perusahaan yang bereputasi tinggi akan lebih terdorong untuk menunjukkan inisiatif berkelanjutan yang lebih eksplisit dan terukur. Penelitian terdahulu diantaranya (Simbolon, 2. mengungkapkan bahwa GCG dan Green Accounting tidak berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dikarenakan karena variasi variabel komisaris independen dan ESG tinggi. Sudirman & Ningrum . mengungkapkan bahwa GCG tidak memiliki pengaruh terhadap reputasi perusahaan Disisi lain penelitian (Fani,R. A, et. al, 2. mengungkapkan bahwa GCG dan ESG dapat meningkatkan reputasi perusahaan dan mendukung keberlanjutan bisnis. Penelitian (Jao et al. , 2. dan (Zahrani et al. mengungkapkan GCG berpengaruh terhadap reputasi perusahaan. Liesen et al. , . mengungkapkan pelaporan lingkungan yang transparan dapat meningkatkan citra perusahaan di mata stakeholders. Hasil penelitian (Fujianti et al. , 2. menemukan bahwa dewan komisaris dan dewan komisaris independen yang efektif berkorelasi positif dengan ESG. Penelitian (Zhou et al. , 2. mengungkapkan bahwa sistem akuntansi lingkungan yang baik menjadi dasar pelaporan ESG yang komprehensif. Hasil Studi (Cooper & Annisette, . menemukan beberapa perusahaan mengelola reputasinya melalui saluran lain selain pelaporan ESG. Reputasi perusahaan berperan sebagai mediator dalam hubungan tanggung jawab sosial dan lingkungan terhadap kinerja perusahaan (Azzahra & Widiastuty, 2. Meskipun praktik GCG serta Green Accounting memiliki potensi besar dalam mendorong transparansi pelaporan ESG, penelitian terdahulu yang mengintegrasikan pengaruh GCG dan Green Accounting terhadap pelaporan ESG dalam satu model penelitian masih sangat minim, terutama dalam objek penelitian yang akan diteliti yaitu pada perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2024. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mengisi kekosongan literatur dengan menggabungkan dua variabel independen tersebut ke dalam satu model penelitian. Dengan menggabungkan GCG serta Green Accounting, penelitian ini menegaskan bahwa kedua variabel independen tersebut memiliki kontribusi secara signifikan dalam mempengaruhi pelaporan ESG di perusahaan. Selain itu, penelitian mengenai peran mediasi reputasi perusahaan dalam konteks pengaruh GCG dan Green Accounting terhadap pelaporan ESG masih sangat terbatas, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian lain yang perlu diisi. Pemilihan perusahaan LQ45 dalam penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perusahaan-perusahaan yang termasuk ke dalam indeks tersebut memiliki reputasi yang kuat, tingkat likuiditas yang besar, kepatuhan terhadap regulasi yang tinggi, serta memiliki eksposur publik yang luas (Purnama & Trisnaningsih, 2. Karakteristik yang dimiliki mendorong Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 perusahaan LQ45 untuk lebih akuntabel, transparan, dan respontif terhadap penerapan GCG dan kepatuhan terhadap aspek keberlanjutan seperti Green Accounting serta pelaporan ESG. Sehingga perusahaan LQ45 dapat menjadi objek penelitian yang ideal untuk menguji pengaruh GCG dan Green Accounting terhadap pelaporan ESG dengan reputasi perusahaan sebagai varaibel mediasi. KAJIAN PUSTAKA Teori Sustainabillity Teori sustainabillity menjelaskan bahwa suatu institusi perlu menyeimbangkan isu keberlanjutan, ekonomi, sosial serta lingkungan dalam bisnis mereka untuk mencapai kinerja perusahaan yang lebih baik. Teori ini menekankan pentingnya pelaporan yang mencakup kinerja keuangan dan non keuangan yaitu lingkungan dan sosial untuk keberlanjutan jangka panjang. Teori ini juga menyatakan bahwa masyarakat berusaha untuk memprioritaskan respon sosial terhadap isu lingkungan serta ekonomi, respon sosial ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang serta mendatang (Tjahjadi et al. , 2. Teori Stakeholders Teori stakeholders menjelaskan bahwa perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab pada pemenuhan kepentingan pemegang saham semata, tetapi juga bertanggungjawaban kepada seluruh stakeholders misalnya karyawan, regulator, masyarakat serta lingkungan (Brogi & Lagasio, 2025. Tsang et al. , 2. Para pemangku kepentingan yang menyadari komitmen keberlanjutan akan memiliki kecenderungan untuk lebih memilih perusahaan yang menunjukkan dampak baik teradap lingkungan, sehingga kinerja keberlanjutan seperti ESG merupakan strategi bagi perusahaan untuk membangun relasi positif dengan para pemangku kepentingan (Boulhaga et al. , 2. Teori Legitimasi Teori legitimasi menjelaskan perusahaan selalu berusaha untuk memastikan setiap tindakan yang mereka ambil dianggap sah oleh masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan menerapkan GCG untuk memperoleh legitimasinya dimata masyarakat dan stakeholder agar tetap beroperasi secara berkelanjutan. Pengungkapan keberlanjutan seperti ESG merupakan alat bagi perusahaan untuk menunjukkan kesesuaian tindakan perusahaan dengan harapan dan nilai-nilai sosial, teori ini juga menyoroti adanya social contract antara perusahaan dengan aspek sosial di sekitarnya (Purnama & Trisnaningsih, 2. Teori Sinyal Teori sinyal menjelaskan bahwa perusahaan dapat membangun dan mempertahankan reputasi mereka dengan memberikan laporan sosial dan lingkungan yang berkualitas, pelaporan ESG oleh perusahaan dapat memberikan sinyal positif kepada para pemangku kepentingan (Javed et al. , 2. Oleh karena itu, perusahaan yang berhasil melakukan pelaporan aspek ESG dengan baik kepada publik serta para pemangku kepentingan pada akhirnya akan berdampak pada peningkata reputasi serta kredaibilitas perusahaan (Ghuslan et al. , 2. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 Teori Agensi Teori agensi dicetuskan oleh Jensen & Meckling, teori ini menjelaskan mengenai hubungan kontrak antara agen dan principal yang dapat menimbulkan agency conflict(Jensen & Meckling. Menurut teori agensi, perusahaan dapat meminimumkan konflik agensi apabila perusahaan tersebut menerapkan prinsip GCG dengan tepat. GCG yang baik juga dapat meningkatkan reputasi serta pengakuan yang baik dari para stakeholders (Ghuslan et al. , 2. Salah satu aspek dalam GCG yaitu komisaris independen terbukti dapat mendorong manajer untuk meningkatkan transparansi, pengungkapan yang lebih baik untuk melindungi kepentingan para stakeholders, pihak independen dalam kerangka GCG dapat mendukung manajer dalam inisiatif pelaporan ESG (Fahad & Rahman, 2. Good Corporate Governance (GCG) GCG dapat didefinisikan sebagai prosedur, struktur, serta prinsip-prinsip yang mengatur perilaku dewan direksi, manajemen, serta pihak perusahaan lainnya. Prinsip ini diterapkan dengan tujuan untuk menjamin bahwa suatu perusahaan dioperasikan sesuai dengan kepentingan jangka panjang para pemegang saham serta para pemangku kepentingan mencakup karyawan, pemasok, pelanggan, serta komunitas lainnya (Ghuslan et al. , 2. Prinsip GCG dapat memfasilitasi keputusan investasi yang lebih terinformasi serta mendukung kesejahteraan lingkungan melalui pelaporan ESG karena perusahaan dengan prinsip GCG yang kuat cenderung mengadopsi praktik pelaporan ESG yang lebih komprehensif (Brogi & Lagasio, 2. Perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip GCG secara konsisten cenderung memiliki performa ESG yang lebih baik karena adanya transparansi, akuntabilitas dan pengelolaan resiko yang lebih efektif. GCG berperan dalam membentuk reputasi perusahaan secara langsung dan berdampak pada strategi berkelanjutan secara simultan (Patricia et. , 2. Green Accounting Green Accounting mangacu pada proses integratif dalam akuntansi yang ditujukkan untuk memasukkan environmental cost ke dalam sistem pelaporan keuangan perusahaan, environmental cost mencakup aspek keuangan maupun non-keuangan yang timbul sebagai konsekuensi dari operasional perusahaan yang berdampak pada kualitas lingkungan (Waty Hasibuan et al. , 2. Prinsip Green Accounting muncul sebagai bentuk pertangungjawaban perusahaan terhadap adanya dampak buruk praktik bisnis yang berdampak pada berbagai isu lingkungan mencakup penipisan lapisan ozon, penambangan sumber daya alam yang berlebihan, pemanasan global, polusi, serta limbah industri yang berbahaya (Wiredu et al. , 2. Environmental. Social. Governance (ESG) Pelaporan ESG merupakan praktik yang dilakukan oleh perusahaan sebagai bentuk pertangungjawaban perusahaan terhadap berbagai aspek serta membantu perusahaan untuk mematuhi berbagai kebijakan tentang aspek perlindungan lingkungan, hubungan sosial yang baik, serta tata kelola perusahaan yang etis (Amaliyah et al. , 2. Pemerintah dan regulator melalui OJK di Indonesia mendorong perusahaan publik untuk melaporkan kinerja ESG. Praktik ESG merupakan komitmen yang mendorong bisnis untuk berkontribusi pada pengembangan Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dengan cara yang baik bagi bisnis dan semua pihak yang terlibat (Tsang et al. , 2. Reputasi Perusahaan Reputasi perusahaan merupakan representasi perseptual dari tindakan masa lalu dan prospek masa depan suatu perusahaan yang menggambarkan daya tarik keseluruhan perusahaan bagi semua pemangku kepentingan kuncinya (Javed et al. , 2. Pelaporan aspek keberlanjutan merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan oleh perusahaan untuk meningkatkan reputasi Perusahaan yang ikut andil dalam pelaporan isu berkelanjutan akan mendapatkan kepercayaan dari para stakeholders, membantu perusahaan untuk mendapatkan akses sumber daya untuk inovasi korporasi, serta pada akhirnya dapat meningkatkan reputasi perusahaan (Fosu et al. METODE Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menguji pengaruh variabel independen (GCG. Green Accountin. terhadap variabel dependen (Pelaporan ESG) dengan variabel mediasi (Reputasi Perusahaa. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang masuk indeks LQ45 periode tahun 2020-2024 sejumlah 69 perusahaan. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dengan kriteria perusahaan yang masuk indeks LQ45 selama periode tahun 2020-2024, mempublikasikan laporan keberlanjutan secara lengkap, memiliki indeks Corporate Image Index (CII) secara lengkap, dan mengungkapkan biaya lingkungan secara Melalui metode tersebut sampel diperoleh sejumlah 13 perusahaan. Analisis data penelitian memanfaatkan statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear berganda, dan uji mediasi dengan Sobel Test. Berikut ini disajikan definisi operasional dan pengukuran masingmasing variabel penelitian ini. Tabel 1. Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian Variabel Definisi Pengukuran Pelaporan ESG Pelaporan kinerja Jumlah item yang lingkungan, sosial dan dilaporkan / Jumlah ekonomi yang keseluruhan item didasarkan pada indeks GRI 2021 Good Corporate Governance Penerapan prinsipJumlah item yang prinsip tata kelola dilaporkan / Jumlah perusahaan melalui keseluruhan item efektivitas dan komposisi dewan, dan hak pemegang saham. Green Accounting Biaya lingkungan yang Biaya lingkungan / laba digunakan selama bersih setelah pajak periode tertentu Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis Sumber GRI Standard 2021 Mansour et al. , . Zen & Ariri, . AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 Reputasi Perusahaan dibandingkan laba bersih setelah pajak Indeks persepsi reputasi yang bisa mencakup dimensi kualitas, kinerja, tanggung jawab dan daya tarik. Corporate Image Index Frontier Group Consulting Sumber: Berbagai Referensi . HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Keterangan Min. ESG 20,082 GCG 0,750 GAC -0,004 RPN 0,397 Sumber: Olah Data Penelitian . Tabel 2. Karakteristik Data Max. Average 61,371 43,281 0,813 0,782 0,142 0,018 3,617 1,541 Std. Dev. 11,613 0,015 0,037 0,764 Hasil penelitian menunjukkan variasi yang berbeda pada setiap variabel. ESG memiliki rentang lebar . ,082Ae61,. dengan rata-rata 43,281, mengindikasikan disparitas signifikan dalam penerapannya. GCG lebih stabil . ,750Ae0,. dengan deviasi standar kecil . , menunjukkan keseragaman praktik tata kelola. Green Accounting (GAC) rata-ratanya rendah . dengan variasi moderat, menandakan masih terbatasnya penerapan akuntansi hijau. Sementara itu. Reputasi Perusahaan (RPN) bervariasi cukup besar . ,397Ae3,. , mencerminkan perbedaan citra antarperusahaan. Secara keseluruhan, data mengungkapkan heterogenitas dalam ESG. GAC, dan RPN, sementara GCG relatif konsisten. Uji Asumsi Klasik Uji Kolmogorov-Smirnov Keterangan GCG Ie RPN GAC Ie RPN GCG Ie ESG GAC Ie ESG RPN Ie ESG Sumber: Olah Data Penelitian . Tabel 3. Normalitas Data Signifikansi Keterangan 0,200 Normal 0,319 Normal Berdasarkan hasil uji Kolmogorov-Smirnov seluruh variabel dan hubungan yang diuji memenuhi asumsi normalitas, dengan nilai signifikansi di atas 0,05. Hubungan antara GCG Ie RPN dan GAC Ie RPN menggunakan unstandardized residual menunjukkan signifikansi 0,200, sedangkan hubungan GCG Ie ESG. GAC Ie ESG, dan RPN Ie ESG dengan unstandardized residual memiliki signifikansi 0,319. Nilai-nilai ini mengindikasikan bahwa distribusi data bersifat Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 Nilai Tolerance dan VIF Tabel 4. Multikolinearitas Keterangan Tolerance VIF GCG Ie RPN 0,714 1,400 GAC Ie RPN 0,714 1,400 GCG Ie ESG 0,713 1,403 GAC Ie ESG 0,658 1,519 RPN Ie ESG 0,907 1,103 Sumber: Olah Data Penelitian . Keterangan Non-Multikolinearitas Non-Multikolinearitas Non-Multikolinearitas Non-Multikolinearitas Non-Multikolinearitas Hasil uji multikolinearitas dalam tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh variabel memenuhi asumsi bebas multikolinearitas. Nilai Tolerance untuk setiap variabel berada di atas 0,10 . erkisar antara 0,658Ae0,. , dan nilai VIF (Variance Inflation Facto. di bawah 10 . erkisar antara 1,103Ae 1,. Uji Park Keterangan GCG Ie RPN GAC Ie RPN GCG Ie ESG GAC Ie ESG RPN Ie ESG Sumber: Olah Data Penelitian . Tabel 5. Heteroskedastisitas Signifikansi 0,951 0,054 0,129 0,089 0,946 Keterangan Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas menggunakan uji Park yang disajikan dalam tabel 5, seluruh variabel dalam model penelitian memenuhi asumsi homoskedastisitas. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 untuk semua hubungan variabel. Uji Durbin-Watson Keterangan GCG Ie RPN GAC Ie RPN GCG Ie ESG GAC Ie ESG RPN Ie ESG Sumber: Olah Data Penelitian . Tabel 6. Autokorelasi Nilai Durbin-Watson Keterangan 0,561 Non-autokorelasi 1,260 Non-autokorelasi Berdasarkan hasil uji autokorelasi menggunakan statistik Durbin-Watson dalam tabel 3, seluruh model penelitian memenuhi asumsi non-autokorelasi berdasarkan kriteria Nachrowi & Usman . dengan batas toleransi di antara -2 dan 2. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 Uji Hipotesis Keterangan Koefisien GCG Ie RPN 2,407 GAC Ie RPN 6,810 Sig. F: 0,048 Adjusted R Square: 0,064 GCG Ie ESG 229,300 GAC Ie ESG 134,686 RPN Ie ESG 1,365 Sig. F: 0,014 Adjusted R Square: 0,118 Sumber: Olah Data Penelitian . Tabel 7. Regresi Linear Berganda t-hitung Signifikansi 0,333 0,740 2,290 0,025 2,147 2,947 0,728 0,036 0,005 0,469 Keterangan Tidak Berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Tidak Berpengaruh Berdasarkan hasil regresi linear berganda menunjukkan bahwa good corporate governance tidak berpengaruh terhadap reputasi perusahaan, sedangkan green accounting berpengaruh positif terhadap reputasi perusahaan. Kemudian good corporate governance dan green accounting berpengaruh terhadap pelaporan ESG, sedangkan reputasi perusahaan tidak berpengaruh terhadap pelaporan ESG. Tabel 8. Sobel Test Keterangan Test Statistic P-value GCG Ie RPN Ie ESG 0,303 0,762 GAC Ie RPN Ie ESG 0,694 0,488 Sumber: Olah Data Penelitian . Keterangan Tidak Memediasi Tidak Memediasi Berdasarkan hasil Sobel test menerangkan bahwa good corporate governance dan green accounting tidak dapat memengaruhi pelaporan ESG melalui reputasi perusahaan. Dengan kata lain, reputasi perusahaan tidak dapat dikategorikan sebagai mediator dalam penelitian ini. Pembahasan Good Corporate Governance dan Reputasi Perusahaan Temuan penelitian menunjukkan bahwa Good Corporate Governance (GCG) tidak berpengaruh signifikan terhadap reputasi perusahaan. Dalam perspektif teori stakeholder, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa stakeholders lebih memperhatikan aspek kinerja nyata perusahaan daripada sekedar struktur tata kelola. Hasil ini bertentangan dengan beberapa penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh (Fani et al. , 2. mengungkapkan bahwa GCG dan ESG dapat meningkatkan reputasi perusahaan dan mendukung keberlanjutan bisnis. Penelitian (Jao et al. , 2. corporate governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laba dan reputasi perusahaan. GCG berpengaruh aktif dalam meningkatkan reputasi perusahaan (Zahrani et al. , 2. Penelitian yang sejalan dilakukan oleh (Sudirman & Ningrum, 2. mengungkapkan bahwa GCG tidak memiliki pengaruh terhadap reputasi perusahaan. GCG dan Green Accounting tidak berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dikarenakan karena variasi variabel komisaris independen dan ESG tinggi (Simbolon, 2. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 Green Accounting dan Reputasi Perusahaan Green Accounting terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap reputasi perusahaan. Temuan ini sangat sejalan dengan teori legitimasi yang menyatakan bahwa perusahaan perlu mendapatkan legitimasi sosial melalui praktik-praktik berkelanjutan. Hasil ini juga mendukung teori pensinyalan dimana green accounting berfungsi sebagai sinyal positif tentang komitmen perusahaan terhadap lingkungan. Pengungkapan biaya lingkungan dalam operasional perusahaan dapat meningkatkan penilaian reputasi perusahaan, sehingga green accounting menjadi salah satu pemicu dalam meningkatkan reputasi perusahaan. Pelaporan lingkungan yang transparan dapat meningkatkan citra perusahaan di mata stakeholders (Liesen et al. , 2. Good Corporate Governance dan Pelaporan Environmental. Social and Governance (ESG) GCG memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap pelaporan ESG. Temuan ini konsisten dengan teori institusional yang menjelaskan bahwa perusahaan dengan tata kelola yang baik cenderung mengadopsi praktik-praktik yang dianggap legitimate oleh institusi. Hasil ini mengungkapkan bahwa semakin tinggi indeks GCG yang diungkapkan maka akan meningkatkan pelaporan ESG, dimana indeks GCG merupakan salah satu indikator dalam komponen ESG. Dewan komisaris dan dewan komisaris independen yang efektif berkorelasi positif dengan kualitas pengungkapan ESG (Fujianti et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa struktur tata kelola yang baik mendorong transparansi yang lebih tinggi dalam pelaporan keberlanjutan. Green Accounting dan Pelaporan Environmental. Social and Governance (ESG) Green Accounting juga menunjukkan pengaruh positif yang kuat terhadap pelaporan ESG. Temuan ini mendukung teori stakeholder yang menekankan pentingnya memenuhi harapan berbagai pemangku kepentingan. Hasil ini juga sejalan dengan teori legitimasi yang menyatakan bahwa perusahaan perlu menunjukkan tanggung jawab lingkungan mereka melalui pelaporan yang Hasil ini menekankan bahwa pengungkapan biaya lingkungan yang semakin jelas dapat meningkatkan pelaporan ESQ, ini disebabkan komponen biaya lingkungan adalah salah satu indikator dalam ESG. Sistem akuntansi lingkungan yang baik menjadi dasar untuk pelaporan ESG yang komprehensif (Zhou et al. , 2. Reputasi Perusahaan dan Pelaporan Environmental. Social and Governance (ESG) Reputasi perusahaan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pelaporan ESG. Dalam perspektif teori pensinyalan, hasil ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan reputasi baik tidak merasa perlu untuk meningkatkan pelaporan ESG secara signifikan, atau perusahaan sudah mencapai tingkat pengungkapan yang memadai. Temuan ini bertentangan dengan beberapa penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh (Cooper & Annisette, 2. yang menemukan bahwa beberapa perusahaan mengelola reputasinya melalui saluran lain selain pelaporan ESG. Good Corporate Governance. Reputasi Perusahaan dan Pelaporan Environmental. Social and Governance (ESG) Reputasi perusahaan tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan antara Good Corporate Governance (GCG) terhadap pelaporan ESG. Hasil ini mendukung teori institusional Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 yang menyatakan bahwa perusahaan mengadopsi praktik GCG lebih didorong oleh tekanan regulasi atau norma industri . somorphic pressur. daripada untuk membangun reputasi. Hal ini berbeda dengan prediksi teori stakeholder yang menyatakan bahwa reputasi seharusnya menjadi mediator penting antara praktik perusahaan dan pelaporan ESG. Perusahaan yang menerapkan prinsip GCG cenderung mengintegrasikan praktik tata kelola langsung ke dalam strategi dan pelaporan ESG tanpa bergantung pada reputasi sebagai pendorong perantara. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian (Jao et al. , 2. yang menyatakan bahwa reputasi perusahaan dapat menjadi faktor pemediasi dalam hubungan GCG terhadap kinerja perusahaan. Green Accounting. Reputasi Perusahaan dan Pelaporan Environmental. Social and Governance (ESG) Hubungan Green Accounting terhadap pelaporan ESG melalui reputasi perusahaan menunjukkan tidak adanya efek mediasi yang signifikan. Hasil ini mendukung teori institusional yang menyatakan bahwa perusahaan cenderung mengadopsi praktik green accounting lebih karena adanya tekanan dari regulasi atau norma industri . ekanan isomorfi. daripada untuk meningkatkan reputasi. Hal ini berlawanan dengan prediksi dari teori stakeholder, yang menganggap bahwa reputasi berperan sebagai mediator utama antara praktik perusahaan dan pelaporan ESG. Praktik green accounting yang diterapkan masih berorientasi pada pemenuhan regulasi atau peningkatan efisiensi internal, bukan pada pembentukan citra publik yang kuat. Akibatnya, pemangku kepentingan cenderung menilai kinerja keberlanjutan melalui indikator langsung seperti pengurangan emisi, pengelolaan limbah, dan penggunaan energi terbarukan, daripada melalui sinyal reputasi yang terkait dengan praktik akuntansi. Hasil ini berbeda dengan temuan (Azzahra & Widiastuty, 2. bahwa reputasi perusahaan berperan sebagai mediator dalam hubungan tanggung jawab sosial dan lingkungan terhadap kinerja perusahaan. SIMPULAN Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap literatur tata kelola perusahaan, akuntansi lingkungan, dan pelaporan keberlanjutan dengan mengungkapkan bahwa Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh positif terhadap pelaporan ESG, namun tidak terhadap reputasi perusahaan. Sebaliknya. Green Accounting terbukti berpengaruh positif baik terhadap reputasi perusahaan maupun terhadap pelaporan ESG. Meskipun demikian, reputasi perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pelaporan ESG, sehingga tidak berperan sebagai variabel mediasi pada hubungan antara GCG maupun Green Accounting dengan pelaporan ESG. Temuan ini mengindikasikan bahwa pada konteks perusahaan Indonesia, peningkatan kualitas pelaporan ESG lebih banyak ditentukan oleh praktik tata kelola dan pengelolaan biaya lingkungan secara langsung, daripada melalui pembentukan citra atau persepsi publik. Keterbatasan penelitian terletak pada rendahnya tingkat adopsi pelaporan keberlanjutan dan pengungkapan biaya lingkungan di antara perusahaan, serta rendahnya nilai koefisien determinasi yang mengindikasikan adanya variabel lain yang berpotensi memengaruhi pelaporan ESG. Arah penelitian selanjutnya disarankan untuk menitikberatkan pada perusahaan yang memiliki interaksi langsung dengan lingkungan, seperti sektor pertambangan, energi, dan manufaktur, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai peran reputasi Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AMetiya Fatikhatur Riziqiyah1*. Agung Prayogi2. Septi Nur Laeli 3 dalam kerangka ESG. Dari sisi praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa perusahaan perlu mengintegrasikan praktik GCG. Green Accounting, dan ESG secara sinergis, sementara regulator perlu memperkuat standar pelaporan ESG untuk menjamin konsistensi, meningkatkan transparansi, dan meminimalkan risiko greenwashing. REFERENSI