GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Penderita Hiv/Aids di Jawa Tengah Fabila Sasa Permata1*. Jusuf Tjahjo Purnomo1 . Universitas Kristen Satya Wacana. Indonesia Abstract Quality of life is a person's personal view of their life. This view is shaped by the values and culture in their environment, as well as related to the individual's goals, expectations, standards, and concerns. Quality of life is a concept that involves physical and psychological aspects, social relationships, and interactions with the surrounding One of the factors that influence quality of life is social support. This study aims to determine the relationship between social support and the quality of life of HIV/AIDS patients in Central Java. The research method used was quantitative with a correlational A total of 90 participants who were involved in this research process used purposive The instruments in this study used the World Health Organization Quality of Live HIV-BREF (WHOQOLHIV-BREF) ( = . and The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) ( = . The results showed that there was a relationship between social support and the quality of life of HIV/AIDS in Central Java with r = 0. and = 0. <0. Keywords: Quality of Life. Social Support. HIV/AIDS Info Artikel Histori Artikel: Dikirim: 2024-04-26 | Diterbitkan: 2024-10-26 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 14. No 3 . Halaman: 680 - 689 (*) Corresponding Author: Fabila Sasa Permata. Universitas Kristen Satya Wacana. Indonesia. Email: sasapermata263@gmail. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Human immunodeficiency virus (HIV) adalah jenis virus yang menyerang sel darah putih, sehingga melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan penyakit bernama acquired immune deficiency syndrome (AIDS) yang merupakan suatu kondisi yang muncul sebagai akibat dari berbagai penyakit atau kondisi yang muncul di berbagai bagian tubuh atau organ. AIDS merupakan tahap lanjut dari infeksi HIV (Pangestika et al. Penyebaran human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) telah menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan dan Page | 680 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA tantangan yang terus berlanjut bagi manusia. Banyak faktor yang ikut berperan dalam dampak HIV yang tidak merara di daerah-daerah dengan sumber daya yang terbatas, seperti adanya kemiskinan, stigma terhadap penyakit, hambatan budaya dan sosial dalam hal untuk menangani jumlah pasien yang besar, rendahnya tingkat literasi kesehatan, kurangnya pelatihan bagi penyedia layanan (Weinberg & Kovarik, 2. Dinas kesehatan (Dinke. provinsi Jawa Tengah (Jaten. mencatat ada 2. kasus human immunodeficiency virus (HIV). Hasil temuan HIV terbanyak yaitu ada di kota Semarang yang mencapai 331 kasus (Kurniawan & Ricky, 2. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah terdapat kasus HIV tahun 2017 tercatat sebanyak 2. penderita HIV dan 2018 tercatat sebanyak 2. 564 penderita HIV. Pada tahun 2017 tercatat 719 pendeita AIDS dan 2018 tercatat sebanyak 1. 879 penderita AIDS di Jawa tengah (BPS, 2. Berdasarkan data tersebut, peneliti melakukan wawancara pada Maret 2023, peneliti melakukan wawancara dengan 2 orang pengidap HIV/AIDS (ODHA). Subjek pertama mengidap HIV dari tahun 2009 hingga sekarang ini, kira-kira subjek sudah menjalani penyakit ini selama 15 tahun. Subjek yang kedua, mengidap HIV sudah 5 tahun. Dari hasil wawancara yang telah saya lakukan melalui telepon dan bertemu. Pada subjek berinisial L, ia mengatakan jika tidak menerapkan pola hidup yang sehat, bahkan ketika dia sudah didiagnosa mengidap penyakit HIV ia tetap melampiaskan kesedihannya dengan mengkonsumsi alkohol dan narkoba subjek mengaku sempat tidak minum ARV selama satu tahun dikarenakan bosan. Subjek menjelaskan kalau tidak melakukan olahraga secara rutin. Subjek pernah mendapatkan diskriminasi dari lingkungan sekitar, padahal orang yang menyebarkan merupakan salah satu teman dekat, teman subjek menjauhi dan subjek tidak diperbolehkan berkunjung ke rumah temannya. Teman terdekat yang mengetahui penyakit subjek mengatakan takut tertular penyakit tersebut. Lalu subjek yang kedua berinisial V, ia juga mengatakan tidak melakukan kualitas hidup yang baik, subjek mengatakan tidak ada hal khusus yang ia lakukan untuk menjaga kualitas hidup. Subjek juga mengatakan bahwa ia hampir tidak pernah berolahraga, subjek pernah mengalami diskriminasi sosial dari keluarganya sendiri, ketika mengetahui penyakit yang diderita, keluarga subjek memberi batasan karena takut dengan penyakit yang diderita oleh subjek. Bahkan ketika mendapat diskriminasi, ia mengatakan bahwa dirinya merasa semakin lemas dan tidak bersemangat untuk menjalani kehidupan. Kedua subjek tersebut mengatakan mereka dapat bangkit dari keterpurukan itu dikarenakan adanya dukungan sosial yang mereka dapatkan. Dari dukungan teman, keluarga dan orang sekitar terutama dukungan yang diberikan pada kelompok sebaya, pada saat ada kegiatan atau pertemuan dengan rekan penderita HIV/AIDS mereka akan menceritakan pengalaman satu sama lain agar saling termotivasi untuk menjaga hidup sehat dan tetap meminum ARV. Penerapan kualitas hidup yang buruk akan mengganggu kesehatan diri bagi seorang individu. Dampak tersebut cenderung berpengaruh pada penderita HIV/AIDS yang memiliki sistem imun lebih rendah dari orang yang bukan penderita, adapun berbagai bentuk dampak tersebut, seperti stress (Fang et al. , 2. , gangguan tidur (Rogers et al. , nyeri kronis (Madden et al. , 2. , kesehatan mulut . a Costa Vieira et al. , 2. serta kesehatan fisik dan mental menurun (Martin et al. , 2. Ventegodt et al. mengatakan kualitas hidup berarti kehidupan fisik dan mental yang baik. Menerapkan kualitas hidup yang baik sama saja sudah menerapkan kualitas hidup tinggi. Terdapat kualitas hidup subjektif dan objektif. Kualitas hidup subjektif lebih menekankan pada diri sendiri dalam memandang sesuatu. Kualitas hidup objektif Page | 681 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA lebih berkaitan dengan hal luar atau lingkungan dengan beradaptasi berdasarkan budaya yang ada untuk melihat kualitas hidup yang baik. Adanya faktor yang menjadi penyebab kualitas hidup menurut beberapa penelitian yaitu adanya faktor dukungan sosial meliputi faktor resiko, faktor protektif (Emlet et al. , faktor dukungan sosial (Oetzel et al. , 2. , faktor kepatuhan pengobatan ARV (Rooney et al. , 2. , faktor kesejahteraan sosial (Bhat U. et al. , 2. dan faktor dukungan sebaya (Van Tam et al. , 2. Penelitian terdahulu mengatakan bahwa, meningkatkan kualitas hidup merupakan suatu bentuk perubahan gaya hidup yang baik pada seseorang yang didiagnosis menderita HIV (George et al. , 2. Temuan penelitian terdahulu mengatakan bahwa seorang pengidap HIV lebih rentan mengalami gangguan fisik, kognitif, emosional dan fungsi sosial (Miners et al. , 2. Gangguan fisik yang sering terjadi yaitu pertumbuhan karies yang tinggi, obesitas, hipertensi, diabetes dan nyeri kronis . a Costa Vieira et al. , 2018. Martin et al. , 2. Sedangkan untuk gangguan psikologis yang kerap terjadi ialah depresi dan stres yang berlebih, jika dibandingkan dengan seseorang yang tidak mengidap HIV (Miners et al. , 2. Stress juga dapat membuat kualitas hidup penderita HIV terganggu/menurun baik secara fisik maupun secara mental (Gibson et al. , 2011. Koopman et al. , 2. Selain itu, dengan adanya tekanan psikologis, akan berefek negatif pada kondisi kejiwaan seorang pengidap HIV (Koopman et al. , 2. Hal ini diperparah dengan kuatnya stigma di masyarakat yang berimbas pada kualitas hidup dan kesejahteraan mental pada pengidap HIV/AIDS (Andersson et al. , 2. Dukungan sosial yaitu bantuan yang dirasakan dan diberikan secara nyata, baik dalam bentuk instrumen atau ungkapan kasih sayang, yang dapat berasal dari komunitas, jaringan sosial dan orang-orang yang dipercaya (Lim, 1986 melalui Zimet et al. , 1. Lalu dapat dikaitkan bahwa dukungan sosial adalah suatu hal yang dapat mengurangi resiko stress terutama adanya pengaruh dukungan sosial yang diberikan oleh teman dan keluarga terhadap peristiwa yang terjadi (Lakey & Cronin, 2. Hubungan antara dukungan sosial terhadap kualitas hidup HIV masih menjadi Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sebaya memiliki hubungan positif signifikan dengan kualitas hidup (Lan et al. , 2015. Shrestha et al. , 2. Secara parsial, terhadap aspek-aspek dukungan sosial, penelitian Lan et al. menemukan bahwa hanya ada dua aspek dukungan sosial yang memiliki korelasi signifikan pada kualitas hidup . ukungan subjektif dan penggunaan dukungan sosia. Dukungan sosial memiliki pengaruh terhadap kualitas hidup lebih baik diantara orang pengidap HIV (Bekele et al. , 2013. Oetzel et al. , 2. Maka dari itu dukungan sosial sangat dibutuhkan untuk mencapai kualitas hidup sehat. Dukungan sosial yang positif menjadikan kondisi mental yang baik. Penelitian tersebut mengatakan bahwa kualitas hidup dan dukungan sosial berkorelasi positif (Lan et al. , 2. Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut bertolak belakang dengan temuan Xiao et al. yang mengatakan bahwa dukungan sosial secara fungsional tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup penderita HIV/AIDS baik dalam aspek energi/mobilitas maupun aspek psikologis. Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa dukungan sosial secara fungsional belum tentu terkait dengan kualitas hidup penderita HIV/AIDS yang lebih baik, melainkan persepsi akan dukungan sosial secara fungsional lebih berimbas tentang bagaimana mereka mempersepsikan diri mereka, bahwa mereka (ODHA) cenderung lemah dan memiliki energi/mobilitas yang kurang. Page | 682 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain korelasional untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup HIV/AIDS(ODHA) di Jawa Tengah. Partisipan Partisipan dalam penelitian ini yaitu penderita HIV/AIDS yang berada di Jawa Tengah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling, mengambil responden dengan menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan subjek penelitian lalu memberikan pada pihak yang berkaitan . omunitas dan lembag. Tabel 1. Data Demografi Partisipan Klasifikasi Partisipan Jenis Kelamin Status pernikahan Agama Usia Keterangan Perempuan Laki-Laki Total Menikah Belum Menikah Bercerai Total Agnostik Budha Hindu Islam Katolik Kristen Total 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun 19 tahun 20 tahun 21 tahun 22 tahun 23 tahun 24 tahun 25 tahun 26 tahun 27 tahun 28 tahun 29 tahun 30 tahun 31 tahun 32 tahun 33 tahun 34 tahun 35 tahun 36 tahun 37 tahun 38 tahun 39 tahun 40 tahun 41 tahun 42 tahun Page | 683 Presentase GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. 43 tahun 44 tahun 45 tahun 48 tahun 50 tahun Total GUIDENA Instrumen Penelitian Word Helath Organization Quality of Live HIV-BREF (WHOQOLHIV-BREF) digunakan untuk mengukur kualitas hidup. Alat ukur ini telah dimodifikasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad, . berdasarkan aspek kesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, lingkungan dan spiritual. Skala kualitas hidup terdiri dari 31 item yang terdiri dari satu jenis, yaitu favorable dengan menggunakan 5 respon model Likert. Namun disetiap aitem memiliki respon yang berbeda-beda yaitu aitem pertama, sangat buruk (SB) =1, buruk (B) =2, baik saja (BS) =3, baik (B) =4, sangat baik (SB) =5. Pada aitem kedua, sangat tidak puas (SPS) =1, tidak puas (TP) =2, biasa saja (BS) =3, puas (P) =4, sangat puas (SP) =5. Pada aitem 3 sampai 13 yaitu sangat tidak puas (STP) =1, tidak puas (TP) =2, biasa saja (BS) =3, puas (P) =4, sangat puas (SP) =5. Pada aitem 14 sampai 19 yaitu sama sekali tidak (STS) =1, sedikit (S) =2, cukup (C) =3, sebagian besar (SB) =4, sangat (S) =5. Pada aitem 20 yaitu Sangat Buruk (SB) =1. Buruk (B) =2. Biasa Saja (BS) =3. Baik (B) =4. Baik Sekali (BS) =5. Pada aitem 21 sampai 30 yaitu Sangat Kecewa (SK) =1. Kecewa (K) =2. Biasa Saja (BS) =3. Puas (P) =4. Sangat Puas (S) =5. Pada aitem 31 yaitu Tidak Pernah (TP) =1. Jarang (J) =2. Seringkali (S) =3. Sangat Sering (SS) =4. Selalu (S) =5 The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur dukungan sosial. Dikembangkan oleh Zimet et al. yang terdiri dari 12 aitem. Aspek dukungan sosial terdiri dari dukungan keluarga, dukungan orang spesial dan dukungan teman. Skala ini terdiri dari 12 aitem dengan 7 poin yaitu . sangat tidak setuju, . tidak setuju, . agak tidak setuju, . netral, . agak setuju, . setuju, . sangat setuju. Analisis Data Dalam penelitian ini menggunakan uji deskriptif untuk melihat kategorisasi dukungan sosial dan kualitas hidup. Data penelitian ini menggunakan uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji Selanjutnya, uji hipotesis akan menguji uji korelasi dengan Product Moment dari Karl Pearson untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita HIV/AIDS. Pengujian data pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan IBM SPSS Statistic 25 for Windows. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada tanggal 23 oktober 2023 hingga 4 Desember 2023. Penelitian ini memiliki 90 partisipan. Partisipan memiliki rentang usia 15-50 tahun. Responden terbanyak yaitu pada jenis kelamin perempuan yaitu 52 . 8%) Sedangkan status para responden terbanyak yaitu status belum menikah yaitu 50 . 6%). Sedangkan agama pada responden yang dominan yaitu agama islam yaitu 67 . 4%). Table 2. menujukkan skor rata-rata kualitas hidup pada partisipan adalah 113. dengan standar deviasi 13. Hasilnya menujukkan persentase 57 . 3%) pada penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah memiliki kualitas hidup yang tinggi. Skor rata-rata Page | 684 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA dukungan sosial pada partisipan adalah 65. 3 dengan standar deviasi 13. Hasilnya menujukkan persentase 78 . 6%) pada penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah memiliki dukungan sosial yang sangat tinggi. Tabel 2. Analisis deskriptif Kualitas hidup Min. Max. Mean Std Kategori Tinggi Dukungan sosial Sangat tinggi Nilai Kolmogorov-Smirnov Test dari variabel kualitas hidup adalah 0. 76 dengan sig = 0. >0. Nilai Kolmogorov-Smirnov test dari variabel dukungan sosial adalah 146 dengan sig = 0. <0. Temuan ini menunjukkan bahwa distribusi kualitas hidup normal. Namun, dukungan sosial tidak berdistribusi normal. Tabel 3. Uji Normalitas Kualitas hidup Dukungan sosial KolmogorovSmirnov Test Sig. Keterangan Normal Tidak Normal Nilai F sebesar 1. 216 dengan sig. = 0. >0. berdasarkan temuan uji asumsi linearitas pada table 4, hubungan antara kualitas hidup dengan dukungan sosial adalah Tabel 4. Uji Linearitas Kualitas hidup dengan dukungan sosial Sig. Keterangan Linear Berdasarkan hasil uji hipotesis pada tabel 5, nilai koefisien korelasi sebesar 0. dengan sig. = 0. <0. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kualitas hidup dan dukungan sosial pada penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah. Tabel 5. Uji Hipotesis Kualitas hidup-dukungan sosial Signifikan Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita HIV/AIDS(ODHA). Hal ini dapat dilihat uji korelasi pearson correlations one tailed r=0. dengan nila sig=0. <0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis dari penelitian ini diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan dukungan sosial terhadap kualitas hidup HIV/AIDS (ODHA). Hasil hipotesis dari penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh Yao. Zheng & Fan . mengatakan dukungan sosial sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita, orang yang hidup dengan penyakit kronis seringkali mengalami tantangan dalam kehidupan mereka, perlu adanya dukungan dari orang terdekat yang akan berpotensi meningkatkan kualitas hidup. Sejalan dengan Page | 685 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA penelitian Newman et. bahwa seorang penderita HIV/AIDS (ODHA) yang memiliki dukungan sosial tinggi, maka semakin tinggi pula kualitas hidup yang mereka jalani. Sebaliknya jika memiliki dukungan sosial yang rendah maka akan berpengaruh pada kualitas hidup yang rendah. Sejalan dengan penelitian (Munsawaengsub, et. ODHA dapat melakukan kehidupan sehari-hari dengan normal . etap terlihat seha. serta dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi diri mereka sendiri, dengan dukungan sosial seperti anggota keluarga, teman dan orang disekitar. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang telah mahasiswa lakukan, memiliki presentasi sangat tinggi pada dukungan sosial dan kualitas hidup presentasi tinggi, maka dari itu adanya hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup pada penderita HIV/AIDS (ODHA). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa partisipan penelitian pada penderita HIV/AIDS (ODHA) berada di Jawa Tengah memiliki kecenderungan dukungan sosial yang tergolong sangat tinggi yaitu 86. 6% dan tingkat kualitas hidup tergolong tinggi yaitu 63. Dari hasil analisis deskriptif dapat dinyatakan bahwa hasil uji normalitas variabel x dan y berdistribusi normal, dikarenakan penyebaran data yang merata sesuai dengan subjek Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita HIV/AIDS (ODHA). Hal tersebut dapat dilihat dari korelasi dan signifikan signifikan person correlations, diketahui r = 0. 605 sehingga terdapat hubungan positif antara dukungan sosial dan kualitas hidup pada penderita HIV/AIDS (ODHA) dan dikatakan bahwa signifikan karena memiliki nilai 000 . <0. Kedua variabel ini memiliki hubungan linear . >0. yaitu sebesar Variabel dukungan sosial berdistribusi tidak normal karena nilai signifikansi variabel . <0. yaitu variabel dukungan sosial sebesar 0. <0. namun pada variabel kualitas hidup berdistribusi normal karena nilai signifikansi variabel . >0. sebesar yaitu Variabel kualitas hidup memberi sumbangan sebesar 36. 6 % terhadap variabel dukungan sosial. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini REFERENSI