Vol. No. July-December 2025, pp. DOI: 10. 22515/ajdc. Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic Dony Rano Virdaus UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Indonesia Abstract Keywords: Religious Moderation. Comics. Quotes. Social Media Kata Moderasi Beragama. Komik. Quotes. Media Sosial This study examines religious moderation messages conveyed through comics and quotes shared on the @iqomic Instagram account. In the context of Indonesia's diversity, conveying messages of religious moderation is very important to strengthen tolerance and prevent social conflict. This study uses a qualitative method with a netnographic approach, focusing on comic posts and quotes produced by Iqomic. Data was collected through direct observation of Instagram content, and in-depth analysis was conducted using semiotics theory on @qomic in relation to religious moderation and visual The results of the study show that the delivery of religious moderation values in comics and quotes uses a visual narrative approach, easy-to-understand language, touching illustrations, and criticism of deviant practices in everyday life. These narratives illustrate the fulfilment of indicators of religious moderation. Meanwhile, the @iqomic audience tends to interpret these messages in various ways, including supportive, contrary, and doubtful interpretations. This research shows a novelty that the effectiveness of moderation messages is not only determined by content but also by the logic of interaction and the subjectivity of the audience. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi pesan moderasi beragama berupa komik dan quotes yang disebarluaskan di media sosial Instagram melalui akun @iqomic. Dalam konteks keragaman Indonesia, penyampaian pesan moderasi beragama menjadi sangat penting untuk memperkuat toleransi dan mencegah konflik sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan netnografi, yang berfokus pada unggahan komik dan quotes yang diproduksi oleh Iqomic. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap konten Instagram, analisis mendalam dilakukan dengan teori Semiotika terhadap @qomic terkait moderasi beragama dan komunikasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyampaian nilai-nilai moderasi beragama dalam komik dan quotes melalui pendekatan narasi visual, bahasa yang mudah dipahami, ilustrasi yang menyentuh, serta kritik terhadap praktik kehidupan sehari-hari yang menyimpang. Narasi-narasi tersebut Dony Rano Virdaus menggambarkan adanya indikator moderasi beragama yang Sedangkan, @iqomic menginterpretasikan pesan tersebut dengan beragam, baik yang mendukung, kontra, maupun meragukan. Penelitian ini menunjukan kebaruan bahwa efektivitas pesan moderasi bukan hanya ditentukan oleh konten namun juga logika interaksi dan subjektivitas audiens. E-mail Korespondensi : donyranovirdaus@uinponorogo. ISSN 2722-1431 (P) ISSN 2722-144X (E) PENDAHULUAN Di tengah perkembangan teknologi informasi digital, media sosial menjadi salah satu sarana tercepat dalam penyebaran radikalime. Penyebaran paham melalui media sosial tersebut sulit dikendalikan karena prosesnya tidak terlihat, individu secara mandiri bisa kontak dengan kelompok radikal dan bisa melakukan tindakan ekstremradikal yang terinspirasi dari media sosial tanpa berafiliasi (Uinsa, 2. Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya prevalensi konten radikal di media sosial sebesar 37% dalam kurun 2022-2023. Sedangkan, pada tahun 2023-2024 sejumlah 731 konten radikal telah dihapus oleh Kominfo (Kominfo, 2. Bahkan, pada JanuariAgustus 2025 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukan bahwa 402 konten radikalisme tersebar di berbagai media sosial (Victoria, 2. Data tersebut menunjukan bahwa media sosial telah menjadi pintu masuk dan peluang penyebaran paham radikalisme di Indonesia yang menjadi salah satu tantangan dari moderasi beragama, sebagian orang merasa fahamnya dalam menafsirkan agamanya yang paling benar dan memaksakan orang lain mengikutinya. Tantangan lainnya adalah pemahaman agama yang mengesampingkan kebangsaan dan menganggap nasionalisme tidak penting (Susanti, 2. Selain itu, pola rekrutmen kelompok radikal semakin sistematis dan menyasar berbagai latar belakang masyarakat. Saat ini, kelompok radikal mulai menyusup pada generasi muda baik mendoktrin dengan paham mereka, maupun merekrutnya sebagai simpatisan gerakan radikal yang membahayakan dan bisa mengancam integritas masyarakat, khususnya pada generasi muda yang merupakan penerus bangsa. Densus 88 juga mengungkap adanya peningkatan anak yang terpapar radikalisme. Pada tahun 2011-2017, 17 anak telah teridentifikasi dan jumlahnya melonjak signifikan pada 2025 yang mencapai 110 anak (Polri, 2. Radikalisme kerap menarget generasi muda yang terdiri dari generasi millennial dan generasi Z karena mereka cenderung terbuka pada pengaruh baru, idealis, berani Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic dan mayoritas masih dalam tahap pencarian identitas. Selain itu, penggunaan media sosial yang tinggi juga membuat kelompok radikal menjadikannya kesempatan untuk menyebarkan pahamnya melalui media tersebut (Lubis, 2. Kasus penyebaran paham radikalisme melalui media online dan gim daring pernah terjadi pada November 2025, hingga menyebabkan 54 korban terluka akibat ledakan bom di mushola SMAN 72 Jakarta. Ledakan berasal dari bom rakitan seorang siswa yang telah mengakses grup terorisme dan melakukan kekerasan berbasis peniruan (Febriansyah, 2. Berdasarkan masifnya penyebaran paham ekstremis dan radikal melalui media digital tersebut, kampanye moderasi beragama penting untuk dilakukan guna menangkis adanya paham-paham intoleran dan radikal pada generasi muda. Bukan hanya dengan cara-cara konvensional seperti sosialisasi, seminar, ceramah, dan bentuk dakwah lainnya. Melainkan juga dengan memanfaatkan perkembangan zaman dan teknologi, pesan-pesan moderasi beragama bisa disebarkan melalui media sosial untuk menjangkau sasaran generasi muda. Salah satu media sosial yang berpotensi untuk mengkampanyekan moderasi beragama pada generasi muda tersebut adalah Instagram. Hal tersebut karena Indonesia meduduki peringkat ke-4 pengguna Instagram tertinggi di dunia, dengan jumlah 107,6 juta pengguna dengan rata-rata penggunaan 43 menit per hari (Yonatan, 2. Pemanfaatan ruang digital khususnya melalui konten kreatif seperti komik dan quotes platform Instagram dapat menjadi strategi efektif dalam menyampaikan pesan moderasi beragama. Selain itu, pertemuan budaya populer seperti media digital dengan Islam juga telah melahirkan model dakwah kreatif (Lubis, 2. , khususnya kemunculan komik-komik digital dengan pembaca yang didominasi oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa (Arifah, 2023. Zulhazmi, 2. Oleh karena itu, komik digital di media sosial Instagram memiliki peran strategis untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi beragam kepada generasi muda. Beragam konten yang mampu dimuat Instagram tersebut, menjadikannya sebagai media sosial yang menarik bagi banyak kalangan, terutama remaja dan dawasa awal, sesuai dengan survei dari Napoleon Cat yang menyebutkan bahwa pengguna Instagram yang paling banyak di Indonesia berada dalam kelompok umur 18-24 tahun. Selain itu, fitur interaktif seperti like, comment, dan direct message memungkinkan pengguna yang Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus merupakan generasi muda bisa terlibat langsung dalam konten, hal ini memicu adanya dialog dan membangun kesadaran tentang pesan moderasi (Annur, 2. Elemen visual yang ada dalam konten Instagram juga berpengaruh dalam engagement audience yang membuat konten dalam media sosial ini memiliki jangkauan yang luas dan dinilai efektif dalam menyebarkan pesan tertentu. Sehingga, hal ini menunjukkan adanya potensi besar media sosial Instagram untuk mempengaruhi mindset masyarakat. Sehingga, media sosial Instagram menjadi platform penyebaran pesan-pesan tentang moderasi beragama secara lebih luas dan lebih cepat kepada masyarakat yang bisa terhubung secara digital (Setiawan, 2. Salah satu akun Instagram yang menggunakan komik dan quotes untuk mengampanyekan moderasi beragama adalah akun @Iqomic, akronim dari Islam. Quotes, dan Komik. Akun ini dibuat sejak tahun 2015 dan aktif membuat konten-konten Islam dengan beragam bentuk, seperti komik, ilustrasi, hingga audio visual. Pengikut dari akun Instagram ini mencapai 483rb dengan 28,6rb postingan baik komik maupun quotes terhitung pada Januari 2024. Banyaknya pengikut dari akun Instagram @Iqomic tersebut membuktikan konten yang dibuat selama ini diterima dan disukai sehingga menjadi media dakwah moderasi agama yang efektif khususnya untuk generasi muda. Selain itu, secara tidak langsung, pesan-pesan moderasi beragama yang disebarkan oleh Instaragam @Iqomic memberi kontribusi terhadap pembangunan harmoni sosial, khusunya harmoni antar umat Selain itu, dakwah dalam bentuk digital juga menjadi salah satu alternatif agar dakwah dan Islam tetap eksis (Permadi, 2. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa media sosial memiliki peran strategis untuk menyebarluaskan pesan moderasi beragama di ruang digital. Zulfikar & Apriyanti . media online bisa secara konsistem menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat sesuai dengan indikator moderasi beragama. Sejalan dengan (Rahman, 2. yang menunjukan bahwa media sosial efektif digunakan sebagai media penyebaran narasi moderasi beragama berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Selain itu. Nuraziza & Kurniawati . menunjukan bahwa pesan keagamaan adalah hal kompleks, khususnya konten pesan dakwah di media digital yang berkaitan dengan Selain itu. Muftitama . menunjukan bahwa pesan keagamaan dalam konten visual di media sosial dibentuk melalui simbol dan pola tertentu. Sejalan dengan hal Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic tersebut. Yosep et al. juga mengungkapkan bahwa elemen visual berupa komik di media sosial menjadi medium yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi Model dakwah yang diaplikasikan oleh komikus juga berbeda tergantung dengan target audiens, bisa menunjukan model dakwah normatif maupun naratif (Lubis, 2. Sehingga, komik adalah medium untuk menyampaikan pesan yang dibuat sepenuhnya sesuai dengan selera pembuatnya . (McCloud, 2. Berdasarkan penelitian tentang pesan moderasi beragama yang disampaikan melalui visual digital berupa komik pada media sosial menggunakan metode Netnografi dan teori Semiotika, secara umum sudah pernah dibahas. Namun, kajian yang secara khusus menelaah konstruksi pesan moderasi beragama dalam komik dan quotes Instagram serta bagaimana audiens menafsirkan pesan tersebut dengan berbagai respon, yang dianalisis menggunakan Semiotika masih belum banyak dikaji, khususnya pada akun Instagram @Iqomic. Sedangkan, akun Instagram ini cukup gencar menyebarkan pesan-pesan keislaman dan moderasi beragama baik eksplisit maupun implisit, pemahaman akan konstrusi pesan moderasi ini penting untuk membentuk pola pikir, pola perilaku dan interpretasi yang baik mengenai moderasi beragama. Sehingga, untuk memaksimalkan potensi Instagram sebagai media sosial yang mampu menjangkau banyak kalangan melalui komik dan quotes dalam menyebarkan pesan-pesan pembangunan harmoni sosial antar umat beragama. Peneliti tertarik untuk menganalisis lebih dalam kontruksi pesan moderasi beragama dalam komik dan quotes Instagram @Iqomic konten-konten menginterpretasikan pesan-pesan tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Netnografi, yaitu studi yang berfokus pada ruang virtual atau siber dengan menganalisis interaksi sosial serta perilaku masyarakat dalam konteks online atau di dunia maya (Kurniasari, 2022. Sulianta, 2. Pada dasarnya, pendekatan Netnografi merupakan studi observasional (Eriyanto, 2021. Sehingga penelitian ini menggunakan akun Instagram @iqomic sebagai ruang virtual . yang memuat konten komik dan quotes yang mengandung nilai moderasi beragama. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Penelitian ini dilaksanakan pada Februari-Mei 2025 dengan objek berupa unggahan komik dan quotes dari @iqomic yang dipublikasikan pada periode JuniDesember 2024, karena pada rentang waktu tersebut @iqomic konsisten mengunggah konten yang mengandung nilai moderasi beragama dengan beragam. Selain itu, rentang waktu tersebut mencerminkan dinamika wacana keagamaan di media sosial, khususnya setelah ketegangan konflik Israel-Palestina yang kembali meningkat. Sedangkan, subjek penelitian ini adalah audiens dari konten komik dan quotes @iqomic. Sumber data primer penelitian ini adalah konten visual komik dan quotes serta respon audiens berupa komentar pada konten tersebut, yang dipilih menggunakan purposive sampling dengan indikator yang didasarkan pada empat indikator moderasi beragama dari Kemenag RI, serta dikumpulkan menggunakan teknik observasi partisipatoris dan dokumentasi konten digital. Tahapan penelitian ini mengikuti kerangka Netnografi Kozinets yang berupa investigasi, interaksi dengan keterlibatan intelektual, personal, dan emosional ketika melakukan pengamatan pada konten, imersi dengan Aumenceburkan diriAy dalam media sosial, serta integrasi (Eriyanto, 2. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis interaktif dari Miles dan Huberman melalui proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Lestari, 2. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktuk untuk memastikan kredibilitas dan validitas temuan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejak dulu, komik telah menjadi salah satu medium untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, seperti pada masa Orde Baru. Menurut Soenarto, komik Islam terbagi menjadi empat kategori, yaitu wali songo sebagai tokoh penyebar agama Islam di Indonesia, kisah kenabian, kisah petunjuk, hingga siksa neraka (Soenarto, 2. Saat ini, seiring dengan kompleksitas permasalahan masyarakat Indonesia, tema-tema komik bukan hanya terinspirasi dari kisah-kisah penyebaran agama Islam, namun juga implimentasi nilainilai Islam yang damai. Selain itu, saat ini komik tidak hanya berbentuk buku dan disebarkan secara konvensional saja, namun telah bertransformasi ke dalam bentuk digital yang bisa disebarluaskan dan diakses dengan mudah oleh audiens. Salah satu bentuk mediatitasi komik ke dalam media digital adalah intagram @iqomic, yang juga merupakan salah satu komunitas online di media sosial dan Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic menaungi para pelaku dakwah visual untuk saling bersilaturahmi. Media sosial tersebut menjadi tempat para pelaku dakwah visual untuk saling berkolaborasi, sharing, dan menjalin ukhwah, khususnya terkait seni Islami yang bukan hanya sebagai tempat berkarya, namun juga tempat berdakwah. Sesuai dengan visi mereka yaitu AuSebagai Wadah Utama Silaturahim Komikus Muslim dalam Dakwah Visual di IndonesiaAy (Romario, 2. Analisis konstruksi pesan moderasi beragama postingan komik dan quotes @iqomic Analisis Semiotika oleh Charles Sanders Pierce digunakan dalam penelitian ini untuk melihat pesan moderasi beragama berupa komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan dikonstruksikan oleh akun Instagram @iqomic bersama para pelaku dakwah visual yang menjadi kolaborator (Turhamun, 2. Pierce juga menjelaskan proses semiosis ke dalam tiga tahap, yaitu representamen yang disebut juga dengan sign atau tanda, merupakan tanda yang ditangkap oleh panca Kemudian, mengaitkan representamen atau sign tersebut dengan pengalaman manusia, hasil pemaknaan representamen tersebut disebut dengan objek yang dibagai menjadi tiga yaitu ikon, indeks, dan simbol. Sedangkan, proses terakhir adalah interpretant, yaitu penafsiran objek yang dilakukan oleh manusia. (Fatimah, 2. Sehingga, dalam penelitian ini, analisis akan dilakukan dalam tiga tahap yang dikelompokan berdasarkan indikator moderasi beragama oleh Kemenag RI (Ersyad. Indikator ini digunakan untuk melihat sejauh mana ideologi dan praktik keagamaan seseorang berpengaruh pada kesetiannya terhadap konsensus kebangsaan, khususnya terhadap penerimaan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. UUD 1945, dan regulasi lain di bawahnya (Tim Kementrian Agama, 2. Konten yang merepresentasikan pesan komitmen kebangsaan ini dibagikan ulang oleh @iqomic dari pelaku dakwah visual dengan akun @utsmaniyyahmedia. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Tabel 1. Konten Repost Unggahan Komitmen Kebangsaan Represenment/Sign Object Permasalahan di dalam maupun di luar negeri. Seperti konflik di Palestina yang menjadi perhatian global, permasalahan suap menjelang Pilkada, hingga kebijakan yang diskriminatif terhadap kelompok tertentu. Interpretant Unggahan-unggahan mengesampingkan retorika berupa pidato . iplomasi verba. tanpa adanya tindakan nyata dan beralih untuk membuat aksi kolektif yang bisa membantu Palestina. Mengajak audiens untuk merefleksikan nilai moral tentang suap yang terjadi berdasarkan nilai agama dan sosial sebagai bentuk integritas dan keadilan dalam bernegara, serta bentuk kecaman masyarakat terhadap kebijakan baru dalam seleksi Paskibraka yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Sumber: Olahan Peneliti Represenment dalam unggahan tersebut diilustrasikan dengan dua cara yang berbeda, gambar atas menunjukan ilustrasi medium close up seseorang dan diambil lebih rendah darinya dan sedang membuka tangannya ke atas seperti seseorang yang sedang menyeru pada orang-orang lain (Renardi Rahadian Oetomo, 2. Ilustrasi tersebut Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic menggambarkan seseorang yang memiliki kekuatan dan kapasitas untuk menyeru orang lain. Sedangkan, ilustrasi di bawahnya digambarkan lebih wide shot. Konten tersebut diunggah pada 26 Desember 2024 dan menjadi salah satu bentuk respon dari masyarakat terhadap pidato formal Presiden Prabowo dalam kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 di Kairo pada tanggal 20 Desember 2024 (BPMI Setpres, 2. Dalam pidatonya. Prabowo menegaskan peran aktif Negara Indonesia sebagai aktor diplomatik Islam yang bukan hanya menyuarakan simpati terhadap Palestina, namun juga menyerukan tindakan kolektif terhadap kekerasan dan ketidakadilan global (Ikram & Fautanu, 2. Warna putih dari gamis dan peci yang digunakan laki-laki muslim pada unggahan lainnya termasuk dalam qualisign trikotomi representament . karena menjadi tanda berdasarkan kualitas (Wibowo, 2. Warna putih diasosiasikan sebagai warna yang suci, bersih, dan netral yang mengindikasikan independensi, tanpa ada afiliasi dari pihak atau partai manapun, yang biasanya disimbolkan dengan warna tertentu. Konten tersebut diunggah pada 25 November 2024, dua hari sebelum pelaksanaan Pilkada serentak. Menjadi pengingat kepada audiens untuk menghindari suap atau politik uang yang marak di tengah masyarakat sebelum kontestasi politik. Hal tersebut sesuai dengan survei yang dilakukan oleh Populix yang menyatakan bahwa 50% warga Indonesia pernah ditawari hadiah atau uang sebelum menyoblos (Agnes Z. Yonatan. Konten tersebut menunjukan komitmen kebangsaan yang senantiasa menghayati Nasionalisme, termasuk menolak suap dengan tidak mengorbankan nilai-nilai agama yang diamalkan (Rahman, 2023. Sedangkan. Qualisign dalam konten liannya ditunjukan dengan penggunaan huruf kapital dan tebal . untuk menyampaikan kekuatan, sensasionalisme, dan urgensi dari permasalahan yang diangkat. Sinsign ditujukan dengan teks yang menyatakan langsung tentang peristiwa aktual yang terjadi (Sobur, 2. Unggahan-unggahan tersebut menunjukkan adanya komitmen kebangsaan yang berusaha disampaikan @iqomic dan pelaku dakwah visual dalam unggahan mereka. Dikemas dengan gaya bahasa sindiran dan kritik yang ditujukan kepada seseorang yang memiliki kapasitas untuk memberikan pidato di depan banyak orang serta kebijakan pemerintah atau pemangku kepentingan yang dinilai tidak sesuai dengan nilai dan prinsip-prinsip inklusifitas dalam UUD 1945 dan Pancasila (Karimatunisa & Muhtarom. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Tabel 2. Konten Kolaborasi Unggahan Toleransi Represenment/Sign Object Bentuk kritik terhadap tindakan intoleransi di masyarakat seperti sintimen orang-orang anti-Islam yang mendukung tindakan kekerasan dalam konflik Israil-Palestina dan dilatar belakangi oleh kebencian terhadap Islam serta klaim toleransi yang tidak sesuai realitas karena pemahaman agama yang ekstrem di lingkungan masyarakat. Interpretant Unggahan tersebut menyoroti kebencian terhadap Islam yang melatar belakangi dukungan terhadap Zionis dan juga bentuk kritik praktik beragama masyarakat yang terlalu ekstrem serta klaim toleransi yang tidak sesuai realitas. Sumber: Olahan Peneliti Kata AuCacat LogikaAy. Auad hominemAy, dan AugeneralizationAy adalah simbol yang merujuk pada arti-arti tertentu, ad hominem merupakan salah satu jenis kesesatan berfikir dengan cara memberikan argumen yang menunjuk pada sifat negatif seseorang yang mengarah pada karakteristik, fisik, hingga keadaan tertentu. Argumen dari ad hominem berusaha menyerang kebenaran dengan sebuah klaim yang berusaha dikuatkan dengan menunjuk sifat negatif seseorang (Muharam, 2. Sedangkan, generalization merujuk Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic pada cara berfikir dari kasus-kasus tertentu . untuk membentuk kesimpulan umum (Adhi, 2. Sedangkan, ilustrasi yang mendukung konteks kesesatan berfikir tersebut adalah tokoh yang membawa rudal dengan tersenyum lebar dan mengatakan AuBravoAy. Bravo merupakan ungkapan yang digunakan untuk mengekspresikan rasa senang atau bangga terhadap orang lain yang telah melakukan pekerjaan dengan baik (Oxford. Ekspresi yang ditampilkan bertolak belakang dengan kondisi Palestina yang sedang menderita karena serangan rudal Israel. Simbol lainnya ditunjukkan melalui sosok laki-laki bergamis dan peci putih serta laki-laki dengan tongkat dan jubah berwarna emas, dua orang tersebut mewakili tokoh agama dan ormas tertentu. Object dari komik dan quotes tersebut menunjukan indeks berupa emosi negatif dan protes terhadap seseorang yang dinilai tidak memiliki faham yang sama dengan mayoritas masyarakat. Ilustrasi tangan menunjuk dari konten tersebut menjadi indeks konflik dan penolakan. Unggahan tersebut merupakan alat retoris dalam bentuk satire terhadap kondisi yang terjadi di tengah masyarakat yang terpolarisasi hanya karena membenci agama tertentu dan melupakan hal substansial untuk mendukung mereka yang lemah. Dalam konteks moderasi beragama, komik dan quotes tersebut tidak menggambarkan adanya toleransi yang diangkat, justru menggambarkan fanatisme dan ekstremisme beragama. Namun, hal tersebut justru menjadi gambaran dari realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat (Aji & Kerwanto, 2. Oleh karena itu, moderasi beragama hadir untuk menumbuhkan sikap toleransi, persatuan, dan saling menerima antar satu kelompok dengan kelompok, antar komunitas, maupun antar umat beragama supaya tidak ada perpecahan yang terjadi serta terwujudnya harmoni di antara masyarakat. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Tabel 3. Konten Kolaborasi Unggahan Anti-kekerasan Represenment/Sign Object Merupakan seruan solidaritas global untuk tidak melupakan Palestina yang sedang berjuang mempertahankan Negaranya. Unggahan tersebut juga menyuarakan seruan untuk membela Palestina yang sedang mengalami peperangan. Interpretant Dalam konteks anti-kekerasan atau radikalisme, postingan tersebut mengajak kita tidak melupakan negara yang sedang berjuang mempertahankan Negaranya dari jajahan. Unggahan tersebut juga menggambarkan perlawanan di tengah jeratan genosida yang membelenggu. Menjadi sebuah panggilan moral kepada masyarakat . untuk bergerak dan mengingat, dari sekedar AutahuAy menjadi mau mengambil tindakan. Sumber: Olahan Peneliti Gambar kedua . terlihat tangan yang sedang berada di dalam kobaran api merupakan bentuk dari indeks karena sebelumnya, pada tanggal 14 Oktober 2024. Israil membakar hidup-hidup warga Palestina di Gaza. Sehingga, konten ini merupakan bentuk respon terhadap tindakan tersebut (CNBC, 2. Gambar terakhir memperlihatkan seseorang yang sedang tersenyum dengan latar biru mendukung tulisan AuMaybe, thatAos where we put our hearts and energyAy yang artinya AuMungkin, di sanalah kita menaruh hati dan tenaga kitaAy. Penggunaan warna, tipografi, dan layout dalam konten tersebut dapat meningkatkan daya tarik visual (Fadiah & Satriadi, 2. Ikon dalam Represenment konten tersebut adalah tangan mengepal yang merepresentasikan perlawanan (Apriliani, 2. Sedangkan, tulisan AuHingga Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic SekarangAy dan AuPengingatAy memiliki sifat indeksikal yang menunjukan hubungan waktu dengan realitas saat ini. Tulisan tersebut menjadi tanda bahwa hingga saat ini kejadian Genosida masih tetap terjadi dan menjadi pengingat terhadap audiens tentang situasi yang sedang terjadi (Azzahra et al. , 2. Simbolnya merupakan kata AuGenosidaAy yang secara konvensi hukum sosial maknanya telah disepakati yaitu kegiatan yang membunuh anggota kelompok, menyebabkan cedera fisik dan mental, dengan sengaja menimbulkan kondisi kehidupan tertentu dengan maksud membinasakan, menerapkan tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran dalam kelompok, serta memindah dengan paksa anak-anak ke kelompok lain dengan tujuan untuk menghancurkan, baik secara keseluruhan maupun sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau agama (Azzahra et al. , 2024. Schneider, 2. Konten tersebut merupakan unggahan yang mengandung indikator antikekerasan karena salah satu bentuk perlawanan dan aktivisme digital terhadap kondisi yang terjadi di Palestina. Sehingga, pelaku dakwah visual bisa mengajak audiens untuk tetap mencurahkan perhatian pada kekerasan yang terjadi di Palestina dan senantiasanya membelanya. Membela Palestina adalah salah bentuk menolak kekerasan . nti-kekerasa. atas nama agama untuk melindungi saudara yang seagama maupun Tabel 4. Konten Kolaborasi Unggahan Akomodatif terhadap Budaya Lokal Represenment/Sign Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Object Figur seorang putra kiyai pesantren yang biasa disebut dengan Gus, menjadi pendakwah yang populer di media sosial melalui caranya berdakwah yang menghibur. Sayangnya, pada sebuah pengajian dia menjadikan lelucon seorang penjual es teh yang membuatnya dinilai menjual agama demi viralitas dan keuntungan dari hasil dakwahnya. Penggunaan tumpeng pada unggahan lainnya juga menjadi sebuah upaya untuk menjangkau audiens dan mengemas konten dengan unsur lokal. Pesan ini sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia yang mengedepankan kerendahan hati, rasa syukur, dan kesederhanaan dalam kegiatan apapun yang dikerjaan. Interpretant Gus menjadi figur religius lokal yang dihormati, memiliki pengetahuan agama, serta kedekatannya dengan budaya Jawa pesantren membuatnya memiliki kharisma di mata pengikut Namun, alih-alih mengakomodasikan budaya lokal, sosok Gus dalam unggahan tersebut dinilai tidak mencerminkan seseorang yang religius dan menjadikan orang lain bahan candaan di depan ratusan Sedangkan, unggahan lainnya menunjukan adanya tumpeng Indonesia menyentuh audiens dan dapat menjangkau beragam kalangan Sumber: Olahan Peneliti Konten yang saat itu mendapat 5. 573 like di Instagram tersebut memiliki ikon berupa latar belakang ilustrasi orang-orang yang sedang tertawa mewakili kejadian yang mirip yaitu jamaah yang tertawa ketika pengajian yang diisi oleh Gus Miftah, es teh yang sedang diangkat di atas kepala dan bertuliskan AuAGAMAAy menjadi simbol agama yang sedang dikomodifikasikan, menjadi satire atas penjual es teh yang saat itu viral dan ditertawakan banyak jamaah. Sedangkan, dari sisi Represenment, legisign Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic ditujukan melalui sebutan Gus yang disepakati sebagai sebutan untuk putera kiyai pesantren di Jawa. Akomodasi terhadap budaya lokal terjadi ketika legisign berupa sematan gelar Gus ini disebarluaskan dengan legisign berupa platform global, yaitu Instagram. Menghasilkan konten tentang permasalahan yang menimpa pemuka agama dengan sentuhan lokal, serta sebagai indikator moderasi beragama berupa akomodatif terhadap budaya lokal yang mengajak masyarakat melihat lebih jernih sosok yang selama ini dihormati dan diikuti fatwa-fatwanya, khususnya untuk menghindari ekstremesme baragama yang membuat seseorang terlalu mengidolakan atau mengikuti jejak orang lain tanpa melihat lebih jauh dari sudut pandang lainnya (Tim Kementrian Agama. Sedangkan, unggahan dengan tumpeng yang memuat pesan syukur tersebut menjadi menunjukan budaya yang mengandung nilai penghormatan, kemartabatan manusia, solidaritas, hingga nilai sosial. Representasi rasa syukur tersebut didukung dengan teks yang secara eksplisit membahas bersyukur pada nikmat Allah serta ekspresi tokoh yang digambarkan tersenyum di akhir slide (Pranoto, 2. Nilai-nilai spiritualitas tersebut juga mengakomodasikan budaya lokal berupa tumpeng yang sarat akan makna syukur. Unggahan tersebut menunjukan penerimaan terhadap perilaku dan praktik beragama yang bukan hanya menekankan kebenaran normatif, namun juga menerima praktik beragama yang mengedepankan nilai substansial, @iqomic menerima tradisi dan budaya lokal yang tidak menyimpang dari ajaran agama (Ilahi & Utami, 2. Analisis interpretasi pengikut akun Instagram @Iqomic terhadap pesan moderasi Dalam menganalisis interpretasi dari tanggapan audiens terhadap konten-konten @iqomic yang memuat pesan moderasi beragama, digunakan trikotomi ketiga dari Pierce dalam membedakan tanda-tanda berdasarkan relasi interprentannya . omentar audien. , yaitu rema . , tanda disen . icent sig. , dan argumen . Rheme adalah tanda kualitatif yang tidak benar dan tidak salah mengenai topik yang sedang dibicarakan, dicent adalah tanda yang mempunyai eksistensi aktual yang bisa benar atau Sedangkan, argument adalah tanda yang sudah berkembang dari premis serta kesimpulan, cenderung mengarah pada kebenaran (Wibowo, 2. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Gambar 1. Tanggapan audiens Instagram @iqomic Bedasarkan konten tentang kebijakan melepas hijab bagi anggota Paskibraka tersebut, terdapat dua komentar yang relevan dan substansial pada permasalahan yang diangkat, yaitu dari akun @toyibudin25 AuSukarela ikut aturan. Berarti klo gak ikut aturan dikeluarkan dari paskibraka?? Berarti memang ada aturan lepas hijab kan, klo dari awal ada aturan ky gitu ya sudah cari aja yang non hijab sekalian. Gak usah drama nerima yg hijab klo ujungnya diskriminasi. Masih ada yg dukung pemimpin yg bikin aturan begini??Ay Dan @rozikincr16 AuDiskriminasi. Sipaling Pancasila eh mencedarai Pancasila lawak. Ay Unsur relasi interpretant yang ditemukan dalam komentar tersebut adalah rheme dalam ungkapan AuSukarela ikutAy yang menimbulkan interpretasi terbuka tanpa ada benar dan salah (Ersyad, 2. , begitupun dengan ungkapan Ausipaling PancasilaAy yang bebas diinterpretasikan ke pada pemerintah, individu, atau institusi. Unsur lainnya adalah dicent dalam kalimat AuBerarti memang ada aturan lepas hijab kanAy yang dinilai sebagai fakta oleh komentator atau audiens, dicent lainnya adalah ungkapan AuMencederai PancasilaAy menjadi anggapan audiens bahwa tindakan tersebut melukai Unsur argument juga ditemukan dalam komentar @rozikincr16 dalam kalimat AuSipaling Pancasila eh mencedarai Pancasila lawakAy yang mengungkapkan adanya Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic Gambar 2. Tanggapan audiens Instagram @iqomic Salah satu komentar audiens mengimplikasikan kesetujuan dengan konten dari @heyjong yang membahas tentang oligarki tersebut @wfp_packdesigner contohnya, dia mengatakan Auiya betul minA berawal dr masyarakat miskin yg tdk diajari agama . motikon Ay Rheme dalam tanggapan tersebut adalah Aumasyarakat miskinAy yang merupakan sebuah fakta. Sedangkan, argument dalam komentar tersebut ditujukan dalam kalimat Auberawal dr masyarakat miskin yg tdk diajari agamaAy yang merupakan kesimpulan dari konten yang dilihat. Jika tanggapan sebelumnya menyoroti substansi konten tentang oligarki, komentar dari @zulkifli1453 justru cenderung menyoroti konten yang dianggap bermanfaat dan mengedukasi. AuSering-sering bikin konten begini min. terus edukasi netizen. Kasih paham kalau Indonesia sedan tidak baik-baik saja . motikon ap. Ay Rheme dalam komentar ini adalah Aukonten begini minAy menjadi topik yang sedang dibicarakan, yaitu merujuk pada kontennya bukan substansi konten secara langsung. Dicent ditunjukan oleh kalimat Auterus edukasi netizenAy yang merupakan sebuah fakta, dan argument dari komentar tersebut adalah AuIndonesia sedan tidak baik-baik saja . motikon ap. Ay yang menunjukkan hubungan sebab dari kalimat sebelumnya. Sehingga, edukasi terus diperlukan karena Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus Gambar 3. Tanggapan audiens Instagram @iqomic Terdapat dua komentar yang relevan dengan unggahan tersebut, baik yang menyoroti substansi, maupun membahas hal lain yang masih berhubungan. Komentar dari @vavavaa menyoroti substansi dari unggahan yang menyerupai pemuka agama (Gu. tersebut AuUdah ya main Gus Gusannya . moticon menangi. Ay Tanggapan tersebut cenderung bersifat rheme yaitu tanda yang ditafsirkan dengan subjektif karena dipengaruhi berbagai macam latar belakang. Sedangkan, komentar dari @moon. caph cenderung lebih argumentatif Aulebih suka sama ustadz adi hidayat. Pembawaannya kalem dan tidak menghina . apalagi beliau juga guru dan dapet gelar . emoticon sedi. pgn ketemu sama beliau. Ay Termasuk dalam pernyataan yang mengandung unsur argument yang bukan hanya menyampaikan perasaannya sebagai rheme maupun fakta sederhana tentang ustadz Adi Hidayat yang tidak menghina sebagai dicent. Argument diwakili dari pernyataannya yang menyatakan ingin ketemu ustadz Adi Hidayat karena dianggap tidak pernah menghina tidak seperti sosok yang ditampilkan dalam unggahan (Ersyad, 2. Konstruksi Pesan Moderasi Beragama Melalui Komik dan Quotes di Media Sosial Instagram @Iqomic Gambar 4. Tanggapan audiens Instagram @iqomic @flanzka @utsmaniyymedia tersebut AuEh gimana?? Tiba-tiba bersatu gitu ya ? Tanpa ada pidato diplomasi yang menyatukan ? Emang bisa ya min ? . moticon kage. Ay Komentar tersebut dibangun dari beberapa rheme yang merupakan tanda-tanda dasar yang membangun makna, yaitu AuBersatuAy menjadi konsep abstrak yang dimungkinkan untuk diinterpretasikan dalam berbagai makna (Sobur, 2. AuTiba-tibaAy mendakan konsep waktu yang dimaknai sebagai sebuah persiapan yang cepat, dan AuPidato diplomasiAy menjadi objek yang berkaitan dengan proses formal. Fakta yang terbangun membentuk dicent dalam kalimat AuTanpa da pidato diplomasi yang menyatukan?Ay menjadi pertanyaan fakta yang menyangkal adanya proses formal berupa pidato yang biasanya dinilai bisa menjadi cara untuk membentuk persatuan. Dicent tersebut membentuk argument yang mewakili makna bahwa konten yang diunggah dianggap tidak realistis dan bertentangan dengan logika umum bahwa sebuah persatuan membutuhkan usaha yang nyata dan proses yang panjang, bukan hanya sebuah pidato. Academic Journal of DaAowa and Communication Vol. No. July-December 2025 Dony Rano Virdaus KESIMPULAN @iqomic dan para kolaborator dakwah visual mengkonstruksikan pesan moderasi beragama melalui komunikasi visual yang kreatif dan kontekstual berdasarkan indikator moderasi beragama yang diinternalisasi dalam konten-kontennya. Komitmen kebangsaan disampaikan melalui kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemangku kepentingan yang tidak sesuai dengan konsensus dasar negara. Toleransi dihadirkan melalui narasi konten satire yang mengkritik fanatisme, ekstremisme, dan intoleransi yang terjadi di masyarakat. Anti-kekerasan diekspresikan melalui ilustrasi yang menyoroti penderitaan korban akibat konflik, khususnya konflik Palestina serta seruan aksi solidaritas yang mengedepankan empati. Pengintergrasian nilai-nilai lokal dalam pesan agama semakin memperkaya pesan moderasi beragama tanpa mengabaikan esensi ajaran Islam. Audiens menanggapi konten-konten moderasi beragama tersebut dengan beragam bentuk dan interpretasi yang mencerminkan adanya dinamikan pemikiran serta emosi yang kompleks. Tanggapan didominasi interpretasi yang mendukung dan mengapresiasi pesan-pesan terkait isu kemanusiaan, keadilan, dan anti-diskriminasi. Sebagian tanggapan lainnya mencerminkan adanya interpretasi yang berbeda sehingga muncul debat ideologis dan polarisasi, terdapat juga respon yang skeptis karena menginterpretasikan konten sesuai dengan realitas yang terjadi. REFERENSI