Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 NILAI SIMBOL CANDI BOROBUDUR DALAM WISATA KAPITALIS GLOBAL Tri Yatno S3 Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta triyatno2410@gmail. Abstrak Candi Borobudur sebagai warisan agama Buddha menjadi simbol budaya yang memiliki nilai estetika dan spiritual. Negara memiliki peran sentral dalam mengelola Candi Borobudur sebagai bagunan cagar budaya dan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai simbol religi pada Candi Borobudur dalam wisata kapitalis global. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dalam mengungkap Hasil penelitian manyatakan bahwa Candi Borobudur memiliki nilai jual sebagai material pariwisata. Simbol-simbol religi Buddha di Candi Borobudur dikomodifikasi menjadi komoditas wisata. Dampak dibukanya Candi Borobudur sebagai komoditas wisata memiliki dampak positif dan negatif bagi kehidupan beragama dan Kata kunci: Nilai. Simbol. Borobudur. Wisata. Kapitalis Abstract Borobudur Temple is a Buddhist heritage. It is a cultural symbol has aesthetic and spiritual values. The state has a central role in managing Borobudur Temple as a cultural heritage building and tourism. This study aims to analyze the religious symbols in Borobudur Temple in global capitalist tourism. This research method uses a case study approach in uncovering the problem. The results of the research state that Borobudur Temple has a selling value as a tourism material. Buddhist religious symbols in Borobudur Temple are commodify into tourism commodities. The impact of the opening of Borobudur Temple as a tourist commodity has a positive and negative impact on religious and social life Keywords: Value. Symbol. Borobudur. Tourism. Capitalist nilai-nilai PENDAHULUAN Borobudur merupakan candi arsitektur, dan spiritual. Borobudur Buddha yang sangat fenomenal dan berbentuk stupa yang mempunyai nilai sakral dan dijadikan tempat pemujaan. Borobudur Indonesia. Di balik wujud candi Borobudur tampak masyarakat Buddha yang mempunyai ada tatanan atau aturan yang dipakai | 114 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 panduan yang menunjuk adanya relasi Borobudur antara industri pariwisata, pedagang, dan komponen-komponen wisatawan dalam pemenuhan kebutuhan Penataan dan kepuasan melalui komodifikasi. terstruktur mempunyai nilai seni dan Komodifikasi nilai spiritual tinggi sebagai lambang Borobudur. Simbol Buddha dijadikan seni asbak atau setelah kematian. Stupa tempat putung rokok, candi Borobudur Selain memiliki nilai spiritual, digunakan sebagai tempat fasion, dan Candi Borobudur sebagai cagar budaya tempat foto prewed, yang kesemuanya mempunyai nilai jual dalam bidang Seperti yang dikutip dalam Inews. id tanggal 14 September 2019 mengesampingkan nilai kesakralan. bahwa Borobudur masuk dalam lima Berdasarkan destinasi super prioritas diantara sepuluh bahwa saat ini Candi Borobodur telah mempunyai fungsi ganda, yakni satu sisi Kondisi ini menjadikan Candi digunakan oleh umat Buddha dalam Borobudur dalam oposisi biner yakni satu sisi mengedepankan spiritual agama lainnya sebagai objek wisata. Fungsi Buddha, sisi lainnya menitiberatkan pandang yang berbeda pula dalam melihat material candi, yakni satu sisi Pengembangan candi Borobudur sebagai objek wisata diharapkan dapat lainya memandang candi sebagai menambah kesejahteraan masyarakat objek pemenuhan napsu selera. Sisi religiunitas terlihat ketika umat Buddha simbol agama Buddha melakukan kegiatan keagamaan, seperti Waisak, digunakan sebagai pemenuhan napsu industri jasa maupun para pedagang selera diantaranya candi sebagai media sebagai ciri khas daerah wisata candi. pariwisata, media pembelajaran, media Kondisi ini menjadikan kawasan candi foto selfi, ataupun tempat berpacaran. | 115 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Komodifikasi menurut George Hal ini berdampak pada menurunnya nilai-nilai religi Buddha diantaranya Ritzer . naik candi menggunakan alas kaki dan adanya perilaku kurang sopan dalam komersial atau objek perdagangan. Jadi memperlakukan simbol Buddha. Candi Borobudur sebagai simbol dilakukan di kawasan Candi Borobudur agama Buddha telah menjadi situs adalah komersialisasi terhadap simbol- (World Heritage Sit. Buddha milik UNESCO, sehingga pemerintah komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan. candi melalui Undang-Undang Nomor Permasalahan komodifikasi tidak 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, terlepas dari faktor ekonomi, seperti hasil penelitian Thiago Duarte Pimental bangunan situs yang dikelola oleh yang menganalisi mengenai Bourdieu. Tata ruang candi kawasan Tourism Field and Its Implications for Borobudur dan sekitarnya diatur dalam Governance of Tourist Destinations Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun setidaknya mempunyai . habitus, yakni Sedangkan merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2017 tentang Pembentukan pengalaman yang terkandung sebagai Badan Kawasan kebutuhan untuk mendapatkan informasi mengenai benda, tempat, dan orang baru. menjadikan Borobudur sebagai material . Arena, dalam praktik sosial wisata yang diberikan oleh produsen, badan Otorita Pariwisata Pengelola Borobudur. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti meneliti terkait bagaimana nilai simbol Candi orang-orang Borobudur barang dan jasa. doxa, mengacu pada opini konsensual tentang pariwisata dan Komodifikasi Doxa tentang pariwisata bisa lihat dengan gagasan bahwa perjalanan | 116 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 adalah satu kebutuhan manusia dan sebagai kepentingan material melalui pariwisata adalah cara pengetahuan dan praktik wacana. Habitus inilah yang meningkatkan potensi manusia. nomos di mana perjalanan adalah formulir untuk mendapatkan modal budaya (Pimental, 2. (Suatama, 2. Usada Bali. Komodifikasi spiritual lainnya Grusendorf ditulis oleh Daniels dalam penelitiannya penelitiannya yang berjudul BourdieuAos yang berjudul The fame of Miyajima Field. Capital, and Habitus in Religion Spirituality, commodification and the menyatakan bahwa. Konsep habitus tourist trade of souvenirs in Japan. Bourdieu dapat diartikan bahwa agama Dalam penelitiannya didapat bahwa dalam beberapa kasus menjadi bentuk Bourdieu gaya hidup. Agama adalah ruang privat. stratifikasi budaya. Budaya konsumsi Agama adalah bentuk kepercaayaan. menjadi objek modal. Budaya menurut Agama adalah gaya hidup yang harus Bourdieu aristokrasi budaya, status sosial yang membantu organisasi keagamaan untuk Tidak ada strata sosial yang lebih memahami dalam penyebaran memiliki pola konsumsi secara otomatis agama atau dahwah (Grusendorf, 2. memenuhi syarat sebagai budaya yang Hal ini didukung oleh Suatama sah kecualikan terjadi alienasi (Daniels, bahwa komodifikasi spiritual menjadi Berbagai bentuk dan pengertian fakta yang tak terhindarkan dalam komodifikasi tersebut sebagai acuan modernisasi yang didorong oleh ideologi pembahasan komodifikasi nilai religi Dalam proses komodifikasi. Buddha yang ada di Kawasan Candi nilai tukar mendominasi nilai guna Borobudur Dalam Ketiga sehingga wacana irasional dimanipulasi simpati publik. Ambivalensi moralspiritual tidak dapat dihindari dalam Dalam hal ini, nilai-nilai Industri Budaya Berbeda Adorno | 117 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 karakter seni. Budaya dalam industri Semua hal tersebut dilakukan budaya adalah komoditas paradoks yang melunturkan nilai-nilai seni. Budaya sebesar-besarnya segelintir pemilik modal yang bergerak di industri hiburan (Reksa, 2015: . Adorno daripada meminati nilai sebagai bentuk kritis dan kebebasan manusia. Seni telah budaya popular adalah serupa dengan menjadi komoditas dalam pasar yang berarti seni tidak lagi dipandang sebagai barang standar budaya, kenikmatan yang mudah tersedia melali konsumsi budaya populer membuat orang patuh dan tidak direduksi sehingga menjadi komersial. protes, tidak peduli apakah keadaan Produksi budaya mengalami perubahan ekonomi mereka sulit. Budaya industri dari nilai-nilai guna menjadi nilai tukar yang berarti semua produksi budaya kebutuhan palsu, yaitu kebutuhan dan hanya memiliki nilai sejauh itu bisa kepuasan yang dibuat oleh kapitalisme ditukar, tidak sejauh itu adalah sesuatu (Hereyah, 2011, . Akibatnya, nilai-nilai Menurut Adorno, entitas tipikal dalam dirinya sendiri. Di tengah era adalah komoditas. banyak produk budaya yang AodijualAo komoditas dari awal hingga akhir, dari secara terang-terangan. Selama 24 jam berlomba-lomba Intinya, menyediakan program menarik untuk secara langsung sangat membutuhkan merebut hati jutaan pemirsa demi sebuah tindakan-tindakan rating atau share yang fantastis. Industri mendatangkan keuntungan sebagai asal- musik pun berjalan tidak lagi sesuai dengan idealisme musisinya, melainkan secara finansial menjadi tujuan dalam ada mekanisme pasar yang dibentuk oleh pemodal dan wajib dipenuhi. Begitu pula independen dari kekuatan penjualan dengan dunia layar lebar yang cenderung komoditas kultural yang harus diperoleh lesu apabila tidak mengikuti selera dengan segala cara. Oleh karena itu Keuntungan | 118 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 industri budaya berubah menjadi Aurelasi budaya dibentuk dengan kesadaran publikAy tanpa harus memperhatikan perusahaan-perusahaan nilainya di pasar. Motif keuntungan memproduksinya ataupun objek-objek yang bisa dijual. Hal itulah yang Salah satu contohnya menjadikan iklan sebagai penopang adalah sistem bintang di Hollywood utama dari distribusi industri budaya dan (Dominic 1. menjadikan komoditas kultural seolaholah menjadi milik dari iklan itu sendiri. Globalisasi Konsumen tidak lagi memperhatikan Proses globalisasi sudah terjadi perusahaan mana yang memproduksi sejak masuknya agama Hindu. Budha atau Islam ke nusantara, proses ini bisa dimaknai sebagai salah satu bentuk Pada masa itu sekat-sekat mereka membeli semata-mata karena kebudayaan nusantara terbuka dan pada Dengan kata lain, konsumen sebenarnya tidak membeli produk, tetapi dengan nilai-nilai yang ada pada agama- membeli citra yang diiklankan. Sebagai agama tersebut. Akan tetapi, pada sebuah komoditas, produk-produk yang dihasilkan industri budaya mempunyai karakteristik yang mengedepankan apa seiring sejalan dengan perkembangan disebut standardisasi dan teknik komunikasi (Briggs dan Burke, 2. memberi perhatian pada proses produksi Globalisasi merupakan kecenderungan yang bermutu (Adorno, 1. distribusi, dengan Menurut Madzhab Frankfurt, komunikasi massa (Surahman, 2013: ommodity fetishis. dan dominasi dari Globalisasi tidak hanya terjadi pada bidang ekonomi dan politik, namun juga Komoditas yang diproduksi oleh industri | 119 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 terjadi pada aspek lain, salah satunya aspek budaya. (Larasati, 2018: . PEMBAHASAN Di tengah interkoneksi global Nilai Spiritual Candi Borobudur masyarakat menegakkan identitas diri Nilai spiritual merupakan konsep menjadi sesuatu yang sulit sekaligus abstrak yang dianggap penting mengenai kode etik Gerakan-gerakan kehidupan mengenai baik kemasyarakatan kini praksis terjebak buruk dan benar salah yang didasarkan dalam lingkaran interkoneksi global . pada kepercayaan kepada Tuhan. Nilai Masyarakat yang sedang bergerak ini terus mencari konstruksinya sendiri di merupakan milik pribadi yang paling tengah bentangan dunia sebagai pasar Dalam agama Buddha, nilai Gerakan-gerakan sosial mewakili spiritual digambarkan dalam bentuk simbol, baik yang bersifat nyata maupun revitalisasi kebudayaan kadang tidak Salah satu bentuk nyata nilai terlepas dari penetrasi kuasa global spiritual Buddha terdapat pada Candi kapital ini (Suryawan, 2011: . Borobudur. Umat Buddha melihat candi termasuk dalam pariwisata kawasan Borobudur sebagai objek sakral . bjek candi Borobudur yang telah terkoneksi Puj. dimana Borobudur melambangkan Borobudur menggambarkan tiga alam kehidupan. METODE Penelitian Demikian juga dengan simbol-simbol candi-candi lain merupakan tempat Buddha untuk melakukan Puja yang memiliki wisata dalam pusaran kapitalis global. nilai filosofis sakral. Pemujaan terhadap Data penelitian ini menggunakan data candi bukan berarti menyembah berhala, primer dan sekunder dalam mengungkap namun candi sebagai obyek meditasi isu-isu terkait permasalahan simbol . bahwa kehidupan ini tidak religi dan pariwisata. Data yang telah kekal . Selama makhluk masih terkumpul dianalisis dan disimpulkan diselimuti oleh keinginan napsu . sebagai hasil penelitian. maka siklus kelahiran kembali di 31 | 120 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 alam kehidupan masih terjadi, namun menarik wisatawan untuk menempatkan jika makhuk telah melenyapkan tanha pariwisata spiritual yang mempunyai ciri Borobudur khas agama Buddha. Pengembangan Nibbana. Candi Borobudur sebagai bukti Wangsa seni tersebut berupa seni pahat, seni lukis, sablon maupun seni ukir dari Syailendra di Nusantara, pembangunan simbol-simbol Buddha diantaranya adalah pembuatan miniatur candi, miniatur stupa, patung Buddha, spiritual tinggi, mulai dari raja sampai serta kaos, dan tas yang bercirikan dengan rakyat jelata, sebab membangun agama Buddha. Komodifikasi simbol candi, seperti Borobudur membutuhkan spiritual Buddha tersebut dijadikan pengetahuan luas, dana besar dan bahan souvenir bagi para industri wisata. solidaritas yang kuat dalam mewujudkan bangunan sakral candi untuk ritual Runtuhhnya Wangsa Pergeseran Borobudur, pergeseran nilai guna menjadi nilai Kondisi bahwa telah terjadi komodifikasi nilai spiritual Buddha pada kawasan Candi Borobudur sebagai wisata kapitalis. Borobudur dijadikan material komoditas Borobudur Pergeseran nilai spiritual Buddha Buddha mempunyai dampak positif dan Dampak komodifikasi simbol agama Buddha yang ada di Kawasan Candi Borobudur tentunya mansyarakat lebih mengenal terkait simbol-simbol agama Buddha. Namun dalam perkembanganya industri pariwisata khususnya yang bergerak pandangan yang berbeda terkait simbolsimbol dalam candi. yang dapat dikomodifikasikan. Bentuk Komodifikasi Syailendra membentuk peradaban baru dan pandangan baru terhadap candi Candi pengembangan seni dari manusia dalam Simbol candi yang dikemas dalam bentuk souvenir yang mengalami Buddha | 121 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 diantaranya adalah pembuatan minatur Buddha posisi berdiri, dan kepala candi Borobudur, miniatur stupa, dan Buddha. Berbagai macam jenis patung rupang Buddha dijadikan sebagai asbak Buddha yang diperdagangkan tentunya tempat putung rokok. Dalam kasus ini memilikinya sebagai kenang-kenangan menempatkan simbol religi Buddha pada pernah pergi ke Candi Borobudur. kondisi yang kurang pantas, sehingga Bentuk komodifikasi yang terdapat di melalui tulisan ini dapat dijadikan Candi Borobudur merupakan sebuah referensi dalam mengkomodifikasikan fenomena yang terjadi sejak kawasan simbol agama. Selain itu terdapat juga Candi kawasan wisata. asesoris liontin dengan menggunakan Dampak Borobudur simbol religi Buddha di era globalisasi Buddhisme kepala Buddha mempunyai diantaranya dapat mengenalkan simbol- arti ketidakkekalan, namun ketika kepala Buddha digunakan sebagai liontin yang dikalungkan, memiliki tafsir lain bahwa Buddha Globalisasi Buddha. Dalam Buddha kemudian digantung. Hal ini juga kapitalis telah membuka ruang bagi termasuk perilaku yang kurang pantas industri kreatif dalam mengeksplor ide- jika dipandang dalam spiritual Buddha. ide dan gagasannya Seni dan religi memiliki perspektif yang mampu bersaing dengan pasar dunia, dimana Globalisasi tidak terlepas dari Dimana mengedepankan popularitas yang diikuti dan diharapkan perkembangan ilmu dan teknologi. oleh keuntungan material berupa uang, namun religi mengedepankan kesakralan yang diikuti oleh pembebasan keinginan Wisata Global Candi Borobudur Candi Borobudur telah menjadi Bentuk Buddha lainnya adalah Patung Buddha Kapitalis Buddha tidur. Buddha posisi meditasi, warisan dunia yang dikelola melalui Pariwisata Candi Borobudur berkembang dengan sangat cepat dibanding dengan candi-candi | 122 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Buddha di sekitar candi Borobudur. Hal event-event seni budaya dan kegiatan ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi religi Buddha. Sebagai tempat ibadah Perkembangan teknologi yang umat Buddha yang terbesar di seluruh sangat pesat dalam dunia industri adalah dunia. Borobudur menjadi salah satu media internet. Melalui media internet hasil budaya manusia yang paling sering informasi komodifikasi simbol religi dikunjungi lebih dari sejuta wisatawan Buddha setiap tahunnya. Baik domestik maupun menjangkau ke seluruh masyarakat Tidak ada satupun candi di seluruh dunia yang menyerupai gaya Jaringan dikembangkan oleh industri pariwisata arsitek candi ini. Adanya objek wisata Candi transaksi ekonomi melalui jaringan Borobudur positif terhadap perilaku sosial ekonomi Kapitalis global pada wisata di antaranya adanya pemasukan devisa candi Borobudur menjadikan internet negara, terbukanya lapangan pekerjaan, sebagai media jaringan sosial dalam meluasnya kesempatan usaha, daan mempromosikan simbol-simbol agama meningkatkan pola pikir kreatif dalam Buddha, baik yang mempunyai nilai dikenalnya sibol-simbol religi Buddha Media Sedangkan memperkenalkan artefak budaya Buddha pengaruh negatifnya antara lain adanya persaingan usaha pariwisata maupun masyarakat sadar akan keindahan dan industri kreeatif serta para pedagang di keistimewaan candi Borobudur. Di sisi lain media berperan dalam menyebarkan komodifikasi nilai simbol religi Buddha, terjadi pergeseran nilai kesakralan akibat komodifikasi nilai simbol religi Candi Borobudur Komodifikasi nilai yang terjadi di Kawasan Candi Borobudur senada Melalui sektor pariwisata Candi Borobudur, menjangkau artefak budaya. Borobudur Candi masyarakat dunia, diantaranya melalui Daniels. Bourdieu konsumsi menjadi objek modal dalam | 123 Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata dan Budaya Volume 1 Nomor 2 Desember 2020 Melalui Sejak dibukanya menjadi objek wisata mulai terjadi komodifikasi nilai simbol agama Buddha, diantaranya menikmati keindahan dan keunikan seni pahat, seni ukir, dan seni lukis yang candi Borobudur, meskipun satu sisi mempunyai dampak positif dan negatif terjadi pergeseran terhadap nilai simbol dalam persaingan sektor pariwisata kapital global. Hal ini dapat dijadikan Buddha Kawasan Candi Borobudur. Pergeseran nilai tersebut diantaranya candi Borobudur bukan lagi sebagai wisata spiritual namun lebih memonitor bentuk komodifikasi nilai mengarah pada pemenuhan napsu selera, selain itu Candi Borobudur saat ini lebih Borobudur agar tidak ada pihak yang condong sebagai media pembelajaran dirugikan dan memiliki manfaat yang daripada media spiritual. Kondisi ini Buddha Candi hendaknya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dalam pengelolaan Candi Borobudur, dimana satu sisi berpihak pada wisata kapitalis, satu sisi harus berfikir pada kehidupan beragama. PENUTUP Berdasarkan pembahasan yang DAFTAR PUSTAKA