Jurnal Ilmiah IKIP Mataram https://ojs. id/index. php/jiim September 2021. Vol. No. p-ISSN: 2355-6358 e-ISSN: 2774-938X Peningkatan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar Wiwik Arindrawati SD Negeri Sentong. Kabupaten Probolinggo *Corresponding Author e-mail: wiwikarindrawati77@gmail. Diterima: Agustus 2021. Direvisi: Agustus 2021. Dipublikasi: September 2021 Abstract The purpose of this research is to increase the student's activeness and learning achievement by applying the jigsaw type cooperative learning model to the Energy Source material. The research design used was classroom action research (CAR) with each cycle consisting of four stages, namely planning, action, observation, and reflection. The research subjects were fourth grade students of Sentong State Elementary School. Krejengan District. Probolinggo Regency in the odd semester of the 2021/2022 academic year. The results showed an increase in the mastery of student learning outcomes from cycle 1 to cycle 2 by 19%. The increase in the average class from cycle 1 to cycle 2 is 9. In cycle 1 the percentage of mastery learning is 36% and the class average is 58. 64 with 40% student activity. While the second cycle of learning completeness is 93% and the average class is 77. 1 with student activity reaching 95%. This shows that when learning science activities with the application of the jigsaw type cooperative model there is a positive improvement in science learning outcomes. Keywords: Cooperative Learning. Jigsaw. Science Learning. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi Sumber Energi. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan masingmasing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kela IV SD Negeri Sentong. Kecamatan Krejengan. Kabupaten Probolinggo pada semester ganjil tahun ajaran 2021/2022. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 19%. Peningkatan rata-rata kelas dari siklus 1 ke siklus 2 adalah 9. Pada siklus 1 presentase ketuntasan belajarnya sebesar 36% dan rata-rata kelas sebesar 58,64 dengan keaktifan siswa 40%. Sedangkan siklus 2 ketuntasan belajarnya sebesar 93% dan rata-rata kelas sebesar 77,1 dengan keaktifan siswa mencapai 95%. Hal ini menunjukan ketika kegiatan pembelajaran IPA dengan penerapan model kooperatif tipe jigsaw terdapat perbaikan yang positif pada hasil belajar IPA. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif. Jigsaw. Pembelajaran IPA. Sitasi: Arindrawati. Peningkatan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar: Jurnal Ilmiah IKIP Mataram. PENDAHULUAN Setiap guru selalu mendambakan agar siswa dapat memahami pelajaran dengan mudah. Berbagai cara dilakukan oleh guru demi meningkatkan hasil belajar siswa. Guru harus dapat mewujudkan suasana belajar yang baik agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Salah satu hal yang dilakukan oleh guru adalah dengan melibatkan siswa secara aktif dalam Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 pembelajaran (Abdullah, 2. Upaya melibatkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran merupakan tugas guru terkait dengan cara memilih, menentukan, dan menerapkan metode dalam kegiatan pembelajaran. Mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar (SD). IPA merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang fakta serta gejala alam. Biasanya, pembelajaran IPA di SD sering kali membahas hal-hal yang ada di lingkungan sekitar. Dalam pembelajaran IPA terdapat dua keterampilan, yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Kedua keterampilan ini dapat melatih siswa untuk menemukan dan menyelesaikan masalah secara ilmiah untuk menghasilkan produk-produk IPA, yaitu fakta, konsep, generalisasi, hukum dan teori-teori Penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran IPA dapat mendorong siswa untuk lebih giat dan aktif dalam belajar yang mengarah pada tercapainya hasil belajar yang optimal. Sebaliknya, penggunaan metode yang kurang tepat dapat mengakibatkan lemahnya aktivitas belajar dan perolehan hasil belajar siswa menjadi tidak maksimal (Son, 2. Pembelajaran IPA di SD merupakan suatu wahana pendidikan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa, termasuk kemampuan keterampilan proses, kemampuan memecahkan masalah, pengamatan, kebiasaan bekerja mandiri, jujur, disiplin, memiliki sikap sosial yang baik, serta berbagai keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, pada kenyataannya, sekarang pembelajaran IPA seolah-olah asing bagi siswa, terutama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hasil pengamatan selama mengajar Ilmu Pengetahuan Alam di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Sentong. Kecamatan Krejengan. Kabupaten Probolinggo, guru mendapati siswa kurang antusias dalam mendengarkan penjelasan dan mengerjakan tugas. Disana-sini masih terlihat siswa berbicara dengan teman pada waktu pembelajaran berlangsung. Setelah diadakan tes akhir, hanya 5 dari 14 siswa yang mencapai ketuntasan belajar. Peneliti menilai, penyebabnya adalah kurang tepatnya dalam memilih metode pembelajaran. Ketepatan penggunaan metode mengajar sangat bergantung kepada tujuan, isi proses belajar mengajar, dan kegiatan belajar mengajar (Supriadi. Dengan demikian, interaksi edukatif akan tercapai. Guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Pemilihan model pembelajaran sangat menentukan untuk menarik dan memicu perhatian siswa agar ikut serta secara aktif dalam pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda (Sjafei, 2. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas, interaksi, dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran (Nurfitriyanti, 2. Ada berbagai macam model pembelajaran kooperatif. Salah satunya adalah tipe jigsaw. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 pembelajaran IPA, akan lebih mempermudah bagi guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan (Karisma. Sudhita, & Rati, 2. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan kelompok kelompok kecil yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok (Nurfitriyanti, 2. Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka yang dijadikakan fokus dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa tentang sumber energi sebab banyak siswa yang kurang berpartisipasi dalam pembelajaran, hanya sedikit siswa yang berperan aktif dalam kelas tersebut. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model PTK yang digunakan berbentuk spiral dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa-siswi Kelas IV SDN Sentong. Kecamatan Krejengan. Kabupaten Probolinggo. Subjek penelitian berjumlah 14 siswa. Waktu pelaksanaan penelitian adalah pada semester ganjil 2021/2022. Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti menggunakan metode observasi dan tes. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas secara Pelaksanaan tindakan diawali dengan penyajian materi Sumber Energi oleh guru di depan kelas dengan menggunakan media karton yang berisi penjelasan tentang Sumber Energi di sertai gambarnya. Selanjutnya, siswa dibentuk menjadi kelompok belajar untuk mendiskusikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Setelah selesai berdiskusi, siswa diberikan soal secara individu sebagai penilaian individu. Pada turnamen kelompok, masing-masing siswa dibentuk menjadi kelompok asal dan kelompok ahli, di mana siswa dalam kelompok ahli ini merupakan siswa yang ahli dalam bidang materi yang diberikan kepada siswa tersebut, sedangkan kelompok asal ini merupakan gabungan siswa yang terdiri dari kelompok ahli yang memiliki kemampuan penguasaan materi masingmasing. Keberhasilan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini bergantung pada sikap saling ketergantungan, bahwa setiap siswa akan bergantung pada anggota kelompoknya untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan agar dapat berkinerja dengan baik pada saat penilaian (Lubis & Harahap, 2. Pada Siklus 1, masa-masa siswa masih asing dan masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh dalam pelaksanaan postes adalah 58,6 dengan ketuntasan hanya 36% saja. Berbagai hambatan yang dialami adalah interaksi antar siswa masih kurang terjalin dengan baik. Siswa yang pandai Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 lebih individualis dan belum bisa menjadi tutor sebaya bagi siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah. Padahal, kunci keberhasilan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw salah satunya adalah tentang kesiapan siswa dalam menerapkan jigsaw (Effendi. Dewi, & Fuldiaratman, 2. Pada siklus 1 ini, siswa masih terbawa kebiasaan model konvensional, di mana pemberian materi terjadi secara satu arah. Faktor lain yang menjadi penghambat keberhasilan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah siswa kelas IV yang cenderung pasif, masih malumalu untuk mengemukakan idenya dalam diskusi kelompok. Berdasarkan hasil pengamatan, pada siklus 1 ini keaktifan siswa dalam pembelajaran hanya 40% saja. Seharusnya, setiap anggota kelompok dapat bersosialisasi dengan baik terhadap anggota lainnya (Haerati. K, & Takwin, 2. Berdasar pada perolehan persentase keaktifan siswa serta prestasi belajar yang belum maksimal, maka penelitian tindakan kelas dilanjutkan pada siklus Ada beberapa hal yang dibebahi oleh gurum di antaranya adalah pemilihan kembali kelompok ahli dengan mempertimbangkan kemampuan bersosialisasi dari siswa. Hal ini karena social skills penting dimiliki dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw agar pemahaman materi dapat diperoleh secara kolektif oleh siswa. Guru juga mensiasati agar tidak ada siswa yang terlalu mendominasi dalam pelaksanaan diskusi kelompok. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan pada siswa lain agar juga bisa menyampaikan Hal ini penting agar diskusi dalam kelompok tidak melebihi durasi pelaksanaan yang telah direncanakan pada Langkah-langkah kegiatan (Sari & Soeprajitno, 2. Pada siklus ke dua, prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dalam nilai postes telah mengalami peningkatan dibandingkan pada siklus 2. Rata-rata nilai postes dalam siklus 2 ini adalah 77,1 dengan ketuntasan belajar sebesar Demikian pula dengan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Siswa mulai terbiasa dan memahami bagaimana belajar dengan menggunakan model pembelajaran koperatif tipe jigsaw. Keaktifan siswa mencapai 95%. Maka, dengan ini siklus pun dihentikan. KESIMPULAN Implementasi model pembelajaran jigsaw pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan prestasi belajar siswa Kelas IV SDN Sentong. Kecamatan Krejengan. Kabupaten Probolinggo. Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa secara spontan melakukan aktifitas yang membuat mereka berperan aktif dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat. SARAN Ketika proses diskusi berlangsung sangat penting bagi guru untuk mengawasi siswanya agar pembelajaran bisa maksimal. Guru dapat membentuk situasi pembelajaran yang menyenangkan. Guru dan siswa hendaknya bisa berbaur bersama-sama menjadi satu dalam pembelajaran Jurnal Ilmiah IKIP Mataram | Volume 8. Nomor 2, 2021 ketika berlangsung. Tujuannya adalah agar lebih bersahabat dan bisa menemukan ide yang menyenangkan dalam pembelajaran sehingga tercapai tujuan dalam proses belajar mengajar dengn baik. DAFTAR PUSTAKA