Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal Volume 7. , 2025, 261-268 _________________________________________________________________________ Korelasi Pengetahuan dengan Perilaku Pasien dalam Penggunaan NSAIDs untuk Swamedikasi Nyeri di Apotek Zainul Islam*. Lulu Isra Safira Faculty of Pharmacy and Science Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Jakarta. Indonesia *Corresponding author: zainul_islam@uhamka. Received: 15 December 2025. Accepted: 25 December 2025 Abstract: The use of drugs for self-medication without proper knowledge and behavior can have a negative impact. This study explores the relationship between knowledge and behavior of patients self-medicating for pain at Serang City This study adopted cross-sectional research and sampling using purposive sampling. The level of knowledge and behavior was assessed using a questionnaire. This study included a total of 222 respondents . ge 18-59 year. who were using non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID. for pain and had taken them for the previous 3 months. The analysis of the relationship between knowledge and behavior was measured using the Spearman rho test. The results of showed a sufficient level of knowledge of the respondents . 9%) with responsible behavior . 2%). Spearman rho correlation test showed that there is a significant relationship between knowledge and behavior with a fairly strong correlation value . = 0. in a positive direction. The higher the knowledge in self-medication, the better the behavior will be. Keywords: Behavior, knowledge. NSAIDs. Self-medication Abstrak: Penggunaan obat untuk swamedikasi tanpa pengetahuan dan perilaku yang baik dapat berdampak negatif. Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan dan perilaku pasien swamedikasi nyeri di apotek Kota Serang. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Tingkat pengetahuan dan perilaku dinilai menggunakan kuesioner. Penelitian ini melibatkan total 222 responden . sia 18-59 tahu. yang menggunakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk nyeri dan telah mengonsumsinya selama 3 bulan sebelumnya. Analisis hubungan antara pengetahuan dan perilaku diukur menggunakan uji Spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden cukup . ,9%) dengan perilaku bertanggung jawab . ,2%). Uji korelasi Spearman rho menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku dengan nilai korelasi yang cukup kuat . = 0,. dengan arah positif. Semakin tinggi pengetahuan dalam swamedikasi maka perilakunya akan semakin baik. Kata Kunci: Perilaku, pengetahuan. NSAID. Pengobatan sendiri DOI: https://doi. org/10. 15408/pbsj. PENDAHULUAN Swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat oleh individu untuk mengobati penyakit atau gejalanya (Hartayu, dkk. Obat yang digunakan untuk swamedikasi meliputi obat tradisional, obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat wajib apotek (Ilmi, dkk. Swamedikasi di Indonesia sangat tinggi, mencapai 84,23% pada tahun 2021. Swamedikasi di Provinsi Banten sebesar 88,77% (BPS, 2. Sebanyak 35,2% keluarga menyimpan sediaan farmasi untuk swamedikasi. obat yang disimpan meliputi obat keras . ,7% keluarg. , obat bebas . %), obat tradisional, dan obat yang tidak dapat diidentifikasi (RISKESDAS, 2. Swamedikasi seringkali menyebabkan kesalahan penggunaan obat, terutama dalam hal dosis dan penggunaan yang tidak tepat. Hal ini dapat berdampak negatif (Pratiwi, dkk. Apoteker yang memiliki kewenangan dan kualifikasi dapat memberikan pilihan obat yang rasional, seperti memberikan pemahaman tentang gejala penyakit dan obat yang tepat untuk digunakan secara mandiri (Pratiwi, dkk. Pengetahuan tentang 261 | I s l a m et al Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. penggunaan obat dapat membantu pasien melakukan pengobatan mandiri secara aman dan rasional serta mencegah kesalahan pengobatan (Husna dan Diphayu, 2. Pengetahuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengobatan mandiri obat antiinflamasi nonsteroid oral (Pratiwi, dkk. Studi tentang pengobatan mandiri dengan obat analgesik populer menunjukkan bahwa yang paling sering digunakan adalah NSAID, yang paling umum adalah asam mefenamat (Halim, dkk. Barros, dkk. Hantoro, dkk. Pengobatan mandiri dengan NSAID memiliki keterbatasan, dan dalam beberapa kasus, seperti nyeri yang parah atau kronis, pasien harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional sebelum menggunakannya (Hantoro, dkk. Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara pengetahuan tentang NSAID dan perilaku pasien yang melakukan pengobatan mandiri di Kota Serang (Jawa. Indonesi. Penelitian yang dilakukan melalui apotek ini merupakan penelitian pertama di Kota Serang. METHODS 1 Desain Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain studi cross-sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Tingkat pengetahuan dan perilaku partisipan dalam penggunaan NSAID dinilai menggunakan kuesioner. Penelitian dilakukan di Kota Serang pada apotek X, dari tanggal 16 Maret hingga 30 April 2022. Jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 222, dihitung berdasarkan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah berusia 18-59 tahun, telah menggunakan NSAID selama 3 bulan terakhir, bersedia mengisi kuesioner, dan tidak bekerja di bidang Kuesioner yang digunakan untuk pengumpulan data telah diuji validitas dan reliabilitasnya terhadap 50 orang. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komisi etik Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA dengan No: 03/22. 04/01682. 2 Analisis Data Analisis univariat (Notoatmodjo, 2. menggunakan data demografi, pengetahuan dan perilaku pasien sebagai variabel yang diukur. Analisis bivariat, mengukur hubungan antara pengetahuan dan perilaku pasien, dilakukan menggunakan SPSS 25 dengan uji Spearman-rho. HASIL DAN DISKUSI Dari 500 pasien yang membeli NSAID di Apotek X selama masa penelitian, 222 memenuhi kriteria inklusi. Obat swamedikasi yang diteliti merupakan obat wajib apotek (OWA) sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1176/Menkes/SK/X/1999 (KEMENKES RI, 1. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1, 69,8% pasien berusia 18-44 tahun, sementara 30,2% berusia 45-59 tahun. Penelitian Hantoro . menunjukkan bahwa mayoritas . %) responden yang mengonsumsi NSAID saat swamedikasi berusia 18-40 tahun (Hantoro, dkk. Penelitian Idacahyati dkk. menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara usia dan efek samping obat. Semakin tua pasien, semakin tinggi kemungkinan efek samping obat NSAID. Seiring bertambahnya usia pasien, fungsi metabolisme, terutama enzim CYP 450 di hati, menurun, dan kemampuan untuk mengeliminasi obat juga menurun. Hal ini menunjukkan bahwa orang dewasa mengonsumsi lebih banyak NSAID dibandingkan dengan pra-lansia (Idacahyati, dkk. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1, 60,8% responden adalah perempuan dan 39,2% adalah laki-laki. Penelitian Idacahyati . menunjukkan bahwa 54,3% perempuan menggunakan pengobatan mandiri dibandingkan dengan laki-laki. 13 Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar, 2. menunjukkan bahwa prevalensi nyeri sendi sebanyak 27,5% lebih tinggi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki. Prevalensi nyeri yang lebih tinggi pada perempuan ini dapat menyebabkan penggunaan NSAID didominasi oleh perempuan (Larsson, dkk. 262 | I s l a m et al Table 1: Klasifikasi Berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia . Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sekolah Menengah Atas (SMA) Diploma Sarjana Pekerjaan Buruh Ibu Rumah Tangga Karyawan Swasta Mahasiswa Pensiunan Pegawai Negeri Sipil Tidak Bekerja Wiraswasta Jumlah Responden Persentase (%) Sebagaimana terungkap pada Tabel 1, sebagian besar responden berpendidikan SMA . ,3%) menggunakan pengobatan mandiri. Penelitian Hantoro . menemukan bahwa 62% responden yang menggunakan pengobatan mandiri berpendidikan SMA. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin responsif pasien terhadap informasi yang diperoleh, termasuk informasi tentang kesehatan (Husna dan Diphayu, 2. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1, jumlah pekerja mandiri terbesar . ,5%) menggunakan pengobatan mandiri. Penelitian Hantoro . menemukan bahwa mayoritas responden memiliki pekerjaan, dan 46% dari mereka yang menggunakan pengobatan mandiri dengan NSAID adalah pekerja mandiri. Selain lebih praktis, pengobatan mandiri tidak mengganggu aktivitas kerja, sehingga meningkatkan jumlah pekerja yang melakukan pengobatan mandiri (Medisa, 2. Table 2: Tingkat Pengetahuan Responden Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tidak Baik Jumlah Persentase (%) Pengetahuan merupakan hasil dari pengenalan atau penginderaan seseorang terhadap suatu objek melalui panca inderanya. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2, 59,9% responden melaporkan pengetahuan yang cukup tentang NSAID untuk pengobatan mandiri. Penelitian Pratiwi . juga menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup sebesar 41%. Aspek-aspek yang memengaruhi pengetahuan meliputi pendidikan, budaya, informasi, dan pengalaman. Semakin baik tingkat pendidikan responden, semakin baik pula tingkat pengetahuannya (Notoatmodjo, 2. Penilaian pengetahuan swamedikasi dalam penelitian ini terdiri dari 8 domain: tingkat pengetahuan tentang tujuan penggunaan NSAID, pemilihan obat berdasarkan gejala yang dialami pasien, golongan obat swamedikasi yang digunakan, cara memperoleh NSAID untuk swamedikasi, dosis NSAID, penggunaan obat swamedikasi yang tepat, efek samping obat, dan tanggal kedaluwarsa obat. Jawaban responden tentang tujuan penggunaan NSAID menunjukkan bahwa 69,82% mengetahui bahwa NSAID merupakan golongan obat yang dapat mengurangi nyeri, inflamasi, dan demam. Tingginya tingkat pengetahuan responden yang menjawab pernyataan dengan benar menunjukkan bahwa responden mengetahui bahwa penggunaan NSAID dapat meredakan nyeri. Penelitian yang dilakukan di apotek menemukan bahwa sebanyak 73,96% responden menjawab bahwa tujuan penggunaan NSAID adalah untuk menekan rasa sakit, dan pada sub-indikator tujuan penggunaan NSAID, 92,98% responden menjawab dengan benar (Akbar, dkk. 263 | I s l a m et al Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. Jawaban responden mengenai pemilihan obat berdasarkan gejala menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,04%) memberikan jawaban benar tentang pemilihan obat berdasarkan karakteristik suatu Tingginya jumlah responden yang memberikan jawaban benar yang menunjukkan pengetahuan tentang pemilihan obat berdasarkan gejala penyakit disebabkan oleh responden yang bertanya kepada apoteker tentang obat di apotek dan memperhatikan komposisi obat yang akan digunakan. Penelitian Pratiwi . menunjukkan bahwa 84% responden memberikan jawaban benar mengenai indikasi NSAID. Sebagian kecil . ,05%) responden memberikan jawaban salah tentang golongan obat NSAID. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang rendah tentang logo obat. Studi Siahaan . menunjukkan bahwa 31% populasi mengetahui bahwa sediaan farmasi memiliki logo, tetapi hanya 18% yang memahami bahwa logo pada sediaan farmasi memiliki makna. Tujuan klasifikasi obat tersebut adalah untuk meningkatkan akurasi dan keamanan penggunaan serta distribusi yang aman (Departemen Kesehatan RI. Logo menunjukkan klasifikasi tersebut. Obat piroksikam 20 mg diberikan dengan resep dokter, tetapi 57,21% responden salah mengatakan bahwa piroksikam 20 mg dapat dibeli tanpa resep dokter. Obat piroksikam termasuk "obat keras", yang diperoleh melalui resep dokter. Obat piroksikam juga termasuk dalam daftar obat wajib untuk apotek golongan 3 dengan dosis maksimum 10 mg (Kemenkes RI. Tingginya jumlah responden yang salah menjawab tentang dosis piroksikam menunjukkan bahwa mereka mungkin melakukan pengobatan sendiri dengan piroksikam 20 mg yang dibeli tanpa resep dokter. Lebih dari 60% . ,2%) responden memberikan jawaban yang akurat tentang penggunaan obat pengobatan Penelitian di Surabaya juga menunjukkan bahwa sebanyak 87,5% responden menjawab pertanyaan mengenai cara penggunaan obat dengan benar (Pratiwi, dkk. Sebanyak 66,67% responden menjawab dengan benar bahwa "jika mengonsumsi obat antinyeri secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan saluran cerna. " Hal ini menunjukkan bahwa responden mendapat informasi dari apoteker maupun menbaca informasi pada kemasan tentang efek samping obat sebelum mengonsumsi obat. Pasien mendapatkan edukasi dari apoteker tentang penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas, yang dapat berdampak negatif dan dapat menyebabkan efek samping berbahaya jika digunakan secara tidak tepat (Departemen Kesehatan RI. Penelitian tentang pengaruh pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi NSAID menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang efek samping obat (Pratiwi, dkk. Hasil jawaban responden mengenai pengetahuan tentang kedaluwarsa obat menunjukkan bahwa sebanyak 98,65% mengetahui bahwa sediaan farmasi memiliki tanggal kedaluwarsa dan selalu memeriksa tanggal kedaluwarsa obat pada kemasan. Penelitian Pratiwi . menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang tanggal kedaluwarsa obat sudah tepat (Pratiwi, dkk. Table 3: Perilaku Responden dalam Pengobatan Mandiri Perilaku Baik Cukup Kurang Tidak Baik Jumlah Persentase (%) Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3, 57,2% responden menggunakan NSAID secara bertanggung jawab. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan yang memadai. Penelitian Pratiwi . menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang ((Pratiwi, dkk. Penelitian tentang perilaku swamedikasi NSAID meliputi pemilihan obat sesuai dengan gejala yang dialami, mewaspadai efek samping obat, memahami cara penggunaan obat yang tepat, mengetahui tempat memperoleh swamedikasi, dan waspada terhadap kadaluarsa obat. 264 | I s l a m et al Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 41,66% responden memilih obat sesuai dengan gejala yang Sejalan dengan temuan tersebut, penelitian Rakhmawatie . menunjukkan sebanyak 43,3% responden menggunakan obat pereda nyeri sesuai dengan gejala. Tingginya responden yang memilih obat berdasarkan gejala penyakit didorong oleh pertimbangan responden terhadap zat yang terkandung dalam obat yang dipilih dan pengetahuan mereka tentang indikasi obat (Rakhmawatie dan Merry, 2. Efek samping obat merupakan respon obat yang tidak diinginkan dan merugikan akibat penggunaan obat pada dosis normal pada manusia untuk diagnosis, profilaksis, dan terapi. (Departemen Kesehatan RI. Penelitian Pratiwi . menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang efek samping obat sudah baik ((Pratiwi, dkk. Pada penelitian ini, jawaban responden mengenai efek samping obat NSAID menunjukkan sebanyak 45,5% responden mengonsumsi obat antinyeri setelah makan. Perilaku ini menunjukkan pengetahuan mereka tentang efek samping obat antinyeri terhadap saluran Responden bersikap waspada terhadap efek samping obat, dengan sebanyak 41,89% selalu membaca informasi efek samping obat pada kemasan terlebih dahulu, sebelum mengonsumsinya. Pengetahuan responden mengenai efek samping obat tergolong tinggi. Sebagian besar responden . ,85%) melaporkan penggunaan obat swamedikasi yang tepat, menunjukkan pengetahuan yang baik tentang penggunaan obat swamedikasi yang tepat. Sebelum mengonsumsi obat, mereka selalu membaca terlebih dahulu aturan pakai yang tertera pada kemasan untuk mengonsumsi obat. Sebanyak 44,14% dari mereka menggunakan obat sesuai dengan informasi yang tertera pada kemasan obat. Mayoritas . ,53%) responden tidak mengonsumsi obat dosis ganda ketika lupa mengonsumsi obat. Hasil ini menunjukkan bahwa responden . ,51%) memiliki skor ratarata 4 yang tinggi sebagai perilaku penggunaan obat yang tepat. Penelitian Pratiwi . menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan perilaku responden dalam penggunaan NSAID cukup baik ((Pratiwi, et Penelitian ini menunjukkan rendahnya tingkat pengetahuan responden tentang logo obat: sebanyak 90,09% tidak selalu membeli obat dengan logo keras pada kemasan di apotek, dan sebanyak 40,54% responden membeli asam mefenamat. NSAID lain yang hanya diresepkan, di warung kelontong atau toko lokal. Penelitian Harahap menunjukkan bahwa 55,8% responden memperoleh obat pengobatan sendiri di toko lokal. Orang membeli obat di sana karena lebih terjangkau dan dapat meredakan nyeri (Harahap dan Juanita, 2. Banyaknya responden dengan jawaban yang salah tentang cara memperoleh Obat swamedikasi berkorelasi dengan jumlah responden yang memberikan jawaban salah tentang klasifikasi obat swamedikasi. Penelitian Siahaan . menunjukkan bahwa 36% responden membeli obat yang memerlukan resep dokter, tanpa resep tersebut, dan 15% responden melakukan pembelian obat keras tidak di apotek, tetapi melalui daring, warung kelontong, dan toko-toko lokal (Siahaan, dkk. Mayoritas . ,70%) responden waspada terhadap kedaluwarsa obat karena responden selalu membaca tanggal kedaluwarsa obat ketika mereka akan minum obat tersebut. Penelitian Aswad . menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang swamedikasi secara umum cukup baik. Responden memiliki kebiasaan melihat isi dan tanggal kedaluwarsa ketika mereka akan minum obat sehingga kualitas obat selalu aman dan terjaga untuk diminum. 24 Jika obat telah melewati tanggal kedaluwarsa, obat tersebut tidak boleh dikonsumsi. Tanggal kedaluwarsa menunjukkan bahwa sampai waktu yang ditentukan, kemurnian dan kualitas sediaan farmasi telah terjamin. sesuai dengan spesifikasi (Departemen Kesehatan RI, 2. Penelitian Pratiwi . dan Rakhmawatie . menunjukkan bahwa responden memperoleh pengetahuan tentang kedaluwarsa obat melalui kemasan obat, yang memberikan kesadaran akan pentingnya tidak mengonsumsi obat kedaluwarsa (Pratiwi, dkk. Rakhmawatie dan Juanita, 2. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000. Angka ini kurang dari 0,05, yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku. Selain itu, koefisien korelasi yang diperoleh sebesar r = 0,715 memiliki nilai positif yang menunjukkan hubungan korelasi 265 | I s l a m e t a l Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal, 2025. Vol. yang memadai dan searah. Jika responden memiliki pengetahuan yang beragam, maka tindakan responden akan positif. Pengetahuan merupakan suatu ciri predisposisi yang dapat mempengaruhi terbentuknya tindakan seseorang ((Pratiwi, dkk. Pengetahuan tentang penggunaan obat dapat membantu pasien untuk memperoleh proses pengobatan sendiri secara aman dan rasional serta dapat mencegah kesalahan dalam minum obat (Husna dan Diphayu 2. Hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pengobatan sendiri dengan NSAID mempunyai nilai yang kuat dan searah. Semakin tinggi tingkat pengetahuan maka semakin rasional pula perilaku dalam menjalankan pengobatan sendiri. Sebaliknya apabila pengetahuan rendah maka perilaku dalam menjalankan pengobatan sendiri juga 25 Penelitian Pratiwi . menunjukkan bahwa 41% responden dengan pengetahuan yang adekuat memiliki perilaku pengobatan sendiri yang tepat, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pengobatan sendiri ((Pratiwi, dkk. Penelitian serupa oleh Hantoro . menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku dalam penggunaan NSAID untuk pengobatan sendiri (Hantoro, dkk. Table 4: Hasil Uji Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Swamedikasi NSAID Pengetahuan Perilaku Correlation coefficient P Value Correlation coefficient P Value Pengetahuan Perilaku Ananda . juga menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku pengobatan mandiri dengan obat natrium diklofenak, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin positif pula perilaku pengobatan mandirinya (Ananda, dkk. Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti usia, pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan paparan pengetahuan (SoAoo, dkk. Aspek yang berdampak pada pembentukan perilaku individu adalah faktor internal yang meliputi motivasi, kecerdasan, persepsi, pengetahuan, dan Aspek lingkungan eksternal dapat berupa fisik maupun nonfisik, meliputi budaya, iklim, dan sosial ekonomi (Ilmi, dkk. KESIMPULAN Responden . ,9%) dalam penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan yang baik tentang NSAID dalam pengobatan mandiri dengan perilaku yang baik dalam pengobatan mandiri sebesar 57,2%. Analisis Spearman Rho menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku, dengan nilai analisis yang cukup kuat . = 0,. dalam arah positif. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pengetahuan dalam pengobatan mandiri, semakin baik pula UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, khususnya Fakultas Farmasi dan Sains, atas dukungan fasilitas penelitian, serta kepada Dinas Kesehatan Kota Serang atas izin yang diberikan untuk melakukan penelitian di wilayahnya. DAFTAR PUSTAKA