Al Basirah Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 Hal. ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://doi. org/10. 58326/jab. PELATIHAN KEPADA ORANG TUA TENTANG PERAN ORANG TUA DALAM PENANGANAN ANAK KORBAN BULLYING DI WILAYAH KOTA SURAKARTA Dewi Agustini Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti Wonogiri dwtini@gmail. Windari Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti Wonogiri windari@staimaswonogiri. Abstrak Bullying merupakan bentuk kekerasan psikososial yang masih marak terjadi di kalangan anak dan remaja, baik dalam bentuk fisik, verbal, sosial, maupun digital. Anak korban bullying cenderung mengalami gangguan emosi, penurunan harga diri, hingga trauma jangka panjang. Salah satu faktor protektif yang paling penting dalam penanganan kasus ini adalah keterlibatan orang tua secara aktif, empatik, dan sadar emosional. Sayangnya, banyak orang tua belum memiliki pengetahuan, kesadaran, maupun keterampilan dalam menghadapi anak yang menjadi korban bullying. Kegiatan pengabdian masyarakat di Kota Surakarta ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas orang tua melalui pelatihan yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik terkait bullying. Metode pelatihan dilakukan secara partisipatif dalam tiga sesi utama: pemaparan materi, diskusi kelompok, dan simulasi role play. Materi pelatihan berbasis teori psikologi perkembangan, keterikatan emosional . , sistem keluarga, serta kecerdasan emosional. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, dan observasi Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan orang tua sebesar 34% dan peningkatan kemampuan komunikasi empatik terhadap anak. Peserta juga menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya membangun kelekatan emosional dan lingkungan rumah yang aman. Pelatihan ini terbukti efektif dalam memperkuat ketahanan keluarga terhadap dampak bullying. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua harus menjadi bagian integral dalam sistem perlindungan anak melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Kata kunci: bullying, orang tua, komunikasi empatik, kecerdasan emosional, keterikatan emosional, pelatihan Abstract Bullying is a form of psychosocial violence that remains prevalent among children and adolescents, whether in physical, verbal, social, or digital forms. Children who fall victim to bullying are prone to experiencing emotional disturbances, reduced self-esteem, and long-term One of the most critical protective factors in addressing such cases is the active, empathetic, and emotionally aware involvement of parents. Unfortunately, many parents still lack the knowledge, awareness, and skills needed to respond appropriately to children who have been This community service initiative in Surakarta City aims to enhance parental capacity through training that addresses cognitive, affective, and psychomotor aspects related to bullying. The training was conducted using a participatory approach through three main sessions: material presentation, group discussion, and role-play simulation. The training materials were grounded in developmental psychology theories, emotional attachment . , family systems theory, and emotional intelligence. Evaluation was carried out using pre-tests, post-tests, and participatory observation. The results showed a 34% increase in parental knowledge and Dewi Agustini improved empathetic communication skills toward their children. Participants also demonstrated greater awareness of the importance of fostering emotional attachment and creating a safe home This training proved effective in strengthening family resilience against the impacts of Therefore, parental involvement must become an integral part of child protection systems through continuous and collaborative training involving schools, families, and Keywords: bullying, parents, empathetic communication, emotional intelligence, emotional attachment, training PENDAHULUAN Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh individu atau kelompok terhadap individu lain yang lebih lemah, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun digital. Fenomena bullying banyak terjadi di lingkungan sekolah, rumah, dan media sosial. Bullying dapat berbentuk ejekan, intimidasi, pengucilan, atau penyebaran informasi negatif yang merugikan korban. Anak-anak yang menjadi korban bullying kerap mengalami kesulitan berbicara terbuka tentang pengalaman mereka, karena takut, malu, atau tidak percaya diri. Dalam jangka panjang, korban bullying berisiko mengalami gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (Hinduja & Patchin, 2. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan peran keluarga, terutama orang tua, dalam mendeteksi dan menangani kasus bullying sedini mungkin. Secara global. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa kekerasan terhadap anak, termasuk bullying, telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Laporan Global School-based Student Health Survey menunjukkan bahwa 20-30% remaja di berbagai negara mengalami bullying di sekolah (WHO, 2. Di Indonesia, data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KpA, 2. menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak, termasuk bullying, meningkat signifikan di era digital. Hal ini diperparah dengan maraknya cyberbullying yang terjadi melalui media sosial dan platform komunikasi daring lainnya. Anak-anak kerap menjadi korban tanpa perlindungan yang memadai, terutama ketika orang tua tidak memahami dinamika sosial anak-anak mereka. Maka dari itu, intervensi pada tingkat keluarga menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan dan penanganan bullying. Peran orang tua dalam melindungi dan memulihkan kondisi psikologis anak korban bullying sangat krusial. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak, termasuk kemampuan berkomunikasi secara terbuka, menjadi salah satu faktor pelindung utama dari dampak negatif bullying (Ginsburg, 2. Namun, banyak orang tua yang belum Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini memiliki keterampilan mendeteksi tanda-tanda anak menjadi korban. Misalnya, perubahan perilaku seperti menarik diri, penurunan prestasi, atau kesulitan tidur kerap dianggap sebagai fase biasa, bukan tanda bahaya psikologis. Kurangnya literasi psikologis dan pendidikan pengasuhan membuat orang tua kesulitan memberikan dukungan emosional yang tepat. Maka pelatihan orang tua menjadi strategi yang diperlukan untuk meningkatkan ketanggapan dan empati dalam menghadapi kasus bullying. Teori keterikatan . ttachment theor. yang dikembangkan oleh John Bowlby . menjelaskan bahwa hubungan emosional yang aman antara anak dan orang tua berperan penting dalam membentuk regulasi emosi anak. Anak-anak dengan keterikatan aman cenderung lebih percaya diri untuk berbagi masalah yang mereka alami kepada orang tuanya. Sebaliknya, anak dengan keterikatan tidak aman akan cenderung menarik diri dan tidak terbuka ketika mengalami masalah, termasuk ketika menjadi korban bullying. Maka dari itu, menciptakan suasana rumah yang hangat, responsif, dan penuh penerimaan menjadi syarat utama untuk membangun komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Orang tua tidak cukup hanya memberikan solusi, tetapi juga harus mampu menjadi tempat yang nyaman untuk anak berbagi rasa takut dan sakit Di samping itu, teori sistem keluarga . amily system theor. oleh Murray Bowen . menjelaskan bahwa keluarga adalah unit sosial yang saling memengaruhi. Ketika satu anggota keluarga mengalami tekanan, maka seluruh sistem keluarga akan merasakan dampaknya. Anak yang menjadi korban bullying akan menunjukkan perilaku yang dapat memengaruhi stabilitas emosional orang tua dan hubungan antaranggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, peran aktif orang tua tidak hanya dalam menangani anak korban bullying, tetapi juga dalam menjaga harmoni dan keseimbangan emosi keluarga secara menyeluruh. Pelatihan kepada orang tua harus mencakup keterampilan pengelolaan stres, penguatan komunikasi pasangan, dan teknik coping bersama anak korban. Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital telah membawa tantangan baru dalam fenomena bullying. Anak-anak kini tidak hanya menghadapi bullying secara langsung, tetapi juga melalui media sosial . Berbeda dengan bullying konvensional, cyberbullying lebih sulit dideteksi karena pelaku dapat menyembunyikan identitasnya, dan korban sering kali menyimpan pengalaman tersebut dalam diam. Oleh karena itu, orang tua harus dibekali dengan pemahaman literasi digital dan kemampuan membangun kepercayaan dengan anak dalam membahas pengalaman daring mereka (Livingstone et al. , 2. Keterampilan ini perlu ditanamkan melalui pelatihan berbasis kasus dan pendekatan komunikasi yang empatik. Kecerdasan emosional . motional intelligenc. menjadi kompetensi penting yang harus Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini dimiliki orang tua dalam menghadapi anak korban bullying. Menurut Goleman . , orang tua yang mampu mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri serta emosi anak dengan baik akan lebih mampu memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan anak. Pelatihan orang tua sebaiknya dirancang untuk memperkuat lima aspek kecerdasan emosional: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Dengan kecerdasan emosional yang baik, orang tua akan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta mampu merespons dengan pendekatan yang mendukung, bukan menghakimi. Dari perspektif psikologi perkembangan, masa anak-anak dan remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan identitas diri dan harga diri (Santrock, 2. Pengalaman bullying pada masa ini dapat menimbulkan keretakan dalam perkembangan psikososial anak, terutama dalam membentuk kepercayaan terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial. Jika anak tidak mendapatkan dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitarnya, trauma yang ditimbulkan bisa bertahan hingga dewasa. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan orang tua dalam proses pemulihan psikologis, baik melalui konseling keluarga maupun pelatihan pemulihan berbasis rumah. Pelatihan ini dilakukan di aula gedung al fikr yang berlokasi di jl. Ardodedali no. Pringgolayan tipes serengan Surakarta. Sebelumnya pelatihan ini belum pernah dilakukan di tempat tersebut sehingga peneliti ingin memberikan pelatihan kepada orang tua. Pelatihan ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga transformatif. Melalui pendekatan pengalaman langsung seperti simulasi peran, studi kasus, dan diskusi kelompok, orang tua dilatih untuk mengembangkan empati dan refleksi diri. Program pelatihan yang efektif juga perlu didesain untuk membangun jejaring antar orang tua, agar mereka memiliki dukungan sosial dalam menghadapi tantangan serupa. Studi oleh McDonald et al. menunjukkan bahwa intervensi berbasis kelompok orang tua terbukti meningkatkan kemampuan pengasuhan serta kepercayaan diri dalam menangani masalah anak. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan orang tua ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga terhadap isu bullying. Dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua, maka proses deteksi dini dan pendampingan psikologis anak dapat dilakukan lebih tepat. Lebih jauh, pelatihan ini juga menjadi sarana membangun kemitraan antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak. Maka, penguatan kapasitas orang tua harus menjadi bagian dari upaya nasional dalam perlindungan anak dari kekerasan berbasis sosial dan psikologis. Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini METODE KEGIATAN Pelatihan ini dilaksanakan guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang telah diidentifikasi sebelumnya. Adapun permasalahan-permasalahan tersebut dapat diidentifikasi dalam tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Berikut merupakan penjabaran dari kerangka pemecahan masalah. Tabel 1. Kerangka Pemecahan Masalah Indikator Masalah Pemecahan Masalah Memberikan materi pelatihan Orang tua belum memiliki tentang konsep bullying . isik, pengetahuan tentang jenis-jenis verbal, sosial, dan sibe. , dampak Aspek bullying, dampaknya terhadap psikologisnya pada anak, serta Kognitif pemahaman peran strategis orang Memberikan sesi reflektif dan Orang tua belum memiliki kesadaran emosional orang tua. Aspek Afektif emosional terhadap perubahan pentingnya validasi emosi anak, dan perilaku anak yang menjadi empati dalam mendampingi anak korban bullying. yang sedang mengalami trauma akibat bullying. Aspek Psikomotorik Orang tua belum memiliki keterampilan dalam melakukan langsung melalui simulasi/role play komunikasi empatik dan teknik Melatih mendengarkan aktif terhadap anak mengelola respons saat anak korban bullying, dilengkapi dengan umpan balik dari fasilitator dan peserta lain. Metode kegiatan yang digunakan adalah pelatihan partisipatif yang dilaksanakan dalam 3 sesi: Pemaparan Materi: Bentuk-bentuk bullying, dampak psikologis, dan cara mengenali gejala Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini Diskusi Kelompok dan Studi Kasus: Mengenal pengalaman nyata dari para orang tua dan Simulasi Role Play dan Refleksi: Melatih cara berkomunikasi empatik dan validasi emosi Instrumen evaluasi yang digunakan mencakup pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman orang tua serta observasi interaktif saat sesi simulasi. ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN Fenomena bullying di Kota Surakarta menunjukkan tren peningkatan, baik di lingkungan sekolah maupun sosial media. Anak-anak yang menjadi korban sering mengalami trauma psikologis, penurunan prestasi belajar, hingga gangguan sosial. Dalam situasi ini, peran orang tua sangat penting untuk mendeteksi, mendampingi, dan memulihkan kondisi Namun, banyak orang tua belum memahami secara tepat cara menangani anak korban bullying, baik dari aspek emosional, sosial, maupun hukum. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang untuk memberdayakan orang tua agar lebih peka dan terampil dalam memberikan dukungan kepada anak. Kegiatan ini dengan memiliki sumber daya yang menjadi faktor pendukung yang kuat Dukungan dana kampus STAIMAS yang dialokasikan melalui LPPM STAIMAS untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Lokasi sasaran yang tidak terlalu jauh dari domisili dosen yang melakukan pengabdian sehingga dapat terjangkau. Sumber daya untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat ini seperti tenaga pelaksana dan sarana prasarana yang disiapkan oleh tim. Tabel II. Rencana Kegiatan dan Keterlibatan dalam Pelatihan Keterlibatan Rencana Keterlibatan Keterlibatan Fasilitator Peserta (Orang Kegiatan Pemateri Tu. Pemateri. Peserta Guru membantu mendengarkan dari Program Studi mengkondisikan ruang secara Pendidikan Agama selama mencatat Islam STAIMAS materi, penting 1 Tutorial Wonogiri, serta menyiapkan media serta mengajukan presentasi, dokumentasi, pertanyaan penjelasan tentang dan kebutuhan pelatihan klarifikasi selama pengertian bullying, jenis-jenisnya pemaparan materi. erbal, fisik, sosial. Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Rencana Kegiatan Diskusi Terbuka dan Tanya Jawab Simulasi/Role Play Refleksi dan Rencana Tindak Lanjut Keterlibatan Pemateri dan sibe. , serta dampaknya terhadap kondisi emosional Menjawab kasus nyata, dan menjelaskan strategi praktis penanganan anak korban bullying dalam konteks rumah Memberikan contoh komunikasi empatik, validasi emosi, dan pendekatan positif kepada anak yang simulasi langsung. Membantu peserta pribadi tentang pola komunikasi di rumah mendampingi anak. Keterlibatan Fasilitator Mencatat tanya-jawab penting antara peserta dan pemateri, serta suasana diskusi tetap Mendampingi kelompok dan memberi masukan saat praktik Membimbing hasil kegiatan. Dewi Agustini Keterlibatan Peserta (Orang Tu. Bertanya tentang meminta saran atas sedang dihadapi di Melakukan praktik kelompok dengan memerankan orang tua dan anak, empatik yang telah Menyusun rencana rumah yang aman secara emosional, serta menuliskan perubahan dalam pola asuh anak. Pelatihan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam memahami bullying dan dampaknya terhadap perkembangan psikososial anak. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, terjadi peningkatan rata-rata skor pemahaman peserta sebesar 34%. Sebelum pelatihan, sebagian besar orang tua menganggap bullying hanya terbatas pada kekerasan fisik. Namun setelah pelatihan, pemahaman mereka meluas ke bullying verbal, sosial, dan siber. Perubahan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif berbasis teori psikologi perkembangan dan keterikatan emosional efektif dalam memperluas wawasan orang Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini tua (Santrock, 2018. Bowlby, 1. Kegiatan diskusi dan studi kasus juga memberikan ruang refleksi kepada peserta terhadap pengalaman pribadi yang sering kali luput dari perhatian. Secara umum, meskipun kegiatan hanya berlangsung selama satu hari, dampak yang ditimbulkan cukup signifikan dalam hal peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan bullying. Anak-anak serta ibu-ibu menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan, para ibu menilai bahwa penyuluhan seperti ini perlu dilakukan secara berkala. Dari hasil observasi tim pengabdian, kegiatan satu hari ini mampu menumbuhkan kesadaran awal . nitial awarenes. yang menjadi pondasi bagi perubahan perilaku masyarakat di tingkat keluarga. Dari sisi akademik, kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi hukum dan sosial secara multi dapat menjadi strategi efektif dalam membangun kesadaran masyarakat, meskipun dilakukan dalam waktu yang terbatas. Hasil kegiatan ini juga menegaskan bahwa peningkatan literasi keluarga terhadap perilaku bullying dapat menekan angka perundungan di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan yuridis empiris, kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman normatif, tetapi juga menumbuhkan kesadaran hukum dan sosial yang aplikatif di tingkat komunitas. Secara reflektif, kegiatan ini memberikan gambaran bahwa durasi kegiatan yang singkat bukanlah hambatan utama, asalkan penyampaian materi dilakukan secara interaktif dan disertai contoh konkret yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Antusiasme peserta menjadi indikator bahwa isu bullying telah dirasakan sebagai persoalan nyata di masyarakat, dan keberhasilan kegiatan satu hari ini dapat menjadi titik awal bagi pengembangan program lanjutan seperti pelatihan parenting digital dan edukasi hukum bagi masyarakat sekitar. Dengan memberikan pengetahuan praktis dan kesadaran hukum tentang bahaya bullying serta pentingnya peran keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan anak secara sehat. Meskipun skalanya masih terbatas, kegiatan ini berhasil menumbuhkan kesadaran awal dan komitmen masyarakat untuk bersama-sama mencegah tindakan perundungan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas. Menyadari pentingnya komunikasi terbuka dengan anak (Goleman, 1. A Menggunakan teknik mendengarkan aktif dan validasi emosi (Siegel & Bryson, 2. A Mengenali tanda-tanda non-verbal anak yang mengalami tekanan psikologis Hasil observasi selama kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi empatik orang tua terhadap anak. Dalam sesi role play, sebagian besar peserta mampu menerapkan teknik mendengarkan aktif, validasi emosi, serta memberikan afirmasi yang membangun kepercayaan anak. Hal ini mendukung teori Goleman . mengenai pentingnya kecerdasan emosional dalam pengasuhan, terutama ketika anak menghadapi Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini tekanan sosial seperti bullying. Kemampuan orang tua untuk mengelola emosinya sendiri juga berperan besar dalam menciptakan iklim keluarga yang aman dan suportif. Pelatihan ini memfasilitasi kesadaran emosional orang tua melalui refleksi individu dan diskusi kelompok, sehingga mereka menyadari pentingnya menjadi pendengar aktif dan pendukung utama anak. Selain peningkatan pemahaman dan keterampilan teknis, pelatihan ini juga berdampak pada penguatan relasi sosial antarorang tua. Terbentuknya kelompok diskusi informal dan komunitas berbagi praktik baik menjadi bentuk modal sosial yang sangat berarti dalam mendampingi anak di rumah. Berdasarkan teori sistem keluarga (Bowen, 1. , pengasuhan tidak berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, komunitas orang tua yang saling mendukung dapat memperkuat ketahanan keluarga, serta menjadi media berbagi informasi, strategi, dan pengalaman dalam menangani kasus Kegiatan ini juga membuka ruang bagi kolaborasi antara orang tua dan sekolah, sebagai dua lingkungan utama anak. Meskipun pelatihan menunjukkan hasil yang positif, terdapat beberapa tantangan yang perlu dicatat. Salah satunya adalah kesenjangan latar belakang pendidikan peserta yang memengaruhi kecepatan pemahaman dan kemampuan refleksi. Beberapa peserta dengan latar pendidikan rendah membutuhkan penjelasan berulang dan pendampingan intensif saat memahami konsep-konsep psikologis. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan fasilitatif yang inklusif dalam setiap sesi pelatihan. Selain itu, waktu pelatihan yang terbatas belum cukup untuk menggali seluruh aspek penting secara mendalam, seperti penanganan kasus trauma berat atau intervensi profesional lanjutan. Oleh karena itu, pelatihan lanjutan sangat dibutuhkan untuk mendalami aspek-aspek tersebut secara lebih komprehensif. Dari keseluruhan pelaksanaan, dapat disimpulkan bahwa pelatihan ini telah memberikan dampak nyata pada peningkatan kapasitas orang tua dalam mendampingi anak korban bullying. Keberhasilan pelatihan ini ditopang oleh pendekatan holistik yang tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga melibatkan praktik langsung, refleksi, dan interaksi antar Hal ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa . yang menekankan pengalaman, partisipasi, dan penerapan langsung sebagai kunci efektivitas (Knowles. Holton & Swanson, 2. Oleh karena itu, keberlanjutan program pelatihan dan pelibatan orang tua dalam forum pendidikan anak harus menjadi bagian dari sistem pendidikan dan perlindungan anak yang berkelanjutan. Dalam konteks hukum Indonesia, istilah AubullyingAy belum disebut secara eksplisit dalam undang-undang, namun substansi perbuatannya diatur dalam beberapa ketentuan hukum pidana dan perlindungan anak. Bullying dalam perspektif hukum merupakan sebuah tindakan kekerasan atau penindasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang terhadap orang Al Basirah. Volume 5. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2776-4702 . 2798-5946 . https://e-journal. id/index. php/albasirah Dewi Agustini lain secara berulang-ulang, dengan tujuan untuk menyakiti secara fisik, verbal, psikologis, atau Adapun dasar hukum terkait bullying di Indonesia diantaranya diatur dalam UUD 1945 pasal 28G ayat . Ausetiap orang berhak atas perlindungan diri dan pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta bendaAy. Pasal 281 ayat . Auhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakukan yang merendahkan martabat manusia tidak dapat dikurangi dalam keadaan Selain itu. UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak pasal 54 menyatakan bahwa Ausetiap anak berhak untuk di lindungi dari kekerasaan termasuk bullying. Pasal 80. Pelaku kekerasan terhadap anak dapat dipidana penjara maksimal 3 tahun 6 bulan dan/atau denda hingga Rp72 juta. maka dari itu sikap bullying tidak di perbolehkan secara tegas dilarang karna sudah ada paying hukum yang melindunginya KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan kepada orang tua ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas orang tua sangat penting dalam penanganan anak korban bullying. Melalui pelatihan ini, orang tua memperoleh pemahaman mendalam mengenai bentuk-bentuk bullying, dampak psikologis terhadap anak, serta keterampilan mendampingi anak dengan empati dan dukungan emosional yang sehat. Selain itu, pentingnya wawasan orang tua untuk selalu melakukan komunikasi terbuka, literasi emosi, serta penguatan ikatan emosional antara anak dan orang tua. Pelatihan ini berkontribusi besar dalam membangun ketahanan keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi masalah bullying. Orang tua merupakan agen utama pendampingan dan pemulihan psikologis anak. Melalui pendekatan berbasis teori sistem keluarga dan keterikatan emosional, kegiatan ini memberikan fondasi bagi terbentuknya keluarga yang responsif, suportif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan sosial yang dihadapi anak. SARAN