Studi Kualitatif tentang Kebutuhan Pembelajaran Guru dalam Peningkatan Profesionalisme di Sekolah Dasar Dina Sustika Amalia1. Oktavia Sinurat2. Eva Iryani3 1,2,3 Universitas Jambi. Indonesia dinasustikamalia@gmail. com, 2oktaviasinurat711@gmail. com, 3iryanieva@yahoo. How to cite . n APA Styl. : Amalia. Dina Sustika. Sinurat. Oktavia. Iryani. Eva. Studi Kualitatif tentang Kebutuhan Pembelajaran Guru dalam Peningkatan Profesionalisme di Sekolah Dasar. LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 18 . , pp. Abstract: This study aims to determine the needs of teachers in improving their professional performance in elementary schools. This study uses a descriptive qualitative approach, collecting data through in-depth interviews, direct observation, and document review. The data obtained are then analyzed using the Miles and Huberman model, namely by reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The research findings indicate that elementary school teachers need training that is more tailored to real-world classroom needs, particularly in using digital media, implementing active learning methods, and conducting more realistic assessments. The results of this analysis provide an important basis for designing appropriate professional development programs according to the current situation and challenges of education. Keywords: learning needs, teacher professionalism, elementary schools, needs analysis, qualitative approach PENDAHULUAN Guru sangat penting untuk proses belajar mengajar, yang merupakan pilar utama pembangunan suatu negara. Selain guru, prestasi siswa di sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor. Guru yang berpengalaman dapat memberikan kesempatan pendidikan yang berharga dan membantu siswa memperoleh prinsip dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi kesulitan di masa depan. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi melakukan program Gerakan Guru untuk meningkatkan kemampuan guru (Kusumaningtyas. Program ini bertujuan untuk menghasilkan agen perubahan yang dapat membantu dan mendorong pendidik lain untuk meningkatkan kualitas pekerjaan Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbudristek, 2. , guru penggerak akan mengubah pembelajaran dan manajemen kelas di sekolah dasar Indonesia. Studi Kualitatif tentang Kebutuhan Pembelajaran Guru dalam Peningkatan Profesionalisme di Sekolah Dasar Selama pendidikan dasar, dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan hidup siswa sebagian besar dibentuk (Meyvita et al. , 2. Menjadi tugas pendidik untuk menjadi teladan yang baik dan membantu siswa menyadari potensi penuh mereka adalah tanggung jawab mereka. Guru harus memiliki keterampilan profesional yang kuat, seperti pengetahuan tentang materi pelajaran, kemampuan mengajar, dan kemampuan untuk tetap up-to-date dengan perubahan kurikulum dan kemajuan teknologi (Sulastri et al. , 2. Pendidikan sangat penting untuk membantu anak-anak tumbuh menjadi orang yang cerdas, berpengetahuan, dan siap menghadapi segala macam kesulitan di masa depan. Selain mendidik masyarakat, para pendidik juga bertanggung jawab untuk menanamkan moralitas pada siswa mereka selama proses pendidikan. Pendidikan merupakan langkah awal yang sangat penting untuk membentuk generasi muda yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Kualitas guru dan hasil belajar saling terkait secara positif, dan peran guru sangat penting dalam proses mengajar dan belajar. Seorang guru harus menguasai materi pelajaran dan menggunakan strategi pengajaran yang tepat untuk menyelesaikan tugasnya secara efektif. Guru harus memiliki pengetahuan, tetapi mereka juga harus mempertimbangkan banyak hal. Pendidik yang berpengalaman dapat membantu siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berharga dan membangun prinsip dan keterampilan yang diperlukan untuk mendorong siswa untuk belajar dengan giat. Agar guru dapat memberikan pendidikan berkualitas tinggi, mereka harus memenuhi persyaratan tertentu, menunjukkan sikap profesional, dan memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan mereka. Karena guru merupakan bagian penting dari keberhasilan sebuah institusi pendidikan, perilaku yang ditunjukkan oleh guru dan metode pembelajaran mereka akan sangat berdampak pada reputasi institusi tersebut (S. Meida Putri et al. , 2. Salah satu komponen penting yang menentukan kualitas pendidikan yang diberikan di sekolah adalah kompetensi guru. Menurut Jamin . , guru yang berpengalaman selain menguasai materi pelajaran dengan baik juga memiliki sikap kerja yang luar biasa dan kemampuan mengajar yang baik. Standar profesionalisme guru telah ditingkatkan di era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Menurut Moscato & Embre . , guru harus menghadapi tantangan baru, seperti mengatasi perbedaan siswa dan memasukkan teknologi ke dalam Solusi yang tepat diperlukan untuk menjamin proses belajar mengajar berjalan lancar dan memenuhi harapan. Kebutuhan guru mungkin menyebabkan masalah yang sering muncul selama proses belajar mengajar di sekolah. Prosedur dan media harus sesuai dengan karakteristik siswa agar siswa dapat menggunakan komputasi dan berpikir kritis (Fitriani et al. , 2. Seperti yang diungkapkan oleh Prensky (Fitriani et al. , 2. , siswa sekolah dasar saat ini disebut sebagai "digital natives" karena mereka adalah generasi yang telah terbiasa dengan teknologi dan telah menggunakannya sejak kecil. Ini menunjukkan bahwa Dina Sustika Amalia. Oktavia Sinurat. Eva Iryani LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 233-244 guru harus mengubah materi yang mereka ajar. Salah satunya adalah menggunakan teknologi di era digital saat ini. Pendidik seharusnya juga menggunakan paradigma pembelajaran yang sesuai saat memilih bahan ajar. Guru tidak hanya harus tahu tentang teknologi, mereka juga harus tahu bagaimana menggunakannya untuk membantu anak-anak Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan hasil yang diinginkan. Media pembelajaran adalah alat yang digunakan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran, meningkatkan keberhasilan pembelajaran, dan menciptakan pembelajaran yang efektif, menurut Setiawan et al. Ini sejalan dengan hasil penelitian mereka. Keadaan yang menunjukkan arah nilai, tujuan, dan tingkat kewenangan dan keterampilan dalam profesi keguruan yang berkaitan dengan pekerjaan sebagai sumber penghasilan disebut profesionalisme guru. Seseorang yang dianggap sebagai guru profesional adalah seseorang yang memiliki keterampilan, pengetahuan profesional, dan sikap dalam bidang akademik, sosial, dan pribadi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan mengajar dan pendidikan. Dengan kata lain, guru profesional adalah seseorang yang memiliki pengetahuan khusus dalam bidang pendidikan untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya seefektif Guru yang ingin bekerja secara profesional harus dididik, dilatih, dan memiliki pengalaman dalam bidang mereka. Studi ini akan menyelidiki bagaimana kebutuhan belajar guru mempengaruhi peningkatan profesionalisme guru di sekolah dasar. Masih kurang pengetahuan tentang bagaimana kebutuhan belajar muncul dari pengalaman langsung guru di sekolah dasar dan bagaimana memenuhi kebutuhan ini dapat meningkatkan profesionalisme guru. Ini terlepas dari fakta bahwa banyak penelitian telah dilakukan tentang peningkatan kompetensi dan pengembangan profesional Selain itu, seringkali tidak ada penelitian yang mendalam tentang topik-topik tertentu seperti kebutuhan pembelajaran tertentu . eperti meningkatkan keterampilan sosial, pelatihan dalam metode pembelajaran, atau penggunaan teknologi pembelajara. dan dukungan yang diberikan oleh lingkungan sekolah . eperti kebijakan pelatihan, kepemimpinan kepala sekolah, dan budaya kerja sama Faktor-faktor kontekstual seperti infrastruktur sekolah, peraturan pendidikan lokal, dan kesempatan guru untuk berpartisipasi dalam pembelajaran mandiri juga harus dipertimbangkan karena faktor-faktor ini dapat memengaruhi seberapa besar kebutuhan pembelajaran terpenuhi. KAJIAN TEORI Profesionalisme guru merupakan aspek fundamental dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Menurut Hoyle . , profesionalisme mencakup kemampuan, komitmen, dan tanggung jawab dalam menjalankan profesi sesuai standar etika dan keilmuan. Dalam konteks pendidikan dasar, guru Studi Kualitatif tentang Kebutuhan Pembelajaran Guru dalam Peningkatan Profesionalisme di Sekolah Dasar profesional tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan inovator dalam proses belajar mengajar. De George mengatakan bahwa seseorang yang memiliki pekerjaan, pekerjaan, atau aktivitas yang bergantung pada waktu dan mencari uang dari pekerjaan mereka. Mereka hidup hanya karena mereka hebat di bidang mereka. Tingkat keahlian yang tinggi biasanya memungkinkan seseorang menjalankan profesinya secara efektif dan legal. Seorang guru yang berpengalaman dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan, meskipun pembelajaran online memiliki kekurangan yang jelas. Tanpa instruktur yang berpengalaman, pembelajaran tematik akan menjadi sulit dan menantang. Sebagaimana dijelaskan oleh Suwinardi . , seseorang dikatakan profesional apabila mampu menjalankan pekerjaannya dengan keahlian, dedikasi, dan integritas tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat Kunandar . bahwa guru profesional adalah individu yang memahami panggilannya sebagai pendamping peserta didik dalam proses belajar, serta terus berupaya mencari cara terbaik untuk memfasilitasi pembelajaran. Dengan demikian, profesionalisme bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga refleksi moral dan tanggung jawab sosial. Selain itu, kepemimpinan kepala sekolah memiliki peranan krusial dalam membentuk iklim profesional di lingkungan sekolah. Menurut Fitria et al. kepala sekolah harus menjalankan fungsi kepemimpinan instruksional dengan memberikan bimbingan, supervisi akademik, dan dukungan terhadap pengembangan kompetensi guru. Kepemimpinan yang kolaboratif dapat menciptakan budaya belajar yang positif dan mendorong guru untuk mengembangkan diri secara berkelanjutan. Akibatnya, peningkatan profesionalisme guru sangat bergantung pada kepemimpinan instruksional dari kepala sekolah. Pembelajaran akan menjadi lebih baik jika kepala sekolah dapat mengelola kurikulum, memimpin pengembangan standar akademik, dan menciptakan berbagai program pendidikan, termasuk kurikulum sekolah, untuk memenuhi kebutuhan siswa. Seorang guru dapat meningkatkan posisi dan tanggung jawab profesionalnya dengan melakukan refleksi diri secara teratur. Menurut Bowman . , refleksi diri adalah bagian penting dari menjadi seorang guru profesional. Dengan merefleksikan cara mengajar dan belajar dilakukan, guru dapat mendorong kreativitas dan perubahan dalam proses pembelajaran di kelas (Loughran, 2. Pemahaman bahwa mereka adalah anggota komunitas profesional yang bekerja sama untuk meningkatkan proses pendidikan adalah aspek paling penting dari profesionalisme seorang guru. Oleh karena itu, guru didorong untuk mempelajari informasi dan keterampilan penting yang dapat mereka gunakan sebagai referensi dan komponen untuk meningkatkan profesionalisme mereka sebagai pendidik. Ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya harus mengajar. mereka juga harus belajar. Dina Sustika Amalia. Oktavia Sinurat. Eva Iryani LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 233-244 Fakry Gaffar . alam Supriadi, 2. menegaskan bahwa pengembangan profesional guru dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu pengembangan individual dan institusional. Pengembangan individual terjadi melalui refleksi diri, partisipasi dalam pelatihan, dan pembelajaran mandiri, sementara pengembangan institusional diwujudkan melalui kebijakan sekolah dan dukungan organisasi pendidikan. Guru yang aktif melakukan refleksi diri akan lebih mudah menemukan kebutuhan belajarnya dan memperbaiki praktik pengajaran (Bowman, 1989. Loughran, 2. Menurut Djaujak Ahmad . , tujuannya untuk pembinaan profesional guru adalah sebagai berikut: . merencanakan kegiatan belajar mengajar dengan strategi belajar yang efektif. mengelola kegiatan belajar mengajar yang menantang dan menarik. menilai kemajuan siswa dalam belajar. memberikan umpan balik yang bermanfaat. membuat dan menggunakan alat bantu dalam belajar. memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan media pengajaran. mengembangkan dan menerapkan strategi pengajaran yang dan . mengembangkan dan menerapkan strategi Keahlian dalam mata pelajaran, kemampuan manajemen kelas, kefasihan media pembelajaran, dan kesadaran terhadap dinamika interaksi belajar adalah beberapa indikator profesionalisme guru yang diidentifikasi oleh Cece Wijaya . Keterbukaan terhadap inovasi, keinginan untuk belajar sepanjang hayat, dan kesiapan untuk bekerja sama dalam komunitas pembelajaran adalah semua tanda profesionalisme guru yang baik. Gagasan bahwa guru harus mengejar pembelajaran sepanjang hayat yang mencakup belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa dan zaman tidak dapat dipisahkan dari filosofi profesionalisme. Dalam perspektif konstruktivis, profesionalisme guru tidak hanya diukur dari kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga dari kemampuannya membantu siswa membangun pengetahuan secara mandiri (Wibowo, 2. Oleh karena itu, guru harus memahami gaya belajar siswa, mengintegrasikan teknologi pembelajaran, dan mengembangkan media yang sesuai agar pembelajaran menjadi Penggunaan media digital, sebagaimana dijelaskan oleh Meliyani et al. , dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih aktif dan kreatif dalam proses belajar mengajar. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara mendalam bagaimana kebutuhan pembelajaran guru berperan dalam meningkatkan profesionalisme di sekolah dasar berdasarkan data dan sumber-sumber yang Menurut Sugiyono . , penelitian kualitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan fenomena secara mendalam, faktual, dan sistematis berdasarkan data yang bersifat naratif dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami makna dari data tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel Studi Kualitatif tentang Kebutuhan Pembelajaran Guru dalam Peningkatan Profesionalisme di Sekolah Dasar HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan seorang guru dalam mengajar di sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengajar secara teknis, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk berpikir reflektif, beradaptasi, dan bekerja sama dalam meningkatkan kualitas profesional mereka. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Kunandar . , yang mengatakan bahwa guru yang profesional adalah orang yang terus belajar dan mencari metode baru untuk membantu siswa belajar. Dalam praktiknya, beberapa guru yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka masih merasa kurang dalam menguasai teknologi dan metode pengajaran yang aktif, namun mereka membutuhkan dukungan yang lebih terorganisir dari sekolah untuk meningkatkan hal tersebut. Jika dibandingkan dengan teori Suwinardi . yang menyatakan bahwa profesionalisme adalah kemampuan yang dilakukan dengan tanggung jawab dan semangat kerja tinggi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak guru sudah memiliki semangat kerja yang cukup baik, tetapi belum didukung sepenuhnya oleh lingkungan kerja yang memadai. Faktor utama yang menghambat adalah minimnya sarana dan prasarana, pelatihan yang tidak teratur, serta kurangnya bimbingan Dengan kata lain, semangat kerja guru sendiri belum cukup untuk mencapai tingkat profesionalisme yang ideal tanpa adanya sistem manajemen sekolah yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pengembangan guru. Dalam pengertian ini, hasil penelitian mendukung keyakinan Purwanto bahwa guru harus terus menjadi lebih profesional untuk memikul tugas yang luas Hasil penelitian ini setuju dan tidak setuju dengan Purwanto . , yang menekankan bahwa tugas guru di masa depan akan semakin sulit dan kompleks. Guru tidak hanya memberi siswa pengetahuan dan keterampilan, tetapi mereka juga membawa budaya dan prinsip ke dalam kehidupan mereka. Temuan penelitian tidak mendukung keyakinan Purwanto. Studi ini menunjukkan bahwa pencapaian profesionalisme guru dipengaruhi oleh dukungan kelembagaan dan sistemik, seperti kepemimpinan sekolah, budaya kerja sama, dan pelatihan berbasis kebutuhan. Di sisi lain. Purwanto lebih memfokuskan pada tanggung jawab individu guru, seperti evaluasi diri, pembelajaran sepanjang hayat, membangun jaringan profesional, dan mendorong pola pikir pelayanan publik. Dengan kata lain. Purwanto menekankan aspek internal dan kesadaran batin guru dalam membangun profesionalisme, meskipun penelitian ini lebih menekankan pada komponen eksternal dan lingkungan organisasi. Meskipun mereka memiliki fokus yang berbeda, kedua perspektif tersebut berfokus pada reformasi guru. Menurut Purwanto, guru harus berkonsentrasi pada lima area utama untuk meningkatkan profesionalisme mereka: memahami standar profesional, memperoleh kompetensi yang diperlukan, membangun jaringan profesional, meningkatkan etos kerja, dan memanfaatkan teknologi terbaru. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa refleksi diri, kerja tim, dan Dina Sustika Amalia. Oktavia Sinurat. Eva Iryani LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 233-244 keterampilan teknologi sangat penting untuk meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar. Purwanto juga menyatakan bahwa kesejahteraan sangat penting untuk menjaga profesionalisme guru. Pendapat ini agak didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa banyak pendidik mengatakan bahwa mereka membutuhkan dukungan organisasi dan sumber daya yang cukup agar mereka dapat fokus pada pertumbuhan pribadi mereka sendiri tanpa memiliki tanggung jawab di luar tanggung jawab mengajar mereka. Meningkatkan kesejahteraan dalam situasi ini tidak hanya memerlukan sumber daya keuangan. kesejahteraan juga mencakup penyediaan sumber daya, pelatihan, dan kesempatan untuk pendidikan lanjutan. Oleh karena itu, temuan penelitian ini dapat mendukung teori Purwanto dengan menyediakan kerangka empiris yang menunjukkan bagaimana profesionalisme guru dibentuk oleh sistem pendidikan, lingkungan sosial tempat mereka bekerja, dan kesadaran mereka sendiri. Ketika pendidik bertanggung jawab atas pemikiran kritis dan pembelajaran berkelanjutan, bersama dengan dukungan dari lembaga pendidikan dan peraturan pemerintah yang mendorong pengembangan profesional berkelanjutan, profesionalisme sejati akan muncul. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru harus berfokus pada dua bidang yang saling melengkapi. Menurut Purwanto . , pendidik harus secara pribadi berdedikasi untuk introspeksi dan pengembangan keterampilan yang berkelanjutan. Namun demikian, lembaga pendidikan harus membuat program yang mendorong pertumbuhan profesional melalui kesejahteraan, pelatihan kontekstual, dan kepemimpinan kreatif. Variabel internal dan eksternal ini akan menghasilkan guru yang inovatif, imajinatif, dan siap menangani masalah pendidikan di masa depan. Dharma . setuju dengan Purwanto . yang menekankan bahwa setiap guru harus bertanggung jawab untuk meningkatkan profesionalisme mereka. Dia juga mengatakan bahwa profesionalisme guru tidak hanya tergantung pada kemampuan pedagogik dan kemampuan teknologi, tetapi juga pada integritas dan kemantapan kepribadian. Guru profesional harus memiliki kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama, hukum, sosial, dan budaya yang berlaku di Indonesia. Selain itu, guru harus menampilkan diri mereka sebagai orang yang jujur, bermoral, dan berwibawa. Menurut hasil penelitian ini, kemampuan guru untuk berpikir secara reflektif dan tetap terbuka terhadap perubahan menunjukkan kepribadian yang teguh dan bertanggung jawab sebagaimana dijelaskan dalam Dharma. Oleh karena itu, profesionalisme guru tidak dapat dilepaskan dari integritas pribadi, karena inilah yang menjadi dasar etis dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan menjadi teladan bagi siswanya. Selanjutnya, temuan ini mendukung pendapat Fitria dkk. bahwa kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam membentuk budaya profesional di sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan, sekolah yang memiliki Studi Kualitatif tentang Kebutuhan Pembelajaran Guru dalam Peningkatan Profesionalisme di Sekolah Dasar kepala sekolah aktif dalam memberikan bimbingan dan menciptakan ruang diskusi bagi guru cenderung memiliki tenaga pengajar yang lebih reflektif, kreatif, dan terbuka terhadap perubahan. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan profesionalisme guru tidak terjadi secara sendirinya, melainkan terbentuk melalui interaksi sosial dan bantuan dari struktur kepemimpinan sekolah. Penelitian ini juga mendukung teori Bowman . dan Loughran . yang menekankan pentingnya refleksi diri sebagai bagian dari profesionalisme. Dalam situasi di lapangan, sebagian besar guru yang melakukan refleksi setelah mengajar berhasil mengenali kesulitan yang dialami siswa dan mengubah metode pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Namun, ada sebagian guru yang belum terbiasa melakukan refleksi secara sistematis karena belum pernah mendapat pelatihan atau belum ada budaya evaluasi diri yang teratur. Hal ini menunjukkan perlunya sistem mentoring yang mendorong kebiasaan reflektif sebagai bagian dari pertumbuhan profesional guru. Pengetahuan tentang materi pelajaran, kemampuan manajemen kelas, dan kemampuan teknologi instruksional adalah semua kualitas yang diperlukan seorang guru profesional, menurut Cece Wijaya . Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar guru memahami materi pelajaran secara menyeluruh, mereka masih menghadapi kesulitan menggunakan sumber belajar Hal ini mendukung pernyataan Meliyani et al. bahwa dukungan yang berkelanjutan diperlukan agar guru dapat berhasil mengintegrasikan media digital ke dalam proses belajar mengajar karena banyak guru masih menyesuaikan diri dengan teknologi. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa kebutuhan belajar para guru berbeda-beda tergantung pada usia mereka dan pengalaman mengajar. Guru muda cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi, sementara guru yang lebih tua biasanya lebih mahir dalam mengelola kelas dan memahami siswa. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kelompok guru memiliki kebutuhan belajar yang tidak sama, sehingga program pengembangan profesional harus disusun secara berbeda untuk setiap kelompok. Pendekatan ini sejalan dengan pendapat Fakry Gaffar . alam Supriadi, 2. yang menyatakan bahwa pengembangan profesional guru harus memperhatikan kebutuhan individu serta kelompok agar peningkatan kemampuan mereka berjalan secara efektif. Dari sisi kebijakan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa program pelatihan yang diadakan pemerintah tidak selalu sesuai dengan kebutuhan nyata para guru di sekolah. Banyak pelatihan yang hanya bersifat teori dan administratif, tanpa memberikan kesempatan untuk berlatih secara langsung. Hal ini bertentangan dengan semangat belajar seumur hidup, seperti yang dijelaskan Hoyle . , bahwa seorang guru yang benar-benar profesional adalah guru yang memiliki kebebasan belajar untuk terus berkembang. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profesionalisme seorang guru dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan sistem pendidikan tempat Dina Sustika Amalia. Oktavia Sinurat. Eva Iryani LENTERA: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. No. , 233-244 mereka bekerja, serta kemampuan pribadi mereka. Jika mereka ingin menjadi guru yang profesional, mereka harus berada dalam sistem pendidikan yang mendorong refleksi, kerja sama, dan kreativitas. Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme guru harus dilakukan melalui pendekatan yang mempertimbangkan kebutuhan mereka, di mana guru terlibat secara aktif dalam desain dan evaluasi pelatihan yang disesuaikan dengan masalah yang ada di kelas. Temuan ini memperkaya teori-teori sebelumnya dengan menambahkan unsur konteks bahwa profesionalisme guru di sekolah dasar tidak bisa dipisahkan dari dukungan dari kepemimpinan, infrastruktur, serta budaya kerja sama di Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan model pengembangan profesional guru yang berfokus pada kebutuhan belajar nyata, didasarkan pada refleksi diri, dan didukung oleh kerja sama dengan rekan sejawat, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pembelajaran profesional yang berkelanjutan. SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk untuk memahami kebutuhan guru sekolah dasar untuk meningkatkan keterampilan profesional mereka. Ada empat komponen utama pembelajaran guru: pendidikan, profesional, sosial, dan pribadi, menurut evaluasi dan analisis kualitatif. Selain menerima pelatihan resmi, guru harus menjadi lebih profesional dengan mampu menilai dan memahami kekuatan dan kekurangan dalam proses mengajar mereka sendiri. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa program pengembangan profesional dan pelatihan kebugaran saat ini tidak sama. Banyak kegiatan pelatihan hanya bersifat administratif dan tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan pembelajaran guru. Oleh karena itu, sistem pengembangan profesional yang didasarkan pada kebutuhan guru sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung profesionalisme guru. Kebijakan sekolah dan pemerintah sangat penting untuk mendukung profesionalisme guru. Jadi, kesimpulan ini menjawab masalah bahwa profesionalisme guru di sekolah dasar dapat ditingkatkan dengan memahami dan mendukung kebutuhan pembelajaran mereka. Untuk mencapai hal ini, guru memerlukan pelatihan jangka pendek, tetapi juga pengembangan kemampuan yang berkelanjutan yang disertai dengan refleksi diri dan kolaborasi guru. DAFTAR PUSTAKA