KOMUNITAS: JURNAL ILMU SOSIOLOGI Oktober 2025 Vol. 8 No. Hal. 100 Ae 105 Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Kelapa (Cocos Nucifer. (Studi Kasus Di Desa Labuang Kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selata. https://doi. org/10. 30598/komunitasvol8issue2page100-105 KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI KELAPA (COCOS NUCIFERA) (STUDI KASUS DI DESA LABUANG KECAMATAN NAMROLE KABUPATEN BURU SELATAN) 1,2,3 Stewar Nurlatu1*. August E. Pattiselanno2, dan Marfin Lawalata3 Program Studi Agribisnis Pertanian. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Pattimura Coresponden Author-Email: stewartnurlatu0@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi petani kelapa dan faktorfaktor yang memengaruhi produktivitas usahatani kelapa di Desa Labuang. Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan sensus, di mana seluruh populasi petani kelapa sebanyak 30 orang dijadikan sebagai responden. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive karena Desa Labuang memiliki luas kebun kelapa terbesar di kecamatan tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner serta data sekunder dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani memiliki pengalaman usahatani 10Ae20 tahun, berpendidikan sekolah dasar, memiliki tanggungan lebih dari 4 orang, serta mengusahakan lahan seluas 0,5Ae1,28 ha dengan produksi 400Ae800 kg. Produktivitas dihitung dari hasil produksi per hektar, sedangkan analisis faktor-faktor yang memengaruhi dilakukan menggunakan fungsi regresi. Ditemukan bahwa faktor sosial, ekonomi, dan keberlanjutan memiliki kontribusi terhadap produktivitas dengan nilai skor masing-masing 8Ae9, 11Ae12, dan 9Ae11. Pendapatan petani berkisar antara Rp5. 000Ae Rp12. Kata Kunci: petani kelapa, sosial ekonomi, produktivitas, desa labuang. Abstract This study aims to analyze the socio-economic characteristics of coconut farmers and the factors influencing coconut farming productivity in Labuang Village. Namrole District. South Buru Regency. The research was conducted over one month using a descriptive qualitative method with a census approach, where all 30 coconut farmers in the village were selected as respondents. The research location was determined purposively, as Labuang Village has the largest coconut plantation area in the district. Data were collected through interviews using questionnaires and secondary data from relevant agencies. The results showed that most farmers had 10Ae20 years of farming experience, elementary school education, more than four dependents, and cultivated land areas ranging from 0. 28 hectares with production volumes of 400Ae800 kg. Productivity was calculated based on yield per hectare, and the influencing factors were analyzed using a regression function. The findings indicated that social, economic, and sustainability factors contributed to productivity, with respective scores of 8Ae9, 11Ae12, and 9Ae11. FarmersAo income ranged between Rp. 5,000,000 and Rp. 12,000,000. Keywords: Coconut Farmers. Socio-economic. Productivity. Labuang Village. https://ojs3. id/index. php/komunitas jurnal@gmail. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Kelapa (Cocos Nucifer. (Studi Kasus Di Desa Labuang Kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selata. Vol. 8 No. 2 Oktober 2025. Hal. 100 - 105 PENDAHULUAN secara historis sangat dipengaruhi oleh sektor pertanian, yang tetap menjadi sektor DOI: https://doi. org/10. 30598/komunitasvol8issue2page100-105 penurunan harga jual kopra, keterbatasan Pertumbuhan ekonomi Indonesia Stewar Nurlatu. August E. Pattiselanno. Marfin Lawalata Sektor ini tidak hanya menjadi penopang modal dan teknologi, serta rendahnya minat regenerasi petani kelapa akibat rendahnya keuntungan dan ketidakpastian pasar. Hal ini menyebabkan banyak petani beralih ke komoditas lain seperti pala dan cengkeh yang dinilai lebih menjanjikan dari sisi Berbagai pangan nasional, tetapi juga sumber utama pendapatan bagi sebagian besar penduduk di daerah pedesaan. Berdasarkan data dari negara-negara berkembang, lebih dari 75% penduduk menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, dan lebih dari 50% pendapatan nasional berasal dari sektor ini. Salah terutama di wilayah kepulauan seperti Provinsi Maluku, yang memiliki potensi luas lahan dan tingkat produktivitas kelapa yang menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi seperti pendidikan, pengalaman bertani, akses terhadap teknologi, serta kepemilikan lahan memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas dan keberlanjutan usahatani (Sofyan et al. , 2. Namun demikian, mengenai sejauh mana faktor-faktor tersebut Kecamatan Desa Labuang. Namrole, daerah sentra kelapa di Kabupaten Buru tinggi (Irmayanti, 2. Kecamatan Namrole. Kabupaten Buru Selatan, merupakan salah satu wilayah dengan luasan lahan kelapa terbesar di Provinsi Maluku, di mana tanaman kelapa telah menjadi mata pencaharian utama masyarakat sejak zaman kolonial. Data BPS tahun 2022 mencatat luas lahan kelapa 524,00 ha dengan produksi 963,90 ton. Namun, meskipun produksi terus meningkat, para petani masih menghadapi berbagai tantangan, seperti Selatan. Kesenjangan ini menjadi dasar penting dalam mengkaji secara mendalam ekonomi petani dan produktivitas usahatani kelapa di wilayah tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan dari adalah untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi petani kelapa dan mengidentifikasi faktor-faktor yang Desa Labuang. Kecamatan KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Kelapa (Cocos Nucifer. (Studi Kasus Di Desa Labuang Kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selata. Vol. 8 No. 2 Oktober 2025. Hal. 100 - 105 Stewar Nurlatu. August E. Pattiselanno. Marfin Lawalata DOI: https://doi. org/10. 30598/komunitasvol8issue2page100-105 Namrole. Kabupaten Buru Selatan, guna Produktivitas = memberikan rekomendasi kebijakan yang Produksi (K. Luas Lahan (H. Selanjutnya, untuk menganalisis relevan untuk peningkatan kesejahteraan petani dan keberlanjutan usaha perkebunan faktor-faktor kelapa di wilayah ini. produktivitas usahatani kelapa, digunakan analisis regresi linier berganda dengan METODE persamaan umum: Penelitian ycU = yu0 yu1 ycU1 yu2 ycU2 U yuycu ycUycu yuA pendekatan deskriptif kualitatif dengan Keterangan : dukungan data kuantitatif yang diperoleh ycU = Produktivitas usahatani kelapa (Kg/H. ycU1 , ycU2 . A , ycUycu = Variabel bebas . isalnya Penelitian dilaksanakan di Desa pendapatan, usia, luas lahan, kepemilikan Labuang. Kecamatan Namrole. Kabupaten lahan, pengalaman bertan. Buru Selatan, yang dipilih secara purposive yu0 = Konstanta karena merupakan daerah dengan luas areal yu1 , yu2 . A , yuycu = Koefisien regresi masing- masing variabel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh yuA = Error . esalahan resid. petani kelapa di Desa Labuang sebanyak 30 Untuk mengukur kekuatan hubungan orang, yang sekaligus dijadikan sampel antara variabel bebas dan variabel terikat menggunakan metode sensus. Pengumpulan data dilakukan selama satu bulan, dengan dengan nilai berkisar antara 0 hingga 1. sumber data primer berasal dari hasil Semakin mendekati 1, maka model regresi wawancara dan kuesioner terhadap petani semakin baik dalam menjelaskan variasi produktivitas usahatani kelapa. diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) HASIL DAN PEMBAHASAN dan instansi terkait lainnya. Metode Hasil (RA), karakteristik sosial ekonomi petani kelapa di digunakan mencakup analisis deskriptif Desa untuk menggambarkan karakteristik sosial Kabupaten ekonomi petani serta rumus produktivitas bahwa petani kelapa memiliki latar belakang untuk mengukur tingkat hasil usahatani sosial ekonomi yang beragam, namun kelapa, yaitu: didominasi oleh beberapa pola umum. Total Labuang. Kecamatan Namrole. Buru Selatan menunjukkan responden berjumlah 30 orang, seluruhnya KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Kelapa (Cocos Nucifer. (Studi Kasus Di Desa Labuang Kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selata. Vol. 8 No. 2 Oktober 2025. Hal. 100 - 105 laki-laki. Stewar Nurlatu. August E. Pattiselanno. Marfin Lawalata DOI: https://doi. org/10. 30598/komunitasvol8issue2page100-105 pekerjaan pengolahan kelapa menjadi kopra semakin baik pula kemampuan mereka masih dikuasai oleh laki-laki karena sifat dalam menghadapi risiko pertanian dan pekerjaannya yang membutuhkan tenaga mengambil keputusan yang tepat. fisik tinggi. Sebagian besar petani juga memiliki Dari segi umur, mayoritas petani tanggungan keluarga yang besar, dengan berada dalam kategori usia produktif, yaitu 76,7% 31Ae40 tahun . %) dan 20Ae30 tahun tanggungan antara 8Ae20 orang. Kondisi ini . ,6%). Hal ini mencerminkan potensi menambah beban ekonomi keluarga, yang tenaga kerja yang masih aktif dan kuat secara fisik dalam mengelola lahan dan pendapatan dari hasil usahatani kelapa. Oleh melakukan aktivitas usahatani. Kelompok karena itu, kebutuhan terhadap peningkatan umur ini sangat penting dalam mendukung produktivitas dan efisiensi sangat krusial. produktivitas karena kemampuan adopsi Berdasarkan hasil wawancara dan teknologi dan ketahanan fisik masih optimal. observasi lapangan, luas lahan yang dikelola Tingkat pendidikan para petani petani berada pada kisaran 0,5 hingga 1,28 masih tergolong rendah, di mana sebagian hektar, dengan hasil produksi berkisar antara besar responden merupakan lulusan Sekolah 400Ae800 Dasar . ,7%), disusul oleh lulusan SMP menunjukkan bahwa sebagian besar petani . ,3%) Tingkat mengelola lahan dalam skala kecil hingga menengah, dan produktivitasnya masih SMA . %). mempengaruhi kemampuan petani dalam mengakses informasi dan teknologi baru teknologi, modal, dan pelatihan. Ini dalam usahatani, serta rendahnya literasi Temuan ini menunjukkan bahwa terhadap manajemen usaha tani yang efisien. karakteristik sosial ekonomi seperti umur. Dalam hal pengalaman, sebagian besar petani telah menjalankan usahatani keluarga, dan kepemilikan lahan sangat kelapa selama lebih dari 10 tahun. Lama memengaruhi kondisi produktivitas petani berusahatani ini memberikan keuntungan Maka, intervensi kebijakan dari dalam bentuk akumulasi keterampilan teknis pemerintah daerah dan dinas terkait perlu dan pemahaman terhadap kondisi alam dan melalui pendidikan pertanian, penyuluhan. Semakin KOMUNITAS: Jurnal Ilmu Sosiologi Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Kelapa (Cocos Nucifer. (Studi Kasus Di Desa Labuang Kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selata. Vol. 8 No. 2 Oktober 2025. Hal. 100 - 105 dan akses terhadap sumber daya produksi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa karakteristik sosial ekonomi petani kelapa di Desa Labuang. Namrole. Kabupaten Buru Selatan menunjukkan bahwa mayoritas petani memiliki pengalaman berusahatani 10Ae20 pendidikan terbanyak berada pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Sebagian besar petani memiliki tanggungan keluarga lebih dari 4 orang, serta mengelola lahan dengan luas antara 0,5Ae1,28 hektar. Produksi kelapa per tahun umumnya berkisar antara 400Ae800 kg. Temuan ini mengindikasikan bahwa petani kelapa di wilayah tersebut tergolong sebagai petani dengan pengalaman tinggi namun keterbatasan dalam skala lahan. Sebagai disarankan agar petani didorong untuk aktif program-program seperti penyuluhan, pelatihan, dan bantuan teknis guna meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam usahatani kelapa. Selain itu, pemerintah daerah perlu memperkuat peran Dinas Pertanian dalam memberikan akses informasi, teknologi, serta mendukung ketersediaan kredit atau modal usaha DOI: https://doi. org/10. 30598/komunitasvol8issue2page100-105 mengembangkan usaha taninya secara lebih produktif dan mandiri. PENUTUP Kecamatan Stewar Nurlatu. August E. Pattiselanno. Marfin Lawalata REFERENSI