El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Flocycle Project: Mengubah Sampah Botol Plastik Menjadi Simbol Kesadaran Ekologis Peserta Didik Kharina Rismawati1 Audree Azzahra2 Dina Siti Logayah3 1/2/3 Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No. Bandung 40154. Jawa Barat. Indonesia. 11@upi. audreeazzahra19@upi. logayah@upi. Abstract: The global environmental crisis caused by the overexploitation of natural resources demands learning that fosters ecological awareness from an early age. This study aims to analyze the implementation of the Flocycle Project . crylic flowers made from used plastic bottle. as a project-based environmental learning model that integrates the values of sustainability and systemic thinking. The study used a descriptive qualitative approach with stages of planning, design, implementation, reflection, and evaluation. Data were obtained through student worksheets and documentation of the activity process. The results indicate that the project of recycling plastic bottles into acrylic flowers increased ecological awareness, creativity, collaboration, and students' ability to reflect on values. Participants understood the relationship between materials, production processes, and ecological impacts, as outlined by Meadows' systemic thinking principles in The Limits to Growth. This activity demonstrates that project-based learning can be an effective tool in sustainability education. Keywords: Flocycle. Environmental Education. Plastic Waste. The Limits to Growth Book. Sustainability. Abstrak: Krisis lingkungan global akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan menuntut pembelajaran yang mampu menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Flocycle Project . unga acrylic dari botol plastik beka. sebagai model pembelajaran lingkungan berbasis proyek yang mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dan berpikir sistemik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tahapan perencanaan, perancangan, pelaksanaan, serta refleksi dan evaluasi. Data diperoleh melalui lembar kerja peserta didik dan dokumentasi proses kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa proyek daur ulang botol plastik menjadi bunga akrilik mampu meningkatkan kesadaran ekologis, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan refleksi nilai peserta didik. Peserta memahami keterkaitan antara bahan, proses produksi, dan dampak ekologis sebagaimana prinsip berpikir sistemik yang dikemukakan Meadows dalam The Limits to Growth. Kegiatan ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi sarana efektif dalam pendidikan untuk keberlanjutan. Kata kunci: Flocycle. Pendidikan Lingkungan. Sampah Plastik. Buku The Limits To Growth. Berkelanjutan. PENDAHULUAN Eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali dan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan yang terus berlanjut selama beberapa dekade terakhir secara langsung bertanggung jawab atas krisis lingkungan global saat ini. Hal ini sejalan dengan Laporan 81 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 United Nations Environment Programme (UNEP) . , yang menegaskan bahwa pola eksploitasi dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan merupakan penyebab utama bencana lingkungan global saat ini. Konsumsi material global telah meningkat lebih dari tiga kali lipat selama 50 tahun terakhir, dengan laju pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 2,3%. Salah satu penyebab utama pencemaran air di dunia saat ini adalah eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, termasuk pertambangan, deforestasi, dan industrialisasi tanpa pengelolaan limbah yang memadai. Sungai, danau, dan air tanah terkontaminasi oleh limbah cair dan padat yang dihasilkan selama ekstraksi dan pengolahan sumber daya ini, yang mengandung senyawa beracun, logam berat, dan UNEP . menyatakan bahwa aktivitas yang berkaitan dengan eksploitasi dan pengolahan sumber daya alam, terutama di wilayah kaya sumber daya dengan pemantauan lingkungan yang tidak memadai, berkontribusi besar terhadap penurunan kualitas dan tekanan air di seluruh dunia. Selain itu. World Resources Institute . dalam laporannya menyatakan bahwa lebih dari 16% lokasi penambangan mineral penting dunia terletak di wilayah dengan tekanan air yang signifikan, yang meningkatkan kemungkinan kontaminasi air dari limbah pertambangan dan pengolahan mineral. Selain memperburuk ketidakseimbangan ekosistem dan membahayakan pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar, kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang intensif ini juga menurunkan kualitas air. Fenomena ini menunjukkan betapa daya dukung lingkungan telah sangat terbebani oleh dorongan produksi dan konsumsi yang terus meningkat. Kondisi tersebut sejalan dengan pandangan Meadows . dalam The Limits to Growth tentang pertumbuhan eksponensial yang merupakan pertumbuhan yang semakin cepat seiring waktu, tidak dapat berlangsung dan berkelanjutan di dunia karena dunia memiliki sumber daya alam yang terbatas. Krisis lingkungan termasuk polusi air, degradasi tanah, dan hilangnya keanekaragaman hayati akan muncul ketika sistem alam mencapai titik jenuh akibat ekspansi kebutuhan komersial dan industri yang tak terkendali. Dengan kata lain. Isu lingkungan yang terjadi seperti memburuknya kualitas air akibat penyalahgunaan sumber daya alam, kini mencerminkan apa yang dinyatakan oleh Meadows. Menurut teori sistem dunia yang dikemukakan oleh Meadows, bumi memiliki keterbatasan dalam daya dukung alaminya, baik dari sisi ketersediaan sumber daya maupun kemampuan lingkungan untuk menyerap limbah dan polusi. Jika pertumbuhan populasi dan pola konsumsi terus meningkat tanpa pengendalian, maka akan terjadi kondisi overshoot, yaitu ketika pemanfaatan sumber daya melebihi kemampuan bumi untuk memulihkannya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan keruntuhan . sistem ekologi dan sosial yang menopang kehidupan manusia. Dalam konteks pendidikan, permasalahan ini menuntut transformasi paradigma pembelajaran menuju pendekatan yang lebih reflektif dan berbasis tindakan. Pendidikan tidak cukup hanya menanamkan pengetahuan konseptual mengenai lingkungan, tetapi perlu menciptakan pengalaman belajar yang menumbuhkan kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral terhadap bumi (Tilbury, 2. Konsep Education for Sustainable Development (ESD) menekankan pentingnya integrasi antara kognisi, afeksi, dan tindakan nyata dalam membangun karakter peduli lingkungan (Wahyuni, 2. Pembelajaran berbasis proyek (Project-Based 82 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Learning/PjBL) menjadi salah satu pendekatan pedagogis yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut, karena memungkinkan peserta didik berpartisipasi langsung dalam memecahkan persoalan lingkungan dengan kreativitas dan kolaborasi (Thomas, 2000. Oktiawati dkk. , 2. Beberapa riset mutakhir memperkuat relevansi pendekatan ini. Penelitian oleh Aliman dkk. , . menunjukkan bahwa penerapan project-based environmental learning mampu meningkatkan kesadaran ekologis siswa secara signifikan. Temuan serupa dikemukakan oleh Ahmad et al. , bahwa kegiatan proyek daur ulang berbasis komunitas tidak hanya mengurangi limbah plastik, tetapi juga memperkuat nilai tanggung jawab sosial dan empati ekologis. Selain itu, studi oleh Hamidah & Surtikanti . menegaskan bahwa pendidikan lingkungan yang berfokus pada aksi nyata lebih efektif membentuk environmental behavior dibanding pembelajaran berbasis ceramah Berdasarkan temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek berpotensi besar menjadi sarana transformatif untuk menginternalisasi nilai keberlanjutan. Berangkat dari dasar teoritis dan empiris tersebut, penelitian ini menghadirkan Flocycle Project sebagai inovasi pembelajaran lingkungan berbasis proyek yang menggabungkan unsur seni, sains, dan keberlanjutan. Proyek ini memanfaatkan botol plastik bekas untuk diolah menjadi bunga akrilik, produk simbolik yang menggambarkan keindahan yang lahir dari limbah. Melalui kegiatan ini, peserta didik diajak untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam serta memahami batas-batas pertumbuhan yang telah diperingatkan oleh Meadows lebih dari setengah abad lalu. Proyek ini tidak hanya menghasilkan produk kreatif, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis bahwa pertumbuhan sejati bukanlah tentang memperbanyak konsumsi, melainkan menumbuhkan kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis implementasi Flocycle Project sebagai bentuk pembelajaran lingkungan yang mampu menanamkan kesadaran ekologis dan mengaktualisasikan nilai-nilai keberlanjutan yang berpijak pada pemikiran The Limits to Growth. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis proyek. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang berupaya memahami secara mendalam proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pengalaman langsung. Menurut Samsu . , penelitian kualitatif deskriptif bertujuan memahami dan menggambarkan suatu fenomena sosial sebagaimana adanya dengan berfokus pada karakteristik, konteks, dan dinamika yang terjadi secara alami. Dalam konteks ini, proyek Flocycle menjadi media untuk mengamati bagaimana keterlibatan peserta didik dalam kegiatan daur ulang dapat memunculkan pemahaman baru tentang tanggung jawab ekologis. Instrumen utama yang digunakan meliputi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang memuat bagian refleksi individu, serta dokumentasi foto dan video selama proses pelaksanaan proyek. Dokumentasi digunakan untuk merekam tahapan kegiatan, kreativitas produk, dan interaksi peserta didik, sedangkan hasil refleksi menjadi dasar 83 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 analisis terhadap perubahan sikap dan kesadaran ekologis yang muncul selama kegiatan Implementasi penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Bandung pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas Vi dengan jumlah 35 peserta didik, khususnya pada Tema 1: Kondisi Geografis dan Pelestarian Sumber Daya Alam dengan submateri Pemanfaatan Sumber Daya Alam. Proyek ini merupakan luaran dari mata kuliah Pembelajaran Berbasis Lingkungan Hidup (PBLH) di tingkat perguruan tinggi yang dirancang untuk melatih mahasiswa calon pendidik agar mampu menanamkan nilai-nilai ekologis, berpikir sistemik, dan kreativitas dalam mengajarkan isu-isu keberlanjutan kepada peserta didik. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengkaji proses pembelajaran, tetapi juga mengonfirmasi efektivitas pendekatan proyek dalam membentuk kesadaran ekologis yang kontekstual dan aplikatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses implementasi Flocycle Project dilaksanakan melalui empat tahapan utama, yaitu perencanaan, perancangan, pelaksanaan, dan refleksi. Setiap tahap memiliki fokus kegiatan dan keluaran yang berbeda, namun saling berkesinambungan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis peserta didik. Gambar 1. Alur Implementasi Flocycle Project Sumber: Dokumentasi peneliti . Tahap Perencanaan dan Perancangan Tahap awal dimulai dengan identifikasi masalah lingkungan di sekitar peserta Berdasarkan observasi, limbah plastik menjadi isu dominan di lingkungan sekolah dan rumah tangga. Diskusi awal mengungkap bahwa sebagian besar peserta belum memahami hubungan antara pola konsumsi plastik dan dampaknya terhadap daya dukung lingkungan. Proses ini menjadi titik awal pembelajaran kontekstual sebagaimana dikemukakan Tilbury . , bahwa kesadaran ekologis tumbuh melalui pengalaman langsung terhadap realitas ekologis di sekitar peserta didik. Setelah masalah diidentifikasi, peserta didik berkolaborasi untuk merancang solusi kreatif dalam bentuk proyek seni ramah lingkungan. Ide AuFlocycleAy muncul dari perpaduan 84 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 kata flora dan recycle, yang menggambarkan upaya menghadirkan keindahan . dari limbah . otol beka. Tahap ini menumbuhkan kemampuan berpikir sistemik, karena peserta harus mempertimbangkan hubungan antara bahan, proses produksi, dampak ekologis, dan nilai estetika produk. Sesuai temuan Thomas . , tahap perancangan dalam Project-Based Learning berperan penting dalam menstimulasi keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian lain, di antaranya yaitu penelitian Parejo et al. , . yang melakukan penelitian pada 50 anak di sebuah sekolah di Ghana, yang dimana penelitian tersebut menyatakan bahwa dengan pembuatan media pembelajaran dan permainan yang terbuat dari sampah plastik daur ulang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan melihat permasalahan lingkungan secara menyeluruh serta mempraktikkan tanggung jawab sebagai warga global yang berkelanjutan. Tahap Pelaksanaan Proyek Pada tahap pelaksanaan, peserta didik mengumpulkan botol bekas dari lingkungan sekitar, kemudian mengolahnya melalui proses pembersihan, pemotongan, pemanasan, pewarnaan, dan perakitan hingga menjadi bunga akrilik siap pajang. Aktivitas ini tidak hanya melibatkan keterampilan motorik halus, tetapi juga menuntut kecermatan, kreativitas, dan tanggung jawab dalam bekerja kelompok. Kegiatan dokumentasi dilakukan sepanjang proses, meliputi foto dan video setiap Observasi menunjukkan perubahan sikap signifikan: dari semula canggung terhadap konsep daur ulang menjadi antusias dan reflektif. Peserta mulai memahami bahwa tindakan kecil seperti memanfaatkan limbah dapat berdampak positif bagi Tabel 1. Aspek Perkembangan Peserta Didik Selama Implementasi Flocycle Project Aspek yang Diamati Kesadaran Deskripsi Temuan Indikator Perubahan Peserta dampak Meningkat. terlihat dari refleksi limbah plastik dan pentingnya dan daur ulang. plastik di sekolah. Kreativitas dan Menghasilkan desain . entuk, kombinasi baha. Kolaborasi dan Diskusi kelompok berjalan efektif dengan pembagian tugas yang Peserta Aukehidupan baru dari sampahAy. Refleksi nilai 85 | E l B a n a r bunga Tinggi. ide produk berkembang warna, dari satu contoh menjadi beragam variasi. Terlihat koordinasi dan rasa tanggung jawab tim. Refleksi kesadaran moral terhadap El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Berdasarkan hasil pelaksanaan implementasi Flocycle Project, peserta didik menunjukkan berbagai perubahan perilaku yang terlihat baik dalam aspek sosial maupun Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian. Pada aspek AuKesadaran EkologisAy sesuai dengan penelitian Olutayo et al. , . yang menunjukkan bahwa masyarakat mengevaluasi dan menangani botol plastik berdasarkan persepsi budaya dan ekonomi yang artinya Jika diimplementasikan pada penelitian ini yaitu ketika peserta didik membuat produk dari botol plastik daur ulang, mereka harus mempertimbangkan bagaimana masyarakat memandang sampah plastik, kegiatan ekonomi apa yang terkait dengannya, dan bagaimana produk tersebut berkontribusi pada sistem pengelolaan sampah/plastik. Selanjutnya pada aspek AuKreativitas dan InovasiAy sesuai dengan penelitian Marpaung et. , . yang menunjukkan bahwa sekolah dapat mengimplementasikan model pengelolaan limbah ke dalam kegiatan pembelajaran kreatif dengan bekerja sama dengan bank sampah komunitas dan lembaga pendidikan. Hal ini memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk merancang dan menerapkan program pengelolaan sampah secara kreatif. Selanjutnya, pada aspek AuKolaborasi dan KomunikasiAy serta AuRefleksi nilaiAy sesuai dengan penelitian Agrevinna et al. , . yang menunjukkan bahwa praktik inovatif daur ulang botol plastik meningkatkan keterampilan warga dan menekankan kerja sama . serta komunikasi antara warga dan fasilitator di sepanjang proses implementasi. Selain itu, para partisipan menginternalisasi prinsip-prinsip keberlanjutan melalui refleksi bersama tentang kesadaran ekologis serta tanggung jawab terhadap sampah plastik, yang kemudian terwujud dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Gambar 2. Proses pembuatan Flocycle Sumber: Dokumentasi peneliti . 86 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Tahap Refleksi dan Evaluasi Pembelajaran Para peserta didik mempelajari keseluruhan proses pembuatan Flocycle . unga akrilik dari botol plastik beka. serta pengalaman edukatif yang mereka lalui selama fase Peserta mampu mengidentifikasi berbagai makna dan nilai yang muncul selama kegiatan ini. Mereka mempertimbangkan bagaimana membuat bunga dari plastik meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan selain mengasah ketangkasan fisik. Para peserta didik juga mampu menyadari dampak buruk penggunaan plastik yang berlebihan terhadap lingkungan dan menemukan bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai estetika. Selain itu, para peserta didik dapat memiliki rasa tanggung jawab ekologis dengan mempelajari cara mengubah sampah plastik menjadi dekorasi yang fungsional. Sementara itu, pada tahap evaluasi para peserta didik selama pengerjaan, sejumlah kesulitan muncul, termasuk kesulitan memilih desain bunga karena terlalu banyak alternatif dan kesulitan membuat pola yang bersih dan proporsional. Namun, tantangan-tantangan ini menjadikan proses pembelajaran karena mendorong peserta untuk berpikir kritis, mencari jawaban, dan bekerja sama untuk menyempurnakan karya mereka. Tabel 2. Perbandingan Perubahan Paradigma Peserta Didik Aspek Sebelum Pembelajaran Setelah Pembelajaran Pola Perubahan Pandangan terhadap sampah Peserta didik tidak mengetahui lama spesifik penguraian sampah plastik Peserta didik mengetahui lama spesifik penguraian sampah plastik Perubahan afektif Strategi pengolahan sampah dengan konsep 3R Pasif dan tidak terlalu mendalami konsep 3R Peserta didik memahami dan memberi contoh implementasi 3R Perubahan kognitif Project FloCycle Kurang kreatif dalam pengolahan sampah botol Mengetahui proses FloCycle dalam pemanfaatan botol Perubahan Psikomotorik 87 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 Gambar 3. Foto Bersama Peserta Didik Kelas Vi-H Sumber: Dokumentasi Peneliti . PENUTUP Pelaksanaan proyek Flocycle menunjukkan bahwa kegiatan daur ulang yang inovatif dapat menjadi metode pembelajaran berbasis project yang bermanfaat untuk mengembangkan kapasitas berpikir sistemik siswa. Siswa mempelajari kemampuan teknis dan artistik serta pemahaman konseptual tentang hubungan antara material, proses industri, dan implikasi ekologisnya melalui pengalaman praktis mengubah botol plastik bekas menjadi bunga akrilik. Hasil dari kegiatan ini mendukung teori Meadows dalam buku Limits to Growth . bahwa kesadaran manusia akan keterbatasan sumber daya dan saling ketergantungan dalam sistem lingkungan sangat penting bagi Oleh karena itu. Kegiatan Flocycle berfungsi sebagai media pembelajaran yang menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kegiatan ini membantu peserta didik dalam menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial, kesadaran ekologis, dan kreativitas siswa dalam menangani isu-isu keberlanjutan. Selain menunjukkan potensi daur ulang plastik sebagai media pembelajaran yang inovatif. Flocycle juga menunjukkan bagaimana pendidikan dapat membantu membentuk generasi yang berpikir sistemik, adaptif, dan berfokus pada kesadaran ekologis. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Dina Siti Logayah M. Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran Berbasis Lingkungan Hidup (PBLH) yang telah memberikan bimbingan, motivasi, serta arahan berharga selama proses pembelajaran hingga penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga disampaikan kepada SMP Negeri 1 Bandung, khususnya guru mata pelajaran IPS dan para peserta didik kelas Vi yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran berbasis proyek ini. Keterlibatan dan antusiasme mereka menjadi bagian penting dalam keberhasilan implementasi proyek. Penulis tidak lupa menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada rekan kelompok atas kerja sama, dedikasi, dan semangat kolaboratif yang luar biasa dalam mengembangkan ide, merancang kegiatan, serta mewujudkan produk Flocycle sebagai 88 | E l B a n a r El-Banar: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Volume 8. Nomor 2. Oktober 2025 ISSN: 2654-7198 e-ISSN: 2654-5349 simbol kesadaran ekologis. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan inspirasi bagi penerapan pembelajaran yang lebih bermakna dan berorientasi pada keberlanjutan lingkungan di masa mendatang. REFERENSI