Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 214 - 219 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/416 Manajemen Fisioterapi pada Post Rekonstruksi Ligamen Posterior Cruciatum pada Atlet Sepak Bola Physiotherapy Management in Post Posterior Cruciate Ligament Reconstruction in Soccer Athlete *Pritha Qurratul Aini Athaya1. Irianto2. Achmad Aditya Fajar3 Universitas Hasanuddin, 3 Klinik Orthophysio Email Korespondensi: prithaqurratul06366@gmail. Diterima: 26 Agustus 2024 | Ditinjau: 03 Oktober 2024 | Disetujui: 15 April 2025 | Publikasi Online: 15 Mei 2025 ABSTRAK Posterior Cruciate Ligament (PCL) rupture kondisi cedera yang serius berenergi tinggi dengan kemungkinan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang yang parah. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran manajemen fisioterapi pada kasus post operasi rekonstruksi PCL. Metode: Studi ini merupakan laporan kasus, data primer diperoleh melalui autoanamnesis, alloanamnesis, dan pemeriksaan Alat pemeriksaan yang digunakan goniometer untuk mengevalusi lingkup gerak sendi, kemudian untuk evaluasi edema dengan pitting edema rating scale, dan mengevaluasi nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Hasil: Pasien atas nama Tn. R berusia 24 tahun dengan diagnosis post rekonstruksi PCL diberikan penanganan fisioterapi seperti electrotherapy, strengthening exercise, dan weight bearing as tolerated. Hasil evaluasi 8 kali fisioterapi terjadi perubahan pada aspek nyeri dan peningkatan lingkup gerak sendi pada regio knee. Setelah 5 kali pertemuan dan diberikan electrotherapy berupa electrical muscle stimulant serta beberapa exercise seperti quad set, isometric exercise. PROMEX (Passive Range of Motion Exercis. , latihan berjalan weight bearing as tolerated dapat menurunkan oedem, nyeri, menjaga kualitas otot dan meningkatkan lingkup gerak sendi pasien yang telah operasi rekonstruksi PCL. Kata kunci: Posterior Cruciate Ligament. Fisioterapi. Exercise therapy ABSTRACT Posterior Cruciate Ligament (PCL) tears are serious high-energy injuries with possible severe short and long-term consequences. Purpose: To provide an overview of physiotherapy management in postoperative PCL reconstruction cases. Methods: This study is a case report, primary data obtained through autoanamnesis, alloanamnesis, and physical examination. The measurement tools used are a goniometer to evaluate the range of motion of the joint, then to evaluate edema used the pitting edema rating scale, and to evaluate pain used Visual Analogue Scale (VAS). Result: The patient on behalf of Mr. R is 24 years old with a diagnosis of Post PCL reconstruction surgery given physiotherapy treatment such as e electrotherapy, strengthening exercise, dan weight bearing as tolerated. The results of the 5 physiotherapy evaluations show changes in the aspect of pain and an increase in the range of motion of the joints in the knee region. Conclusion: After 5 meetings and given electrotherapy in the form of an electrical muscle stimulant and several exercises such as quad sets, isometric exercise. PROMEX (Passive Range of Motion Exercis. , gait training with weight bearing as tolerated can reduce edema, pain, maintain muscle quality and improve the ROM of patients who had PCL reconstruction surgery. Keyword: Posterior Cruciate Ligament. Physiotherapy. Exercise therapy PENDAHULUAN Posterior Cruciate Ligament (PCL) salah satu dari empat ligamen utama sendi lutut yang berfungsi menstabilkan tibia pada tulang femur. Ia berasal dari aspek anterolateral condylus medial femoral di area intercondylar notch dan masuk ke aspek posterior tibial plateau. PCL Berfungsi untuk mencegah translasi posterior tibia ke tulang femur. Pada tingkat yang lebih rendah. PCL berfungsi untuk menahan gaya varus, valgus, dan rotasi eksternal. Ketebalannya kirakira 1,3 hingga 2 kali lebih tebal dan sekitar dua kali lebih kuat dari anterior cruciate ligament (ACL) dan lebih jarang mengalami cedera . Studi terbaru juga mengidentifikasi PCL sebagai penahan sekunder untuk rotasi internal dan eksternal, terutama antara 90A dan 120A fleksi . Manajemen Fisioterapi pada Post Rekonstruksi Ligamen PosteriorA| Pritha Qurratul dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 214 - 219 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/416 Robekan PCL mungkin memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang yang parah sebagai akibat kondisi cedera yang serius berenergi tinggi. Pemeriksaan diagnostik terpadu wajib dilakukan untuk menilai tingkat keparahan cedera dan menentukan pengobatan yang tepat. Penatalaksanaan cedera PCL bertujuan untuk mengembalikan kinematika dan fungsi lutut asli serta menghindari kelemahan posterior dan perubahan degeneratif yang persisten . Dua penyebab paling umum cedera PCL adalah kecelakaan mobil . %) dan cedera atletik . %). Secara khusus, dua penyebab cedera yang paling umum adalah kecelakaan sepeda motor . %) dan cedera terkait sepak bola . %). Mekanisme cedera yang paling banyak terjadi adalah cedera dashboard . %) dan jatuh pada lutut tertekuk dengan kaki dalam posisi plantar fleksi . %). Pada penelitian lain menyebutkan sebagian besar cedera PCL yang dioperasi disebabkan oleh aktivitas olahraga . Rasio pria dan wanita dengan kejadian PCL rupture sebesar 2:1 . Risiko cedera olahraga pada setiap olahraga relatif signifikan dan relatif sedikit penelitian tentang mengevaluasi pencegahan cedera bahkan pemulihan pasca cedera ketika melakukan olahraga . Multi Ligament Knee Injury (MLKI) melaporkan 59% keberhasilan kembali, dengan sekitar 64% adalah atlet sepak bola elit . Peran Fisioterapi pada kasus post rekonstruksi PCL sangatlah penting untuk menghindari berbagai kemungkinan yang timbul pasca operasi, seperti keterbatasan range of motion (ROM), kelemahan otot, pembengkakan dalam waktu yang lama, dan lain sebagainya. Penelitian ini menarik karena memaparkan tindakan fisioterapi pada kasus post PCL reconstruction tiga hari masih dalam fase akut yang kebanyakan penelitian sebelumnya memaparkan rehabilitasi fisioterapi post PCL reconstruction setelah lebih satu minggu. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan case report . tudi kasu. Pasien atas nama Tn. R berusia 24 tahun datang ke Klinik Orthophysio Makassar pada 4 hari setelah operasi. Cedera dialami pada tahun 2016 kronologinya pasien sedang bermain bola dan menjadi kiper, saat ia hendak mendarat setelah menangkap bola lututnya yang sebelah kiri tertekuk dan menghantam vertikal ke permukaan tanah. Setelah kejadian pasien tidak bisa jalan, lutut kiri tidak bisa tertekuk, bengkak, nyeri, kemerahan, selama 2 minggu. Setelahnya tidak ada masalah dan masih aktif bermain bola, pasien datang ke dokter pada tanggal 2 Mei 2024 pasien sering merasakan ngilu pada dalam sendi lututnya dan longgar, dan dari hasil radiologi PCL tear dan untuk meniscus tidak ada masalah kata dokter dan diminta untuk operasi PCLR (Posterior Cruciate Ligament Reconstructio. Pasien operasi Pada tanggal 3 Mei 2024 menggunakan autograft hamstring. Setelah operasi pasien merasakan nyeri pada lutut kiri bekas operasinya dan saat lutut diluruskan terasa sangat nyeri. Pasien datang ke fisioterapi pada tanggal 7 Mei 2024 dengan menggunakan forearm crutches dan kaki diperban. Setelah operasi tungkai kiri bawah pasien bengkak, merah, pada os tibia dan m. tibialis anterior sampai foot. Tidak tampak atrofi antar kedua tungkainya walaupun pasien tidak fisioterapi pre-OP PCLR terlihat massa ototnya bagus karena masih aktif latihan bola sebelum operasi. Pasien tidak nyaman jika belakang lututnya tidak tersanggah sehingga knee sinistra semifleksi. Pasien memakai brace saat beraktivitas namun tidak saat tidur. Aktivitas kesehariannya terganggu seperti toileting, self care, dressing, sitting, walking, and ambulation. Pasien diresepkan obat oleh dokternya namun jarang dikonsumsi. Pasien juga sedikit cemas terkait kondisinya. Pengukuran dilakukan dari fisioterapi pertama hingga kelima selama 5 hari rutin. Pengukuran yang dievaluasi yaitu ROM, skala nyeri, dan kedalaman edema pada tungkai yang cedera. Goniometer menghasilkan estimasi reliabilitas uji-ulang yang baik, goniometer tetap menjadi alat pilihan pertama untuk penilaian ROM di klinik. Goniometer universal dapat diandalkan dalam reliabilitas pengukuran ROM Knee . ata-rata Concordance Correlation Coefficient . > 0,. Pitting edema rating scale memiliki realibilitas yang baik dengan intraclass correlation coefficient yang selanjutnya menunjukkan keandalan yang sangat baik, dengan semua nilai > 0,9 . Visual Analogue Scale (VAS) digunakan secara luas di tingkat nasional dan internasional. Dalam penelitian ini terbukti secara ilmiah bahwa VAS merupakan skala yang andal dan valid Manajemen Fisioterapi pada Post Rekonstruksi Ligamen PosteriorA| Pritha Qurratul dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 214 - 219 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/416 untuk usia di atas 18 tahun. Dalam banyak penelitian terbukti bahwa VAS merupakan skala yang reliabel, untuk validitasnya menunjukkan korelasi sedang hingga kuat untuk pengukuran nyeri . Untuk hasil pemeriksaan fungsi gerak dasar didapatkan hasil pasien memiliki limitasi Range of Motion (ROM) dan nyeri saat gerakan aktif dan pasif fleksi dan ekstensi knee sinistra, pada gerakan, dan untuk Tes Isometrik Melawanan Tahanan (TIMT) pasien tidak mampu namun masih ada nyeri baik untuk gerakan fleksi maupun ekstensi knee. Hasil pemeriksaan nyeri yang dilakukan menunjukkan pasien merasakan nyeri diam pada knee sinistra menggunakan VAS dengan nilai 7 . , nyeri saat knee ditekan dan saat knee digerakkan dengan nilai 8 . Pernyataan ini juga didukung dengan hasil pemeriksaan ROM knee sinistra: S. 41o, knee dextra: Pitting edema pada area os tibia dan foot sinistra didapatkan hasilnya grade 2. HRSA (Hamilton Rating Scale-Anxiet. versi Bahasa Indonesia menunjukkan reliabilitas yang cukup dengan cronbachAos alpha coefficient sebesar 0,756. Pemeriksaan kecemasan menggunakan Hamilton Rating Scale-Anxiety didapatkan kecemasan ringan . No. Problem FT Kecemasan Inflamasi Menjaga Kualitas Otot Limitasi ROM Limitasi ADL (Walkin. Tabel 1. Intervensi Fisioterapi Modalitas FT Dosis FT F: Setiap Fisioterapi I: Pasien Fokus Komunikasi Terapeutik T: Interpersonal approach T: Selama sesi fisioterapi F: Setiap Fisioterapi I: 1 set Exercise Therapy T: Ankle pump exercise with elevation T: 3 menit F: Setiap Fisioterapi I: 35 Hz (Intermitte. Neuromuscular Electrical T: Coplanar ( m. vastus medial, m. Stimulant (NMES) vastus lateral, rectus m. femoris sinistr. T: 30 menit F: Setiap Fisioterapi I: 10 hitungan, 8 repetisi, 3 set Exercise Therapy T: Isometric ankle exercise with elastic T: 7 menit F: Setiap Fisioterapi I: 2 repetisi Exercise Therapy T: PROMEX Knee . lexion & extensio. T: 1 menit F: Setiap Fisioterapi I: 2 repetisi ADL Exercise T: Gait training WBAT with crutches T: 2 menit Sumber: Data Primer, 2024 FT: Fisioterapi. ADL: Activity Daily Living. ROM: Range of Motion. WBAT: Weight Bearing as Tolerated. PROMEX: Passive Range of Motion Exercise. F: Frequency. I: Intensity,T: Technique. T: Time. Penelitian ini dilakukan dalam 5 kali pertemuan. Setiap pertemuan diberikan sesuai dengan perkembangan dari kondisi pasien dan keluhan yang dirasakan oleh pasien pada setiap pertemuan pasien sempat merasa ngilu pada bekas inisisi saat diberi latihan namun berkurang saat Manajemen Fisioterapi pada Post Rekonstruksi Ligamen PosteriorA| Pritha Qurratul dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 214 - 219 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/416 Intervensi yang diberikan dalam 5 kali pertemuan berfokus pada penurunan edema, nyeri, limitasi ROM dan latihan berjalan dengan forearm crutches weight bearing as tolerated. HASIL DAN PEMBAHASAN Nyeri Skala nyeri diukur dengan visual analogue scale (VAS). Setelah fisioterapi selama 5 sesi didapatkan skala nyeri diam, gerak, maupun tekan menurun, dari yang pertama fisioterapi nyeri diam 7 menurun menjadi skala 4, nyeri gerak dari skala 8 turun menjadi 5, dan skala nyeri tekan yang saat pertama 8 setelah 5 sesi fisioterapi turun menjadi 6. Skala Nyeri Nyeri Diam Nyeri Gerak FT 1 FT 2 Nyeri Tekan FT 3 FT 4 FT 5 Grafik 1. Evaluasi Nyeri Edema Pengukuran kedalaman edema pada tungkai dengan edema rating scale. Dari hasil eval uasi fisioterapi 1 hingga ke-5 terdapat penurunan, yang awalnya grade 2 . mm rebounding kurang dari 15 deti. dan pada fisioterapi ke 4 turun menjadi grade 1 . mm, dan rebound Edema Edema Rating Scale FT 1 FT 2 FT 3 FT 4 FT 5 Sesi Fisioterapi Grafik 2. Evaluasi Edema Range of Motion (ROM) Pengukuran passive range of motion knee sinistra setelah fisioterapi 5 sesi didapatkan peningkatan ekstensi menjadi normal di 0o dan penambahan derajat fleksi knee dari yang sebelumnya 41o menjadi 56 o. Tabel 1 Evaluasi Range of Motion ROM Knee Sinistra FT 1 FT 2 FT 3 FT 4 FT 5 Pasif 7o. 41o S. 46o S. 50o S. 56o S. Sumber: Data Primer, 2024 Manajemen Fisioterapi pada Post Rekonstruksi Ligamen PosteriorA| Pritha Qurratul dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 214 - 219 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/416 Peningkatan ROM pada gerakan fleksi knee dextra selama lima kali pertemuan . Ae 11 Mei 2. meningkat 15o dan ekstensinya dengan lutut kanan sama yaitu 0o. Untuk nyeri yang dirasakan pasien terjadi perubahan, namun masih terdapat nyeri pada bagian luka insisi berupa nyeri diam, nyeri tekan dan nyeri gerak. Hal tersebut merupakan hal yang normal terjadi pada pasien post rekonsruksi PCL dikarenakan bekas insisi pada saat dilakukan arthoroscopy. Penegakan diagnosis klinis post reconstruction PCL injury pada Tn. R berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilihat berdasarkan manifestasi klinis dari kasus PCL. Terdapat perubahan ROM pada pengukuran fleksi dan ekstensi knee setelah 5 kali pertemuan karena intervensi yang diberikan memberikan dampak positif terhadap peningkatan ROM knee. Pemberian intervensi ditingkatkan secara bertahap ditiap pertemuan disesuaikan dengan kondisi pasien kembali. Pada pertemuan 3 tanggal 9 Mei 2024 mulai diberikan penambahan latihan seperti quad set exercise dan ditambah dengan straight leg raise (SLR), abduction and adduction exercise. Latihannya masih sama sampai pertemuan ke lima tetapi ditambah intensitasnya sesuai toleransi Pada fase awal rehabilitasi, mengontrol bengkak dan latihan ROM dilakukan segera mungkin dengan treatment yang terkontrol . Perawatan akut melibatkan rest, ice, compression, and elevation (RICE). Rehabilitasi penting dengan fokus pada penguatan ekstensor lutut . Stabilisasi yang tepat dengan penyangga statis awal dan kemudian brace fungsional disertai dengan exercise therapy progresif adalah penting, baik pasca cedera atau pasca operasi, untuk mendukung proses penyembuhan PCL . Pasien diedukasi agar menggunakan brace terkunci di ekstensi sampai di fleksi knee 45A saat ambulasi maupun saat tidur sesuai protocol PCL reconstruction . Capaian pada fase I . Ae 4 minggu setelah operas. sesuai protocol yaitu kontrol quadriceps yang baik, mencapai normal ekstensi knee, pasif ROM fleksi knee >60A, dan tidak ada tanda inflamasi. Pada kasus ini post-OP PCL reconstruction 3 hari, program yang diberikan untuk mencapai ekstensi knee pasien ke 0o. Posisi knee diusahakan tidak semifleksi untuk mencegah kontraktur pada hamstring dan menjaga graft. Posisi lutut juga pada fase I PCL reconstruction mencegah hiperekstensi dan translasi tibialis posterior untuk menjaga healing graft PCL dari elongating . Latihan yang diberikan pada pasien case report sesuai dengan protocol yang ada. SIMPULAN DAN SARAN Rehabilitasi post PCL-R bagian dari penatalaksanaan PCL yang penting bagi pasien untuk dapat kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, 5 kali sesi fisioterapi dan diberikan electrotherapy berupa electrical muscle stimulant serta beberapa exercise seperti strengthening exercise. PROMEX, latihan berjalan dengan weight bearing as tolerated dapat menurunkan edema, nyeri, menjaga kualitas otot dan meningkatkan ROM pasien yang telah operasi rekonstruksi PCL. Saran untuk penelitian selanjutnya agar penelitian ini terus dilanjutkan sehingga mampu menemukan intervensi yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dan modifikasi intervensi juga direkomendasikan untuk membantu dalam pemulihan pasca rekonstruksi PCL agar dapat kembali beraktivitas sehari-hari hingga return to DAFTAR PUSTAKA