Matrik : Jurnal Manajemen & Teknik Industri Ae Produksi Volume XXVI. No. Maret 2026. Halaman 251 - 260 p-ISSN: 1693-5128, e-ISSN : 2621-8933 doi: 10. 350587/Matrik v26i2. MATRIK Jurnal Manajemen dan Teknik Industri-Produksi Journal homepage: http://w. id/index. php/matriks Perbandingan Kinerja Model P dan Q pada Sistem Persediaan Multiple Item Single Supplier dengan Batasan Luas Gudang Nisa Isrofi1*. Dina Rachmawaty2 . Erly Ekayanti Rosyida3 Program Studi S1 Teknik Logistik. Direktorat Kampus Surabaya Ae Universitas Telkom Program Studi S1 Teknik Industri. Direktorat Kampus Purwokerto Ae Universitas Telkom Jl Ketintang 156. Surabaya. Indonesia Email : nisaisrofi@telkomuniversity. *Corresponding Author INFO ARTIKEL ABSTRAK doi: 10. 350587/Matrik Pengendalian persediaan sangat krusial dan berdampak pada kelangsungan bisnis perusahaan. Penggunaan multiple item single supplier digunakan tidak hanya untuk menekan total biaya tetapi juga efisiensi Keterbatasan luas Gudang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan persediaan, terutama pada shared warehouse. Penelitian ini membandingkan kinerja integrasi model P atau Q dengan multiple item single supplier dan batasan kapasitas ruang. Model P dinilai lebih stabil dalam penggunaan ruang . emesanan terhadap . daripada Q yang lebih sensitif karena kebutuhan safety stock untuk mengatasi lonjakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun Model Q lebih unggul secara biaya tetapi jumlah order yang dibutuhkan lebih banyak 12% dari Model P. Hasil numerik perhitungan biaya variable cost . iaya pesan dan biaya simpa. menunjukkan model P lebih tinggi 65,2 % dari Model Q sebesar 10,9 juta. Meskipun secara penggunaan ruangan, kedua model tersebut sudah memenuhi Batasan sebesar 4896 m2. Penelitian ini berkontribusi pada pemilihan kebijakan persediaan probabilistik terintegrasi untuk sistem multi-item dengan kendala kapasitas gudang, khususnya dalam konteks optimalisasi biaya dan utilisasi ruang secara simultan. Jejak Artikel : Upload artikel 23 Februari 2026 Revisi oleh reviewer 5 Maret 2026 Publish 31 Maret 2026 Kata Kunci : Model P. Model Q. Multiple Item Single Supplier. Warehouse Usage. Total Cost ABSTRACT Inventory control is crucial and impacts the continuity of a company's The use of multiple single-item suppliers is used not only to reduce total costs but also process efficiency. Warehouse space limitations need to be considered in inventory management, especially in shared warehouses. This study compares the performance of the P or Q model integration with multiple single-item suppliers and space capacity limitations. Model P is considered more stable in space usage . rdering against . than Q which is more sensitive due to the need for safety stock to cope with surges. This study concludes that although Model Q is superior in terms of cost, the number of orders required is 12% higher than Model The numerical results of variable cost calculations . rdering costs and holding cost. show that Model P is 65. 2% higher than Model Q at 10. 9 million. Although in terms of space usage, both models have met the Constraint of 4896 m2. This study contributes to the selection of integrated probabilistic inventory policies for multi-item systems with warehouse capacity constraints, especially in the context of optimizing costs and space utilization simultaneously. Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Isrofi et all / Matrik. Vol. XXVI. No. 2 Maret 2026. Halaman 251 - 260 memberikan manfaat optimal . Bagi perusahaan yang memiliki karakteristik sistem persediaan probabilistik multi-item dengan mempertimbangkan faktor kadaluarsa dapat meminimalkan total biaya persediaan dengan jumlah pesanan optimal . Temuan menunjukkan bahwa pertimbangan multi item pada kebijakan inventory mampu menangani mempertimbangkan penyimpanan minimum dan maksimum Gudang . Tantangan lain yang dialami perusahaan adalah keterbatasan luas gudang yang dimiliki perusahaan sehingga keputusan pembelian item mempengaruhi item yang lain apalagi jika menggunakamn shared warehouse. Kebijakan inventory untuk satu item belum tentu feasible digunakan karena salaing mempengaruhi. Banyaknya model inventory yang tidak dapat diterapkan di perusahaan karena telah melampaui kapasitas luas gudang sehingga pentingnya pengembangan integrasi model inventory antara satu vendor, beberapa jenis barang . Kendala kapasitas yang ada di gudang membentuk stuktur alokasi inventaris untuk mengamankan ketidakpastian dan . Penelitian sebelumnya mengenai multi item single supplier dengan pertimbangan Batasan luas Gudang menunjukkan bahwa penggunaan inventory multiple item single supplier mengurangi total biaya secara signifikan tetapi banyak produk yang tidak tersimpan tetapi integrasi antara multiple item sigle supplier dengan kendala luas menunjukkan biaya total yang tinggi tetapi Batasan luas terkendali . Penelitian lain juga telah dilakukan menggunakan model muti item probabilistic dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan Gudang untuk menetapkan jumlah order optimal dan waktu pemesanan . Keterbatasan kapasitas gudang yang harus dipertimbangkan dalam penelitian lain, menggunakan pendekatan metode Karush Kuhn-Tucker dan menghasilkan dua waktu mendapatkan waktu pemesanan optimal . Pendahuluan Manajemen persediaan sangat krusial dalam Perusahaan untuk menjaga kontinuitas operasional Perusahaan dan juga tingkat pelayanan terhadap konsumen dimana permintaan bersifat sangat fluktuatif. Hal tersebut merupakan tantangan bagi Perusahaan untuk menjaga ketidakseimbangan antara biaya persediaan dan resiko stockout. Kondisi stokastik dapat menyebabkan perubahan mendadak dalam pesanan oleh pengecer dalam jumlah besar, yang akhirnya memaksa pemasok untuk mengurangi kebijakan pengaturan mereka . Peningkatan permintaan produk, waktu persiapan produksi merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan . Dalam praktiknya. Perusahaan cenderung memproduksi lebih dari satu item sehingga pengelolaan raw material menjadi hal yang cukup kompleks. Pemesanan raw material cenderung dilakukan per item padahal pemesanan dilakukan pada supplier yang sama. Kurang optimalnya konsollidasi pemesanan tersebut menyebabkan frekuensi pemesanan tinggi dan meningkatnya biaya Pengelolaan berkualitas dalam rantai pasokan yang menggunakan satu pemasok merupakan hal yang umum dan penting dalam industri modern. Terdapat banyak tantangan untuk pengelolaan tersebut, salah satunya penentuan kuantitas pemesanan optimal, pengendalian total biaya persediaan dan kebijakan pemesanan untuk Analisis permintaan meningkatkan total keuntungan dan peningkatan biaya pengiriman untuk produk jadi berdampak negatif pada JTP (Joint Total Profi. dengan mengurangi efisiensi produksi . Manajemen persediaan terintegrasi mengkoordinasikan kebijakan pemesanan ulang semua item yang mengembangkan model persediaan terintegrasi yang terdiri dari satu vendor dan banyak jenis barang untuk Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Matrik : Jurnal Manajemen & Teknik Industri Ae Produksi Volume XXVI. No. Maret 2026. Halaman 251 - 260 p-ISSN: 1693-5128, e-ISSN : 2621-8933 doi: 10. 350587/Matrik v26i2. Permintaan dan lead time yang fluktuatif membuat penggunaan inventory deterministic mulai bergeser pada inventory probabilistic yang lebih rasional. Model inventory probabilistic yang sering digunakan adalah Model P dan Model Q. Model Continuous (Q Ae Syste. menggunakan basis kejadian dimana melihat inventory secara berkala dan melakukan order ketika stok menyentuh ROP (Re Order Poin. sedangkan Model Periodic (P-syste. menggunakan basis interval waktu untuk melakukan order . Model persediaan probabilistic multi item cocok diterapkan di industry dengan karakteristik produk yang cepat kadaluarsa seperti pada industry makanan . Periodic review melakukan peninjauan persediaan pada interval waktu tetap sehingga cocok untuk multiple item dan joint ordering. Pengelolaan persediaan tersebut lebih mudah diimplementasikan secara operasional dan relevan untuk supplier Tunggal. Pemilihan penyedia layanan dalam rantai pasokan memengaruhi kinerja rantai pasokan di masa depan. Salah satu faktor utama dalam pemilihan penyedia layanan adalah waktu . Pengendalian Continuous review menetapkan titik pemesanan ulang yang oprimal dengan melakukan pemantauan secara berkala dan membutuhkan sistem informasi yang bisa memantau secara real time untuk mengurangi terjadinya kekurangan bahan baku . Titik pemesanan ulang bisa lebih rendah pada saat tertentu sehingga pengabaian kekurangan pada titik pemesanan akan berdampak langsung pada siklus pengisian ulang . Penelitian penggunaan kebijakan inventory diawali dengan analisis ABC untuk mengetahui produk yang perlu diprioritaskan dan kemudian melakukan perbandingan penggunaan Model P dan Q untuk mengetahui metode terbaik dengan total biaya terkecil . Penelitian lainnya banyak membahas terkait multiple item single supplier dengan mempertimbangkan Batasan luas Gudang, tetapi terkait integrasi antara model P atau Q untuk multiple item single supplier dengan kapasitas Gudang masih belum Model Q lebih sensitive terhadap keterbatasan ruang karena order dilakukan ketika batas ROP tetapi model ini cukup fleksibel dan cocok untuk permintaan yang mempunyai fluktuasi yang tinggi. Model P cenderung cukup stabil pada kapasitas terbatas dikarenakan order dilakukan pada saat t tetapi kurang cocok untuk permintaan yang fluktuatif. Penentuan model yang lebih stabil untuk ruangan sempit karena Model Q mungkin tidak feasible atau mungkin Model P lebih adaptif. Desain gudang yang efisien dalam logistik kontemporer, menekankan bahwa potensi sebenarnya dari gudang tidak hanya terletak pada ukurannya tetapi juga pada desain dan alokasi ruang . Penentuan kebijakan persediaan yang optimal tidak hanya melihat dari pola demand atau lead time saja tapi berdasarkan analisis total biaya dan kemampuan kapasitas gudang. Penggunaan batas kapasitas minimum dengan tetap mempertimbangkan biaya tetap yang optimal atau rekomendasi perlunya ekspansi Gudang. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi gap komparasi analisis kinerja kebijakan Model P dan Model Q pada multiple item single supplier dengan mempertimbangkan batasan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan keterbatsan fisik dan juga kebijakan pemesanan yang lebih feasible diterapkan di Perusahaan. Metode Penelitian Penenlitian ini merupakan pengembangan model persediaan multiple item single supplier yang diintegrasikam dengan batasan luas Gudang dan juga penggunaan kebijakan Model inventory probabilistik berupa Model P dan Q. Penelitian ini juga menganalisis perbandingan dari dua metode untuk mengetahui hubungan antara penggunaan gudang terhadap total Model ketahanannya terhadap fluktuasi permintaan Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Isrofi et all / Matrik. Vol. XXVI. No. 2 Maret 2026. Halaman 251 - 260 yang cukup tinggu meskipun menghasilkan biaya penyimpanan yang sedikit lebih tinggi . Secara sederhana model probabilistik yang sering digunakan adalah menggunakan Model P sering disebut Periodic Review dan Model Q sering disebut Continuous Review. Perhitungan jumlah maksimum inventory Perhitungan permintaan selama lead time dan periode pemesanan . cUya ycN ) ycUya ycN = ya ycu . a ycN) Perhitungan standard deviasi selama lead time dan periode pemesanan yuaya ycN = yuaya ycu Ooya ycN Perhitungan Inventory (R) ycI = ycUya ycN . uaya ycN ycu ycsyu ) Perhitungan safety stock . ycyc = ycI Oe . cUya ycN ) Perhitungan Total Cost penjumlahan antara Biaya pembelian, biaya pemesanan dan biaya penyimpanan ycUya = yaycuya ycUycN = ycNycu ya ycIya ycUycN ycNya = ycE ycuya . cI Oe ycUya Oe )) ycN Gambar 1. Perbedaan Model Persediaan Probabilistik Model inventory multiple item single supplier digunakan ketika satu vendor memasok beberapa item di perusahaan. Kesamaan vendor menyebabkan kebijakan inventory yang digunakan adalah menentukan waktu yang optimal dan menghitung kuantitas pesanan tiap item . Model Q ( Continuous Review Syste. adalah kebijakan persediaan yang memantau secara berkala dan melakukan pemesanan sesuai dengan titik pemesanan . Perhitungan ReorderPoint . dan Safety stock . Perhitungan permintaan selama lead time (D) yayaycN = yaycuya Perhitungan standard deviasi untuk 12 bulan yuaycu yuayaycN = yuaya ycuOoya Perhitungan frekuensi pemesanan selama 12 bulan ya ya= ycE ycE yc0 = ycu 365 ya Perhitungan reorder point . yc = yayaycN yuayaycN ycu ycsyu Perhitungan safety stock . ycyc = yc Oe yayaycN Perhitungan Total Cost (TC) Model P ( Periodic Review Syste. adalah kebijakan persediaan yang memantu stok berdasarkan interval waktu . Perhitungan Periode Pemesanan 2ycIyaycn ycNO = Oo ycA Ocycn=1 yayaycn ycuyaycn 2ycIyaycn ycEycnO = yaycn Oo ycA Ocycn=1 yayaycn ycuyaycn Batasan luas maksimum Gudang yang dimiliki perusahaan menyebabkan kuantitas pesanan semua item harus dikurangi agar dapat diterima . 2 ycu ycIyaycn ycuyaycn ycEycn = Oo yayaycn yaya ycu ycIycn Keterangan: ycN= Waktu Pemesanan P= Harga Produk RC= Biaya Pemesanan L= Lead Time HC= Biaya Penyimpanan R= Maksimum Stok 2 ycIya ycN=Oo yaya ycu ya Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Matrik : Jurnal Manajemen & Teknik Industri Ae Produksi Volume XXVI. No. Maret 2026. Halaman 251 - 260 p-ISSN: 1693-5128, e-ISSN : 2621-8933 doi: 10. 350587/Matrik v26i2. Tabel 1. Data Pendukung ss= safety stock ycUya = Jumlah pemesanan selama lead time ycUycN = Permintaan selama periode pemesanan ycUya ycN = permintaan selama lead time dan periode yuaya ycN = standar deviasi selama lead time dan periode pemesanan ycsyu = Normal standard deviasi yayaycN = permintaan selama lead time yuaya = standard deviasi yaya= Additional Cost yayaycn = Holding Cost ycIyaycn = Reoerder Cost ycIycn = Ammount of space occupied Lead Time Item Ordering Cost Holding Cost Reguler Price Perusahaan memiliki beberapa gudang yang dikhususkan untuk produk tertentu dikarenakan produk makanan yang cukup berisiko jika ditempatkan di satu gudang saja. Penelitian ini dibatasi pada satu gudang saja dimana keseluruhan produk dipasok dari satu vendor. Luas gudang yang akan dijadikan batasan untuk penelitian ini memiliki luas 4896 yeaya . Berikut adalah data kebutuhan luas tiap item yang akan digunakan sebagai input metode Langrange. Secara singkat metode penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 2. Perbandingan kinerja dilakukan dengan melihat biaya yang digunakan dengan penggunaan luas antara dua metode. Tabel 2. Kebutuhan Luas tiap item Item Volume . eaya ) 90x 60x 80 90x 56x80 Luas yang dibutuhkan . eaya ) . Model P (Periodic Revie. Penggunaan Model P dengan tambahan multiple item single supplier, dimana didapatkan Optimal Review Period (T*) sebesar 005267 dan Total Cost sebesar Rp Tabel 3 menunjukkan jumlah pemesanan tiap item menggunakan Model P yang diintegrasikan dengan multiple item single supplier dan selanjutnya dihitung kebutuhan luas keseluruhan dari nilai Q tiap item dengan luas per item. Gambar 2. Metode Penelitian Hasil dan Pembahasan Penelitian ini menggunakan data dari perusahaan yang memproduksi makanan dengan batasan pada produk yang diambil dari satu vendor yang sama dan didapatkan 6 jenis produk dari satu vendor yang sama. Item disimpan dalam gudang yang sama dan digunakan untuk memproduksi produk yang Perusahaan menggunakan konsep sharing gudang untuk item yang sama, sering terjadi tiap departemen yang memproduksi produk yang berbeda harus segera menginfo ke bagian gudang agar tidak kehabisan item yang Tabel 3. Perhitungan Jumlah Pemesanan Model P Multiple Item Item Q (Join. Total Luas yang per item . ea ya ) Luas Keseluruhan . eaya ) Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Isrofi et all / Matrik. Vol. XXVI. No. 2 Maret 2026. Halaman 251 - 260 Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa kebutuhan luas keseluruhan menggunakan perhitungan Model P membutuhkan luas melebihi kapasitas Gudang Perusahaan. Kebutuhan luas gudang hasil perhitungan Model P memiliki kekurangan luas sebesar 1. kali luas yang disediakan perusahaan. Penggunaan batasan luas gudang perlu dilakukan agar penerapan kebijakan persedian Model P dapat diterapkan. Tabel 4 menggunakan Metode Langrange dengan batasan Gudang untuk menghitung nilai Q tiap tercukupi dan tetap menyesuaikan dengan batasan luas gudang. Model Q (Continuous Revie. Penggunaan Model Q dilakukan dengan mengintegrasikan Multiple Item Single Supplier dengan menentukan Jumlah Order tiap Item. Selain pwrhitungan jumlah order juga menentukan safety stock dikarenakan perlu monitoring stok berkala sehingga dibutuhkan stok antisipasi jika terjadi ketidakpastian. Tabel 6. Perhitungan Jumlah Pemesanan Model Q Multiple Item Item Tabel 4. Model P Multiple Item dan Kendala Luas 68942 40139 13309 13788 8027 2661 20682 12041 3992 27576 16055 5323 34471 20069 6654 37918 22076 7319 38607 22478 7452 39297 22879 7585 39986 23280 7718 Tot Q Awal Luas Dibutuhkan Q Setelah Adjust Safety Stock Tabel 7. Model Q Multiple Item dan Kendala Luas Tabel 5. Perubahan Q Awal dan Q akhir Model P Item Jumlah Order Tabel 6 menunjukkan hasil perhitungan Model Q Multiple Item Single Supplier dimana didapatkan Total Ordering Cost Rp 50. dan Total Holding Cost Rp 235. 056 dimana didapatkan Total Cost sebesar Rp 285. berdasarkan perhitungan tersebut didapatkan bahwa tidak memungkinkanya metode tersebut diterapkan karena kebutuhan luas yang masih sangat kurang sehingga perlu dilakukan penyesuaian dengan kendala Gudang Tabel 5 menunjukkan perubahan Q . umlah orde. awal penggunaan Model P Multiple Item Single Supplier dengan Q yang telah dilakukan penyesuaian dengan batasan luas Gudang agar lebih memungkinkan diterapkan di Perusahaan. Terjadi pengulangan beberapa iterasi sampai memenuhi total keseluruhan yang sesuai dengan batasan luas gudang 4896 yeaya . Luas Unit Annual Sigma Luas Setelah Adjust AC QA 66886 12422 219483 3344 6211 10974 10 6688 12422 21948 15 10032 18633 32922 16 10701 19875 35117 17 11370 21117 37312 18 12039 22360 39506 19 12708 23602 41701 20 13377 24844 43896 21 14046 26086 46091 Total 97204 43471 26055 23010 Tabel 8 menunjukkan perubahan Q awal penggunaan Model Q Multiple Item Single Supplier dengan Q yang telah dilakukan penyesuaian dengan batasan luas Gudang agar lebih memungkinkan diterapkan di Perusahaan. Berdasarkan memperhatikan batasan luas gudang didapatkan kebutuhan luas baru sebesar 4832 yeaya . Perubahan jumlah order sebelum sesudah adanya penyesuain terjadi cukup signifikan karena luas yang dibutuhkan hampir 2 kali lipat dari batas maksimum penggunaan Jumlah order yang ada di awal terjadi banyak pengurangan menggunakan optimasi model langrange agar semua item bisa Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Matrik : Jurnal Manajemen & Teknik Industri Ae Produksi Volume XXVI. No. Maret 2026. Halaman 251 - 260 p-ISSN: 1693-5128, e-ISSN : 2621-8933 doi: 10. 350587/Matrik v26i2. Tabel 8. Perubahan Q Awal dan Q akhir Model Q lonjakan tetapi secara biaya pemesanan bisa ditekan karena jumlah pemesanan tidak terlalu banyak daripada model P. Biaya yang ditimbulkan Model P untuk pemesanan cukup banyak sehingga menghasilkan variable cost yang lebih tinggi. Variable cost disini yang diperhitungkan adalah biaya pesan dan biaya Sesuai studi kasus yang digunakan di jurnal ini pemilihan Model Q lebih Item Q Awal Luas Unit Luas per Q Setelah Adjust Luas Setelah Adjust Perubahan jumlah order sebelum dan setelah penyesuaian hampir sama dengan yang ada di model P. Luas yang dibutuhkan sebelum penyesuaian dengan batasan gudang cukup tinggi hampir 5 kali dari batasan luas gudang. Metode langrange melakukan optimasi dengan beberapa iterasi dan menyesuaikan sampai sesuai dengan batasan luas gudang yang ada. Perbandingan Model P dan Q Perhitungan Model P dan Q sudah mengalami penyesuaian sehingga bisa diterapkan di Perusahaan dengan batasan luas Gudang sebesar 4896 yco2 . Model P membutuhkan luas sebesar 4816 yco2 dan untuk model Q membutuhkan luas sebesar 4832 yco2 . Meskipun untuk penggunaan luasan gudang sebelum dilakukan penyesuaian dengan batasan luas gudang, model Q untuk penggunaan gudang sebelum penyesuaian adalah 5 kali dari batasan luas sedangkan untuk model P luasan gudang berbeda 2 kali lipat lebih besar dari batasan gudang. Tetapi setelah penggunaan batasan luas gudang, semua model dipaksa untuk menyesuaiakan batasan tersebut. Perbandingan lainnya terkait jumlah Order dan Variable Cost yaitu biaya penyimpanan dan biaya pembelian dapat dilihat pada Tabel 9. Jumlah Order Total Jumlah Order Model P Model Q Model P Model Q Gambar 3. Jumlah Order Model P dan Model Q Gambar 3 menunjukkan jumlah order model P dan model Q. Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa jumlah order untuk model P lebih besar disemua item yang ada di Terjadi rentang perbedaan yang cukup jauh pada item C dan untuk item Model P dan Model Q rentangnya cukup kecil. Keseluruhan jumlah order yang ada pada model P memiliki total jumlah order yang lebih besar dari model Q. Variable Cost Tabel 9. Perbandingan Model P dan Q Item Variable Cost Model P Model Q Model P Model Q Gambar 4. Variable Cost Model P dan Model Q Gambar 4 menunjukkan rentang perbedaan variable cost antara model P dan Q cukup kecil, meskipun secara keseluruhan Model Q lebih Variable cost yang dihitung adalah biaya pesan dan biaya pemesanan. Biaya pemesanan yang dibutuhkan model P lebih Model Q secara data menunjukkan bahwa biaya yang dihasilkan lebih rendah daripada Model P. Meskipun Model Q secara jumlah order lebih banyak y dikarenakan adanya safety stock yang digunakan untuk menanggulangi Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Isrofi et all / Matrik. Vol. XXVI. No. 2 Maret 2026. Halaman 251 - 260 banyak dari model Q karena secara frekuensi lebih banyak meskipun untuk jumlah order lebih banyak karena adanya safety stock. Sesuai dengan studi kasus yang ada, jumlah frekuensi yang berkali kali lebih meningkatkan biaya variable cost daripada harus menyimpan item yang banyak di gudang. dipertimbangkan lebih adalah terkait biaya yang dihasilkan dimana didapatkan biaya untuk model Q lebih rendah daripada model P. Dalam penelitian ini Model P lebih gampang dilakukan dilakukan saat waktu pemesanan meskipun ada kemungkinan adanya inventory yang tidak terpenuhi dan juga penggunaan biaya yang lebih mahal. Model Q lebih susah diterapkan karena adanya pemantauan berkala untuk jumlah Q tetapi secara biaya memiliki harga yang lebih rendah. Kesimpulan dan Saran Penggunaan probabilistik. Model Q menggunakan basis kejadian dengan melakukan monitoring inventory secara berkala sehingga lebih sensitive terhadap keterbatasan ruang. Model P menggunakan basis interval waktu untuk melakukan order dan cenderung cukup stabil pada kapasitas terbatas dikarenakan order dilakukan pada saat t tetapi kurang cocok untuk permintaan yang fluktuatif. Tetapi berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa ketika penggunaan perhitungan kebijakan inventory yang menggunakan batasan luas Gudang dengan menggunakan Metode Langrange. Model Q lebih rendah secara biaya meskipun untuk jumlah order lebih besar karena adanya penggunaan safety stock. Model P dinilai lebih stabil dalam penggunaan ruang . emesanan terhadap . daripada Q yang lebih sensitif karena kebutuhan safety stock untuk mengatasi Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun Model Q lebih unggul secara biaya tetapi jumlah order yang dibutuhkan lebih banyak 12% dari Model P. Hasil numerik perhitungan biaya variable cost . iaya pesan dan biaya simpa. menunjukkan model P lebih tinggi 65,2 % dari Model Q sebesar 10,9 juta. Meskipun secara penggunaan ruangan, kedua model tersebut sudah memenuhi Batasan sebesar 4896 m2. Penggunaan batasan gudang membuat tiap metode dipaksa untuk menyesuaikan batasan tersebut, meskipun secara total biaya terdapat perbedaan. Pertimbangan multiple item single supplier juga menunjukkan bahwa perhitungan kebijakan persediaan tidak bisa dilakukan Gambar 3. Hubungan Variable cost dengan Penggunaan Gudang Pada Grafik Gambar 5 menunjukkan bahwa meskipun penggunaan gudang dioptimalkan untuk penggunaan Gudang maksimum, biaya yang ditimbulkan untuk Model P jauh lebih Sehingga, dapat disimpulkan bahwa model Q jauh lebih efisien secara biaya dibandingkan Model P untuk parameter yang Kendala Gudang membuat kedua model dipaksa untuk menggunakan area dudang mendekati atau sama dengan batasan luas Perubahan biaya penyimpanan tidak secara signifikan mengubah area gudang dikarenakan penyesuaian batasan Gudang menggunakan Langrangia untuk memenuhi batasan kapasitas Gudang. Penerapan dari penggunaan metode yang digunakan pada penelitian ini cukup relevan untuk diterapkan di perusaahaan mengingat batasan luas menjadi sangat krusial dan juga penggunaan multiple item single supplier menjadi hal yang penting untuk efisiensi proses. Kebijakan inventory probabilistik lebih cocok digunkan untuk perusahaan mengingat permintaan dari customer sangat fluktuatif. Model Q yang cocok untuk permintaan dengan fluktuasi yang tinggi dan Model P cocok untuk permintaan yang lebih stabil tetapi karena penggunaan batasan luas gudang yang digunakan maka kedua model dipaksa untuk menyesuaikan batas tersebut. Hal yang bisa Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License Program Studi Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia Matrik : Jurnal Manajemen & Teknik Industri Ae Produksi Volume XXVI. No. Maret 2026. Halaman 251 - 260 p-ISSN: 1693-5128, e-ISSN : 2621-8933 doi: 10. 350587/Matrik v26i2. masing masing. Kebijakan satu item akan berimbas pada item yang lain terutama jika perusahan menggunakan shared warehouse. Kebijakan persediaan harus dilakukan dengan banyak pertimbangan termasuk didalamnya kelangsungan produksi, kesalahan dalam pengelolaan persediaan satu item akan berimbas pada keseluruhan produksi. Penggunaan gudang yang melibatkan banyak item didalamnya tidak memungkinkan jika hanya memprioritaskan satu item saja. Penelitian mempertimbangkan terkait analisis kelayakan untuk memperluas wilayah gudang atau Pemaksimalan penggunaan gudang bisa dilakukan jika memang mencukupi untuk pemaksimalan tersebut beimbas kepada kenaikan biaya maka perlu dilakukan analisis terhadap kapasitas gudang yang optimal. Selain itu pengembangan penelitian selanjutnya bisa menganalisis terkait pengelolaan persediaan yang lebih adaptif dimana bisa lebih menyesuaikan permintaan pasar untuk perhitungan inventory menggunakan demand based inventory . Daftar Pustaka