Volume 4 No. Tahun 2024 Halaman 16 Ae 32 ISSN (Onlin. 3025-1443 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Pengaruh Motivasi Ekstrinsik dan Prokrastinasi Akademik Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas IX dalam Pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo Chindy Adelya Brilliane Aurellio . Dian Ayu Larasati . Ketut Prasetyo . Nuansa Bayu Segara . 1, 2, 3, . S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia Abstrak Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar IPS peserta didik kelas IX pada tiga SMP Negeri di Kecamatan Sidoarjo. Terdapat tiga tujuan pada penelitian ini, yaitu . Untuk mengetahui pengaruh signifikan dari motivasi ekstrinsik terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS, . Untuk mengetahui pengaruh signifikan dari prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS, dan . Untuk mengetahui pengaruh signifikan dari motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik secara simultan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei dan desain korelasi, sedangkan analisis datanya menggunakan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa . Motivasi ekstrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar IPS, dengan memperoleh nilai t-hitung . > t-tabel . dan nilai signifikansi sebesar . < . Prokrastinasi akademik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar IPS, dengan memperoleh nilai t-hitung (-2,. > t-tabel . dan nilai signifikansi sebesar . < . Motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPS, dengan memperoleh nilai f-hitung . > f-tabel . dan nilai signifikansi . < . serta kontribusi pengaruhnya sebesar 53,4%. Kata Kunci: Motivasi. Prokrastinasi dan Hasil Abstract This study aims to determine the factors that influence the learning outcomes of grade IX students at three public junior high schools in Sidoarjo District. There are three objectives in this study, namely: . To determine the significant effect of extrinsic motivation on the learning outcomes of grade IX students in social studies learning, . To determine the significant effect of academic procrastination on the learning outcomes of grade IX students in social studies learning, and . To determine the significant simultaneous effect between extrinsic motivation and academic procrastination on the learning outcomes of grade IX students in social studies learning. This study is a quantitative study using survey methods and correlational design, while data analysis uses multiple linear regression analysis. Based on the research that has been conducted, the results of the study indicate that . Extrinsic motivation has a significant influence on social studies learning outcomes, by obtaining a calculated t value of . > t table . and a significance level of . < . Academic procrastination has a significant influence on social studies learning outcomes, by obtaining a calculated t value of (-2,. > t table . and a significance level of . < . Extrinsic motivation and academic procrastination simultaneously have a significant influence on social studies learning outcomes, by obtaining a calculated F value of . > F table . and a significance level of . < . with a contribution of 53,4%. Keywords: Motivation. Procrastination. Outcomes How to Cite: Aurellio. Larasati. Prasetyo. , & Segara. Pengaruh Motivasi Ekstrinsik dan Prokrastinasi Akademik Terhadap Hasil Belajar IPS Peserta Didik Kelas IX di SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 4 . : halaman 16 Ae 32 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 PENDAHULUAN Di sekolah setiap individu akan mengikuti serangkaian proses pembelajaran yang menuntut mereka untuk terus belajar. Salah satu mata pelajaran yang dipelajari oleh peserta didik pada jenjang SMP yaitu mata pelajaran IPS. IPS mempelajari tentang kehidupan sosial masyarakat dengan memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti geografi, sosiologi, antropologi, ekonomi, sejarah dan politik. IPS dirumuskan berdasarkan realitas dan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat dan digunakan untuk mempelajari realitas dan fenomena tersebut, dengan menggunakan pendekatan terpadu dalam implementasinya di sekolah yang bermanfaat bagi peserta didik (Darsono & Karmilasari, 2. Mata pelajaran IPS di SMP akan dipelajari peserta didik melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran sendiri memiliki kesamaan arti dengan kata AuinstructionAy yang berarti pengajaran. Sederhananya pembelajaran bermakna sebagai suatu cara mengajar yang pada prosesnya melibatkan beberapa pihak seperti guru dan peserta didik (Makki & Aflahah, 2. Guru berperan penting dalam mewujudkan proses pembelajaran yang efektif karena itu guru bertugas untuk merencanakan, membimbing hingga melakukan evaluasi terhadap proses belajar peserta didik (Siti Nurzannah, 2. Evaluasi adalah penilaian terhadap kualitas sesuatu. Sedangkan evaluasi pembelajaran sendiri memiliki makna sebagai suatu proses pengambilan keputusan terkait keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang dilakukan secara terstruktur (Rahman & Nasryah, 2. Evaluasi pembelajaran memiliki tujuan salah satunya yaitu untuk mengetahui perkembangan belajar peserta Evaluasi pembelajaran dapat diperoleh berdasarkan berbagai bentuk penilaian terhadap peserta didik, salah satunya seperti penugasan yang diberikan oleh guru. Pemberian tugas tersebut melatih peserta didik untuk menjawab dan menyelesaikan beberapa persoalan yang tertuang di dalamnya (Sakum et al. , 2. Sehingga pemberian tugas dapat mendorong peserta didik untuk aktif Beberapa guru SMP Negeri di Kecamatan Sidoarjo yaitu guru IPS kelas IX di SMP Negeri 3, 4 dan 5 diketahui juga sering memberikan tugas secara berkala. Setelah melakukan wawancara dengan salah satu guru IPS di SMP Negeri 5 Sidoarjo pada bulan Agustus 2023, diketahui bahwa tugas yang diberikan merupakan salah satu cara beliau dalam menilai pemahaman peserta didik serta mendukung implementasi pembelajaran yang tidak lagi berpusat pada pendidik sehingga keaktifan belajar peserta didik akan meningkat karena mereka terus dibiasakan untuk menyelesaikan suatu persoalan melalui penugasan. Alasan serupa juga diungkapkan oleh guru IPS di SMP Negeri 3 dan 4 Sidoarjo. Namun berdasar pada hasil wawancara dengan 4 peserta didik kelas IX SMP Negeri 5 Sidoarjo pada bulan Agustus 2023 kaitannya dengan tugas pada mata pelajaran IPS. Peneliti memperoleh informasi bahwa peserta didik merasa bosan, terbebani, kesulitan dan tidak senang apabila mendapatkan banyak tugas hingga akhirnya mereka memilih untuk menunda mengerjakan, sering terlambat mengumpulkan bahkan ketika belum mengerjakan tugas mereka tidak merasa cemas karena masih banyak temannya yang juga belum menyelesaikan tugas. Pendapat peserta didik kelas IX SMP Negeri 5 Sidoarjo kenyataannya juga senada dengan pendapat peserta didik kelas IX di SMP Negeri 3 dan 4 Sidoarjo. Diperoleh informasi dari 4 peserta didik kelas IX SMP Negeri 3 dan 4 Sidoarjo di bulan Mei 2024, diketahui bahwa mereka juga merasa bahwa tugas merupakan hal yang membebani karena tugas yang diberikan tidak hanya berupa tugas individu melainkan juga tugas kelompok dan pemberian tugas dirasa terlalu sering sehingga membuat mereka merasa bosan. Ketika melakukan observasi pada bulan Agustus-November 2023 pada kelas IX di SMP Negeri 5 Sidoarjo, peneliti juga mengamati bahwa sebagian besar peserta didik mengerjakan tugas di sekolah ketika mendekati bahkan melewati batas waktu pengumpulan tugas, mereka juga memilih untuk tidak mengerjakan dengan usaha sendiri melainkan menyalin hasil pengerjaan temannya dengan alasan merasa kesulitan untuk menemukan jawaban dari soal yang ditugaskan. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Fakta yang ditemukan pada pembelajaran IPS kelas IX di SMP Negeri 3, 4 dan 5 Sidoarjo menunjukkan adanya kecenderungan perilaku negatif peserta didik dalam merespon tugas. Guru IPS dari seluruh sekolah juga sependapat dengan pernyataan tersebut, yang mana beliau mengungkapkan bahwa hampir seluruh kelas di tingkat kelas IX masih memiliki tagihan tugas. Perilaku individu yang seringkali menghindari dan menunda mengerjakan suatu tugas akademik secara berulang-ulang dengan sengaja kemudian melakukan aktivitas lain yang dirasa menyenangkan merupakan pengertian dari prokrastinasi akademik (Indrawati & Pedhu, 2. Sebutan bagi orang-orang yang sering melakukan penundaan untuk mengerjakan suatu tugas adalah prokrastinator (Yudha et al. , 2. Respon negatif peserta didik terhadap tugas IPS ini tergolong ke dalam perilaku prokrastinasi Berdasarkan informasi yang diperoleh dari 6 peserta didik kelas IX dari SMP Negeri 3, 4 dan 5 Sidoarjo pada bulan Mei 2024, diketahui bahwa alasan yang melatarbelakangi mereka seringkali mengumpulkan tugas dengan terlambat karena merasa kesulitan menjawab soal-soal yang ditugaskan, terbiasa menunggu jawaban dari teman dan tidak pernah mendapatkan hukuman ketika tugas dikumpulkan dengan terlambat namun hanya diberikan teguran dan ancaman seperti akan memberi nilai yang rendah. Meskipun begitu mereka menganggap itu hanyalah sebuah gertakan saja karena beberapa dari mereka masih sering mengumpulkan tugas secara terlambat namun nilai yang diperoleh tidak berbeda jauh dengan yang mengumpulkan tugas tepat waktu. Apabila prokrastinasi akademik ini terus dilakukan maka akan menjadi kebiasaan buruk yang akan menyebabkan timbulnya dampak negatif seperti hasil belajar yang rendah (Dharma, 2. Penelitian Zuraidah dkk telah memperoleh hasil yang mendukung pernyataan tersebut. Bahwasannya hasil belajar dipengaruhi oleh prokrastinasi akademik secara negatif (Zuraidah et al. , 2. Hal serupalah yang kemudian juga dialami oleh peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri 3, 4 dan 5 Sidoarjo yang memiliki variasi pada nilai ujiannya yakni terdapat peserta didik yang telah memperoleh nilai lebih, sama dengan dan kurang dari nilai KKM yang ditentukan oleh sekolah pada mata pelajaran IPS yaitu 80. Selanjutnya berdasarkan informasi yang diperoleh dari guru IPS kelas IX pada masing-masing sekolah diketahui bahwa peserta didik kelas IX masih banyak yang memperoleh nilai di bawah KKM atau hasil belajarnya masih tergolong rendah, salah satunya ketika ulangan harian seringkali di setiap kelas jumlah peserta didik yang mengikuti remidial lebih banyak dibanding yang mengikuti pengayaan. Nasution . alam Nabillah & Abadi, 2. menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah mendapatkan pengalaman belajar dengan mencakup tiga aspek yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain dipengaruhi oleh prokrastinasi akademik, hasil belajar yang rendah juga dapat dipengaruhi langsung oleh motivasi. Motivasi menjadi daya pendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas belajar yang positif, sehingga apabila peserta didik tidak memiliki motivasi maka semangat belajarnya akan tergolong rendah dan akhirnya berdampak pada hasil belajarnya. Berdasar hasil pengamatan peneliti ketika melakukan pembelajaran IPS di kelas dengan guru IPS dan peserta didik kelas IX di SMP Negeri 5 Sidoarjo diketahui bahwa sikap yang ditunjukkan peserta didik ketika mengikuti pembelajaran IPS menandakan bahwa mereka memiliki motivasi belajar yang cukup rendah karena seringkali mengabaikan guru ketika menjelaskan materi dengan berbicara bersama teman sebangku, merasa mengantuk ditandai dengan beberapa kali menguap, sangat minim bersaing untuk berebut menjawab ketika guru memberikan pertanyaan dan seringnya mengeluh ketika diberikan suatu tugas. Berdasar hasil wawancara dengan 4 peserta didik kelas IX dari SMP Negeri 3 dan 4 Sidoarjo sikapsikap seperti penjelasan di atas juga dilakukan oleh sebagian dari mereka pada saat pembelajaran IPS di kelas dengan alasan bahwa mereka merasa bosan karena pembelajaran dilakukan dengan hanya mendengarkan guru berceramah dan terkadang ketika gurunya berhalangan untuk mengajar di kelas karena ada kepentingan lain di sekolah maka akan diganti dengan tugas. Djamarah . alam Indrawati & Pedhu, 2. menyebutkan bahwa motivasi terbagi menjadi 2 jenis yaitu motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Apabila merujuk pada sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 peserta didik kelas IX dari ketiga SMP Negeri di Kecamatan Sidoarjo dalam pembelajaran IPS tergolong pada jenis motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif yang berasal dari stimulus luar diri peserta didik seperti lingkungan, motif inilah yang dapat memicu semangat peserta didik untuk belajar dan berusaha meraih hasil belajar yang baik (Kurniati et al. , 2. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik peserta didik menurut Uno (Kasdiyanti et al. , 2. yaitu memberikan penghargaan dalam belajar, memberikan aktivitas belajar yang menyenangkan dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik peserta didik dalam belajar melalui beberapa cara tersebut, maka tidak terlepas dari keterlibatan peran guru untuk mewujudkannya. Hal itu dikarenakan guru memiliki peranan penting untuk dapat membantu peserta didik mencapai keberhasilan dalam belajarnya. Namun realitanya diketahui bahwa guru pengajar mata pelajaran IPS pada ketiga sekolah di SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo ini masih menerapkan pembelajaran yang konvensional dan pada akhirnya membuat peserta didik berpendapat bahwa pembelajaran IPS merupakan pembelajaran yang tidak menyenangkan dan membosankan. Hal itu mengartikan bahwa guru belum mewujudkan aktivitas pembelajaran yang dirasa menyenangkan oleh peserta didik sebagai salah satu cara dalam menumbuhkan motivasi ekstrinsik. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi ekstrinsik peserta didik masih cenderung rendah dilihat berdasarkan sikap yang ditunjukkan ketika proses pembelajaran IPS berlangsung karena dilatarbelakangi oleh faktor dari luar dirinya yang salah satunya berasal dari peran guru pengajarnya. Motivasi ekstrinsik tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil belajar sehingga tidak heran apabila masih didapati peserta didik dengan nilai di bawah KKM seperti yang diungkapkan oleh guru IPS kelas IX pada masing-masing sekolah. Pernyataan tersebut senada dengan hasil penelitian dari Annisa Kasdiyanti dkk yang menjelaskan bahwa motivasi ekstrinsik dengan hasil belajar berhubungan secara positif. Artinya ketika motivasi ekstrinsik peserta didik tinggi maka hasil belajar akan meningkat, begitupun sebaliknya (Kasdiyanti et al. , 2. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, diperoleh rumusan masalah . Apakah motivasi ekstrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo?, . Apakah prokrastinasi akademik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo?, . Apakah motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo? METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini yaitu penelitian kuantitatif dengan desain korelasi dan metode survei untuk memberikan gambaran tentang kondisi peserta didik kelas IX kaitannya dengan sikap, perilaku dan fenomena yang terjadi dalam proses pembalajaran IPS. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Sidoarjo pada tiga SMP Negeri yaitu SMPN 3 Sidoarjo. SMPN 4 Sidoarjo dan SMPN 5 Sidoarjo. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas IX di tiga SMP Negeri tersebut, yang Sedangkan jumlah sampel penelitian ditentukan berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan taraf kesalahan 10% dan memperoleh sampel berjumlah 91 peserta didik. Sampel tersebut diambil dengan menggunakan teknik probability sampling jenis simple random sampling berbantuan Microsoft Excel. Penggunaan jenis simple random sampling didasarkan oleh beberapa pertimbangan utamanya adalah keterbatasan peserta didik kelas IX karena pada saat penelitian peserta didik sedang mempersiapkan segala keperluan untuk pendaftaran pada jenjang pendidikan selanjutnya dan tidak adanya pembelajaran efektif bagi kelas IX sehingga kehadiran peserta didik tidak dapat diprediksi. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Data dikumpulkan dengan menggunakan angket dan tes. Terdapat dua angket yaitu angket motivasi ekstrinsik dengan 20 butir pernyataan dan angket prokrastinasi akademik dengan 31 butir Sedangkan tes hasil belajar berjumlah 25 soal berbentuk pilihan ganda materi IPS kelas IX tentang AuInteraksi Antar Negara Asia dan Negara LainnyaAy. Sebelum digunakan sebagai instrumen penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji instrumen pada 30 peserta didik di luar sampel Setelah itu data uji coba instrumen dianalisis menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas untuk seluruh instrumen, sedangkan untuk instrumen tes hasil belajar juga dilakukan uji kesukaran, uji daya pembeda dan uji distraktor. Data yang telah terkumpul dari sampel penelitian selanjutnya dilakukan uji asumsi klasik sebagai uji pra-syarat sebelum menggunakan teknik analisis data yang terdiri atas uji normalitas data, uji linieritas, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinieritas. Setelah itu dilakukan analisis deskriptif, analisis korelasi Pearson Product Moment dan analisis regresi linier berganda sebagai uji hipotesis penelitian menggunakan aplikasi program SPSS 23. HASIL DAN PEMBAHASAN Instrumen penelitian yang telah dipersiapkan oleh peneliti perlu dilakukan uji coba sebelum digunakan untuk mengukur variabel. Hal itu bertujuan untuk mengetahui dan memberikan keyakinan bahwasannya instrumen yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan kelayakannya. Instrumen penelitian terlebih dahulu telah diuji coba pada 30 peserta didik yang bukan termasuk sampel penelitian. Berdasarkan data yang diperoleh dan telah diuji dengan beberapa tahap pengujian instrumen menggunakan aplikasi program SPSS 23. 0 diketahui bahwa hasil uji validitas 42 butir pernyataan pada angket motivasi ekstrinsik 20 di antaranya dinyatakan valid dan 22 lainnya tidak Sedangkan 42 butir pernyataan pada angket prokrastinasi akademik yang dinyatakan valid sebanyak 31 dan sisanya 11 tidak valid. Kemudian dari hasil uji validitas pada 40 butir soal tes IPS, 25 dinyatakan valid dan 15 dinyatakan tidak valid. Penerimaan validitas pada setiap butir pernyataan maupun butir soal didasari karena nilai sig. < 0,05 dan nilai r-hitung > r-tabel . Selanjutnya disajikan hasil uji reliabilitas pada masing-masing instrumen penelitian melalui tabel Tabel 1. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Instrumen N of Items CronbachAos Alpha Angket Motivasi Ekstrinsik 0,950 Angket Prokrastinasi Akademik 0,955 Soal Tes Hasil Belajar 0,842 Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Kriteria Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Dari tabel di atas, diketahui bahwa seluruh instrumen disimpulkan reliabel untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena nilai CronbachAos Alpha > 0,06. Lebih lanjut butir soal tes hasil belajar IPS berbentuk pilihan ganda juga dilakukan uji kesukaran, uji daya pembeda dan uji distraktor. Hasil uji kesukaran menunjukkan bahwa dari 25 soal, tidak ada soal yang termasuk pada kriteria sukar untuk dijawab dengan benar oleh peserta didik. Namun sebanyak 22 butir soal termasuk pada kriteria sedang dan 3 butir soal lainnya berada pada kriteria mudah untuk dijawab dengan benar oleh peserta didik. Hal itu dikarenakan nilai mean atau indeks kesukaran yang diperoleh pada keseluruhan butir soal berada pada rentang indeks kesukaran di atas 0,030. Hasil uji daya pembeda butir soal tes hasil belajar yang secara keseluruhan berjumlah 25. Terdapat 7 butir soal tes yang nilai indeks daya pembedanya berada pada rentang 0,41 - 0,70 sehingga tergolong dalam kriteria tingkat daya pembeda yang baik. Sedangkan 18 butir soal tes lainnya memperoleh nilai indeks daya pembeda yang mencapai rentang 0,21 - 0,40 yang artinya tingkat daya pembedanya tergolong pada kriteria yang cukup. Hasil uji distraktor menunjukkan bahwa setiap opsi jawaban distraktor pada setiap butir soal dapat dinyatakan berfungsi dengan baik Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 karena telah dipilih minimal 7% atau setara 2 peserta didik hingga 30% atau 9 peserta didik dari jumlah 30 peserta didik yang mengikuti tes uji coba butir soal. Sehingga seluruh opsi jawaban distraktor dapat digunakan dalam tes hasil belajar IPS sebagai instrumen penelitian karena sudah memenuhi syarat yaitu telah dipilih minimal 5% dari jumlah peserta didik yang mengikuti tes. Sebelum melakukan analisis korelasi Pearson Product Moment dan regresi linier berganda, terlebih dulu melakukan uji pra-sayarat yang terdiri dari 4 pengujian yaitu uji normalitas data, uji linieritas, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinieritas. Hasilnya dapat dijelaskan sebagai berikut. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Motivasi Ekstrinsik Asymp. Sig. -taile. 0,166c Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Prokrastinasi Akademik Hasil Belajar 0,200 0,053c Tabel 2 memberikan informasi bahwa hasil uji normalitas pada setiap data variabel penelitian telah terdistribusi secara normal dengan memperoleh nilai sig. > 0,05. Nilai signifikansi data variabel motivasi ekstrinsik sebesar 0,166 > 0,05. Data variabel prokrastinasi akademik nilai signifikansinya sebesar 0,200 > 0,05 dan data variabel hasil belajar memperoleh nilai signifikansi 0,053 > 0,05. Variabel Tabel 3. Hasil Uji Linieritas Nilai Signifikansi (Deviation from Linearit. X1 - Y 0,564 X2 - Y 0,125 Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Keterangan Hubungan Linier Hubungan Linier Tabel 3 telah menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen berkorelasi linier terhadap variabel dependen karena nilai sig. eviation from linearit. yang diperoleh > 0,05. Nilai sig. eviation from linearit. motivasi ekstrinsik (X. - hasil belajar (Y) sebesar 0,564 dan prokrastinasi akademik (X. - hasil belajar (Y) sebesar 0,125. Tabel 4. Hasil Uji Heteroskedastisitas Model Sig. 1 (Constan. 0,820 Motivasi Ekstrinsik 0,716 Prokrastinasi Akademik 0,783 Dependent Variable: ABS_RES Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Data pada tabel 4 menunjukkan bahwa hasil uji heteroskedastisitas data variabel motivasi ekstrinsik (X. terhadap absolut residual memperoleh nilai sig. 0,716 > 0,05 sedangkan hasil uji heteroskedastisitas dari variabel prokrastinasi akademik (X. terhadap absolut residual memperoleh nilai sig. 0,783 > 0,05 yang berarti bahwa data tidak mengalami heteroskedatisitas. Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas Model Collinearity Statistics Toleransi VIF 1 (Constan. 0,948 1,055 Motivasi Ekstrinsik 0,948 1,055 Prokrastinasi Akademik Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Dependent Variable: Hasil Belajar Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Tabel 5 menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antara kedua variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu antara variabel motivasi ekstrinsik (X. dengan variabel prokrastinasi akademik (X. Hal itu didasari oleh hasil uji multikolinieritas yang memenuhi dasar pengambilan keputusan dengan memperoleh nilai toleransi 0,948 > 0,1 dan nilai VIF 1,055 < 10. Setelah seluruh data dinyatakan telah memenuhi syarat uji asumsi klasik, maka tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis data berupa analisis deskriptif, analisis korelasi Pearson Product Moment, analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis yang hasilnya dapat dijelaskan sebagai berikut. Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1. Diagram Distribusi Frekuensi Motivasi Ekstrinsik Dari data yang telah tersaji pada gambar 1 diketahui bahwa motivasi ekstrinsik peserta didik paling banyak tergolong pada kategori rendah dengan total 34 dari 91 peserta didik sebagai sampel. Maka dapat disimpulkan bahwa motivasi ekstrinsik peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di ketiga SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo (SMPN 3. SMPN 4 dan SMPN 5 Sidoarj. tergolong pada kategori rendah. Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Gambar 2. Diagram Distribusi Frekuensi Prokrastinasi Akademik Dari data yang telah tersaji pada gambar 2 diketahui bahwa peserta didik paling banyak berada pada kategori sedang dengan yang berjumlah 37 dari 91 peserta didik sebagai sampel penelitian. Maka disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di ketiga SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo (SMPN 3. SMPN 4 dan SMPN 5 Sidoarj. tergolong pada kategori sedang. Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gambar 3. Diagram Distribusi Frekuensi Hasil Belajar IPS Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Dari keempat kategori yang terdapat pada gambar 3 diketahui bahwa nilai yang paling banyak diperoleh termasuk ke dalam kategori kurang karena nilainya < 80, sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar peserta didik kelas IX dari ketiga SMP Negeri di Kecamatan Sidoarjo (SMPN 3. SMPN 4 dan SMPN 5 Sidoarj. dalam pembelajaran IPS masih tergolong rendah. Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Sederhana Korelasi Sig. Keterangan X1 - Y 0,000 0,709 Hubungan Kuat X2 - Y 0,001 -0,336 Hubungan Rendah Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Tabel 6 menyajikan informasi terkait hasil uji korelasi sederhana pada masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan pada hasil di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik (X. dan hasil belajar (Y) memperoleh nilai sig. 0,000 < 0,05 yang berarti terdapat hubungan antara kedua variabel secara signifikan. Nilai R yang diperoleh sebesar 0,709 menjelaskan bahwa kekuatan hubungan keduanya termasuk pada kategori kuat dan berhubungan secara positif. Kemudian hasil uji korelasi antara prokrastinasi akademik (X. dengan hasil belajar (Y) memperoleh nilai sig. 0,001 < 0,05 yang berarti kedua variabel tersebut berhubungan secara signifikan. Nilai R yang diperoleh sebesar -0,336 menjelaskan bahwa kekuatan hubungan keduanya termasuk pada kategori rendah dan berhubungan secara negatif. Tabel 7. Hasil Uji Regresi Linier Berganda X1-X2 Terhadap Y Model Unstandardized Coefficients Sig. Std. Error 1 (Constan. 59,542 12,214 0,000 Motivasi Ekstrinsik 0,803 0,090 0,000 Prokrastinasi Akademik -0,321 0,131 0,016 Dependent Variable: Hasil Belajar Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Berdasar pada nilai-nilai yang tersaji pada tabel di atas, selanjutnya diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut : Y = 59,542 0,803X1 - 0,321X2 Keterangan: Konstanta memiliki nilai sebesar 59,542 artinya jika nilai dari variabel motivasi ekstrinsik (X. dan variabel prokrastinasi akademik (X. 0 maka nilai variabel hasil belajar (Y) sebesar 59,542. Koefisien regresi variabel motivasi ekstrinsik (X. sebesar 0,803 yang mengartikan bahwa setiap penambahan 1 unit nilai variabel motivasi ekstrinsik (X. akan diikuti dengan peningkatan nilai variabel hasil belajar (Y) sebesar 0,803 dengan asumsi nilai variabel prokrastinasi akademik (X. Koefisien regresi yang diperoleh tersebut bernilai positif, artinya motivasi ekstrinsik memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar. Koefisien regresi variabel prokrastinasi akademik (X. sebesar -0,321 yang mengartikan bahwa setiap penambahan 1 unit nilai variabel prokrastinasi akademik (X. akan diikuti dengan penurunan nilai variabel hasil belajar (Y) sebesar -0,321 dengan asumsi nilai variabel motivasi ekstrinsik tetap. Koefisien regresi yang diperoleh tersebut bernilai negatif, artinya prokrastinasi akademik memiliki pengaruh negatif terhadap hasil belajar. Tabel 8. Hasil Uji t-Parsial (H. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Model t-Tabel t-Hitung Motivasi Ekstrinsik 1,987 8,923 Dependent Variable: Hasil Belajar Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Sig. 0,000 Tabel 8 merupakan hasil uji t-parsial untuk menguji ada tidaknya pengaruh dari satu variabel independen terhadap satu variabel dependen, yang dalam penelitian ini yaitu pengaruh dari motivasi ekstrinsik (X. terhadap hasil belajar (Y). Dilihat dari hasil yang terdapat pada tabel diketahui bahwa nilai t-hitung . > t-tabel . dan nilai sig. 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan hipotesis kesatu (H. yang berbunyi Aumotivasi ekstrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan SidoarjoAy diterima. Tabel 9. Hasil Uji t-Parsial (H. Model t-Tabel t-Hitung Sig. Prokrastinasi Akademik 1,987 Dependent Variable: Hasil Belajar Sumber : Data diolah peneliti, 2024. -2,454 0,016 Tabel 9 merupakan hasil uji t-parsial untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari variabel prokrastinasi akademik (X. terhadap hasil belajar (Y). Dilihat dari hasil yang terdapat pada tabel di atas, diketahui bahwa nilai t-hitung (-2,. > t-tabel . dan nilai sig. 0,016 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan hipotesis kedua (H. yang berbunyi Auprokrastinasi akademik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan SidoarjoAy diterima. Tabel 10. Uji f-Simultan (H. Model f-Tabel f-Hitung Sig. Regresi 3,10 50,451 0,000 Dependent Variable: Hasil Belajar Predictors: (Constan. Prokrastinasi Akademik. Motivasi Ekstrinsik Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Tabel 10 merupakan hasil uji f-simultan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari lebih dari satu variabel independen terhadap satu variabel dependen, yang dalam penelitian ini terdapat dua variabel independen yaitu motivasi ekstrinsik (X. dan prokrastinasi akademik (X. dan satu variabel dependen yaitu hasil belajar (Y). Dilihat dari hasil yang terdapat pada tabel di atas diketahui bahwa nilai f-hitung . > f-tabel . dan nilai sig. 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan hipotesis ketiga (H. yang berbunyi Aumotivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan SidoarjoAy diterima. Tabel 11. Hasil Uji Koefisien Determinasi X1-X2 Terhadap Y Model Summary R-Square Adjusted R-Square Std. Error of the Estimate Model 0,731a 0,534 0,524 7,970 Predictors: (Constan. Motivasi Ekstrinsik. Prokrastinasi Akademik Sumber : Data diolah peneliti, 2024. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Berdasarkan tabel 11 diketahui bahwa besaran pengaruh yang diberikan variabel motivasi ekstrinsik (X. dan prokrastinasi akademik (X. terhadap variabel hasil belajar (Y) dapat dilihat dari nilai RSquare yang diperoleh yaitu sebesar 0,534 yang artinya motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik memberikan pengaruh sebesar 53,4% terhadap hasil belajar. Pengaruh Motivasi Ekstrinsik Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas IX dalam Pembelajaran IPS Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada data motivasi ekstrinsik dan data hasil belajar yang telah dikumpulkan melalui proses penelitian. Lebih lanjut dijelaskan bahwa motivasi ekstrinsik dan hasil belajar peserta didik kelas IX dari SMPN 3 Sidoarjo. SMPN 4 Sidoarjo dan SMPN 5 Sidoarjo sama-sama tergolong rendah. Hasil uji korelasi sederhana menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara motivasi ekstrinsik dengan hasil belajar karena memperoleh nilai sig. 0,000 < 0,05 dan nilai R sebesar 0,709. Pada uji hipotesis kesatu (H. yang berbunyi Aumotivasi ekstrinsik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan SidoarjoAy diketahui telah diterima dengan perolehan nilai sig. sebesar 0,000 < 0,05 dan t-hitung . > t-tabel . Nilai t-tabel yang bertanda positif menunjukkan bahwa arah pengaruh yang diberikan bersifat positif atau searah. Hal itu merupakan kondisi yang dialami oleh peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di tiga SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo karena adanya motivasi ekstrinsik yang rendah mengakibatkan hasil belajar yang diperoleh menjadi rendah. Berdasarkan indikator yang digunakan untuk mengukur motivasi ekstrinsik dapat dijelaskan yang pertama yaitu Auadanya penghargaan dalam belajarAy yang diberikan utamanya dari pihak guru pengajar sangat dibutuhkan untuk mendorong motivasi ekstrinsik peserta didik dengan melakukan beberapa hal seperti memberikan penghargaan secara verbal berupa memberi pujian maupun secara fisik dengan memberikan tepuk tangan dan memberi Secara keseluruhan disimpulkan bahwa motivasi ekstrinsik peserta didik berdasarkan indikator ini tergolong pada kategori sedang, namun 26 peserta didik masih tergolong rendah dan 9 peserta didik lainnya tergolong sangat rendah. Hal itu menunjukkan bahwa sebagian peserta didik masih merasa adanya penghargaan dalam belajar belum dapat meningkatkan motivasi ekstrinsiknya. Guru juga memiliki tuntutan untuk senantiasa memberikan kegiatan yang menarik dalam proses belajar peserta didik, hal ini tentu berkaitan dengan model, media dan metode pembelajaran yang yang digunakan. Analisis deksriptif indikator kedua Auadanya kegiatan yang menarik dalam belajarAy disimpulkan tergolong pada kategori sedang tetapi 29 peserta didik di antaranya berada pada kategori rendah dan 7 lainnya tergolong pada kategori sangat rendah, hal itu menunjukkan bahwa sebagian peserta didik tidak merasakan adanya kegiatan yang menarik dalam proses belajarnya karena didasari oleh beberapa aspek yang apabila merujuk dari butir-butir pernyataan pada angket motivasi ekstrinsik seperti metode yang digunakan oleh guru pengajar IPS-nya dominan menggunakan metode ceramah sehingga seringkali dirasa membosankan, media yang sering digunakan berupa PPT terkesan monoton dan kegiatan ice breaking sangat minim dilakukan. Indikator ketiga Auadanya lingkungan belajar yang kondusifAy meliputi beberapa aspek pendukung yaitu hubungan baik antara guru dengan peserta didik, hubungan antara peserta didik dengan peserta didik, pengelolaan lingkungan belajar, sikap guru pengajar serta ketersediaan sarana dan pra-sarana belajar (Arianti, 2. Diketahui bahwa hasil analisis deksriptif data motivasi ekstrinsik pada indikator tersebut tergolong pada kategori rendah, namun 5 peserta didik lainnya tergolong pada kategori sangat rendah. Sehingga mengartikan bahwa sebagian peserta didik tidak mendapatkan dorongan motivasi ekstrinsik karena lingkungan belajar yang kondusif meliputi ketersediaan fasilitas belajar yang disediakan oleh sekolah seperti kelengkapan buku-buku di perpustakaan yang Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 mendukung proses belajar, sikap tegas yang ditunjukkan oleh guru, hubungan baik dengan guru, hubungan dengan teman kelas dan kondisi kelas. Penerimaan hipotesis kesatu (H. yang pada dasarnya dilandasi oleh teori hierarki kebutuhan Maslow yang membahas mengenai kebutuhan manusia. Kaitannya dengan pendidikan. Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk bisa mencapai hasil belajar yang maksimal (Abidin, 2. Hal itu disebabkan karena kebutuhan erat kaitannya dengan Motivasi memiliki peranan yang sangat penting untuk mendorong peserta didik giat melakukan aktivitas belajar, motivasi tersebut dapat tumbuh karena peserta didik merasa memiliki kebutuhan yang harus terpenuhi. Peserta didik yang telah memenuhi kebutuhan dasarnya maka ia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang lain hingga terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tertinggi. Pada penelitian ini salah satu kebutuhan menurut Maslow yaitu kebutuhan untuk dihargai dapat menumbuhkan motivasi peserta didik karena untuk memenuhi kebutuhan ini, maka peserta didik harus melakukan berbagai aktivitas belajar yang positif seperti bersikap aktif ketika belajar di kelas, mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, mengerjakan setiap soal ujian dengan optimal dan belajar dengan giat untuk mendapatkan hasil belajar yang tinggi. Halhal tersebut tentu membuat peserta didik berpotensi mendapatkan pujian maupun hadiah dari guru, orang tua bahkan teman kelas sebagai bentuk penghargaan atas dirinya. Semakin kuat penghargaan orang lain atas dirinya, maka semakin tinggi pula motivasinya untuk menunjukkan prestasinya Oleh karena itu, penting bagi beberapa pihak utamanya guru untuk menciptakan kondisi yang membuat peserta didik merasa bahwa penghargaan atas dirinya merupakan suatu kebutuhan yang harus terpenuhi salah satunya dengan mencapai keberhasilan dalam belajar. Hasil penelitian ini mendukung hasil dari penelitian terdahulu seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Nova Kurniati dkk dengan judul penelitian AuPengaruh Motivasi Ekstrinsik Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Peserta Didik Kelas X IPS SMA Negeri 1 Buay MadangAy yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh motivasi ekstrinsik terhadap hasil belajar dibuktikan dengan perolehan nilai thitung . > t-tabel . (Kurniati et al. , 2. Selain itu, penelitian ini juga mengembangkan hasil penelitian dari Annisa Kasdiyanti S dkk dengan judul penelitian AuHubungan Motivasi Ekstrinsik dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Se-Gugus Kecamatan Marpoyan Damai PekanbaruAy yang hasil penelitiannya hanya menunjukkan arah hubungan dan tingkat keeratan hubungan antar variabel dengan memperoleh nilai R sebesar 0,452 (Kasdiyanti et al. , 2. Sedangkan penelitian ini mengembangkan melalui pengujian secara lebih spesifik untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang diberikan motivasi ekstrinsik terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di tiga SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo. Pengaruh Prokastinasi Akademik Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas IX dalam Pembelajaran IPS Berdasar pada hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa peserta didik kelas IX dari SMPN 3 Sidoarjo. SMPN 4 Sidoarjo dan SMPN 5 Sidoarjo dalam pembelajaran IPS terindikasi melakukan prokrastinasi akademik dalam kategori sedang dan hasil belajarnya tergolong rendah. Hasil belajar yang rendah tersebut diprediksi telah dipengaruhi oleh prokrastinasi akademik yang tergolong Dibuktikan melalui hasil uji korelasi sederhana yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara prokrastinasi akademik dengan hasil belajar dengan memperoleh nilai sig. < . dan nilai R sebesar -0,336. Serta penerimaan hipotesis kedua (H. yang berbunyi Auprokrastinasi akademik berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan SidoarjoAy dengan merujuk pada hasil uji-t parsial yang memperoleh nilai sig. < . dan nilai t-hitung (-2,. > t-tabel . Nilai t-tabel yang bertanda negatif menunjukkan bahwa arah pengaruh yang diberikan bersifat negatif atau berlawanan arah. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 Perilaku prokrastinasi akademik peserta didik kelas IX di SMP Negeri 3 Sidoarjo. SMP Negeri 4 Sidoarjo dan SMP Negeri 5 Sidoarjo yang tergolong sedang dalam pembelajaran IPS diketahui berdasarkan beberapa tindakan yang mencirikan aktivitas prokrastinasi akademik. Tindakantindakan tersebut tidak lain adalah keempat indikator yang digunakan dalam mengukur prokrastinasi akademik yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya yaitu penundaan dalam memulai dan menyelesaikan tugas, keterlambatan dalam menyelesaikan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual, melakukan aktivitas lain yang dirasa lebih menyenangkan dibandingkan mengerjakan tugas. Keempat tindakan yang mencirikan perilaku prokrastinasi akademik tentu cenderung pada hal yang negatif, sebab dengan menunda mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas akan berdampak pada berkurangnya waktu untuk melakukan aktivitas belajar yang positif dalam upaya menyelesaikan tugas seperti membaca ulang buku catatan maupun memahami materi lebih dalam. Aktivitas belajar positif yang terabaikan tentu akan berdampak pada kurangnya melatih keterampilan berpikir peserta didik, ketidakmampuan dalam memahami materi yang sulit, timbul perasaan pesimis untuk bisa menyelesaikan tugas dengan benar dan tepat waktu, menggantungkan diri kepada teman, hasil pengerjaan tugas tidak optimal, tidak dapat menyelesaikan dengan tepat waktu hingga pada akhirnya berpengaruh pada perolehan hasil belajar yang rendah. Hasil belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, adapun faktor internal yang dapat memengaruhi hasil belajar peserta didik berkenaan dengan faktor psikologis di dalamnya termasuk pada perilaku prokrastinasi akademik (Anisa et al. , 2. Maka penting bagi beberapa pihak seperti guru dan orang tua untuk berperan dalam mengatasi kebiasaan prokrastinasi akademik yang dilakukan peserta didik tersebut, sebab kebiasaan yang buruk tentu akan diikuti dengan dampak yang buruk pula (Anisa et al. , 2. Pada penelitian ini menekankan pentingnya peran guru dalam mengatasi gejala bahkan kebiasaan prokrastinasi akademik peserta didik dalam pembelajaran IPS seperti memberikan punishment berupa memberikan nilai tugas yang jauh lebih rendah dari peserta didik yang tidak menunda-nunda dan menyelesaikan tugas dengan tepat waktu, memberikan tugas tambahan hingga memberikan teguran secara personal untuk memberikan efek jera, membuat peserta didik berpikir dan mampu mengidentifikasi bahwa menunda mengerjakan tugas merupakan tindakan yang tidak baik. Karena apabila guru bersikap toleran terhadap perilaku prokrastinasi akademik seperti sudah sering mengumpulkan tugas dengan terlambat namun tetap memberikan nilai yang tidak jauh berbeda dengan peserta didik yang disiplin dalam pengumpulan tugas maka akan memberikan peluang terjadinya pengulangan perilaku tersebut secara berkala. Penjelasan demikian selaras dengan pernyataan dari (Suparwi, 2. bahwa kondisi lingkungan dapat memengaruhi adanya prokrastinasi akademik salah satunya yaitu lingkungan sekolah yang berkenaan langsung dengan guru. Ketika seorang individu . eserta didi. berada pada kondisi lingkungan yang toleran terhadap tindakan prokrastinasi maka berpotensi meningkatkan tindakan tersebut. Namun apabila kondisi lingkungan memiliki pengawasan yang memadai maka perilaku prokrastinasi akademik peserta didik dapat terminimalisir dan tergolong pada kategori yang Meskipun hasil pengujian statistik yang menunjukkan bahwa tingkat prokrastinasi akademik peserta didik kelas IX di SMP Negeri 3 Sidoarjo. SMP Negeri 4 Sidoarjo dan SMP Negeri 5 Sidoarjo berada pada kategori sedang, namun prokrastinasi akademik tetap memberikan pengaruh negatif terhadap hasil belajar berupa rendahnya hasil belajar yang diperoleh. Pengaruh prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar ini berpijak pada teori kognitif sosial oleh Albert Bandura, yang mana dalam teorinya tersebut telah menjelaskan bagaimana perilaku prokrastinasi akademik terbentuk melalui hubungan resiprokal antara kepribadian, perilaku dan lingkungan (Suprijono, 2. Timbulnya hubungan resiprokal didasari pada belajar melalui pengamatan, dapat dijelaskan bahwa ketika peserta didik mengamati perilaku teman-temannya yang berhasil memperoleh nilai yang baik meskipun telah Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 menunda-nunda mengerjakan tugasnya bahkan mengumpulkan lewat dari batas waktu yang Maka selanjutnya hal tersebut menjadi sebuah informasi yang ia peroleh untuk kemudian dijadikan pertimbangan untuk melakukan tindakan serupa atau tidak yang dalam proses ini tentu saja akan melibatkan aspek kognitifnya, hingga menghasilkan perilaku sesuai dengan apa yang diamati dari temannya dengan melakukan peniruan. Setelah menirukan perilaku temannya kemudian ia memperoleh konsekuensi positif salah satunya berupa nilai tugas yang diperoleh masih tergolong baik maka konsekuensi tersebut sekaligus sebagai penguat untuk terus mengulangi tindakan prokrastinasi akademik (Yanuardianto, 2. Terbentuknya perilaku prokrastinasi akademik ini menjadi suatu perilaku yang tergolong negatif, begitupun dampak yang akan diberikan juga tergolong pada dampak negatif utamanya pada hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPS. Hal itu dikarenakan dengan melakukan prokrastinasi maka akan mengurangi waktu yang tersedia untuk berlatih dan memperdalam materi akibatnya peserta didik akan merasa kesulitan ketika dihadapkan dengan berbagai soal ujian yang berasal dari materi yang sebetulnya sudah dipelajari sebelumnya. Tentu jawaban yang diberikan pun belum optimal bahkan terkadang memilih untuk tidak memberikan jawaban ketika benar-benar merasa kesulitan dalam menjawabnya, akibatnya nilai yang diperoleh cenderung tergolong pada kategori nilai yang rendah. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian terdahulu seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Makbul dan Nur Aini Farida dengan judul penelitiannya yaitu AuPengaruh Prokrastinasi Akademik Terhadap Hasil Belajar Teknik Evaluasi Pembelajaran Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Singaperbangsa KarawangAy yang memperoleh nilai sig. < . artinya terdapat pengaruh prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar (Makbul & Farida, 2. Selain mendukung, hasil penelitian ini juga mengembangkan penelitian terdahulu tersebut terkait dengan subjek penelitiannya. Pada penelitian terdahulu subjeknya adalah mahasiswa sedangkan penelitian ini adalah peserta didik SMP kelas IX. Pengaruh Motivasi Ekstrinsik dan Prokrastinasi Akademik Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas IX dalam Pembelajaran IPS Pada penelitian ini secara operasional motivasi ekstrinsik diartikan sebagai suatu dorongan, daya penggerak dan minat individu untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan yang diharapkan karena mendapatkan stimulus dari luar. Kaitannya dengan penelitian ini, motivasi ekstrinsik merujuk pada dorongan atau minat peserta didik untuk melakukan aktivitas akademik yang positif dengan tujuan memperoleh hasil belajar yang baik karena mendapatkan stimulus dari luar dirinya. Sedangkan prokrastinasi akademik diartikan sebagai perilaku negatif peserta didik dalam bidang akademik yang menunjukkan adanya tindakan penundaan dalam memulai maupun menyelesaikan suatu tugas hingga mengakibatkan tidak terselesaikannya tugas secara tepat waktu. Yang mana kedua variabel tersebut diprediksikan berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini memiliki arti sebagai sebuah pencapaian yang diperoleh peserta didik berupa kemampuan dalam berpikir, bersikap dan bertindak dengan baik. Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh setelah peserta didik mendapatkan pengalaman dari berbagai aktivitas belajar yang telah dilakukannya. Hasil belajar diperlukan sebagai tolok ukur keberhasilan belajar peserta didik, yang dalam penelitian ini perolehan hasil belajar difokuskan pada aspek kognitif atau kemampuan berpikir peserta didik dengan mempertimbangkan faktor-faktor apa saja yang dapat memengaruhinya. Seperti yang telah dibahas pada paragraf sebelumnya bahwa terdapat dua faktor pada penelitian ini yang diprediksikan dapat memengaruhi hasil belajar yaitu motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik. Maka dari itu, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMPN 3 Sidoarjo. SMPN 4 Sidoarjo dan SMPN 5 Sidoarjo telah dilakukan penelitian terhadap 91 peserta didik yang terpilih secara acak sebagai sampel penelitian Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 untuk mengumpulkan data-data tersebut. Data dikumpulkan dengan menyebarkan angket motivasi ekstrinsik dan angket prokrastinasi akademik kemudian memberikan tes berupa soal IPS. Setelah itu dilakukan pengujian statistik terhadap hipotesis ketiga (H. yang berbunyi Aumotivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri Kecamatan SidoarjoAy untuk mengetahui diterima atau tidaknya hipotesis tersebut. Dari hasil uji-f diketahui bahwa telah memperoleh nilai f-hitung . > f-tabel . dan nilai sig. 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan hipotesis ketiga (H. Selain itu juga dilakukan analisis regresi linier berganda yang memperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 59,542 0,803X1 0,321X2 yang pada intinya menjelaskan bahwa setiap penambahan 1 unit nilai variabel motivasi ekstrinsik (X. akan diikuti dengan peningkatan nilai variabel hasil belajar (Y) sebesar 0,803 dengan asumsi nilai variabel prokrastinasi akademik (X. Koefisien regresi yang diperoleh tersebut bernilai positif, artinya motivasi ekstrinsik memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar. Sedangkan koefisien regresi yang diperoleh prokrastinasi akademik bernilai negatif yang berarti prokrastinasi akademik memiliki pengaruh negatif terhadap hasil belajar karena ketika nilai variabel prokrastinasi akademik (X. mengalami kenaikan setiap 1 unit nilai maka akan diikuti dengan penurunan nilai variabel hasil belajar (Y) sebesar -0,321 dengan asumsi nilai motivasi ekstrinsik (X. Selain melakukan beberapa pengujian yang telah dipaparkan sebelumnya. Penelitian ini juga melakukan uji koefisien determinasi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang diberikan motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di SMPN 3 Sidoarjo. SMPN 4 Sidoarjo dan SMPN 5 Sidoarjo. Sama seperti beberapa pengujian statistik lainnya, proses pengujian koefisien determinasi tersebut juga didasari oleh informasi yang diterima dari hasil analisis deskriptif yang menggambarkan bahwa kondisi motivasi ekstrinsik peserta didiknya berada dalam kategori rendah dengan rata-rata nilai yang diperoleh sebesar 53,53 kemudian disertai dengan adanya indikasi melakukan prokrastinasi akademik dalam kategori sedang dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 77,57 hingga akhirnya mengakibatkan hasil belajar yang diperoleh tergolong pada kategori kurang dengan rata-rata nilai sebesar 77,63. Setelah melakukan pengujian diketahui bahwa besaran pengaruh yang diberikan dua variabel independen terhadap satu variabel dependen dalam penelitian ini, memperoleh nilai R-Square sebesar 0,534. Nilai tersebut mengartikan bahwa motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik memberikan pengaruh sebesar 53,4% terhadap hasil belajar. Menanggapi terkait dengan beberapa hasil pengujian yang telah disajikan pada paragraf sebelumnya, maka penting bagi beberapa pihak salah satunya guru yang terlibat interaksi langsung dengan peserta didik untuk senantiasa mengupayakan peningkatan motivasi belajar ekstrinsiknya seperti menciptakan proses belajar yang interaktif namun menyenangkan dan mengatasi perilaku prokrastinasi akademik melalui pemberian hukuman maupun gertakan yang berarti guna meningkatkan hasil belajar IPS-nya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada dasarnya penerimaan hipotesis ketiga (H. tersebut berlandaskan pada teori-teori yang relevan untuk memperkuat hasil yang diperoleh. Penelitian ini menggunakan teori hierarki kebutuhan oleh Maslow dalam menjelaskan hubungan antara motivasi ekstrinsik dengan hasil belajar dan teori kognitif sosial oleh Albert Bandura untuk menjelaskan hubungan antara prokrastinasi akademik dengan hasil belajar. Seperti penjelasan paragraf sebelumnya yang berdasar pada hasil uji koefisien determinasi (R. yang telah menyatakan bahwa pengaruh simultan dari motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar berkisar pada angka 53,4%. Hal itu menunjukkan hasil yang wajar, sebab pada dasarnya hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik menjadi sebagian faktor yang juga berkontribusi memengaruhi hasil belajar. Faktor-faktor Dialektika Pendidikan IPS. Volume 4 . : 16-32 yang memengaruhi hasil belajar dikategorikan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal, seperti penjelasan dari (Anisa et al. , 2. bahwa faktor internal melibatkan fisiologis dan psikologis sedangkan faktor eksternal mencakup lingkungan sosial dan non-sosial. Berikut juga dijelaskan beberapa faktor lain yang memengaruhi hasil belajar selain variabel independen penelitian ini, dengan berdasar pada hasil penelitian terdahulu seperti penelitian dari Asri Wigati dan Ady Soejoto menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang diberikan motivasi belajar instrinsik terhadap hasil belajar sebesar 3,7% (Wigati & Soejoto, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Sutardi dan Sugiharsono membuktikan bahwa lingkungan keluarga memberikan pengaruh terhadap hasil belajar peserta didik sebesar 4,1%. Begitu pula dengan kompetensi guru juga memiliki pengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dengan memberikan sumbangsih pengaruh sebesar 7,8% (Sutardi & Sugiharsono, 2. Penelitian oleh Devina Putri Sekarsarih dkk juga membuktikan bahwa regulasi diri memberikan pengaruh sebesar 30% terhadap hasil belajar (Putri Sekarasih et al. Kemudian hasil penelitian dari Rofiq Faudy A dan M. Faizul Aufa menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar sebesar 8,5% (Akbar & Aufa, 2. Hasil penelitian ini merupakan bentuk pengembangkan dari beberapa hasil penelitian terdahulu salah satunya seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Salsabila Farodis Yusman dkk dengan judul AuPengaruh Pemberian Reinforcement dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII Mata Pelajaran IPSAy yang hasilnya menunjukkan bahwa pemberian reinforcement dan motivasi belajar berpengaruh terhadap hasil belajar (Farodis Yusman et al. , 2. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti berupaya mengembangkan penelitian dengan menspesifikan jenis motivasi belajar yang akan diteliti yaitu motivasi ekstrinsik dan menambahkan prokrastinasi akademik sebagai variabel independen dalam memengaruhi hasil belajar serta melakukan penelitian lebih luas pada peserta didik kelas IX di beberapa SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik terhadap hasil belajar peserta didik kelas IX dalam pembelajaran IPS di tiga SMP Negeri Kecamatan Sidoarjo yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa motivasi ekstrinsik berpengaruh terhadap hasil belajar IPS dengan memperoleh nilai t-hitung . > t-tabel . dan nilai sig. < . Prokrastinasi akademik juga berpengaruh terhadap hasil belajar IPS dengan memperoleh nilai t-hitung (-2,. > t-tabel . dan nilai sig. < . Hasil uji pengaruh simultan antara motivasi ekstrinsik dan prokrastinasi akademik diketahui memiliki pengaruh terhadap hasil belajar IPS dengan memperoleh f-hitung . > f-tabel . dan nilai . < . serta kontribusi pengaruh yang diberikan sebesar 53,4%. Terdapat beberapa saran yang disampaikan penulis bagi beberapa pihak yang pertama yaitu pihak sekolah sebaiknya memberikan program pengembangan bagi guru dan tanggap terhadap permasalahan yang rentan dianggap kecil. Kedua bagi guru IPS sebaiknya melakukan evaluasi bersama peserta didik secara berkala guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan sehingga mampu meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar dan menekan adanya prokrastinasi akademik terhadap tugas yang diberikan. Ketiga bagi peserta didik. sangat penting untuk belajar mengelola waktu dengan baik dimulai dari hal yang paling sederhana seperti membuat catatan berisi rincian tugas dan target penyelesaiannya serta mencari tahu model belajar yang diminati. DAFTAR PUSTAKA