Efektivitas Bimbingan Kelompok Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Self-Efficacy Karir Siswa Kelas XIISCI SMAN 1 Krian EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN SELF-EFFICACY KARIR SISWA KELAS XII-SCI SMAN 1 KRIAN Junita Jivana Amalia Putri Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya 20066@mhs. Abstrak Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas layanan bimbingan kelompok teknik problem solving untuk meningkatkan self-efficacy karir pada siswa kelas XII-SCI SMAN 1 Krian. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain penelitian pre-experimental one group pre-test post-test, serta analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistic non parametric yaitu uji Pengumpulan data yang digunakan yaitu menggunakan instrumen angket kuesioner guna mengukur tingkat self-efficacy karir peserta siswa kelas XII-SCI SMAN 1 Krian. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 8 peserta didik kelas XII-SCI yang memiliki kecenderungan self-efficacy karir rendah. Pada penelitian ini terlihat perubahan peserta didik dari rata-rata peningkatan yang diperoleh sebelum dan sesudah mendapatkan treatment sebesar 20,25 poin. Berdasarkan pada hasil interpretasi uji wilcoxon dengan bantuan SPSS Statistics 26 For Windows diperoleh nilai Asymp. Sig . -taile. sebesar 0,012 karena 0,012 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, dengan demikian dapat diartikan bahwa layanan bimbingan kelompok teknik problem solving efektif untuk meningkatkan self-efficacy karir pada siswa kelas XII-SCI SMAN 1 Krian. Kata Kunci: self-efficacy karir, bimbingan kelompok, dan teknik problem solving. Abstract This research aims to determine the effectiveness of problem solving technique group guidance services to improve career self-efficacy in class XII-SCI students of SMAN 1 Krian. The research method used is a quantitative method with a pre-experimental one group pre-test post-test research design, and data analysis in this study uses non-parametric statistics, namely the Wilcoxon test. Data collection used a questionnaire instrument to measure the level of career self-efficacy of class XII-SCI students of SMAN 1 Krian. The subjects in this study were 8 class XII-SCI students who had a tendency towards low career self-efficacy. In this study, changes in students were seen from the average increase obtained before and after receiving treatment of 20. 25 points. Based on the results of the interpretation of the Wilcoxon test with the help of SPSS Statistics 26 For Windows, the Asymp. Sig value . -taile. was obtained as 0. 012 because 0. <0. 05, it can be concluded that Ha is accepted, thus it can be interpreted that the problem solving technique group guidance service is effective in increasing career self-efficacy in class XII-SCI students of SMAN 1 Krian. Keywords: career self-efficacy, group guidance, and problem solving techniques. (Hakim et al. , 2. Individu mungkin kurang percaya diri dalam mengkomunikasikan keterampilan dan prestasi individu kepada calon pengusaha, sehingga mengurangi peluang individu untuk mendapatkan pekerjaan. Rendahnya self-efficacy karir juga dapat menciptakan sikap yang kurang proaktif dalam mencari peluang kerja atau berinovasi dalam mendekati pasar Lulusan yang kurang yakin dengan kemampuannya cenderung bersikap pasif dan kurang inisiatif, yang dapat menjadi hambatan serius dalam mencapai kesuksesan Self-efficacy karir tidak hanya mencakup aspek teknis atau keterampilan spesifik, tetapi juga melibatkan persepsi diri terkait kemampuan untuk menetapkan tujuan karir, mengatasi rintangan, dan memanfaatkan peluang. Oleh karena itu, program bimbingan karir yang fokus pada penguatan self-efficacy karir dapat menjadi langkah strategis untuk mengatasi masalah pengangguran di kalangan lulusan SMA. Rendahnya self-efficacy karir PENDAHULUAN Self-efficacy karir, atau keyakinan diri terkait kemampuan untuk merencanakan dan mencapai tujuan karir, memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan lulusan SMA di pasar kerja (Miswari, 2. Rendahnya tingkat self-efficacy karir dapat menjadi faktor utama yang mempengaruhi tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMA. Hal tersebut berdampak pada kemampuan lulusan dalam menentukan pilihan karir yang sesuai dengan minat, bakat, dan nilai-nilai pribadi individu. Kurangnya keyakinan diri dalam merencanakan langkahlangkah menuju karir yang diinginkan dapat mengarah pada pengambilan keputusan yang tidak tepat. Selain itu, tingkat self-efficacy karir yang rendah juga dapat mempengaruhi kemampuan lulusan dalam menghadapi tantangan dan persaingan di pasar kerja Efektivitas Bimbingan Kelompok Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Self-Efficacy Karir Siswa Kelas XIISCI SMAN 1 Krian dapat menjadi kendala serius bagi lulusan SMA dalam mencapai keberhasilan di pasar kerja. Dengan memperkuat keyakinan diri individu terkait kemampuan dan potensi karir, lulusan dapat meningkatkan daya saing individu, mengurangi tingkat pengangguran, dan meraih pencapaian karir yang lebih baik. Self-efficacy karir dapat dikembangkan sejak SMA melalui serangkaian langkah dan pengalaman positif (Dewi, 2. Pada tingkat pendidikan SMA, siswa dapat mulai memahami minat, bakat, serta nilai-nilai pribadi mereka yang dapat membentuk dasar pemilihan karir (Safitri et al. , 2. Peluang untuk eksplorasi karir, magang, dan pembimbingan juga dapat membantu mereka mengembangkan keyakinan diri terkait pilihan karir yang akan diambil di masa depan. Dengan dukungan yang tepat, siswa dapat membangun self-efficacy karir yang kuat seiring berjalannya waktu. Self-efficacy karir pada siswa merupakan hasil dari perjalanan pengembangan diri yang melibatkan sejumlah tahapan kritis. Proses ini tidak hanya mencakup pemahaman diri, tetapi juga memerlukan penerimaan tantangan, pengalaman praktis, dan dukungan Bimbingan kelompok dengan penerapan teknik problem solving merupakan salah satu strategi dalam membantu peserta didik membangun self-efficacy karir dan merencanakan masa depannya dengan lebih hati-hati. Layanan bimbingan kelompok teknik problem soving memberikan fungsi preventif yang kuat, mencegah peserta didik dari pilihan karir yang tidak sesuai (Hartanti, 2. Melalui sesi kelompok, peserta didik dapat berbagi dan mengidentifikasi hambatan serta tantangan yang dihadapi dalam merencanakan karir. Hal tersebut menciptakan kesadaran kolektif dan memungkinkan peserta didik untuk mengatasi hambatan secara bersama-sama (Wasono. Menggunakan teknik problem solving dalam diskusi kasus memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menganalisis situasi nyata dan mengembangkan strategi penyelesaian. Peserta didik belajar dari pengalaman orang lain, serta memperkaya wawasan tentang berbagai aspek karir. Dalam kelompok, peserta didik diajak untuk mengidentifikasi berbagai solusi alternatif terhadap tantangan karir yang mereka hadapi. Proses ini merangsang kreativitas dan membantu mereka melihat berbagai opsi yang mungkin, meningkatkan keyakinan diri mereka dalam menghadapi situasi Pernyataan tersebut sejalan dengan teori social learning yang dikemukakan oleh Albert Bandura yang Bandura menyimpulkan bahwa manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada Bimbingan kelompok dengan teknik problem solving dapat membantu peserta didik dalam merumuskan rencana karir yang terstruktur (Sumantri, 2. Melalui pendekatan ini, mereka belajar merinci langkah-langkah konkrit untuk mencapai tujuan karir, meningkatkan selfefficacy mereka dalam merencanakan masa depan. Sesi kelompok menciptakan lingkungan yang mendukung dan memberikan rasa saling mengerti. Peserta didik dapat merasa lebih percaya diri ketika mendapatkan dukungan dari sesama anggota kelompok, mengurangi risiko dalam membuat keputusan karir yang impulsif. Partisipasi dalam bimbingan kelompok dengan fokus pada teknik problem solving meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengatasi masalah karir (SaAoadah & Azmi, 2. Peserta didik belajar menjadi pemecah masalah yang efektif, membentuk self-efficacy yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan. Sesi kelompok juga mencakup evaluasi bersama terhadap rencana karir yang dihasilkan. Melalui refleksi dan umpan balik kolektif, peserta didik dapat mengidentifikasi potensi risiko dan memastikan bahwa rencana mereka sesuai dengan tujuan karir yang Dengan demikian, bimbingan kelompok dengan teknik problem solving bukan hanya memberikan pandangan mendalam terhadap berbagai aspek karir, tetapi juga membangun fondasi self-efficacy yang kokoh. Ini adalah langkah preventif yang efektif untuk mencegah peserta didik memilih jalur karir yang tidak sesuai dengan potensi dan minat mereka. Penelitian ini didasarkan pada fenomena kurangnya kematangan persiapan karir siswa kelas XIISCI SMAN 1 Krian yang disebabkan oleh rendahnya selfefficacy karir pada siswa. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti bersama Guru Bimbingan dan Konseling di SMAN 1 Krian, diperoleh data bahwa siswa kelas XII-SCI (Siswa Cerdas Istimew. atau akselerasi memiliki problematika mengenai kurangnya kematangan persiapan karir dikarenakan terbatasnya durasi persekolahan pada tingkat SMA yakni dua tahun. Siswa kelas XII-SCI cenderung lebih fokus pada ujianujian yang akan dihadapi dibandingkan dengan persiapan Sehingga ketika diberikan pertanyaan perihal rencana karir, terdapat sebagian siswa yang masih ragu dan bimbang. Maka dari itu, pemberian layanan karir berupa bimbigan kelompok teknik problem solving dinilai penting sebagai upaya preventif bagi peserta didik agar terhindar dari kesalahan dalam pemilihan karir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan kelompok teknik problem solving terhadap peningkatan self-efficacy karir siswa kelas XII-SCI SMAN 1 Krian. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian yaitu pre-experimental design untuk Efektivitas Bimbingan Kelompok Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Self-Efficacy Karir Siswa Kelas XIISCI SMAN 1 Krian mengetahui pengaruh dari diberikannya treatment dengan kondisi yang terkendali serta penelitian ini juga tidak menggunakan variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara acak. Jenis penelitian ini menggunakan one group pre-test post-test design, untuk mengetahui keadaan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Pelaksanaan penelitian ini adalah diberikan pre-test, kemudian akan diberikan treatment dan diakhiri dengan pemberian posttest yang sama. Setelah selesai, hasil pre-test dan post test akan dibandingkan untuk mengetahui skor sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok problem Tujuan dari pemberian angket kembali yaitu untuk mengetahui ada tidaknya perubahan tingkat selfefficacy karir sebelum dan sesudah diberikan treatment bimbingan kelompok teknik problem silving. Berikut ini data hasil post-test yang sudah dilakukan oleh delapan siswa yang menjadi subjek: Tabel 2. Hasil post-test RESPONDEN APW KDM HRF GKA NDE FRA HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek pada penelitian ini merupakan siswa kelas XII-SCI SMAN 1 Krian yang cenderung memiliki self-efficacy karir rendah. Penentuan subjek dalam penelitian menggunakan pengukuran awal dengan menyebarkan angket kuisioner pada kelas XII-SCI yang berjumlah 36 siswa, lalu dipilih 8 siswa yang menjadi subjek penelitian. Dari hasil penyebaran angket akan dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu kategori tinggi, kategori sedang, dam kategori rendah. Berdasarkan pada pengkategorian di atas maka diperoleh hasil bahwa dari 36 subjek yang disebarkan angket kuesioner sebagai pengukuran awal terdapat 4 subjek dengan kategori tinggi, 28 subjek dengan kategori sedang, dan 4 subjek dengan kategori rendah. Berdasarkan pada hasil tersebut dipilih 4 subjek dengan kategori rendah dan 4 subjek dengan kategori sedang yang akan diberikan perlakuan atau treatment bimbingan kelompok problem solving. Berikut ini adalah hasil pre-test delapan subjek penelitian: APW KDM HRF GKA NDE FRA SKOR PRETEST KATEGORI Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Setelah hasil pre-test dan post-test diketahui, selanjutnya yaitu membandingkan skor dari keduanya untuk melihat adanya perbedaan sebelum dan sesudah diberikan perlakuan . Adapun tabel hasil perbandingan skor pre-test dan post-test subjek penelitian sebagai berikut: Gambar 1. Grafik perbandingan peningkatan subjek Tabel 1. Hasil pre-test RESPONDEN SKOR POSTTEST Setelah dilakukan perbandingan hasil pre-test dan post-test maka selanjutnya yaitu menganalisis hasil menggunakan Uji Wilcoxon dengan bantuan SPSS. Berikut ini hasil penghitungan Uji Wilcoxon menggunakan SPSS Statistics 26 For Windows. KATEGORI Rendah Rendah Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang Sedang Tabel 3. Hasil Penghitungan Uji Wilcoxon Ranks Pemberian perlakuan . kepada subjek yang berjumlah delapan peserta didik sebanyak lima kali Perlakuan . tersebut berupa layanan bimbingan kelompok teknik problem solving. Setelah diberikan treatment sebanyak lima kali pertemuan, subjek penelitian diminta untuk mengisi angket post-test mengenai self-efficacy karir yang sama dengan pre-test Sum of Rank Ranks Negative Ranks ,00 ,00 Positive Ranks 4,50 36,00 Post Test - Pre Test Mean Ties Total Efektivitas Bimbingan Kelompok Teknik Problem Solving untuk Meningkatkan Self-Efficacy Karir Siswa Kelas XIISCI SMAN 1 Krian Berikut ini adalah interpretasi hasil output penghitungan Uji Wilcoxon menggunakan SPSS: Negative ranks adalah selisih negatif antara hasil pretest dan post-test. Berdasarkan tabel yang telah dipaparkan, nilai negative ranks yang didapatkan adalah 0, baik pada nilai N. Mean Rank dan Sum of Ranks. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat penurunan pada skor post-test yang lebih rendah dari skor pre-test. Positive ranks merupakan selisih positif antara hasil pre-test dan post-test. Berdasarkan pada tabel yang telah dipaparkan, nilai positive ranks yang didapatkan pada nilai N adalah 8, pada Mean Ranks adalah 4,50 dan pada Sum of Ranks sebesar 36,00. Sehingga dapat disimpulkan bahwa delapan subjek yang mengikuti bimbingan kelompok teknik problem solving mengalami peningkatan pada skor post-test dibandingkan dengan skor pre-test. Ties adalah kesamaan skor pre-test dan post-test. Berdasarkan pada tabel yang telah dipaparkan, diketahui bahwa nilai ties adalah 0. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat skor yang sama antara skor pre-test dan post-test. bimbingan kelompok teknik problem solving efektif untuk meningkatkan self-efficacy karir siswa kelas XII-SCI SMAN 1 Krian. Saran Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi dalam pelaksanaan bimbingan konseling terutama dalam bimbingan kelompok. Selain itu, sekolah juga diharapkan dapat memfasilitasi pelaksanaan bimbingan kelompok dengan rutin sehingga dapat membantu peserta didik mencapai tugas perkembangannya. DAFTAR PUSTAKA