Vol. No. 1 Februari 2025. Hal. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dalam Meningkatkan Nilai-nilai Akhlak Siswa Abubakar1. Nasaruddin2* Universitas Muhammadiyah Bima. Indonesia *Corresponding Author e-mail: nasarhb@gmail. Abstrak Penelitian ini mengkaji penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SDN 33 Kota Bima dan dampaknya terhadap nilai-nilai akhlak siswa. Model PBL dirancang untuk mendorong siswa aktif mencari solusi dari masalah nyata, serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan empati. Pendidikan akhlak merupakan bagian penting dalam pembentukan kepribadian siswa. Meskipun penanaman nilai akhlak belum optimal dengan metode sebelumnya, sekolah ini berusaha meningkatkan pembelajaran akhlak melalui PBL yang mengaitkan materi akademik dengan pengalaman nyata siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. yang bertujuan untuk memahami proses penerapan PBL dan dampaknya terhadap nilai-nilai akhlak siswa secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengimplementasikan model pembelajaran berbasis masalah yang diintegrasikan pada beberapa mata pelajaran yang berfokus pada pemecahan masalah nyata, sekolah ini berhasil meningkatkan nilai-nilai akhlak siswa. Disamping memahami materi akademik, siswa juga dapat menginternalisasi nilai-nilai akhlak secara nyata dan kontekstual. Siswa belajar berpikir kritis, bekerja sama, dan mampu menerapkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan kepedulian secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa, meskipun menghadapi tantangan, penerapan Problem Based Learning (PBL) menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan nilai-nilai akhlak siswa. Pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi siswa. Keberhasilan PBL memerlukan dukungan berkelanjutan dari guru dan sekolah untuk mengatasi berbagai kendala serta memastikan semua siswa dapat berpartisipasi secara optimal. Kata Kunci: Problem Based Learning. Nilai akhlak. Pendidikan Karakter PENDAHULUAN Pendidikan akhlak merupakan usaha sadar yang dilakukan untuk membantu mengembangkan dan mengarahkan individu dalam menciptakann keselarasan antara niat, ucapan dan perbuatan agar menjadi yang lebih baik. Penanaman akhlak ini tidak dapat dilakukan dengan instan, perlu adanya keberlanjutan sehinga akhlak baik akan mengakar dalam diri anak. Permasalahan mengenai akhlak mendapatkan perhatian P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 yang utama dalam ajaran Islam, karena Islam mengetahui betapa pentingnya akhlak dalam kehidupan. Dalam upaya penanaman pendidikan akhlak yang baik bagi masyarakat, tentunya sosok Nabi Muhammad Saw menjadi teladan yang seharusnya dijadikan sebagai contoh dalam setiap tingkah laku umatnya. Karena dalam masa kehidupannya Nabi Muhammad Saw memberikan tuntunan yang baik bagi umatnya mengenai etika atau akhlak bermasyarakat dalam pendidikan Islam. Salah satu tugas Nabi Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak Rasulullah diutus oleh Allah SWT untuk meluruskan dan memperbaiki akhlak yang tercela. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, beliau bersabda, "Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (Laksana. D, 2. Islam mengajarkan bahwa pengembangan akhlak yang baik dimulai dari pendidikan yang melibatkan penghayatan nilai-nilai yang terdapat dalam al-QurAoan serta praktik berdasarkan teladan dari Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, dasar-dasar pembentukan akhlak dalam Islam berakar dari al-QurAoan. Sunah, dan contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw (Alawi, 2. Akhlak mulia adalah cerminan dari kesempurnaan iman. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin baik pula akhlaknya, dan begitu pula sebaliknya. Rasulullah shallallahu Aoalaihi wa sallam bersabda. AuDi antara kaum mukminin, yang paling sempurna imannya adalah mereka yang memiliki akhlak terbaik. Dan di antara kalian, yang paling baik adalah yang paling baik terhadap istrinya. Ay (HR. At-Tirmidz. (Nurlatifah, 2. Akhlak, menurut Hamzah YaAoqub, berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata "khuluqun" yang berarti tindakan. Kata "khuluqun" memiliki kesetaraan dengan "khalqun," yang berarti kejadian, dan "khaliqun," yang artinya pencipta. Selain itu, terdapat pula kata "makhluqun," yang berarti yang diciptakan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa akhlak mencerminkan hubungan yang erat antara Sang Khaliq (Pencipt. dan makhluq . ang diciptaka. , serta interaksi antara sesama Ibnu Taimiyah menekankan pentingnya memahami ajaran agama secara mendalam agar individu dapat menginternalisasikan nilai-nilai etika yang vital dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kesabaran, dan ketaqwaan kepada Tuhan. Beliau juga memperingatkan terhadap sifat-sifat negatif seperti kesombongan dan iri Ia menyoroti pentingnya tazkiyah al-nafs sebagai upaya membersihkan jiwa dari penyakit ruhani seperti syahwat, hawa nafsu duniawi yang berlebihan, dan kemaksiatan kepada Allah SWT (Qorib, 2. Ibnu Qayyim menyatakan bahwa akhlak dan aqidah saling terkait. Akhlak yang baik menunjukkan keimanan yang kuat, sementara akhlak buruk menandakan lemahnya iman seseorang. Kunci kebahagiaan terletak pada perilaku dan karakterseseorang, yang juga memengaruhi penderitaan dalam kehidupan (Latifah & Suhartono, 2. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Penanaman nilai-nilai akhlak sebaiknya diawali ketika anak masih dalam rahim, kemudian diteruskan pada fase-fase awal kehidupan yang penting, hingga anak memasuki usia dewasa. Pada usia dini, yaitu antara 0 hingga 6 tahun, anak memiliki karakter yang khas dan kemampuan menyerap informasi sangat besar. Oleh karena itu, pada tahap ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan budi pekerti yang baik dalam diri anak. Dalam membimbing anak-anak yang masih berusia dini, perhatian yang sepenuhnya dari orang tua dan pengajar sangatlah penting. Perilaku anak, baik yang baik maupun yang buruk, sangat terpengaruh oleh pendidikan yang mereka terima di masa kecil. Oleh karena itu, kerjasama antara orang tua dan pendidik menjadi sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan moral yang baik dan selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Dalam menjalanklan amanah dari Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 3 yang menyoroti pentingnya pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa. Pemerintah Indonesia telah memberikan respons yang serius melalui beragam kebijakan, program, dan peraturan. Diantaranya melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Lembaga menindaklanjuti isi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya dalam usaha sadar dan terencana untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter. Langkah-langkah yang dilakukan oleh Lembaga pendidikan diantaranya :. melalui pengembangan kurikulum yang holistik dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial dalam semua mata Pelajaran. pelaksanaan pendidikan berbasis karakter dengan menekankan pembelajaran agama yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada praktik pengendalian diri, empati, dan perilaku sehari-hari. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan menerapkan nilai-nilai religius, integritas, nasionalisme, kemandirian, dan gotong royong dalam kegiatan pembelajaran dan . pembiasaan perilaku positif di lingkungan sekolah membiasakan peserta didik melakukan kegiatan yang mendukung penguatan karakter, seperti berdoa sebelum dan sesudah belajar, menyanyikan lagu kebangsaan, dan kegiatan gotong royong. pembelajaran kontekstual yang memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar yang mengemban tugas untuk menanamkan nilai-nilai akhlak. SDN 33 Kota Bima memiliki pandangan bahwa pendidikan akhlak adalah aspek yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian Hal ini didasari oleh pemahaman bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kemampuan siswa untuk menjadi individu yang memiliki nilai-nilai moral, sosial, dan budaya yang baik. Upaya yang dilakukan adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan bermakna, di mana siswa secara langsung memahami pentingnya nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan menjadi individu yang cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia, yang dapat berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. Salah satu ikhtiar SDN 33 Lampe dapat mendukung usaha pemerintah dalam pendidikan akhlak dengan menerapkan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Problem Based Learning (PBL). Pendekatan ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah nyata, serta menanamkan nilainilai akhlak dalam proses pembelajaran. SDN 33 Kota Bima telah berupaya menerapkan pendidikan karakter sesuai dengan kebijakan pemerintah, seperti integrasi nilai-nilai moral ke dalam mata pelajaran. Namun, metode pembelajaran masih cenderung berpusat pada guru . eacher-centere. dengan pendekatan Penanaman nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kerja sama sudah menjadi perhatian. Namun, prosesnya belum terstruktur secara menyeluruh, sehingga hasilnya bervariasi antar siswa. Siswa belum sepenuhhnya terlibat aktif dalam pembelajaran. Kegiatan yang mendorong pemecahan masalah nyata dan refleksi terhadap nilai-nilai moral masih terbatas. Sebagian guru kurang memahami metode pembelajaran berbasis masalah dan bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam proses tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah Problem Based Learning (PBL) memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Riski Tri Widyastuti melalui penelitiannya yang berjudul AuEfektivitas Model Problem Based Learning Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah DasarAy menyimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis Masalah Problem Based Learning (PBL) memberi dampak yang positif terhadap kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah (Airlanda, dkk, 2. Dengan Problem Based Learning (PBL) pembelajaran menjadi lebih baik dan siswa mampu memecahkan masalah, mampu berpikir kreatif, dan keterampilan berkelompok atau kerja sama (Simanjuntak, dkk. Model pembelajaran berbasis masalah sangat efektif diimplementasikan oleh guru di sekolah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Ini dilakukan dengan mengesampingkan rutinitas guru dan siswa (Rahayu I, 2. Model pembelajaran P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada materi operasi himpunan (Jalal A, dkk . Penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam pelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas Vi MTs Nahdatul Ulama dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa (Walduhuakbar dkk, . Model Problem Based Learning dapat meningkatkan semangat dan pencapaian belajar siswa dalam menggabungkan pengetahuan agama dan umum melalui pelajaran Akidah Akhlaq (Wibowo, 2. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah Problem Based Learning (PBL) memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif, serta keterampilan kerja sama. Model ini efektif diterapkan oleh guru karena dapat menyesuaikan akhlak siswa dengan kebutuhan zaman tanpa mengabaikan rutinitas pengajaran tradisional. Dalam berbagai mata pelajaran, seperti matematika pada materi operasi himpunan dan Akidah Akhlak. PBL terbukti mampu meningkatkan mengintegrasikan pengetahuan agama dan umum. Model PBL dirancang untuk mendorong siswa secara aktif mencari solusi terhadap masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. PBL juga memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan empati. PBL memiliki potensi besar untuk menanamkan nilai-nilai karakter, seperti tanggung jawab melalui penyelesaian tugas kelompok, toleransi melalui diskusi, dan kejujuran melalui proses refleksi. Saat ini, pembelajaran di SDN 33 Kota Bima cenderung bersifat satu arah dan memecahkan masalah. Hal ini berlawanan dengan prinsip PBL yang berpusat pada Penanaman nilai akhlak dalam pembelajaran belum optimal karena metode yang digunakan belum efektif dalam mengaitkan materi akademik dengan pengalaman nyata siswa. Hal ini terjadi karena tidak semua guru siap menerapkan PBL akibat kurangnya pelatihan terkait strategi pembelajaran inovatif dan pengintegrasian nilai-nilai karakter. Penilaian terhadap nilai karakter siswa belum terstruktur, sehingga sulit mengukur keberhasilan penanaman nilai melalui pembelajaran. Siswa belum sepenuhnya terlatih untuk bekerja secara kolaboratif dan mandiri, yang merupakan elemen penting dalam PBL. Saat ini, pembelajaran di SDN 33 Kota Bima cenderung bersifat satu arah dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam memecahkan masalah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memahami proses penerapan PBL dan dampaknya terhadap nilai-nilai akhlak P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 siswa sdn 33 Lampe Kota Bima secara mendalam. Pendekatan ini berfokus pada pengalaman langsung, interaksi sosial, dan perubahan perilaku siswa dalam konteks pembelajaran PBL. Istilah "deskriptif" merujuk pada pengumpulan informasi atau data mengenai fenomena yang sedang diteliti, seperti keadaan atau peristiwa, dilengkapi dengan informasi mengenai faktor-faktor yang menyebabkan munculnya kejadian tersebut, yang dijelaskan secara rinci, teratur, dan sejujurnya (Saria. N, 2. Pendekatan deskriptif adalah jenis penelitian yang menjelaskan fenomena atau kelompok tertentu yang dikumpulkan oleh peneliti dari subjek yang bisa berupa individu, organisasi, atau sudut pandang lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan aspek-aspek yang berkaitan dengan fenomena yang diteliti serta menjelaskan ciri-ciri dari fenomena atau permasalahan yang ditemukan. Metode kualitatif deskriptif merujuk pada pendekatan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan menginterpretasikan fenomena, situasi, atau pengalaman secara mendalam dan holistik. Pendekatan ini tidak berfokus pada pengukuran numerik atau analisis statistik, melainkan lebih menekankan pada pemahaman yang mendalam tentang konteks dan makna dari fenomena yang diteliti. Dalam metode kualitatif deskriptif, penulis mengumpulkan data yang detail, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi pola, tema, dan wawasan yang muncul. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam tentang bagaimana model PBL, yang menekankan pemecahan masalah dan kolaborasi, mampu membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai akhlak. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cermat untuk menemukan pola, tema, dan wawasan yang relevan, sehingga memberikan gambaran holistik tentang efektivitas metode pembelajaran ini dalam membentuk karakter siswa di SDN 33 Kota Bima. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran di SDN 33 Kota Bima dalam meningkatkan nilai-nilai akhlak Pembelajaran akhlak tidak hanya dibebankan pada guru pendidikan agama Islam dan diajarkan sebagai materi tersendiri. SDN 33 Kota Bima berupaya untuk menetapkan sebuah kebijakan agar setiap mata Pelajaran mengintegrasikan penanaman nilai-nilai akhlak. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pendidik di SDN 33 Kota Biam dalam mengintegrasikan penanaman nilai-nilai akhlak kedalam setiap mata Pelajaran adalah dengan menerapkan model model Problem Based Learning (PBL), guru mengajarkan nilai-nilai akhlak melalui pendekatan interdisipliner yang relevan dengan konteks mata pelajaran. Berikut adalah uraian langkah-langkah yang telah dilakukan oleh guru-guru di SDN 33 Kota Bima untuk menanamkan nilai-nilai akhlak dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi dalam mata pelajaran : P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Pendidikan Agama Islam (PAI) Tema : Pentingnya Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari Kelas Masalah : Siswa diberikan cerita tentang seorang anak bernama Amir yang menemukan dompet di jalan saat berjalan pulang sekolah. Di dalam dompet tersebut terdapat uang dan kartu identitas pemiliknya. Amir bingung apakah dia harus mengembalikan dompet itu atau menggunakan uang tersebut untuk membeli mainan Nilai akhlak yang ditingkatkan: Kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap Langkah-Langkah Penyelidikan dan Pengumpulan Informasi: Analisis masalah : Guru meminta siswa membaca atau mendengarkan cerita tentang Amir. Setelah itu guru bertanya : Apa masalah utama dalam cerita ini? Apa dampak jika Amir memutuskan untuk mengembalikan dompet? Apa dampak jika Amir memutuskan untuk menggunakan uang tersebut? Hasil Diskusi Siswa: Masalah utama adalah pilihan antara kejujuran atau tidak. Kejujuran dapat membawa kebaikan, sementara kebohongan atau ketidakjujuran dapat menyebabkan Identifikasi Kebutuhan Informasi: Guru membimbing siswa untuk menentukan informasi apa yang perlu mereka cari : Apa arti kejujuran dalam Islam? Apa dalil Al-Qur'an atau hadis tentang kejujuran? Bagaimana contoh perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari? Apa akibat dari perilaku tidak jujur? Pengumpulan Informasi: Siswa dibagi dalam kelompok untuk mencari informasi dari berbagai sumber: Buku Pelajaran PAI: Mencari pengertian kejujuran dan dalilnya. Guru: Menjelaskan lebih dalam tentang nilai kejujuran dalam Islam. Al-Qur'an atau Hadis: Mencari dalil seperti QS. Al-Ahzab:70 ("Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar"). Observasi atau Diskusi: Membagikan pengalaman pribadi terkait perilaku jujur di sekolah atau rumah. Evaluasi Informasi: Kelompok siswa mempresentasikan temuan mereka di depan kelas. Guru membantu mengevaluasi apakah informasi yang dikumpulkan sudah menjawab pertanyaan kunci. P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Diskusi dilakukan untuk menghubungkan informasi yang diperoleh dengan masalah Amir. Hasil Akhir Tahap: Siswa memahami pentingnya kejujuran berdasarkan ajaran Islam. Mereka menemukan dalil yang relevan dan contoh nyata untuk mendukung perilaku jujur. Informasi yang terkumpul menjadi dasar bagi mereka untuk memberikan solusi atas dilema Amir. Solusi yang diajukan oleh Siswa : Amir sebaiknya mengembalikan dompet kepada pemiliknya karena itu adalah bentuk kejujuran yang diajarkan dalam Islam. Dengan begitu. Amir akan mendapatkan pahala dari Allah dan membantu orang Tahap ini tidak hanya mengajarkan nilai agama tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan kerja sama, yang sesuai dengan prinsip PBL. Bahasa Indonesia Tema : Bertutur kata baik dan santun Kelas Masalah : "Seorang teman sering berbicara kasar kepada orang lain. Bagaimana cara menasihatinya agar berbicara dengan santun?" Nilai akhlak yang ditingkatkan Kesantunan menghargai orang lain. Langkah-langkah PBL : Orientasi pada Masalah: Guru memberikan contoh dialog yang menunjukkan perbedaan antara bahasa santun dan kasar. Siswa diminta menganalisis dampak dari penggunaan bahasa kasar. Pengorganisasian Belajar: Siswa dibagi menjadi kelompok dan menentukan informasi yang perlu dicari: Contoh penggunaan bahasa santun dalam dialog dan cara menasihati teman tanpa menyinggung perasaannya. Investigasi Mandiri: Membaca cerita pendek yang mengandung dialog santun dan Berdiskusi dengan teman atau guru tentang bagaimana cara berbicara yang baik. Pengembangan dan Penyajian Solusi: Siswa membuat skenario dialog untuk menasihati teman dan mereka memerankan dialog tersebut di depan kelas. Evaluasi Proses: Guru memberikan umpan balik tentang penggunaan bahasa santun dalam dialog siswa. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Tema : Menjaga Lingkungan sebagai Bentuk Syukur Kelas P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Masalah : "Banyak sampah plastik berserakan di halaman sekolah. Bagaimana cara siswa menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat?" Nilai akhlak yang ditingkatkan: Kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab, dan rasa syukur kepada Allah. Langkah-langkah PBL : Orientasi pada Masalah: Guru mengajak siswa mengamati kondisi halaman sekolah. Guru menanyakan dampak sampah terhadap kesehatan dan lingkungan. Pengorganisasian Belajar: Siswa menentukan informasi yang perlu dicari: Apa dampak sampah terhadap lingkungan? Bagaimana cara mengolah sampah secara bijak? Bagaimana menjaga kebersihan menurut ajaran Islam? Investigasi Mandiri: Siswa mencari informasi dari buku IPA atau bertanya kepada guru IPA tentang pengelolaan sampah. Setelah itu mengamati jenis-jenis sampah di lingkungan Pengembangan dan Penyajian Solusi: Kelompok membuat rencana kegiatan membersihkan lingkungan dam mempresentasi solusi berupa aksi nyata, seperti memilah sampah atau membuat poster edukasi. Evaluasi Proses: Guru mengevaluasi aksi nyata yang dilakukan siswa. Siswa merefleksikan pentingnya menjaga lingkungan. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tema : Kerja Sama dalam Masyarakat Kelas Masalah : "Beberapa warga tidak mau ikut gotong royong di lingkungan Bagaimana cara melibatkan semua warga dalam kegiatan tersebut?" Nilai akhlak yang ditingkatkan: Kerja sama, toleransi, dan tanggung jawab Langkah-Langkah PBL: Orientasi pada Masalah: Guru Siswa diminta menganalisis penyebab kurangnya partisipasi Pengorganisasian Belajar: Siswa menentukan informasi yang perlu dicari: P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Apa manfaat gotong royong? Bagaimana cara mengajak orang lain bekerja sama? Contoh kerja sama dalam kehidupan masyarakat. Investigasi Mandiri: Siswa membaca buku IPS tentang bentuk-bentuk kerja sama. Siswa juga diharapkan berdiskusi dengan orang tua tentang pengalaman gotong royong. Pengembangan dan Penyajian Solusi: Siswa membuat poster atau slogan yang mengajak kerja sama. Kelompok mempresentasikan cara mereka meningkatkan partisipasi warga. Evaluasi Proses: Guru dan siswa merefleksikan nilai kerja sama dan pentingnya kontribusi Kendala Yang Dihadapi Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Nilai-Nilai Akhlak Siswa Di SDN 33 Kota Bima. Penerapan model pembelajaran yang efektif, seperti Problem Based Learning (PBL), menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai-nilai akhlak siswa. PBL adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana mereka diajak mengembangkan keterampilan berpikir kritis, empati, dan tanggung jawab. Namun, implementasi PBL tidak terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi guru. Kendalakendala tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal, yang memengaruhi efektivitas penerapan model ini dalam membentuk nilai-nilai akhlak Faktor-faktor seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya pemahaman guru terhadap metode PBL, serta tingkat partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sering kali menjadi hambatan utama. Keterbatasan sumber daya di sekolah, seperti fasilitas yang tidak memadai atau bahan ajar yang kurang relevan, dapat menghambat pelaksanaan PBL. Selain itu, guru sering kali menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan nilai-nilai akhlak ke dalam skenario pembelajaran berbasis masalah, terutama jika kurikulum yang diterapkan belum mendukung secara optimal. Pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan PBL juga menjadi faktor penentu. Beberapa guru belum sepenuhnya memahami prinsip-prinsip dasar PBL atau kesulitan menyusun skenario pembelajaran yang efektif. Hal ini dapat menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai tujuan, sehingga kurang optimal dalam menanamkan nilai-nilai akhlak. Partisipasi siswa juga menjadi tantangan, terutama jika siswa kurang termotivasi atau belum terbiasa dengan pendekatan pembelajaran yang menuntut P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 keterlibatan aktif. Hal ini sering kali terkait dengan latar belakang keluarga, budaya, atau lingkungan yang kurang mendukung pembentukan karakter positif. Dalam konteks SDN 33 Kota Bima, pengkajian kendala-kendala ini menjadi penting untuk merumuskan strategi yang efektif. Dengan mengidentifikasi hambatan yang ada, langkah-langkah konkret dapat dirancang untuk mengoptimalkan penerapan PBL, sehingga nilai-nilai akhlak dapat tertanam lebih mendalam pada siswa. Kendala yang dihadapi guru SDN 33 Kota Bima dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan nilai-nilai akhlak siswa, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Bahasa Indonesia. IPA, dan IPS : Secara umum kendala yang dihadapi guru-guru SDN 33 Kota Bima dalam menerapkan model pembelajaran PBL dalam meningkatkan nilai-nilai akhlak siswanya dianatarnya : Kurangnya Pemahaman Guru tentang PBL Beberapa guru belum sepenuhnya memahami konsep, tahapan, dan strategi dalam menerapkan PBL. Guru merasa kesulitan merancang masalah yang relevan dengan konteks nilai-nilai akhlak dan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Waktu Pembelajaran yang Terbatas PBL membutuhkan waktu yang cukup untuk setiap tahap . dentifikasi masalah, investigasi, diskusi, presentasi, dan refleks. Keterbatasan waktu belajar di sekolah sering membuat guru merasa terburu-buru menyelesaikan materi. Keterbatasan Sumber Daya Kurangnya media, bahan ajar, atau alat peraga yang mendukung penerapan PBL. Minimnya akses ke teknologi atau referensi tambahan yang relevan untuk investigasi siswa. Keragaman Kemampuan Siswa Siswa memiliki tingkat pemahaman, keterampilan berpikir kritis, dan motivasi belajar yang berbeda-beda, sehingga tidak semua siswa mampu berpartisipasi aktif dalam diskusi atau investigasi. Siswa dengan kemampuan rendah cenderung pasif dan kurang berkontribusi dalam kerja kelompok. Ditinjau dari kendala yang dihadapi secara khusus berdasarkan mata pelajaran yang diteliti dalam peneelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan nilai-nilai akhlak siswa di sdn 33 kota bima: P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 Siswa sering menganggap pembelajaran nilai-nilai akhlak sebagai teori belaka, bukan sesuatu yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sulitnya menciptakan situasi masalah yang nyata dan relevan untuk diterapkan dalam konteks nilai-nilai agama. Contohnya ketika membahas nilai kejujuran, siswa hanya memahami secara teoritis tetapi tidak ada evaluasi praktis yang mendalam untuk memastikan mereka menerapkan nilai tersebut. Bahasa Indonesia Kendala Menerapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Nilai-Nilai Akhlak Siswa Di SDN 33 Kota Bima Guru pembelajaran bahasa dengan penguatan nilai-nilai akhlak. Siswa kurang terampil dalam mengungkapkan pendapat secara santun, terutama dalam diskusi kelompok. Contohnya saat siswa diminta membuat dialog santun untuk menasihati teman, beberapa siswa merasa malu atau kurang percaya diri untuk berbicara. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kendala yang dihadapi berupa : Masalah lingkungan, seperti kebersihan, sering dianggap terlalu sederhana atau kurang menarik bagi siswa. Kurangnya alat atau media untuk mendukung investigasi siswa dalam memahami dampak perilaku terhadap lingkungan. Contohnya ketika siswa diminta merancang aksi peduli lingkungan, beberapa dari mereka hanya memberikan ide tanpa melibatkan aksi nyata karena keterbatasan alat atau waktu. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kendala yang dihadapinya adalah : Masalah sosial yang kompleks seperti gotong royong atau kerja sama sering sulit dipahami siswa karena kurangnya pengalaman nyata. Sulitnya menciptakan simulasi masalah sosial yang relevan dengan konteks kehidupan siswa di sekolah dasar. Contohnya ketika siswa diminta membuat rencana mengajak warga untuk gotong royong, mereka kesulitan memahami cara pendekatan yang tepat karena kurangnya pengalaman langsung. Tanggapan Siswa terhadap Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Menanamkan Nilai-Nilai Akhlak di SDN 33 Kota Bima Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SDN 33 Kota Bima merupakan upaya inovatif untuk menanamkan nilai-nilai akhlak pada siswa. Dalam PBL, siswa diajak untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran melalui P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 pemecahan masalah nyata, yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pendekatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga untuk membentuk karakter siswa, seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kerja sama. Tanggapan siswa terhadap penerapan PBL menjadi indikator penting untuk menilai keberhasilan metode ini. Respons positif menunjukkan bahwa siswa dapat memahami, menerima, dan merasakan manfaat dari pembelajaran berbasis masalah dalam kehidupan mereka. Sebaliknya, tanggapan negatif dapat memberikan masukan berharga untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki. Berbagai tanggapan siswa yang muncul dalam impelemnetasi model PBM ini diantaranya siswa yang antusias merasa bahwa PBL memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan menantang dibandingkan metode konvensional. Mereka cenderung lebih mudah memahami nilai-nilai akhlak melalui situasi nyata yang dibahas dalam pembelajaran. Namun, ada pula siswa yang merasa kesulitan beradaptasi dengan model ini, terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dan kerja sama. Tantangan seperti kurangnya kepercayaan diri, ketidaktahuan cara berkontribusi dalam diskusi kelompok, atau kurangnya pemahaman tentang relevansi masalah yang diberikan bisa mempengaruhi tanggapan Oleh karena itu, memahami tanggapan siswa tidak hanya membantu mengevaluasi efektivitas PBL, tetapi juga memberikan dasar untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih baik. Dengan menyesuaikan pendekatan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa, tujuan menanamkan nilai-nilai akhlak dapat tercapai secara optimal. Tabel 1. Rangkuman Tanggapan Siswa Berdasarkan Mata Pelajaran Mata Pelajaran Tanggapan Positif Pendidkan Agama Minat tinggi, kesadaran Islam akhlak meningkat Bahasa Indonesia Keterampilan berbicara meningkat, diskusi lebih Ilmu Pengetahuan Peduli lingkungan. Alam (IPA) antusias belajar dari Ilmu Pengetahuan Pemahaman kerja sama Sosial (IPS) meningkat, pembelajaran Tantangan yang Dirasakan Sulit mengaitkan masalah dengan nilai agama Kesulitan dalam mengekspresikan ide secara santun Sulit memahami dampak lingkungan secara Bingung dalam memahami masalah sosial kompleks P-ISSN 2775-3. E-ISSN 2775-3026 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learning (PBL) di SDN 33 Kota Bima berhasil meningkatkan minat belajar, pemahaman nilai akhlak, dan keterampilan sosial siswa, meskipun memerlukan pendampingan intensif dari guru untuk mengatasi kesulitan adaptasi, sehingga dengan dukungan berkelanjutan. PBL memiliki potensi besar dalam membentuk siswa yang berakhlak mulia dan berpikir kritis. Meskipun penerapan Problem Based Learning (PBL) di SDN 33 Kota Bima menghadapi berbagai kendala, solusi terencana seperti pelatihan, penyediaan sumber daya, dan kolaborasi dapat membantu guru mengatasinya, sehingga PBL dapat dioptimalkan untuk membentuk siswa yang cerdas dan berakhlak mulia. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SDN 33 Kota Bima terbukti efektif dalam menanamkan nilainilai akhlak siswa, seperti kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab, melalui pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata. Sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif, seperti meningkatnya minat dan pemahaman nilai akhlak, beberapa siswa menghadapi tantangan, terutama dalam berpartisipasi aktif dan mengaitkan masalah dengan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, keberhasilan PBL kebutuhan siswa, serta pendampingan intensif dari guru untuk mengatasi kesulitan dan memastikan keterlibatan semua siswa secara optimalsosial yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA