Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 873-894 Available at: https://journal. id/index. php/jmdb EISSN: 2797-9555 Keputusan investasi: Peran efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi risiko Alya Qotrun Nada. Muhammad Ali Fikri* Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Ahmad Dahlan. Indonesia *) Korespondensi . -mail: muhammad. fikri@mgm. Abstract Investment decisions are a critical part of financial management for both individuals and institutions and are often influenced by psychological and behavioral factors. This study analyzes the effects of the disposition effect, herding behavior, and risk perception on investment decisions among FAC Sekuritas investors. Using a quantitative design, primary data were collected through a questionnaire administered to 123 FAC Sekuritas investors selected via purposive sampling. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS. The results indicate that the disposition effect has a positive effect on investment decisions, and herding behavior also has a positive effect on investment decisions. In addition, risk perception is shown to have a positive effect on investment decisions. These findings suggest that behavioral factors and risk perception help shape retail investorsAo decisions, highlighting the need for securities firms and regulators to strengthen investor education that emphasizes awareness of behavioral biases and sound risk understanding. Keywords: Investment Decision. Herding Behavior. Disposition Effect. Risk Perception Abstrak Keputusan investasi merupakan tahapan krusial dalam pengelolaan keuangan, baik bagi individu maupun institusi, dan kerap dipengaruhi oleh faktor psikologis serta perilaku. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi risiko terhadap keputusan investasi pada investor FAC Sekuritas. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner kepada 123 investor FAC Sekuritas, dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares melalui perangkat lunak SmartPLS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa efek disposisi berpengaruh positif terhadap keputusan investasi dan perilaku herding juga berpengaruh positif terhadap keputusan Selain itu, persepsi risiko terbukti berpengaruh positif terhadap keputusan investasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor perilaku dan persepsi risiko berperan dalam membentuk keputusan investasi investor ritel, sehingga penting bagi perusahaan sekuritas dan regulator untuk memperkuat edukasi investasi yang menekankan kesadaran bias perilaku dan pemahaman risiko. Kata kunci: Keputusan Investasi. Perilaku Herding. Efek Disposisi. Persepsi Resiko How to cite: Nada. , & Fikri. Keputusan investasi: Peran efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi risiko. Journal of Management and Digital Business, 5. , 873Ae894. https://doi. org/10. 53088/jmdb. Copyright A 2025 by Authors. this is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 874 Pendahuluan Keputusan investasi merupakan keputusan strategis yang dibuat oleh investor dalam memilih, membeli, menahan, atau menjual suatu aset keuangan, keputusan ini dipengaruhi tidak hanya oleh informasi keuangan dan analisis fundamental, tetapi juga oleh faktor psikologis dan emosional (Ahmed et al. , 2. Investor membuat keputusan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan para investor terhadap pasar Proses pengambilan keputusan selalu berujung pada satu pilihan akhir, yang keluarannya dapat berupa suatu tindakan nyata atau bentuk opini terhadap opsi yang tersedia (Leiwakabessy et al. , 2. Keputusan investasi investor yang tidak rasional dipengaruhi oleh sejumlah bias perilaku (Adil et al. , 2. Menurut Purnomo et al. keputusan investasi ada keterkaitan erat antara efek disposisi, perilaku herding dan persepsi resiko. Penelitian oleh Fitra . menemukan bahwa efek disposisi berpengaruh negatif terhadap keputusan investasi. Temuan ini sejalan dengan studi lain yang menunjukan bahwa saat efek disposisi meningkat, kualitas keputusan investasi menurun karena investor lebih dipengaruhi emosi daripada logika (Fitra, 2023. Dwiyanto et al. , 2. Selain itu, studi empiris menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat perilaku herding, semakin besar kemungkinan investor mengalami kerugian akibat mengikuti arus pasar yang salah arah (Yuniari & Sinarwati, 2. Kondisi ini juga meningkatkan volatilitas pasar karena keputusan kolektif yang seragam dapat mempercepat perubahan harga saham (Utami, 2. Selain itu, perilaku herding mengurangi efisiensi pasar karena informasi fundamental diabaikan. Investor yang terjebak dalam perilaku herding juga cenderung memiliki persepsi resiko yang lebih tinggi karena keputusan investasi dipengaruhi oleh ketidakpastian mayoritas (Putri et al. , 2. Sejalan dengan itu, perilaku herding dilaporrkan berpengaruh negatif terhadap keputusan investasi (Yuniari & Sinarwati, 2. Dengan demikian, dalam kondisi di mana variabel tersebut berada pada level tinggi, maka keputusan investasi juga cenderung menurun. Studi empiris juga menegaskan bahwa investor dengan persepsi resiko tinggi cenderung melakukan diversifikasi portofolio untuk mengurangi potensi kerugian (Syahfitri & Tryana, 2. Selain itu, persepsi resiko yang baik membuat investor lebih selektif dalam memilih instrumen investasi sehingga meningkatkan kualitas keputusan investasi (Wirdiansah et al. , 2. Penelitian oleh Almansour et al. , . persepsi resiko memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan investasi, dimana semakin tinggi persepsi resiko, semakin konsisten dan bijak keputusan investasi yang dibuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa persepsi resiko berfungsi sebagai mekanisme psikologis yang menyeimbangkan bias perilaku dalam investasi. Semakin matang persepsi resiko, semakin kecil peluang investor terjebak dalam efek disposisi maupun perilaku herding (Kuasa & Tjahjono, 2. Beragam temuan tersebut menunjukkan bahwa keputusan investasi tidak hanya dipengaruhi faktor informasi, tetapi juga dipengaruhi bias perilaku dan penilaian subjektif terhadap risiko. Karena itu, penting untuk menguji bagaimana efek disposisi dan perilaku herding berhubungan dengan keputusan investasi, serta sejauh mana Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 875 persepsi risiko berperan dalam membentuk keputusan investor. Pengujian ini diperlukan agar pemahaman tentang keputusan investasi tidak berhenti pada asumsi rasionalitas, tetapi juga mempertimbangkan dinamika perilaku investor di pasar. Secara konseptual, fenomena bias perilaku dan persepsi risiko dapat dijelaskan melalui pendekatan behavioral finance. Kerangka ini menempatkan keputusan investasi sebagai hasil interaksi antara informasi pasar, interpretasi individu, serta kecenderungan psikologis tertentu. Landasan teori yang menjelaskan mekanisme perilaku tersebut, termasuk perspektif teori prospek oleh Kahneman dan Tversky . dan teori penghindaran risiko oleh Pratt . , dibahas lebih lanjut pada bagian tinjauan pustaka. Di Indonesia, pertumbuhan investor ritel yang semakin pesat memperbesar relevansi kajian perilaku investasi. Jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat mencapai 17 juta SID pada tahun 2025 menurut data Indonesia Stock Exchange (IDX), memperlihatkan tren pertumbuhan signifikan dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan ini diiringi dengan tantangan karena tidak semua investor mengambil keputusan secara rasional, melainkan dipengaruhi bias perilaku (Aminarty et al. , 2. Keputusan investasi yang ideal seharusnya didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal, namun dalam praktiknya banyak investor ritel lebih mengandalkan intuisi atau meniru orang lain (Giri et al. , 2. Perilaku ini menunjukkan bahwa faktor psikologis dan emosional berperan besar dalam pembentukan keputusan investasi (Azzahra & Radiman, 2. Peningkatan jumlah investor juga mencerminkan semakin beragamnya profil psikologis investor di pasar modal (Purnamasari, 2. Kondisi tersebut memperbesar potensi munculnya bias dalam pengambilan keputusan investasi yang tidak sepenuhnya rasional. Hal ini menjadikan penelitian mengenai hubungan efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi resiko terhadap keputusan investasi semakin Pemahaman tentang peran faktor psikologis ini krusial dalam meningkatkan kualitas keputusan investasi di tengah pertumbuhan pasar modal Indonesia (Muhammad & Wicaksari, 2. Memahami bagaimana bias perilaku seperti efek disposisi dan perilaku herding, serta bagaimana persepsi resiko memengaruhi keputusan investasi menjadi penting untuk diteliti. First Asia Capital (FAC) Sekuritas sebagai salah satu perusahaan sekuritas nasional memiliki peran penting dalam memfasilitasi aktivitas inv estor ritel (Putri et al. Investor di FAC mencerminkan karakteristik investor ritel yang cenderung dipengaruhi bias perilaku . erilaku herding dan efek disposis. dan persepsi resiko. Konteks ini penting untuk menguji relevansi teori perilaku keuangan di Indonesia. Selain itu, peran FAC Sekuritas yang aktif dalam meningkatkan literasi pasar modal menjadikannya objek penelitian yang strategis (Saputra et al. , 2. FAC Sekuritas sebagai anggota Bursa Mitra Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia menunjukkan peran aktif dalam menyebarkan informasi dan edukasi pasar modal kepada Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 876 Pada tahun 2023. FAC Sekuritas memperoleh penghargaan dari IDX dalam kategori mitra galeri investasi teraktif untuk aktivasi dan pemerataan informasi. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen FAC Sekuritas dalam meningkatkan literasi serta memperluas akses informasi kepada para investor. Penelitian ini akan menganalisis secara empiris pengaruh persepsi resiko dan behavioral biases . erilaku herding dan efek disposis. terhadap keputusan investasi para investor di FAC Sekuritas, guna memahami bagaimana faktor-faktor tersebut memengaruhi perilaku investasi. Pemilihan FAC sebagai konteks, penelitian ini mampu menghadirkan temuan empiris yang lebih representatif bagi pasar modal Indonesia. Hal ini juga memberikan manfaat praktis berupa masukan bagi perusahaan sekuritas lain untuk memahami perilaku investor ritel dalam mengambil keputusan Penelitian terdahulu banyak dilakukan di luar negeri, seperti Ahmed et al. di Pakistan, sehingga perlu pengujian pada konteks Indonesia. FAC Sekuritas sebagai objek penelitian menjadi unik karena belum banyak dikaji secara ilmiah terkait efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi risiko dalam hubungannya dengan keputusan investasi khususnya pada investor FAC di Indonesia. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi empiris dan teoritis dalam memahami faktor psikologis yang memengaruhi keputusan investasi di Indonesia. Selain itu, penelitian dengan fokus pada investor ritel di Indonesia masih jarang ditemukan sehingga memberikan ruang kontribusi akademik yang lebih luas (Kusumanigtyas, 2. Konteks lokal menjadi penting karena karakteristik investor Indonesia sering kali berbeda dengan investor negara lain yang lebih matang dalam pengalaman dan akses informasi (Marzuki & Suyatno, 2. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan literatur dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan strategi edukasi pasar modal di Indonesia. Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa efek disposisi dan perilaku herding dapat menurunkan kualitas keputusan investasi, sedangkan persepsi risiko berpotensi meningkatkan keputusan yang lebih rasional (Purnomo et al. , 2. Teori prospek oleh Kahneman dan Tversky . dan teori penghindaran risiko oleh Pratt . menjadi landasan utama untuk menjelaskan hubungan antar variabel tersebut dalam konteks investor Indonesia, khususnya di FAC Sekuritas. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini menguji pengaruh efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi risiko terhadap keputusan investasi dengan landasan teori prospek oleh Kahneman dan Tversky . dan teori penghindaran risiko oleh Pratt . Penekanan pada teori ini memberikan dasar konseptual yang kuat untuk menjelaskan fenomena bias perilaku dalam pengambilan keputusan investasi (Prasasti dkk. , 2. Konteks penelitian ini melibatkan para investor FAC Sekuritas di Indonesia yang belum pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya dan belum konsisten jika di teliti di Indonesia karena peneliti sebelumnya berfokus pada investor di Pakistan Stock Exchange (PSX) (Ahmed et al. , 2. Penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat praktis bagi investor, khususnya di FAC Sekuritas, agar lebih menyadari risiko dari bias perilaku yang dapat merugikan. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 877 masukan bagi regulator pasar modal dalam merumuskan kebijakan edukasi dan perlindungan investor ritel. Aspek psikologis dan perilaku investor masih jarang dieksplorasi secara mendalam, khususnya dalam konteks investor ritel di perusahaan sekuritas nasional. Temuan penelitian diharapkan dapat memperkaya perspektif akademik mengenai interaksi antara efek disposisi, perilaku herding, dan persepsi risiko dalam memengaruhi keputusan investasi. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi referensi bagi studi-studi berikutnya yang mengkaji bias perilaku dalam konteks investor ritel di negara berkembang. Penelitian ini tidak hanya memiliki nilai teoritis, tetapi juga membawa implikasi kebijakan dan praktik bagi dunia pasar modal di Indonesia. Tinjauan Pustaka Keputusan investasi Keputusan investasi dipahami sebagai pilihan atau tindakan individu investor dalam menempatkan dana pada instrumen investasi (Adil et al. , 2. Menurut Suresh . behavioral bias menitikberatkan pada bagaimana individu bertindak dan menafsirkan informasi dalam proses pengambilan keputusan investasi. Investor cenderung mengambil keputusan berdasarkan kombinasi antara pertimbangan rasional dan pengaruh emosional (Parmitasari et al. , 2. Menurut Wang . mendefinisikan keputusan investasi sebagai proses memilih opsi investasi yang paling sesuai, berdasarkan berbagai faktor seperti tujuan investasi, preferensi risiko, ekspektasi imbal hasil, dan kondisi pasar. Selain itu. Ahmed et al. menambahkan bahwa keputusan investasi tidak hanya dipengaruhi oleh informasi fundamental, tetapi juga oleh faktor psikologis dan bias perilaku yang dapat membentuk persepsi resiko serta memengaruhi hasil akhir keputusan investasi. Efek Disposisi dan Keputusan investasi Efek disposisi adalah kecenderungan para investor untuk menjual saham lebih awal ketika harga saham tersebut naik dan menahan saham lebih lama ketika harga saham itu turun (Sudirman et al. , 2. Semakin besar illiquidity, semakin investor tahan lama menahan saham merugi dan rendahnya return meningkatkan keengganan untuk menjual (Fatima & Rahmawati, 2. Fenomena ini dapat membuat seorang investor kehilangan peluang keuntungan saat harga saham naik, sekaligus berisiko mengalami kerugian saat harga saham turun (Puspawati & Yohanda, 2. Ketika harga saham meningkat, individu yang mengalami bias efek disposisi cenderung cepat mengambil keuntungan dengan menjual sahamnya. Sebaliknya, saat harga saham menurun, investor sering menunda penjualan dengan harapan nilai aset akan kembali naik. Akibat dari efek disposisi ini, individu berpotensi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar (Prasetyo et al. , 2. Teori prospek oleh Kahneman dan Tversky . menjelaskan bahwa investor sering kali menahan saham yang merugi lebih lama dan menjual saham yang untung lebih cepat karena fenomena penghindaran kerugian. Rasa sakit akibat kerugian dirasakan lebih besar daripada kesenangan akibat keuntungan dalam jumlah yang sama, sehingga investor cenderung menghindari realisasi kerugian (Sakinah et al. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 878 Perilaku ini mencerminkan adanya efek disposisi, di mana keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada analisis rasional, melainkan pada faktor emosional (Fitra. Sejalan dengan itu, teori penghindaran risiko oleh Pratt . menegaskan bahwa investor pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menghindari risiko, sehingga sering enggan merealisasikan kerugian yang sedang dialami. Investor yang terjebak pada efek disposisi cenderung menahan saham rugi karena takut mengakui kerugian, meskipun langkah tersebut meningkatkan potensi kerugian jangka panjang (Sulistiyaningsih & Florid, 2. Penghindaran risiko ini pada akhirnya melemahkan kualitas keputusan investasi karena investor tidak mampu menyeimbangkan antara logika analisis dan emosi psikologis. Studi empiris membuktikan bahwa efek disposisi membuat investor kehilangan peluang keuntungan jangka panjang karena fokus pada hasil jangka pendek (Kunawangsih et al. , 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa efek disposisi memengaruhi persepsi resiko yang kemudian berdampak pada penurunan kualitas keputusan investasi (Adwitiya & Abdurrahman, 2. Hal ini berarti semakin tinggi kecenderungan efek disposisi, semakin rentan investor terjebak pada keputusan yang Sehingga saat efek disposisi meningkat, maka kualitas keputusan investasi menurun. H1: Efek disposisi berpengaruh negatif terhadap Keputusan investasi. Perilaku Herding dan Keputusan investasi Perilaku herding atau perilaku kawanan dalam konteks keuangan/pasar modal adalah kecenderungan para investor untuk mengikuti tindakan investor lain alihalih membuat keputusan berdasarkan analisis independen sendiri. Perilaku herding bisa terjadi meskipun investor memiliki informasi pribadi yang relevan tetapi memilih untuk mengabaikannya dan meniru keputusan kelompok (Widyari et al. , 2. Dalam perilaku perilaku herding, investor cenderung meniru keputusan investasi yang dilakukan oleh investor lain. Artinya, apabila seorang investor memilih sekuritas 'A', maka investor lain cenderung mengikuti keputusan tersebut, meskipun mungkin tidak memiliki informasi atau analisis yang memadai terhadap sekuritas tersebut (Qasim et , 2. Investor yang cenderung menunjukkan perilaku perilaku herding umumnya memiliki kepercayaan diri yang rendah, karena mempertimbangkan sinyal di pasar dan memanfaatkan keputusan investor profesional untuk meningkatkan kompetensi profesional dalam keputusan investasi (Naomi et al. , 2. Teori prospek Kahneman dan Tversky . menjelaskan fenomena perilaku herding dalam pengambilan keputusan investasi. Ketika menghadapi ketidakpastian dan risiko pasar, banyak investor cenderung mengikuti keputusan mayoritas dengan keyakinan bahwa keputusan kolektif lebih aman. Namun, perilaku ini justru dapat merugikan karena mengabaikan analisis fundamental dan memperkuat bias psikologis (Sulistiyaningsih & Florid, 2. Investor sering termotivasi oleh rasa takut kehilangan peluang . ear of missing ou. atau rasa takut mengalami kerugian yang lebih besar dibandingkan mayoritas. Akibatnya, perilaku herding menyebabkan keputusan investasi yang diambil menjadi seragam, tidak rasional, dan rawan menghasilkan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 879 kerugian bersama-sama. Perilaku herding merupakan salah satu bias perilaku yang berkontribusi pada arah hubungan negatif dengan keputusan investasi. Penelitian empiris menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat perilaku herding, semakin rendah kualitas keputusan investasi karena investor bergantung pada perilaku kolektif (Erianda et al. , 2. Dalam perspektif teori penghindaran risiko oleh Pratt . perilaku herding dapat dipandang sebagai bentuk perlindungan dari risiko Investor merasa lebih aman ketika mengambil keputusan yang sama dengan mayoritas karena beban risiko seolah dibagi (Kunawangsih et al. , 2. Namun, perilaku ini tidak selalu menghasilkan keputusan yang baik, sebab mengikuti mayoritas sering kali berarti mengabaikan data objektif dan analisis yang matang. Semakin tinggi tingkat perilaku herding, semakin rendah pula kualitas keputusan investasi yang dihasilkan karena investor lebih mengandalkan perilaku kolektif daripada evaluasi Hal ini menegaskan bahwa perilaku ikut mayoritas lebih banyak menurunkan efisiensi daripada meningkatkan kualitas keputusan (Sabilla & Pertiwi, 2. Sehingga ketika perilaku herding meningkat, maka kualitas keputusan investasi H2: Perilaku herding berpengaruh negatif terhadap Keputusan investasi. Persepsi Resiko dan Keputusan investasi Persepsi resiko merupakan penilaian individu pada risiko yang akan dihadapinya yang bergantung pada karakteristik psikologi dan keadaan individu tersebut (Ariyani & Astuti. Persepsi resiko yang berkembang dengan baik mendorong pengambilan keputusan yang lebih bijaksana dan rasional (Purwidianti et al. , 2. Investor yang yang lebih paham akan risiko cenderung membuat keputusan setelah melalui berbagai pertimbangan, dan sebaliknya (Agusta & Yanti, 2. Persepsi resiko merupakan faktor penting yang memengaruhi keputusan investasi para investor (Sindhu et al. Investor yang terlalu percaya diri akan memiliki persepsi resiko yang lebih rendah dan cenderung memiliki sikap pengambilan risiko, dan memilih investasi berisiko, persepsi resiko yang positif di antara investor menunjukkan optimisme dalam investasi para investor (Parveen et al. , 2. Secara teoretis, teori prospek Kahneman dan Tversky . menjelaskan bahwa persepsi resiko berperan penting dalam menentukan arah keputusan investasi. Pada domain keuntungan . ain domai. , investor dengan persepsi resiko tinggi akan lebih berhati-hati, memilih strategi protektif, dan cenderung menghindari instrumen berisiko Sebaliknya, pada domain kerugian . oss domai. , persepsi resiko yang sama dapat memicu perilaku pencarian risiko . isk-seeking behavio. sebagai upaya memulihkan kerugian (Kumar et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh persepsi resiko bersifat dinamis, tergantung pada kondisi psikologis dan kerangka keuntungan atau kerugian yang dihadapi investor. Dalam praktiknya, persepsi resiko yang matang justru membantu investor menyeimbangkan antara peluang keuntungan dan potensi kerugian, sehingga meningkatkan kualitas keputusan investasi. Penelitian Ahmed et al. menunjukkan bahwa persepsi resiko berpengaruh positif terhadap Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 880 keputusan investasi, yang menegaskan bahwa variabel ini merupakan mekanisme penting dalam proses pengambilan keputusan. Selaras dengan itu, teori penghindaran oleh Pratt . menegaskan bahwa investor secara alami cenderung menghindari risiko, sehingga semakin tinggi persepsi resiko, semakin hati-hati dalam memilih instrumen investasi. Investor dengan persepsi resiko tinggi biasanya lebih selektif, melakukan diversifikasi portofolio, dan menghindari keputusan impulsif yang merugikan. Kondisi ini mendorong keputusan investasi yang lebih sesuai dengan profil risiko individu dan tujuan keuangan jangka panjang (Ahmed et al. , 2. Persepsi resiko terbentuk dari kombinasi antara informasi objektif pasar dan interpretasi subjektif yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, pengalaman investasi, serta kondisi pasar yang sedang berlangsung. Dalam kerangka Rika & Syaiah . persepsi resiko berpengaruh positif terhadap keputusan investasi. Artinya, investor dengan persepsi resiko lebih tinggi cenderung membuat keputusan investasi yang lebih tinggi. Penelitian oleh Khan & Butt, . menjelaskan bahwa persepsi resiko memengaruhi keputusan investasi. H3: Persepsi resiko berpengaruh positif terhadap Keputusan investasi. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori yang bertujuan untuk menguji pengaruh perilaku herding, efek disposisi dan persepsi resiko terhadap keputusan investasi investor. Unit analisis berupa investor individu yang aktif bertransaksi melalui FAC Sekuritas di Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh investor aktif FAC Sekuritas di Indonesia. Sampel ditentukan secara purposive sampling dengan kriteria yaitu investor individu yang mempunyai akun FAC Sekuritas dan investor memahami variabel yang diteliti. Jumlah sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 123 responden. Berdasarkan pendapat Hair et al. , . , ukuran sampel minimal yang direkomendasikan berkisar 100-300 dalam pendugaan parameter SEM. Dengan demikian, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria ukuran sampel yang disarankan untuk analisis SEM. Gambar 1. Model Penelitian Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 881 Model estimasi secara langsung yang digunakan pada variabel perilaku herding menggunakan 7 indikator dari Kengatharan . , efek disposisi menggunakan 6 indikator dari Pompian . , persepsi resiko menggunakan 6 indikator dari Ghaffar dan Sharif . , dan keputusan investasi menggunakan 3 indikator dari Waweru et . Penelitian ini merumuskan hipotesis terkait pengaruh langsung antar Untuk menguji hubungan antar variabel tersebut, digunakan metode analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLSSEM) melalui bantuan perangkat lunak Smart PLS. Metode ini dipilih karena sesuai untuk analisis variabel laten dengan data berbasis persepsi dan skala likert. Tahapan analisis mencakup pengujian validitas dan reliabilitas konstruk untuk memastikan konsistensi instrumen pengukuran, evaluasi model pengukuran . uter mode. , evaluasi model struktural . nner mode. Validitas konvergen dinilai melalui nilai outer loading (> 0,. dan AVE (> 0,. (Ghozali, 2. Validitas diskriminan diuji menggunakan cross loading, di mana setiap indikator harus lebih tinggi pada konstruk asal dibandingkan konstruk lain. Reliabilitas konstruk diuji melalui composite reliability (Ou 0,. dan CronbachAos alpha (Ou 0,. (Ghozali. Uji hipotesis dilakukan menggunakan p-value, dengan nilai < 0,05 dianggap signifikan (Ghozali, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian Deskripsi Responden Tabel 1. Deskripsi Responden Karakteristik Keterangan Frekuensi Jenis Kelamin Pria Wanita Status Perkawinan Telah Menikah Belum Menikah Usia 17-20 Tahun 21-29 Tahun >30 Tahun Kualifikasi Pendidikan SMP/SMA Diploma Sarjana Magister Doktor Pendapatan Per Rp8. Apakah Sudah Mempunyai Akun Tidak FAC Sekuritas Apakah Memahami Variabel yang Diteliti Tidak Sumber: Data primer hasil pengolahan kuesioner penelitian tahun 2025. Presentase Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 882 Berdasarkan Tabel 1, responden terdiri dari 58 pria dan 65 wanita, dengan partisipasi wanita sedikit lebih dominan. Mayoritas responden berusia 21Ae29 tahun . dan berpendidikan S1 . , yang menunjukkan dominasi investor muda dengan tingkat pendidikan relatif tinggi. Dari sisi pendapatan, sebagian besar berada pada kategori di bawah Rp1. 000 hingga Rp5. otal 52 oran. , sehingga didominasi kelompok berpendapatan rendahAemenengah. Dalam hal pengalaman berinvestasi, mayoritas responden memiliki pengalaman kurang dari satu tahun, yaitu sebanyak 76 orang, yang menandakan bahwa penelitian ini banyak melibatkan investor pemula. Seluruh responden telah memiliki akun FAC Sekuritas, menegaskan bahwa mereka merupakan investor aktif yang memiliki akses langsung untuk bertransaksi di pasar modal, sehingga data yang diperoleh dapat merepresentasikan perilaku investasi secara valid dan relevan. Nilai Convergent Validity Hasil model struktural dalam penelitian ini ditampilkan pada Gambar 2, sedangkan ringkasan nilai statistiknya disajikan pada Tabel 2. Gambar 2. Model Struktural Tabel 2 menunjukkan nilai convergent validity setiap indikator yang mewakili efek disposisi, perilaku herding, keputusan investasi dan persepsi resiko. Menurut Ghozali . indikator dinyatakan valid jika loading factor > 0. 70, dan seluruh indikator dalam penelitian ini memenuhi kriteria tersebut. Pada variabel efek disposisi, nilai loading Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 883 factor berkisar 0,852Ae0,876 dengan indikator tertinggi ED6 . Variabel perilaku herding memiliki nilai di atas 0,8 dengan indikator tertinggi PH6 . Pada keputusan investasi, indikator tertinggi adalah KI2 . dan KI3 . dan terendah KI1 . Sementara itu, pada persepsi resiko nilai tertinggi adalah PR6 . dan terendah PR1 . Dengan demikian, seluruh indikator dinyatakan valid karena nilai loading factor > 0,70. Indikator ED1 ED2 ED3 ED4 ED5 ED6 Tabel 2. Nilai Convergent Validity ED Indikator PH Indikator 0,852 PH1 0,882 KI1 0,824 0,871 PH2 0,877 KI2 0,845 0,885 PH3 0,846 KI3 0,845 0,878 PH4 0,826 0,875 PH5 0,883 0,876 PH6 0,909 PH7 0,848 Indikator PR1 PR2 PR3 PR4 PR5 PR6 0,873 0,898 0,895 0,896 0,904 0,907 Discriminant Validity Hasil uji discriminant validity menggunakan metode HTMT ditampilkan pada Tabel 3 Variabel 0,120 0,389 0,267 Tabel 3. Hasil Uji HTMT 0,516 0,451 0,819 Secara umum, nilai HTMT yang baik adalah di bawah 0,85 Ghozali . untuk menunjukkan bahwa konstruk berbeda tidak terlalu berkorelasi, sehingga validitas diskriminan terpenuhi. Dari Tabel 3 terlihat bahwa nilai HTMT antar variabel relatif rendah, mulai dari 0,120 -0,819. Semua nilai ini berada jauh di bawah batas maksimal 0,85 sehingga dapat disimpulkan: Variabel efek disposisi (ED) dan perilaku herding (PH) memiliki nilai 0,120, berarti korelasinya rendah dan berbeda. Variabel keputusan investasi (KI) dan persepsi resiko (PR) memiliki nilai paling tinggi 0,819 tetapi masih di bawah batas ambang 0,85 sehingga masih dianggap diskriminan valid. Kombinasi variabel lainnya juga menunjukkan nilai HTMT yang tidak mengarah pada masalah validitas diskriminan. Nilai Composite Reliability dan CronbachAos Alpha Pengujian reliabilitas variabel dilakukan menggunakan nilai Composite Reliability dan CronbachAos Alpha. Berdasarkan Tabel 4, seluruh variabel penelitian telah memenuhi kriteria reliabilitas yang sangat baik. Variabel efek disposisi (ED), perilaku herding (PH), persepsi resiko (PR), serta keputusan investasi (KI), seluruhnya nilai composite reliability > 0,70 menunjukkan indikator reliabel dan konsisten. Selain itu, nilai Average Variance Extracted (AVE) juga memenuhi syarat, dengan tertinggi pada persepsi resiko (PR) yaitu . dan terendah pada keputusan investasi (KI) yaitu . Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 884 keduanya di atas 0,50. Dengan demikian, semua variabel dinyatakan reliabel dan valid sehingga layak digunakan pada pengujian model berikutnya. Tabel 4. Nilai Composite Reliability dan CronbachAos Alpha Composite Composite Average Cronbach's Variabel Reliability Reliability Variance Alpha Extracted (AVE) 0,938 0,951 0,951 0,762 0,945 0,957 0,955 0,753 0,951 0,951 0,960 0,802 0,788 0,789 0,876 0,702 Nilai Variance Inflating Factor (Vi. Nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk setiap indikator pada penelitian ini ditampilkan pada Tabel 5. Tabel 5. Nilai Variance Inflating Factor (VIF) Indikator VIF Indikator VIF ED1 2,998 ED4 3,133 ED2 3,059 ED5 2,839 ED3 3,106 ED6 2,998 PH1 3,409 PH5 3,521 PH2 3,529 PH6 3,980 PH3 3,064 PH7 2,657 PH4 2,751 KI1 1,572 KI3 1,659 KI2 1,770 PR1 3,195 PR4 3,634 PR2 3,779 PR5 4,106 PR3 3,602 PR6 3,964 Tabel 5 menyajikan hasil pengujian nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk setiap indikator pada variabel penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh nilai VIF berada pada rentang 1,572 - 4,106. Menurut Ghozali . nilai VIF di bawah 5 menunjukkan bahwa tidak terdapat permasalahan multikolinearitas yang signifikan antar indikator dalam model. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masingmasing indikator pada variabel efek disposisi (ED1AeED. , perilaku herding (PH1AePH. , keputusan investasi (KI1AeKI. , dan persepsi resiko (PR1AePR. memiliki tingkat keterkaitan yang dapat diterima serta layak digunakan untuk analisis lanjut. Nilai R Square Nilai R-Square untuk variabel dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Nilai R Square Indikator R-square 0,579 R-square adjusted 0,568 Tabel 6 menjelaskan bahwa nilai R-Square pada variable keputusan investasi (KI) berturut-turut sebesar 0,579. Adapun nilai R-Square adjusted pada variable keputusan investasi (KI) yaitu sebesar 0,568. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 885 Hasil Uji Hipotesis secara Langsung dan Tidak Langsung Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis Secara Langsung dan Tidak Langsung Indikator Original sample (O) Sample mean (M) ED -> KI PH -> KI PR -> KI 0,227 0,236 0,551 0,230 0,239 0,551 Standard (STDEV) 0,067 0,066 0,061 T statistics (|O/STDEV|) 3,386 3,583 9,053 0,001 0,000 0,000 Tabel 7 menjelaskan secara statistik mengenai hasil uji hipotesis. Hasil penelitian bahwa efek disposisi dan perilaku herding berpengaruh positif terhadap keputusan investasi, sehingga hipotesis pertama dan kedua ditolak. Sementara persepsi resiko terhadap keputusan investasi berpengaruh positif, sehingga hipotesis ketiga diterima. Pembahasan Efek disposisi dan Keputusan investasi Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku herding berpengaruh positif terhadap keputusan investasi sehingga hipotesis pertama ditolak. Hal ini karena investor lebih cepat menyesuaikan portofolionya ketika menghadapi keuntungan maupun kerugian (Adwitiya & Abdurrahman, 2. Hal ini sesuai dengan Utility Maximization Theory oleh Bentham . yang menekankan bahwa individu selalu berusaha memaksimalkan utilitas melalui keputusan finansial yang adaptif. Investor yang berani merealisasikan kerugian dapat segera mencari peluang baru untuk mengoptimalkan portofolio (Lovallo et al. , 2. Efek disposisi dalam konteks positif juga membantu investor mengurangi bias emosional dengan mengevaluasi kinerja portofolio secara objektif (Othman, 2. Studi lain menegaskan bahwa perilaku ini dapat meningkatkan fleksibilitas strategi investasi, terutama dalam kondisi volatilitas tinggi (Aminarty et al. , 2. Investor FAC Sekuritas yang adaptif lebih mudah melakukan diversifikasi ulang untuk mengurangi risiko jangka panjang. Efek disposisi dapat berfungsi sebagai mekanisme disiplin diri yang meminimalkan keterikatan psikologis terhadap saham tertentu (Teitelbaum, 2. , sehingga efek disposisi tidak selalu menjadi bias negatif, tetapi dapat menjadi strategi adaptif yang memperkuat kualitas keputusan investasi di pasar modal (Sathya & Gayathiri, 2. Selain itu, investor yang mampu mengelola efek disposisi secara positif lebih siap menghadapi ketidakpastian pasar di masa depan (Yulianto & Wijaya. Temuan ini juga mendukung pentingnya literasi risiko sebagai faktor kunci untuk mengubah bias menjadi strategi rasional (Sellina & Zed, 2. Maka, efek disposisi dapat dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berkontribusi terhadap keberhasilan investasi jangka panjang. Perilaku herding dan Keputusan investasi Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku herding berpengaruh positif terhadap keputusan investasi sehingga hipotesis kedua ditolak. Investor memperoleh validasi sosial dari keputusan mayoritas (Yuwana et al. , 2. Perspektif ini sesuai dengan theory of planned behavior oleh Ajzen . yang menyatakan bahwa norma sosial Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 886 berperan penting dalam membentuk keyakinan individu. Investor ritel sering meniru perilaku investor berpengalaman sebagai bentuk pembelajaran kolektif (Oktaviani et , 2. Studi empiris menegaskan bahwa herding dapat membantu investor pemula membuat keputusan lebih cepat karena memanfaatkan sinyal pasar dari pelaku berpengalaman (Chen et al. , 2. Investor FAC Sekuritas yang mengikuti mayoritas merasa lebih percaya diri karena keputusannya didukung oleh kelompok. Penelitian lain menemukan bahwa perilaku ini mampu mengurangi ketidakpastian karena mayoritas dianggap sebagai sumber informasi yang kredibel (Mallek et al. , 2. Perilaku herding dalam konteks positif juga mempercepat proses pengambilan keputusan dengan menghemat biaya analisis (Manalu et al. , 2. Perilaku herding dalam konteks ini tidak hanya bias, tetapi juga menjadi sarana koordinasi sosial yang memperkuat kualitas keputusan investasi (Utami, 2. Hal ini sesuai dengan kerangka TPB oleh Ajzen . bahwa norma subjektif dapat menjadi faktor pendorong kuat dalam pengambilan keputusan rasional. Dalam praktiknya, investor yang melihat mayoritas melakukan tindakan tertentu akan lebih mudah membangun keyakinan bahwa keputusan tersebut benar secara sosial (Yang et al. , 2. Dukungan norma sosial ini mendorong konsistensi perilaku investasi karena individu merasa terikat pada ekspektasi kelompok (Wirawan et al. , 2. Perilaku herding dapat dipandang sebagai bentuk internalisasi norma subjektif yang mendukung rasionalitas keputusan (Rahayu et al. , 2. Sehingga, praktisnya penguatan norma sosial positif di pasar modal dapat menjadikan herding sebagai mekanisme yang konstruktif bagi investor ritel. Persepsi resiko dan Keputusan investasi Persepsi resiko terbukti berpengaruh positif terhadap keputusan investasi sehingga hipotesis kedua diterima. Hal ini karena persepsi resiko yang matang membantu investor lebih berhati-hati dalam menilai peluang dan kerugian (Juliyanti, 2. Menurut teori prospek oleh Kahneman dan Tversky . investor dengan persepsi resiko yang baik mampu menyeimbangkan antara keuntungan yang diharapkan dengan potensi kerugian. Penelitian empiris membuktikan bahwa investor dengan persepsi resiko tinggi cenderung melakukan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko kerugian (Maharani et al. , 2. Selain itu, persepsi resiko yang kuat membuat investor lebih selektif dalam memilih instrumen investasi. Investor dengan persepsi resiko baik biasanya memiliki kemampuan lebih rasional dalam mengelola aset (Holzmeister et al. , 2. Dalam konteks FAC Sekuritas, persepsi resiko yang matang sangat penting karena dapat menjadi penopang kualitas keputusan investor pemula yang rentan terhadap bias perilaku. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa investor dengan pemahaman risiko yang baik mampu menekan dampak emosional dalam keputusan investasi (Mufidah et al. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi resiko tidak hanya berfungsi sebagai filter rasionalitas, tetapi juga sebagai mekanisme protektif dari pengaruh bias psikologis (Girlando et al. , 2. Perlunya peningkatan pemahaman risiko pada investor FAC Sekuritas akan memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas keputusan Perspektif teori penghindaran risiko oleh Pratt . semakin tinggi Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 887 persepsi resiko maka semakin besar kecenderungan investor untuk menghindari instrumen berisiko tinggi dan memilih investasi yang lebih aman (Aren & Hamamci. Investor dengan persepsi resiko baik lebih realistis dalam menentukan strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko. Studi lain menegaskan bahwa persepsi resiko positif meningkatkan kualitas keputusan investasi karena investor lebih hati-hati dalam menentukan instrumen investasi (Putri & Santoso, 2. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa persepsi resiko mampu memperkuat rasionalitas investor di pasar modal (Purnomo et al. , 2. Investor dengan pemahaman risiko yang matang dapat menghindari keputusan impulsif yang merugikan (Wang, 2. Hal ini penting untuk mendorong investor pemula agar tidak terjebak pada bias seperti efek disposisi dan perilaku herding (Ahmed et al. , 2. Pada konteks FAC Sekuritas, peningkatan literasi risiko sangat diperlukan untuk memperkuat kualitas keputusan investasi ritel di Indonesia. Studi empiris menambahkan bahwa literasi risiko dapat berfungsi sebagai pengendali bias perilaku sehingga keputusan lebih konsisten dengan tujuan investasi jangka panjang (Wahyuni & Yadewani, 2. Upaya edukasi risiko oleh perusahaan sekuritas juga terbukti meningkatkan kepercayaan diri investor dalam mengambil keputusan sehingga FAC Sekuritas dapat menjadikan persepsi resiko sebagai instrumen strategis untuk mendukung kualitas keputusan investor pemula. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa efek disposisi berpengaruh positif terhadap keputusan investasi, perilaku herding juga berpengaruh positif terhadap keputusan investasi, dan persepsi risiko berpengaruh positif terhadap keputusan investasi. Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatnya kecenderungan investor untuk mempertahankan saham yang merugi maupun mengikuti perilaku mayoritas tidak serta-merta menurunkan kualitas pengambilan keputusan. Sebaliknya, ketiga variabel tersebut justru berkorelasi dengan keputusan investasi yang lebih baik, terutama ketika investor memiliki persepsi risiko yang lebih kuat dan mampu memahami konsekuensi dari setiap pilihan investasi. Dengan demikian, persepsi risiko menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas keputusan investasi, sementara efek disposisi dan perilaku herding dalam konteks penelitian ini tidak terbukti merugikan, bahkan dapat berkontribusi positif terhadap keputusan investasi yang Secara empirik, penelitian ini memiliki keterbatasan karena menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang hanya menggambarkan perilaku investor pada satu periode waktu tertentu dan belum mampu menangkap perubahan perilaku investasi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan responden dengan karakteristik yang lebih beragam dari berbagai perusahaan sekuritas dan wilayah geografis agar hasilnya lebih Secara practical, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi investor, khususnya di FAC Sekuritas, agar lebih menyadari risiko dari bias perilaku yang dapat merugikan, serta menjadi dasar bagi regulator pasar modal seperti Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 888 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam mengembangkan program edukasi perilaku investasi dan pedoman literasi risiko nasional yang berfokus pada pengendalian bias dan peningkatan pemahaman risiko. Secara theoretical, penelitian ini dapat mengintegrasikan teori portofolio perilaku oleh (Shefrin & Statman, 2. yang menjelaskan bahwa investor membentuk portofolio tidak hanya untuk memaksimalkan keuntungan rasional tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan emosional dan keamanan psikologis, dengan menambahkan variabel seperti kepuasan emosional atau goal framing guna memahami pengaruh faktor emosional dan tujuan pribadi terhadap keputusan investasi. Referensi