ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 PENGARUH TOTAL ASSET TURNOVER. INVENTORY TURNOVER. DAN RETURN ON ASSET TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA PERUSAHAAN SEKTOR BARANG KONSUMEN PRIMER DI BURSA EFEK INDONESIA Kelly Lay Email: kellylay15032000@gmail. Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Dharma Pontianak ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Total Asset Turnover (TATO). Inventory Turnover (ITO), dan Return On Asset (ROA) memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan sektor barang konsumen primer di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 20162020. Pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling, sehingga diperoleh 60 sampel dari 87 populasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, dengan pengujian asumsi klasik, dan pengujian hipotesis serta analisis statistik yaitu analisis regresi linier berganda dengan menggunakan software SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Total Asset Turnover (TATO) dan Inventory Turnover (ITO) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan Return On Asset (ROA) memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba. KATA KUNCI: total asset turnover, inventory turnover, return on asset, pertumbuhan laba PENDAHULUAN Pada umumnya sebuah perusahaan dijalankan dengan tujuan memperoleh laba. Laba dapat menunjukkan kinerja sebuah perusahaan oleh karena itu laba diharapkan setiap tahunnya mengalami pertumbuhan. Laba yang mengalami pertumbuhan menunjukkan perusahaan mempunyai pengendalian yang baik atas keuangan dan kegiatan operasional serta perusahaan berhasil dalam memanfaatkan sumber daya yang Perusahaan dengan laba meningkat dapat menarik perhatian para calon investor dan investor yang ingin menanamkan modal pada perusahaan. Untuk mengetahui apakah laba mengalami pertumbuhan atau tidak, dapat diperhitungkan dengan membandingkan selisih dari laba tahun ini dengan laba tahun sebelumnya yang kemudian dibagi dengan laba tahun sebelumnya. Data dapat diperoleh dari laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu dalam penelitian ini, laporan keuangan digunakan sebagai media untuk melakukan perhitungan serta analisis. Laporan keuangan dapat mempermudah penelitian karena laporan keuangan dirancang sedemikian rupa agar mudah dimengerti dan dipahami. Untuk menganalisis ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 keuangan perusahaan dalam memprediksi pertumbuhan laba dapat menggunakan analisis rasio keuangan. Rasio keuangan pada umumnya dikelompokkan menjadi rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, rasio pertumbuhan, dan rasio nilai Dari rasio-rasio tersebut, rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio aktivitas dan profitabilitas. Laba yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas perusahaan. Aktivitas perusahaan diharapkan berjalan dengan efektif yang mana biasanya berhubungan dengan penjualan, penagihan piutang dan persediaan. Rasio aktivitas yang dijadikan tolak ukur adalah Total Asset Turnover (TATO) dan Inventory Turnover (ITO). Dengan hasil perhitungan, perusahaan dapat melakukan perhitungan serta perencanaan untuk masa yang akan datang yang mana akan berpengaruh terhadap laba. Setiap perusahaan mempunyai target dalam mencapai laba sehingga perlu dilakukannya perhitungan. Rasio profitabilitas dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan atau laba perusahaan. Rasio profitabilitas yang dijadikan tolak ukur adalah Return On Asset (ROA). Hasil dari perhitungan rasio ini dapat dijadikan alat bagi manajer serta pemilik perusahaan untuk mengevaluasi dan mempersiapkan target untuk masa yang akan datang. Sehingga pemilik perusahaan dapat memperhitungkan laba dan memperkirakan laba yang dapat dihasilkan dari penggunaan aset yang ada. Pada penelitian ini, sektor yang dijadikan objek penelitian adalah sektor barang konsumen primer di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan-perusahaan yang ada dalam sektor ini adalah perusahaan toko makanan, ritel, distributor obat, menjual produk pertanian, barang keperluan rumah tangga, hingga barang perawatan pribadi. Perusahaan yang menghasilkan pertumbuhan laba berturut-turut setiap periodenya menunjukkan perusahaan mempunyai prospek yang baik untuk masa yang akan datang. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuAnalisis Pengaruh Total Asset Turnover. Inventory Turnover Dan Return On Asset Terhadap Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Sektor Barang Konsumen Primer Di Bursa Efek IndonesiaAy. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 KAJIAN PUSTAKA Teori sinyal Menurut Brigham dan Houston . 1: . teori sinyal merupakan perilaku manajemen perusahaan untuk investor dengan memberikan informasi terkait pandangan manajemen pada prospek perusahaan untuk masa yang akan datang. Gumanti . 9: . mengemukakan Auteori sinyal menyatakan bahwa manajer . atau perusahaan secara kualitatif memiliki kelebihan informasi dibandingkan dengan pihak luar dan mereka menggunakan ukuran-ukuran atau fasilitas tertentu menyiratkan kualitas perusahaannyaAy. Perusahaan mengeluarkan informasi laporan keuangan karena menghindari terjadinya asimetri informasi. Gumanti . 9: . berpendapat bahwa Aujika pemegang saham atau investor tidak mencoba mencari informasi terkait dengan sinyal, mereka tidak akan mampu mengambil manfaat maksimalAy. Pihak luar yang menerima informasi akan memberikan tanggapan hingga membuat keputusan. Informasi yang dikeluarkan perusahaan penting karena bagi para pelaku pasar akan menilai apakah informasi berupa sinyal baik atau sinyal buruk. Pertumbuhan Laba Tujuan utama sebuah perusahaan dijalankan adalah untuk memperoleh profit atau Laba sangat penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup sebuah perusahaan dan laba juga merupakan elemen penting yang sering kali dilirik banyak Menurut Belkaoui . 7: . AuAdam Smith adalah ahli ekonomi yang pertama kali mendefinisikan laba sebagai suatu peningkatan kekayaanAy. Belkaoui . 7: . juga menyatakan bahwa Aulaba terdiri atas hasil-hasil operasional atau laba biasa, dan hasil-hasil nonoperasional atau keuntungan dan kerugian luar biasa, yang jumlah keduanya sama dengan laba bersihAy. Laba perusahaan dapat menunjukkan baik buruknya kinerja sebuah perusahaan. Laba perusahaan dapat dilihat pada laporan laba rugi Kasmir . 1: . mengemukakan bahwa laporan laba rugi berisi informasi mengenai hasil usaha sebuah perusahaan yang mana terdapat pendapatan dan biaya dalam suatu periode tertentu. Maka laba diperoleh dari selisih pendapatan perusahaan dan biaya yang harus dikeluarkan sebuah perusahaan. Pada umumnya laba dibedakan menjadi tiga yaitu laba bersih, laba kotor, dan laba usaha. Yang mana dari ketiga laba tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya. Oleh karena itu perhitungan laba harus diperhitungkan dengan mendetail. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 Hapsari . 7: . mengemukakan bahwa perhitungan laba dapat dijadikan alat prediktif yang dapat membantu meramalkan laba yang akan datang. Laba dapat berubah baik itu mengalami penurunan maupun pertumbuhan setiap tahunnya yang mana diketahui beberapa hal yang dapat mempengaruhi perubahan tersebut. Faktor yang mempengaruhi terdapat faktor dalam lingkup perusahaan dan luar perusahaan. Randa. Rinaldo, & Sunreni . 9: . , berpendapat bahwa perubahan laba dapat dipengaruhi faktor dalam perusahaan seperti perubahan dalam komponen laporan keuangan. Perubahan komponen laporan keuangan yang dimaksud adalah perubahan penjualan, perubahan harga pokok penjualan, dan lainnya. Perubahan laba juga dapat dipengaruhi dari faktor luar seperti terjadi kenaikan harga akibat inflasi. Oleh karena itu laba tentunya harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi perhitungan pertumbuhan laba sehingga laba masa yang akan datang dapat direncanakan secara efektif. Perusahaan dengan laba yang stabil dan cenderung mengalami pertumbuhan setiap periodenya dapat menunjukkan bahwa kinerja perusahaan baik. Untuk mengetahui apakah laba mengalami pertumbuhan atau tidak dapat diperhitungkan menggunakan rasio pertumbuhan dan dilakukan perbandingan dengan periode sebelumnya. Menurut Kasmir . 1: . AuRasio pertumbuhan . rowth rati. merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonominya di tengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanyaAy. Dengan ini perusahaan mempunyai harapan bahwa laba mengalami pertumbuhan setiap periodenya. Kasmir . 1: . mengemukakan bahwa rasio pertumbuhan terdapat empat macam yaitu pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan per tahun, dan pertumbuhan dividen per saham. Pada penelitian ini fokus utama tertuju pada pertumbuhan laba. Harahap . menyatakan bahwa Aurasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan meningkatkan laba bersih dibanding tahun laluAy. Kusoy . 0: . menyatakan bahwa Aupertumbuhan laba adalah suatu persentase kenaikan atau penurunan laba yang diperoleh perusahaan pada suatu periode tertentuAy. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil perhitungan pertumbuhan laba antar periode akan terjadi dua kemungkinan yaitu lebih tinggi dari periode sebelumnya atau mengalami pertumbuhan dan lebih rendah dari periode sebelumnya atau mengalami penurunan. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 Mengukur pertumbuhan laba dapat diperhitungkan dengan membandingkan selisih laba periode tahun sekarang dengan laba periode tahun sebelumnya kemudian dibagi laba periode tahun sebelumnya. Data laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba setelah pajak (Earning After Ta. atau yang biasa disebut laba bersih. Perusahaan yang mempunyai laba stabil dan mengalami peningkatan setiap periodenya akan menarik para investor untuk menanamkan modalnya. Menurut Hanafi . yang dikutip dari Putri & Sary . 7: . bahwa pertumbuhan laba merupakan salah satu informasi yang dapat memprediksi dan penting bagi para pengguna laporan keuangan dalam melihat prospek hasil usaha dan keadaan keuangan perusahaan tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa hasil perhitungan biasanya akan digunakan beberapa pihak yang berkepentingan untuk membuat keputusan seperti seorang investor yang ingin menanamkan modalnya di suatu Total Asset Turnover (TATO) Sawir . 5: . mengemukakan rasio Total Asset Turnover (TATO) merupakan salah satu rasio aktivitas yang mana rasio ini mengukur seberapa efektif perusahaan dalam menggunakan dan memanfaatkan seluruh harta yang ada dalam menghasilkan penjualan atau berapa rupiah penjualan bersih yang telah dihasilkan sebuah perusahaan dari rupiah yang telah diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini dapat mengukur efektivitas sebuah perusahaan dalam memanfaatkan semua aktiva untuk menghasilkan penjualan dalam satu periode tertentu. Untuk menghitung rasio Total Asset Turnover (TATO), dapat dilakukan perhitungan perbandingan antara penjualan terhadap total aset. Penjualan yang dimaksud adalah penjualan bersih selama satu periode dan total aset merupakan penjumlahan dari aset lancar dan aset tetap. Menurut Kasmir . 1: . manfaat dari perhitungan rasio aktivitas yang berhubungan dengan aktiva dan penjualan adalah perusahaan dapat mengetahui berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Dengan hasil perhitungan ini, perusahaan dapat mengukur kinerja perusahaan. Perusahaan yang melakukan perhitungan dengan rasio ini dapat menilai apakah perusahaan mampu mencapai target atau tidak. Jika perusahaan tidak mencapai target, maka perusahaan akan mencari sebab-sebab dan merencanakan kembali untuk masa yang akan datang. Sawir . 5: . berpendapat bahwa jika perputaran lambat, maka aktiva perusahaan terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan perusahaan dalam menjual. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 Perputaran yang lambat menunjukkan perusahaan kurang dalam memanfaatkan aset yang Jika penjualan perusahaan tinggi, maka perusahaan berhasil memanfaatkan aset yang ada dengan efektif. Kondisi perputaran lambat dan cepat tentunya akan mempengaruhi laba perusahaan. Perusahaan mengalami pertumbuhan laba atau tidak bergantung dengan bagaimana perusahaan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aset yang ada dalam Yang artinya semakin tinggi Total Asset Turnover (TATO), maka semakin tinggi pertumbuhan laba. Inventory Turnover (ITO) Perusahaan dalam menghasilkan laba yang optimal harus memperhatikan persediaan sebuah perusahaan. Dengan menjaga keseimbangan persediaan, perusahaan akan meminimalisir kerugian seperti tidak terpenuhinya permintaan konsumen yang melonjak yang mana dapat mengakibatkan konsumen berhenti berlangganan dan berpindah ke produk perusahaan pesaing. Namun persediaan yang terlalu besar juga mempunyai risiko dalam biaya-biaya yang harus dikeluarkan seperti biaya penyimpan, beban bunga, serta barang rusak sehingga akan menimbulkan penurunan profit atau laba yang akan diterima perusahaan. Secara umum persediaan terbagi menjadi tiga jenis yaitu persediaan dalam bentuk bahan baku, persediaan setengah jadi, dan persediaan barang Menurut Syaiffudin . 8: . terdapat empat faktor yang dapat mempengaruhi besar kecilnya persediaan. Faktor pertama adalah lead time atau waktu yang dihabiskan untuk menunggu bahan baku yang telah dipesan. Faktor kedua adalah jenis bahan baku yang digunakan perusahaan dalam proses produksi apakah tahan lama tau tidak. Faktor ketiga yaitu frekuensi dalam menggunakan bahan baku. Dan faktor keempat adalah jumlah dana yang tersedia untuk pembelian bahan baku. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi jumlah persediaan hingga proses produksi yang mana dapat mempengaruhi laba yang akan diterima perusahaan dan tentunya harus menjadi pertimbangan sebuah perusahaan dengan adanya manajemen persediaan yang baik sehingga perusahaan lebih efisien. Perusahaan dapat memperhitungkan persediaan dengan menggunakan perhitungan analisis rasio Inventory Tunover (ITO) atau yang biasa disebut dengan rasio perputaran persediaan. Sawir . 5: . mengemukakan rasio Inventory Tunover (ITO) dapat mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola persediaan barang dagang. Kasmir . 1: . berpendapat bahwa rasio Inventory Tunover (ITO) atau rasio perputaran persediaan dapat juga diartikan bahwa rasio ini dapat menunjukkan berapa kali jumlah persediaan diganti ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 dalam satu tahun atau satu periode. Untuk mengukur rasio ini dapat dilakukan perbandingan antara harga pokok penjualan dengan rata-rata persediaan. Sawir . berpendapat bahwa rata-rata persediaan diperoleh dari penjumlahan persediaan awal dengan persediaan akhir dibagi dua. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang dapat menyeimbangkan antara persediaan dengan permintaan pasar. Harahap . 1: . berpendapat bahwa semakin besar hasil rasio ini maka semakin baik yang artinya perusahaan dapat menjalankan kegiatan penjualan dengan cepat. Munawir . 7: . berpendapat semakin cepat tingkat perputaran maka akan memperkecil risiko atas kerugian seperti penurunan harga dan menghemat ongkos penyimpanan. Artinya perusahaan berhasil bekerja dengan efektif dan persediaan yang likuid. Jika perputaran persediaan kecil, maka akan terjadi penumpukkan persediaan di dalam gudang yang mana akan menimbulkan kerugian seperti rusaknya persediaan. Perusahaan yang mengalami ketidakseimbangan, aktivitas perusahaan dalam hal penjualan dapat terganggu. Ketika penjualan terganggu, tentunya akan mempengaruhi pertumbuhan laba. Oleh karena itu, manajemen perlu untuk memperhitungkan persediaan untuk masa sekarang dan merencanakan persediaan masa yang akan datang. Return On Asset (ROA) Rasio Return On Asset (ROA) dapat diperhitungkan dengan membandingkan laba bersih yang terdapat di laporan laba rugi dengan total aset yang terdapat di laporan keuangan neraca. Total aset merupakan penjumlahan dari aset lancar dan aset tetap. Menurut Harahap . 1: . , jika hasil rasio ini besar maka semakin baik. Artinya aset lebih cepat berputar dan menghasilkan laba. Namun jika hasil rasio ini kecil maka perputaran aset lambat. Sehingga perusahaan dapat dikatakan tidak maksimal dalam menghasilkan laba. Kasmir . 1: . berpendapat bahwa kegagalan dalam mencapai target harus diselidiki serta mengetahui letak kelemahan dan keberhasilan sehingga dapat dijadikan bahan acuan untuk perencanaan laba di masa mendatang, dan dapat juga dijadikan pertimbangan untuk mengganti manajamen yang lama saat mengalami kegagalan dengan manajemen yang baru. Sehingga dengan adanya perhitungan ini perusahaan dapat mengevaluasi kinerja perusahaan selama ini. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 TATO (X. ITO PERTUMBUHAN LABA (X. (Y) ROA (X. Sumber: Tinjauan literatur 2022 Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian Menurut Sugiyono . 6: . AuHipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaanAy. Berikut hipotesis yang dapat dirumuskan pada penelitian ini sebagai berikut: H1: Total Asset Turnover (TATO) berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Laba. H2: Inventory Turnover (ITO) berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Laba. H3: Return On Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Laba. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Objek penelitian yang digunakan adalah sektor barang konsumen primer periode 2016-2020 yang mana merupakan salah satu sektor yang tergabung secara resmi dalam Indonesia Stock Exchange Industrial Classification (IDX-IC). Pada penelitian ini, jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang mana data sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung atau melalui media perantara. Data diambil melalui situs resmi yaitu Data yang diambil berupa laporan keuangan tahunan perusahaan. Populasi perusahaan berjumlah 87 perusahaan. Dari populasi tersebut, perusahaan akan diambil menjadi sebuah sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria tersebut meliputi: . Perusahaan yang melakukan IPO sebelum 2016 dan listing selama ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 tahun 2016-2020, . Perusahaan yang menyediakan laporan keuangan berturut-turut selama periode 2016-2020. Dari metode sampling tersebut, sebanyak 60 perusahaan yang sesuai kriteria dan akan menjadi sampel pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis dengan alat bantu SPSS versi 22. PEMBAHASAN Statistik deskriptif TABEL 1 HASIL ANALISIS STATISTIK DESKRIPTIF Descriptive Statistics Valid N . Minimum Maximum Mean Std. Deviation Sumber: Data Olahan, 2022 Berdasarkan Tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa jumlah data yang diteliti untuk setiap variabel berjumlah 300 data. Pada variabel Pertumbuhan Laba (Y), nilai terendah sebesar -53,6948 dan nilai tertinggi sebesar 50,3629. Nilai rata-rata dari variabel Y adalah -0,094927 dan standar deviasi sebesar 8,5142336. Pada variabel rasio total asset turnover (TATO), nilai terendah sebesar 0,0273 dan nilai tertinggi sebesar 4,5707. Nilai rata-rata dari variabel X1 adalah 1,221719 dan standar deviasi sebesar 0,8979392. Pada variabel rasio inventory turnover (ITO), nilai terendah sebesar 0,8692 dan nilai tertinggi sebesar 430,4570. Nilai rata-rata dari variabel X2 adalah 24,802664 dan standar deviasi sebesar 47,2552782. Pada variabel rasio return on asset (ROA), nilai terendah sebesar -2,6410 dan nilai tertinggi sebesar 0,6987. Nilai rata-rata dari variabel X3 adalah 0,035845 dan standar deviasi sebesar 0,2042705. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 Uji asumsi klasik Uji Normalitas TABEL 2 HASIL UJI NORMALITAS One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Sumber: Data Olahan, 2022 Berdasarkan Tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi adalah 0,000. Sesuai dengan kriteria yang ada jika nilai signifikansi dibawah 0,05 atau 5 persen, maka dapat dikatakan data tidak terdistribusi normal. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa data diatas tidak terdistribusi normal karena nilai signifikansi 0,000 atau dibawah 0,05. Oleh karena itu, penulis menormalkan data dengan mengeliminasi data menggunakan outlier metode box-plot. Berdasarkan Tabel 3 di bawah, setelah dilakukan outlier box-plot maka data berkurang menjadi 280 dan terlihat bahwa nilai signifikansi masih berada di angka 0,000 yang mana dapat disimpulkan bahwa data setelah dilakukan outlier box-plot masih tidak terdistribusi normal. Dengan ini penulis akan mengabaikan normalitas berdasarkan asumsi Gujarati . yang telah dibahas sebelumnya. Data akan mendekati distribusi normal seiring berkembangnya jumlah sampel yang digunakan yang mana jumlah data pada penelitian ini sebanyak 300 data. Dengan 300 data ini telah melebihi batas acuan CLT yang digunakan Gujarati . yaitu sebanyak 100 buah. Maka dengan hasil pengujian normalitas dengan data berdistribusi tidak normal dapat diabaikan dan dapat melanjutkan pengujian selanjutnya. ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 TABEL 3 HASIL UJI NORMALITAS SETELAH OUTLIER One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Sumber: Data Olahan, 2022 Selain uji normalitas diatas, terdapat uji lainnya yaitu uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi. Hasil Uji multikolinearitas dalam penelitian ini menunjukkan nilai tolerance lebih besar dari 0,10 dan VIF lebih kecil dari 10. Maka dapat dikatakan tidak ada masalah multikolinearitas. Uji heterokedastisitas menunjukkan hasil lebih dari 0,05 maka dapat dikatakan tidak terjadi heterokedastisitas. Dan uji autokorelasi menunjukkan nilai DW 1,958 berada diantara nilai dU dan 4-dU . ,82575 < 1, 958 < 2,17. sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah autokorelasi. Analisis regresi linier berganda TABEL 4 HASIL ANALISIS REGRESI LINIER BERGANDA Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model Standardized Coefficients Std. Error (Constan. Beta Sig. Dependent Variable: Y1 Sumber: Data Olahan, 2022 ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 Berdasarkan Tabel 4 di atas, diperoleh model regresi yaitu sebagai berikut: Y = 0,437 0,186 0,001 Oe 8,725 Uji hipotesis Uji Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi Berdasarkan hasil yang telah dilakukan nilai R sebesar 0,264 yang artinya korelasi antara hubungan ketiga variabel independen dengan variabel dependen adalah sangat rendah. Adjusted R Square sebesar 0,060 atau 6 persen yang menunjukkan bahwa ketiga variabel independen mempengaruhi variabel dependen sebesar 6 persen dan sisanya 94 persen dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain. Uji TABEL 5 HASIL UJI F ANOVAa Sum of Squares Model Mean Square Regression Residual Total Sig. Dependent Variable: Y1 Predictors: (Constan. X3. X2. X1 Sumber: Data Olahan, 2022 Berdasarkan Tabel 5, nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 yang artinya nilai tersebut lebih kecil dari alpha 0,05 . ,000 < 0,. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model regresi sudah layak untuk memprediksi pertumbuhan laba. Uji t dan pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel Dependen Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa nilai signifikansi variabel X1 dan X2 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa kedua variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap variabel dependen pertumbuhan laba. Sedangkan nilai signifikansi variabel X3 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel tersebut berpengaruh terhadap variabel dependen pertumbuhan laba. - Pengaruh total asset turnover (TATO) terhadap pertumbuhan laba ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan untuk pengujian ini adalah total asset turnover (TATO) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba. Semakin tinggi total asset turnover (TATO) maka akan meningkatkan pertumbuhan laba. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa total asset turnover (TATO) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. - Pengaruh inventory turnover (ITO) terhadap pertumbuhan laba Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan untuk pengujian ini adalah inventory turnover (ITO) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba. Semakin tinggi inventory turnover (ITO) maka akan meningkatkan pertumbuhan laba. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa inventory turnover (ITO) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. - Pengaruh return on asset (ROA) terhadap pertumbuhan laba Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan untuk pengujian ini adalah return on asset (ROA) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba. Semakin tinggi return on asset (ROA) maka akan meningkatkan pertumbuhan laba. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa return on asset (ROA) berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan adalah bahwa total asset turnover (TATO) dan inventory turnover (ITO) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan return on asset (ROA) memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba. Keterbatasan penelitian ini adalah hanya terdiri dari lima tahun berturut-turut yaitu tahun 2016 hingga 2020 dengan jumlah sampel sebanyak 60 perusahaan sektor barang konsumen primer di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2016 sampai dengan tahun Saran yang dapat penulis berikan adalah penelitian selanjutnya yaitu menambah atau mengubah proksi dari masing-masing rasio seperti Total Asset Turnover (TATO) dan Inventory Turnover (ITO) dalam mengukur rasio aktivitas dan Return On Asset (ROA) dalam mengukur profitabilitas yang mana dapat berguna untuk dijadikan ISSN: 3025-9312 Bisma. Vol 8. No 9. January 2024 DAFTAR PUSTAKA