JURNAL PSIKOLOGI: Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan DOI: https://doi. org/10. 35891/jip. ISSN: 2088-0634 (Prin. , 2715-6206 (Onlin. Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 Work-Family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Family Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Nufaisah Andini Putri1*. Mohammad Nursalim Malay2. Intan Islamia3 Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Raden Intan Lampung E-mail korespondensi: 1*nufaisah08@gmail. 1,2,3 Keywords: conscientiousness, family supportive supervisor behavior, work-family balance. Kata kunci: beban kerja, conscientiousness, family supportive supervisor behaviors, keseimbangan kerja-keluarga Abstract Work-family balance is an important issue for retail workers who are faced with high work demands and obligations in family life. An imbalance between these two aspects can lead to stress, burnout and reduced Individual factors such as conscientiousness as well as situational factors such as workload and support from supervisors have the potential to influence this This study seeks to examine the impact of workload and conscientiousness on work-family balance, while evaluating the moderating effect of family supportive supervisor behaviors (FSSB). The study used a quantitative approach with moderated regression analysis on 317 retail workers of PT Indomarco Prismatama Lampung who were taken by random sampling technique. The findings showed that workload and conscientiousness significantly influenced work-family balance, with a significance value 000 (<0. for both factors. However. FSSB did not affect the correlation between workload and work-family balance . ignificance value 0. 859 > 0. In contrast. FSSB conscientiousness and work-family balance, with a significance value of 0. 027 (<0. This suggests that supervisor support regarding family demands increases the impact of individuals' conscientiousness on their capacity to achieve work-family balance. This finding underscores the importance of supervisor assistance in fostering workfamily balance, particularly for people who exhibit high levels of conscientiousness. Abstrak Work-family balance menjadi isu penting bagi pekerja ritel yang dihadapkan pada tuntutan pekerjaan yang tinggi serta kewajiban dalam kehidupan keluarga. Ketidakseimbangan antara kedua aspek ini dapat menyebabkan stres, kelelahan, dan penurunan kinerja. Faktor individu seperti conscientiousness serta faktor situasional seperti beban kerja Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan dan dukungan dari atasan berpotensi memengaruhi keseimbangan ini. Studi ini berupaya untuk menguji dampak beban kerja dan conscientiousness pada work-family balance, sekaligus mengevaluasi efek moderasi family (FSSB). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi moderasi pada 317 pekerja ritel PT Indomarco Prismatama Lampung yang diambil dengan teknik random Temuan menunjukkan bahwa beban kerja dan conscientiousness secara signifikan memengaruhi work-family balance, dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,. untuk kedua faktor tersebut. Meskipun demikian. FSSB tidak memengaruhi korelasi antara beban kerja dan work-family balance . ilai signifikansi 0,859 > 0,. Sebaliknya. FSSB conscientiousness dan work-family balance, dengan nilai signifikansi 0,027 (<0,. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan dampak conscientiousness individu terhadap kapasitas mereka untuk mencapai work-family balance. Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya bantuan supervisor dalam membina work-family balance, khususnya bagi orang yang menunjukkan tingkat conscientiousness yang tinggi. Sitasi: Putri. Malay. , & Islamia. Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator. Jurnal Psikologi : Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan, 12. , 19-36. https://doi. org/10. 35891/jip. Pendahuluan Work-family balance telah muncul sebagai perhatian penting dalam kehidupan profesional kontemporer, khususnya di sektor yang banyak diminati seperti ritel. Pola kerja karyawan ritel terus berkembang seiring dengan dinamika operasional bisnis dan perkembangan teknologi, serta diwarnai oleh berbagai kebijakan regulasi di tingkat nasional dan internasional. Di satu sisi, shift kerja bergilir telah menjadi andalan untuk memastikan kehadiran staf di berbagai waktu operasional toko. Misalnya, studi dari Guerrero & Cabrita . menyebutkan bahwa sekitar 34% pekerja ritel di Uni Eropa mengalami gangguan tidur akibat shift malam yang tidak teratur, menyoroti tantangan kesehatan yang harus dihadapi oleh karyawan dalam penyesuaian jam kerja yang dinamis tersebut. Manajemen di industri ini sering kali kurang memberikan dukungan Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 yang memadai untuk mengatasi konflik antara pekerjaan dan kehidupan keluarga, yang menjadi salah satu penyebab utama ketidakseimbangan tersebut (Manjula O. Rao D. , 2. Dalam penelitian ini. PT Indomarco Prismatama (Indomare. , salah satu pemain utama dalam industri ritel di Indonesia, menjadi populasi dalam penelitian ini. Indomarco Prismatama merupakan badan usaha swasta nasional yang mengelola jaringan minimarket Indomaret, yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dalam ruang penjualan kurang dari 200 mA (Gusnella dkk. , 2. Perluasan e-commerce dan perubahan perilaku pelanggan telah meningkatkan ekspektasi terhadap pengalaman pembelian yang cepat, efisien, dan disesuaikan (Fatun, 2. Liu dkk. menemukan hubungan yang signifikan antara beban kerja dan kelelahan kerja, yang pada gilirannya memengaruhi keseimbangan antara kehidupan kerja dan Akibatnya, peritel berada di bawah tekanan untuk segera beradaptasi dan meningkatkan kualitas layanan mereka dalam menanggapi kondisi. Penelitian yang dilakukan oleh Rachman . mengungkapkan bahwa durasi kerja yang panjang serta tekanan kerja yang tinggi dapat memicu penumpukan emosi negatif, seperti rasa lelah secara fisik dan meningkatnya kecemasan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan burnout. Selain itu, variasi tugas yang harus dilakukan, mulai dari pelayanan pelanggan hingga pengelolaan stok, memerlukan keterampilan dan perhatian yang tinggi, sehingga menambah kompleksitas beban kerja. Kondisi ini sering kali memunculkan konflik yang tidak hanya berdampak pada kehidupan keluarga tetapi juga mengurangi kepuasan kerja, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja (Ramadhan, 2016. Taneo dkk. , 2024. Widyantara dkk. , 2. Work-family balance merujuk pada kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan kerja tanpa mengabaikan tanggung jawabnya dalam keluarga, atau Work-family balance, menurut Carlson dkk. , . , terpenuhinya harapan terhadap peran yang dinegosiasikan dan dipahami bersama oleh individu dan pasangan dalam konteks pekerjaan dan keluarga. Hill dkk. , . menambahkan bahwa keseimbangan ini tercapai ketika individu mampu memenuhi ekspektasi yang berasal dari pekerjaan maupun keluarga secara harmonis. Hill dkk. , . juga Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan menambahkan bahwa keseimbangan ini tercapai ketika individu mampu memenuhi ekspektasi yang berasal dari pekerjaan maupun keluarga secara harmonis. Keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan keluarga berkontribusi positif terhadap kepuasan kerja dan komitmen karyawan. Konflik antara peran kerja dan keluarga dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan tingkat pergantian karyawan. Studi oleh Sirgy & Lee . menekankan bahwa work-family balance yang baik berhubungan erat dengan peningkatan kinerja dan loyalitas karyawan. Waktu yang cukup untuk keluarga juga membantu memperkuat ikatan emosional dan mengurangi konflik rumah tangga. Salah satu faktor yang memengaruhi work-family balance adalah kepribadian individu, terutama dimensi conscientiousness (Greenhaus dkk. , 2. Conscientiousness adalah salah satu komponen dari teori big five personality yang menggambarkan individu yang disiplin, bertanggung jawab, terorganisir, dan fokus pada pencapaian tujuan (Costa & McCrae, 1. Penelitian yang dilakukan oleh Shabrina & Aslamawati . telah membuktikan bahwa kualitas kepribadian ekstroversi, neurotisme, dan conscientiousness memengaruhi persepsi beban kerja, yang selanjutnya memengaruhi keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang menunjukkan conscientiousness tinggi lebih mahir dalam mengelola konflik antara kewajiban pekerjaan dan rumah, sehingga memfasilitasi keseimbangan yang lebih baik. Ketika memikirkan aspek-aspek yang memengaruhi work-family balance, beban kerja merupakan salah satu pertimbangan terpenting setelah kepribadian. Frekuensi dan tingkat kesulitan aktivitas yang perlu diselesaikan dalam jangka waktu tertentu merupakan apa yang dikenal sebagai beban kerja (Tambengi dkk. , 2. Hart & Staveland . , beban kerja mencakup beberapa aspek penting: tuntutan fisik . ktivitas yang memerlukan kekuata. , usaha . paya fisik dan mental untuk mencapai tujua. , tuntutan mental . ugas yang memerlukan perhatian inten. , tuntutan waktu . ekanan waktu untuk menyelesaikan tuga. , tingkat frustasi . erasaan ketidakamanan atau keputusasaa. , dan kinerja . ingkat keberhasilan dan kepuasan dalam tuga. Pada penelitian yang dilakukan oleh Murdaningrum . mengungkapkan adanya Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 keterkaitan antara beban kerja dengan keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga. Namun, hasil penelitian yang dilakukan oleh Soegiono & Idulfilastri . menunjukkan hasil yang berbeda. Beban kerja dan work-family balance tidak terbukti berhubungan secara signifikan dalam penelitian ini. Temuan ini bertentangan dengan teori dan penelitian sebelumnya yang sering menyatakan bahwa beban kerja berperan besar dalam memengaruhi work-family balance. Karena adanya temuan penelitian yang saling bertentangan, jalan baru untuk penyelidikan terhadap unsur-unsur potensial yang berkontribusi dapat ditempuh. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah menambahkan variabel moderator, yaitu family supportive supervisor behaviors, untuk memperjelas hubungan antara beban kerja dan work-family balance. Menurut Thomas & Ganster . sebagai bagian dari FSSB, supervisor harus bertindak dengan cara yang menunjukkan bahwa mereka memahami pentingnya keseimbangan kehidupan kerja bagi karyawan mereka. Greenhaus dkk. , . menekankan bahwa dengan bantuan atasan mereka, orang dapat mengalami lebih sedikit stress, dan sebagai hasilnya, lebih berinvestasi dalam work-family balance mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh beban kerja dan conscientiousness terhadap work-family balance, serta mengeksplorasi peran moderasi dari FSSB. Metode Metodologi penelitian ini bersifat kuantitatif dan berdasarkan pada desain Terdapat variabel moderator, family supportive supervisor behaviors (FSSB), satu variabel faktor dependen, yaitu work-family balance, dan dua variabel independen, conscientiousness & beban kerja. Partisipan Sebanyak 317 partisipan dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja di Indomarco Prismatama (Indomare. di wilayah Lampung. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan empat skala, yaitu skala work-family balance yang dikembangkan oleh Carlson dkk. , . yang diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Rahmawati dkk. , . , dan memiliki reliabilitas = 0,870 dengan 6 aitem. Skala beban kerja yang dikembangkan oleh Hoonakker dkk. , . dan Ilmi dkk. , . memiliki reliabilitas = 0,894 dengan 18 aitem. Skala conscientiousness dikembangkan oleh Armiyati dkk. , . yang didasarkan pada kerangka kerja McCrae & Costa . , dan disesuaikan oleh peneliti dengan subjek penelitian, dan memiliki reliabilitas = 0,990 dengan 36 aitem. Skala family supportive supervisor behaviors yang dikembangkan oleh Hammer dkk. , . yang telah diadaptasi oleh Andadari . , dan memiliki reliabilitas = 0,951 dengan 14 aitem. Analisis Data Proses analisis data meliputi pengklasifikasian karakteristik responden, melakukan uji statistik deskriptif, dan menggunakan SPSS versi 23 for Windows untuk menguji asumsi klasik seperti normalitas, heteroskedastisitas, dan multikolinearitas. Efek moderasi FSSB pada dampak kehati-hatian dan beban kerja terhadap work-family balance diperiksa dengan menguji hubungan antara variabel menggunakan regresi berganda dan Analisis Regresi Termoderasi (MRA). Hasil Karakteristik Demografis Individu Penelitian ini melibatkan 317 karyawan PT Indomarco Prismatama (Indomare. di Lampung, mayoritas laki-laki . ,37%) dan kelompok usia dominan 25-44 tahun . ,0%). Jabatan terbanyak adalah pramuniaga . ,1%), diikuti kasir . ,9%) dan staf gudang . ,9%). Dari segi peran keluarga, mayoritas sebagai anak . ,3%), ayah . ,7%), dan ibu . ,0%), sebagian besar berstatus karyawan tetap . ,9%). Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 Tabel 1 Karakteristik Demografis Individu Kategori Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-laki 52,37 Perempuan 47,63 Usia <24 tahun 25-44 tahun 44-60 tahun 60-75 tahun Jabatan Pramuniaga Kasir Merchandiser Helper Building Maintenance Maintenance Person Mekanik Staf gudang Peran di Keluarga Ayah Ibu Anak Status Karyawan Karyawan tetap Karyawan kontrak Lama Bekerja 0 Ae <1 tahun 1 Ae <3 tahun 3 Ae <5 tahun 5 Ae <10 tahun 10 tahun ke atas Kategorisasi Data Mayoritas responden memiliki conscientiousness tinggi . ,7%) dan beban kerja tinggi . ,2%), namun tetap menjaga work-family balance yang baik . ,1%) serta menerima dukungan supervisor positif . ,5%). Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan Tabel 2 Hasil Analisis Kategori Data Variabel Conscientiousness Beban Kerja Frekuensi Kategori Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi Work-family balance Family Supportive Supervisor Behaviors Persentase 0,9% 23,3% 75,7% 0,3% 20,5% 79,2% 6,9% 93,1% 8,5% 91,5% Uji Statistik Deskriptif Hasil uji deskriptif menunjukkan rata-rata beban kerja responden sebesar 73,25 (SD=10,. , mengindikasikan tingkat beban kerja yang tinggi dengan variasi Variabel conscientiousness memiliki rata-rata skor 147,50 (SD = 22,. , menunjukkan tingkat conscientiousness yang tinggi dengan perbedaan antar individu. Work-family balance memiliki rata-rata 24,96 (SD = 2,. , menandakan work-family balance yang baik dengan variasi kecil. Sementara itu. FSSB mencatat rata-rata skor 58,28 (SD = 5,. , menunjukkan dukungan supervisor terhadap keluarga yang cukup Tabel 3 Data Uji Statistik Deskriptif Minimum Maximum Mean Std. Deviation Beban kerja 73,25 10,925 Conscientiousness 147,50 22,484 Work-family balance 24,96 2,271 Family supportive supervisor behaviors 58,28 5,403 Valid N . Uji Normalitas Tabel ini menampilkan hasil uji Kolmogorov-Smirnov untuk kenormalan residual tak terstandar. Data menunjukkan distribusi normal, hal ini terlihat dari nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-taile. sebesar 0,200, yang melebihi ambang batas 0,05. Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 Tabel 4 Data Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Uji Multikolinearitas Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mendeteksi adanya korelasi tinggi antar variabel independen dalam model regresi, dengan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel. Tidak ditemukannya multikolinearitas ditunjukkan oleh nilai Toleransi yang lebih besar dari 0,10 serta nilai VIF yang kurang dari 10,00 untuk semua variabel Tabel 5 Data Uji Multikolinearitas Model Coefficientsa Unstandardized Standardized Collinearity Coefficients Coefficients Statistics T Sig. Std. Beta Tolerance VIF Error 1 (Constan. Beban kerja Conscientiousness Family supportive supervisor Dependent Variable: Work-family balance Uji Heteroskedasitas Hasil ini mengindikasikan tidak ada heteroskedastisitas, sehingga model regresi Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan Tabel 6 Data Uji Heteroskedasitas Model 1 (Constan. Beban kerja Conscientiousness Family supportive supervisor Coefficientsa Unstandardized Coefficients Std. Error 516E-5 Standardized Coefficients Beta Sig. 041 -. 003 -. Uji Regresi Berganda Tabel menunjukkan hasil regresi dengan work-family balance sebagai variabel Beban kerja dan conscientiousness memiliki nilai signifikansi 0,000, menunjukkan keduanya berpengaruh signifikan terhadap work-family balance. Tabel 7 Data Uji Regresi Berganda Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta 1 (Constan. Beban kerja Conscientiousness Dependent Variable: Work-family balance Sig. Uji Regresi Moderasi Tingkat signifikansi 0,859 (> 0,. menunjukkan bahwa perilaku supervisor yang mendukung keluarga tidak memoderasi hubungan antara beban kerja dan work-family Sebaliknya, nilai 0,027 (< 0,. menunjukkan bahwa perilaku supervisor memoderasi hubungan antara conscientiousness dan work-family balance. Tabel 8 Data Uji Regresi Moderasi Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model Std. Error 1 (Constan. Beban Kerja*FSSB Conscientiousness*FSSB -. Dependent Variable: Work-family balance Standardized Coefficients Beta Sig. Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 Diskusi Beban kerja dan conscientiousness merupakan faktor utama yang memengaruhi work-family balance, menurut penelitian ini. Karena beban kerja signifikan secara statistik pada 0,000, maka peningkatan beban kerja berbanding terbalik dengan keseimbangan kerja-keluarga yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan teori bahwa orang tidak dapat bersantai dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka ketika mereka memiliki banyak hal yang harus dilakukan (Greenhaus & Beutell, 1. Kehidupan profesional dan pribadi seseorang menjadi tidak seimbang karena beban kerja yang berlebihan, menurut penelitian sebelumnya (Fikriansyah & Fikry, 2024. Mangindaan & Timothy, 2022. Nurhasanah, 2. Sebelum penelitian ini, peneliti Bhalla & Kang . , menemukan korelasi yang kuat antara conscientiousness dan work-family balance diantara pekerja ritel. Mereka yang memiliki tingkat conscientiousness yang lebih tinggi lebih terorganisir dan bertanggung jawab, yang menghasilkan keterampilan manajemen waktu dan prioritas yang lebih unggul, menurut penelitian tersebut. Karyawan yang conscientiousness biasanya lebih mampu merencanakan dan mengatur tugas-tugas mereka, baik di tempat kerja maupun di rumah (Hariyanti, 2. Mampu menyelesaikan sesuatu dengan cepat membuat mereka lebih baik dalam mengelola waktu dan tanggung jawab mereka, yang pada gilirannya memudahkan mereka untuk mencapai keseimbangan kerjahidup yang baik (Hariyanti, 2021. Sari & Sari, 2. Artinya, orang yang pekerja keras lebih cenderung memisahkan pekerjaan dan kehidupan keluarga mereka. Putra & Ariebowo . menemukan bahwa ketika pekerja mampu mengelola waktu mereka dengan baik, mereka lebih mampu mencapai tujuan mereka, yang pada gilirannya membantu mereka menjaga work-family balance yang sehat. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa FSSB tidak memoderasi hubungan antara beban kerja dan work-family balance . = 0,. , yang menunjukkan bahwa FSSB tidak memiliki peran moderasi yang substansial. Hal ini menegaskan apa yang ditemukan Ningsih & Susetyo . , di mana ditemukan bahwa family supportive supervisor behaviors (FSSB) juga tidak mampu memoderasi hubungan antara work life balance dan job satisfaction. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki atasan Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan yang mendukung memang meningkatkan kepuasan kerja, hal itu tidak memiliki efek yang sama dengan work-family balance yang sehat. Sumber daya seperti dukungan supervisor dapat mengurangi efek negatif tuntutan kerja hanya jika tuntutan tersebut masih dalam batas "moderat". Jika beban kerja terlalu ekstrem . isalnya, tekanan waktu atau volume tugas yang tidak realisti. , dukungan supervisor mungkin tidak cukup untuk mengimbanginya (Bakker & Demerouti, 2. Di sektor ritel seperti PT Indomarco (Indomare. , beban kerja seringkali bersifat struktural . isalnya, shift panjang, target penjualan tingg. , sehingga FSSB seperti fleksibilitas jadwal atau empati tidak secara efektif mengurangi tekanan. Bertentangan dengan apa yang ditemukan Suryatunnisak dkk. , . , dukungan atasan mengurangi efek yang tidak menguntungkan dari beban kerja pada work-family balance. Bahkan dengan bantuan atasan, ketegangan dan tekanan yang disebabkan oleh beban kerja yang berat belum sepenuhnya berkurang (Sudrajat & Afrianty, 2. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa FSSB ternyata berperan dalam memperkuat hubungan antara conscientiousness dan work-family balance, dengan nilai 0,027. Hal conscientiousness yang tinggi dapat memanfaatkan dukungan dari supervisor untuk lebih baik dalam mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan keluarga mereka. Dukungan dari pihak berwenang, baik psikologis maupun instrumental, dapat menjadi sumber daya yang berharga bagi individu, menurut teori dukungan sosial, yang didukung oleh temuan ini (Hammer dkk. , 2. Dukungan dari atasan juga dapat membantu karyawan mencapai kepuasan kerja (Baloyi dkk. , 2. Hubungan yang baik antara atasan dan karyawan dapat meningkatkan rasa percaya, motivasi, dan keterlibatan karyawan dalam organisasi. Tujuan dari inisiatif work-family balance adalah untuk mengurangi ketegangan yang terjadi antara kebutuhan individu karyawan dan tanggung jawab pekerjaan Beberapa langkah yang umum dalam program work-family balance antara lain adalah jam kerja yang fleksibel, pembagian beban kerja, komunikasi yang efektif, hak cuti pribadi, dan dukungan untuk perawatan anak (Wahono & Imsiyah, 2. Selain itu, jenis posisi dalam struktur organisasi Indomaret, seperti kasir, staf gudang, atau Work-family Balance Ditinjau dari Conscientiousness dan Beban Kerja: Peran Fanily Supportive Supervisor Behaviors sebagai Moderator Volume 12. Nomor 1. Maret 2025 supervisor, dapat memberikan beban kerja dan tantangan yang berbeda. Sebagai contoh, shift malam yang sering dihadapi oleh karyawan dapat mengurangi waktu interaksi dengan keluarga, sementara tekanan untuk mencapai target penjualan bulanan dapat meningkatkan tingkat stres. Stres ini sering kali berasal dari tuntutan untuk memenuhi ekspektasi perusahaan sambil tetap memberikan pelayanan pelanggan yang baik (Idrus, 2024. Itsnaini dkk. , 2. Pemahaman terhadap unsur-unsur yang memengaruhi keseimbangan pekerjaan dan keluarga sangat ditingkatkan oleh temuan studi ini. Dengan menunjukkan bahwa conscientiousness dapat berfungsi sebagai penguat dalam hubungan dengan dukungan supervisor, penelitian ini menyoroti pentingnya karakteristik individu dalam konteks Hal ini dapat menjadi acuan bagi organisasi retail seperti Indomaret untuk mengembangkan program pelatihan yang tidak hanya meningkatkan conscientiousness karyawan tetapi juga membantu supervisor dalam memberikan dukungan yang relevan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung work-family balance. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa work-family balance secara signifikan dipengaruhi oleh conscientiousness dan beban kerja, meskipun family supportive supervisor behaviors tidak memoderasi hubungan antara beban kerja dan work-family family supportive supervisor behaviors justru memperkuat hubungan antara conscientiousness dan work-family balance. Perusahaan, khususnya di sektor ritel, disarankan untuk lebih memperhatikan faktor psikologis seperti manajemen waktu, dukungan sosial, stres kerja, serta mengembangkan program pengembangan diri yang berfokus pada peningkatan karakteristik seperti disiplin dan tanggung jawab. Selain itu, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental, misalnya melalui layanan konseling, dapat membantu karyawan mencapai work-family balance yang lebih baik. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi variabel lain yang relevan, seperti work-family guilt, psychological detachment, serta self-compassion dalam mendukung work-family balance. Nufaisah Andini Putri. Mohammad Nursalim Malay. Intan Islamia JURNAL PSIKOLOGI Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan Referensi