CARING PERAWAT DI RUANG RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP Sridama Yanti Harahap1. Seriga Banjarnahor2. Lenny Lusia Simatupang3 Universitas Murni Teguh Email: damaharahap@gmail. banjarnahorseriga@gmail. lennylusia30@gmail. ABSTRAK Caring adalah esensi dari praktik keperawatan profesional. Namun, banyak praktik keperawatan di Indonesia masih berfokus pada tugas atau task oriented dan belum sepenuhnya mencerminkan nilainilai perawatan transpersonal yang dikembangkan oleh Jean Watson. Studi ini berfokus pada penilaian efek program penguatan budaya transpersonal caring terhadap komunikasi, sikap, dan perilaku caring perawat serta pandangan pasien di Rumah Sakit Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH). Sumatera Utara. Penelitian menerapkan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan pre-post assessment. Sampel mencakup 354 perawat . % dari 415 yang memenuhi syara. dan 158 pasien dirawat inap . % dari keseluruhan populas. Data dikumpulkan menggunakan dua instrumen: Caring Nurse-Patient Interactions Scale (CNPI) dan Client Perception of Caring Scale (CPC). Proses mencakup prassesmen, pelatihan, penerapan, pengawasan, dan penilaian yang berkelanjutan. Analisis dilaksanakan dengan cara Sebagian besar pasien menilai pelayanan keperawatan dalam kategori baik . awat inap 47,98%, rawat jalan 48,2%), tetapi tingkat kepuasan Ausangat baikAy masih kurang dari 30%. Skor caring perawat terletak pada kategori cukup baik . ,2%), dengan durasi pendidikan rata-rata hanya 5-6 menit setiap shift. Persepsi pasien mengenai sikap perawat juga dianggap cukup baik . %) dan baik . ,8%), tetapi 31% menyatakan bahwa perawat lebih mengutamakan tugas dibandingkan dengan kebutuhan holistik, serta 14% merasa frustrasi dengan perilaku perawat. Komunikasi internal perawat umumnya tergolong baik, meskipun terdapat praktik agresif dan konflik antarpribadi. Ada perbedaan antara nilai caring yang dipercayai perawat dengan pengalaman caring yang dialami pasien. Intervensi melalui pelatihan transpersonal caring, peningkatan komunikasi empatik, dan penguatan peran kepemimpinan keperawatan dibutuhkan untuk menciptakan budaya caring yang berkelanjutan dan memperbaiki kualitas pelayanan keperawatan. Kata Kunci: caring, perawat, transpersonal, kepuasan pasien, komunikasi kepuasan pasien dan profesional (Maniago & Albougami, 2. Temuan ini mengindikasikan perlunya transformasi budaya kerja keperawatan dari paradigma tugas menuju paradigma caring yang berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan. Budaya caring tidak hanya mempercepat penyembuhan pasien (Wei et al. , 2. tetapi juga menjadi fondasi kolaborasi interprofesional dalam tim kesehatan. tengah tantangan beban kerja dan dominasi praktik task-oriented, penting untuk membudayakan kembali nilai-nilai caring dalam sistem pelayanan keperawatan. Budaya caring tidak hanya mencerminkan nilai kemanusiaan, tetapi juga menjadi fondasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang menyembuhkan, efektif, dan berorientasi pada kualitas hidup pasien. LATAR BELAKANG Pelayanan kesehatan berkualitas tinggi merupakan hak fundamental setiap individu dan menjadi indikator utama keberhasilan sistem kesehatan global. Menurut WHO . , memenuhi tujuh dimensi: efektivitas, keamanan, patient-centeredness, ketepatan waktu, kesetaraan, integrasi layanan, dan Dalam ekosistem ini, perawat sebagai frontliner memegang peran sentral dalam menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan praktik (ICN, 2. Di Indonesia. Undang-Undang No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan menegaskan peran perawat tidak hanya sebagai pemberi asuhan, tetapi juga sebagai pendidik, peneliti, dan agen perubahan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa praktik keperawatan sering kali terjebak dalam rutinitas task-oriented tanpa pendekatan holistik berbasis caring (Vujanic et al. , 2. , sementara esensi caring sebagai jiwa profesi terabaikan. Data WHO . juga menyatakan bahwa burnout dan beban kerja tinggi menjadi tantangan utama dalam menjaga mutu layanan keperawatan secara global. Padahal, teori keperawatan modern seperti Transpersonal Caring karya Jean Watson . menekankan bahwa penyembuhan pasien memerlukan pendekatan holistik yang memadukan sains, humanisme, dan Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mengevaluasi penerapan budaya caring transpersonal pada perawat dan persepsi pasien rawat inap di Rumah Sakit Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH). Sumatera Utara. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan pre-post assessment. Tujuannya adalah mengevaluasi dampak program penguatan budaya transpersonal caring terhadap komunikasi, sikap, dan perilaku caring perawat di Rumah Sakit Murni Teguh Memorial Hospital. Sumatera Utara. Studi kesenjangan antara harapan dan realitas perilaku caring perawat. Misalnya, hanya 55% pasien menilai perawat memiliki perilaku caring (Sera et al. , 2. sementara penelitian di Arab Saudi transpersonal caring berkorelasi dengan Populasi dalam penelitian ini terdiri dari seluruh staf keperawatan dan pasien rawat inap di rumah sakit yang menjadi lokasi studi. Sampel yang berhasil dikumpulkan meliputi 354 perawat, yang merupakan 85% dari total 415 staf keperawatan, serta 158 pasien rawat inap, yang mencakup 65% dari 250 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Baik" menempati proporsi berikutnya sebesar 25,31%, disusul oleh kategori "Sedang" sebanyak 26,45%. Sementara itu, proporsi terkecil terdapat pada kategori "Kurang", yang hanya mencakup 0,24% dari responden. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien memiliki persepsi keperawatan, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan menuju kepuasan kategori "Sangat Baik". Prosedur penelitian terdiri dari . pre-asesmen menggunakan kuesioner terstruktur. pelatihan internal tentang budaya caring transpersonal dan komunikasi non-agresif, dilanjutkan dengan masa implementasi selama 1 bulan. evaluasi dan supervisi dan . evaluasi triwulan dengan penguatan jika skor belum memadai. Sementara itu, pada pasien rawat jalan, kepuasan terhadap pelayanan di berbagai unit (IGD. Poliklinik. Medical Check-Up. Kemoterapi. Radioterapi, dan Hemodialisi. sebagai berikut: Dua instrumen digunakan dalam penelitian ini. Caring Nurse-Patient Interactions Scale (CNPI) digunakan untuk mengukur perilaku caring perawat berdasarkan 10 faktor karatif menggunakan skala Likert 5 poin. Client Perception of Caring Scale (CPC) digunakan untuk menilai persepsi pasien terhadap caring perawat melalui 10 item dengan skala 6 Data dianalisis secara deskriptif. Tabel 2. Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Jalan HASIL Tingkat kepuasan pasien Tabel 1. Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Kategori Persentase Sangat Baik 20,03% Baik 48,2% Sedang 21,76% Kurang 8,96% 1,03% Kategori Persentase Buruk Sangat Baik 25,31% Baik 47,98% Sedang 26,45% Kurang 0,24% Distribusi tingkat kepuasan pasien rawat jalan menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai pelayanan keperawatan dalam kategori "Baik", yaitu sebesar 48,2% dari total responden. Kategori "Sangat Baik" menempati posisi berikutnya dengan proporsi 20,03%, diikuti oleh kategori "Sedang" sebesar 21,76%. Sementara 8,96% menyatakan kepuasan pada kategori "Kurang", dan 1,03% bahkan menilai pelayanan dalam kategori "Buruk". Data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar pasien memiliki penilaian positif. Berdasarkan data survei kepuasan pasien di RS Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH) Distribusi tingkat kepuasan pasien rawat inap menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai pelayanan keperawatan berada pada kategori "Baik", yaitu sebanyak 47,98% dari total responden. Kategori "Sangat masih terdapat proporsi ketidakpuasan yang cukup signifikan, terutama pada pelayanan rawat jalan, yang perlu menjadi perhatian dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Asesmen Transpersonal Caring tahun . ,8%), 4150 tahun . ,8%), dan >50 tahun . %). Berdasarkan responden terbanyak memiliki masa kerja 3-5 tahun . ,7%) dan 6-8 tahun . ,7%), diikuti 1-2 tahun . ,3%) dan <1 tahun . ,4%). Data ini menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perawat muda dengan pengalaman kerja menengah Budaya Data Staf Keperawatan Karakteristik Responden Skor Kuesioner Transpersonal Caring Tabel 3. Karakteristik Demografi Staf Keperawatan Karakteris-tik Jenis Kelamin Usia Lama Bekerja Kategori Tabel 4. Distribusi Jawaban Kuesioner Transpersonal Caring (Staf Keperawata. Persentase Perempuan 87,3% Laki-laki 12,7% 20-30 tahun 69,5% 31-40 tahun 21,8% 41-50 tahun 6,8% >50 tahun <1 tahun 14,4% 1-2 tahun 26,3% 3-5 tahun 29,7% 6-8 tahun 29,7% Budaya Kategori Jawaban Persentase Rata-rata Tidak sama sekali 0,3% Jarang 1,5% Kadang Sering 66,2% Banyak sekali 16,7% Hasil implementasi budaya transpersonal caring menunjukkan bahwa sebagian besar responden memilih kategori AuSeringAy dengan persentase sebesar 66,2%. Pilihan AuBanyak sekaliAy berada pada urutan berikutnya dengan persentase 16,7%, yang mencerminkan adanya penerapan prinsipprinsip caring dalam praktik keperawatan. Sementara itu, 15% responden memilih AuKadangAy, dan hanya sebagian kecil yang menjawab AuJarangAy . ,5%) atau AuTidak sama sekaliAy . ,3%). Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum, budaya caring telah diterapkan oleh mayoritas perawat, meskipun konsistensinya masih perlu ditingkatkan untuk menjangkau seluruh dimensi karatif secara menyeluruh. Dari total 458 staf keperawatan, setelah eksklusi terhadap peran struktural dan unit tertentu, jumlah yang memenuhi syarat asesmen adalah 415 orang. Sebanyak 354 orang . %) bersedia mengisi Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . ,3%), dan sisanya laki-laki . ,7%). Kelompok usia terbanyak adalah 20-30 tahun . ,5%), diikuti 31-40 Sebanyak 28,8% menyampaikan edukasi selama 3-4 menit, dan 12,1% hanya 1-2 Adapun durasi 7-8 menit hanya dialami oleh 5,6% pasien, dan 9-10 menit oleh 11,3%. Temuan ini menunjukkan bahwa waktu edukasi umumnya masih efektivitas komunikasi dan pemahaman pasien terhadap asuhan keperawatan. Lama Edukasi per Shift Tabel 5. Lama Edukasi Perawat kepada Pasien per Shift Durasi Edukasi Persentase 1-2 menit 12,1% 3-4 menit 28,8% 5-6 menit 41,2% 7-8 menit 5,6% 9-10 menit 11,3% Pola Keperawatan Mayoritas perawat memberikan edukasi selama 5-6 menit per shift . ,2%). Relasi Komunikasi Sangat Baik Komunikasi Internal Tabel 6. Komunikasi Internal Keperawatan Baik Cukup Baik Kurang Baik Buruk Karu/Wakaru Ii Kabid/Kasie 16% Perawat Ruangan Karu/Wakaru 13,3% 71,5% 1,7% Ii 16% Sesama Rekan Perawat 13,6% Sebagian besar responden menilai kualitas komunikasi dalam hubungan kerja berada pada kategori AuCukup BaikAy. Relasi antara Karu/Wakaru dan Kabid/Kasie dinilai AuCukup BaikAy oleh 68% responden, demikian pula hubungan antara Perawat Ruangan dan Karu/Wakaru . %) serta komunikasi antar sesama rekan perawat . ,5%). Proporsi responden yang menilai komunikasi AuSangat BaikAy berkisar antara 13,6% hingga 16%, sedangkan kategori AuKurang BaikAy dan AuBurukAy hanya muncul dalam persentase kecil (O3%). Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi internal tergolong cukup baik, namun masih belum optimal, terutama dalam membangun komunikasi yang lebih efektif, terbuka, dan kolaboratif antar level kepemimpinan Kuesioner Transpersonal Caring Pasien Karakteristik Responden Rawat Inap Usia Tabel 7. Karakteristik Responden Pasien Rawat Inap Karakteristik Kategori Persentase Berdasarkan distribusi responden pasien hampir seimbang, dengan 50,6% laki-laki dan 49,4% perempuan. Dari segi usia, sebanyak 16% berada dalam rentang 61-65 tahun, dan 16% lainnya berusia di atas 65 tahun. Jenis Kelamin Laki-laki 50,6% Perempuan 49,4% 61-65 tahun >65 tahun Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien merupakan kelompok usia lanjut, yang secara umum memiliki kebutuhan khusus dalam hal komunikasi, empati, dan perhatian keperawatan yang lebih personal. yang berkualitas merupakan faktor kunci dalam membentuk kepuasan pasien (Potter & Perry, 2017. Marquis & Huston, 2. Elemen seperti komunikasi yang efektif, responsivitas perawat, dan empati terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap persepsi positif pasien (Sitorus. Daeli, & Suryadi, 2. Hasil Kuesioner Transpersonal Caring Pasien Tabel 8. Distribusi Jawaban Kuesioner Transpersonal Caring (Pasie. Kategori Jawaban Persentase Tidak sama sekali 2,1% Jarang 5,9% Kadang 9,6% Sering 17,6% Banyak Sangat Banyak 29,8% Namun demikian, masih terdapat ruang perbaikan yang cukup signifikan. Tingkat kepuasan pasien dalam kategori sangat baik masih rendah, yaitu hanya 25,31% untuk rawat inap dan 20,03% untuk rawat jalan. Selain itu, masih ditemukan proporsi pasien yang tidak puas, terutama pada layanan rawat jalan . ,96% menyatakan kurang puas, dan 1,03% sangat tidak pua. , dibandingkan dengan rawat inap . ,24% menyatakan kurang pua. Target rumah sakit untuk mencapai tingkat kepuasan Ou90% menunjukkan pentingnya mengidentifikasi dan mengatasi akar permasalahan, bahkan pada keluhan yang tampak kecil sekalipun. Hal ini konsisten Donabedian (Kobayashi, 2. bahwa setiap persentase kemungkinan adanya kegagalan dalam pemenuhan standar pelayanan yang Asesmen terhadap 158 pasien rawat inap menunjukkan bahwa budaya transpersonal caring perawat dinilai AuCukup BaikAy . %) dan AuBaikAy . ,8%), namun belum mencapai target Ou76%. Sebanyak 31% pasien merasa perawat lebih fokus pada tugas daripada kebutuhan pasien, dan 14% menyatakan frustrasi terhadap sikap Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara harapan dan pengalaman caring yang diterima pasien. PEMBAHASAN Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan Disparitas tingkat ketidakpuasan antara layanan rawat inap dan rawat jalan menjadi temuan menarik. Tingginya ketidakpuasan pada layanan rawat jalan kemungkinan disebabkan oleh karakteristik pelayanan yang cenderung singkat dan fokus pada efisiensi. Dalam konteks ini, faktor-faktor seperti waktu tunggu yang panjang, keterbatasan informasi, serta interaksi perawat yang kurang memadai Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pasien rawat inap . ,98%) dan rawat jalan . ,2%) berada Angka mengindikasikan bahwa RS MTMH telah mampu memenuhi ekspektasi sebagian besar pasien pada periode asesmen. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa pelayanan keperawatan karena keterbatasan waktu dapat menjadi penyebab utama. Hal ini diperkuat oleh temuan Laeliyah dan Subekti . yang menunjukkan bahwa waktu tunggu merupakan salah satu prediktor utama ketidakpuasan pasien rawat jalan. Selain itu, terbatasnya waktu untuk membangun hubungan terapeutik yang mendalam di layanan rawat jalan, berbeda dengan rawat inap, dapat memengaruhi persepsi pasien terhadap tingkat kepedulian . yang diterima (Watson, 1. ini dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti budaya organisasi, beban kerja, pengembangan staf yang berbeda antar rumah sakit. Hal ini menggarisbawahi pentingnya memahami bahwa kualitas pelayanan keperawatan dan penerapan prinsip caring sangat dipengaruhi oleh konteks internal masing-masing institusi. Penelitian ini juga sejalan dengan temuan Atanay et al. yang menekankan bahwa kualitas komunikasi dan empati perawat merupakan dua indikator utama yang memengaruhi tingkat Studi menyimpulkan bahwa persepsi pasien terhadap sikap peduli dan ketepatan informasi dari perawat sangat menentukan penilaian mereka terhadap mutu pelayanan rumah sakit. Dalam konteks RS MTMH, masih ditemukan adanya persepsi negatif dari pasien, seperti perawat yang kurang responsif, menunjukkan sikap acuh, bahkan melakukan komunikasi yang tidak ramah. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun tugas-tugas prosedural perawat telah dilaksanakan, aspek caring yang bersifat interpersonal dan emosional belum sepenuhnya terpenuhi dari sudut pandang Asesmen terhadap 354 staf keperawatan di RS MTMH menunjukkan bahwa budaya transpersonal caring berada dalam kategori cukup baik . ,2%). Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat telah memahami dan mulai menerapkan prinsip-prinsip caring menurut teori Jean Watson . , khususnya pada dimensi humanistic-altruistic values dan developing helping-trusting relationships. Konsep transpersonal caring menekankan hubungan manusiawi yang holistik, di mana perawat tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga aspek spiritual, emosional, dan sosial pasien. Penerapan caring yang baik ini, sebagaimana ditegaskan oleh Wolf et al. , dapat berdampak langsung terhadap peningkatan kepuasan pasien. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Tri Yuli . , yang menyatakan bahwa berkorelasi positif dengan kualitas layanan dan kepuasan pasien. Tingkat Budaya Transpersonal Caring Staf Keperawatan Sebaliknya, bertentangan dengan hasil penelitian Wildani. Badiran, dan Hadi . di salah satu rumah sakit swasta di Sumatera Utara, yang menyatakan bahwa perawat dinilai sangat cepat tanggap dan komunikatif dalam memberikan pelayanan. Perbedaan Namun sebagian besar perawat menyatakan sering . ,2%) hingga sangat sering . ,7%) menerapkan prinsip caring, implementasi penuh dari semua carative factors masih belum konsisten. Rata-rata skor total yang hanya mencapai 66,2% menunjukkan adanya kesenjangan antara praktik aktual dengan target ideal Ou76% untuk kategori AubaikAy. Temuan ini mengindikasikan bahwa internalisasi prinsip caring masih parsial. Hal ini sejalan dengan penelitian Dedi. Setyowati, dan Afiyanti . , yang menemukan bahwa meskipun perawat telah mendapat pelatihan caring, penerapannya di lapangan sering terhambat oleh pendekatan kerja yang lebih bersifat task-oriented. Keterbatasan waktu untuk edukasi pasien menyebabkan perawat lebih terfokus pada penyelesaian prosedur daripada memenuhi kebutuhan emosional dan informasi pasien. Demikian pula. Pratiwi. Basit, dan Tasalim . menyoroti bahwa kurangnya pelatihan berkelanjutan, beban kerja yang tinggi, dan minimnya dukungan organisasi menjadi faktor penghambat dalam praktik caring yang holistik. pada pemenuhan kewajiban, pasien dapat merasakan bahwa perawat tidak benarbenar hadir secara emosional. Karakteristik keperawatan turut memberikan gambaran Mayoritas responden adalah perempuan . ,3%) dan berusia muda . 0 tahun, 69,5%), dengan 40,7% memiliki masa kerja kurang dari dua tahun. Secara umum, pengalaman kerja berkorelasi positif dengan kematangan profesional dan kemampuan menerapkan caring secara holistik (Berman. Kozier, et al. , 2. Perawat yang lebih muda mungkin membutuhkan bimbingan lebih lanjut untuk mengembangkan kepekaan interpersonal dalam memberikan asuhan. Namun demikian, sebagaimana dikemukakan oleh Demur. Mahmud, dan Yeni . , perawat muda justru sering kali lebih adaptif terhadap filosofi caring karena terbiasa dengan pendekatan pembelajaran terbaru, meski pengalaman klinis mereka masih Ini menunjukkan bahwa usia satu-satunya dukungan institusi dalam pengembangan profesional memegang peran penting. Salah satu aspek paling krusial adalah waktu edukasi pasien, yang dalam penelitian ini mayoritas hanya berlangsung 5-6 menit per shift . ,2%). Durasi yang singkat ini menjadi tantangan serius dalam menyampaikan informasi kesehatan yang bermakna serta membangun hubungan terapeutik yang kuat. Aruan dan Makanoneng . mencatat bahwa beban administratif dan keterbatasan SDM menyebabkan edukasi pasien dilakukan secara terburu-buru. Padahal, edukasi merupakan bagian penting dari dimensi teaching-learning dalam teori caring Watson . , karena berkaitan erat kepatuhan, serta pengurangan kecemasan pasien (Bastable, 2019. Price & Muller. Ketika edukasi hanya berorientasi Aspek lain yang perlu mendapat perhatian adalah pola komunikasi internal Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai hubungan komunikasi berada pada kategori cukup baik . %-71,5%). Meskipun komunikasi agresif, penggunaan bahasa tidak sopan, serta ketidakseimbangan relasi Lingkungan kerja yang tidak kondusif seperti ini dapat mengganggu kemampuan perawat dalam memberikan caring yang optimal. Perawat yang menghadapi tekanan psikologis atau konflik internal lebih rentan terhadap kelelahan emosional dan kehilangan empati (Maslach & Leiter, 2. Penelitian Rudianti. Handayani, dan Sabri . menegaskan bahwa komunikasi internal yang sehat merupakan prasyarat bagi terbentuknya budaya caring dalam Pelatihan komunikasi yang efektif dan empatik sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi ini. Selain itu, studi Utami. Zahara. Sitorus, dan Sabri . juga menunjukkan bahwa iklim komunikasi internal yang buruk dapat menurunkan motivasi serta kinerja staf, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap mutu pelayanan keperawatan. masih jauh dari target ideal Ou76% untuk AubaikAy. Temuan mengindikasikan adanya kesenjangan yang signifikan antara persepsi perawat yang merasa telah sering menerapkan prinsip caring dengan pengalaman nyata yang dirasakan oleh pasien. Seperti disampaikan oleh VujaniN et al. , diskrepansi antara persepsi perawat dan pasien merupakan fenomena umum yang sering kali tidak disadari dalam praktik Salah satu temuan krusial dalam studi ini adalah bahwa 31% pasien merasakan bahwa perawat lebih fokus pada memperhatikan kebutuhan mereka secara Lebih lanjut, 14% pasien menyatakan frustrasi terhadap sikap Keluhan ini didukung oleh hasil wawancara mendalam yang mengungkap adanya komunikasi yang kasar, sikap tidak peduli, serta rendahnya empati perawat. Fakta ini menunjukkan bahwa caring yang dirasakan oleh pasien masih belum mencerminkan standar ideal dalam teori Hal ini selaras dengan kritik Papastavrou et al. , yang menyatakan bahwa dalam sistem pelayanan kesehatan modern, perawat cenderung terjebak dalam rutinitas teknis, sehingga mengabaikan dimensi emosional dan relasional dalam Caring dalam konteks ini tidak lagi menjadi inti dari praktik keperawatan, melainkan dianggap sebagai tambahan yang dilakukan hanya jika ada waktu luangAibertolak belakang dengan filosofi transpersonal caring Watson . , yang menempatkan caring sebagai esensi hubungan antara perawat dan pasien. Meskipun ditemukan berbagai tantangan, hasil penelitian Bachtiar et al. memberikan harapan. Studi mereka menunjukkan bahwa penerapan program pelatihan transpersonal caring berbasis pengalaman berhasil meningkatkan skor caring hingga 78% hanya dalam waktu tiga Ini menunjukkan bahwa intervensi edukatif dan pelatihan intensif dapat menjadi solusi strategis untuk menutup kesenjangan antara teori dan praktik caring yang masih terjadi di RS MTMH. Persepsi Budaya Caring Pasien Sebanyak 158 pasien rawat inap memberikan penilaian terhadap praktik caring perawat di RS MTMH. Hasil menunjukkan bahwa persepsi pasien berada pada kategori cukup baik . %) dan baik . ,8%). Meskipun mayoritas pasien memberikan penilaian positif, capaian ini Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa komunikasi empatik, kemampuan mendengarkan aktif, dan responsivitas merupakan inti dari caring yang dirasakan oleh pasien (McBride, 2005. Wolf et al. Ketika pasien merasa tidak dipahami, bahkan jika seluruh prosedur telah dijalankan, pengalaman caring mereka Keluhan komunikasi kasar dan sikap acuh menjadi indikasi adanya defisit dalam kompetensi interpersonal perawat. Oleh karena itu, intervensi berupa pelatihan soft skills, program pembinaan berkelanjutan, dan sistem supervisi yang efektif menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas interaksi perawat-pasien. relasi horizontal yang tidak sehat dapat mengganggu empati dan kapasitas caring Artinya, kualitas caring yang diterima pasien tidak hanya bergantung pada kompetensi individual, tetapi juga dipengaruhi secara signifikan oleh iklim kerja tim keperawatan. Sebaliknya, hasil penelitian ini berbeda dengan temuan Boamah et al. , yang menunjukkan bahwa budaya caring dalam tim keperawatan dapat Model kepemimpinan ini menekankan pentingnya keteladanan, pemberdayaan, motivasi intrinsik, serta pengakuan terhadap martabat individu sebagai bagian dari praktik sehari-hari. Perbedaan ini menunjukkan bahwa peran kepemimpinan sangat penting dalam membentuk lingkungan kerja yang mendukung budaya caring. Oleh karena itu, keperawatan di RS MTMH dapat menjadi langkah strategis dalam memperbaiki komunikasi internal dan meningkatkan kualitas caring yang benar-benar dirasakan oleh pasie Karakteristik demografis responden juga memberikan wawasan tambahan. Mayoritas pasien berusia di atas 61 tahun . %) dengan distribusi gender yang hampir seimbang. Usia lanjut dapat memengaruhi harapan dan persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan. Pasien lansia cenderung lebih menghargai perhatian personal, kesabaran, dan sentuhan emosional dalam asuhan (Touhy & Jett. Oleh sebab itu, kemungkinan besar kebutuhan khusus kelompok usia ini belum sepenuhnya diakomodasi oleh pendekatan pelayanan saat ini. KESIMPULAN DAN SARAN Di Rumah Sakit Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH), sebagian besar pasien rawat inap dan rawat jalan menyatakan kepuasan terhadap pelayanan keperawatan pada kategori AubaikAy, masing-masing sebesar 47,98% dan 48,2%. Namun, tingkat kepuasan Ausangat baikAy masih rendah (<30%), dengan pasien rawat jalan menunjukkan proporsi ketidakpuasan lebih tinggi dibanding pasien rawat inap. Lebih jauh, hasil wawancara juga ketidakharmonisan dalam komunikasi internal antarstaf perawat, yang ternyata berdampak terhadap penurunan kualitas pelayanan yang dirasakan pasien. Maslach dan Leiter . menekankan bahwa lingkungan kerja yang penuh tekanan, pola komunikasi vertikal yang otoriter, dan Asesmen terhadap 354 staf keperawatan menunjukkan bahwa budaya transpersonal caring berada dalam kategori Aucukup baikAy . ,2%). Sebagian besar perawat menyatakan telah menerapkan prinsip-prinsip caring, namun belum konsisten di semua dimensi Durasi edukasi pasien yang terbatas . -6 menit per shif. dan dominasi pendekatan tugas menjadi hambatan utama penerapan caring Persepsi pasien terhadap caring perawat menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai praktik caring berada pada kategori Aucukup baikAy . %) dan AubaikAy . ,8%). Namun, 31% pasien merasa perawat lebih fokus pada penyelesaian tugas, dan 14% mengalami frustrasi terhadap sikap perawat, termasuk komunikasi yang kasar dan rendahnya empati. Lingkungan kerja internal perawat menunjukkan komunikasi yang cukup baik secara umum . 1,5%), namun ditemukan pula pola komunikasi agresif dan relasi kerja yang tidak sehat. Faktorfaktor ini berdampak langsung terhadap kemampuan perawat dalam menerapkan caring secara optimal dan memengaruhi persepsi Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesenjangan antara nilai caring yang diyakini perawat dan pengalaman caring yang dirasakan pasien masih cukup Oleh karena itu, diperlukan intervensi berkelanjutan dalam bentuk pelatihan transpersonal caring, pembinaan komunikasi empatik, serta penguatan peran kepemimpinan keperawatan dalam membentuk budaya caring yang otentik dan Saran Bagi pimpinan keperawatan: pembinaan, dan penciptaan iklim kerja yang suportif melalui transformatif dan sistem umpan balik reflektif untuk membentuk budaya caring yang otentik. Bagi pendekatan campuran untuk menggali faktor penghambat dan pelatihan transpersonal caring, termasuk melalui inovasi seperti e-learning manajerial sebagai role model. DAFTAR PUSTAKA