1 Pendidikan Anak Usia Dini pada Masa Golden Age Indrawati Dosen STAI MaAoarif Jambi ABSTARAC Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. Anak usia dini juga adalah anak yang masih berada dalam masa-masa bermain. Masa ini anak baru belajar mengenal dunia yang masih luas selain lingkungan keluarganya. Karena anak usia dini memiliki rentang usia yang sangat berharga dibandingkan dengan usia-usia selanjutnya karena perkembangan kecerdasannya sangat luar biasa. Usia ini sering disebut Auusia emasAy . he golden ag. yang hanya datang sekali dan tidak dapat diulangi lagi, yang sangat menentukan untuk mengembangkan kualitas manusia. Periode ini hanya berlangsung pada saat anak dalam kandungan hingga usia dini, yaitu 0-6 tahun. Namun, masa bayi dalam kandungan hingga lahir, sampai usia 4 . tahun adalah masa-masa yang paling Bukti-bukti sudah jelas bahwa seorang anak tidak dilahirkan dengan perlengkapan yang sudah sempurna. Dengan sendirinya pola-pola berjalan, berbicara, merasakan, berpikir, atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Barangkali tidak ada minat yang bersifat alami, tetapi dorongan-dorongan potensi tertentu atau impul-impul tertentu membentuk dasar-dasar dari minat apa saja yang dikembangkan anak di lingkungan tempat ia tumbuh dan Untuk dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangannya anak di usia golden age ini maka orang tua harus memberikan dukungan penuh agar anak dapat meningkatkan kreatifitas dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anak. Dukungan yang dapat diberikan kepada anak adalah waktu, kesempatan, dorongan, sarana, lingkungan, hubungan yang harmonis dalam keluarga, cara mendidik yang baik, serta kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Kata Kunci: Pendidikan. Anak Usia Dini dan Golden Age Pendahuluan Pendidika anak usia dini (PAUD) diarahkan untuk dapat memfasilitasi pertubuhan dan perkembangan anak secara sehat dan optimal sesuai dengan Value. Norma, dan harapan Pendiddikan ini dilaksanakan memalui pemberian pengalaman dan stimulus yang tepat. Untuk itu pendidikan yang dilakukan membutuhkan tempat yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Pemberian ransangan pendidikan yang kondusif dapat dikaukan secara efektif melalui bantuan-bantuan lembag-lembaga yang telah menyediakan pelayanan yang prima melalui wahana bermain bagi anak usia dini baik dari TPA. Play Group. Taman kanak-kanak, dan SPS, sebagai wadah pendidikan sebelum masuk sekolah Dasar. Sesunggunya pemberian pelayanan yang demikian merupakan hal yang sangat luar biasa. Oleh karenanya usaha untuk mendorong berbagai lembanga PAUD harus tetap menjadi perhatian yang utama untuk kita semua terutama para orang Tua dan pemerintah. Dalam perkembangan, masyarakat telah menunjukkan kepedulian terhadap masalah pendidika, pengasuhan dan perlindungan AUD, untuk usia 0-6 tahun dengan berbagai jenis layanan sesui dengan konsi dan kemampuan yang ada, baik dalam jalur pendidikan Formal maupun nonformal seperti Raudatul alfal atau TK. Play Group. Kelompok bermain. TPA dan SPS. dan bentuk yang sederajat, yang menggunakn program untuk anak usia dini. Penyelenggaranan PAUD tentu saja mempunyai arti dan mam faat yang tidak sedikit. Suatu konsep pendidikan yang dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat dan di peruntukkan bagi AUD sebelum pendidikan dasar, tentu ini adalah hal yang sangat luar biasa. Oleh Karenanya untuk mendorong bentuk PAUD haruslah menjadi perhatian kita semua. Salah satu yang menjadi ciri dari masa anak usia dini adalah priode keemasan ( Golden Ag. Banyak konsep dan fakta yang di temukan memberikan penjelasan tentang priode keemasan pada usia dini ini, ketika pondasi anak berkembang sangat cepat. Beberapa konsep yang disandingkan untuk masa usia dini ini adalah masa ekplorasi, masa identifikasi, masa peka, masa bermain, dan masa membangkang. Berdasarkan latar belakang maka penulis ingin menulis lebih lanjut tentang fase golden age sebagai pengembang bakat dan kreatifitas Pembahasan Fase golden age pada usia dini Hakikat anak usia dini dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. Tahun 2003 adalah kelompok manusia yang berusia 0 - 6 tahun. 4 Menurut Mansur anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 0 Ae 6 tahun . i Indonesia berdasarkan Undangundang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan. 6 Anak usia dini ajuga adalah anak yang masih berada dalam masa-masa bermain. Masa ini anak Permen Diknas No 58 Tahun 2009. Standar Pendidikan anak Usia Dini. , hal 1 Isjoni. Model Pembelajaran Anak Usia dini, (Bandung ,Alfabeta, 2. , hal. Nova Ardi Wiyarni dan Barnawi. Format Paud, (Yogyakarta . Arruzzmedia , 2. , hal. Diana Mutiah. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana, 2. Mansur. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , hal. Isjoni. Model Pembelajaran Anak Usia Dini (Bandung : Alfabeta, 2. , hal. baru belajar mengenal dunia yang masih luas selain lingkungan keluarganya. 7 Karena anak usia dini memiliki rentang usia yang sangat berharga dibandingkan dengan usia-usia selanjutnya karena perkembangan kecerdasannya sangat luar biasa. 8 Usia ini sering disebut Auusia emasAy . he golden ag. yang hanya datang sekali dan tidak dapat diulangi lagi, yang sangat menentukan untuk mengembangkan kualitas manusia. Periode ini hanya berlangsung pada saat anak dalam kandungan hingga usia dini, yaitu 0-6 tahun. Namun, masa bayi dalam kandungan hingga lahir, sampai usia 4 . tahun adalah masa-masa yang paling Keith Osborn. Burton L. White dan Beyamin S. Bloom dalam Diana, berdasarkan hasil penelitian mereka mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Oleh karena itu, kunci pembentukan kecerdasan otak anak adalah pada usia dini atau priode emas ini. Berkaitan dengan priode emas sebagai kunci pembentukan kecerdasan anak tersebut, ini berarti kemampuan intelektual seseorang yang telah dewasa dipengaruhi di masa anak-anak di mana ia distimulasi dengan hal-hal yang ia ketemui di waktu kecilnya. Sedangkan dari asfek umur menurut Soemiarti, anak usia dini ialah mereka yang berusia antara 3-6 tahun. Di Indonesia umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak . bulan Ae 5 tahu. , dan kelompok bermain . sia 3 tahu. , sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-kanak. Dalam pandangan agama setiap anak usia dini ialah anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah . , seperti sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni, berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, tidak mau berbakti kepada Tuhan YME, dan sebagainya. Ini sesuai dengan Firman Allah SWT. QS. Ar-Rum ayat 30 Jasa unggul Mulyawan, manajemen Play Group dan taman kanak-kanak, (Jogjakarta: Diva Pres, 2. , hal. Mulyasa. Manajemen PAUD (Jakarta : PT Remaja Rosda Karya, 2. , hal. Diana Mutiah. Psikologi Bermain Anak Usia Dini, hal. Soemiarti Patmonodewo. Pendidikan Anak Prasekolah(Jakarta : Rineka Cipta, 2. , hal. a AacEE ENa a EIN EaO N aE aA a aCaI ONE EA aAEO aI IaO UA Aaea NA AOEA a ae a e a a a AacEE aEaEA aE eE aC NA a AOI Ee aCOa aI aOEa aE NI a eEa a EIA AN aE Oa eEa aIO aIA AEA Artinya : Au Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah. etaplah ata. fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itula. agama yang lurus. tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiAy. (QS. Ar-Rum, . 11 Ayat di atas mengindentifikasikan bahwa seorang anak atau makhluk Tuhan yang dilahirkan membawa potensi dengan fitrah Allah yaitu kesucian. Oleh sebab itu anak akan berkembang dan tumbuh dengan baik apabila konsep fitrah ini juga berkembang. Untuk membentuk dan mengembangkan fitrah tersebut adalah lingkungannya, baik itu keluarga ataupun masyarakat setempat. Sebagaimana sabda Rasulullah : AI aI eI aI eOEaeOA. AAEIA AI O NO O NEE IN EI O CE EIOA a aAuaEN O OEa a EO e aEAea a ON O N aOIaaN aO O IA aIaaN eaO aOa a aIaaN (ONA a e a aa a aa a a a ea )AOA Artinya :Tidaklah bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu bapaknyalah yang meyahudikannya atau menasronikannya, atau memajusikannya. (HR. Bukhor. 12 Allah swt memang telah menciptakan semua makhluk-Nya ini berdasarkan fitrahNya. Tetapi fitrahnya untuk manusia yang dapat diartikan dengan potensi-potensi dasar manusia yang terkait dengan keyakinan yang meliputi nilai-nilai, sikap hidup dan kebutuhan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. 13 Berdasarkan fitrahnya ini kecakapan manusia dapat berkembang yang berupa nilai-nilai, sikap kehidupan dan kebutuhan ini berangkat dari hal kesucian sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ayat dan hadist diatas. Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan. Dengan pendidikan dan pengajaran, potensi itu dapat dikembangkan manusia, meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang sendiri, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak Kementerian Agama RI. Al-QurAoan dan Terjemahnya, 2002, hal. Ahmad Muhammad Syakir. Shahih Bukhori Jilid 1 (Bairut : Dar Al-Hadits, t. , hal 338. Mulyasa. Manajemen PAUD, 2012,hal. melalui proses tertentu, yaitu proses pendidikan. Kewajiban pengembangan potensi itu merupakan beban dan tanggung jawab manusia terhadap Allah swt. Menurut Gleitman dalam Muhibbin Syah mengatakan ketika bayi baru lahir membawa dua dasar perkembangan kehidupannya di dunia ini, berupa . bekal kapasitas motor . , . bekal kapasitas pancaindra . Semua kapasitas yang dibawah anak dari rahim ibunya baik kapasitas jasmani maupun kapasitas sensori, merupakan modal dasar yang tampak segera berfaidah bagi kelanjutan perkembangan anak tersebut. Di sisi lain proses pendidikan dan pengajaran . hususnya di sekola. merupakan pendukung yang sangat berarti bagi perkembangan motorik atau fisik anak, terutama dalam hal memperoleh kecakapan-kecakapan psikomotorik atau rana karsa anak tesebut. Lebih lanjut Sunarto dan Agung Hartono,dalam buku Perkembangan Peserta Didik,menjelaskan bahwa anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan . oordinasi motorik halus dan kasa. , intelegensi . aya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritua. , sosial emosional . ikap dan perilaku serta bahasa dsan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Bukti-bukti sudah jelas bahwa seorang anak tidak dilahirkan dengan perlengkapan yang sudah sempurna. Dengan sendirinya pola-pola berjalan, berbicara, merasakan, berpikir, atau pembentukan pengalaman harus dipelajari. Barangkali tidak ada minat yang bersifat alami, tetapi dorongan-dorongan potensi tertentu atau impul-impul tertentu membentuk dasar-dasar dari minat apa saja yang dikembangkan anak di lingkungan tempat ia tumbuh dan Selanjutnya ada 4 . macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skill anak yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya yaitu : pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf, . pertumbuhan otot-otot, . perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin, . perubahan struktur jasmani. Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam, 2011, hal. Muhibbin Syah. Psikologi Pandidikan Dengan Pendekatan Baru,(Bandung : PT. Remaja Rosda karya, 2. , hal. Sunarto dan Agung Hartono. Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta : Rineka Cipta, 2. , hal. Hughes dan E. HugHes. Learning dan Teaching, (Bandung,Nuansa, 2. , hal. Belajar keterampilan fisik . otor learnin. dianggap telah terjadi dalam diri seseorang apabila ia telah memperoleh kemampuan dan keterampilan yang melibatkan penggunaan lengan . eperti menggambar dan berlar. secara baik dan benar. Untuk belajar memperoleh kemampuan keterampilan-keterampilan jasmani ini, ia tidak hanya cukup dengan latihan dan Tetapi juga memerlukan kegiatan perceptual learning . elajar berdasarkan pengamata. atau kegiatan sensory Ae motor learning . elajar keterampilan indrawijasman. Gerakan-gerakan organ tubuh anak juga menjadi lincah dan terarah seiring dengan munculnya keberanian mental. Namun, patut dicatat bahwa perkembangan kemampuan fisik anak itu kurang berarti dan tidak bisa meluas menjadi keterampilan-keterampilan psikomotorik yang berfaidah tanpa usaha pendidikan dan pengajaran. Untuk itu faktor lingkungan bagi anak dapat merangsang potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikiap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Untuk itu yang dimaksud anak usia dini disini adalah anak yang berusia 0-6 tahun yang berada dalam tahap tumbuh kembang sesuai dengan tahapan usianya yang membutuhkan ransangan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Masa inilah yang sangat menentukan bagi perkembangan dan pertumbuhan selanjutnyakarena merupakan masa peka dan masa emas dalam kehidupan bagi setia anak usia dini. Usia lahir sampai 6 tahun ini sekaligus merupakan masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia yang akan menentukan perkembagan anak selanjutnya. Masa usia dini inilah yang tepat untuk meletakkan dasar pengembangan anak baik dari segi kemampuan untuk mengesplor bakat dan kreatifitasnya anak. Bakat anak usia dini Anak berbakat tidak semua memiliki IQ yang tinggi tetapi juga memiliki kreativitas dan motivasi yang kuat. Anak Bakat (AB) adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menampilkan prestasi yang tinggi, biasanya dalam salah satu bidang seperti kemampuan intelektual, kemampuan akademis khusus, kemampuan berpikir produktif kreatif. Ibid. , hal. kemampuan kepemimpinan, kemampuan dalam bidang seni dan kemampuan dalam Bakat anak bermacam-macam, ada anak yang berbakat dalam satu bidang, namun ada pula yang berbakat dalam banyak bidang seperti bakat intelektual umum. Bakat intelektual umum ini memang terukur melalui IQ. Sebagai contoh bapak Profesor BJ Habibie, tergolong orang yang berbakat intelektual umum. Namun ada pula bakat intelektual khusus, seperti dalam bidang matematika, sastra, fisika dll. Ada juga bakat di bidang seni, olahraga dan bakat Tetapi pada dasarnya orang yang berbakat di bidang apapun umumnya memiliki kemampuan intelektual diatas rata-rata. Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuankemampuan yang unggul. Anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan/atau pelayanan diluar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri Kemampuan-kemampuan tersebut baik secara potensial maupun yang telah nyata Kemampuan intelektual umum Kemampuan akademik khusus Kemampuankreatf-produktif Kemampuan memimpin Kemampuan dalam salah satu bidang seni Kemampuan psikomotor . eperti dalam olahrag. Sejak usia dini sudah dapat dilihat adanya kemungkinan anak yang memiliki bakat yang istimewa. Sebagai contoh anak yang berusia dua tahun tapi lebbih suka memilih mainan untuk anak yang berusia 6-7 tahun, atau anak berusia tiga tahun yang sudah suka membaca buku untuk anak usia 7-8 tahun. mereka akan sangat senang jika mendapatkan pelayanan seperti yang mereka harapkan. Anak yang memiliki bakat istimewa seringkali memiliki tahap yang tidak serentak. dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan. Misalnya anak usia tiga tahun, kalau sedang bermainseperti anak seusianya akan tetapi kalau membaca seperti anak sepuluh tahun, dan kalau berbicara seperti anak lima tahun. yang perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat Rani Akbar dan Hawadi. Psikologi Perkembangan Anak Mengenal Sifat. Bakat dan Kemampuan Anak. (Jakarta. PT Grasindo, 2. , hal. Imam Musbikin. Mendidik Anak Kreatif ala Einstein. (Yogyakarta. Mitra Pustaka, 2. , hal. umumnya tidak hanya belajar lebih cepat tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-temannya. Di kelas taman kanak-kanak atau sekolah dasar, anak berbakat sering tidak menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebalinya justru menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan misalnya tulisannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar terlalu cepat mengerjakan tugas tetapi kurang teliti dan sebagainya. Yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yang tidak diajarkan di kelas. tulisan anak berbakat sering kurang teratur karena ada perbedaan perkembangan antara perkembangan kognitif. emahaman, pikira. dan perkembangan motorik, dalam hal ini gerakan tangan dan jari untuk menulis. Perkembangan pikirannya jauh lebih cepat daripada perkembangan Demikian juga seringkali ada perbedaan anatara perkembangan kognitif dan perkembangan bahasanya sehingga dia menjadi berbicara agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat di mulutnya. Hal-hal yang perlu dilakukan orangtua terhadap anaknya yang berbakat adalah sebagai . Orangtua harus menyadari bahwa anak memerlukan perlakuan khusus. anak-anak juga memerlukan pelayanan yang tidak bisa disamakan dengan anak-anak yang lain. Meskipun anak memiliki kemampuan yang unggul, ia tetaplah seorang anak dengan kebutuhan seorang anak. Dalam beberapa hal, ia tetap seperti anak-anak pada umumnya. Ia dapat merasakan jengkel, menangis, marah, atau mengucapkan kata-kata seperti anakanak lain. Ia sangat membutuhkan bimbingan, pembinaan dan kasih sayang yang pada dasarnya sama seperti anak yang lain. Orangtua sebaiknya tidak mengunggulkan anak-anak mereka yang memiliki kemampuan lebih, baik di depan kakak atau adik-adiknya ataupun kepada tetangga dan saudara dekat . Janganlah membanding-bandingkan kemampuan anak yang berbakat dengan kakak atau adik-adiknya. Begitu pula sebaliknya. Dan janganlah terlalu berlebih dalam memcurahkan perhatian kepada anak yang berbakat. Setiap anak memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Anak yang lain juga memerlukan curahan perhatian orangtua. Anik Pamilu,. Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan, (Yogyakarta:Citra Media, 2. , hal. Tanamkan disiplin pada anak berbakat. Janganlah ia diberi hak-hak istimewa. Orangtua harus melatihnya belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma ataupun aturan yang berlaku,baik di dalam lingkunagn keluarga, masyarakat, sekolah maupun ditempat lain. Jangan memberi anak dengan label berbakat. Usahakan agar anak tidak mendapat kesan bahwa kehidupan keluarga terpusat kepadanya. Label yang disandangnya akan membebani anak. Berilah kesempatan seluas-luasnya dengan menjajaki bermacam-macam bidang namun janganlah orangtua memaksakan minat-minat tertentu kepadanya. Pupuk rasa tanggungjawab, kemandirian, dan percaya diri. Beri anak kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang diyakininya mampu mengerjakannya. Beri anak kesempatan untuk melakukan kegiatan fisik dan mengembangkan daya imajinasiny, jangan sibuk memberikan rangsangan yang bersifat merangsang kegiatan intelektualnya saja. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan intuisi dan daya khayal sangat berguna. Berpikir intuitif berarti mengaktifkan kinerja otak belahan kanan manusia, bagian otak manusia yang selama ini cenderung diabaikan. Beri anak beraneka macam bahan berupa majalah, buku, surat kabar dan bahan-bahan lain yang dapat memperkaya pengalamannya . Ajak ia ke museum, perpustakaan, internet dan sebagainya. Berilah jawaban yang jujur dan selengkap-lengkapnya atas pertanyaan yang dilontarkan anak. Apabila saat orangtua tidak dapat menjawab pertanyaan anak, katakan dengan terus terang kalau pertanyaan tersebut sulit dijelaskan. Puji dan hargai jerih payah anak. Dukung anak agar berani melakukan tugas-tugas yang sulit dengan risiko mengalami kesalahan dan kegagalan. Kembangkan bakat dan potensi anak seluas-luasnya. Beranikan diri untuk mengambil keputusan terbaik untuk anak. Arahkan anak menuju kehidupan yang utuh. Hendaknya ia selalu dibimbing dan usahakan keseimbangan perkembangan moral,sosial emosional, dan intelektual agar kelak ia menjadi orang yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri dan masyarakat pada . Jalin hubungan yang baik dengan pihak sekolah dan masyarakat. Konsultasikan perkembangan anak dengan pihak sekolah. Kreatifitas anak usia dini Secara alamiah perkembangan anak berbeda-beda, baik dalam bakat, minat, jasmani, kematangan emosi, kepribadian, keadaan jasmani, dan sosialnya. Selain itu, setiap anak memiliki kemampuan tak terbatas dalam belajar, untuk dapat berfikir kereatif dan produktif. Kreativitas menurut kamus besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar kreatif, yaitu memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Menurut Van den Daele yang dikutip oleh Elizabet B. Hurlock,dalam buku Psikologi Perkembangan, mengemukakan bahwa perkembangan merupakan perubahan seecara kualitatif, dimana perkembangan itu bukan hanya pada perkembangan yang menunjukkan senti meter melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang komplit. Menurut Munandar yang dikutip oleh Syafaruddin dan Herdianto, kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas juga diartikan dengan kemampuan yang berdasarkan data atau informasi yang menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana pendekatannya adalah pada kuantitas dan keragaman jawaban. Secara operasional, kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran keluwesan . , dan orisinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi . engembangkan, memperkaya, memperinc. suatu gagasan. 24 Salah satu konsep yang amat penting dalam bidang kreativitas adalah hubungan antara kreativitas dan aktualisasi diri. Menurut psikolog humanistik. Abraham Maslow dan Carl Rogers dikutip oleh Utami Munandar menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengaktualisasikan dirinya apabilas eseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi, mengaktualisasikan, atau mewujudkan potensinya. Menurut Maslow aktualisasi diri merupakan karakteristik yang fundamental, suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat dilahirkan, akan tetapi sering hilang, terhambat atau terpendam dalam proses Jadi sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang. Menurut Harris seperti dikutip oleh Hamdani mengemukakan bahwa kreativitas dapat ditinjau dari 3 hal, yaitu : Krativitas adalah suatu kemampuan, yaitu kemampuan untuk membayangkan atau menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan untuk membangun ide-ide baru dengan mengombinasikan, mengubah, menerapkan ulang ide-ide yang sudah ada. Kreativitas adalah suatu sikap, yaitu kemauan untuk menerima perubahan dan pembaharuan, bermain dengan ide dan memiliki fleksibilitas dalam pandangan. Ahmad Susanto. Perkembangan Anak Usia Dini, (Jakarta. Kencana, 2. Elizabet B. Hurlock. Psikologi Perkembangan, (Jakarta. Erlangga, 2. , hal . Syafaruddin & Herdianto. Pendidikan Pra Skolah, (Medan. Perdana Publishing, 2. , hal. Krativitas adalah suatu proses, yaitu proses bekerja keras dan terus menerus sedikit demi sedikit untuk membuat perubahan dan perbaikan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Secara umum kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berfikir tentang sesuatu dengan suatu cara yang baru dan tidak biasa serta menghasilkan penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan. Dari beberapa defenisi oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang berbeda dari sebelumnya, baik berupa gagasan atau karya nyata dengan menggabung-gabungkan unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Hal baru disini adalah sesuatu yang belum diketahui olehnya, meskipun hal itu merupakan hal yang tidak asing lagi bagi orang lain, dan bukan hanya dari yang tidak menjadi ada, tetapi juga kombinasi baru dari sesuatu yang sudah ada. Pada umumnya kreativitas dirumuskan dalam beberapa istilah, yaitu : Pribadi . , yaitu kreativitas mengacu kepada kemampuan yang merupakan cirri/karakteristik dari orang-orang kreatif. Maksudnya, kreativitas merupakan ungkapan unik dari seluruh pribadi sebagai hasil interaksi individu, perasaan, sikap, dan perilakunya. Proses . , yaitu kreativitas merupakan proses yang mencerminkan kelancaran dalam berfikir. Pendorong . , yaitu inisiatif seseorang yang tercermin melalui kemampuannya untuk melepaskan diri dari urutan pikiran yang biasa. Produk, . , yaitu kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Banyak orang yang mengira bahwa kreativitas itu banyak ditentukan oleh bakat dan kemampuan bawaan. Ini tidak sepenuhnya benar, karena daya kreatifitas ditentukan oleh perpaduan beberapa unsur berikut: Kemampuan Berpikir Kritis Kreatifitas sangat ditentukan oleh kemampuan berpikir kritis tidak merasa puas dengan apa yang ada. Ia ingin mencari sesuatu yang lain daripada yang telah ada. Dengan berpikir kritis, jiwa akan hidup karena didorong terus untuk mencari dan mencari. Dengan berpikir kemungkinan-kemungkinan hubunganbaru dan cara-cara baru. Kepekaan Emosi Hamdani. Asep Saepul. Pengembangan Kreativitas, (Jakarta . Pustaka As-Syifa, 2. Ahmad Susanto. Perkembangan anak usia dini, hal :113 Selain kemampuan berpikir kritis, kepakaan emosi juga sangat perlu agar seseorang dapat menangkap dan merassakan sesuatu yang samar dari apa yang ada disekitarnya. Bakat Bakat dapat memperkuat daya kreativitas seseorang, tetapi bukan satu-satunya unsur yang menentukan. Jika demikian, orang yang berbakat menulis akan lebih berhasil dalam menulis dibanding dengan orang yang kurang atau tidak berbakat. Namun demikian seorang yang kreatif tidak hanya mengandalkan bakatnya saja sebab bakat ibarat bara api. Apabila tidak dikipasi akan memberikan panas yang luar biasa jadi agar berarti, bakat harus dilatih dan diasah. Daya Imajinasi Kreativitas menuntut daya imajinasi yang tinggi. Dengan daya imajinasi seseorang dapat menciptakan sebuah gambaran utuh dan lengkap dalam fantasinya, serta mampu mengasosiasikan segala sesuatu yang dilihat, dicium, dirasa, didengar atau dirabahnya. Anak yang kreatif biasanya ditandai dengan selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak-anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko, akan tetapi dengan perhitungan dari pada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka amat sangat berarti, penting dan disukai, mereka tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak takut untuk membuat kesalahan dan mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin tidak disetujui oleh orang lain. Orang yang inovatif berani untuk berbeda, menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi. Rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam mencapai tujuan mereka. Thomas Edison mengatakan bahwa dalam melakukan percobaan ia mengalami kegagalan lebih dari 200 kali, sebelum ia berhasil dengan penemuan bola lampu yang bermakna bagi seluruh umat manusia. Pribadi yang kreatif biasanya lebih teroganisasi dalam Rencana inovatif serta produk orisinal mereka telah dipikirkan dengan matang lebih dahulu, dengan mempertimbangkan maslah yang mungkin timbul dan implikasinya. Adapun ciri-ciri kreativitas ada . macam yaitu : Kefasihan, yaitu kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah terbuka . pen ende. dengan beberapa alternatif jawaban yang benar. Utami Munandar. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah , (Jakarta. Gramedia Pustak. , 1999 Fleksibilitas, yaitu kemampuan siswa menyelesaikan masalah terbuka . pen ende. dengan beberapa cara. Kebaruan, yaitu kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah terbuka . pen ende. dengan beberapa jawaban yang berbeda tetapi bernilai benar dan satu jawaban yang tidak biasa dilakukan siswa pada tahap perkembangan mereka atau tingkat pengetahuannya. Dalam kaitannya dengan kreativitas pada anak usia dini. Ihat Hatimah mengemukakan beberapa bentuk kretivitas pada anak usia dini, yaitu : Gagasan/berpikir kreatif, yang meliputi : Berfikir luwes. Berfikir orisinal. Berpikir terperinci. Berpikir menghubungkan. Aspek sikap, yang meliputi : Rasa ingin tahu. Ketersediaan untuk menjawab. Keterbukaan. Percaya diri. Berani mengambil resiko. Aspek karya, yang meliputi : Permainan. Karangan. Biasanya anak yang kreatif selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko . etapi dengan perhitunga. dari pada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka amat berarti, penting dasn disukai , mereka tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan dari orang lain. Merekapun tidak takut untuk membuat kesalahan dan mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin tidak disetujui oleh orang lain. Orang yang inovatif berani untuk berbeda, menonjol, membuat kejutan, atau menyimpang dari Rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam mencapai tujuan mereka. Hamdani Asep Saepul. Pengembangan Kreativitas. Jakarta. Pustaka As-Syifa, 2002, hal. Ahmad Santoso. Perkembangan Anak Usia Dini, hal. Kreativitas merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan. Dalam mengembangkan kreativitas ini terdapat faktor-faktor yang mendudukung dalam menumbuhkan kembangkan kreativitas juga ada faktor-faktor yang menghambat kreativitas seorang anak. Faktor Pendukung Kreativitas Anak Awalnya kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimiliki individu Dalam perkembangan selanjutnya, dikemukakan bahwa kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkungan Menurut Hurlock beberapa faktor yang dapat mendorong dan meningkatkan kretivitas anak adalah sebagai berikut: Waktu, kegiatan anak seharusnya jangan diatur sedemikian rupa, sehingga hanya sedikit waktu yang bisa mereka gunakan untuk membuat suatu gagasan atau konsep. Kesempatan menyendiri, hanya apabila tidak mendapat tekanan dari kelompok sosial, anak dapat menjadi kreatif. Dorongan terlepas dari seberapa jauh prestasi anak, maksudnya untuk menjadi anak yang kreatif mereka harus bebas dari ejekan dan kritikan yang sering kali dilontarkan pada anak yang tidak kreatif. Sarana, sarana bermain atau sarana lainnya harus disediakan untuk merangsang dorongan eksperimentasi dan eksplorasi, yang merupakan unsur penting dari semua Lingkungan yang merangsang, lingkungan rumah dan sekolah harus merangsang kreativitas anak. Hubungan anak dan orang tua yang tidak posesif, artinya orang tua yang tidak terlalu posesif akan mendorong kemandirian anak. Cara mendidik anak, mendidik anak secara demokratis baik dirumah dan disekolah akan meningkatkan kreativitas anak. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, kreativitas tidak muncul dalam Makin banyak pengetahuan yang dikuasai, maka semakin baik kreativitas Faktor Penghambat Kreativitas Anak Menurut Renzulli dalam Ahmad Susanto mengemukakan tiga ciri pokok yang saling terkait serta merupakan kriteria atau persyaratan anak yang berbakat. Yaitu, kemampuan Ahmad Santoso. Perkembangan Anak Usia Dini, hal. umum, kreativita, dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi instrinsik. Dalam mengembangkan kreativitas, seorang dapat mengalami berbagai hambatan, kendala atau rintangan yang dapat merusak dan bahkan dapat mematikan kreativitasnya. Masalahnya ialah bahwa dalam upaya membantu anak merealisasikan potensinya, sering kita menggunakan cara paksaan agar mereka belajar. Penggunaan paksaan atau kekerasan tidak saja berarti bahwa kita mengancam dengan hukuman atau memaksakan aturan-aturan, tetapi juga bila kita memberikan hadiah atau pujian secara berlebih. Ada empat hal yang mematikan kreativitas, yaitu: Evaluasi Rogers dikutip oleh Utami Munandar menekankan salah satu syarat untuk memupuk kreativitas konstruktif ialah bahwa pendidik tidak memberikan evaluasi, atau paling tidak menunda pemberian evaluasi sewaktu anak sedang asyik berkreasi. Bahkan menduga akan dievaluasi pun dapat mengurangi kreativitas anak. Selain itu kritik atau penilaian sepositif apapun meskipun berupa pujian dapat membuat anak kurang kreatif, jika pujian itu memusatkan perhatian pada harapan akan Hadiah Kebanyakan orang percaya bahwa memberi hadiah akan memperbaiki atau meningkatkan perilaku tersebut. Ternyata tidak demikian. Pemberian hadiah dapat merusak motivasi intrinsik dan mematikan kreativitas. Persaingan Persaingan lebih kompleks daripada pemberian evaluasi atau hadiah secara tersendiri, karena kompetisi meliputi keduanya. Biasanya persaingan terjadi apabila siswa merasa bahwa pekerjaannya akan dinilai terhadap pekerjaan siswa lain da bahwa yang terbaik akan menerima hadiah. Hal ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sayangnya dapat mematikan kreativitas. Lingkungan yang Membatasi Belajar dan kreativitas tidak dapat ditingkatkan dengan paksaan. Sebagai anak ia mempunyai pengalaman mengikuti sekolah yang sangat menekankan pada disiplin dan hafalan semata-mata. Ia selalu diberitahu apa yang harus dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan pada ujian harus dapat mengulanginya dengan tepat, pengalaman Utami Munandar. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat,Jakarta : Asdi Mahasatya, 2004, hal. yang baginya amat menyakitkan dan menghilangkan minatnya terhadap ilmu, meskipun hanya utnuk sementara. Padahal, sewaktu baru berumur lima tahun ia amat tertarik untuk belajar ketika ayahnya menunjukkan kompas kepadanya. Contoh ini menunjukkan bahwa jika berpikir dan belajar dipaksakan dalam lingkungan yang amat membatasi, minat dan motivasi intrinsik dapat dirusak. Cropley dalam Ahmad Susanto mnegemukakan beberapa krakteristik guru yang cenderung menghambat keterampilan berpikir kreatif anak, anatara lain : Penekanan bahwa guru selalu benar. Penekanan berlebihan pada hafalan. Penekanan pada belajar secara mekanis. Penekanan pada evaluasi eksternal. penekanan secara ketat untuk menyelesaikan Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita dapati perlakuan dan tindakan anak dengan berbagai polah dan tingkah laku. Sehingga ekspresi kreativitas anak kerap menimbulkan efek kurang berkenan bagi orang tua. Misalnya orang tua melarang anak bermain pasir, dengan alasan takut kotor, atau berteriak saat anak manjat-manjat dengan alasan takut jatuh. Padahal tiap anak memiliki ekspresi kreativitas yang berbeda, ada yang terlihat suka mencoret-coret, beraktivitas gerak, berceloteh, melakukan eksperimen, dan sebagainya. Penyikapan orang tua seperti itu berarti merupakan salah satu contoh dari sekian banyak faktor yang menghambat kreativitas seorang anak. Kesimpulan Fase golden age atau dikenal fase emas bagi anak usia dini maka pada masa ini anak-anak berkembang pesat sesuai dengan bakat dan minat yang dia miliki melalui kreatifitas yang ia lakukan. Hal ini pun sejalan dengan adanya firman Allah SWT mengindentifikasikan bahwa seorang anak atau makhluk Tuhan yang dilahirkan membawa potensi dengan fitrah Allah yaitu kesucian. Oleh sebab itu anak akan berkembang dan tumbuh dengan baik apabila konsep fitrah ini juga berkembang. Untuk membentuk dan mengembangkan fitrah tersebut adalah lingkungannya, baik itu keluarga ataupun masyarakat setempat. Ahmad Susanto . Perkembangan Anak Usia Dini. Hal. Seperti yang kita ketahui, anak-anak yang berbakat dan kreatif biasanya selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri. Mereka lebih berani mengambil resiko . etapi dengan perhitunga. dari pada anak-anak pada umumnya. Siswa berbakat kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang tinggi, dapat melihat masalah dari berbagai sudut tinjau, dan memiliki kemampuan untuk bermain dengan ide, konsep, atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan. Untuk dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangannya anak di usia golden age ini maka orang tua harus memberikan dukungan penuh agar anak dapat meningkatkan kreatifitas dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anak. Dukungan yang dapat diberikan kepada anak adalah waktu, kesempatan, dorongan, sarana, lingkungan, hubungan yang harmonis dalam keluarga, cara mendidik yang baik, serta kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. DAFTAR PUSTAKA