Journal of Mandalika Literature. Vol. No. 3, 2025, e-ISSN: 2745-5963 Accredited Sinta 5, https://sinta. id/journals/profile/12219 Available online at: http://ojs. com/index. php/jml PENGARUH KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL TUTOR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI LEMBAGA KURSUS ENGLISH TIME INDONESIA Alma Ferbyana Fakultas Ilmu Komunukasi. Universitas Padjadjaran Email: alma23004@unpad. Abstract:The importance of instructional communication in the context of English language learning at English Time Indonesia in Kabupaten Purwakarta. Indonesia, is highlighted in this research. The study is motivated by changes in teaching approaches and the need to enhance student learning motivation through effective interaction between tutors and students. This study employs a quantitative method by surveying 109 students from various levels at English Time Indonesia. Data were collected through questionnaires regarding instructional communication and students' learning motivation. The research findings indicate that instructional communication positively influences students' learning motivation. Statistical analysis reveals that instructional communication accounts for 3% of the variance in students' learning motivation at the institution. These findings are consistent with previous literature emphasizing the crucial role of interpersonal communication in enhancing learning quality Keywords:instructional communication, learning motivation, education Abstrak:Pentingnya komunikasi instruksional dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris di lembaga kursus English Time Indonesia di Kabupaten Purwakarta. Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perubahan dalam pendekatan pengajaran dan kebutuhan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui interaksi yang efektif antara tutor dan siswa. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan survei terhadap 109 siswa dari berbagai tingkatan di English Time Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada siswa terhadap komunikasi instruksional dan motivasi belajar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi instruksional secara positif mempengaruhi motivasi belajar siswa. Analisis statistik menunjukkan bahwa komunikasi instruksional menjelaskan sekitar 35,3% variasi dalam motivasi belajar siswa di lembaga tersebut. Temuan ini konsisten dengan literatur sebelumnya yang menekankan peran penting komunikasi interpersonal dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Kata kunci:komunikasi instruksional, motivasi belajar. Pendidikan PENDAHULUAN Di Indonesia, bahasa Inggris telah menjadi bahasa kedua. Agustin. mencatat bahwa bahasa pengantar untuk pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia adalah bahasa Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, peran bahasa Indonesia secara bertahap mulai Bahasa Inggris mulai menarik minat orang Indonesia untuk digunakan dalam berbagai kesempatan dan berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan diri (Alrajafi, 2. Berdasarkan pra-survei, ketika tutor memberikan tugas mandiri kepada siswa, masih banyak yang tidak memahami dan merasa kebingungan. Sekitar 55% dari total siswa mengaku merasa kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat diberi tugas mandiri. Penelitian oleh Artaverlina & Wulandari . menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal tutor memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Temuan ini juga didukung oleh penelitian Sucia . , yang menemukan bahwa gaya komunikasi tutor berpengaruh pada motivasi belajar siswa. Salah satu faktor untuk meningkatkan keterampilan peserta didik adalah peran seorang pengajar atau instruktur untuk mengarahkan dan melakukan percakapan (Communication et al. This is an open-access article under the CC-BY-SA License. Copyright2025@author . Namun proses komunikasi antara seorang tutor dan peserta didik di English Time Indonesia tidak seperti yang dibayangkan disebabkan lingkungan belajar dan latar belakang peserta didik sangat beragam. Lingkungan belajar dapat menghasilkan berbagai bentuk sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Karena disetiap intansi memiliki lingkungan belajar yang berbeda seperti di sekolah negeri atau swasta, sekolah nasional ataupun internasional, begitu juga dengan sekolah formal atau informal seperti tempat les atau kursus bahasa (Communication et , 2. Komunikasi instruksional adalah kunci penting dalam proses pembelajaran, karena cara pesan disampaikan dan diterima oleh peserta didik dapat berdampak pada pemahaman dan keterampilan bahasa yang mereka pelajari. Karena itu, sangat penting bagi setiap tutor untuk mendalami dan memahami komunikasi instruksional agar dapat memengaruhi peserta didik dengan efektif dalam pembelajaran bahasa Inggris. Terutama di tengah permintaan yang tinggi untuk meningkatkan kemahiran bahasa Inggris di berbagai negara, penelitian tentang komunikasi instruksional yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pendidikan seperti lembaga kursus English Time Indonesia menjadi sangat penting. Komunikasi yang terjalin antara seorang tutor dan siswa memiliki peran krusial dalam menciptakan pembelajaran yang efektif. Selain peran tutor, keterlibatan aktif, dan tanggapan positif dari siswa juga memainkan peran penting dalam memastikan kesuksesan proses Seorang tutor diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami, penggunaan media pembelajaran, penghargaan serta merespons kebutuhan dan perasaan peserta didik dengan lebih baik. Kemampuan untuk mendengarkan dengan teliti dan memberikan arahan yang tepat merupakan faktor penting dalam membangun hubungan yang positif antara tutor dan siswa. English Time Indonesia terkenal dengan pendekatan pengajarannya menggunakan komunikasi. Ini berarti bahwa pengajar di English Time biasanya memberikan prioritas pada pengembangan kemampuan berbicara dan mendengarkan siswa dalam bahasa Inggris. Tujuannya adalah agar peserta didik dapat merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi dalam bahasa Inggris dalam situasi sehari-hari . Untuk mencapai kompetensi komunikatif dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris merupakan proses yang rumit dan memerlukan dedikasi yang besar serta waktu yang cukup Karena itu, komunikasi instruksional telah terbukti memiliki dampak yang signifikan dan meningkatkan perhatian terhadap pendekatan pengajaran modern yang menekankan pada penyampaian instruksi berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa penyampaian instruksional proses pengajaran yang dilakukan (Mallillin, 2. Komunikasi memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan meningkatkan kesehatan mental. Melalui komunikasi, seseorang dapat memahami makna cinta, kasih sayang, simpati, rasa hormat, rasa bangga, serta mengalami perasaan seperti iri hati dan kebencian. Komunikasi memungkinkan individu untuk mengalami berbagai kualitas emosi ini dan membandingkannya satu sama lain. Penting untuk dicatat bahwa kita tidak dapat benar-benar mengenal cinta kecuali melalui interaksi dengan orang lain yang memberi informasi positif tentang diri kita, yang membantu kita merasa nyaman dan percaya diri (Suhendar, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai sejauh mana Komunikasi Instruksional Tutor Engslih Time mempengaruhi Motivasi Siswa dalam proses belajar di English Time Purwakarta. Literature Review Kemampuan komunikasi instruksional yang efektif dari seorang instruktur memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, mengingat bahwa pembelajaran ditekankan pada proses komunikasi, yang memiliki potensi signifikan dalam konteks penelitian ini (Maragha, 2. Penelusuran tentang komunikasi instruksional sebagai cabang penelitian komunikasi yang berbeda sering dilacak kembali ke tahun 1972, ketika Asosiasi Komunikasi Internasional (ICA) membentuk Divisi Instruksional dan Pengembangan (IDD). Namun, beberapa argumen menyatakan bahwa penelitian tentang komunikasi instruksional sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1930-an dan 1940-an. Pada periode tersebut, para akademisi menganggap bahwa siapa pun yang mengajar komunikasi harus memiliki keahlian dalam metodologi proses . (Paul. Sorensen, & Murray, 1945, hal. dan bahwa metodologi komunikasi instruksional tersebut harus diajarkan tidak hanya secara lintas konteks di bidang komunikasi, tetapi juga lintas disiplin ilmu (Adamic, 1. Walaupun telah mengalami perkembangan sebagai bidang studi selama 35 tahun terakhir, mayoritas penelitian dalam komunikasi instruksional telah terpusat pada pemahaman interaksi komunikasi antara peserta didik dan instruktur serta dinamika hubungan di dalam kelas. (Myers, 2. (Sellnow et al. , 2. Beberapa area penelitian paling menonjol dalam komunikasi instruksional yang menjadi fokus dari penelitian perintis mencakup situasi risiko dan krisis, yakni menurut salah satu penelitian penggunaan teknologi yang ditingkatkan dalam lingkungan pembelajaran akan menghasilkan pembelajaran yang efektif (Sellnow et al. , 2. Sikap tutor juga berpengaruh terhadap akar penyebab kesulitan komunikasi yang dihadapi siswa, jika sikap yang dimiliki tutor baik maka pembelajaran didapat menjadi jelas (Virulien, 2. Karena peserta didik yang mendapat pengajaran dari tutor yang jelas cenderung belajar lebih banyak daripada mereka yang belajar dengan tutor yang tidak jelas. Mereka juga mengalami lebih sedikit kekhawatiran dan memberikan dampak yang lebih positif pada tutor dan materi pelajaran. Pembelajaran yang jelas dapat dilakukan dengan kejelasan secara verbal. Sementara itu, kedekatan nonverbal tidak memiliki dampak signifikan terhadap pembelajaran, namun meningkatkan pengaruh siswa pada suatu hal (Chesebro, 2. Ketika konsep ini dikaji lebih mendalam, dapat diketahui tutor juga merupakan perwakilan dari seluruh proses pendidikan, baik secara sistematis maupun organik, saat individu mengejar pengetahuan. Oleh karena itu, menjadi penting bagi instruktur untuk tidak hanya memiliki pengetahuan konten, tetapi lebih penting lagi seperti yang diusulkan oleh Ruben dan Feezel . 6, halaman . (Maragha. Berdasarkan literature review dari beberapa artikel penelitian, teori yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah teori belajar kontruktivis yang dimana memandang belajar sebagai pembentukan abstrak sebuah konsep dalam pikiran untuk mengimplementasikan pada realitas. Kontruktivisme berpendapat bahwa kegiatan interaktif di mana peserta didik memaninkan peran aktif untuk meningkatkan hasil belajarnya (Zhang et al. , 2. Hipotesis Pebelitian Hipotesis adalah jawaban awal terhadap perumusan masalah penelitian. Istilah "sementara" digunakan karena jawaban ini didasarkan pada teori yang relevan, namun belum dikuatkan dengan fakta-fakta empiris yang dikumpulkan dari pengamatan atau penelitian secara Adapun hipotesis yang diajukan yaitu : H0 : Komunikasi instruksional tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap motivasi siswa didik dalam belajar di English Time Indonesia. Ha : Komunikasi instruksional terdapat pengaruh yang signifikan terhadap motivasi siswa didik dalam belajar di English Time Indonesia. METODE Pendekatan dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survei, yang mana survei ini adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat serta menguji hipotesis (Darto et al. tanpa tahu. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, yang berarti bahwa penelitian ini didasarkan pada filsafat positivisme dan dilakukan untuk menginvestigasi populasi atau sampel tertentu. Sampel umumnya dipilih secara acak, dan data dikumpulkan menggunakan alat ukur penelitian. Analisis data dilakukan dengan metode kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lembaga kursus English Time Indonesia yang berlokasi di Gg Keramik No. 17 Rt. 002 / Rw. 009 Kelurahan Mulyamekar. Kecamatan Babakan Cikao. Kabupaten Purwakarta. Provinsi Jawa Barat. Telpon ( . 817-0000-119. Populasi dan Sampel Penelitian ini menggunakan teknik sampling probabilitas, yakni semua populasi memiliki peluang yang sama untuk menjadi sampel penelitian menggunakan simple random sampling atau pemilihan secara acak. Berdasarkan calculate sample size dari sample monkey hanya membutuhkan sample size sebanyak 109 peserta didik dari total 150. Dengan rata-rata usia 16 tahun hingga 18 tahun yang dilakukan diberbagai level yakni dari level beginner sebanyak 37 peserta, elementary 34 peserta , dan intermediate 38 peserta untuk dijadikan sampel yakni data sesuai berikut : Tabel 1. Srata Sample Level Jumlah Sampel Beginner Elementary Intermediate Diketahui Teknik Pengumpulan Data Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: Studi Pustaka Data yang dikumpulkan melalui perbandingan literatur atau studi kepustakaan. Studi Lapangan: Observasi: Mengamati sikap dan perilaku subjek penelitian, baik dilakukan oleh peneliti sendiri atau melalui pihak ketiga. Wawancara: Metode pengumpulan data yang sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian, di mana pertanyaan relevan diajukan kepada responden. Kuesioner: Pengumpulan data dengan menyusun daftar pertanyaan kepada responden untuk mendapatkan pendapat mereka. Peneliti menggunakan skala Likert untuk menghitung hasil kuesioner, yang memiliki rentang dari sangat positif hingga sangat negatif, dari sangat jelas hingga sangat kurang jelas, dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju, disesuaikan dengan konteks pembahasannya, dengan skor yang diberikan dari 1 hingga 5. Skala ini memungkinkan analisis data yang kualitatif yang Dengan menggunakan berbagai metode ini, penelitian ini berusaha untuk mengumpulkan data yang komprehensif dan mendalam untuk mendukung analisis dan pengujian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya Metode Analisis Data Dalam mengolah data yang diperoleh dari penelitian ini, teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antara satu variabel dependen dan satu variabel independen. Penulis melakukan analisis ini dengan bantuan perangkat lunak SPSS (Statistical Package for Social Scienc. versi SPSS merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk analisis statistik, yang membantu dalam memproses dan menganalisis data secara efisien dan akurat sesuai dengan kebutuhan penelitian ini. Dengan menggunakan analisis regresi sederhana dan SPSS, peneliti dapat menguji hubungan antar variabel dan menghasilkan interpretasi yang mendalam terhadap temuan penelitian mereka. HASIL DAN PEMBAHASAN Peserta yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa yang mengikuti program pembelajaran di English Time Purwakarta, dengan jumlah total 109 siswa. Karakteristik responden ini penting untuk memberikan deskripsi mengenai identitas peserta berdasarkan sampel penelitian yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan dari menggambarkan karakteristik responden adalah untuk memberikan gambaran tentang siapa yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Dengan demikian, informasi ini membantu dalam memahami profil peserta yang terlibat dalam studi ini secara lebih mendalam. Tabel 2 Karakteristik Jenis Kelamin Jenis Frekuensi Persen Kelamin Laki-laki Perempuan 60 Total Tabel 3 Karakteristik Usia Responden Usia Frekuensi Persen 16 tahun 17 tahun 18 tahun Total Uji Reliabilitas Reliabilitas digunakan untuk menilai sekelompok pernyataan yang merupakan indikator dari variabel-variabel yang sedang diteliti. Pengukuran reliabilitas kuesioner dapat dilakukan dengan menggunakan metode CronbachAos Alpha. Metode ini membantu mengevaluasi seberapa konsisten pernyataan-pernyataan tersebut mengukur konsep yang sama dalam kuesioner. Case Processing Summary Cases Valid Excludeda Total Listwise deletion based on all variables in the Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Dari tabel tersebut, terlihat bahwa nilai CronbachAos Alpha untuk variabel komunikasi instruksional dan motivasi belajar lebih besar dari 0,60. Berdasarkan hal ini, dapat disimpulkan bahwa instrumen untuk mengukur komunikasi instruksional dianggap reliabel. Uji Normalitas Uji Normalitas dilakukan untuk menentukan apakah residual yang diamati mengikuti distribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji statistik untuk normalitas menggunakan uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. Berdasarkan hasil uji Kolmogorov Smirnov dapat dilihat pada Tabel didapatkan nilai Asymp signifikasi sebesar 0,200>0,05, hal ini berarti data berdistribusi normal. Uji Regresi Linier Sederhana Regresi linear bergantung pada hubungan fungsional atau kausal antara variabel independen dengan variabel dependen. Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Model (Constan. Komunikasi_intruksional Coefficients Std. Error Beta Sig. Dependent Variable: Motivasi_Belajar Y = 10. 113 0,558 Dari persamaan regresi tersebut, didapat bahwa nilai tetap dari variabel Motivasi Belajar (Y) adalah 10. Ini mengindikasikan bahwa ketika variabel Komunikasi Intruksional (X) sama dengan 0. Motivasi Belajar akan tetap sebesar 10. 113 satuan. Nilai gradien dari variabel Komunikasi Intruksional adalah 0,558. Artinya, jika variabel Komunikasi Intruksional dinaikkan satu satuan, maka Motivasi Belajar akan meningkat sebesar 0,558 satuan. Uji Koefisien Determinasi Koefisien ini disebut koefisien determinasi karena variasi yang terjadi pada variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi yang terjadi pada variabel independen. Hasil pengujian koefisien determinasi dapat dilihat dalam tabel berikut. Model Summaryb Model Adjusted R Std. Error of the Square Estimate R Square Predictors: (Constan. Komunikasi_intruksional Dependent Variable: Motivasi_Belajar KD = R x 100% = 0. 353 x 100% = 35,3% Dari analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa 35,3% dari variasi dalam motivasi belajar siswa dapat dijelaskan oleh komunikasi intruksional. Sementara itu, sisanya sebesar 64,7% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Pengujian Hipotesis Uji-t adalah metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi signifikansi pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dalam sebuah model regresi. Hasil dari uji-t memberikan informasi apakah masing-masing variabel bebas berkontribusi secara signifikan terhadap variabel tak bebas, dengan menguji hipotesis nol bahwa koefisien regresi untuk variabel tersebut adalah nol. Output dari perangkat lunak SPSS versi 21. 0 menyajikan hasil detail dari uji parsial ini, yang mencakup nilai t-statistik, nilai p-nilai, dan interval kepercayaan untuk setiap koefisien Analisis ini penting untuk menentukan kontribusi relatif dari variabel independen terhadap variabel dependen dalam konteks studi atau penelitian yang sedang dilakukan. Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta Sig. (Constan. Komunikasi_intruksion . Dependent Variable: Motivasi_Belajar Nilai thitung sebesar 7. 744 dengan df . egree of freedo. = n-k 109-2 = 107 menunjukkan bahwa nilai ttabel sebesar 1,982 pada taraf signifikansi 5%. Dengan thitung yang lebih besar dari ttabel . ,744> 1,. , maka hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Ini mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari komunikasi intruksional terhadap motivasi siswa dalam belajar bahasa inggris di lembaga kursus English Time Indonesia Kabupaten Purwakarta. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunikasi Intruksional memiliki dampak signifikan terhadap Motivasi Belajar di lembaga kursus English Time Indonesia. Berdasarkan analisis data, nilai thitung . secara signifikan melebihi ttabel . , sehingga hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Ini mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh positif dari Komunikasi Intruksional terhadap Motivasi Belajar siswa. Menurut persamaan regresi yang digunakan, nilai konstanta Motivasi Belajar (Y) adalah 10,113. Artinya, jika variabel Komunikasi Intruksional (X) sama dengan 0. Motivasi Belajar akan tetap sebesar 10,113 Selain itu, gradien Komunikasi Intruksional sebesar 0,558 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan dalam variabel Komunikasi Intruksional akan meningkatkan Motivasi Belajar sebesar 0,558 satuan. Komunikasi instruksional secara keseluruhan menjelaskan 35,3% variasi dalam Motivasi Belajar siswa. dampak ini menunjukkan komunikasi instruksional terdapat pengaruh terhadap hubungan antara tutor dan siswa dalam konteks pembelajaran. Komunikasi yang efektif antara keduanya dapat mempengaruhi minat siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi dan usaha siswa dalam belajar. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal tutor memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Komunikasi instruksional dalam konteks pendidikan bertujuan untuk mengarahkan perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih baik, terutama dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pentingnya komunikasi instruksional dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa juga telah ditegaskan oleh Anggraeni . Tutor yang mampu memberikan instruksi dengan efektif dan mempertimbangkan perbedaan individual siswa dapat memberikan dampak yang positif terhadap proses pembelajaran. Dengan demikian, komunikasi intruksional bukan hanya mempengaruhi motivasi belajar siswa secara signifikan, tetapi juga merupakan faktor kunci dalam membentuk pengalaman belajar yang positif dan produktif bagi siswa. KESIMPULAN Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: Komunikasi Intruksional berpengaruh terhadap Motivasi Belajar siswa di lembaga kursus English Time Indonesia di Kabupaten Purwakarta Komunikasi intruksional menjelaskan sebesar 7,744% variasi dalam motivasi belajar DAFTAR PUSTAKA