Journal of Human and Corporate Behavior Vol. No. 1 (Agustus 2. : 33-45 Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur Arliandi Sari Amtu1*. Rinda Sandayani Karhab2 1,2Fakultas Ekonomi Bisnis dan Politik. Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dan komunikasi terhadap kinerja pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sejumlah 39 responden yang merupakan pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda dan pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala likert dan determinasi, uji t serta uji f. Hasil pengolahan data perhitungan regresi linier berganda Y = 2,110 Ae 0,075 0,792. Koefisien determinasi (R Squar. 0,804 yang artinya 80,4%. Dari hasil uji t, t hitung untuk variabel gaya kepemimpinan (X. 0,720 dengan = 0,435 > = 0,05 yang artinya H0 diterima dan Ha ditolak maka variabel gaya kepemimpinan dinyatakan tidak berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Nilai t hitung untuk variabel komunikasi (X . 11,904 dengan = 0,001 < = 0,05 ini artinya H0 ditolak dan Ha diterima maka variabel komunikasi dinyatakan berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Dari hasil uji F. F hitung 73,870 dengan = 0,001 < = 0,05 ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima. Secara keseluruhan dinyatakan terdapat pengaruh gaya kepemimpinan dan komunikasi terhadap kinerja pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Kemudian hasil dari uji dominan menunjukkan variabel komunikasi memiliki pengaruh paling besar dengan nilai Beta 0,909 dibanding variabel gaya kepemimpinan yang memiliki nilai Beta 0,055. Kata kunci: gaya kepemimpinan. kinerja pegawai *Corresponding authorAos e-mail: arliandisari@gmail. E-ISSN: x-x Link jurnal: https://paper-rta. id/index. php/JHCB Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 PENDAHULUAN Pada era perkembangan pesat saat ini, bangsa amat memerlukan orang-orang yang memiliki sikap progresif, cerdas, inovatif, dan antusias terhadap peningkatan jaman. Berbagai organisasi atau instansi berupaya menaikkan performa semua komponen organisasinya demi kesuksesan organisasi kedepannya. Salah satunya yaitu Balai Guru Penggerak, bergerak di bidang pelayanan tentunya sumber daya manusia yang menjadi penentu keberhasilan organisasi. Pada dasarnya sumber daya manusia merupakan kemampuan berpikir dan bertindak yang terdapat dalam diri manusia, yang harus digali, dibimbing dan dikembangkan untuk dapat digunakan sebaik mungkin demi keamanan dan kenyamanan manusia (Sedarmayanti, 2. Di setiap kegiatan organisasi baik yang bergerak dalam bidang produksi maupun pelayanan jasa, sumberdaya manusia menjadi salah satu faktor terpenting. Seluruh pegawai diharapkan dapat memberikan kontribusi terbaik sesuai kemampuannya untuk mencapai tujuan organisasi. Melalui proses evaluasi kinerja yang teratur dan efektif, organisasi dapat menentukan keunggulan dan kelemahan pegawai, menyampaikan evaluasi yang berharga, serta mengidentifikasi peluang demi kemajuan lebih lanjut. Selain itu, evaluasi kinerja yang baik juga memungkinkan pemimpin untuk mengidentifikasi pegawai yang berprestasi tinggi dan memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi mereka. Evaluasi kinerja dapat dilakukan berdasarkan pengamatan perilaku dan dikaitkan dengan standar kinerja yang telah ditetapkan. Dengan demikian, sumber daya manusia memainkan peran kunci dalam memastikan bahwa setiap pegawai di organisasi dapat mencapai potensi maksimal mereka dan berkontribusi secara optimal terhadap kesuksesan organisasi secara keseluruhan. Pegawai selaku sumber daya yang dimiliki organisasi menjadi pelaku tercapainya tujuan sebuah organisasi, tentunya haruslah didukung dengan kinerja yang baik. Menurut Sedarmayanti . kinerja yaitu performa orang maupun kumpulan di organisasi dicoba cocok dengan tugas serta tanggung jawabnya guna meraih tujuan organisasi, dengan metode yang halal, terhindar pelanggaran undang-undang, dan cocok pada norma yang berlaku. Dengan mengikuti aturan dan prinsip organisasi, setiap tindakan yang dilakukan akan membawa manfaat jangka panjang bagi perusahaan. Dalam dunia kerja pasti menginginkan pegawai yang memiliki kinerja baik. Hal ini dapat diperoleh apabila kinerja pegawai tersebut sudah sesuai dengan standar secara kualitas dan kuantitas. Dengan begitu akan mudah dalam memantau kinerja sebuah organisasi dan megendalikan informasi kemudian memproduksi sebuah output untuk digunakan oleh manjemen dalam mengatur organisasi tersebut. Sebuah organisasi dibangun dikarenakan adanya suatu tujuan yang ingin diraih. Untuk meraih tujuan tersebut diperlukan sikap atau perilaku seseorang dengan rasa bertanggung jawab dan kemampuan yang cukup baik. Salah satu aspek yang bisa pengaruhi kinerja ialah seseorang pemimpin yang bisa pengaruhi serta menunjang para pegawai supaya bekerja secara maksimal dalam mencapai tujuan organisasi. Menurut Suwatno et al. , . seorang pemimpin haruslah mempunyai kemampuan dalam mempengaruhi bawahan, rekan kerja, dan atasan dalam sebuah pekerjaan atau Maka untuk meningkatkan kinerja pegawai, diperlukan seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi, mengarahkan, dan memotivasi orang lain agar mereka Amtu & Karhab mau menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Setiap pemimpin akan berusaha untuk membuat pegawainya mau bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya secara optimal. Betapa pentingnya peran seorang pemimpin dalam upaya menggapai target organisasi, maka bisa dinyatakan bahwa keberhasilan dan gagal yang terjadi pada suatu organisasi dipengaruhi oleh nilai pemimpin yang telah diberi tugas untuk memimpin suatu organisasi tertentu. Seorang pemimpin yang tidak mempunyai kecakapan yang cukup baik maka akan berakibat tidak dapat tercapainya tujuan organisasi dengan efisien, yang mana hal ini akibat dari tidak terdapat gerakan dan dorongan kepada pegawai untuk melaksanakan Peran seorang pemimpin khususnya di Balai Guru Penggerak harus cakap dalam mengidentifikasi kebutuhan pegembangan guru penggerak, merancang program yang relevan, dan memastikan efektivitas program tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antara seorang pemimpin dan pegawai untuk mencapai tujuan yang tepat dengan lebih mudah dan efektif. Seorang pemimpin yang mampu dalam mengayomi akan terus meningkatkan kinerja, sebaliknya bila pimpinan tidak mampu menghasilkan kinerja yang baik maka akan menghambat pertumbuhan organisasi. Disaat seperti inilah kecakapan pimpinan diuji dalam berkomunikasi untuk mendorong pegawai dalam pelaksanaan pekerjaan. Sebab kepemimpinan berperan penting dalam menggapai visi misi dan target organisasi. Tak hanya gaya kepemimpinan, komunikasi juga mempengaruhi kinerja pegawai. Menurut Suwatno et al. , . komunikasi adalah sebuah wadah untuk merubah tingkah laku pegawai untuk menciptakan kinerja yang lebih baik dan berkualitas. Dalam sebuah organisasi komunikasi cukup penting hingga dapat dikatakan seperti akar dari sebuah Selain itu peningkatan kinerja pegawai juga dapat berhasil dari komunikasi yang efektif dari pemimpin dan pegawai dalam sebuah organisasi. Komunikasi merupakan awal dari terbentuknya hingga perkembangannya sebuah Dan apabila komunikasi terhambat, maka terhentilah seluruh kegiatan Oleh sebab itu diperlukan komunikasi yang terbuka dan jelas untuk menjadi peran penting dalam membentuk budaya organisasi yang positif, memperkuat hubungan antar individu dan mendukung untuk kerja sama yang produktif. Berdasarkan definisi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan dan komunikasi memiliki pengaruh terhadap kinerja pegawai. Hal ini menunjukkan pentingnya untuk menerapkan gaya kepemimpinan dan komunikasi yang efektif pada setiap organisasi atau instansi. Balai Guru Penggerak merupakan sebuah unit pelaksana teknis yang dibentuk oleh kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi (Kemendikbudriste. yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru di indonesia. Balai Guru Penggerak sebagai sebuah lembaga yang berfokus pada pengembangan kualitas guru, kinerja pegawai berperan penting dalam menilai proses peningkatan kualitas guru. Guru selaku ujung tombak dalam penerapan keberhasilan proses pendidikan di sekolah mempunyai kedudukan serta tanggungjawab yang besar guna mengelola seluruh komponen- komponen yang ada di kelasnya. Dengan menambah kualitas pendidikan melalui pengembangan kompetensi guru, diharapkan dapat melahirkan generasi guru yang berkualitas dan mampu memberikan pembelajaran yang baik bagi para siswa. Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 sinilah peran Balai Guru Penggerak dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru di indonesia dengan mengembangkan kompetensi guru serta mengembangkan kurikulum dan materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan guru dan perkembangan Namun dalam prosesnya tidak lepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi seperti beban kerja guru yang sangat tinggi membuat mereka kesulitan mengikuti program pengembangan, kurangnya dukungan dari sekolah sehingga terkendala di lapangan, keterbatasan infrastruktur serta partisipasi guru yang kurang aktif membuat tujuan tidak tercapai secara optimal. Hal ini mengakibatkan dampak yang dapat kita lihat dari data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. 2020 menunjukkan masih banyak hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) pada masing-masing daerah yang belum merata dan masih di bawah rata-rata skor. Sehingga di sinilah peran seorang pemimpin di Balai Guru Penggerak sangat dibutuhkan baik dari visi misi yang sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional dan kebutuhan daerah, mampu menginspirasi dan memotivasi para guru, mampu mengambil keputusan yang strategis, mengembangkan tim yang kompeten, mampu mengelola perubahan yang terjadi di dunia pendidikan, serta secara berkala melakukan evaluasi terhadap program Balai Guru Penggerak untuk mengukur efektivitas dan melakukan perbaikan. Berdasarkan hasil observasi tersebut, kemudian melihat pada hasil temuan sebelumnya Samosir . menunjukkan gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh positif pada kinerja pegawai. Kemudian Samosir . juga menemukan komunikasi yang memiliki pengaruh positif signifikan pada kinerja pegawai. Namun berbeda pada temuan Panjaitan . menghasilkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh negatif pada kinerja pegawai. Kemudian hasil temuan Geralt et al. , . bahwa komunikasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada kinerja pegawai. Dari uraian tersebut, peneliti bermaksud melakukan penelitian secara mendalam dengan judul AuPengaruh Gaya Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan TimurAy. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah tempat dilakukannya penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di Kantor Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur sesuai dengan tujuan penelitian ini, yang beralamatkan Jl. Basuki Rahmat No. Kel. Sungai Pinang Luar. Kec. Samarinda Kota, kota Samarinda. Kalimantan Timur. Jenis Penelitian Penelitian ini jenisnya adalah penelitian kuantitatif sosiatif yang dilakukan bertujuan guna mengkaji dan menyimak pengaruh gaya kepemimpinan (X . dan komunikasi (X. terhadap kinerja pegawai (Y) pada Guru Balai Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Menurut Juliandi dalam (Sanjaya, 2. penelitian kuantitatif asosiatif merupakan studi yang mengkaji macam mana sesuatu variabel mempunyai keterkaitan ataupun pengaruh dengan variabel yang lain maupun apakah sesuatu variabel jadi pemicu variabel yang Amtu & Karhab Penyebabnya peneliti memilah studi kuantitatif asosiatif selaku pendekatan studi dikarenakan sesuai dengan tujuan studi ialah buat memandang serta mengamati terdapatnya pengaruh maupun hubungan yang terjalin antara gaya kepemimpinan serta komunikasi terhadap kinerja. Kemudian memanfaatkan informasi primer yang dikumpulkan secara langsung dari responden lewat kuesioner oleh peneliti merupakan jenis informasi yang digunakan guna analisis dalam studi ini di kantor Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur, kota Samarinda. Sampel Penelitian Bagian dari total serta ciri khas dari sebuah populasi ialah sampel. Arikunto . menegaskan jika apabila subjeknya kurang dari 100, sehingga segala populasi sebagai sampel studi. Namun apabila subjeknya lebih dari 100, sehingga bisa diambil 10- 15% ataupun 15- 25%. Dengan pengertian tersebut disimpulkan total sampel pada studi ini adalah semua pegawai pada Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 39 pegawai. Pada studi ini digunakan metodologi simpel random sampling, dikarenakan setiap bagian dari populasi mendapat peluang yang sama berperan sebagai sampel. Dengan metode ini akan meningkatkan akurasi penelitian dan meminimalkan bias dalam proses pengambilan sampel. HASIL Analisis Statistik Deskriptif Tabel 1. Hasil uji statistik deskriptif Gaya Kepemimpinan Komunikasi Kinerja Valid N . Descriptive Statistics Maximum Minimum Mean Std. Deviation 25,41 21,21 17,00 2,863 4,485 3,907 (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Berdasarkan tabel dapat dinyatakan bahwa: Dalam Tabel 1 ditampilkan distribusi data untuk variabel gaya kepemimpinan (X. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai minimum adalah 17, nilai maximum 30, dan rata-rata gaya kepemimpinan mencapai 25,41. Standar deviasi untuk variabel ini tercatat sebesar 2,863. Dalam Tabel 1 ditampilkan distribusi data untuk komunikasi (X. Data tersebut menunjukkan bahwa nilai minimum 5, nilai maximum 25, dan rata-rata Komunikasi mencapai 21,21. Standar deviasi untuk variabel ini tercatat sebesar 4,485. Dalam Tabel 1 ditampilkan distribusi data untuk variabel kinerja (Y). Data tersebut menunjukkan bahwa nilai minimum adalah 4, nilai maximum 20, dan rata-rata kinerja mencapai 17,00. Standar deviasi untuk variabel ini tercatat sebesar 3,907. Uji Instrumen Data Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 Uji Validitas Tabel 2. Uji validitas Variabel Gaya Kepemimpinan (X. Komunikasi (X. Kinerja (Y) Item Penilaian X1. X1. X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. r Hitung 0,715 0,615 0,558 0,543 0,610 0,665 0,749 0,846 0,870 0,791 0,840 0,817 0,906 0,930 0,901 r Tabel 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 0,316 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Pada Tabel 2 di atas terlihat seluruh pernyataan valid, dikarenakan seluruh nilai r hitung > r tabel . sehingga dapat disimpulkan seluruh butir pernyataan pada variabel gaya kepemimpinan, komunikasi dan kinerja pada kuesioner dalam penelitian ini valid. Uji Reliabilitas Tabel 3. Hasil uji reliabilitas Variabel CornbachAos Alpha Standar Reliabilitas Keterangan Gaya Kepemimpinan ,660 ,60 Reliabel Komunikasi ,871 ,60 Reliabel Kinerja ,902 ,60 Reliabel (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Pernyataan variabel gaya kepemimpinan memiliki koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,660 > 0,60 pada Tabel 3. Koefisien komunikasi Cronbach Alpha pada pernyataan variabel tersebut adalah 0,871 > 0,60. Karena koefisien Cronbach Alpha untuk pernyataan variabel Kinerja adalah 0,902 > 0,60, maka dapat dikatakan bahwa semua klaim penelitian tersebut dapat dipercaya dan dapat diandalkan sebagai alat ukur. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Tabel 4. Hasil uji normalitas Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute ,144 Amtu & Karhab Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Exact Sig. -taile. ,132 ,144 ,901 ,392 ,357 (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Hasil uji normalitas menunjukkan nilai Exact Sig. -taile. sebesar 0,357, nilai ini lebih besar dari 0,05 yang dapat diartikan bahwa dalam analisis ini data terdistribusi normal. Uji Heteroskedastisitas Tabel 5. Hasil uji heteroskedastisitas Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Model 3,269 Std. Error Gaya Kepemimpinan -0,121 Komunikasi -0,065 (Constan. Beta 0,686 Sig. 0,497 0,186 -0,111 -0,651 0,519 0,119 -0,094 -0,552 0,585 4,763 (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Hasil analisis uji heteroskedastisitas menggunakan metode Glejser, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 5, menunjukkan nilai signifikansi . ) sebesar 0,519 untuk gaya kepemimpinan (X. dan 0,585 untuk komunikasi (X. Karena kedua nilai tersebut lebih besar dari 0,05 dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengindikasikan adanya masalah heteroskedastisitas. Uji Multikolinearitas Tabel 6. Hasil uji multikolinearitas Model Collinearity Statistics Tolerance VIF Gaya Kepemimpinan (X. ,933 1,072 Komunikasi (X. ,933 1,072 (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Nilai toleransi variabel gaya kepemimpinan (X. dan komunikasi (X. adalah sama, yaitu 0,933 > 0,10, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6. Nilai VIF variabel gaya kepemimpinan (X. dan komunikasi (X. juga sama, yaitu 1,072 < 10,00. Dengan demikian, dapat dikatakan tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas dalam penelitian ini, sehingga memungkinkan untuk dilanjutkan pengujiannya karena memenuhi syarat pengujian asumsi klasik yang menyatakan tidak terjadi Regresi Linier Berganda Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 Tabel 7. Hasil regresi linier berganda Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sig. (Constan. Gaya Kepemimpinan Komunikasi 904 <,001 Model (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Koefisien determinasi variabel bebas atau beta masing-masing variabel yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan adalah 2,110, koefisien determinasi (X . sebesar 0,075, dan koefisien korelasi (X. sebesar 0,792, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan program analisis komputer SPSS versi 30. Berikut ini adalah uraian model regresinya: Y = 2,110 - 0,075X1 0,792X2 Hasil 2,110 menunjukkan bahwa bila nilai gaya kepemimpinan (X . dan komunikasi (X. tidak mengalami perubahan atau tetap bernilai 0 . maka tingkat kinerja pegawai yang terjadi pada Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur sebesar 2,110. Gaya kepemimpinan (X. , mempunyai pengaruh negatif yang dapat diartikan bahwa ketika nilai gaya kepemimpinan meningkat 1 satuan, maka nilai kinerja pegawai menurun sebesar 0,075. Komunikasi (X. , mempunyai pengaruh positif yang dapat diartikan bahwa apabila nilai komunikasi meningkat 1 satuan, maka nikai kinerja pegawai meningkat sebesar 0,792. Uji Koefisien Korelasi . Tabel 8. Hasil uji koefisien korelasi (R) dan determinasi (R. Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. Komunikasi. Gaya Kepemimpinan (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Dari Tabel 8 terlihat bahwa besarnya nilai R . atau tingkat hubungan antar variabel bebas dan terikat adalah sebesar 0,897 berkedudukan antara 0,60 - 0,90 . asuk kategori kua. artinya variabel gaya kepemimpinan dan komunikasi berkorelasi kuat dengan variabel kinerja. Uji Koefisien Determinasi (R. Mengingat nilai R Square sebesar 0,804, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh gabungan variabel independen terhadap variabel dependen adalah 80,4%. Uji Hipotesis Uji F Tabel 9. Hasil uji F Model Sum of Squares Mean Square Sig. Amtu & Karhab Regression 466,361 233,181 Residual Total 113,639 580,000 3,157 73,870 <,001b (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Mengingat jumlah responden dalam sampel penelitian ini sebanyak 39 orang dan tiga parameter . maka hasil penelitian menunjukkan bahwa df1 = k-1 = 3-1 = 2. df2 = nk = 39-2 = 37. pada taraf signifikansi = < 0,05 diperoleh Ftabel = 3,25. Pada Tabel 9 diperoleh Fhitung . > Ftabel . dan signifikansi . < . yang berarti variabel komunikasi dan gaya kepemimpinan secara simultan . ersama-sam. berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai Balai Guru Perggerak Provinsi Kalimantan Timur. Uji t Tabel 10. Hasil uji t Unstandardized Coefficients Std. Error Beta Standardized Coefficients Sig. (Constan. 2,674 ,789 ,435 Gaya Kepemimpinan -,075 ,104 -,055 -,720 ,476 Komunikasi ,792 ,067 ,909 11,904 <,001 Model Dependent Variable: Kinerja (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Hasil penelitian diperoleh nilai sig . yang lebih besar dari . dan perhitungan n-k = 39-3 = 36 dengan t hitung sebesar 0,72 yang lebih kecil dari t tabel sebesar 2,028 menunjukkan bahwa secara parsial tidak ada pengaruh signifikan. Oleh karena itu. H0 diterima dan H1 ditolak. Dengan demikian, gaya kepemimpinan tidak mempengaruhi kinerja pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Dari hasil analisis diperoleh jumlah Sig. serta T hitung = 11,904 > t tabel = 2,028 . erdasarkan nilai n-k = 39-3 = . , maka terdapat pengaruh yang signifikan sebagian, yaitu menolak H 0 dan menerima H2. Dengan demikian, kinerja pegawai Balai Guru Pengerak Provinsi Kalimantan Timur dipengaruhi secara signifikan oleh Kinerja pegawai di Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur dipengaruhi secara signifikan oleh komunikasi, berdasarkan hasil pengujian dan analisis. Uji Dominan Tabel 11. Hasil uji dominan Model Unstandardized Coefficients Std. Error Beta Standardized Coefficients Sig. Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 (Constan. 2,110 2,674 Gaya Kepemimpinan -,075 ,104 Komunikasi ,067 ,792 ,789 ,435 -,055 -,720 ,476 ,909 11,904 <,001 Dependent Variable: Kinerja (Sumber: Data diolah dengan SPSS 30, 2. Dengan jumlah Beta 0,909 menunjukkan komunikasi menjadi variabel yang berpengaruh terbesar pada variabel kinerja, sebagaimana ditunjukkan oleh kolom koefisien standardizer pada Tabel 11, yang terlihat komunikasi memiliki jumlah Beta yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel gaya kepemimpinan. PEMBAHASAN Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Berdasarkan hasil olah data dengan SPSS menunjukkan secara parsial gaya kepemimpinan (X. tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja pegawai (Y). dapat dilihat dari nilai signifikansi . serta nilai T hitung . T tabel. , serta angka signifikansi . Maka dengan ini mengindikasikan secara parsial komunikasi (X . mempunyai pengaruh yang signifikan pada kinerja pegawai (Y). hal ini sejalan dengan penelitian Samosir . , menunjukkan komunikasi memiliki pengaruh yang signifikan pada kinerja pegawai. Namun, berbeda dengan penelitian Geralt et al. yang memperoleh komunikasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada kinerja pegawai. Amtu & Karhab Dalam hasil pengujian ini menunjukkan bahwa komunikasi (X . mempunyai pengaruh pada kinerja pegawai, yang artinya semakin meningkat komunikasi para pegawai akan semakin meningkat pula kinerja pegawai. Sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur memiliki komunikasi dalam bekerja masuk pada kategori sangat baik. Hal ini dibuktikan mayoritas responden menjawab sangat setuju pada semua item pernyataan X2. X2. X2. X2. dan X2. Pegawai yang 16 memiliki keterampilan dan pengetahuan yang baik dapat mempertahankan kinerjanya dengan waktu yang cukup lama walaupun mendapatkan tugas yang cukup sulit dan masalah pekerjaan yang bermacam-macam ini dapat dilihat dari karakteristik responden lama bekerja sebanyak 11 orang atau 28% telah bekerja lebih dari 6-8 tahun, 9 orang atau 23% telah bekerja lebih dari 10 tahun. Hal ini mengindikasi adanya kemampuan yang dimiliki pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur terindikasi baik. Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Secara Simultan Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, didapat nilai signifikansi . dan F hitung . > F tabel . secara bersamaan, yang menunjukkan bahwa komunikasi dan gaya kepemimpinan yang diperlukan untuk mencapai kinerja pegawai yang besar. Uji F menjadi bukti hasil penelitian dimana didapati komunikasi serta gaya kepemimpinan berpengaruh secara bersamaan dengan kinerja pegawai. Kinerja pegawai di Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur dapat diketahui sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan dan faktor komunikasi secara bersamaan. Untuk itu, apa yang sudah baik perlu dipertahankan dan untuk mencapai kinerja yang optimal, pengetahuan tentang berbagai jenis pekerjaan harus terus dinilai dan ditingkatkan. SIMPULAN Kesimpulan penelitian ini antara lain: . gaya kepemimpinan tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja pegawai pada Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur, sehingga menolak H1. komunikasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur, sehingga menerima H2. gaya kepemimpinan dan komunikasi memiliki pengaruh secara simultan terhadap kinerja pegawai pada Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur, sehingga menerima H3. Penelitian ini memiliki implikasi yang sangat penting terhadap manajemen organisasi, terutama dalam penerapan gaya kepemimpinan dan komunikasi terhadap kinerja pegawai Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur. Dari hasil studi ini bisa menjadi dasar dalam merancang program peningkatan kepemimpinan dan komunikasi secara efektif, sehingga mampu meningkatkan kinerja pegawai secara Hasil studi ini bisa dipakai dalam mengevaluasi gaya kepemimpinan yang sudah ada dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Kemudian dengan memahami hubungan antara gaya kepemimpinan, komunikasi dan kinerja maka Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Timur dapat merancang strategi untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai. Journal of Human and Corporate Behavior Ae Agustus. Vol. No. 1, 2025 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Pengembangan Instrumen Penelitian dan Penilaian Program. Pustaka