267 Mujahidah, et. P-ISSN : 2502-8383 E-ISSN : 2808-3954 Vol. 10 No. 2 , 2025 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ THE ROLE OF ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION IN SHAPING STUDENTS SELF CONTROL AND MORALITY IN THE DIGITAL AGE IN PRIMARY SCHOOLS/MADRASAH IBTIDAIYAH Mujahidah Universitas Negeri Makassar Email: mujahidah@unm. Article Info Corresponding Author: Mujahidah mujahidah@unm. Keywords: Islamic Religious Education in primary schools/madrasahs. SelfControl. Digital Morality Kata kunci: Pendidikan Agama Islam di SD/MI. Pengendalian Akhlak Digital Naskah. Diterima : 09 /08 /2025 Direvisi : 15 /09/ 2025 Disetujui : 22/09/ 2025 Abstract This study examines the strategic role of Islamic Religious Education in primary schools/madrasahs in shaping students' self-control and moral character in the era of Using the Systematic Literature Review method with the PRISMA approach, this study analyses ten scientific publications from 2022-2025 that are relevant to the research theme. The findings show that the transformation of Islamic Religious Education methodology in SD/MI through the integration of digital technology can increase the effectiveness of learning and the internalisation of Islamic values. Moral education acts as a protective barrier against the negative impacts of technology, including digital addiction, cyberbullying, and moral degradation. Islamic Religious Education teachers in SD/MI have a strategic function as transformative facilitators who combine pedagogical-digital competencies with spiritual mentoring. The implementation of a holistic approach through multi-stakeholder collaboration between schools, families, and communities is key to shaping students' Islamic character while being technologically The study recommends the development of a digital literacy-based PAI curriculum in SD/MI, the strengthening of teacher training programmes, and the establishment of a character education ecosystem that is responsive to the challenges of the digital age to optimise the role of PAI in shaping a generation with noble character. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran strategis Pendidikan Agama Islam di SD/MI dalam membentuk kemampuan self-control dan akhlak siswa pada era digitalisasi. Menggunakan metode Systematic Literature Review dengan pendekatan PRISMA, studi ini menganalisis sepuluh publikasi ilmiah periode 2022-2025 yang relevan dengan tema Temuan menunjukkan bahwa transformasi metodologi PAI di SD/MI melalui integrasi teknologi digital dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai Islam. Pendidikan akhlak berperan sebagai benteng protektif terhadap dampak negatif teknologi, termasuk kecanduan digital, cyberbullying, dan degradasi moral. Guru PAI di SD/MI memiliki fungsi strategis sebagai fasilitator transformatif yang menggabungkan kompetensi pedagogis-digital dengan mentoring Implementasi pendekatan holistik melalui kolaborasi multi-stakeholder antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci pembentukan karakter siswa yang Islami namun adaptif teknologi. Penelitian merekomendasikan pengembangan kurikulum PAI di SD/MI berbasis literasi digital, penguatan program pelatihan guru, dan pembentukan ekosistem pendidikan karakter yang responsif terhadap tantangan era digital untuk mengoptimalkan peran PAI dalam membentuk generasi berkarakter Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang berlangsung secara masif telah menghadirkan transformasi fundamental dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, khususnya dalam ranah pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Era digitalisasi yang kita saksikan saat ini tidak hanya membawa kemudahan akses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan kompleks dalam membentuk kepribadian siswa yang berkarakter mulia. Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika melihat realitas bahwa generasi digital native menghabiskan sebagian besar waktunya berinteraksi dengan teknologi, yang pada gilirannya memberikan pengaruh signifikan terhadap pola pikir, sikap, dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari (Cahyaningrum et al. , 2. Di tingkat pendidikan dasar, khususnya di SD/MI, pembentukan karakter dan nilai-nilai akhlak menjadi salah satu tujuan utama dalam proses pendidikan. Era digital yang memberikan dampak besar terhadap kehidupan siswa memunculkan tantangan tersendiri dalam membentuk akhlak dan kemampuan pengendalian diri . elf-contro. Siswa pada usia ini sedang berada dalam fase perkembangan psikologis yang sangat rentan terhadap pengaruh teknologi, baik dalam hal perilaku, emosi, maupun pola pikir. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam di tingkat SD/MI memiliki peran strategis dalam membentuk karakter yang tidak hanya berbasis akademik, tetapi juga spiritual dan moral yang kuat. Dari perspektif normatif Islam, pembentukan akhlak mulia dan kemampuan pengendalian diri . elf-contro. merupakan tujuan fundamental dalam proses pendidikan. Al-Quran dan Hadis telah memberikan landasan filosofis yang kuat mengenai pentingnya pendidikan karakter dalam membentuk manusia yang bertakwa dan berakhlak karimah. Secara psikologis, kemampuan selfcontrol menjadi prediktor utama kesuksesan akademik dan sosial siswa, dimana individu yang memiliki kontrol diri yang baik cenderung lebih mampu mengatasi berbagai godaan dan tekanan negatif dari lingkungan sekitarnya (Elsi Fitrianis et al. , 2. Yuridis. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 juga menegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kecerdasan komprehensif. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan adanya krisis moral yang mengkhawatirkan di kalangan generasi muda. Transformasi digital yang berlangsung begitu cepat telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perilaku sosial remaja yang ditandai dengan meningkatnya kasus kenakalan remaja, penyalahgunaan teknologi, dan melemahnya nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini diperparah dengan Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. mudahnya akses terhadap konten negatif di dunia maya, cyberbullying, kecanduan media sosial, serta menurunnya kemampuan siswa dalam mengontrol diri ketika berinteraksi dengan teknologi digital (Firmansyah & Sabarudin, 2. Fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kemajuan teknologi dengan kematangan moral dan spiritual generasi muda. Permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana Pendidikan Agama Islam dapat berperan optimal dalam membentuk self-control dan akhlak siswa di tengah arus deras digitalisasi yang terus berkembang (Ghani Ahmad Haidar & Hikmah Maulani, 2. Tantangan ini semakin kompleks ketika mempertimbangkan bahwa metode pembelajaran PAI tradisional seringkali belum mampu mengantisipasi dan merespons dinamika perubahan yang terjadi di era digital. Benturan antara teori PAI klasik dengan realitas kontemporer menciptakan gap yang signifikan, dimana konsep-konsep akhlak dan self-control yang diajarkan dalam kelas seringkali terasa abstrak dan sulit diaplikasikan dalam kehidupan digital siswa (Kasnuri, 2. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang efektivitas strategi pembelajaran PAI dalam membangun karakter siswa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan moral. Di tingkat SD/MI, pendidikan agama Islam dapat berperan sebagai fondasi dalam membentuk karakter yang kuat dan mengajarkan siswa untuk dapat mengelola diri dengan baik, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Pendidikan agama Islam di sekolah dasar seharusnya mampu menyentuh sisi spiritual dan sosial siswa, dengan memberikan panduan tentang etika digital, pengendalian diri dalam berinteraksi di dunia maya, dan bagaimana menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Berdasarkan analisis permasalahan tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan: Bagaimana peran Pendidikan Agama Islam dalam membentuk self-control dan akhlak siswa pada era digital, khususnya di tingkat SD/MI? Apa saja strategi dan pendekatan PAI yang efektif untuk menghadapi tantangan digitalisasi? Bagaimana integrasi nilai-nilai Islam dengan teknologi digital dapat dilakukan dalam proses pembelajaran di SD/MI? Rumusan masalah ini menjadi dasar untuk mengeksplorasi secara mendalam dinamika hubungan antara PAI, pembentukan karakter, dan tantangan era digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara komprehensif peran strategis Pendidikan Agama Islam dalam membentuk self-control dan akhlak siswa di era digital, mengidentifikasi best practices dalam implementasi PAI kontemporer di SD/MI, serta merumuskan rekomendasi untuk pengembangan model pembelajaran PAI yang adaptif terhadap perkembangan teknologi (Masruroh, 2. Self-control competency is designed to review the Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. concept of themselves as controllers for their own thoughts, feelings, and behavior, sehingga siswa dapat mengelola diri untuk menghindari perilaku menyimpang yang umum terjadi di era digital. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk menemukan formula tepat dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan dinamika kehidupan digital. Era digital membawa tantangan baru terhadap perkembangan moral siswa, khususnya dengan penggunaan teknologi digital yang meluas dan tidak bijaksana di kalangan remaja. Fenomena ini memerlukan respons edukatif yang sistematis dan terukur untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi sejalan dengan peningkatan kualitas spiritual dan moral generasi muda (Norvia et al. , 2. Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam di SD/MI semakin menekankan integrasi prinsip-prinsip psikologis untuk mengatasi kebutuhan mental, emosional, dan sosial siswa, yang sangat relevan dalam konteks pembelajaran di era digital. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Anissatuzzahro & Hairani, 2. telah mengkaji urgensi Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan konsep kepribadian Muslim, dengan fokus pada peran PAI sebagai solusi dalam mengatasi krisis moral remaja melalui pendekatan edukatif, preventif, dan kuratif. Sementara itu, penelitian tentang peran mata pelajaran PAI dalam membangun kesadaran etika digital dan studi mengenai peran guru dalam pembelajaran akidah akhlak bagi peserta didik Generasi Z telah memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika PAI di era digital (Ummah, 2. Peranan Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Self Control Peserta Didik juga menjadi fokus kajian yang relevan dengan tema penelitian ini. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan systematic literature review yang mengintegrasikan secara holistik aspek self-control dan akhlak dalam konteks PAI di era digital, dengan menganalisis berbagai dimensi mulai dari teoretis hingga praktis implementatif, sehingga menghasilkan sintesis komprehensif yang dapat menjadi rujukan pengembangan model pembelajaran PAI kontemporer di SD/MI. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengadopsi pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) untuk memastikan transparansi dan kualitas proses review yang dilakukan. Metode SLR dipilih sebagai pendekatan metodologis yang tepat untuk menganalisis secara komprehensif berbagai literatur ilmiah terkait peran Pendidikan Agama Islam dalam membentuk self-control dan akhlak siswa pada era digital. Pendekatan PRISMA memberikan kerangka kerja yang sistematis dan terstruktur dalam melakukan identifikasi, seleksi, dan evaluasi literatur yang relevan dengan topik Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. Protokol PRISMA memungkinkan peneliti untuk melakukan review literatur dengan standar metodologis yang tinggi, sehingga hasil yang diperoleh memiliki validitas dan reliabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Riski Amalia Nastiti, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN HASIL Proses identifikasi dan seleksi literatur dilakukan melalui tahapan sistematis menggunakan protokol PRISMA untuk memastikan kualitas dan relevansi sumber yang dianalisis. Penelusuran dilakukan pada berbagai basis data akademik dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi yang Identification telah ditetapkan, menghasilkan 10 artikel relevan yang memenuhi standar kualitas penelitian. Jurnal yang diidentifikasi dari Basis data . = . Catatan duplikat yang dihapus . = 102 ) Jurnal yang disaring Jurnal dikecualikan Screening . =207 ) . = 95 ) Jurnal yang dicari untuk Jurnal yang tidak diambil . = 56 ) Jurnal dikecualikan: Jurnal yang dinilai Alasan 1 . = 18 ) . = 56 ) Included Jurnal dihapus sebelum Alasan 2 . = . Jurnal yang termasuk dalam . = 10 ) Jurnal dari studi yang . = 10 ) Gambar 1. Flowchart Prisma Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. Tabel 1. Sintesis Literatur No Penulis Fokus Penelitian Metode Temuan Utama Strategi Literature Media sosial efektif untuk (Tahu. (Ananda, 2. (Makmun pembelajaran PAI Review penyampaian nilai Islam di SD/MI & Pendidikan akhlak Kualitatif Mubin, 2. vs teknologi Akhlak sebagai benteng dampak negatif teknologi di SD/MI (Bingaman. Agama di era digital Digital Theology Digitalisasi spiritualitas generasi muda di SD/MI (Elsi Fitrianis et Pendidikan karakter Kualitatif Integrasi , 2. meningkatkan efektivitas PAI digital PAI di SD/MI (Kulsum & Karakter Muhid, 2. melalui Library PAI digital Research PAI fundamental dalam digital di SD/MI (Mahbubatul Peran guru PAI era SLR Guru PAI sebagai teladan Khoiriyah, dan fasilitator digital di (Pitri SD/MI . Pengembangan Fenomenologi karakter siswa Teknologi tantangan dan peluang PAI di SD/MI (Sanusi, 2. Transformasi Literature Era digital bawa inovasi pendidikan Islam Review Islam di SD/MI (Sari & Amini. Integrasi IT dalam Kualitatif Teknologi pendidikan agama Deskriptif agama di SD/MI (Zain & Penguatan Mustain, 2. spiritual-moral nilai Studi Pustaka Kolaborasi Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. pembentukan karakter di SD/MI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Transformasi Pembelajaran PAI dalam Menghadapi Tantangan Digitalisasi di SD/MI Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan paradigmatik dalam implementasi Pendidikan Agama Islam di tingkat di SD/MI, dimana pendidik dituntut untuk mengadaptasi metodologi pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan generasi digital native. (Ananda, 2. mengemukakan bahwa pemanfaatan platform media sosial seperti Instagram. YouTube, dan WhatsApp dapat menjadi sarana efektif dalam menyebarkan nilai-nilai Islam secara kreatif dan kontekstual, sementara sistem e-learning seperti Google Classroom memfasilitasi pembelajaran yang fleksibel dan terstruktur. Transformasi ini sejalan dengan temuan (Sanusi, 2. yang menekankan bahwa era digital memberikan peluang signifikan untuk inovasi dalam metode pengajaran yang dapat memperkuat pemahaman dan praktik ajaran Islam di kalangan generasi (Sari & Amini, 2. memperkuat argumen ini dengan menunjukkan bahwa integrasi teknologi informasi dalam pendidikan agama memiliki dampak positif terhadap pengembangan wawasan siswa dan peningkatan motivasi belajar. Namun demikian, (Pitri et al. , 2. menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik yang menggabungkan integrasi teknologi dengan pendidikan moral untuk memastikan efektivitas implementasi PAI di SD/MI dalam membentuk karakter siswa sesuai nilai-nilai Islam, mengingat teknologi dapat menjadi distraksi sekaligus peluang dalam proses pembelajaran. Dalam menghadapi generasi yang lebih terpapar oleh teknologi digital, penggunaan platform digital seperti Instagram. YouTube, dan WhatsApp untuk pembelajaran PAI bisa menjadi cara yang sangat relevan dan efektif. Misalnya, melalui Instagram dan YouTube, pendidik dapat membuat konten visual dan video pendek yang mengajarkan nilai-nilai Islam seperti kisah-kisah para nabi, ajaran akhlak, atau pembelajaran Al-Qur'an yang lebih menarik dan mudah diakses oleh siswa. Video yang menyajikan materi PAI secara menarik dan kreatif dapat mempermudah pemahaman siswa karena sesuai dengan kebiasaan mereka yang terbiasa mengonsumsi konten berbasis visual. Selain itu, platform ini juga memungkinkan siswa untuk berdiskusi dan berbagi pendapat dalam forum yang lebih terbuka dan interaktif. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. Selain itu, pemanfaatan Google Classroom untuk penyampaian materi, penugasan, serta evaluasi juga memungkinkan proses pembelajaran yang lebih terstruktur. Pembelajaran berbasis teknologi ini memberikan kebebasan lebih bagi siswa untuk mengakses materi kapan saja, yang sangat cocok untuk siswa yang memiliki keterbatasan waktu atau preferensi untuk belajar secara Namun, seperti yang dikemukakan oleh (Pitri et al. , 2. , penggunaan teknologi dalam pembelajaran PAI di SD/MI juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan bahwa teknologi digunakan dengan bijaksana dan tidak menjadi Siswa yang lebih tertarik dengan hiburan digital, seperti media sosial dan video streaming, dapat merasa sulit untuk fokus pada materi pembelajaran PAI. Oleh karena itu, pendidik perlu menemukan cara untuk membuat materi pembelajaran lebih menarik dan relevan dengan dunia digital yang mereka kenal, seperti melalui gamifikasi, video interaktif, atau materi yang memadukan Kunci keberhasilan dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran PAI adalah pada peran aktif guru. Pendekatan yang holistik, yang menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan pendidikan karakter dan moral, menjadi hal yang sangat penting. Guru PAI harus mampu memilih dan menggunakan berbagai alat digital yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan penggunaan platform digital untuk menyampaikan materi, tetapi juga bagaimana mengarahkan siswa untuk menggunakan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab, sehingga mereka bisa mendapatkan manfaat maksimal dari pembelajaran digital tanpa terganggu oleh distraksi. Dalam hal ini, guru PAI juga harus dilatih dan diberdayakan agar memiliki keterampilan dalam menggunakan teknologi secara efektif dalam mengajar. Pembekalan kepada guru mengenai cara memanfaatkan teknologi dengan baik akan mendukung pencapaian tujuan pembelajaran dan mengurangi potensi gangguan dalam pembelajaran. Dengan kompetensi digital yang baik, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang mengarahkan siswa untuk menggunakan teknologi dengan bijaksana sesuai dengan nilai-nilai agama. Selain itu, meskipun teknologi menyediakan banyak kemudahan, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan penyebaran konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, penting untuk memberikan bimbingan yang jelas kepada siswa mengenai etika penggunaan teknologi, baik dalam hal pembelajaran maupun dalam berinteraksi di dunia maya. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. Peran Strategis Pendidikan Akhlak dalam Membentengi Dampak Negatif Era Digital di SD/MI Pendidikan akhlak menempati posisi sentral sebagai mekanisme pertahanan terhadap berbagai tantangan moral yang muncul akibat kemajuan teknologi informasi di era kontemporer. (Makmun & Mubin, 2. menegaskan bahwa pendidikan akhlak berfungsi sebagai fondasi dalam membentuk karakter generasi digital yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab, terutama dalam menghadapi fenomena kecanduan gadget, penyebaran informasi palsu, cyberbullying, dan degradasi moral yang marak terjadi. (Zain & Mustain, 2. menambahkan bahwa penguatan nilai-nilai spiritual dan moralitas melalui PAI di SD/MI dapat melindungi individu dari pengaruh negatif digitalisasi dengan memberikan landasan moral yang kokoh dan mengajarkan etika digital kepada siswa. (Kulsum & Muhid, 2. memperkuat perspektif ini dengan menjelaskan bahwa implementasi akhlak dalam PAI melalui pengajaran, keteladanan, pembiasaan, dan sistem reward-punishment terbukti efektif dalam membina karakter siswa di tengah revolusi digital. (Elsi Fitrianis et al. , 2. menambahkan bahwa pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai moral seperti kesabaran, integritas, dan empati dengan konteks teknologi modern dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan membantu siswa menghadapi kompleksitas tantangan moral dalam kehidupan digital mereka. Selain itu, pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan akhlak di SD/MI sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang positif dan melindungi siswa dari dampak buruk dunia digital. Peran orang tua dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai akhlak melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari akan memperkuat internalisasi nilai-nilai moral yang telah diajarkan di sekolah, sehingga siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Optimalisasi Peran Guru PAI sebagai Agen Transformasi Karakter Digital di SD/MI Guru Pendidikan Agama Islam memiliki tanggung jawab strategis sebagai agen perubahan dalam membentuk karakter siswa yang mampu beradaptasi dengan dinamika era digital tanpa kehilangan identitas spiritual dan moral. (Bingaman, 2. menegaskan bahwa guru PAI di SD/MI tidak hanya berperan sebagai transmitter pengetahuan, melainkan sebagai teladan yang patut dicontoh siswa dalam berperilaku baik di dunia nyata maupun virtual, sekaligus menjadi fasilitator digital yang mampu memberikan metode dan pendekatan inovatif dalam membangun akhlak mulia (Bingaman, 2. mengemukakan bahwa tantangan disafiliasi religius di kalangan generasi Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. muda yang terkait dengan digitalisasi masyarakat memerlukan respons proaktif dari pemimpin agama dan komunitas faith-based dalam mengembangkan strategi yang relevan. (Bingaman, 2. memperkuat argumen ini dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, keluarga, dan komunitas dalam memastikan implementasi PAI yang efektif di era digital. (Zain & Mustain, 2. menambahkan bahwa tanggung jawab penguatan nilai-nilai spiritual dan etika tidak hanya terletak pada institusi sekolah, tetapi memerlukan sinergi dari seluruh stakeholder termasuk orang tua dan Transformasi peran guru PAI di SD/MI ini menuntut pengembangan kompetensi digital yang seimbang dengan kemampuan mentoring spiritual untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan transformatif bagi siswa dalam menghadapi kompleksitas modernisasi. Selain itu, dalam konteks ini, penting untuk menyadari bahwa guru PAI di SD/MI tidak hanya mengajarkan siswa untuk memahami ajaran agama secara teoritis, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan untuk mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam interaksi mereka di dunia maya yang penuh tantangan. Guru yang kompeten dalam mengelola pembelajaran digital dan mampu menanamkan prinsip-prinsip moral yang kuat akan membantu siswa untuk menavigasi dunia digital dengan penuh tanggung jawab dan menjaga integritas moral mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru PAI di SD/MI juga perlu berperan dalam menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif dan berbasis teknologi yang mendukung perkembangan karakter siswa secara holistik. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan modul-modul pembelajaran digital yang tidak hanya mengedepankan materi ajaran agama, tetapi juga memuat nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan konteks digital. Misalnya, pembuatan video pembelajaran atau aplikasi yang mengajarkan etika berinteraksi di dunia maya, serta menyosialisasikan konsep akhlak yang baik dalam dunia digital. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar bagaimana menerapkan prinsip agama dalam kehidupan offline, tetapi juga dapat memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan digital mereka, seperti dalam berkomunikasi secara sopan, menghindari penyebaran hoaks, dan mengatasi perilaku negatif seperti Guru PAI di SD/MI juga harus memanfaatkan platform-platform digital untuk memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua, agar tercipta kolaborasi yang lebih erat dalam pembinaan karakter siswa. Hal ini sangat penting mengingat bahwa tantangan dalam era digital sering kali datang tidak hanya dari sekolah, tetapi juga dari lingkungan sosial dan dunia maya yang dapat mempengaruhi perilaku siswa. Melalui penggunaan teknologi, guru dapat menyediakan sarana Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. untuk diskusi interaktif, memberikan feedback secara real-time, dan melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran, baik melalui media sosial atau aplikasi komunikasi lainnya. Dengan cara ini, pendidikan akhlak akan menjadi lebih aplikatif dan terkoneksi dengan kehidupan sehari-hari siswa, baik di dunia nyata maupun dunia maya, yang pada akhirnya membantu membentuk generasi yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai moral yang kokoh. SIMPULAN Berdasarkan analisis komprehensif terhadap sepuluh studi yang ditelaah, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam di SD/MI memainkan peran fundamental dalam membentuk kemampuan pengendalian diri dan akhlak mulia siswa di tengah dinamika era digitalisasi. Transformasi metodologi pembelajaran PAI melalui integrasi teknologi digital terbukti mampu meningkatkan efektivitas internalisasi nilai-nilai Islam, sekaligus memberikan respons adaptif terhadap karakteristik generasi digital native. Pendidikan akhlak berfungsi sebagai mekanisme protektif yang esensial dalam menghadapi tantangan moral kontemporer, termasuk fenomena kecanduan teknologi, degradasi etika digital, dan disafiliasi religius. Optimalisasi peran guru PAI di SD/MI sebagai fasilitator transformatif memerlukan pengembangan kompetensi pedagogis-digital yang seimbang dengan kemampuan mentoring spiritual. Implementasi strategi holistik yang mengintegrasikan kolaborasi multi-stakeholder antara institusi pendidikan, keluarga, dan komunitas masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam membangun karakter siswa SD/MI yang berkarakter Islami namun adaptif terhadap perkembangan teknologi. Rekomendasi strategis meliputi pengembangan kurikulum PAI berbasis digital literacy, penguatan program pelatihan guru, dan pembentukan ekosistem pendidikan karakter yang responsif terhadap tantangan era digital. DAFTAR RUJUKAN Ananda. Islamic Religious Education Learning Strategies in the Digital Era: Utilization Social Media E-Learning. Educationist Journal, 12. , 55Ae67. http://jurnal. id/index. php/Educationist/article/view/15406 Anissatuzzahro. , & Hairani. the Urgency of Islamic Religious Education in the Formation of Muslim Personality Concepts. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 9. , 120Ae127. https://doi. org/10. 33487/edumaspul. Bingaman. Religion in the Digital Age: An Irreversible Process. 0Ae2. Cahyaningrum. Sarjono. , & Abdullah. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Self Control Pada Siswa Smp Muhammadiyah 6 Surakarta. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. RAUDHAH Proud To Be Professionals, 8. , 741Ae752. Elsi Fitrianis. Sarah Nurul Adha, & Gusmaneli Gusmaneli. Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam di Era Revolusi Digital. Aktivisme: Jurnal Ilmu Pendidikan. Politik Dan Sosial Indonesia, 2. , 135Ae144. https://doi. org/10. 62383/aktivisme. Firmansyah, & Sabarudin. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membangun Karakter Religius Di Era Masyarakat 5. Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09. , 321Ae Ghani Ahmad Haidar, & Hikmah Maulani. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Karakter Siswa di Era Digital. Jurnal IHSAN Jurnal Pendidikan Islam, 3. , 234Ae241. https://doi. org/10. 61104/ihsan. Kasnuri. Peran Guru PAI dalam Membentuk Karakter dan Akhlak Siswa di Era Digital. Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK), 3. , 31Ae36. https://ejournal. com/index. php/jitk Kulsum. , & Muhid. Pendidikan Karakter melalui Pendidikan Agama Islam di Era Revolusi Digital. Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman, 12. , 157Ae170. https://doi. org/10. 33367/ji. Mahbubatul Khoiriyah. Peran Guru PAI dalam Membangun Akhlak Mulia Siswa pada Era Digital. JOIES (Journal Islamic Education Studie. , 9. , 230Ae247. https://doi. org/10. 15642/joies. Makmun. , & Mubin. Pendidikan Akhlak Islam Sebagai Upaya Membentengi Anak Dari Dampak Buruk Teknologi Informasi. , 26Ae32. Masruroh. Mengurangi Overconsumption Konten Brainrot Media Sosial Melalui Pendidikan Tazkiyatun Nafs Guna Membentuk Karakter Religius dan Intelektual pada Siswa Madrasah. Norvia. Surawan. , & Safitri. Pendampingan Remaja Suka Mulya dalam Meningkatkan Self Control di Era Digital. Solidaritas: Jurnal Pengabdian, 2. , 169Ae178. https://doi. org/10. 24090/sjp. Pitri. Somad. , & Firmansyah. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Siswa Era Digital. Tsaqofah, 5. , 3565Ae3578. https://doi. org/10. 58578/tsaqofah. Riski Amalia Nastiti. Strategi Pencegahan Pornografi dan Pornoaksi Berbasis Pendidikan Karakter Islam pada Remaja di Era Digital. Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2. , 131Ae144. https://doi. org/10. 59841/miftahulilmi. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Mujahidah, et. Sanusi. Transforming Islamic Education in the Digital Age: Challenges and Opportunities for the Young Generation. StudentsAo Difficulties at Elementary School in Increasing Literacy Ability, 4. , 1Ae12. Sari. , & Amini. Integration of Information Technology in Religious Education in Schools. International Journal of Social Science and Human Research, 08. , 3229Ae3236. https://doi. org/10. 47191/ijsshr/v8-i5-68 Ummah. Hamalatul QurAoan: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-QurAoan Peran Al-QurAoan sebagai Pengendali Akhlak Santri di Era Digital. Hamalatul QurAoan: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-QurAoan, 4. , 94Ae https://jogoroto. Zain. , & Mustain. Penguatan Nilai-Nilai Spiritual dan Moralitas di Era Digital melalui Pendidikan Agama Islam. , 94Ae103. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025