E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 STRATEGI PENGELOLAAN KONSELING SEKOLAH DALAM PENANAMAN LITERASI KESEHATAN MENTAL PADA SISWA Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 mujadid@gmail. com, bahrulhayat@stit-buntetpesantren. STIT Buntet Pesantren Cirebon Abstract This study is motivated by the increasing mental health problems among adolescents and the need for schools to play an active role in promoting mental health literacy through school counseling services. The purpose of this study is to describe the strategies for managing school counseling in fostering studentsAo mental health literacy. This research employed a qualitative descriptive approach using in-depth interviews, observations, and document analysis involving school counselors, counseling staff, and school administrators. The findings indicate that school counseling management is implemented systematically through stages of commitment, assessment, planning, implementation, and evaluation. The strategies are collaborative, preventive, and data-driven, involving all school stakeholders as well as external partners. The program was found to increase studentsAo awareness of mental health, strengthen psychosocial support systems in schools, and reduce stigma related to mental health issues. Therefore, integrated school counseling management is an effective strategy for fostering sustainable mental health literacy among Keywords: School based mental health, school management, mental health Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permasalahan kesehatan mental pada remaja serta perlunya peran sekolah dalam menanamkan literasi kesehatan mental melalui layanan bimbingan dan konseling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi pengelolaan konseling sekolah dalam penanaman literasi kesehatan mental pada siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap guru BK, personel BK, dan pimpinan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan konseling sekolah dilakukan secara sistematis melalui tahapan komitmen, asesmen, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Strategi yang diterapkan bersifat kolaboratif, preventif, dan berbasis data, dengan melibatkan seluruh elemen sekolah serta mitra eksternal. Program ini terbukti mampu meningkatkan Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 kesadaran siswa terhadap kesehatan mental, memperkuat sistem dukungan psikososial di sekolah, serta menurunkan stigma terhadap masalah kesehatan Dengan demikian, pengelolaan konseling sekolah yang terintegrasi menjadi strategi efektif dalam menanamkan literasi kesehatan mental pada siswa secara berkelanjutan. Kata Kunci: Sekolah Berbasis Kesehatan Mental. Manajemen Sekolah. Literasi Kesehatan Mental Pendahuluan Kesehatan mental remaja menjadi isu global dan nasional yang serius. Menurut Ipsos Global Health Monitor, 44% masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat global adalah masalah kesehatan mental, dan di Indonesia, masalah ini menduduki peringkat utama dengan 38% (IPSOS, 2. Data dari WHO mencatat bahwa secara global, 970 juta orang menderita gangguan kesehatan mental, dan di Wilayah Asia Tenggara, sekitar 260 juta orang hidup dengan kondisi kesehatan mental (WHO. Bahkan di Indonesia. National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) melaporkan bahwa 34,9% remaja rentan usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental, setara dengan 15,5 juta remaja. Selain itu, 5,5% atau satu dari dua puluh remaja di Indonesia memiliki gangguan mental. Masalah kesehatan mental yang sering dijumpai termasuk depresi, kecemasan, stres pasca-trauma (PTSD), dan masalah terkait pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas (ADHD). Kondisi kesehatan mental remaja perlu mendapatkan perhatian serius karena masa remaja adalah masa perkembangan mental yang krusial, di mana individu mulai mencari identitasnya, mengeksplorasi interaksi sosial, dan mengembangkan kemandirian. Masa ini juga menghadirkan perubahan emosional dan psikologis yang signifikan serta tanggung jawab sebagai orang Oleh karena itu, literasi kesehatan mental dan kemampuan pengambilan keputusan yang baik perlu diajarkan kepada remaja (Bryder et al. , 2. Sekolah memiliki peran penting dalam memberikan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental dan pengalaman pembelajaran yang mendukung. Namun, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah sering menghadapi hambatan seperti minimnya pemahaman tentang peran bimbingan, masalah profesionalisme guru BK (Rita et al. , 2. , fasilitas yang kurang memadai, rasio jumlah guru dan siswa yang tinggi, serta kejenuhan guru BK yang memiliki rangkap jabatan (Fitriani et al. , 2. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk mengatasi masalah kesehatan mental remaja tidak hanya pada guru BK, tetapi juga pada seluruh komponen pendidikan di sekolah (Wahyuni & Desinta, 2. Diperlukan manajemen Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 yang sistematis, terarah, dan terintegrasi dalam pendidikan holistik yang tidak hanya mempersiapkan siswa secara akademik, tetapi juga emosional dan sosial. Pendidikan kesehatan mental sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan SDGs (Sustainable Development Goal. yang mencakup lima sasaran penting. Pertama, dalam kategori AuPeople,Ay SDGs menekankan peningkatan kesejahteraan penduduk melalui penghapusan kemiskinan, penanggulangan kelaparan, dan pemberian akses pendidikan berkualitas. Pendidikan kesehatan mental mendukung upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk dengan memberikan pemahaman dan dukungan terhadap aspek kesehatan mental individu (Given et al. , 2023. Kearns et , 2. Kedua, dalam kategori AuPlanet,Ay SDGs menekankan perlindungan lingkungan dan planet. Pendidikan kesehatan mental juga dapat mempromosikan kesadaran terhadap lingkungan dan memberikan wawasan tentang bagaimana kesehatan mental individu terkait dengan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan (Hickel, 2019. Noe et al. , 2022. Qadeer et al. , 2. Ketiga, dalam kategori AuProsperity,Ay SDGs bertujuan mencapai pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan serta mengurangi ketidaksetaraan. Pendidikan kesehatan mental dapat membantu individu mencapai kesejahteraan yang holistik, termasuk aspek ekonomi dan sosial, serta mempromosikan pemerataan kesejahteraan (Lavell et al. , 2023. Liu et al. , 2. Keempat, dalam kategori AuPeace,Ay SDGs menekankan pentingnya perdamaian dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pendidikan kesehatan mental dapat berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih damai dan membantu individu mengatasi konflik serta mendorong perdamaian dalam masyarakat (Anouti et , 2023. Hope, 2023. Kearns et al. , 2. Kelima, dalam kategori AuPartnership,Ay SDGs menyoroti pentingnya kerja sama global untuk mencapai tujuan pembangunan. Pendidikan kesehatan mental dapat menjadi bagian dari upaya kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk negara, organisasi, dan individu, dalam mendukung kesejahteraan mental secara global (Haque et al. , 2020. Horne et al. , 2020. Sukhonos et al. , 2. Dengan demikian, pendidikan kesehatan mental bukan hanya relevan dengan nilai-nilai SDGs, tetapi juga menjadi instrumen yang kuat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh. Istilah literasi kesehatan mental pada dasarnya dikembangkan dari istilah literasi kesehatan, di mana pengembangan literasi kesehatan didasarkan pada hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan memiliki korelasi terhadap rendahnya kesehatan, literasi kesehatan kemudian memberikan perhatian Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 pada kemampuan orang untuk dapat memahami dan memanfaatkan informasi medis secara efektif, terutama untuk lebih memahami dan lebih mematuhi pengobatan (Kutcher et al. , 2016. Spiker, 2. Literasi kesehatan mental atau Mental Helath Literacy (MHL) pada awalnya populer didefinisikan sebagai pengetahuan dan keyakinan tentang gangguan jiwa yang membantu pengenalan, pengelolaan, atau pencegahannya (A. Jorm et al. , 1. Namun dalam perkembangannya para peneliti berpendapat bahwa MHL harus mencakup tidak hanya pada komponen pengetahuan, tetapi juga mencakup sikap, stigma, kesehatan mental yang positif, dan efikasi pencarian bantuan yang terkait dengan pencarian bantuan dan gangguan Kesehatan mental (Spiker, 2. Lebih lanjut A. Jorm . mendefinisikan MHL sebagai pengetahuan tentang cara mencegah gangguan jiwa, mengenali gangguan untuk memfasilitasi pencarian bantuan, pengetahuan tentang bantuan dan perawatan profesional yang tersedia, pengetahuan tentang strategi memberikan pertolongan secara mandiri yang efektif, dan pengetahuan dan keterampilan untuk memberikan pertolongan pertama dan dukungan kesehatan mental kepada orang lain. Berdasarkan definisi tersebut dengan demikian literasi kesehatan mental memiliki beberapa komponen, termasuk di antaranya. pengetahuan tentang cara mencegah mental disorder. mengenali kapan suatu mental disorder berkembang. pengetahuan tentang pilihan-pilihan untuk mencari bantuan dan penanganan yang . pengetahuan tentang strategi pertolongan mandiri yang efektif untuk masalah yang lebih sederhana. keterampilan pertolongan pertama untuk membantu orang lain yang mengalami mental disorder atau sedang mengalami krisis kesehatan mental. Oleh karena itu pelatihan dan pengembangan literasi kesehatan mental dapat dilakukan pada dua tingkat. Tingkat pertama adalah tingkat individu . ndividual person leve. , yang dapat dilakukan melalui kontak secara langsung dan/atau secara khusus ditargetkan pada individu tertentu. Hal ini termasuk, misalnya, program literasi kesehatan mental yang disediakan di sekolah-sekolah untuk tenaga pendidik dan kependidikan dan/atau peserta didik yang telah ditentukan secara Literasi kesehatan mental pada tingkat individu ini memiliki keuntungan di mana peserta dan pelatih dapat berinteraksi secara langsung sehingga informasi dapat diberikan secara lebih terperinci dan dapat melakukan tanya-jawab apabila ada hal yang belum jelas. Namun kekurangan pada tingkat ini adalah informasi yang disampaikan hanya menjangkau pada populasi yang kecil. Tingkat kedua yaitu tingkat kesehatan masyarakat . ublic health leve. , yang lebih luas dan dapat dilakukan melalui kontak tidak langsung . isalnya, melalui televisi dan interne. dan lebih menargetkan masyarakat umum daripada individu tertentu. Hal ini dapat dilakukan melalui sosialisasi atau kampanye kesehatan mental masyarakat (A. Jorm, 2012. Dang, 2. Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Penanaman literasi kesehatan mental merupakan hal yang penting dilakukan di sekolah baik diberikan kepada guru maupun kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental guru memiliki korelasi positif terhadap literasi kesehatan mental siswa. Siswa mengalami peningkatan pengetahuan tentang kesehatan mental, penurunan stigma, dan peningkatan kepercayaan diri untuk memberikan pertolongan kepada siswa dan kolega dibandingkan dengan guru yang tidak mengikuti pelatihan (Miller, 2. Oleh karena itu, guru dengan tingkat literasi kesehatan mental yang tinggi mungkin dapat mengenali masalah kesehatan mental pada siswa secara tepat dan mengarahkan mereka ke perawatan atau pengobatan yang lebih awal dan tepat, serta memiliki kepercayaan diri dalam mengelola masalah kesehatan mental. Secara lebih spesifik, pengetahuan tentang mental disorder dan penanganannya perlu ditingkatkan agar guru dapat mengenali masalah kesehatan mental pada anak muda dengan lebih baik. Guru juga membutuhkan pengetahuan untuk mendukung pencarian bantuan yang tepat bagi kaum muda (Yamaguchi, 2. Dengan demikian, penanaman literasi kesehatan mental pada siswa harus tumbuh dari kesadaran pemangku kebijakan sekolah dan dalam pelaksanaannya perlu melibatkan berbagai elemen sekolah di mana bimbingan konseling menjadi senter pada pelaksanaannya. Oleh sebab itu penelitian ini menjadi penting dilakukan untuk mengetahui strategi pengelolaan penanaman liteasi kesehatan mental kepada Hasil penelitian Rahman et al. , . menunjukkan bahwa tahap perencanaan program bimbingan konseling berjalan dengan baik dengan adanya kegiatan analisis kebutuhan siswa, kondisi dan situasi sekolah, penetapan tujuan yang jelas, serta perencanaan jenis layanan dan waktu kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahap ini juga membutuhkan partisipasi aktif dari guru, wali kelas hingga wakil kepala sekolah. Pada tahap pengorganisasian, perlu adanya keterlibatan pemangku kebijakan dalam kegiatan bimbingan konseling, sosialisasi kegiatan serta adanya partisipasi dari berbagai pihak dalam menjalankan berbagai kegiatan bimbingan konseling. Selanjutnya tahap pelaksanaan memerlukan adanya manajemen waktu yang baik agar pelaksanaan program dapat berjalan secara optimal. Kemudian pada tahap evaluasi memerlukan adanya penetapan standar kerja bagi konselor sehingga pelaksanaan evaluasi berjalan bukan hanya atas dasar kebutuhan laporan saja melainkan dapat dijadikan acuan dalam penetapan perencanaan kegiatan yang Sementara itu, menurut Wahyuni & Desinta, . literasi kesehatan mental dapat dilakukan melalui psikoedukasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 45% siswa memperoleh informasi mengenai kesehatan mental dari media sosial, 40% dari guru dan 15% dari orang tua. Hal ini berarti bahwa media sosial menjadi suatu keuntungan bagi siswa dalam mengakses berbagai sumber informasi mengenai Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 kesehatan mental. Namun di sisi lain, banyaknya sumber informasi yang beredar di sosial media justru menjadikan siswa misinformasi tentang kesehatan mental akibat dari informasi yang mungkin tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu peningkatan literasi kesehatan mental penting dilakukan siswa untuk memberikan modal pengetahuan bagi siswa dalam menghadapi tekanan baik secara akademis, sosial maupun karier. Literasi kesehatan mental juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi siswa agar dapat mengenali beragam indikator kesehatan mental, melepaskan diri dari stigma terhadap orang yang mempunyai gangguan kesehatan mental, serta memiliki sikap dan perilaku yang siap untuk membantu orang yang diduga mengalami gangguan kesehatan mental. Berdasarkan analisis penelitian terdahulu. Novelty penelitian ini terletak pada upaya menelaah konsep literasi kesehatan mental dengan perspektif manajemen pada layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini tidak hanya menelaah literasi kesehatan mental sebagai aspek pengetahuan dan sikap individu, tetapi juga sebagai program institusional yang dikelola melalui fungsi manajemen pendidikan . erencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluas. Selain itu, penelitian ini memberikan perspektif baru tentang literasi kesehatan mental sebagai instrumen strategis untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. di bidang kesehatan dan pendidikan, khususnya dalam konteks pendidikan di Indonesia yang memiliki karakteristik sosial-religius khas Metode Penelitian ini memiliki jenis penelitian yang tergolong deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami dan menggambarkan strategi pengelolaan konseling sekolah dalam penanaman literasi pendidikan mental health pada siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki latar belakang sebagai Guru BK (Bimbingan dan Konselin. dan Personil BK. Informan ini dipilih karena memiliki pengetahuan dan pengalaman yang relevan dalam pengelolaan konseling sekolah dan literasi pendidikan mental Untuk mengumpulkan data, penelitian menggunakan berbagai teknik, seperti wawancara struktural dengan informan untuk mendapatkan wawasan dan pandangan mereka tentang strategi yang digunakan dalam penanaman literasi pendidikan mental Selain itu, observasi juga dilakukan untuk mengamati praktik pengelolaan konseling sekolah secara langsung. Setelah data terkumpul, analisis data dilakukan melalui beberapa langkah, termasuk reduksi data untuk mengidentifikasi informasi penting, dokumentasi data untuk merinci hasil wawancara dan observasi, serta verifikasi data untuk memastikan Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 keakuratan dan keabsahan informasi yang diperoleh. Dengan pendekatan kualitatif dan berbagai teknik ini, penelitian bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang strategi pengelolaan konseling sekolah dalam penanaman literasi pendidikan mental health pada siswa. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini mengungkapkan sejumlah temuan utama berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan Wakil Kepala Kurikulum, guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan analsis dokumen. SMAN 1 Sleman menjalin kerja sama strategis dengan Yayasan Rukun Nurani Lembaga Advokasi Keluarga Indonesa (LAKI) dalam jangka waktu tiga tahun sebagai upaya untuk membangun dan mendukung sistem kesehatan mental bagi seluruh anggota yang berada di lingkungan sekolah termasuk upaya peningkatan literasi kesehatan mental. Dalam hal ini, kedua lembaga tersebut berperan sebagai penyedia layanan program sekolah berbasis kesehatan mental. Program tersebut dilaksanakan melalui lima tahapan berdasarkan pada siklus Community Change Process. Tahapan pertama adalah komitmen, yaitu membangun kesepahaman dan tekad bersama seluruh pihak di sekolah untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Tahap ini dilaksanakan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara pihak sekolah dengan pihak mitra penyedia layanan program. Selanjutnya, tahap asesmen dilakukan untuk memetakan kondisi, kebutuhan, serta potensi yang dimiliki oleh warga sekolah terkait kesehatan mental. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, tahap perencanaan disusun dengan menetapkan strategi dan langkah-langkah konkret yang akan Tahap berikutnya adalah implementasi, yakni pelaksanaan berbagai program dan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan guna memperkuat sistem dukungan kesehatan mental di sekolah. Akhirnya, tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas program, mengidentifikasi keberhasilan maupun kendala, serta menjadi dasar bagi perbaikan dan pengembangan siklus berikutnya secara berkelanjutan. Tahap asesmen dimulai dengan observasi dan wawancara kepada seluruh warga sekolah. Selanjutnya asesmen dilakukan dengan pengisian kuesioner psikologis kepada siswa, guru, dan orang tua yang dilaksanakan melalui Google Form. Kuesioner tersebut disusun oleh tim peneliti program dengan menggunakan beberapa skala psikologis yang diharapkan mampu menggambarkan kondisi responden serta pertanyaan terbuka terkait dengan kondisi psikologis responden. Selain itu focus grup discussion (FGD) juga dilaksanakan sebagai proses pendalaman data dengan perwakilan siswa, guru, dan orang tua. Hal ini bertujuan untuk menggali dinamika kondisi siswa, guru, dan orang tua serta mencari kemungkinan bentuk intervensi untuk menciptakan sistem kesehatan mental berbasis sekolah. Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Tahap selanjutnya yaitu sosialisasi. Sosialisasi dilakukan melalui pembangunan sistem promosi, program ini berfokus pada peningkatan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental di sekolah. Upaya ini dilakukan dengan mengurangi marginalisasi terhadap isu kesehatan mental serta menyalurkan pendidikan umum tentang kesehatan mental kepada warga sekolah. Tindak lanjut dari sosialisasi dilakukan dengan melaksanakan pembangunan sistem intervensi dini untuk memastikan adanya dukungan yang cepat dan tepat bagi individu yang membutuhkan. Langkah-langkah yang ditempuh meliputi penyediaan layanan konseling antar teman sebaya, penyelenggaraan seminar bagi orang tua . arenting sessio. , serta peningkatan pemahaman guru agar mampu melakukan deteksi dini terhadap masalah kesehatan mental siswa dan memahami alur layanan kesehatan mental yang tersedia. Selain itu, program ini juga mengembangkan jejaring kerja sama dengan berbagai mitra untuk memperkuat sistem pendukung kesehatan mental di sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi pengelolaan konseling di SMAN 1 Sleman bersifat kolaboratif, preventif, dan berbasis data. Keterlibatan seluruh elemen sekolah menunjukkan pendekatan yang holistik dalam literasi kesehatan mental. Kolaborasi antara guru BK, psikolog eksternal, serta dukungan dari yayasan sosial seperti LAKI mencerminkan prinsip multi-disciplinary team dalam pendekatan layanan kesehatan mental di sekolah (Lai et al. , 2. Pendekatan ini sejalan dengan konsep Whole School Approach, yang menekankan pentingnya keterlibatan semua komponen sekolah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental siswa Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pengelolaan konseling sekolah dalam penanaman literasi kesehatan mental pada siswa harus dilaksanakan secara sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan melalui fungsi manajemen pendidikan, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Di SMAN 1 Sleman, pengelolaan literasi kesehatan mental terbukti efektif ketika melibatkan seluruh unsur sekolah, mitra eksternal, serta menggunakan pendekatan berbasis data melalui asesmen kebutuhan psikologis warga sekolah. Program yang dijalankan menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental tidak hanya dipahami sebagai peningkatan pengetahuan individu, tetapi juga sebagai program institusional yang terintegrasi dalam budaya sekolah. Pendekatan yang bersifat preventif, promotif, dan responsif, melalui psikoedukasi, intervensi dini, serta penguatan jejaring layanan, mampu menciptakan sistem dukungan kesehatan mental yang holistik. Strategi Pengelolaan Konseling Sekolah Dalam Penanaman Literasi Kesehatan Mental Pada Siswa Muhamad Mujadid1. Ahmad Bahrul Hayat2 Tanzhimuna Vol 3. No 2 Desember 2023 E-ISSN : 2807 - 968X P-ISSN : 2808 - 0793 Dengan demikian, pengelolaan konseling sekolah yang terencana dan kolaboratif berperan strategis dalam menumbuhkan literasi kesehatan mental siswa, menurunkan stigma, meningkatkan kesadaran, serta mendukung pencapaian tujuan pendidikan yang sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDG. , khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Daftar Pustaka