KURIKULUM PENDIDIKAN TINGGI ISLAM DI ERA KOMPETISI Hasbi lndra Email. hasbiindra58@gmail. Dosen FAI dan Pascasarjana Univ. Ibn Khaldun Bogor ABSTRACT Islamic higher of Education are born in colonialism era at 1940, set by community of Islamic teacher at West Sumatera. The first after colonialism of Dutch and Japan and proclamation of Indonesia by Soekarno-Hatta its are established by Hatta and Natsir the Islamic higher of education at Jakarta in wich named ADIA, and also the following years in Yogyakarta established PTAIN. And 1960 ADIA and PTAIN are both merger and be named IAIN as centres of institution in Jakarta and Yogyakarta. The Instituions until now still exist and in globalization era and are face crusial challenges ahead. Its era are development of science and technology (IPTEK), such as in fields of medicine and others and to has great benefits for humanity, for their needs. But, also there are the side negative its makes people becoming trapped in the "doomsday", like ozone problem, water contaminated by industrial Its was marked by characterized that competation among the resoucres of humans of nations. Thats condition are face for Islamic higher of education as need a respon. With the effect those problems alumni of Islamic higher of education must to readiness with deep-knowledge, profesional and have skill and have soul entrepreneurship. For that Islamic higher of education need review visions and curriculum are face for that the fenomenon. Curriculum a part of pillar urgent for made generation in the furure from the higher of Islamic education. The curriculum are based of esensial of humans have thinks, bodies and spiritual all wholly potentials of humans with brains, emotion and pshicomotor, so the teacher take learned with that approach its. Keynotes: Islamic Higher of Education, competation, and curriculum. PENDAHULUAN Sejak dahulu manusia memiliki tabiat untuk berkompetisi seperti yang digambarkan oleh Habil dan Qabil dalam kehidupan manusia awal. Pada masa itu manusia masih sedikit, belum ada lembaga pendidikan untuk merespon hal itu. Sistem pendidikan mulai muncul di zaman Yunani, sementara itu pendidikan Islam substansinya telah mulai sejak nabi Muhammad, ketika ia menyampaikan ayat pertama al-Quran surat al-AoAlaq di rumah alArqam. Tetapi pendidikan tinggi Islam lahir baru abad-abad kemudian. Tradisi pendidikan tinggi Islam sampai ke Nusantara setelah melalui sejarah yang panjang sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa waktu setelah kemerdekaan telah diproklamirkan oleh tokoh nasional Soekarno-Hatta, menyadari bahwa perlunya pendidikan tinggi untuk mencetak kaum intelektual atau cendikiawan guna mengisi berbagai bidang kehidupan. Maka didirikan pendidikan tinggi nasional yang bernama Uniersitas Gajah Mada dan pendidikan tinggi Islam yang disebut dengan Perguruan Tinggi Agama Islam negeri (PTAIN). Embrionya pendidikan tinggi Islam telah ada tahun 1940 yang bernama Sekolah Tinggi Islam (STI). kemudian tahun 1945 Moh. Hatta. Mohammad Natsir mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta, lembaga ini dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946 mengikuti berpindahnya pusat pemerintah RI. Di Jakarta didirikan pula Akademi Dinas Ilmu Agama berdasarkan penetapan Menteri Agama No, 1 Tahun 1957. Kemudian berdiri Pergutuan Tinggi Agama Islam (PTAIN) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun Lalu, diterbitkanlah Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 yang menggabungkan PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1960, menjadi Institut Agama Islam Negeri dengan nama al-Jami 'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah yang berkedudukan di Yogyakarta dan Jakarta. 1 Berdiri pula PTAIS beberapa PTAIS di berbagai tempat. Lalu IAIN sekarang ini berkembang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Era awal berdirinya lembaga pendidikan ini perkembangan ilmu dan teknologi belum pesat seperti sekarang ini. Dekade ini baru dapat dikatakan sebagai era perkembangan pesat ilmu dan teknologi yang disebut juga sebagai era globalisasi. Pendidikan tinggi Islam dalam perjalannya telah menjalani berbagai era telah merespon zamannya dengan kurikulum yang telah dirumuskan oleh pemerintahan atau oleh departemen agama atau kementerian agama. bila era-era sebelum ini manusia hidup berada dalam keadaan terbatas tetapi era itu sudah berakhir dan mencul era keterbukaan yang disebut dengan era kompetisi saat ini. Era ini Husni Rahim. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2. , 413. ditandai oleh menonjolnya sumber daya manusia yang berkualitas dengan penguasaan ilmu dan teknologi memiliki skill dan berjiwa entepreneurship. Hanya saja untuk menghadapi hal itu pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan tinggi Islam menurut Azyumardi Azra belum memberikan kontribusi yang maksimal bagi bangsa ini. 2 Apalagi pendidikan tinggi Islam di era ini telah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional menjadi ukuran dari seberapa jauh kualitas dari lembaga pendidikan ini. Dalam riset tentang indeks kualitas pendidikan antar negara dalam urutannya dibandingkan dengan pendidikan antara negara, pendidikan nasional berada di bawah negara-negara Asian, pendidikan tinggi Islam yang menjadi bagian itu posisinya tentu berada di peringkat bawah. Berikut ini dapat dijadikan renungan, posisi Indonesia menduduki posisi terbawah dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yakni. Korea Selatan 3. 09, singapura, 319, jepang, 350. Taiwan 3. 96, india 4. Malaysia 4. 41, hongkong 4. 72, philipinna, 5. Thailand 5. Vietnam 6. 21 dan Indonesia 6. 3 Urutan ini memperlihatkan lemahnya daya saing SDM Indonesia dibandingkan dengan negara Asia lainnya. Untuk itu Pendidikan tinggi Islam harus segera melakukan pembenahan terutama dalam kaitan dengan paradigma pendidikan dan kurikulumnya. Pendidikan tinggi Islam saat ini berada di tengah kompetisi antar negara. Pendidikan ini dipandu oleh doktrin agama Islam melalui al-Quran dan al-hadits yang isinya secara komprehensif mendorong agar Muslim hadir di tengah manusia dengan kualitasnya. Menghadirkan kualitas Muslim bagi institusi ini merupakan tuntutan dari firman Allah bahwa AuMuslim hendaklah menjadi umat yang terbaik yang memanggil kepada kebaikan dan mencegah kemungkaranAy (QS. ali-Imran, . , peran ini tentu saja mensyaratkan Muslim yang kualitas. Mimpi besar ini menjadi cita-cita yang terus menerus diperjuangkan, hal yang ironis dan kontradiktif apabila Muslim tidak meraih hal itu. Kurikulum salah satu pilar penting dari sistem pendidikan apapun jenisnya dan levelnya yang akan mengarahkan pendidikan untuk merespon masa depan bangsa di tengah bangsa-bangsa yang berkompetisi saat ini, di tengah dinamika yang demikian cepat bidang ilmu dan teknologi, dan lainnya. Perubahan-perubahan yang terjadi sering menjadi problema dalam kehidupan manusia yang Azyumardi Azra, dalam Kata Pengantar buku Armai Arif. Reformulasi Pendidikam Islam, (Jakarta: CRSD Press, 2. , xi Muhammad Thoyib. AuInternasionalisasi PendidikanAy, dalam Hasil ACIS. Kemenag, 21-24 Nopember 2007. Muhaemin. AuTantangan dan Peluang PTAI, dalam Hasil ACIS. Kemenag RI, 21-24 Nopember 2007, 147 sudah harus diprediksi oleh pendidikan tinggi Islam agar lulusannya dapat memberikan Perkembangan Pendidikan Tinggi Islam Pendidikan Tinggi Islam tahun 1940 yang bernama Sekolah Tinggi Islam (STI) oleh Persatuan Guru Agama Islam di Padang, istitusi ini tidak lama kemudian bubar. Kemudian sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 atas prakarsa tokoh-tokoh Islam yang diketuai oleh Moh. Hatta dan sekretarisnya Mohammad Natsir didirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dengan pimpinan Prof. Kahar Muzakkir, kemudian (STI) lembaga ini dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946 mengikuti berpindahnya pusat pemerintah RI. Di Jakarta didirikan pula Akademi Dinas Ilmu Agama berdasarkan penetapan Menteri Agama No, 1 Tahun 1957. Kemudian didirikan pula Pergutuan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang diambil dari fakultas agama Universitas Islam Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1950. Demikian luas cakupan ilmu agama Islam yang meliputi berbagai aspek dan semakin mejemuknya pola pengembangan kehidupan sosial, maka pengembangan ilmu agama Islam semakin kehilangan geraknya bila hanya dilokalisir dalam satu fakultas. Maka, diterbitkanlah Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 yang menggabungkan PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta pada tanggal 9 Mei 1960, menjadi Institut Agama Islam Negeri dengan nama al-Jami 'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah yang berkedudukan di Yogyakarta dan Jakarta. 5 Berdiri pula PTAIS yang banyak didirikan oleh swasta untuk mewadahi para pelajar muslim yang sudah menyelesaikan di pendidikan diniyah dan pesantren. Pendidikan tinggi Islam ini pada awal berdirinya menyandang misi utama ahli agama yang berwawasan luas dan mampu menjadi panutan masyarakat. 6 Pendidikan tinggi Islam diharapkan menjadi pusat pengembangan dan pendalaman agama Islam. Lembaga ini diharapkan memproduks sarjana Muslim yang mempunyai keahlian dalam ilmu agama Islam, berakhlak mulia, cakap dan bertangungjawab atas kesejahteraan umat serta masa depan bangsa Indonesia. 7 Sebagai lembaga pendidikan tinggi agama Islam harapan umat terhadap lembaga tersebut dapat memproduksi ahli agama ('ulam. di samping juga harapan pemerintah untuk mengisi birokrasi pemerintahan di Departemen Agama. Pendidikan Tinggi Islam ini berkembang ke seluruh Indonesia. Khusus bagi IAIN dalam perkembangannya ada pula yang nomenklaturnya menggunakan Sekolah tinggi agama Islam negeri (STAIN). Husni Rahim. Arah Baru. , 413 Arief Furchan. Transpormasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Gama Media, 2. , 121 Ditjen Binbagais. IAIN tahun 1976-1980, (Jakarta: Ditjen Binbagais, 1. , 3 Saat IAIN mempersiapkan generasi mudah Muslim memasuki dunia yang lebih luas maka beberapa IAIN/STAIN berubah menjadi Universitas Islam negeri (UIN). 8 Sementara itu sebelum muncul UIN telah berdiri beberapa Universitas Islam di beberapa provinsi di Indonesia baik yang berada di bawah organisasi keagamaan maupun di bawah Yayasan mandiri. 9 Juga ada yang secara khusus menyiapkan para penghafal Al-Quran pada pendidikan tinggi Islam seperti PTIQ/IIQ di Jakarta agar semakin kuat fondasi bangsa ini dalam menghadapi Sebagaimana juga Universitas Islam di berbagai belahan dunia dengan fakultasfakultas yang ada harus memperhatikan bidang riset sebagai tugas pendidikan tinggi. Bila tidak sulit akan memaksimalkan perannya di tengah dunia keilmuan. Penelitian di laboratorium harus dipandang kerja ibadah, apalagi tabir ayat-ayat kauniyat yang terbentang luas masih belum banyak diungkap, inilah tugas penting pendidikan tinggi Islam untuk Produk Universitas Islam juga harus bersaing dalam mengisi berbagai kebutuhan masyarakat di semua bidang kehidupan. Lulusannya tidak cukup hanya berorientasi menjadi pegawai pemerintah karena hanya kecil persentase yang bisa menyerap mereka. Mereka harus menyiapkan diri di bidang swasta seperti pemberdayaan masyarakat, wartawan, penulis di koran dan majalah, peneliti dan lainnya. Berdasarkan tujuan pendidikan tinggi Islam sebagaimana diatur dalam PP 60 tahun 1999 dan Misi Departemen Agama . aat ini Kementrian Agam. maka tujuan pendidikan tinggi agama Islam. Pertama, menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemauan akademik atau profesional yang dapat menerapkan pegembangan dan memperkaya khazanah ilmu, teknologi seni dan kebudayaan yang bernafaskan Islam. Kedua, mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni bernafaskan Islam Islam mempercayakan kebudayaan nasional. Ketiga, merumuskan, menyebarluaskan dan mendidikkan filosofi dan nilai-nilai agama Islam sehingga dapat digunakan oleh masyarakat sebagai parameter perilaku kehidupan menjadi inspirator dan katalisator pembangunan serta Azyumardi. Azra. Upaya IAIN Menjawab Tantangan ZamanAy. Perta. Jakarta. Depag. Vol. IV/No. 01, 2001, 75 Marwan Saridjo. Pendidikan Islam dari Masa ke Masa, (Jakarta: Penamadani, 2. , 213. Hasbi Indra. AuDosen IAIN dan STAIN dan Tantangan ke DepanAy. Ikhlas. Majalah Depag. No. 21 th. Maret 2002, 35 motivator terciptanya toleransi kehidupan beragama serta kehidupan yang harmonis antar umat yang berbeda agama. Pendidikan tinggi Islam di era ini harus dipandang tidak hanya sebagai lembaga pendidikan melainkan sekaligus sebagai lembaga pengembangan IPTEK. Dalam kaitan ini pengembangan networking dengan lembaga-lembaga riset baik milik pemerintah maupun swasta di dalam maupun diluar negeri di pusat maunpun di daerah mutlak diperlukan. Pengembangan jaringan perlu diikuti oleh pengembangan akses yang menyeluruh dan saling bersinergi terhadap sumber daya riset terutama yang didukung oleh sektor publik. Untuk itu pendidikan tinggi Islam ke depan harus membenahi diri untuk menjadi lembaga pendidikan yang diharapkan mampu berdaya daya saing menyiapkan tenaga kerja Indonesia sehingga menjadi lebih kompetitif dan produktif di level internasional. Pendidikan Tinggi Islam dan Tantangannya Pendidikan tinggi Islam berada di tengah dinamika zaman, zaman di tahun 40-an perkembangan ilmu dan teknologi belum demikian dahsyat seperti sekarang ini. Komunikasi sudah terhubungkan melalui alat teknologi melalui telpon yang menggunakan kabel, belum dimiliki banyak orang, kini komunikasi melalui hand pone yang sudah massal dimiliki hampir setip orang. Orang dengan mudah mendapatkan informasi dalam hitungan detik apa terjadi di benua lain. 12 Informasi ada yang menyedihkan seperti dampak perang di Timur Tengah, ada pula yang menyenangkan seperti menyaksikan pertandingan bola di Spanyol. Inggeris atau di Italia, saat ini apa yang disebut dengan era globalisasi. Di era globalisasi ini orang mendapatkan berbagai nilai kehidupan yang absurd. Nilai kehidupan yang semakin berkembang yang diteorikan oleh Karel Marx tentang ketiadaan Tuhan. Karel Marx sebenarnya ilmuan yang biasa saja. Dia berteori tentang keadilan kaum proletar yang diperlakukan secara tidak adil oleh kaum berjuis. Karel Marx mengkonter teori yang dibuat oleh Weber yang memandang hidup dengan keutamaan materialisme. 13 Pertarungan teori ini berlangsung terus hingga hari ini dan terkadang meruncing menimbulkan perang antar Teori yang semula hanya bepasal minta keadilan kepada Weber tetapi karena teori ini didukung oleh tokoh agama pada waktu ini disebut dengan pendeta, teori ini menimbulkan implikasi teologis dalam pandangan orang yang tidak beragama yakni agama itu candu dan Tuhan itu sudah mati. Muhaemin. AuTantangan dan Peluang PTAIAy, dalam Hasil Acis. Kemenag RI, 21-24 Nopember 2007, 146. Hasbi Indra. Pendidikan Islam. Peluang dan Tantangan di Era Globalisasi (Yogyakarta: Deepublish, 2. Lihat Ahmad Sastra. Filosofi Pendidikan Islam, (Bogor. Darul Muttaqin Press, 2. , 376 Dua teori ni berkepanjangan dan menjadi ideologi yang menakutkan karena menimbulkan korban jiwa. Bila dihitung sejak Perang Dunia I dan II terbelahnya dunia ke poros Amerika dan poros yang lain yakni Uni Sovyet, lalu menimbukan pertumbuhan darah hanya karena teori Marx dan Weber itu jutaan nyawa manusia melayang. Dua teori yang menimbulkan kemiripan bagi pandangan hidup manusia dengan materialisme dan yang membedakan keduanya kalau Karl Marx condong ke sosialisme dan Weber ke Dua pandangan yang sama-sama ekstrim kiri dan kanan. Pandangan sosialisme karena sejarahnya yang melibatkan pihak agama menimbulkan implikasi agama adalah candu dan Tuhan pun telah mati. Adapun individualisme diri manusia demikian hebat posisinya ia memiliki kebebasan sebebas-bebasnya, karena manusia memiliki akal dan akal penentu segalanya, mereka tidak melibatkan hati yang ada di dalam dirinya yang juga memiliki suara kebenaran. Hal itu menjadi tantangan pendidikan Islam ini sebagai tantangan konvensional. Pemhaman terhadap kehidupan yang menggunakan potensi rasio dan kelogisan menjadi salah satu andalan dari ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Pendidikan Islam sebagai khzanah untuk membentuk kaum intelektual yang berpedoman pada nash al-Quran dan al-Hadits yang didorong menjadi tradisi di civitas akademika. Selain itu saat ini manusia dimanapun bergerak dalam bidang perekonomian untuk mempertahankan eksistensi dirinya melalui perdagangan antar negara baik regional maupun internasional. Saat ini sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk memenangkan pertarungan, di era yang disebut dengan era Masyarakat sekarang mensyaratkan hal itu. Juga masyarakat sekarang ini masyarakat terbuka berkomunikasi antar sesamanya dalam waktu yang demikian cepat melalui kemajuan informasi dan teknologi. Dalam konteks ini Marshall McLutan berpandangan bahwa dunia bagaikan desa global dalam banyak hal telah menjadi nyata. 14 Melalui perkembangan ini IPTEK bidang kedokteran, angkasa luar, bio-teknologi, energi dan material. Tetapi juga sebaliknya terjadi ozon menjadi belong, air tercemar limbah industri, kesenjangan kayamiskin kriminal sadis, nuklir mengancam. Masa ini disebut juga era globalisasi. Akhbar Ahmad dan Hasting, la memberi arti bahwa globalisasi pada dasarnya mengacu pada perkembangan yang cepat di dalam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang dapat Marwah Daud Ibrahim. Teknologi Emansipasi dan Transendensi, (Bandung: Mizan, 1. , 15 membawa bagian-bagian dunia yang jauh yang bisa dijangkau dengan mudah. 15 Globalisasi merupakan kelanjutan saja dari modernisasi yang dasarnya berisi sekularisasi yang semakin maju dan semakin menjauh dari agama. Di era ini era yang di tandai kompetisi antar bangsa melalui pergerakan ekonomi seperti GATT, kemudian NAFTA perjanjian dagang antar Amerika dengan Maksiko, dan Sijori antara Singapura. Johor dan Riau Indonesia. Kemudian Era MEA perdagangan bebas antar Negara Asian pada tahun 2016 ini. 17 Era di mana menurut Qodri Azizy harus dihadapi dengan self confidence. 18 Era perdagangan bebas ini menjadi tantangan langsung bagi pendidikan tinggi Islam untuk menyiapkan lulusannya dapat bersaing dengan produk pendidikan lainnya di Indonesia maupun produk pendidikan tinggi Luar Negeri. Kompetisi kata kunci, produks pendidikan tinggi disiapkan menjadi petarung di tengah gelombang yang mengandalkan kualitas manusianya. Dinamika IPTEK membuat kehidupan manusia semakin mudah berkomunikasi antar benua dalam waktu hitungan detik, dan manusia dapat bepergian antar satu negara dengan negara lain dalam hitungan jam, berbagai penemuan baru dalam bidang IPTEK yang dilaporkan dalam berbagai pertemuan atau seminar, yang dapat mengatasi berbagai problem Penemuan-penemuan baru itu dapat membuat kehidupan manusia semakin mudah dan menyenangkan tetapi banyak pula penemuan itu seperti persenjataan canggih yang akan menghancurkan manusia itu sendiri. Perang yang saling menghancurkan di Timur Tengah dapat di tonton melalui TV, mengundang kesedihan yang mendalam, tetapi juga dalam waktu yang bersamaan dapat dipenuhi rekreasi manusia melalui pertandingan sepakbola dan tinju serta olahraga lainnya. Pandangan hidup manusia dekade ini juga semakin rasionalis, sekularis dan prinsip hidup masyarakat semakin hedonistik dan Dalam menghadapi situasi ini pendidikan tinggi Islam ditantang untuk menghadirkan manusia-manusia yang berkualitas yang kokoh pendiriannya dalam memegang nilai-nilai agama dan sekaligus dapat menampilkan dirinya sebagai Muslim yang berkemajuan untuk mencapai kemajuan dalam kehidupan manusia. Kini pendidikan tinggi berada di era masyarakat global yang menurut Qodri Azizy adalah masyarakat yang mengutamakan kompetisi Akbar S. Ahmad dan Hastings Donnan, 1994. Islam Globalization and Postmodernity, (London: Routledge, 1. , 1 Mansour Faqih. Jalan Lain, (Yogyakarta: Insist Press, t,. , 196 Aryo Baskoro. Baskoro Aryo. AuTantangan. Peluang dan Resiko Bagi Indonesia dengan Adanya MEAAy. Center for Risk Management Studies Indonesia, diunduh 3 Oktober 2015. Qodri A. Azizy. Melawan Glbalisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 26 Qurash Shihab dkk. Masyarakat QurAoani, . ) Hasan M. Noer, (Jakarta: Penamadani, 2. , 31. antar bangsa di semua bidang termasuk perdagangan dan tenaga kerja. Hanya saja kompetisi ini harus dihadapi dengan mempersiapkan kemampuan SDM yang meliputi segala aspek kehidupan dalam hal perdagangan, pelayanan atau jasa dan lainnya. Kompetisi juga membutuhkan antara lain rasa percaya diri . elf confidenc. 20 Tantangan yang menghadang bagi dunia pedidikan tinggi Islam yag harus diantisipasi oleh pendidikan Islam agar pendidikan ini fungsional di tengah kehidupan masyarakat dunia. Kondisi Pendidikan Tinggi Islam Pendidikan tinggi Islam Indonesia yang berdiri sejak awal-awal kemerdekaan hingga hari ini masih tertatih-tatih jalannya, mahasiswanya seharusnya bersemangat dalam mengembangkan ilmu, seharusnya mereka terlihat ramai atau sibuk di laboratorium dan perpustakaan, tetapi nyatanya hal terjadi sebaliknya, tempat-tempat itu seperti mesium. Pendidikan tinggi Islam yang bersumber iqra, dan menuntut ilmu bagian dari ibadah, gagal menciptakan masyarakat pembaca, jangankan masyarakat muslim pada umumnya menjadi masyarakat pembaca, masyarakatnya sendiri juga gagal untuk diciptakan sebagai masyarakat Pendidikan tinggi Islam selama ini lebih mengagungkan sisi kognitif, kaya dengan teori, tetapi jarang menemukan teori-teori baru. Pentingnya riset melalui isyarat-isyarat kitab suci al-Quran. 21 Riset dan riset adalah semangat ajaran Islam riset inti dari pintu ijtihad yang telah disediakan. Ketika Muaz ditanya apabila engkau tidak menemukan jawaban al-Quran dan al-Hadits maka dia akan melakukan ijtihad. Ijtihad ini konsep yang simpel dan menjajnjikan, seseorang yang melakukan jihad/riset dan ternyata salah maka ia masih dapat pahala, apalagi kalau hasilnya benar mendapat dobel pahala. Sayang sekali semangat ini tidak mendapat tempat di tengah uma. Dalam ibadah Islam ingin menemukan sesuatu yang berdampak bagi dirinya dilakukan terus menerus sepanjang hidup, begitu pula dengan ajaran puasa, ibadah haji berbagai ritual ibadah haji yang dilakukan seperti saAoi berulang-ulang. Melakukan thawaf dilakukan berulang-ulang, melakukan saAi dilakukan berulang-ulang. merupakan pendekatan psikomotorik. Lihat pula iqraA diulang tiga kali, lihat pula dalam surat al-Rahman yang bunyinya berulang-ulang seerti fabiayyiala irabbikuma tukadzziban (QS. arRahman, 1-. Riset ini terkatagori amal shalih yang juga mempunyai nilai ibadah (QS alZalzalah, . Tetapi juga pengembangan ilmu melalui riset merupakan kewajiban baik di laboratorium maupun di industri dan masyarakat. Riset ini telah dicontohkan oleh ilmuan Muslim tempo dulu seperti Jabir Ibn Hayan . mengembangkam ilmu kimia, ia Qodri A. Azizy. Melawan, 26 Lihat Harun Nasution. Islam Rasional, 116 mendirikan bengkel, dimana ia mempunyai tungku untuk mengolah mineral-mineral menjadi zat-zat kimia serta mengklasifikasi zat-zat tersebut. 22 Inilah kegagalan Muslim memahami semangat al-Quran. Al-Quran hanya seolah memuat tentang shalat, puasa, haji dan zakat, ayat al-Quran seolah tidak ada kaitan dengan dunia dan fenomena alam. Padahal al-Quran memuat juga tentang dunia dan fenomena alam ini. (QS. Qaf, 6. an-Nahl, 14. Yunus, . Muslim masih saja berpandangan bahwa hanya shalat, puasa, haji dan zakat saja berpahala, sementara banyak bekerja di laboratorium, banyak di lapangan melakukan penelitian tidak berpahala. Atau mungkin muslim memang ditakdirkan menjadi terbelakang dibandingkan umat yang lain atau muslim ditakdirkan menjadi pemalas dalam kehidupannya. Padahal. muslim punya doktrin bahwa seorang Muslim meninggal dunia semua hal akan terputus baginya kecuali tiga hal yakni doa anak yang shaleh, ilmu yang bermanfaat dan amal Dua hal yang kita sebutkan yakni ilmu yang bermanfaat serta menjadi amal jariyah yang dapat berbentuk melakukan pengkajian ilmu dan melakukan penelitian dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat, ini termasuk amal jariah dalam konsep Islam. Pendidikan Islam mengutamakan ilmu dan pengembangannya, karena Al-Quran yang menjadi inspirasinya mendorong untuk mencari ilmu serta melakukan penelitian terhadap pengembangan ilmu yang ada . l-Ghaasiyah, 17. QS. al-Jatsiyah, . Bagi produk pendidikan tinggi Islam ayatayat ilmu sudah banyak dihafal dan memahami maknanya, tetapi sering hanya menjadi hapalan dan pemahaman, impelementasinya sulit dilaksanakan. Muslim tampaknya belum mengambil api atau semangat ajaran al-Quran. Justru yang mengambil apinya orang-orang non Muslim, mereka tidak ambil pusing apa itu berdampak berpahala bagi mereka. Berbeda dengan orang-orang msulim ajarannya yang tertera dalam al-Quran menjanjikan mereka akan mendapatkan pahala. Bagi non muslim yang menjadi inner dynamic mencari ilmu dan mengembangkannya hanya sekedar menemukan kepuasan dirinya atau keinginan agar namanya di kenal dalam sejarah kemanusiaan, latar belakangnya hanya bersifat individual dan tidak bermakna teologis. Dorongan yang bersifat material atau duniawi itu demikian dahsyat hasilnya mereka telah menemukan banyak hal dalam kehidupan ini. Berbeda dengan Muslim lebih mulia dorongan itu dari seseuatu yang diyakini sebagai Tuhannya tetapi mengapa tidak menjadikah hal itu sebagai dorongan yang maha dahsyat pula? Muslim tampaknya masih ragu dampak yang diperoleh apbila melakukan hal-hal yang seperti itu Azhar Arsyad. AuBuah Cemara Integrasi dan Interkoneksitas Sains dan Ilmu AgamaAy. Hunafa: Jurnal Studi Islamica. UIN Alauddin Makassar. Vo. No. Juni 2011, 14 akibatnya mareka masih tertidur lelap dan minim menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam berbagai aspek kehidupan. Apakah otak Muslim kalah cerdas dengan otak orang non Muslim, otak sama tetapi etos yang membedakannya? Padahal Allah akan memberi dampak berpahala bagi msulim (QS. an-Nahl, 97. al-Zalzalah, 7-. Pendidikan tinggi Islam harus menghidupkan dunia fikir dan dunia skill. Pendidikan ini berdasarkan data Diktis berjumah 665. 000 mahasiswa. 23 Tentu saja tidak semua akan menjadi filosfof, pemikir, dosen, guru, dai atau ualama, tetapi sebagian besarnya menjadi pekerja teknikal yang ada di tengah masyarakat. Sajiannya harus dua hal itu kalau tidak kita hanya secara besar-besar menyiapkan satu sajian hidangan sementara hidangan yang lain jauh lebih besar jumlahnya tidak kita siapkan. Selain itu kompetensi yang juga kurang dimiliki juga penguasaan IT,24 dan penguasaan bahasa. Era kompetisi telah di depan mata, pendidikan tinggi Islam suka tidak suka harus menghadapinya. Oleh karena itu Pendidikan tinggi Islam hendaklah memberikan nilai-nilai progresif kepada mahasiswanya untuk menghadapinya. Demikian pula nilai ilmu, dan nilai profesional dalam bekerja, al-Quran mendorong Muslim untuk mencapainya. Bidang ilmu telah menjadi stressing sejak awal penciptaan manusia (QS. al-Baqarah, 31-. Kemudian beberapa abad kemudian Allah ingin menunjukkan lagi demikian pentingnya ilmu melalui perlunya manusia membaca pada ayat pertama tutrun yang berbunyi iqra dan qalam (QS. al-AoAlaq, 1-. Mereka pun harus memiliki kompetensi atau skill. Al-quran sudah mengingatkan Muslim untuk menyiapkan diri menghadapi masa depannya. Salah satu yang harus disiapkan adalah kompetensi, hal ini salah satu diisyaratkan Nabi agar generasi muda Muslim Sebagaimana hadis Nabi, yang artinya Auapabila suatu amanah diberikan kepada orang yang bukn ahlinya tunggulah kehancurannyaAy. 25 Dengan kompetensinya ia dapat melangkah menjadi entepreneurship yang di masyarakat bidang ini demikian luasnya. Intepreneurship ini telah diScontohkan oleh Nabi Muhammad bahkan sejak ia sebelum diangkat sebagai Rasul. Mereka yang lulus dari pendidikan tinggi Islam nantinya bukan mencari pekerjaan tetapi dapat menciptakan pekerjan yang merupakan bentuk nyata dari pengabdiannya kepada Allah dan bangsa. Pendidikan tinggi Islam ke depan harus berada pada lambang AuoptimismeAy. Selama ini pendidikan tinggi Islam di belahan dunia manapun memilihi pendekatan AupesimismeAy itu. Ditjen Pendis. Statistik Pendidikan Islam, 2012-2013, (Jakarta: Ditjen Pendis, 2. Abuddin Natta. Membangun Keunggulan Pendidikan Islam Indonesia, (Jakarta: UIN press, 2. , 254 Muhammad bin Ismail. Abu Abdillah, al-Bukhari al-Jafi, al-Jami al-Shahih al-Muhtasar. Jilid I, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1. , 33 Selama pendidikan tingi Islam melalui pendekatan pesimisme. Sebagai contoh pendekatan pasimisme dalam konteks ekonomi misalnya pendekatan pertama selalu saja pendekatan etika atau hukum haram dan halal, padahal yang perlu didahulukan adalah dorongan untuk beraktivitas dalam ekonomi. Dari-ayat al-quran menggunakan pendekatan optimisme seperti dorongan segera menyebar ke muka bumi salah satunya berdagang (QS. at-Taubah, 105. alJumuAoah, 9-. , baru kemudian mengingatkan hal-hal yang berkaitan dengan etikanya (QS. an-Nisa, 29. al-Hasyr, . Selain itu pandangan hidup Muslim mengajarkan kesimbangan hidup baik untuk dunia ini maupun di akhirat (QS. al-Qhashas, . Tetapi aplikasinya perlu terus di koreksi apakah visi ini dalam kaitan keilmuan dan kompetensi serta skill ada dalam kenyataannya. Kalau melihat kehidupan muslim yang terpuruk dalam hampir semua bidang kehidupan saat ini, penerapan world viewnya belum seimbang. Muslim memiliki sistem nilai yang transedent yang memberikan garansi pahala di dunia ini dan juga memperoleh ganjaran di akhirat kelak. Nilai yang mendorong untuk menggeluti ilmu pengetahuan (QS. al-Mujadilah, . , begitu pula nilai bekerja dalam mengembangkan ekonomi (QS. at-Taubah, 105. al-JumuAoah, 9-. Bila non muslim sistem nilai yang mendorong mereka adalah yang berupa pandangan bapak-bapak bangsanya yang tentu tidak bernilai kepada kehidupan akhirat. Seharusnya sistem nilai muslim lebih dahsyat lagi dan mestinya muslim akan meraih kejayaan, tetapi apa hendak dikata hasilnya berbeda. Seharusnya kemajuan IPTEK berada pada tingkat yang tinggi, seharusnya penemuan baru dalam bidang tersebut dilakukan oleh kampus muslim atau universitas Muslim. Begitu pula kemajuan dalam bidang ekonomi muslim juga akan menunjukkan hal itu. Misalnya Negara yang menyebut dirinya muslim, seperti neara-negara Arab yang kaya kemajuan ekonominya tidak membuat mereka menjadi negara maju dalam bidang ilmu. Mereka baru menjadi Negara Berkembang itu pun karena hasil alam, bukan hasil kemajuan yang diciptakan oleh manusia-manusianya. Kondisi tersebut terjadi, dikarenakan di dunia pendidikan mereka belum banyak memberikan prespektif keduniaan ketika pelajarnya membahas mata kuliah agama. Contohnya dalam mengkaji fiqh dalam konteks shalat yang pertama kali ditanya oleh Allah di kemudian hari, hal itu sangat mendapatkan perhatian, tetapi menyediakan sarana prasarana shalat seperti pakaian yang suci hal yang tidak bergitu saja turun dari langit, kurang mendapatkan perhatian. Contoh lain ibadah Haji hal yang penting dari ajaran Islam Hasbi Indra. Pendidikan Islam. Peluang dan Tantangan, (Yogyakarta : Deepublish, 2. , 143. merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi Muslim yang mampu, tetapi dorongan bagaimana menyediakan sarana untuk sampai ke Makkah dengan cara membuat pesawat terbang tidak cukup mendapatkan perhatian. Apabila kita hanya menjelaskan begitu pentingnya shalat di mata Allah dan sarananya tidak mendapatkan penekanan dari guru, daAi, dosen dan ulama ini tandanya pandangan hidup kita belum seimbang. Al-quran demikian lengkap memuat semua hal, tentang shalat, haji, dan bahkan tentang fenomena alam, gempa bumi, kebanjiran, yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Maka apabila kita abai dengan hal itu dan cepat berserah diri kepada Allah, tanpa upaya yang sungguh-sungguh memikirkan untuk mengatasinya, kita belum seimbang dalam menjalani kehidupan ini. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Islam Kurikulum pendidikan tinggi Islam awalnya untuk menyiapkan generasi untuk menjadi pelayan beragama maka mata pelajaran lebih dominan mata pelajaran agama seperti fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, kemudian ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa arab seperti balaghah dan lannya. Pada era awal kemerdekaan negara masih berada dalam fase pembentukan, pembangunannya hanya terpusat pada aspek ideologi-politik. 27 Demikian pula di era Orde Lama kurikulum pendidikan tinggi Islam masih belum mengalami perkembangan yang berarti karena masa ini masih masa transisi ideologis, pembangunan di bidang ekonomi belum mendapat perhatian begitu pula pusat perhatian baik dari pemerintan maupun muslim belum ke bidang pendidikan. Era ini dimana masyarakatnya masih diwarnai oleh pola hidup agraris yang ditopang oleh pertanian dan dalam mengelola pertanian berdasarkan pola turun temurun dari nenek moyangnya. Kemudian kehidupan spiritual masyarakatnya lebih diwarnai oleh mentalitas agraris yang lebih banyak mengandalkan otot, kehidupan beragama pun lebih diwarnai mitos kalau pun peran agama yang mewarnai kehidupan mereka, takdir dipahami segalanya ditentukan Allah dan manusia hanya sebagai wayang atau robot. kajian agama belum beranjak dari makna tektual dan belum dikaji secara filosofis. Baru era Orde Baru kebutuhan riel terhadap tenaga agama di birokrasi pemerintahan semakin diperlukan, juga pembangunan bidang ekonomi digalakkan oleh pemerintahan dan kurikulum pendidikan Islam sedikit mendapatkan perhatian. Masa ini kehidupan masyarakat sudah diwarnai oleh gerak industri, masyarakat sudah masuk ke arah masyarakat modern yang lebih rasional dan mengandalkan keahlian. Dalam konteks ini kurikulum pendidikan tinggi Islam meresponnya dengan adanya kebutuhan terhadap keahlian tenaga guru yang mengajarkan ilmu matematika maka kurikulum atau jurusan tadris di buka di beberapa IAIN Hasbi Indra. Pedidkan Islam Tantangan, 104 seperti IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 28 Kemudian kurikulum semakin berkembang untuk merespon kebutuhan yang dihadapi masyarakat dengan terujudnya IAIN menjadi UIN, kurikulumnya semakin diwarnai oleh kebutuhan untuk pembangunan bangsa secara IAIN menjadi universitas tidak hanya kebutuhan untuk mewarnai perjalanan keilmuan dengan jargon Islamisasi ilmu atau integrasi ilmu tetapi juga ikut merespon perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat tetapi juga merespon era keterbukaan dalam bidang perdagangan dan lainnya. Untuk menghadapi dinamika yang ada kurikulum harus dikaji kembali dan paradigma pendidikan tinggi Islam yang hanya membentuk pemikir atau dari istilah agama membentuk ulama saja tidak berangkat dari realitas yang ada. Realitas yang ada tidak semua produk pendidikan tinggi Islam menjadi ilmuan atau ulama tetapi sebagian besar mereka adalah menjadi pekerja yang membutuhkan skill dan jiwa entepreneurship. Kebutuhan bangsa terhadap tenaga yang memiliki skill dan berjiwa entepreneurship sangat diperlukan karena bangsa ini ke depan tidak dapat lagi mengandalkan sumber daya alamnya yang semakin habis untuk menghidupi anak bangsa tetapi beralih kepada sumber daya manusia yang memiliki skill dan jiwa enteprenership. Era sekarang ini sangat membutuhkan dua hal tersebut. Kurikulum Pendidikan Tinggi Islam ke Depan Kurikulum pendidikan tinggi Islam yang awalnya lebih dominan berisi mata pelajaran agama seperti kajian fiqh, tauhid, tafsir dan lainya tentu sesuai dengan masanya dan kemudian berkembang merespon perkembangan yang ada dipelajari pula ilmu-ilmu non Kini pendidikan tinggi Islam berada di era masyarakat global yang menurut Qodri Azizy adalah masyarakat yang mengutamakan kompetisi antar bangsa di semua bidang termasuk perdagangan dan tenaga kerja. Hanya saja kompetisi ini harus dihadapi dengan mempersiapkan kemampuan SDM yang meliputi segala aspek kehidupan dalam hal perdagangan, pelayanan atau jasa dan lainnya. Kompetisi juga membutuhkan rasa percaya diri . elf confidenc. Untuk menghadapi hal itu diperlukan kurkulum yang memadai. Dalam konteks ini Tafsir mengartikan kurikulum yang diperluas bukan saja sejumlah mata pelajaran tetapi seluruh kegiatan pendidikan merupakan kurikulum yang saling berkelindan mendorong untk membentuk sosok generasi yang diidamkan, 30 seperti yang tertera dalam UU Sisdiknas NO. 22 tahun 2003. Kurikulum seharusnya sejak lama berangkat dari sosok manusia yang mau dibentuk. Esensi manusia dalam prespektif Islam ada potensi di Hasbi Indra. AuPendidikan Tinggi Islam dan Peradaban IndonesiaAy. Jurnal Tahir STAIN Ponorogo Vol. No. 1 2016,11 Hasbi Indra. Pendidikan Islam Tantangan. , 4 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan Islam, (Bandug: Rosda, 2. , 115 dalam dirinya yang disebut dengan akal, ada esensi emosi---. jiwa enteprenership, dan ada pula badan jasmani yang menggambarkan skill, tiga potensi ini di dalam diri Tiga hal ini yang menggerakkan kehidupan manusia. Tentang akal ini al-Quran mengungkap sebagai salah satu alat untuk meraih pengetahuan dan juga kecerdasan dalam terma afalataAokilun, laAoallakum taAokilun, inkuntum taAokilun. 31 Adapun nafsu atau dorongan seseorang menemukan sesuatu melalui nafsu yang diridhai Tuhan (QS. Yusuf, . , nafsu yang menggerakkan orang hidup, yang mendorong akal mengembangkan berbagai kebudayaan dan peradaban umat manusia, tentang hati, hati yang baik atau mulia ditampilkan seseorang dengan akhlakulkarimahnya. Kurikulum membentuk manusia yang taqwa (QS. al-Baqarah, 21. al-hujurat, . adalah betul. Juga dalam prepektif pendidikan tinggi Islam ingin membentuk yang disebut dengan ulama (QS. Fathir, . Ulama ini dalam hadits dikatakan adalah pewaris para Nabi. Katagori ini sangat sedikit dan bahkan dalam satu dekade bisa dihitung dengan jari. Nabi yang tercatat dalam al-Quran hanya 25 Nabi. Ulama juga adalah mereka yang jumlahnya Ulama dimaknai pula para filosof, para pemikir atau mereka yang berprofesi di bidang akademik seperti dosen atau peneliti jumlahnya hanya sedikit. Puluhan ribu setiap tahun lulusan pendidikan tinggi Islam mereka yang terkatagori ulama, filosof atau pemikir hanya bisa dihitung dengan jari. Dalam kenyataan hidup hal seperti itu lebih banyak pekerja ketimbang pemikir. Dalam kontek dunia pendidikan apakah semua lulusan pendidikan tinggi Islam akan menjadi pemikir? Tentu jawabannya tidak. Tapi kenyataan pada saat ini pendidikan tingi pada umumnya dan pendidikan tinggi Islam tidak berangkat dari kenyataan itu. Semua pendidikan tinggi tampaknya menyiapkan para pemikir dan tidak menyiapkan para pekerja yang jumlahnya banyak. Kurikulum seharusnya menyiapkan juga jumlah yang banyak itu. Oleh karena itu perlu di review kembali kurikulum pendidikan tinggi Islam yang berjalan selama Dalam kontek kehidupan memang memerlukan Muslim yang memiliki kualitas dalam menghadapi persaingan dunia kerja dengan segenap kompetensinya. Al-Quran menyatakan. Aujanganlah muslim memberikan amanah kepada orang yang lemahAy, (QS. An-NisaA, 5, . Tentang kompetensi salah satu diisyaratkan oleh Nabi agar generasi muda Muslim menyiapkannya, hadis yang artinya : Auapabila suatu amanah diberikan ke orang yang bukan Harun Nasution. Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1. , 140 ahlinya tunggulah kehancurannya. 32 Dengan demikian pendidikan pesantren harus juga menyiapkan lulusannya menjadi entrepreneurship yang di masyarakat bidang ini demikian luasnya kesempatan bagi mereka. 33 Mereka setelah lulus mampu menciptakan pekerjan sendiri dan tidak bergantung ke pihak lain. Nabi sendiri mencontohkan dalam kehidupannya mencari rezeqi tanpa kenal lelah bahkan sejak usia mudah pada usia anak-anak didik di pesantren. Nabi melakukan perdagangan ke negeri yang jauh dari kota Makkah yakni kota yang sekarang ini dikenal dengan Negara Suria. Sekaligus nabi menunjukkan jiwa entrepreneurshipnya sejak muda. Nabi memandang begitu pentingnya menguasai ekonomi untuk mengembangkan ajaran Islam sehingga nabi menyunting Khadijah, janda kaya serta nabi dalam mengembangkan ajaran Islam didukung oleh para shahabat yang kaya seperti Abu Bakar dan lainnya. Perlunya di lembaga pendidikan ini menyiapkan generasi yang memiliki jiwa Wirausaha di negara lain sudah lama digalakkan terutama di negara-negara yang tidak atau sangat sedikit memiliki sumber daya alamnya. Seperti Negara Jepang, 34 Korea Selatan, 35 dan Singapura. 36 Negara Jepang, negara yang kalah perang pada waktu perang dunia II, negara di mana dua kotanya Nagasaki dan Hirosima hancur rata dengan tanah, tanah-tanah mereka menjadi tidak subur karena bom. Begitu pula dengan Korea Selatan, negara yang pernah perang dengan sesama saudara yaitu Korea Utara, karena rebutan ideologi komunis dan non komunis, negaranya pun hancur. Begitu pula dengan Singapura, negara yang kecil yang tidak memiliki sumber daya alam yang ada hanya sumber daya manusia. Mereka menyadari bahwa manusia sejak dulu dalam kurun apapun tetap hidup karena manusia memiliki potensi yang luar biasa di dalam dirinya. Mereka belajar dari sejarah perjalanan kehidupan manusia, sementara orang muslim bukan saja dapat belajar dari sejarah perjalanan manusia tetapi dapat belajar dari kitab sucinya. Kitab suci muslim alQuran bercerita bagaimana Nabi Nuh dapat menyelamatkan umatnya dari banjir besar yang mengancam nyawa umatnya dengan membuat kapal. 37 Bagaimana Siti Hajar dan anaknya Muhammad bin Ismail Abu Abdillah, al-Bukhari al-Jafi, al-Jami al-Shahih al-Muhtasar. Jilid I, (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1. , 33 Entrepreneurship berasal dari kata entrepreneur yang artinya suatu kemampuan dalam berfikir kreatif dan berprilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan , siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup, lihat Soeparman Soemahamidjaya, dkk. Pendidikan Karakter Mandiri dan Kewirausahaan, (Bandung: Angkasa, 2. , 2 w. com--AuIndonesia harus contek cara Jepang yang jumlah wirausahanya 10%Ay, diunduh 8 Januari 2016 Bisnis. coAiAukembangkan wirausaha contek KorselAy, diunduh 8 Januari 2016 w. Ayjumlah wirausaha Singapura 7% Indonesia 1. 65% dari jumlah pendudukAy, diunduh 8 Januari 2016 Tentang Nabi Nuh, lihat Al-quran Surah Nuh 5-12, 26-27 dan Hud, 41-48 Nabi Ismail yang di tinggal suaminya Nabi Ibrahim atas perintah Allah. 38 Bagaimana Nabi Muhammad menghidupi dirinya di masa remaja hingga masa kenabiannya, dan mensyiarkan Islam dan menyebarkan Islam dengan sumber daya manusia melalui mental kewirausahaan. Dari sejarah yang digambarkan dalam al-Quran ada hikmat yang dapat diambil begitu pentingnya kewirausahaan dalam pandangan Islam. Oleh karena itu lembaga pendidikan yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman lulusannya harus memiliki mental wirausaha itu. Indonesia saat ini memang masih negara yang kaya raya, tetapi kekayaan ini tidak dijamin akan selalu ada di perut bumi Indonesia. Indonesia dengan penduduk yang demikian besar dan sementara sumber daya alam yang terbatas yang akan dikeruk terus menerus dan akan habis, maka menjadi kesempatan untuk melihat kembali misi pendidikan ini. Para mahasswa mereka tidak semua akan menjadi pemikir atau pemimpin, umumnya mereka akan kembali ke masyarakat yang tentu mental wiraurasahawan jawabannya. Kalau tidak besar kemungkinan mereka akan menjadi prustasi dalam perjalanan hidupnya. Mereka tidak mampu menolong dirinya sendiri apalagi menolong orang lain. Indonesia ke depan memerlukan banyak wirausahawan untuk menjaga eksistensinya bagi muslim membantu tegaknya negara merupakan kewajiban dan juga menopang syiar Islam yang tentu memerlukan banyak dana, merupakan sumbangsih yang sangat besar apabila pesantren memperhatikan hal tersebut. Juga menjadi hal yang bermanfaat dan akan menjadi Aamal ibadah bagi para pengelolanya apabila dapat menyiapkan mental kewirausahaan mereka. Dengan keterampilan yang mereka miliki serta dengan mental wirausahanya dan dengan bahasa yang sudah fasih berkomunikasi dengan orang-orang asing serta memilki karakter baik yang teruji melalui endidikan tinggi Islam akan sangat mudah merespon problema yang ada di hadapan mata. Pendidikan tinggi Islam harus pula merespon dunia kerja yang membutuhkan skill atau kompetensi. Untuk itu format kurikulum harus berbeda atau paling tidak menyiapkan pula bagi mereka yang berpotensi dengan skill, tidak berarti pemikir dan non pemikir adalah kasta yang berbeda dan lebih pintar antara yang satu dengan yang lain, atau lebih mulia yang satu dari yang lainnya. Presiden tidak perlu pintar yang diperlukan ia memiliki skill, begitu banyak orang pintar di bawah presiden. Seorang pengusaha diperlukan juga skill, begitu banyak orang pintar berada dibawah pengusaha. QS. Ibrahim 37 dan al-Baqarah, 158, lihat w. com/belajar dari siti-hajar-bunda-nabi-ismail. lihat pula http://perkarahati. lihat pula islamiwiki. id-contoh pembelajaran dari kisah Siti Hajar, diunduh 8 Januari 2016 Hepi Andi Bastoni. Beginilah Cara Rasulullah Berbisnis, (Bogor: Putaka al-Bustan, 2. , 141 Untuk itu fomat besar di pendidikan tinggi Islam paling tidak ada dua yang patut diperhatikan, untuk dimensi intelegensi dan dimensi skill. Jua dalam dunia pendidikan saat ini termasuk pendidikan tinggi Islam masih menggunakan pendekatan pembelajaran teori bloom pendekatan yang menggunakan kognitif, afektif dan psikomotorik. 40 Pendidikan itu pada dasarnya untuk diterapkan atau diamalkan, bukan hanya sekedar teori, apalagi produk pendidikan hanya sebagian kecil saja yang menjadi pemikir, maka karena itu pendidikan harus lebih banyak pada sisi psikomotorik, bukan pada sisi kognitifnya. Apalagi ajaran Islam lebih banyak mengajarkan sisi psikomoriknya. Tetapi semangat ini tidak diambil oleh muslim yang diambil hanya sisi kognitif dan sisi afektifnya saja. Demikian banyak ritual Islam yang banyak menggambarkan dari pendekatan sisi pesikomotoriknya. Ada shalat wajib, shalat sunnah, puasa wajib, puasa sunnah, zakat, shadaqah semuanya sisi psikomotorik. Pembelajaran yang banyak menggunakan sisi kognitif hanya bagian yang sedikit dari ajaran Islam tersebut. Oleh karena itu kurikulum pendidikan tinggi Islam harus lebih banyak sisi Mengapa pendidikan tinggi Islam seperti pendidikan tinggi Islam tertua di negeri muslim lain seperti di Mesir misalnya tidak memunculkan banyak kreatifitas, atau miskin berbagai penemuan karena lebih banyak kognitifnya ketimbang psikomotoriknya. Mengapa dunia muslim masih menjadi bangsa produsen hingga sekarang ini karena pendekatan psikomotoriknya kurang atau lemah. Kemajuan berbagai penemuan teknologi saat ini adalah hasil dari pendekatan psikomotorik itu. Pendekatan sisi psikotorik dalam dunia ilmu adalah riset yang di dunia pendidikan tinggi Indonesia atau pendidikan tinggi Islam kurang mendapat tempat. Untuk itu, pedidikan tinggi Islam menghadapi era kini dan mendatang memerlukan kurikulum yang memadai guna mersepon perkembangan yang ada agar lulusannya dapat berkompetisi antar bangsa saat ini. PENUTUP Pendidikan tinggi Islam telah mengalami perjalanan yang panjang sejak dari awal kemerdekaan hingga masa reformasi saat ini. Di era ini tantangan yang dihadap sesuai dengan zamannya di era dimana kehidupan manusia masih mengandalkan pertanian kemudan masuk ke era industri dan tantangan kehidupan semakin complicated, apalagi era ini pencapaian kemajuan manusia demikian pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta berupa tata nilai ketuhannan dan kehidupan manusia yang semakin materialistik dan WS. Winkel. Psikologi Pengajaran, (Jakarta: Gramedia, 1. , 149 hedonistik. Tantangan yang di depan mata terhadap pendidikan tinggi Islam adalah dunia semakin terbuka dan terjadinya kompetisi antar bangsa di dunia internasional maupun di Asia dan Asia Tenggara. Dunia saat ini memerlukan produk pendidikan tinggi bukan saja berilmu tetapi juga memiliki skill dan memiliki jiwa entepreneurship. Pendidikan tinggi Islam harus meresponnya dan perlu melihat kembali visi pendidikan dan kurikulumnya agar sesuai dengan esensi manusia yang berdimensi pikir dan skill yang juga memerlukan ruh entrepreneurship, diperlukan pula pendekatan pembelajaran yang sisi psikomotoriknya dominan karena sesuai dengan esensi ajaran Islam. DAFTAR PUSTAKA