Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Normal Putri Fistyaning Armya,1,* Prodi D i. Politeknik Bintan Cakrawala putriarmy@pbc. * corresponding author ARTICLE INFO Article history Received Revised Accepted Keywords Wisata Kota Daya Tarik Wisata New Normal ABSTRACT . PT) Urban tourism development has promising prospects in the future to be developed in the territory of Indonesia, including in the city of Tanjungpinang. Riau Islands. The city is the center of night activities for both domestic and foreign tourists. The emergence of stereotypes that the attractiveness of Tanjungpinang City Tourism is still lacking when compared to Bintan Regency with all its natural tourist attractions is also a challenge for Tanjungpinang City to be able to further maximize its potential, coupled with the problem of the Covid19 pandemic which also impacts on the rate of development of Tanjungpinang tourism. This study uses a qualitative descriptive method with no recognition of the population and sample, this is because qualitative research is not intended to make generalizations. Efforts to develop the Tanjungpinang City Tourism Object in the new normal era have been carried out by the local government, especially the Tanjungpinang City Culture and Tourism Office, this effort is made to educate the readiness of tourism actors and the community so that when the tourism situation improves, all parties are ready to facing the new normal era. Pendahuluan Pengembangan Wisata Kota memiliki prospek yang menjanjikan di masa yang akan datang untuk dikembangan di wilayah Indonesia, tidak terkecuali di kota Tanjungpinang. Kepulauan Riau. Kota sebagai pusat dari aktivitas malam para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sehingga di dalam proses pengembangannya diperlukan penataan antara lain. Penataan sentra bisnis masyarakat lokal seperti pasar malam yang menjual berbagai cinderamata khas, makanan tradisional, pagelaran kesenian, spa, terapi dan fisioterapi untuk penghilang lelah para wisatawan setelah berwisata. Penataan penginapan, hotel, dan sejenisnya mestinya dapat diarahkan pada area sub urban atau pinggiran kota untuk mengurangi kepadatan kota. Penataan daerah wisata baik yang alamiah maupun yang buatan dapat diarahkan pada kawasan rural atau countryside. (Gusti Bagus Rai Utama, 2. Kecenderungan bahwa kota menjadi pusat perhatian pembangunan terutama pada sektor Hal tersebut dilatarbelakangi faktor sosial demografi penduduk kota jauh lebih mudah menerima isu terkini yang terkait modernisasi dan pemberdayaan ekonomi. Berdasarkan paparan empiris tersebut, pengembangan wisata kota nyaris di seluruh dunia akan menjadi relatif penting untuk direncanakan dalam pemberdayaan masyarakat. (Gusti Bagus Rai Utama, 2. Laporan terakhir dari World Bank dijelaskan bahwa perkembangan jumlah penduduk kota relatif tinggi, hingga pada tahun 2050 diprediksi terdapat 85% penduduk dunia akan hidup di Di Indonesia, jumlah penduduk kota diperkirakan mencapai 50% dari jumlah penduduk seluruh Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa kota memiliki potensi yang sangat besar untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan wisata, salah satu contohnya adalah event. Di Kepulauan Riau http://ojs. journaldestinesia@gmail. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. terutama di Kota Tanjungpinang. Calender Event menunjukan di tahun 2020 ini ada 49 agenda baik sejarah, seni,budaya,kuliner, dan religi. Jumlah wisatawan Kepulauan Riau pun meningkat, sampai november 2019 tercatat mencapai 154. 198 orang, dan dinobatkan menjadi nomor 2 kunjungan wisatawan Indonesia setelah Bali. Potensi ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan membangun berbagai fasilitas umum di beberapa destinasi, namun berdasarkan pengamatan awal, sejalan dengan penelitian Mia . dalam Au Strategi Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam Perspektif Budaya untuk Meningkatkan Kunjungan WisataAy usaha tersebut tampaknya masih belum memberikan dampak yang signifikan terhadap daya tarik pariwisata khususnya dalam hal memperkenalkan Kota Tanjungpinang sebagai kota wisata, ditambah lagi dengan permasalahan pandemi covid-19 yang turut berimbas pada laju perkembangan wisata Tanjungpinang, berdasarkan calendar event 2020, 20 event dari total 39 event yang seharusnya dilaksanakan di Tanjungpinang dibatalkan . ttps://w. com/), kunjungan wisatawan terutama wisatawan manacanegara pun turun drastis, kepercayaan wisatawan terhadap masalah keamanan dan kesehatan menjadi faktor utama, secara kumulatif terhitung dari Januari hingga September 2020 jumlah wisatawan yang masuk turun 80,68 % dari tahun sebelumnya . ttps://w. com/). Bagaimana hasil pemetaan SWOT tentang potensi wisata kota di Tanjungpinang? Bagaimana daya tarik wisata di Kota Tanjungpinang? Bagaimana upaya pengembangan wisata Kota Tanjungpinang sebagai daya tarik wisata di era new normal? Bagaimana upaya pengembangan wisata kota di Tanjungpinang di era new normal? Konsep Teoritis Konsep Pengembangan Wisata Paturusi . mengungkapkan prinsip dari pengembangan pariwisata dituntut untuk mengaplikasikan tiga paradigma yaitu : Economically Viable yaitu harus mampu meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Social Acceptable, yaitu mampu mewujudkan keadilan sosial, melestarikan serta memperkokoh jati diri, kemadiriran bangsa, memperkaya kepribadian, mempertahankan nilai-nilai agama, serta berfungsi sebagai media menciptakan ketertiban dan kedamainan dunia . bjek wisata yang potensial jika dilakukan dengan baik akan menyedot minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung, berkumpul, saling mengenal dan menjalin persahabatan antar sesama. Environmentally sustainable, yaitu harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan berkesinambungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat menjadi pedoman oleh para penentu dan pelaksana pengembangan pariwisata. Definisi Destinasi Wisata Pengertian destinasi pariwisata menurut (Tuohino & Konu, 2. menyatakan bahwa destinasi adalah area geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari berbagai produk pariwisata sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk Sementara itu menurut (Organization, 2. pengertian Destinasi ialah ruang fisik yang memiliki batas Ae batas fisik dan administrasi yang mencakup campuran . dari layanan, produk, serta daya tarik. (Organization, 2. juga menyatakan bahwa daya tarik dan pengalaman destinasi dapat dibentuk oleh berbagai elemen seperti atraksi, fasilitas, aksesibilitas, sumber daya manusia, citra dan harga. Putri Fistyaning Army (Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Norma. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Definisi Daya Tarik Wisata Berdasarkan (UU RI. No 10, 2. mengenai kepariwisataan. Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. Unsur Pembentuk Destinasi Wisata Cooper . berpendapat bahwa dalam mengembangkan destinasi pariwisata harus ada empat unsur yaitu Atrraction. Amenities. Access. Ancillary services yang disingkat dengan formulasi 4A antara lain: Atrractions Atrractions adalah hasil dari buatan manusia,keindahan alam ataupun event yang menjadi motivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi Amenities Amenities adalah pendukung pariwisata berupa fasilitas dan layanan dal suatu destinasi Access Access adalah suatu sistem untuk mengefiienkan transportasi mulai dari akomodasi menuju atraksi dan sebaliknya. Sistem tersebut dapat berupa jalur bersepeda, bus, dan transportasi lainnya Ancillary Services Ancillary Services melingkupi pemasaran, pengembangan dan kordinir aktivitas wisata, organisasi ini dapat berupa organisasi publik/pemerintah dan swasta. Wisata Kota Menurut UNWTO (World Tourism Organizatio. City Tourism mengacu pada Urban Tourism, pariwisata perkotaan sebagai perjalanan yang ditempuh oleh wisatawan ke kota atau tempat dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Wisatawan datang ke kota-kota besar karena adanya keinginan untuk merasakan dan melihat keragaman yang ada di kota tersebut. Dalam hal ini, sebuah kota merupakan tempat percampuran dari budaya nasional, seni, musik, sastra dan tentu saja arsitektur megah dan desain urban. Itu adalah konsentrasi, variasi dan kualitas dari kegiatan dan atribut urban tourism yang menciptakan daya tarik mereka dan menempatkan kota-kota di peta pariwisata (Karskl, 1990 dalam UNWTO. Global Report on City Tourism, 2. Metodologi Penelitian ini berlokasi di Kota Tanjungpinang, yang difokuskan pada dinas pemerintahan yang bertugas menangani dan mengelola pariwisata di Kota Tanjungpinang, dengan kurun waktu selama tiga bulan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tidak mengenal adanya populasi dan sampel, ini disebabkan penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi, penelitian ini merupakan penelitian yang lebih luas menggunakan data-data. Maksud AuluasAy adalah focus pada analisa yang panjang dari awal hingga akhir, dan menyebabkan peneliti haru smempunyai komitmen kuat terhadap teori dari awal hingga akhir ketika terjun di lapangan (Syah:2. Untuk mengetahui kondisi saat ini (Current Situatio. dari ODTW dan menentukan fokus kajian penulis melakukan analisis SWOT Subjek penelitiannya antara lain adalah Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Kota Tanjungpinang. Putri Fistyaning Army (Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Norma. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. Pembahasan Gambaran Umum Kota Tanjungpinang Secara geografi. Kota Tanjungpinang merupakan daerah yang sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah,kawasan rawa bakau, dan perbukitan dengan total luas kawasan seluas 144,56 km2. Tabel 4. 1 Luas Wilayah Kota Tanjungpinang Luas Daerah dan Jumlah Pulau menurut kecamatan di kota Tanjungpinang Kecamatan Luas Wilayah Persentase terhadap luas wilayah Jumlah Pulau Tanjungpinang Barat 4,55 3,15 2,00 Tanjungpinang Kota 35,42 24,50 4,00 Bukit Bestari 31,57 3,00 Tanjungpinang Timur 40,78 Kota Tanjungpinang 58,95 100,00 Sumber: tanjungpinangkota. Berdasarkan Iklim dan musimnya kota Tanjungpinang memiliki temperature 23-34C dengan tekanan udara sebesar 1. 010,2 mbs dan 1. 013,7 mbs. Untuk musimnya. Kota Tanjungpinang memiliki dua musim, musim kemarau dan musim penghujan, dengan intensitas angin dan gelombang yang sangat kuat . Kota Tanjungpinang juga memiliki beragam etnis yang menjadi penduduknya dengan suku melayu sebagai suku bangsa terbesar. Sebagian lainnya adalah suku bugis dan tionghoa yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu telah ada. Suku pendatang seperti Suku Bugis dan Tionghoa mayoritas menempati satu kawasan, seperti Kampung Bugis dengan mayoritas suku Bugis tinggal disana, sementara itu suku tionghoa banyak menempati wilayah di Jalan Merdeka, adapun suku Minang mayoritas tinggal di pemukiman sekitar pasar. Tabel 4. 2 Komposisi Etnis Kota Tanjungpinang pada tahun 2010 Etnis Jumlah (%) Melayu Jawa Tionghoa Minangkabau Batak Sunda Bugis Lain-lain Sumber : tanjungpinangkota. Pemetaan Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Setiap kecamatan Kota Tanjungpinang memiliki Daya Tarik Wisata (ODTW) yang dapat Putri Fistyaning Army (Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Norma. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 dipetakan sebagai berikut. Tabel 4. 3 Pemetaan Daya Tarik Wisata Kecamatan Daya Tarik Wisata Tanjungpinang Barat Kampung Iklim Bukit Cermin,Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang Kota Klenteng Gerbang Neraka. Mangrove sungai ular. Vihara Dharma Sasana,Pulau Penyengat. Tepi Laut. Gedung Gonggong Bukit Bestari Tanjung siambang, tanjung Tanjungpinang Timur Mangrove Panglima Bulang. Vihara Avalokitesvara Graha Sumber: Pengolahan Data Untuk mengetahui current situation dari Daya Tarik tersebut, penulis melakukan analisis SWOT secara kolektif terhadap yang di dalamnya terdapat unsur pengembangan wisata menurut Cooper, yaitu (Atractions. Amenities. Access. Ancillary Servic. Tabel 4. 4 Analisis SWOT Kekuatan Eo Keramahtamahan penduduk Eo Komitmen Kuat dari Pemerintah Eo Eo Kelemahan Eo Terbatasnya SDM dan kelembagaan yang kompeten terutama di bidang pengetahuan destinasi era new normal Kawasan yang berkembang Eo Minimnya data dasar atraksi wisata Keanekaragaman budaya Eo Rencana detail pengembangan wisata di era new normal Eo Terbatasnya akses dan petunjuk jalan Eo Terbatasnya anggaran Peluang Eo Dekat dengan kawasan pariwisata Lagoi Eo Potensi keragaman Produk Eo Berkembangnya ekowisata mangrove Eo Semakin banyaknya wisatawan domestik Ancaman Eo Potensi konflik dengan kelembagaan yang dijadikan wilayah ODTW Eo Oknum penduduk yang apatis dan skeptic terhadap keadaan Eo Semakin banyak produk yang sama dengan pesaing Eo Semakin tingginya penyebaran wabah Covid-19. Eo Menurunnya daya beli wisatawan Sumber: Pengolahan Data Putri Fistyaning Army (Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Norma. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. Hasil analisa SWOT tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa analisa, antara lain: Analisa S-O Bekerjasama dengan kawasan pariwisata Lagoi untuk ikut mengembangkan ODTW dengan menonjolkan keanekaragaman budaya yang dimiliki Kota Tanjungpinang. Kawasan ekowisata mangrove dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata alternatif dari Kota Tanjungpinang. Analisa S-T Melakukan mediasi terhadap potensi konflik yang dapat terjadi, menyelenggarakan sosialisasi pariwisata di era new normal. Melakukan pendalaman terhadap pemetaan potensi masing-masing wilayah untuk menyikapi semakin banyaknya produk yang sama dengan pesaing. Analisa W-O Mengadakan pelatihan terhadap kelembagaan dari pengelola wisata tentang potensi Membuat daftar atraksi wisata dan calendar of event dari setiap wilayah kelompok sadar wisata yang ada di Tanjungpinang. Analisa W-T Diperlukannya kelembagaan pariwisata yang lebih kreatif dalam mengelola ODTW agar sesuai dengan standar protokol kesehatan, membangun akses jalan dan petunjuk arah menuju ODTW. Memaksimalkan kualitas daripada kuantitas dari potensi wisata di setiap ODTW. Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang di Era Normal Berbagai macam upaya yang dilakukan dalam mengembangkan wisata Kota Tanjungpinang dapat diketahui berdasarkan wawancara antara peneliti dengan informan penelitian. Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang di era Pandemi ini didasarkan pada prinsip Economically Viable dimana upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kota Tanjungpinang. Social Acceptable dimana upaya tersebut dapat terjalin keadilan social dan persahabatan antar sesama dan Environmentally sustainable dimana upaya tersebut juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kebersinambungan. Upaya-upaya tersebut antara lain: Mengadakan Sosialisasi Program Standarisasi Protokol Kesehatan Dikutip dari gerbangkepri. com Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang menjelaskan bahwa: AuTrust atau Kepercayan merupakan hal yang paling penting di dunia pariwisata, kepercayaan ini harus diperoleh dari kedua belah pihak dan saling menguntungkan satu sama lain. Ay . Dari Kutipan tersebut menunjukan bahwa diperlukan kerjasama yang terintegrasi dari berbagai pihak untuk membuat wisatawan yakin dan percaya terhadap komponen kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan. Komponen tersebut tentunya adalah komponen yang sudah terstandarisasi nasional, standar tersebut dirangkum di dalam satu program yang bernama program CHSE (Clean. Health. Safety and Environmen. Sasaran dari program ini adalah seluruh pelaku usaha pariwisata yang terdiri dari kelompok sadar wisata dan pengelola wisata dari seluruh kecamatan Kota Tanjungpinang, dari program ini ODTW yang lolos penilaian standarisasi akan diberi sertifikat AuI Do CareAy . Ruang lingkup dari CHSE mencakup: Putri Fistyaning Army (Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Norma. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Kebersihan Mencuci tangan memakai sabun/handsanitizer Ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun Disinfeksi mandiri Bebas Vektor dan binatang pembawa penyakit Pembersihan dan kelengkapan toilet bersih Tempat sampah bersih Kesehatan Pengaturan jarak aman Tidak menyentuh bagian wajah,mata,hidung Pemeriksaan suhu tubuh Penyediaan APD ketika diperlukan Menerapkan etika makan dan minum Perlengkapan kesehatan sederhana Ruang publik dengan sirkulasi udara yang baik Penanganan pengunjung dengan gangguan kesehatan Keselamatan Prosedur penyelamatan diri dari bencana Ketersediaan kotak P3K Ketersediaan alat pemadam kebakaran Ketersediaan titik kumpul dan jalur evakuasi Memastikan alat elektronik dalam kondisi mati ketika meninggalkan ruangan Media dan mekanisme komunikasi penanganan kondisi darurat Lingkungan Penggunaan perlengkapan dan bahan ramah lingkungan Pemanfaatan air dan sumber energy secara efisien, sehat demi menjaga keseimbangan Pengolahan sampah dan limbah cair dilakukan secara tuntas,sehat , dan ramah Kondisi lingkungan sekitar asri dan nyaman Pemantauan dan evaluasi penerapan panduan dan SOP pelaksanaan Kebersihan. Kesehatan. Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan Berdasarkan informasi yang telah didapatkan Pelaksanaan sosialisasi ini sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan hotel, restoran dan pengelola wisata yang terdapat di keempat kecamatan Tanjungpinang tersebut. Setelah proses sosialisasi ini selesai, dilakukan proses penilaian terhadap kriteria standar CHSE tersebut. Dari Hasil penilaian asesor, hanya terdapat satu destinasi yang telah mendapatkan sertifikat CHSE, yaitu ODTW Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dengan nomor sertifikat I do Care IL. 02/3197/M-K/2020 dan mendapatkan kategori penilaian AuMemuaskanAy. Pengembangan Kapasitas SDM dan Kelembagaan Putri Fistyaning Army (Upaya Pengembangan Wisata Kota Tanjungpinang Sebagai Daya Tarik Wisata di Era New Norma. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. Maret 2021, pp. Berdasarkan informasi dari informan minimnya agenda pariwisata yang bisa dilakukan dimanfaatkan dengan Pengembangan Kapasitas SDM dan Kelembagaan pengelola wisata, dalam hal ini adalah Pokdarwis diwujudkan dengan rangkaian pelatihan dan pendampingan yang diselenggarakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Program ini diselenggarakan untuk kesiapan kapasitas SDM dan Kelembagaan jika arus kedatangan wisatawan telah meningkat kembali. Berdasarkan data yang didapatkan dari laporan pendampingan pelatihan tersebut kendala awal dalam tata kelola destinasi wisata Kota Tanjungpinang adalah pemahaman dasar kelembagaan secara administratif dan prosedural, program pengembangan kapasitas kelembagaan ini mengambil empat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. Penyelenggaraan Event di Era New normal Dari hasil wawancara, penyelenggaraan event tetap dilakukan melalui beberapa cara yaitu dengan live streaming atau event tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Beberapa event yang telah terselenggara antara lain: Tabel 4. 5 Analisis SWOT Nama Event Tanggal Kisah dan Aksi Joget Dangkong Mak Dara 7 Februari 2020 Seminar Daring Warisan Budaya Pulau Penyengat 30 Juni 2020 Streaming Sembang Semase 27 Juni 2020 Pentas Seni Virtual 28 Juni 2020 Sumber: http://disbudpar. Penutup Upaya pengembangan Objek Daya Tarik Wisata Kota Tanjungpinang di era new normal ini telah dilakukan pemerintah daerah khususnya Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tanjungpinang secara maksimal, mulai dari sosialisasi standard protokol kesehatan yang dinamakan CHSE. Pelatihan dan Pendampingan kelembagaan pengelola wisata, dan penyelenggaraan event secara virtual, upaya ini dilakukan untuk mengedukasi kesiapan para pelaku pariwisata dan masyarakat sehingga ketika situasi pariwisata kembali meningkat, semua pihak sudah siap untuk menghadapi era new normal dan tetap sejalan dengan teori pengembangan yang dikemukakan oleh Paturusi yaitu Economically Viable. Social Acceptable, dan Environtmentally sustainable. Rekomendasi yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah: Perlunya analisis IFAS dan EFAS pada penelitian selanjutnya untuk mengetahui bobot dan peringkat dari masing-masing faktor internal dan eksternal agar dapat dirumuskan strategi pengembangan secara generik pada Objek Daya Tarik Wisata. Perlunya Sosialisasi dan Pelatihan kepada masyarakat mengenai digitalisasi pelayanan wisata di era new normal. Referensi