PENGARUH PENAMBAHAN TENS PADA TERAPI LATIHAN TERHADAP PENINGKATAN LINGKUP GERAK SENDI LUTUT PASKA OPERASI FRAKTUR FEMUR 1/3 DISTAL THE EFFECT OF ADDITIONAL TENS IN EXERCISE THERAPY ON INCREASING KNEE JOINT RANGE OF MOTION AFTER DISTAL 1/3 FEMUR FRACTURE SURGERY Riani Baiduri Siregar1*. Rudi Purwana2. Heri Saputra3 13Program Studi Fisioterapi Institut Kesehatan Helvetia. Indonesia 2Program Studi Keperawatan Institut Kesehatan Helvetia. Indonesia Koresponden : 1*rianisiregar17@gmail. Abstrak Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta kemajuan zaman, baik dalam bidang pertanian, bidang kebudayaan dan juga tidak ketinggalanpula dalam bidang kedokteran untuk memberikan pertolongan terhadap penderita. Fisioterapi merupakan salah satu cabang dalam ilmu kedokteran mempunyai peranan yang sangat pentingdalam upaya pencegahan dan pengobatan terhadap suatu kelainan atau penyakit agar supaya penderita dapat memenuhi kebutuhannya sendiridan dapat mengerjakan pekerjaannya sendiri tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Untuk mengetahui pengaruh penambahan tens pada terapi latihan terhadap peningkatan lingkup gerak sendi lutut paska operasi fraktur femur 1/3 distal. Penelitian dengan paired sample t test pada 14 sample di RSI Ibnu Sina Pekanbaru. Data hasil uji analisis untuk membandingkan rata Ae rata . dari dua ampel yang berbeda yaitu rata Ae rata . dari kelompok perlakuan . enambahan tens pada terapi latiha. dan kelompok control ( terapi latiha. untuk mengetahui perbedaan efek penambahan tens pada terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal dengan menggunakan independent sample t test ditemukan bahwa nilai p = 0,00 . < 0,. yang berarti ada perbedaan yang bermakna dari penambahan tens pada terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal penambahan tens pada terapi latihan memberikan efek peningkatan LGS lutut femur 1/3 distal. Kata Kunci: Lingkup Gerak Sendi (LGS) ,Tens. Terapi Latiha. Abstract -in line with the development of science and technology and the progress of the times, both in the fields of agriculture, culture and also in the field of medicine to provide assistance to sufferers. Physiotherapy is a branch of medical science that has a very important role in efforts to prevent and treat ailments. disorders or diseases so that sufferers can meet their own needs and can do their own work without needing help from others. To determine the effect of adding tens in exercise therapy on increasing the range of motion of the knee joint after distal 1/3 femur fracture surgery. Research using paired sample t test on 14 samples at RSI Ibnu Sina Pekanbaru. Data analysis test results to compare the average . of two different samples, namely the average . of the treatment group . dding tens in exercise therap. and the control group . xercise therap. to determine the difference in the effect of adding tens in exercise therapy on the increase in LGS of distal 1/3 femur fracture knees using the independent sample t test it was found that the value of p = 0. < 0. which means there is a significant difference from the addition of tens in exercise therapy to the increase in LGS of 1st femur fracture knees The distal 3/3 addition of tens in exercise therapy has the effect of increasing LGS of the distal 1/3 femur knee. Keywords: Joint Range of Motion (LGS). Tens. Exercise Therapy Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 PENDAHULUAN Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta kemajuan zaman, baik dalam bidang pertanian, bidang kebudayaan dan juga tidak ketinggalanpula dalam bidang kedokteran untuk memberikan pertolongan terhadap penderita dan Fisioterapi merupakan salah satu cabang dalam ilmu kedokteran mempunyai peranan yang sangat pentingdalam upaya pencegahan dan pengobatan terhadap suatu kelainan atau penyakit agar supaya penderita dapat memenuhi kebutuhannya sendiridan dapat mengerjakan pekerjaannya sendiri tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Fraktur femur 1/3 distal suatu kerusaknya kontinuitas tulang femur pada sepertiga distal bagian kanan yang di sebabkan oleh trauma secara langsung maupun tidak langsung. Tulang yang mengalami fraktur biasanya diikuti kerusakan jaringan disekitarnya seperti ligamen, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan. Tulang paha atau femur menjadi tulang utama kaki. Tidak hanya itu, femur juga berfungsi untuk menopang berat tubuh pada kaki. Tulang ini termasuk dalam golongan tulang yang unik karena mampu menopang tubuh ketika membawa beban berat. Fraktur suatu ke adaan patahan pada hubungan kontinuitas struktur tulang. Fraktur dapat terjadi pada semua bagian tubuh salah satunya adalah fraktur femur 1/3 distal yaitu suatu patahan yang mengenai 1/3 bagian bawah tulang paha. Fraktur bisa membuat ganguan atau kelainan dapat mengakibatkan orang mengalami gangguan gerak dan fungsi sehingga mengakibatkan tirah baring yang lama di Rumah Sakit oleh karena gangguan Hal ini dapat menimbulkan berbagai pengaruh negative pada pasien. Missal nya pada pasien yang mengalami gangguan pada tulang. Apabila terlalu lama tirah baring setelah menjalani operasi akan mengakibatkan timbulnya gangguan oleh karena luka operasinya, juga rasa nyeri serta bengkak yang mana hal ini akan mengakibatkan kekakuan sendi, penurunan kekuatan otot dan mungkin juga atropi otot serta gangguan fungsional apabila dibiarkan dalam jangka waktu yang lama. Semakin bertambahnya jumlah penduduk akan mengakibatkan bertambah ketatnya persaingan hidup dalam masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehingga akan meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerjadan trauma- trauma lainnya. Salah satu kondisi yang cukup banyak terjadi akibat permasalah adalah adanya fraktur pada tulang femur dan ini bisa menyebabkan ganggu ROM Lingkup gerak sendi (ROM) adalah merupakan istilah yang umumnya dipakai di dunia medis dan olah raga dimana dapat diartikan sebagai jarak yang mampu dilakukan antara posisi fleksi dan posisi ekstensi dalam gerakan sendi atau group otot, atau lebih tepatnya pengukuran jarak. Juga sering dipakai dalam istilah terapi latihan untuk penambahan jarak tersebut diatas, dimana dilakukan pengukuran untuk fleksi, ekstensi pada bidang sagital, abduksi, adduksi pada bidang frontal maupun rotasi pada bidang transversal. Cara mengukur Luas Gerak Sendi (ROM) dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara passive ROM dimana orang lain atau terapis yang menggerakkan sendi dan active ROM adalah pasien sendiri yang menggerakkan sendinya. Adapun cara penulisannya memakai standart ISOM (International Standart Orthopaedic Measuremen. Semua gerakan sendi diukur dari NZSP (Neutral Zero Starting Positio. Kebanyakan posisi Ae posisi tersebut pada posisi anatomis, dimana tubuh tegak, anggota atas lurus disamping badan dimana lengan bawah supinasi dan telapak tangan menghadap ke depan. Perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal bisa menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi. Penurunan lingkup gerak sendi yang terbesar terjadi pada cervical dan trunk, khususnya pada gerakan ekstensi, lateral fleksi dan rotasi. Pasien yang telah dilakukan operasi seringkali dapat menimbulkan permasalahan yaitu adanya luka operasi pada jaringan lunak dapat menyebabkan proses radang akut dan adanya oedema dan fibrosis pada otot sekitar sendi yang mengakibatkan keterbatasan gerak sendi terdekat, fraktur menyebabkan timbulnya rasa nyeri, oedema pada daerah tungkai bawah serta penurunan fungsi otot hamstring dan otot quadriceps yang menyebabkan adanya keterbatasan gerak daerah sendi lutut. Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 Terapi latihan adalah modalitas yang tepat untuk memulihkan fungsi bukan saja pada bagian yang mengalami cidera tetapi juga pada keseluruhan anggota gerak tubuh. Terapi latihan antara lain static contraction yaitu untuk mengurangi oedem pada tungkai yang disebabkan proses radang karena luka incisi, passive exercise untuk memelihara luas gerak sendi, active exercise untuk memelihara luas gerak sendi dan meningkatkan kekuatan otot. Selain itu terapi latihan berupa transfer, posisioning dan ambulasi pasien untuk meningkatkan kemampuan aktivitas mandiri pasien . Pasien yang mengalami keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri. Keterbatasan ini dapat diidentifikasikan pada klien yang sebagian atau extremitas mempunyai keterbatasan gerakan atau klien yang mengalami immobilisasi seluruhnya. Ketika dilakukan intervensi pada klien yang mengalami gangguan mobilisasi aktual atau potensial maka fisioterapi menyusun intervensi yang langsung mempertahankan mobilisasi sendi maksimum. Salah satu intervensi fisioterapi adalah latihan rentang gerak dan TENS. TENS (Trancutanneous Electrical Nerve Stimulatio. merupakan suatu cara penggunaan energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit, untuk mendapatkan efek analgesic dan ditemukan sebagai suatu alat efektif untuk memodulasi nyeri. METODE Penelitian ini dilaksanakan di Klinik Fisioterapi Physioroom, yang dilaksanakan pada bulan desember 2019 sampai bulan februari 2020. Jenis penelitian adalah quasi experimental, digunakan untuk memecahkan masalah dengan memberikan perlakuan pada obyek penelitian dan monitoring perubahan berupa peningkatan LGS diukur dan dievaluasi dengan menggunakan alat goniometri, kemudian hasilnya dianalisa antara kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II sebelum dan sesudah perlakuan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita fraktur femur 1/3 distal yang mendapatkan tindakan fisioterapi di rawat inap Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Pekanbaru yang berusia 20- 60 tahun. Pre- test Post Ae test Perlakuan Kelompok 1 Kelompok 2 Sampel penelitian diambil secara purposive sampling dari populasi pasien melalui pemeriksaan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah sample sebanyak 14 orang. Dari 14 orang tersebut 7 orang dimasukkan dalam kelompok perlakuan I dan 7 orang lainnya dimasukkan kedalam kelompok perlakuan II. Pengambilan sample dilakukan dengan cara pemeriksaan secara lengkap dan kriteria inklusi meliputi pasien rawat inap yang bersedia menjadi objek penelitian, 20 Ae 60 tahun, lakilaki dan perempuan tanpa komplikasi penyakit penyerta lainnya, tidak menunjukkan tanda- tanda inflamasi aktualitas tinggi, tidak terdapat deformitas sendi lutut atau extermitas bawah, telah di diagnosa ada keterbatasan sendilutut paska operasi fraktur femur 1/3 distal, mendapatkan perlakuan setiap hari. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang menolak menjadi objek penelitian, menderita komplikasi penyakit penyerta lain, ada deformitas sendi lutut atau ektermitas bawah, menunjukkan tanda- tanda inflamasi aktualitas tinggi, telah menderita kekakuan sendi lutut lebih dari satu bulan. HASIL Penelitian dilakukan terhadap 14 orang subjek penelitian yang diberikan terapi latihan terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada fraktur femur 1/3 distal sesuai dengan waktu dan frekuensi yang telah ditentukan. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa ada efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal yaitu ditunjukkan dengan nilai p = 0,05 dimana p < 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak ( H. dan hipotesis alternative (H. Dengan ditolaknya Ho berarti ada efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Nilai t hitung Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 bertanda negative (- 4,. yang berarti LGS lutut sebelum melakukan terapi latihan lebih rendah dari pada LGS lutut setelah melakukan terapi. Nyeri di Daerah Lutut Kiri Setelah mendapat terapi latihan dengan metode hold relax pada kondisi post orif fraktur femur 1/3 distal sinistra nyeri berkurang. Derajat nyeri diukur dengan menggunakan skala VAS dan didapatkan hasil penurunan nyeri diam, nyeri tekan, dan nyeri gerak dari T1-T6. Pada T1, terlihat adanya nyeri yang cukup besar pada pasien. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya proses peradangan akut yang pada proses tersebut akan dihasilkan zat-zat kimiawi yang membuat nyeri seperti histamine, bradikinin maupun prostagladin. Dengan latihan seperti gerakan isometric maupun isotonik, maka dapat meningkatkan aliran darah pada area tersebut sehingga produk-produk tersebut dapat diangkut oleh pembuluh darah balik dan nyeri dapat menurun. Spasme/hipertonus otot yang terus-menerus dapat menimbulkan nyeri karena peningkatan ketegangan jaringan dan hipoksia otot. Pada kasus ini, terjadi spasme pada otototot sekitar fraktur seperti hamstring dan quadriceps. Dengan terapi latihan yang berupa gerak pasif, gerak aktif dan hold relaxed, maka sarcomer otot yang memendek akibat spasme dapat teregang kembali dan otot menjadi lebih rileks dan terpelihara fungsinya. ROM (Range of Matio. untuk mengetahui LGS sendi panggul dan sendi lutut. Pada sendi panggul diukur pada gerak fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi, sedangkan pada sendi lutut adanya keterbatasan gerak fleksi. dan ekstensi. ROM (Range of Matio. untuk mengetahui LGS sendi panggul dan sendi lutut. Pada sendi panggul diukur pada gerak fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi, sedangkan pada sendi lutut adanya keterbatasan gerak fleksi, dan ekstensi Pada pasien ini diperoleh informasi yaitu untuk gerakan sendi panggul pasif untuk tungkai kanan S= 0-0-25. F= 0-0-15 dibandingkan tungkai yang sehat S= 0-0-125. F= 45-0-15, untuk gerakan aktif sendi panggul kanan diperoleh hasil gerakan bidang S= 0-0-5. F= 0-0-15 dibandingkan tungkai yang sehat hasil S= 0-0-120. F= 45-0-15. Sedangkan untuk gerakan sendi lutut diperoleh hasil sebagai berikut untuk gerakan pasif bidang S= 00-35, dibandingkan yang sehat diperoleh hasil S= 0-0-130 sedangkan untuk gerakan aktif diperoleh hasil S=0-0-15 dibandingkan yang sehat S= 0-0-120 jadi hasil dari pemeriksaan LGS didapatkan hasil bahwa LGS sendi panggul dan lutut kanan mengalami keterbatasan. Pada pemeriksaan MMT ini penting dilakukan pada kasus ini karena untuk membantu menegakkan diagnosa fisioterapi, menentukan jenis terapi atau alat bantu yang akan diberikan, menentukan prognosis pasien, serta sebagai bahan untuk evaluasi. Untuk mengetahui MMT pada Hip. Knee, dan Ankle diantaranya sebagai berikut : Manual Muscle Testing ini dilakukan dengan cara manual. Sendi panggul otot yang ditest adalah otot penggerak fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi. Sendi lutut otot yang ditest adalah otot pengerak flexi, extensi. Sendi ankle yang ditest adalah otot penggerak dorsi fleksi, plantar fleksi, inversi dan eversi. Otot yang ditest dinyatakan dalam bentuk angka 0 sampai dengan 5, yang telah diuraikan pada bab i pada pemeriksaan ini perlu diperhatikan posisi penderita dalam melakukan gerakan dan letak fiksasi. Pada penderita ini diperoleh informasi penurunan kekuatan otot dari grup penggerak sendi panggul, sendi lutut, sendi ankle sebagai berikut: . Fleksi dan ekstensi hip dengan nilai otot 3 yang artinya, subyek data bergerak sedikit dengan tanpa melawan gravitasi, . Abduksi, adduksi hip dengan nilai otot 3 dengan keterangan sama, . Fleksi, ekstensi knee nilai otot 2 yang artinya bergerak dengan LGS tidak penuh tanpa melawan gravitasi, . Ankle nilai otot 2 dengan keterangan sama. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasar Jenis Kelamin Valid Laki-laki Perempuan Total Missing System Total Frequency Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 Percent Valid Percent Cumulative Percent Deskripsi Subjek Penelitian Berdasar Penggolongan Usia Valid Missing 20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-60 tahun Total System Frequency Percent Total Valid Percent Cumulative Percent Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data dari sampel yang diambil memiliki distribusi normal atau tidak. Pada pengujian ini digunakan saphiro wilk test pada program SPSS Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Shapiro-Wilk Sig. ROM Lilliefors Significance Correction Statistic Sig. Test of Homogeneity of Variances Nilai_ROM Levene Statistic Sig. ANOVA Nilai ROM Sum of Squares Mean Square Sig. Between Groups Within Groups Total Untuk menguji hipotesis 1 dalam penelitian ini, maka digunakan uji paired sampel t test pada program computer SPSS 17,0 for windows yaitu untuk mengetahui apakah ada efek penambahan tens pada terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal sebelum dan sesudah diberikan treatment. Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Std. Std. Error Mean Deviation Mean x1 - -13. Pair Lower Upper Sig. -taile. Menentukan hipotesis Ho : AA1 = 0 artinya tidak ada efek tens dan terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Ho : AA1 O 0 artinya ada efek tens dan terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Dengan menggunakan taraf signifikan () = 0,05 Kriteria pengujian Ho diterima jika p > 0,05. Ho ditolak jika p < 0,05 Ho diterima0,05 Hasil pengujian diperoleh t hitung = - 4,3 . p = 0,05 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian, maka dapat diketahui bahwa nilai p = 0,05 yang berarti p < 0,05 sehungga hipotesis nol ditolak ( H. dan hipotesis alternative (H. Dengan ditolaknya Ho berarti ada efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Nilai t hitung bertanda negative (-4,. yang berarti LGS lutut sebelum melakukan terapi latihan lebih rendah dari pada LGS lutut setelah melakukan terapi latihan. Untuk mengetaui apakah terdapat perbedaan efek penambahan tens pada terapi latihan dengan terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Independent Samples Test Levene's Test Equal Equal variances not Sig. t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference Std. Mean Error Sig. - Differen Differen Lower Upper - 7. Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 pApabila dilihat dari besarnya nilarata Ae rata . dari kedua kelompok responden setelah dilakukan intervensi, dari hasil test independent baik pada kelompok perlakuan 1 maupun perlakuan kelompok 2 maka secara statistika terdapat perbedaan yang bermakna. Dengan hasil yang signifikan yaitu 0,02 ( 0,02 < 0,05 ) yang berate ada efek penambahan Tens pada Terapi Latihan untuk meningkatkan LGS lutut fraktur femur 1/ 3 distal. PEMBAHASAN Efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal Penelitian dilakukan terhadap 14 orang subjek penelitian yang diberikan terapi latihan sesuai dengan waktu dan frekuensi yang ditentukan. Data hasil analisis ditemukan bahwa tidak ada efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut 1/3 distal, yaitu ditunjukkan dengan nilai p = 0,47 dimana p > 0,05, sehingga hipotesis nol (H. diterima dan hipotesis alternatif (H. Tujuan terapi latihan adalah kegiatan fisik yang diberikan atau diajarkan kepada seseorang untuk meningkatkan kemampuan dalam kebebasan bergerak dan fungsi yang fungsi didasarkan pada anatomi, fisiologi, kinesiology, prosedur pemeriksaan medis serta ilmu patologi . isner & Colby, 2. Efek tens pada terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Penelitian dilakukan terhadap 14 orang subjek penelitian yang diberikan terapi latihan terhadap peningkatan kemampuan fungsional pada fraktur femur 1/3 distal sesuai dengan waktu dan frekuensi yang telah ditentukan. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa ada efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal yaitu ditunjukkan dengan nilai p = 0,05 dimana p < 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak ( H. dan hipotesis alternative (H. Dengan ditolaknya Ho berarti ada efek terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Nilai t hitung bertanda negative (- 4,. yang berarti LGS lutut sebelum melakukan terapi latihan lebih rendah dari pada LGS lutut setelah melakukan terapi latihan. Perbedaan efek penambahan tens pada terapi latihan dengan terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut 1/3 distal. Berdasarkan data dari hasil penelitian pada kelompok perlakuan dan kelompok control bahwa terjadi peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal setelah diberikan intervensi. Data hasil uji analisis untuk membandingkan rata Ae rata . dari dua ampel yang berbeda yaitu rata Ae rata . dari kelompok perlakuan . enambahan tens pada terapi latiha. dan kelompok control ( terapi latiha. untuk mengetahui perbedaan efek penambahan tens pada terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal dengan menggunakan independent sample t test ditemukan bahwa nilai p = 0,00 . < 0,. yang berarti ada perbedaan yang bermakna dari penambahan tens pada terapi latihan terhadap peningkatan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal. Dengan pemberian TENS akan megaktifkan serabut saraf bermyelin tebal dan tipis pada daerah lutut dan otot-otot penggerak flexi dan ektensi. Lalu terjadi stimulasi yang akan mengakibatkan terlepasnya substansi P dan neoron sensoris dan akan menimbulkan vasodilatasi ateriole sehingga pengangkutan matera yang memberi pengaruh terhadap nyeri, terjadi peningkatan elastisitas jaringan sehingga nyeri berkurang. KESIMPULAN Ada efek TENS dan Terapi Latihan terhadap peningkatan LGS sendi lutut paska operasi fraktur femur 1/3 distal. Ada beda efek antara penambahan TENS pada Terapi Latihan dengan Terapi Latihan terhadap peningkatan LGS lutut pada paska operasi fraktur femur 1/3 distal. Journal Of Nursing Update. Volume 5 Nomor 2. Desember 2023 Keterbatasan penelitian ini antara lain : . keterbatasan waktu penelitian sehingga jumlah sampel yang diambil relative sedikit. tidak ada pengawasan khusus terhadap aktifitas mahasiswa/I diluar kegiatan dalam penelitian ini dan Perlu penelitian yang lebih lanjut dalam penelitian sampel dan metode penelitian yang baik sehingga akan didapati hasil penelitian yang baik pula. Bagi sejawat Fisioterapi, alangkah baiknya menerapkan penambahan tens pada terapi latihan dalam usaha untuk meningkatkan LGS lutut fraktur femur 1/3 distal sebagai salah satu tujuan intervensi yang diberikan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis terutama mengucapkan terima kasih kepada kepala klinik Physioroom dan staf Ae staf yang Dan tak lupa juga terima kasih untuk tim sejawat fisioterapi yang sudah membatu dan kepada Masyarakat, mahasiswa/I istitut kesehatan helvetia dalam melancarkan kegitan penelitian ini selama berapa bulan ini. DAFTAR PUSTAKA