JURNAL SURYA Jurnal Media Komunikasi Ilmu Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Lamongan Halaman link: http://jurnal. Studi Kasus Penerapan Batuk Efektif pada Pasien TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Nita (Case Study of Effective Cough Implementation in Pulmonary TB Patients in the Nita Community Health Center Working Are. Frans Loro Djara Prodi Sarjana Keperawatan. Universitas Nusa Nipa. Indonesia ARTIKEL INFO ABSTRAK Proses Artikel Diterima : 20 Januari 2023 Direvisi : 10 April 2023 Dipublikasikan: 12 April 2023 Pendahuluan: Keluarga merupakan kumpulan beberapa orang yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, peran keluarga sangat diperlukan dalam membantu proses penyembuhan penyakit tuberkulosis paru. tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan batuk efektif pada pasien tuberkulosis. Koresponden penulis Frans Loro Djara fransdjara@yahoo. Prodi Sarjana Keperawatan. Universitas Nusa Nipa. Indonesia Metode: Analisis studi kasus digunakan dalam penelitian ini. dua responden digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan intervensi sedangkan satu responden sisanya tidak. Penelitian ini dianalisis dengan deskriptif. Cara mensitasi Djara. Studi Kasus Penerapan Batuk Efektif pada Pasien TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Nita. Media Komunikasi Ilmu Kesehatan, 15. , 16Ae21. https://doi. org/https://doi. org/10. 38040/js. Hasil: Setelah dilakukan intervensi batuk efektif pada pasien tuberkulosis menunjukkan hasil yang efektif, dibandingkan yang tidak mendapatkan intervensi. Kesimpulan: Intervensi batuk efektif dinilai aman dan meningkatkan kemampuan pasien untuk mengeluarkan dahak. Kata Kunci: partisipasi keluarga. tingkat pengetahuan. pencegahan penularan. ABSTRACT Introduction: The family is a group of people consisting of father, mother and children, the role of the family is very necessary in helping the healing process of pulmonary The aim of this study was to determine the role of effective coughing in tuberculosis patients. Methods: Case study analysis was used in this research. respondents were used in this study to receive intervention while the remaining one respondent did not. This research was analyzed descriptively. Results: After effective cough intervention, tuberculosis patients showed effective results, compared to those who did not receive the intervention. Conclusion: Effective cough intervention is considered safe and improves the patient's ability to expel phlegm. Keywords: family participation. knowledge level. SURYA Vol. No. April 2023 prevention. PENDAHULUAN Menurut World Health Organization (WHO) Tuberkolosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global. Berbagai upaya pengendalian sudah dilakukan, sehingga kejadian kematian akibat tuberkolosis telah diperkirakan masih menyerang 9,6 juta orang dan menyebabkan 1,2 juta kematian pada Pada tahun 2019 kasus TB di Indonesia diperkirakan sebanyak 845. kasus dengan insidensi 312 per 100. Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus terbesar kedua di dunia setelah India (World Health Organization, 2. Tuberculosis paru merupakan penyakit menular yang menyebar melalui udara tak kala batuk dan berdahak, dimana pada pemeriksaan dahaknya umumnya ditemukan BTA positif. Jika bakteri yang terhisap akan melewati pertahanan mukosilier saluran pernafasan dan masuk hingga alveoli, maka bakteri akan dihancurkan oleh makrofag. Tetapi jika bakteri tertangkap oleh makrofag yang lemah, maka bakteri akan berkembang biak dalam waktu 36 minggu (Muttaqin, 2. Pelayanan kesehatan khususnya TB paru tidak terlepas dari keterlibatan keluarga sebagai orang terdekat dengan pasien. Masalah kesehatan yang dialami oleh salah satu anggota keluarga dapat mempengaruhi anggota keluarga yang lain (Kemenkes RI. Tahu 2022 data per bulan September untuk cakupan penemuan dan pengobatan TBC sebesar 39% . arget satu tahun TC 90%) dan angka keberhasilan pengobatan TBC sebesar 74% . arget SR 90%). AuUntuk mendukung eliminasi TBC tersebut, perlu adanya peningkatan dan pembaharuan manajemen program TBC bagi tenaga kesehatan baik dokter, mahasiswa kedokteran, perawat, bidan dan pemegang program dilayanan berdasarkan hasil penelitian terkini,Ay ujar Dirjen Maxi. SURYA Vol. No. April 2023 Jumlah penderita Tuberculosis (TBC) di NTT, periode januari hingga agustus tahun 2021 mencapai 2. 765 kasus, jumalah tertinggi di kabupaten sikka dengan jumlah kasus 296 kasus, di ikuti oleh kabupaten lain. Berdasarkan data yang diperoleh pada tanggal 5 januari 2023 jumlah pasien TB Paru di UPT Puskesmas Nita berjumlah 13 orang yang tersebar di berbagai desa di wilayah kerja UPT Puskesmas Nita. Tuberculosis paru merupakan penyakit menular yang menyebar melalui udara tak kala batuk dan berdahak, dimana pada pemeriksaan dahaknya umumnya ditemukan BTA positif. Jika bakteri yang terhisap akan melewati pertahanan mukosilier saluran pernafasan dan masuk hingga alveoli, maka bakteri akan dihancurkan oleh makrofag. Tetapi jika bakteri tertangkap oleh makrofag yang lemah, maka bakteri akan berkembang biak dalam waktu 36 minggu (Muttaqin, 2. Infeksi tuberculosis diawali dengan penyebaran bakteri melewati percabangan bronkus dapat mengenai area paru. Biasanya gejala yang akan timbul pasien akan mengalami keluhan respiratoris seperti batuk, batuk berdarah, sesak, nyeri dada. Keluhan yang paling awal ditimbulkan adalah batuk. Batuk mula-mula nonproduktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah kerusakan jaringan (Muttaqin, 2. Sehingga paru-paru trakeal/faringeal. Terjadinya inflamasi pada saluran pernafasan dapat menyebabkan peningkatan produksi sekret dan bahkan akan menimbulkan pecahnya pembuluh darah jalan Peningkatan produksi sekret dapat menurunkan kemampuan perubahan frekuensi napas, perubahan pola napas, suara napas tambahan, dispnea, batuk yang tidak efektif dan lain-lain. Sehingga salah satu masalah yang muncul pada pasien tuberculosis paru yaitu ketidaefektifan bersihan jalan nafas (Muttaqin, 2. Peran keluarga sebagai motivator sudah Keluarga sebagai PMO berperan memberikan motivasi atau dorongan agar pasien termotivasi untuk menjalani pengobatan sesuai aturan hingga sembuh. Bentuk peran yang diberikan adalah berupa dukungan moral dan harapan kesembuhan bagi pasien. PMO yang akan mengawasi pasien dalam proses pengobatan, memberikan edukasi kepada pasien, memberi motivasi, mengantar pasien menjemput obat, bahkan saat pasien tidak mampu datang menjemput obat atau mengantar sputum untuk pemeriksaan follow up pengobatan (Notoatmodjo, 2. Keluarga dapat berpartisipasi membantu Peran keluarga sangatlah penting dalam pemeriksaan ulang sputum, karena hal inilah dapat menentukan sejauh mana keberhasilan pengobatan bagi pasien TB paru. Mengingatkan pemeriksaan ulang sputum dilakukan agar adanya ketepatan jadwal pemeriksaan ulang oleh pasien TB Paru. Peran mengingatkan pemeriksaan ulang juga dilakukan dengan mengantarkan sputum untuk pemeriksaan jika pasien tidak mampu (Nugroho, 2. Bersadarkan latar belakang diatas dan hasil pengkajian peneliti tertarik untuk mendalami pengetahuan tentang kasus ini memalului desain studi kasus yang berjudul Aubersihan jalan nafas tidak efektif dengan Teknik batuk efektif pada pasien Tubercolosis Paru. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam karya deskriptifdengan rancangan studi kasus. Menurut Nursalam deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat gambaran tentang keadaan klien secara objektif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang SURYA Vol. No. April 2023 mengcakup pengkajian satu unit penelitian secara intensif misalnya satu klien, keluarga. Rancangan studi kasus bergantung pada suatu keadaan, namun harus tetap memperhatikan factor penelitian waktu. Keuntungan yang besar dari rancangan ini meskipun jumlah didapatkan gambaran satu unit subjek secara jelas (Nursalam,2. Karya ilmiah akhir ini menjelaskan bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan batuk efektif dengan diagnose bersihan jalan nafas tidak efektif pada pasien Tubercolosis di wilayah kerja UPT Puskesmas Nita Kecamatan Nita, peneliti menggunakan dua respon dan membandingkan hasil dari intervensi batuk efektif yang telah di ajarkan. Pada penelitian ini peneliti mengambil 2 sample, dalam pemilihan sample peneliti tidak ambil secara acak tetapi dipilih berdasarkan kriteria yang telah di tetapkan sebelumnya dan ditanya kesediaanya dalam proses penelitian HASIL PENELITIAN Pengkajian Berdasarkan studi literatur ini di dapatkan hasil identitas pasien sebagai berikut: Tabel 1. Identitas klien Klien Pekerjaan Usia Pasien 1 Mahasiswa 20 tahun Pasien 2 Biarawan 38 tahun Berdasarkan hasil pengkajian diatas pasien 1 dengan umur 20 tahun berprofesi sebagai seorang mahasiswa, dan pasien 2 berprofesi sebagai seorang biarawan dan dengan umur 38 Diagnosis Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajan pada kasus diatas dapat di hasilkan dengan diagnosa keperawatan sebagai berikut: Tabel 2. Diagnosa Keperawatan berdasarkan Prioritas Klien Diagnosa keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan benda asing dalam jalan napas dibuktikan dengan tidak mampu batuk Ketidakpatuhan dengan lingkungan tidak terapeutik dibuktikan dengan perilaku tidak mengikuti program perawatan Daftar diagnose prioritas pada pasien 1 adalah bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif di definisikan ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten, pasien 2 ketidak patuhan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal. Intervensi Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian pada kasus di atas dapat disimpulkan intervensi keperawatan sebagai berikut: Tabel 3. Diagnosa Keperawatan berdasarkan Prioritas Pasien Intervensi Keperawatan Pasien 1 Observasi - Identifikasi kemampuan - Monitor adanya retensi - monitor tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan - monitor input dan output Edukasi - Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif - Anjurkan tarik napasdalam melalui hidung selama 4 detik, ditahan selama 2, detik, kemudiankeluarkan dari mulutdengan bibir mencucu . selama 8 detik - Anjurkan mengulangi Tarik napas dalamhingga 3 kali - Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ketiga SURYA Vol. No. April 2023 Pasien 2 Kolaborasi - Pemberian mukolitik atau ekspentoran, jika perlu. Observasi - Identifikasi - monitor tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan - monitor input dan output Edukasi - Jelaskan prosedur batuk efektif Kolaborasi - Pemberian mukolitik atau ekspentoran, jika perlu. Implementasi Implementasi dilakukan selama 3 hari, berdasarkan studi literatur ini di dapatkan hasil Implementasi sebagai berikut: Tabel 4. Implementasi Keperawatan Pasien Implentasi Keperawatan Pasien 1 1. Medentifikasi kemampuan Memonitor adanya retensi Memonitor tanda dan gejala infeksi saluran pernapasan. Memonitor input dan output Pasien 2 1. Medentifikasi kemampuan Memonitor input dan output Evaluasi Berdasarkan hasil pengkajian intervensi dan implementasi Evaluasi sebagai berikut: Tabel 5. Evaluasi Keperawatan Klien Evaluasi Keperawatan Klien 1 Masih ada sputum di jalan nafas, nashi bangun malam saat batuk. Klien 2 Masih batuk PEMBAHASAN Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada 2 orang pasien melalui pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, maka pada bab ini peneliti akan membahas mengenai kesenjangan antara teori dengan kenyataan yang ditemukan dalam perawatan pasien TB paru dengan intervensi Batuk evektifpada Ny. S dan Tn. B yang telah dilakukan pengkajian pada tanggal 5 januari dan telah dilakukan asuhan keperawatan mulai tanggal 6 Ae 8 januari 2023 desa nita wilayah kerja UPT Puskesmas Nita. Kecamatan Nita. Keluhan utama Berdasarkan pengkajian yang didapatkan pada Ny. S, pasien sedang batuk-batuk berdahak tetapi saat batuk dahaknya tidak keluar. Menurut peneliti keluhan utama pada kasus TB paru adalah pasien tidak mampu batuk secara efektif sehingga dahak yang adapada jalan nafas tidak bisa keluar saat batuk. Menurut Andarmoyo, . latihan batuk efektif merupakan cara untuk melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk secara efektif dengan tujuan untuk membersihkan laring, trachea, dan bronkiolus dari secret atau benda asing di jalan Berdasarkan pengkajian yang didapatkan pada Tn. B, pasien jarang batuk, saat batuk, batuknya tidak disertai dengan dahak. Menurut Rochimah, . batuk efektif mengandung makna dengan batuk yang benar, akan dapat mengeluarkan benda asing, seperti secret semaksimal mungkin. Bila pasien mengalami gangguan pernafasan karena akumulasi secret, maka sangat dianjurkan untuk melakukan latihan batuk efektif. Kesimpulan dari hasil pengkajian dari kedua pasien adalah pasien yang pertama berkepajangan dan belum mampu batuk efektif sehingga saat batuk dahaknya tidak keluar dan tertahan dilaring, sedangkan pada pasien kedua dengan keluhan batuk kering sesekali. Penulis berasumsi bahwa, fungsi afektif di dalam keluarga sangat berpengaruh pada penyakit kusta, dimana klien yang mengalami kusta membutuhkan dukungan kasih sayang anggota Tak hanya itu, disisi keluarga juga SURYA Vol. No. April 2023 kesembuhan klien. Apabila fungsi afektif tidak ada atau kurang baik, maka klien yang terkena kusta kondisinya semakin parah hingga dapat menimbulkan kecacatan. Menurut Friedman, . (Harnilawati, mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas Pernyataan tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh (Friedman. Dengan hasil pelayanan dan praktik kesehatan . ang mempengaruhi status kesehatan anggota keluarga secara individua. adalah fungsi keluarga yang paling relevan bagi perawat keluarga. Pasien 1 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan benda asing dalam jalan napas dibuktikan dengan tidak mampu batuk. Pasien 2 Ketidakpatuhan berhubungan dengan lingkungan tidak terapeutik dibuktikan dengan perilaku tidak mengikuti program perawatan Penulis ketidakpatuhan dicantumkan dalam diagnosa prioritas sebab pasien tidak mematuhi apa yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan. Intervensi pada pasien 1 dianjurkan untuk lakukan batuk efektif sehingga saat batuk efektif dapat membantu pasien untuk mengeluarkan secret yang ada di jalan nafas. Pada psien 2 intervensi yang diberikan iyalah batuk efektif sehingga membantu pasien agar tidak nyeri saat batuk. KESIMPULAN Setelah dilakukan interveni keperawatan maka didapatkan hasil adanya perbedaan keluhan. Ny. S mengatakan masih batuk berdahak daselalu bangun pada malam hari karena batuk, sedangkan Yn. B mengatakan batuk sudah berkurang dan batuk tidak berdahak. Intervensi keperawatan yang ada pada teori dan kasus nyata terdapat persamaan dan perbedaan, dimana rencana yang ada di setiap diagnosa keperawatan disesuaikan dengan keadaan klien serta sarana dan prasarana. DAFTAR PUSTAKA