Jurnal Menara Medika JMM 2025 https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK PEKERJA KONSTRUKSI TERHADAP CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE Puput Mar'atus Sholihah1. Yuswanto Setyawan2* Fakultas Kedokteran. Universitas Ciputra CitraLand CBD Boulevard. Made. Kec. Sambikerep. Surabaya. Jawa Timur 60219 e-mail : yuswanto_setyawan@yahoo. Artikel Diterima : 12 Mei 2025. Direvisi : 08 Agustus 2025. Diterbitkan: 5 September 2025 ABSTRAK Pendahuluan: Penyakit paru obstruktif kronis (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD) merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia, dengan beban penyakit yang semakin meningkat terutama pada kelompok pekerja berisiko tinggi. Pekerja konstruksi termasuk populasi yang rentan karena terpapar debu, polusi, dan faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok, di mana data WHO menunjukkan lebih dari 80% kasus COPD berkaitan langsung dengan paparan asap rokok. Di Indonesia, prevalensi merokok pada pekerja usia produktif, termasuk di sektor konstruksi, tetap tinggi, sehingga risiko terjadinya COPD semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan merokok dan kejadian COPD pada pekerja konstruksi di Sidoarjo, serta mengukur kekuatan dan arah hubungan tersebut berdasarkan nilai signifikansi dan koefisien korelasi. Metode: penelitian ini menggunakan desain cross-sectional deskriptif dengan metode purposive sampling, mengumpulkan data menggunakan Lung Function Questionnaire (LFQ), dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta uji Korelasi Spearman melalui SPSS pada 200 responden . perokok dan 100 bukan peroko. Hasil: penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dan kejadian COPD (ChiSquare, p < 0,. dengan nilai koefisien korelasi Spearman r = 0,426 yang termasuk kategori sedang dengan arah positif, menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas merokok, semakin besar risiko terjadinya COPD. Diskusi: Secara rinci, pekerja berusia 40Ae49 tahun mengalami gejala COPD 15% lebih sering dibanding kelompok usia lainnya, lama merokok 10Ae20 tahun meningkatkan risiko COPD sebesar 2238%, dan konsumsi lebih dari 5 batang rokok per hari meningkatkan risiko COPD sebesar 22,527,5% dibanding yang tidak merokok. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan spirometri sebagai alat ukur tambahan serta mempertimbangkan faktor genetik yang dapat memengaruhi kerentanan terhadap COPD. Kata Kunci : COPD, pekerja konstruksi, kebiasaan merokok Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 52 Jurnal Menara Medika JMM 2025 https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 ABSTRACT Introduction: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is one of the leading causes of death worldwide, with a growing burden particularly among high-risk occupational groups. Construction workers represent a vulnerable population due to their exposure to dust, pollution, and lifestyle factors such as smoking, with WHO data indicating that more than 80% of COPD cases are directly associated with tobacco smoke exposure. In Indonesia, the prevalence of smoking among the productive-age workforce, including those in the construction sector, remains high, thereby increasing the risk of COPD. Method: this study aimed to analyze the association between smoking habits and the incidence of COPD among construction workers in Sidoarjo, as well as to quantify the strength and direction of the relationship based on significance values and correlation coefficients. A descriptive cross-sectional design was employed with purposive sampling, utilizing the Lung Function Questionnaire (LFQ) for data collection, and statistical analysis was conducted using Chi-Square and SpearmanAos correlation tests via SPSS on a total of 200 respondents . smokers and 100 non-smoker. Results: revealed a significant association between smoking habits and COPD incidence (Chi-Square, p < 0. , with a SpearmanAos correlation coefficient of r = 0. 426, indicating a moderate positive relationship. meaning that higher smoking intensity is associated with a greater risk of COPD. Disscusion: Specifically, workers aged 40Ae49 years exhibited COPD symptoms 15% more frequently than other age groups, smoking duration of 10Ae20 years increased the risk by 2238%, and smoking more than five cigarettes per day increased the risk by 22. 5% compared to non-smokers. Future studies are recommended to incorporate spirometry as an additional measurement tool and to consider genetic factors that may influence individual susceptibility to COPD. Keywords: COPD, construction workers, smoking habits PENDAHULUAN Pekerja konstruksi merupakan istilah yang mencakup berbagai peran dalam industri properti, tetapi biasanya merujuk pada seseorang yang melakukan berbagai tugas konstruksi umum selama semua fase proyek di lapangan yang mengandalkan tenaga fisik atau biasa disebut kuli bangunan (Go Construct, 2. Temuan pernapasan yang paling umum di antara pekerja konstruksi yang terpapar partikel debu berbahaya adalah penurunan fungsi paruparu akibat paparan semen, kayu, bata, pasir, batu, dan silika selama berjam-jam (Yeheyis , 2. Selain itu, seringkali ditemukan bahwa pekerja konstruksi atau kuli bangunan merokok di lokasi pembangunan, baik rumah, ruko, maupun gedung yang sedang dibangun, sehingga prevalensi merokok di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, bahkan telah mencapai 70 juta jiwa (BPS, 2. Kebiasaan merokok di antara pekerja memberikan peluang terjadinya interaksi antara merokok dan paparan agen fisik maupun kimia di tempat Selikoff dkk. dalam (NIOSH, 2. melakukan studi prospektif terhadap 370 pekerja konstruksi pemasangan asbes dan menemukan bahwa 24 dari 283 pekerja konstruksi yang merokok meninggal karena karsinoma bronkogenik selama periode empat tahun studi, sementara tidak satu pun dari 87 pekerja non-perokok meninggal akibat kanker tersebut, artinya pekerja konstruksi pemasangan asbes yang merokok Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 53 Jurnal Menara Medika JMM 2025 https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index memiliki risiko 92 kali lebih tinggi non-perokok. Salah penyebab COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Diseas. adalah paparan jangka panjang terhadap asap, uap, debu, atau bahan kimia yang mengiritasi, dengan penyebab paling umum adalah asap rokok (Cook dkk. , 2023. ZuWallack dkk. , 2. COPD adalah kondisi paru-paru progresif akibat kerusakan pada paru-paru yang menyebabkan pembengkakan dan iritasi . di saluran udara, sehingga membatasi aliran udara masuk dan keluar dari paru-paru (Paulin dkk. , 2022. Song , 2. Aliran udara yang terbatas ini dikenal sebagai obstruksi, dengan gejala seperti sesak napas, batuk kronis berdahak, dan mengi (Hikichi dkk. , 2019. Bircan dkk. Bozier dkk. , 2. Penelitian terdahulu oleh Stoleksi dkk. menyatakan bahwa fungsi paru-paru pekerja konstruksi menurun seiring durasi paparan rokok, dengan pengaruh signifikan dari kebiasaan merokok harian, lama merokok seumur hidup, dan jumlah rokok yang Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya hanya menilai gangguan fungsi paru secara umum tanpa fokus pada diagnosis dini COPD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan merokok dan kejadian Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) pada pekerja konstruksi di Sidoarjo dengan menggunakan Lung Function Questionnaire (LFQ) sebagai alat skrining dini, serta analisis statistik Chi-Square dan Korelasi Spearman untuk mengukur p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 kekuatan dan arah hubungan. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab kesenjangan penelitian sebelumnya yang umumnya hanya mengevaluasi gangguan fungsi paru secara umum, tanpa fokus pada deteksi dini COPD terstandar, sehingga hasil penelitian diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah yang lebih spesifik bagi upaya pencegahan dan penatalaksanaan dini COPD pada populasi pekerja konstruksi berisiko tinggi. METODE Penelitian ini merupakan studi crosectional dengan pendekatan deskriptif analitik menggunakan metode purposive Populasi penelitian adalah seluruh pekerja konstruksi di wilayah Sidoarjo, dengan sampel sebanyak 200 orang yang terdiri dari 100 pekerja perokok dan 100 pekerja non-perokok, sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Lung Function Questionnaire (LFQ) yang terbukti efektif dalam mendeteksi dini kemungkinan COPD (Hanania dkk. , 2. , mencakup item usia, status merokok, serta tiga item gejala respirasi . atuk, dispnea, meng. yang diukur dengan skala Likert 1Ae5 . = Tidak Pernah, 2 = Jarang, 3 = Kadang-kadang, 4 = Sering, 5 = Sangat Serin. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antara kebiasaan merokok dan kejadian COPD, serta uji Korelasi Spearman untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan kedua variabel, dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. 0 dan tingkat signifikansi = 0,05. Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 54 Jurnal Menara Medika JMM 2025 https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index HASIL Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) meliputi batuk kronis, sesak napas, dan mengi . Penelitian ini menganalisis hubungan usia, lama merokok, dan jumlah konsumsi rokok p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 per hari dengan intensitas gejala PPOK pada pekerja konstruksi menggunakan Uji ChiSquare dan Spearman Correlation. Kriteria signifikansi ditetapkan pada p-value < 0,05. Tabel 1. Hubungan Usia dengan Gejala PPOK Berdasarkan Uji Chi-Square dan Spearman Correlation Usia Sesak Napas n (%) 3 . Mengi n (%) p-value / r Batuk p-value / r Sesak p-value / r Mengi 21Ae29 Batuk Kronis n (%) 4 . 0,001 / 0,514 0,006 / 0,518 0,000 / 0,557 30Ae39 40Ae49 50Ae69 Semua p-value < 0,05. =0,. dengan kekuatan korelasi semakin tua usia, semakin berat kuat . =0,514Ae0,. Semakin tua usia gejala PPOK. Terdapat responden, semakin tinggi proporsi yang signifikan antara usia dengan batuk kronis mengalami gejala PPOK. =0,. , sesak napas . =0,. , dan Tabel 2. Hubungan Lama Merokok dengan Gejala PPOK Berdasarkan Uji Chi-Square dan Spearman Correlation Lama Merokok Tidak Pernah O10 tahun 10Ae20 >20 tahun Batuk Kronis n (%) 2 . Sesak Napas n (%) 1 . Mengi n (%) p-value / r Batuk p-value / r Sesak p-value / r Mengi 0,008 / 0,512 0,001 / 0,537 0,015 / 0,523 Semua p-value < 0,05. semakin lama merokok, semakin berat gejala PPOK. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara lama merokok ahun seluruhnya mengalami gejala. dengan seluruh gejala PPOK . =0,001Ae 0,. , dengan korelasi kuat . =0,512Ae 0,. Responden yang merokok lebih dari Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 55 Jurnal Menara Medika JMM 2025 https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Tabel 3. Hubungan Jumlah Rokok per Hari dengan Gejala PPOK Berdasarkan Uji ChiSquare dan Spearman Correlation Konsumsi/Hari Batuk Kronis n (%) 0 batang Sesak Napas n (%) 1 . Mengi n (%) p-value / r p-value / r p-value / r Batuk Sesak Mengi 0,000 / 0,530 1Ae3 batang 3Ae5 batang >5 batang 0,003 / 0,699 0,000 / 0,548 Semua p-value < 0,05. korelasi positif. semakin banyak rokok per hari, semakin berat gejala PPOK. Jumlah konsumsi rokok per hari memiliki hubungan signifikan dengan batuk kronis . =0,. , sesak napas . =0,. , dan mengi . =0,. Korelasi Spearman menunjukkan kekuatan hubungan kuat . =0,530Ae0,. Seluruh responden yang mengonsumsi >5 batang rokok per hari mengalami semua gejala PPOK. PEMBAHASAN peringkat ke-13 pada 1990 menjadi ke-6 pada 2019 (Guan et al. , 2. Patofisiologi dan Epidemiologi COPD Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK/COPD) ditandai oleh hambatan aliran udara progresif akibat paparan zat toksik seperti asap rokok yang merusak struktur paru (Agarwal et al. , 2. Merokok tetap menjadi penyebab utama, menyumbang lebih dari 70% kasus di negara berpenghasilan tinggi dan 30Ae40% di negara berpenghasilan menengah ke bawah, dengan jumlah penderita mencapai sekitar 392 juta orang di seluruh dunia (World Health Organization [WHO], 2. Prevalensi global COPD pada usia Ou40 tahun diperkirakan sekitar 12,6% berdasarkan kriteria Fixed Ratio, serta 7,4% menurut Lower Limit of Normal (LLN) (Bai et al. Penyakit ini menyebabkan sekitar 3,65 juta kematian pada tahun 2021, dengan beban DALYs yang meningkat dari Faktor Risiko pada Pekerja Konstruksi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas gejala PPOK meningkat seiring dengan usia, durasi merokok, dan jumlah batang rokok per hari di kalangan pekerja konstruksi. Temuan ini konsisten dengan studi Hou et al. yang menunjukkan bahwa asap rokok memicu perubahan histologis dan vaskular yang mempercepat progresi PPOK. Penurunan regulasi Nrf2 memperburuk stres oksidatif dan peradangan kronis (He & Wen, 2. , sejalan dengan temuan Bezerra et al. mengenai penuaan sel epitel akibat paparan Paparan lingkungan kerja juga Data GBD menunjukkan paparan partikel, gas, dan asap di tempat kerja menyumbang 15Ae20% dari Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 56 Jurnal Menara Medika JMM 2025 https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index beban global PPOK (Guan et al. , 2. Polusi udara dalam ruang serta penggunaan bahan bakar padat meningkatkan mortalitas PPOK, terutama di negara berkembang (Li et al. , 2021. Varmaghani et al. , 2. Pada pekerja konstruksi, paparan debu silika dan gangguan paru (Travakol et al. , 2017. Stoleski et al. , 2. , sementara kontaminasi tembakau oleh bahan kimia di lokasi kerja meningkatkan beban toksisitas (Awuchi et , 2. Dampak Ekonomi dan Produktivitas Merokok tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga menurunkan produktivitas kerja. Agyekum dan Yung konstruksi menghabiskan rata-rata 73 menit per shift untuk merokok, mengurangi produktivitas hingga 15,2%. Dampak ini menambah beban ekonomi perusahaan dan sistem kesehatan. Manfaat Smoking Cessation Intervensi Program penghentian merokok di tempat kerja terbukti efektif. Sebuah metaanalisis menunjukkan bahwa intervensi seperti konseling, pelatihan daring, dan insentif keuangan memiliki efek signifikan terhadap keberhasilan berhenti merokok (HedgesAo g = 1,. (Lee et al. , 2. Penghentian merokok pada pasien PPOK juga memperbaiki fungsi paru (FEV1%, rasio FEV1/FVC), kapasitas berjalan 6 menit, dan menurunkan mortalitas hingga 25% (Park et al. , 2. Bahkan, penghentian dalam 2 tahun pasca-diagnosis dapat secara signifikan menurunkan risiko kematian (Liu et al. , 2. p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Paparan Lingkungan Lain Kebijakan Pencegahan Selain asap rokok, paparan partikulat udara halus (PM2. di dalam dan luar ruangan terbukti meningkatkan risiko PPOK dan kematian terkait, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah (Chen et al. , 2. Studi terbaru juga mengungkapkan bahwa pada populasi muda, polusi udara menjadi faktor risiko dominan PPOK . ,8%), melampaui merokok . ,8%) dan paparan kerja . ,7%) (Zhao et , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian terhadap 200 pekerja konstruksi, ditemukan bahwa kelompok usia 40Ae49 tahun mengalami gejala Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) sebesar 15% lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya. Pekerja konstruksi yang memiliki kebiasaan merokok selama 10Ae20 tahun menunjukkan peningkatan kejadian COPD sebesar 22% hingga 38% dibandingkan yang tidak Selain itu, pekerja yang mengonsumsi lebih dari 5 batang rokok per hari memiliki risiko COPD lebih tinggi, dengan peningkatan kejadian sebesar 22,5% hingga27,5%. Hasil ini mengonfirmasi adanya korelasi signifikan antara kebiasaan merokok dan kejadian COPD pada pekerja Temuan penelitian ini memiliki implikasi kebijakan yang penting, yaitu perlunya penerapan kebijakan pengendalian tembakau yang lebih ketat di lingkungan kerja konstruksi. Hal ini mencakup edukasi kesehatan rutin, penetapan area bebas rokok, dan skrining kesehatan paru secara berkala. Selain itu, integrasi program berhenti merokok berbasis tempat kerja, akses pneumokokus, serta pemeriksaan spirometri Jurnal Menara Medika Vol 8 No 1 September 2025 | 57 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index rutin perlu dijadikan bagian dari kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K. JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Bircan. Bezirhan. Porter. Fagan, , & Orloff. AuElectronic cigarette use and its association with asthma, chronic obstructive pulmonary Saran