Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA GUNUNG MALANG MELALUI GERAKAN MASYARAKAT SADAR STUNTING Rio Abdurrahman. Muhammad Abet Kadarusman. Rendra Nurramadhan K. Nur Fitri. Nur Aulia Bazighah Juhaini. Restiany. Vikyatul Armelia Warsya. Masita Nuraulia. Asinday Manira Kasipahu dan Rada Destiaji. Universitas Mataram Jalan Pendidikan Nomor 37 Kota Mataram Korespondensi: radadestiaji39@gmail. ABSTRAK Stunting saat ini masih menjadi salah satu permasalahan yang cukup serius. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus stunting yang tinggi. untuk dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada kasus Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kasus stunting yang tinggi. Khususnya di Desa Gunung Malang, kecamatan Pringgabaya. Kabupaten Lombok Timur. Dari data Puskesmas yang didapatkan setelah melakukan observasi, terdapat 47 kasus stunting. Data ini menunjukan bahwa kasus stunting di NTB khususnya Desa Gunung Malang. Kecamatan Pringgabaya masih sangat tinggi. Adapun tujuan dilakukannya pemberdayaan yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan apa itu stunting, bahaya stunting, cara melakukan perawatan 1000 hari pertama kehidupan bayi. Pendidikan yang diberikan kepada masyarakat melalui kegiatan demonstrasi pembuatan makanan bergizi bagi ibu hamil dan bayi, dimana makanan bergizi yang diberikan tidak selalu membutuhkan biaya yang mahal akan tetapi dengan memanfaatkan tumbuhan yang banyak tumbuh di sekitar pekarangan rumah dapat di olah menjadi makanan sehat dan bergizi. contohnya daun kelor yang di olah menjadi Kata Kunci: Stunting, 1000 hari pertama, makanan bergizi PENDAHULUAN Stunting di indonesia masih menjadi permasalahan Kesehatan yang cukup serius. Dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menunjukan prevalensi balita stunting tahun 2018 8 persen di mana artinya satu dari tiga balita mengalami stunting. Indonesia sendiri, kata dia merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke Ae 2 dikawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak. Dimana kondisi ini akan memberikan dampak bagi tumbuh kembang anak dalam jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia. Kurangnya gizi yang di dapat sejak anak dalam kandungan mengakibatkan pertumbuhan otak dan organ lain terganggu, yang mengakibatkan anak lebih beresiko terkena diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Pertumbuhan otak yang tidak maksimal akan membuat anak tersebut kesulitan dalam kehidupannya nanti. Masalah stunting di Indonesia adalah ancaman serius yang memerlukan penanganan yang tepat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019. Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. prevelensi stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Artinya, sekitar satu dari empat anak balita . ebih dari delapan juta ana. di Indonesia mengalami stunting. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%. Secara umum Stunting merupakan permasalahan kesehatan yang dapat menghambat lahirnya Generasi Emas Indonesia. Semakin tinggi angka stunting tentunya akan menghambat terbentuknya generasi emas yang menjadi aset bangsa. Anak yang tervonis stunting tentunya akan mengalami dampak buruk bagi kelangsungan hidupnya. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada prilaku dan praktik pemberian makanan kepada anak menjadi penyebab terjadinya stunting, dimana kurangnya pemberian asupan bergizi. Ibu yang masa remajanya mendapat asupan makanan yang tidak bernutrisi dan hal tersebut terus berlanjut hingga masa kehamilan akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak calon anak yang dikandung. Selain itu stunting juga disebabkan karena infeksi yang terjadi pada Ibu, kehamilan di usianya yang masih remaja, jarak kelahiran anak yang pendek dan hipertensi, dimana juga rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Permasalahan stunting tidak hanya memberikan dampak negatif dari segi fisik anak saja akan tetapi juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya. Anak yang terdiagnosa mengalami stunting pada 2 tahun pertama kehidupan akan berpeluang memiliki IQ non-verbal dibawah 69 dan IQ lebih rendah 4,57 dibandingkan IQ anak yang tidak Stunting (Dara Cantika & Besral, 2. Stunting seringkali dipahami masyarakat dengan ciri-ciri sebagai berikut: Tubuh kerdil atau pendek. Padahal Stunting bukan hanya identik dengan tubuh kerdil atau pendek. Orang bertubuh pendek tidak bisa langsung dikategorikan sebagai stunting, badan yang pendek atau kerdil juga bisa berasal dari genetik. Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi yang dapat mengakibatkan gagal tumbuh otak serta gangguan pada organ tubuh lain dimana anak akan mengalami permasalahan pertumbuhan yang membuat seseorang akan cepat terserang penyakit karena imun tubuh mereka yang rendah serta gagal tumbuh otak yang menyebabkan rendahnya IQ. Jika dibiarkan terus menerus kondisi ini akan Memberikan akibat yang buruk bagi masa depan Mereka. Dimana berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 bahwa 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting di seluruh Indonesia. Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi di indonesia dimana masih terdapat banyak kasus stunting. Nusa Tenggara Barat masuk ke dalam peringkat ke tujuh dengan prevalensi balita stunting tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menyebutkan bawa separuh wilayah di NTB brstatus merah karena memiliki prevalensi stunting di atas 30% (Garudea Prabawati, 2. Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu kabupaten dengan kasus stunting yang cukup tinggi, khususnya Kecamatan Pringgabaya. Desa Gunung Malang, berdasarkan data Puskesmas Pringgabaya pada bulan Februari 2022 terdapat 47 kasus stunting. Desa Gunung Malang merupakan Desa yang terletak dipesisir pantai. Untuk mata pencaharian sendiri Sebagian besar Masyarakat di Desa Gunung malang bekerja sebagai Petani, pekebun, nelayan dan ibu Rumah tangga. Masyarakat di Desa tersebut masih hidup secara konvensional yaitu mempertahankan kehidupan tradisional yang kental dengan adat istiadat yang masih tetap terjaga dengan baik. Dimana dari hasil temuan dilapangan masih banyak pernikahan dini yang terjadi. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi lapangan terkait tingkat pendidikan Masyarakat, dimana tingkat pendidikan masyarakat sebagian besar adalah tamatan sekolah menegah. Setelah menikah Sebagian besar masyarakat khususnya Wanita pada akhirnya hanya akan menyandang status sebagai ibu rumah tangga. Rendahnya tingkat Pendidikan dan kurangnya pengetahuan terkait makanan yang baik bagi tumbuh kembang anak membuat orang tua di Desa Gunung Malang belum memhami terkait dengan aturan pemberian gizi yang baik untuk anaknya serta pengetahuan tentang stunting, ditambah stigma dan Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. stereotype yang berkembang dikalangan masyarakat bahwa mengkonsumsi makanan bergizi harus mengeluarkan biaya yang banyak. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu permasalahan yang memicu terjadinya stunting. Dengan adanya permasalahan stunting di Desa Gunung Malang, tentunya perlu dilakukan pencegahan agar dapat menurunkan angka stunting. Hal tersebut dapat dilakukan melalui gerakan-gerakan guna memberikan solusi dan penanganan dalam percepatan penurunan angka stunting. Oleh karena itu dilakukan berbagai program dalam pencegahan dan penurunan angka stunting dengan dilakukannya sosialisasi bagi ibu hamil, sosialisasi bagi ibu yang mempunyai bayi dan balita, serta pendewasaan usia perkawinan bagi para remaja, dan juga dilakukanya inovasi dalam pembuatan makanan sehat dan bergizi bagi para ibu hamil, menyusui dan anak-anak. Serta dilakukannya sosialisasi terkait dengan pentingnya menjaga kesehatan lingkungan untuk kehidupan yang lebih sehat. Besarnya dampak negatif yang ditimbulkan bila balita terkena stunting serta masih tingginya kasus Stunting yang terjadi di Desa Gunung Malang. Kecamatan Pringgabaya. Kabupaten Lombok Timur. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal tersebutlah yang akhirnya melatarbelakangi dilakukannya pengabdian untuk memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan penanganan stunting di Desa Gunung Malang pada kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik dengan tema Stunting. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan dalam program KKN ini akan dilakukan melalui diadakannya kegiatan sosialisasi kepada ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita yang dirangkaikan Dengan dilakukanya demo memasak untuk memberikan pelatihan dan pengajaran terkait inovasi pengolahan makanan bergizi, sehat dan tentunya dengan harga yang murah, serta sosialisasi untuk remaja dan. Kegiatan KKN dilakukan mulai tanggal 20 Juni hingga 3 Agustus Kegiatan pada Minggu pertama difokuskan pada pendekatan kepada Kepala Desa. Masyarakat serta staff Desa, sekaligus melakukan survei untuk persiapan kegiatan sosialisasi dan tahap pencarian data. Adapun tahap dalam pelaksanaan kegiatan ini antara lain. A Pra-kegiatan Koordinasi dengan aparat Desa Gunungn Malang yang dirangkaikan dengan serah terima Mahasiswa KKN Tematik dari dosen pembimbing lapangan ke pada Desa Gunung Malang. Melakukan observasi ke setiap dusun untuk mendapatkan dan mengetahui bagaimana kondisi geografis dan demografis Desa Gunung Malang Melakukan pengenalan dan sosialisasi ke staf desa, kepala desa, karang taruna, dan masyarakat setempat dengan tujuan untuk memberikan informasi terkait dengan program kerja yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Tematik di Desa Gunung Malang. Melakukan survey untuk dapat mengetahui faktor yang mendorong terjadinya stunting di Desa Gunung malang, serta mencari data balita yang mengalami stunting. Dimana kegiatan ini dilakukan dengan cara meminta data ke Kepala desa. Bidan desa, pihak Puskesmas Labuhan Lombok, dan kader di setiap dusun. Penentuan kegiatan dan sasaran. Dimana kegiatan yang dilakukan mengacu kepada hasil survey yang telah didapatkan. berdasarkan survei yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa faktor yang menjadi penyebab stunting di Desa Gunung Malang yaitu. Pola Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. asuh Orang tua. Gaya hidup Ibu hamil. Pernikahan Usia Dini, serta masih banyaknya Orang tua yang mempercayai terkait mitos-mitos terkait dengan makanan Ibu hamil yang salah di masyarakat. Kegiatan (Intervens. Kegiatan dilakukan di minggu kedua diantaranya. Sosialisasi terkait dengan stunting. Pola asuh dan Makanan bergizi serta dilakukanya Demo Masak Kegiatan soialisasi Stunting dilakukan untuk memberikan pemahaman dan wawasan kepasa masyarakat tentang bahaya stunting. Dimana dalam sosialisasi ini Ibu hamil dan ibu yang memiliki balita menjadi sasaran dan tujuan dalam sosialisasi. Konsep dari Sosialisasi stunting, pola asuh dan gizi, serta demo masak dalam pengolahan inovasi makanan bergizi Pencegahan stunting yang terjadi di Desa Gunung Malng dilakukan dengan pemberian pemahaman dan pengetahuan terkait dengan pola asuh dan gizi kepada para ibu hamil dan ibu balita yang dihadiri oleh perwakilan Ibu kader dan Ibu hamil dari setiap dusun. Tujuan dari sosialisasi yang dilakukan tentunya untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan bagaimana pola asuh dan pemberian gizi kepada masyarakat dalam pencegahan Selain sosialisasi stunting dan pola asuh Sosialisais tersebut juga di selingin dengan kegiatan Demo Masak. Demo masak ini ditunjukan untuk Ibu-Ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita. Guna memberikan inovasi dan pemahaman terkait dengan makanan bergizi dan bagaimana cara pengolahan makanan bergizi, tentunya dengan pemanfaatan tumbuhan yang mudah di temukan dan dengan harga yang murah akan tetapi memiliki gizi yang sangat tinggi bagi para balita dan ibu hamil. Inovasi yang ditampilkan dalam Demo Masak tersebut adalah pengolahan daun kelor menjadi Puding sehat yang tentu saja disukai oleh anak-anak atau balita yang sedang dalam masa pertumbuhan. Mengikuti Kegiatan Posyandu Selanjutnya adaalah kegiatan posyandu. Pada kegiatan ini mahasiswa KKN Tematik ikut serta dalam membantu kelancaran posyandu sekaligus untuk dapat mengetahui bagaimana kondisi para balita yang terkena stunting, sekaligus untuk bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya mencegah stunting, dampak stunting, serta pemberian makanan bergizi dan pola asuh bagi anak. Sekaligus untuk bisa bertemu langsung dengan balita yang terkena stunting, dan memperoleh data di setiap dusun terkait dengan data stunting. Melakukan kunjungan ke setiap dusun dan bertemu serta pendekatan kepada setiap masyarakat untuk memberikan dan menyebarkan pamflet terkait dengan makan bergizi, dampak stunting, dan cara pencegahannya. Dimana dlakukan dengan berkeliling ke setiap dusun yang ada di Desa Gunung malang. Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan dilakukan sebagai salah satu metode untuk pencegahan stunting, sebab Perkawinan Anak merupakan salah satu factor penyebab terjadinya stunting. Usia yang masih mudah menyebabkan anak yang menikah dibawah umur belum memahami terkait dengan bagaimana perawatan untuk Oleh karena itu dilakukannya sosialisasi pendewasaan usia anak untuk memberikan edukasi awal sebagai pencegahan stunting. Dimana dalam sosiaalisasi ini Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. remaja menjadi sasaran, dalam kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Dua sekolah berbeda yang ada di Desa Gunung Malang dengan menghadirkan Pemateri yang compatible di bidangnya yaitu dari BKKBN. Kegiatan ini di ikuti oleh 30 siswa dari kelas yang berbeda. Kegiatan ini juga di rangkaikan dengan Games yaitu Games Ranking Satu. Ranking Satu ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahanan Peserta terkait dengan materi yang disampaikan. Permainan Akan berakhir Ketika tersisa 3 Juara yang tentu saja akan mendapatkan hadiah. HASIL DAN PEMBAHASAN A Deskripsi Data Tahap Awal Desa Gunung Malang merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur. Jumlah penduduk sebesar 6. 500 jiwa dengan Luas wilayah sebesar 40,9 m^2. Dengan jumlah Dusun sebanyak 7 Dusun. Dari data yang di peroleh dari Puskesmas Labuhan Lombok dimana tercatat 47 anak tervonis menderita Stunting yang terjadi diakibatkan karena beberapa factor diantaranya. Pola Pengasuhan Orang Tua. Pengasuhan Ibu Hamil. Perkawinan Usia Anak, serta masih banyaknya masyarakat yang mempercayai terkait dengan mitos-mitos makanan Ibu Hamil yang salah dimasyarakat. Masyarakat yang tinggal di Desa Gunung Malang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, hal ini dibuktikan dengan luasnya lahan kosong dan kondisi alam serta geografis di Gunung Malang, dimana banyaknya sawah dan perkebunan di desa Gunung Malang, mengakibatkan Sebagian besar masayarakat bekerja sebagi Petani. Ditambah Pendidikan terakhir masyarakat yang Sebagian besar hanya lulusan sekolah menengah mengakibatkan masyarakat menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian Mereka, dan Orang tua lebih banyak menghabiskan waktu mereka di sawah dan kebun, membuat anakanak kurang mendapat perhatian. Maraknya kasus Pernikahan Anak juga dibarengi dengan banyaknya kasus perceraian yang terjadi membuat menyebabkan anak-anak terlantar lantaran ditinggalkan Orang Tuanya, atau tidak mendapat kasih sayang dari kedua Orang Tua bagaimana selayaknya. Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. A Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan Berdasarkan permasalahn yang ditemukan di Desa Gunung Malang, dalam mencegah dan menurunkan Angka Stunting perlu dilakukan Pemberdayaan Masyarakat dengan tujuan untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting, dan pemberian makanan bergizi serta pola asuh yang baik bagi anak. Dengan dilakukannya beberapa rangkaian kegiatan, diantaranya. Sosialisasi Stunting Sosialisasi stunting dilakukan tentunya dengan tujuan untuk dapat memberikan pemahaman kepada ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita terkait dengan Pengertian Stunting dan Apa Saja dampak dari Stunting dan untuk dapat melakukan pencegahan terhadap permasalahan stunting tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan total 2 kali, yang tentu saja sudah dilakukan berkordinasi dengan Ibu-Ibu kader di setiap dusun untuk dapat menghadirkan warga untuk dapat mengikuti kegiatan sosialisasi. Dengan sasaran utama Ibu Hamil. Ibu Menyusui dan Ibu yang mempunyai Balita. Sosialisasi ini dilakukan pada Minggu Kedua setelah tiba di Lokasi KKN. Lokasi pelaksanaan kegiatanya yaitu di balai desa, dalam sosialisasi tersebut pemateri di datangkan langsung dari puskesmas labuhan Lombok. Tentunya dalam penyampain materi sangat menarik dan tentunya juga antusia para peserta yang tinggi dan pemateri yang sudah dikenal oleh para warga atau peserta sosialisasi. Gambar 1. Sosialisasi stunting Sosialisasi Pola Asuh dan Gizi, serta Demo Masak. Sosialisasi pola asuh dan gizi bertujuan untuk dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita terkait dengan bagaimana cara mengasuh anak dan pemberian makanan yang bergizi serta sehat bagi anak, dalam mencegah terjadinya Stunting. Sasaran Peserta dalam kegiatan sosialisasi ini adalah ibu hamil dan ibu yang memiliki balita disetiap dusun di Desa Gunung Malang. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Balai Desa dengan Materi yang disampaikan oleh Pemateri dari BKKBN. Kegiatan ini juga di rangkaikan dengan kegiatan demo masak. Dalam kegiatan demo masak ini dilakukanya Praktik secara langsung pengolahan dan inovasi pembuatan daun kelor menjadi puding dan tetap memnpertahankan gizi dan vitamin yang terkandung dalam daun kelor. Inovasi puding kelor ini diciptakan agar dapat menarik minat anak-anak untuk dapat mengkonsumsi sayur, serta juga agar dapat meningkatkan minat Ibu hamil untuk dapat mengkonsumsi sayur kelor ini menjadi Dalam kegiatan demo masak ini Kami juga membawa sampel puding kelor yang sudah di buat terlebih dahulu agar dapat dibagikan dan dirasakan oleh seluruh Peserta yang hadir. Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. Gambar 2. Sosialisasi Pola Asuh dan Gizi, serta Demo Masak Mengikuti kegiatan posyandu Mengikuti kegiatan posyandu merupakan salah satu juga cara yang dilakukan untuk bisa melakukan sosialisasi kepada Ibu hamil dan ibu yang memiliki balita. Dimana dalam kegiatan posyandu ini Mahasiswa KKN dapat bertemu langsung dengan anakanak yang terdiagnosa stunting, sekaligus monitoring terkait dengan perkembangan para anak yang terdiagnosa stunting, serta untuk memperoleh data stunting. Selain itu Mahasiswa KKN Tematik ikut turun tangan menyumbang tenaga selama kegiatan, dengan membantu menimbang, mengukur tinggi badan bayi dan balita, menulis buku posyandu sekaligus merekap data di posyandu. Selain beberapa tujuan diatas kegaiatan posyandu ini juga dapat meningkatkan keakraban serta memperkenalkan diri dan berbaur dengan masyarakat di setiap dusun yang ada di Desa Gunung Malang. Selain membantu kegiatan posyandu, mahasiswa KKN Tematik juga mengadakan penyuluhan terkait dengan pentingnya memberikan asupan gizi yang baik bagi anak, bagaimana pencegahan Stunting, pembagian pamflet bagi ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita. Pamflet tersebut berisikan, terkait dengan asupan makanan bergizi, inovasi pengolahan daun kelor menjadi pusing, penyebab dan dampak stunting, serta bagaiman mengatasi atau mencegah stunting. Kegiatan posyandu memang sangat penting dilakukan sebagai salah satu cara untuk dapat memberikan edukasi serta pembelajaran kepada para ibu hamil dan yang mempunyai balita, karena memlalui kegiatan ini Mahasiswa KKN akan dengan mudah untuk bertemu ibu-ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita serta akan mempermudah dalam menemukan data dan pemantauan terhadap anak yang terkena stunting. Gambar 3. Kegiatan posyandu Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan dan Games Ranking Satu. Sosialisasi pendewasan usia perkawainan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam mencegah terjadinya perkawinan usia anak yang dimana tentunya perkawinan usia anak ini menjadi salah satu penyebab penyakit. Oleh karena itu pentingnya memberikan pengetahuan dan pengadaan sosialisasi terkait dengan Pendewasaan Usia Perkawinan dalam pencegahan Stunting. Dalam sosialisasi ini tentunya yang menjadi sasaran kegiatan adalah para Remaja, kegiatan sosialisasi Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. Pendewasaan Usia Perkawinan dilakukan di dua sekolah yang ada di Desa Gunung Malang. Dalam kegiatan sosialisasi ini dimana peserta berjumlah 30 murid, sosialisasi ini dilaksanakan dua kali di sekolah yang berbeda yaitu SMA NW Permatan dan SMA NW Bahrul Ulum. Kegiatan sosialisasi ini di hadiri oleh pemateri yang berasal dari BKKBN. Materi yang diberikan terkait dengan Pendewasaan Usia Perkawinan. Bahayanya perkawinan usia anak, persiapan yang harus dipenuhi sebelum menikah, dan tentunya tentang Kesehatan reproduksi Remaja. Selain Agenda penyampaian materi. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Bermain Games Ranking Satu. Ranking Satu ini dilaksanakan untuk dapat mengukur sejauh mana kemampuan para peserta dalam memahami dan menerima materi yang telah di sampaikan. Konsep Games ini adalah Panitia akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan oleh pemateri sebelumnya beserta materi tambahan terkait wawasan kebangsaan kepada Peserta. Peserta yang bisa menjawab dengan benar akan bertahan, sementara yang salah harus tereliminasi atau akan gugur dan tidak bisa ikut permainan. Jumlah Peserta yang mengikuti Ranking Satu adalah 30 orang. Peserta yang mampu bertahan sampai babak akhir dan tidak tereliminasi akan mendaptakan hadiah. Kegiatan rangking satu ini dilakukan tentunya bertujuan untuk mengetahui sejauhmana Peserta memahami dan menambah wawasan Peserta terkait dengan materi pendewasan usia perkawinan. Gambar 4. Sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan dan Games Ranking Satu Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. Melakukan Kunjungan ke setiap Dusun Dimana di desa Gunung Malang terdapat 7 dusun. Mahasiwa KKN Tematik melakukan kunjungan ke setiap Dusun yang ada di Gunung Malang dimana sasaran kunjungan yaitu Ibu hamil dan Ibu yang mempunyai Balita, dalam kunjungan tersebut mahasiswa KKN Tematik datang ke dusun dan bertemu langsung dengan Ibu hamil atau Ibu yang mempunyai Balita sekaligus menyebarkan Leaflet Inovasi Pengolahn Kelor. Dimana selain penyebaran Leaflet. Mahasiswa KKN juga melakukan Interaksi dengan warga setempat sekaligus memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga Kesehatan dan pencegahan stunting. Dalam kunjungan yang dilakukan ke setiap dusun di dapatkan hasil bahwa masih banyak Masyarakat yang belum memahami apa itu stunting, serta masih berkembangnya stereotype bahwa jika ingin makan- makanan bergizi harus mahal. Dari hasil yang ditemukan dilapangan tersebut tentunya membuat mahasiswa KKN tertarik melaksankan kunjungan ke setiap dusun untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman terkait dengan Stunting. Mengenal ciri stunting. Cara Pencegahan dan Dampak Stunting tersebut. Selain itu, memberikan edukasi terkait dengan makanan bergizi yang tidak membutuhkan biaya yang mahal. Hanya dengan menanam pohon kelor didepan rumah sudah membuat Masyarakat sudah bisa mengkonsumsi makanan Hadisny Mahasiswa KKN dilapangan tentu saja untuk memberikan penjelasan juga terkait dengan inovasi pengolahan makanan bergizi sehat dan harga murah, yaitu membuat Puding daun kelor yang dengan mudah di temukan di Desa Gunung Malang. Puding tersebut dapat dikreasikan agar anak-anak bisa tertarik untuk Kegiatan kunjungan ke setiap Dusun yang dilaksankan mendapat sambutan yang hangat, sebab masyarakat setempat sangat senang dan terbuka terhadao Ilmu yang disosialisasikan Selain itu tujuan dari kegiatan sosialisasi adalah untuk mempererat hubungan dan meningkatkan solidaritas antara Masyarakat dengan Mahasiswa KKN Tematik. Gambar 5. Kunjungan ke setiap Dusun Kegiatan KKN Tematik yang dilakukan di Desa Gunung Malang dilaksankan dalam bentuk sosialisasi tentang program pencegahan stunting pada bayi dan balita. Dimana dalam kegiatan ini tentunya semua orang tua dari bayi dan balita menjadi peserta dalam kegiatan sosiaslisasi. Berikut ini merupakan gambaran terkait dengan Pendidikan para peserta sosialisasi yang berjenis kelamin perempuan. Tabel 1. Pendidikan Peserta Sosialisasi Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. Pendidikan Jumlah Persentase Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama 28,6% Sekolah Menengah Atas 38,6% Perguruan Tinggi 2,8% Total Sumber: Data Diolah Berdasarkan data diatas didapatakan infomasi bahwa sebagain peserta berpendidikan sekolah Dasar sebanyak 30%, yang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama 28,6%. Sedangkan yang berpendidikan Sekolah Menengah Atas sebanyak 38,6%, dan yang berpendidikan Sekolah Tinggi hanya 2,8%. Dalam tingkatan pendidikan tentunya akan mempengaruhi pola pikir dan prilaku seseorang. Dalam melakukan pencegahan terhadap permasalahan stunting ini tentunya juga bukan hanya peran masyarakat yang di butuhkan dalam melakukan pencegahan akan tetapi juga dibutuhkan peran berbagai sektor dalam melakukan pencegahan Stunting. Dimana dalam pencegahan Stunting ini bukan hanya dilakukan pada bayi dan balita saja akan tetapi juga dilakukan mulai dari perawatan Ibu selama kehamilan. Ibu menyusui. Anak berusia 0-23 bulan dan 24-29 bulan. Remaja serta penyedian sarana prasaran lingkungan yang mendukung kesehatan. Dimana tentunya pengetahuan akan dapat di peroleh melalui pengamatan akal atau indra. Dalam program KKN Tematik yang dilaksanakan di Desa Gunung Malang ini dilakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan stunting serta cara pencegahan dan pemberian pola asupan makanan yang bergizi. Sebab masih banyaknya masyarakat yang kurang mengetahui dan memahami tentang stunting serta cara pencegahan stunting. Selain itu, untuk mengurangi angka pernikahan dibawah umur Kami juga melakukan sosialisasi terkait dengan Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Kedua poin tersebu menjadi program utama yang dilaksanakan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dalam mencegah dan penurunan angka stunting di Desa Gunung Malang. Setelah dilaksanakan berbagai program sosialisasi tersebut tentunya dilakukan penyebaran kuesioner sebagai salah satu hasil dari pemberdayaan yang Kuesioner tersebut menjadi data untuk mengetahui sejauh mana pencapaian keberhasilan sosialisasi yang telah dilaksanakan. Dari hasil kuesioner yang telah di sebar dimana didapatkan hasil bahwa dari 70 sampel yang kita lakukan dimana 57 orang atau 81,4% sudah mengetahui tentang program stunting dan pemberian asupan makanan bergizi dan pola asuh anak yang baik, serta memahami apa itu stunting dan bagaiamana pencegahan stunting. Sementara itu, 13 orang atau 18,6% tersebut belum memahami dengan baik terkait dengan program stunting tersebut Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat terkait dengan program Stunting dan bagaimana pencegahan stunting yang di peroleh dari hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan. Kegiatan sosialisasi Stunting yang dilakukan tentunya juga dirangkaikan dengan kegiatan demo masak dimana kegiatan ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan makanan bergizi yaitu daun kelor. Dimana warga hanya mengetahui bahwa daun kelor hanya dapat di olah menjadi sup Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. saja akan tetapi setelah dilakukanya demo masak tersebut Masyarakat mendapatkan pengetahuan baru terkait cara pengolahan daun kelor agar dapat menjadi makanan yang dapat menarik minat anak anak untuk dikonsumsi. Tentunya Masyarakat juga dapat mengetahui khasiat serta kandungan daun kelor yang banyak tumbuh di pekarangan rumah masyarakat. Akan tetapi setelah adanya demo masak masyarakat mengetahui bahwa makanan yang bergizi tidak selalu mahal. Akan tetapi dengan menanam dan mengkonsumsi daun kelor sudah memiliki nutrisi dan gizi yang baik. KESIMPULAN DAN SARAN KKN Tematik yang telah dilaksanakan di Desa Gunung Malang selesai ditandai dengan dilakukanya berbagai program kerja tentunya program kerja yang utama yaitu terkait dengan sosialisasi stunting memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait dengan apa itu stunting serta bagaimana cara pencegahan dari stunting tersebut. Di Desa Gunung Malang Sebagian besar masyarakat belum mengetahui Apa itu stunting dan bagaimana pencegahanya, setelah dilaksanakanya sosialisasi terkait stunting dan dilakukanya penyebaran Kuesioner di dapatkan hasil bahwa 81,4% masyarakat sudah memahami apa itu stunting dan cara pencegahnya. Selain itu juga dalam kegiatan sosialisasi yang di ikuti dengan acara demo masak makanan sehat tersebut, memberikan pengetahuan kepada Masyarakat terkait dengan makanan bergizi dan sehat yang bisa di dapat dengan harga murah yaitu dengan memanfaatkan daun kelor yang banyak tumbuh di Desa Gunung Malang, melalui sosialisasi guna memberikan pemahaman terkait bagaimana cara pengolahan serta inovasi untuk pengolahan daun kelor supaya tidak hanya menjadi sup akan tetapi bisa di olah menjadi puding yang dapat menarik minat anak anak untuk mengkonsumsinya. DAFTAR PUSTAKA