Journal of Medical Science Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Vol. No. Hlm. 78 - 87. April 2026 e-ISSN: 2721-7884 https://doi. org/10. 55572/jms. Penguatan Pemantauan Terapi Obat (PTO) oleh Apoteker Melalui Intervensi Aplikasi Berbasis Website dan Android Enhancing Drug Therapy Monitoring (DTM) by Pharmacists Using Websiteand Android-Based Application Lydia Septa Desiyana1,3*. Ika Wahyuningrum1. Friska Masyitah1. Amir Hamzah2 Instalasi Farmasi. RSUD dr. Zainoel Abidin. Jl. Teuku Moh. Daud Beureueh No. Bandar Baru Kec. Kuta Alam. Kota Banda Aceh Instalasi Sistem Informasi. RSUD dr. Zainoel Abidin. Jl. Teuku Moh. Daud Beureueh No. Bandar Baru Kec. Kuta Alam. Kota Banda Aceh Departemen Farmasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Syiah Kuala. Jl. Syech Abdurrauf No. Kopelma Darussalam. Kecamatan Syiah Kuala. Kota Banda Aceh. Aceh 23111 *Email: lydiasepta. desiyana@usk. Submit: 7 November 2025. Revisi: 5 April 2026. Terima: 29 April 2026 Abstrak Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan salah satu tugas penting apoteker klinis untuk memastikan penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa dokumentasi manual, keterbatasan akses data, serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk telaah Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi PTO berbasis web dan Android guna mendukung pelayanan farmasi klinis serta meningkatkan efisiensi kerja apoteker. Penelitian menggunakan pendekatan research and development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi analisis kebutuhan melalui focus group discussion (FGD) pada apoteker rawat inap, perancangan sistem, pengembangan aplikasi, dan uji coba Aplikasi yang dihasilkan diberi nama MedSIP (Medication System for Information and Monitoring Therap. dengan fitur input data pasien terstruktur, template SOAP, serta klasifikasi drug-related problems (DRP) berbasis PCNE. Uji coba terbatas menunjukkan penurunan durasi PTO sebesar 50Ae55,6%, dari 40Ae90 menit menjadi 20Ae40 menit pada pasien dengan data rekam medis elektronik yang lengkap. Responden menilai aplikasi bermanfaat dalam mempercepat telaah dan dokumentasi PTO, meskipun implementasi lebih luas masih memerlukan dukungan regulasi, konsistensi input data lintas profesi, serta penguatan infrastruktur dan konektivitas jaringan. Pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada integrasi referensi klinis, formularium rumah sakit, dan fitur auto-flagging DRP berbasis kecerdasan buatan. MedSIP berpotensi memperkuat pelayanan farmasi klinis melalui dokumentasi PTO yang lebih terstruktur dan efisien. Kata kunci: Pemantauan terapi obat, apoteker klinis, drug-related problems, aplikasi kesehatan digital, rumah Abstract Drug Therapy Monitoring (DTM) is an important responsibility of clinical pharmacists to ensure the safe, effective, and rational use of medications. However, its implementation is still challenged by manual documentation, limited access to patient data, and the lengthy time required for clinical review. This study aimed to develop a web and Android-based PTO application to support clinical pharmacy services and improve pharmacistsAo work efficiency. The study employed a research and development (R&D) approach using the ADDIE model, which included needs assessment through focus group discussions (FGD) with inpatient pharmacists, system design, application development, and limited pilot testing. The resulting application, named MedSIP (Medication System for Information and Monitoring Therap. , features structured patient data entry. SOAP documentation templates, and Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE)-based classification of drug-related problems (DRP. Limited pilot testing demonstrated a 50Ae55. 6% reduction in Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. PTO duration, from 40Ae90 minutes to 20Ae40 minutes for patients with complete electronic medical record Respondents considered the application beneficial in accelerating clinical review and documentation processes, although wider implementation still requires regulatory support, consistent multidisciplinary data entry, and strengthened network infrastructure and connectivity. Further development may include integration of clinical references, hospital formularies, and artificial intelligence-based DRP auto-flagging MedSIP has the potential to strengthen clinical pharmacy services through more efficient and structured PTO documentation. Keywords: Drug therapy monitoring, clinical pharmacist, drug-related problems, digital health application. Pendahuluan Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan komponen esensial pelayanan kefarmasian rumah sakit di Indonesia sebagaimana diatur dalam standar nasional (Kemenkes, 2. Apoteker bertanggung jawab menilai ketepatan pilihan obat, dosis, rute pemberian, respons klinis, serta aspek keselamatan, termasuk deteksi reaksi obat yang tidak diinginkan. Praktik ini dijalankan melalui kolaborasi interprofesional untuk menghasilkan rekomendasi berbasis pasien yang berdampak pada keputusan klinis dan manajemen terapi. Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa praktik farmasi klinis berkontribusi pada peningkatan mutu penggunaan obat, luaran klinis, dan efisiensi biaya (Rose et al. , 2018. Pedersen et al. , 2017. Pedersen et al. , 2. Temuan serupa juga dilaporkan di kawasan Asia Tenggara dan Indonesia, antara lain kontribusi apoteker terhadap perbaikan kualitas peresepan pada pasien geriatrik (Dong et al. , 2. dan pencegahan/penatalaksanaan masalah terkait obat (DRP) pada pasien rawat inap (Debora. L et al. Kendati demikian, implementasi farmasi klinis yang berorientasi pada pasien masih menghadapi Bukti sintesis menempatkan kendala pada dua arah, yaitu faktor individu apoteker . isalnya transisi peran klinis dan kesiapan kompetens. serta faktor organisasi . eterbatasan sumber daya, dukungan manajerial, dan koordinasi antarpelaku layana. (Onozato et al. , 2. Pengalaman di rumah sakit rujukan provinsi menunjukkan ketersediaan apoteker klinis di hampir seluruh ruang perawatan belum berbanding lurus dengan intensitas intervensi klinis, antara lain karena dokumentasi manual, akses data yang terfragmentasi, dan alur identifikasi pasien kandidat PTO yang belum baku (Machado et al. , 2024. Machado et al. , 2. Perkembangan digitalisasi kesehatan menawarkan peluang untuk menjembatani kesenjangan Intervensi berbasis teknologi, termasuk aplikasi dan sistem berbasis web, telah dilaporkan mendukung kepatuhan berobat, penilaian klinis, dan koordinasi layanan, meskipun bukti terkait efisiensi biaya serta pemerataan layanan masih terbatas (Ibrahim et al. , 2. Di sisi lain, masih relatif sedikit solusi digital yang secara khusus dirancang untuk memperkuat Pemantauan Terapi Obat (PTO) berbasis pasien oleh apoteker. Kondisi ini menunjukkan perlunya inovasi digital yang mampu mendukung pelaksanaan PTO secara lebih cepat, terstruktur, dan berbasis data. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan aplikasi PTO yang disesuaikan dengan alur kerja apoteker rawat inap di rumah sakit rujukan daerah, dengan mengintegrasikan dokumentasi SOAP, telaah terapi obat, dan klasifikasi DRP berbasis PCNE dalam satu sistem berbasis web dan Android. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi aplikasi PTO di RSUDZA. Aplikasi yang dikembangkan dirancang untuk memfasilitasi pencatatan terstruktur, analisis perkembangan terapi, serta menjadi fondasi awal clinical decision support system (CDSS) dan repositori data bagi pengembangan model prediktif di masa depan. Pendekatan ini diharapkan Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. dapat meningkatkan efisiensi kerja apoteker, mutu dokumentasi DRP, keselamatan pasien, serta memperkuat kolaborasi interprofesional di lingkungan rumah sakit. Metodelogi Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian research and development (R&D) yang bertujuan mengembangkan aplikasi Pemantauan Terapi Obat (PTO) berbasis web dan Android untuk mendukung pelayanan farmasi klinis apoteker. Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation. Evaluatio. yang dipadukan dengan pendekatan iterative prototyping, sehingga aplikasi dapat disempurnakan secara bertahap berdasarkan kebutuhan pengguna dan hasil uji coba lapangan. Evaluasi aplikasi dilakukan sebagai uji coba terbatas . ilot implementatio. untuk menilai kelayakan penggunaan awal, kesesuaian fitur dengan kebutuhan apoteker, serta indikasi awal efisiensi waktu pelaksanaan PTO. Penelitian ini telah memiliki persetujuan etik dengan Nomor 111/ETIK-RSUDZA/2025. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April Ae Juli 2025 di Instalasi Farmasi dan Depo Rawat Inap RSUDZA. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian adalah seluruh apoteker rawat inap yang melaksanakan pelayanan farmasi klinis di ruang rawat pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dalam penelitian berjumlah 14 apoteker rawat inap yang sesuai dengan kriteria inklusi dimana mereka akan memberikan masukan pada pengembangan dan uji coba aplikasi yang dihasilkan. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah apoteker yang menjalani praktik klinis di ruangan rawat inap dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi adalah apoteker yang tidak dapat menyelesaikan seluruh tahapan penelitian. Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa komputer dan laptop . erancangan aplikasi, pengolahan data dan penyusunan lapora. , smartphone Android . ji coba penggunaan aplikasi mobile oleh penggun. , jaringan internet dan server aplikasi, perangkat lunak pendukung . plikasi pengolahan data, sistem berbasis data dan program analisis statistik. dan instrumen penelitian . edoman FGD, lembar observasi, kuesioner evaluasi pengguna dan formulir pengujian aplikas. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah data rekam medis pasien rawat inap, data terapi obat, diagnosis dan catatan klinis pasien, data hasil dokumentasi PTO manual dan elektronik selama penelitian dan pedoman pelayanan kefarmasian. Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Prosedur Penelitian 1 Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui kegiatan FGD yang dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu sebelum implementasi aplikasi . re-implementatio. dan setelah uji coba aplikasi PTO . ost-implementatio. FGD tahap pertama bertujuan mengidentifikasi hambatan pelaksanaan PTO manual, kebutuhan pengguna, serta merumuskan fitur yang diperlukan dalam pengembangan FGD tahap kedua bertujuan mengevaluasi penggunaan aplikasi, menilai manfaat sistem, serta menghimpun masukan untuk penyempurnaan aplikasi. 2 Analisis Kebutuhan Apoteker Terhadap Fitur Aplikasi Analisis kebutuhan apoteker bertujuan untuk penentuan fitur aplikasi yang akan dimasukkan dalam aplikasi PTO. Rancangan awal akan menggunakan formulir PTO standar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes, 2. yang terdiri dari 13 parameter meliputi: data pasien, keluhan utama saat masuk rumah sakit, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat keluarga, riwayat sosial, hasil pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan diagnostik, hasil pemeriksaan mikrobiologi, diagnosis, obat yang digunakan, dan pemantauan terapi obat dengan teknik SOAP. 3 Perancangan dan Pengembangan Aplikasi PTO Rancangan Arsitektur Aplikasi PTO Aplikasi PTO dirancang menggunakan pendekatan arsitektur tiga lapisan . hree-tier architectur. guna memastikan sistem memiliki tingkat skalabilitas, keamanan, serta efisiensi yang optimal dalam pengolahan dan pengelolaan data. Pendekatan ini memungkinkan pemisahan fungsi sistem secara jelas sehingga memudahkan proses pengembangan, pemeliharaan, dan peningkatan sistem di masa mendatang. Adapun komponen utama dalam arsitektur tiga lapisan tersebut meliputi: Frontend . ser interfac. , yang berfungsi sebagai antarmuka pengguna untuk melakukan input data, menampilkan informasi pasien, serta memudahkan interaksi antara pengguna dengan sistem secara intuitif dan responsif. Backend . pplication logi. , yang bertugas mengelola logika aplikasi, termasuk pemrosesan data, validasi input, integrasi antar modul, serta pengelolaan penyimpanan dan pengambilan informasi terkait Pharmaceutical Care (PTO). Database . ata storag. , yang digunakan sebagai media penyimpanan data secara terstruktur, mencakup data pasien, terapi obat, hasil kajian apoteker, serta riwayat dokumentasi dalam format SOAP (Subjective. Objective. Assessment. Pla. yang dapat diakses kembali untuk keperluan monitoring dan evaluasi. Penentuan Teknologi yang Dibutuhkan dalam Membangun Aplikasi PTO Pemilihan teknologi dalam pengembangan aplikasi PTO disesuaikan dengan infrastruktur dan sistem teknologi informasi yang telah berjalan di RSUDZA, sehingga dapat memastikan kompatibilitas, efisiensi implementasi, serta kemudahan integrasi dengan sistem yang sudah ada. Adapun teknologi yang digunakan meliputi: Frontend: HTML. CSS. JavaScript berdasarkan AdminLTE 2 Backend API: NGINX. PHP 8, framework CodeIgniter 3 dan 4 Database: SQL Server 2016 Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Server: VPS CPU 8 core. RAM 6 GB. Storage SSD 100GB Flowchart Aplikasi PTO Bagian ini menyajikan gambaran umum mengenai alur perancangan dan pengembangan aplikasi Pharmaceutical Care (PTO) yang digunakan dalam penelitian. Perancangan sistem dilakukan secara terstruktur untuk memastikan bahwa setiap tahapan, mulai dari input data hingga proses analisis, dapat berjalan secara sistematis, terintegrasi, dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan kefarmasian Gambar 1. Flowchart Penelitian Pengujian Aplikasi dan Evaluasi Kinerja Pengujian aplikasi dan evaluasi kinerja dilakukan untuk memastikan bahwa aplikasi PTO yang dikembangkan dapat berfungsi secara optimal, menghasilkan analisis yang akurat, serta memenuhi kebutuhan pengguna di lingkungan pelayanan kesehatan. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam proses pengembangan sistem untuk menjamin kualitas, keandalan, dan keberterimaan aplikasi sebelum diimplementasikan secara luas. Adapun pengujian aplikasi yang dilakukan yaitu: Uji fungsional (Alpha Testin. : untuk menguji fitur aplikasi satu per satu. Uji validasi data (Beta Testin. : membandingkan hasil PTO . anual vs elektroni. untuk memastikan akurasi sistem. Selanjutnya, evaluasi kinerja aplikasi dilakukan untuk menilai sejauh mana aplikasi dapat memenuhi kebutuhan pengguna serta mengidentifikasi aspek yang perlu ditingkatkan. Evaluasi ini dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu: Menganalisis feedback pengguna melalui FGD. Mengidentifikasi bug atau fitur yang perlu diperbaiki. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif tematik untuk menggambarkan pola dan temuan utama yang muncul dari hasil implementasi aplikasi PTO. Data terkait durasi Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. pelaksanaan PTO sebelum dan sesudah implementasi sistem dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk nilai rerata atau rentang, serta persentase perubahan untuk menunjukkan perbedaan kinerja. Pendekatan ini digunakan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai efisiensi waktu dan dampak penggunaan aplikasi terhadap proses pelayanan kefarmasian. Hasil dan Pembahasan Analisis Kebutuhan Apoteker Terhadap Fitur Aplikasi Analisis kebutuhan apoteker terhadap fitur aplikasi dilakukan dengan melaksanakan FGD yang dihadiri 14 orang apoteker rawat inap RSUDZA. Kegiatan ini dipandu oleh peneliti utama menggunakan pedoman diskusi semi-terstruktur. Masukan responden dicatat melalui Google Form, kemudian dirangkum secara deskriptif berdasarkan tema utama, yaitu hambatan PTO manual, kebutuhan fitur aplikasi, kemudahan penggunaan, dan usulan pengembangan. Ilustrasi hasil responden ditampilkan pada Gambar 2. Gambar 2. Karakteristik Responden . Unit kerja responden dan . Pengalaman PTO Gambar 2 menggambarkan karakteristik responden berdasarkan unit kerja dan pengalaman dalam melaksanakan PTO. Pada bagian . , terlihat bahwa responden berasal dari berbagai unit pelayanan, dengan jumlah terbanyak berasal dari unit Penyakit Dalam sebanyak 4 orang . ,6%), diikuti unit Bedah sebanyak 2 orang . ,3%), sedangkan unit lainnya seperti ICU. Anak. Jantung. Hemodialisa. VIP. Saraf. Kemoterapi. Obgyn, serta Mata. Kulit, dan Pernapasan masing-masing diwakili oleh 1 responden . ,1%). Hal ini menunjukkan bahwa responden cukup tersebar lintas unit, meskipun didominasi oleh bidang penyakit dalam. Pada bagian . , distribusi pengalaman responden dalam melaksanakan PTO menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengalaman lebih dari 2 tahun . ,1%), diikuti oleh pengalaman 6 bulan hingga 2 tahun . ,6%), dan kurang dari 6 bulan . ,3%). Data ini mengindikasikan bahwa mayoritas responden merupakan tenaga yang telah berpengalaman dalam pelaksanaan PTO, sehingga dapat memberikan gambaran yang cukup representatif terhadap praktik yang berjalan. Secara keseluruhan, karakteristik ini menunjukkan bahwa responden memiliki latar belakang unit kerja yang beragam serta tingkat pengalaman yang relatif Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. tinggi, yang dapat mendukung validitas hasil penelitian. Hasil rangkuman FGD ditampilkan pada Tabel 1. Tabel 1. Rangkuman Hasil FGD Tema Hasil FGD Dokumentasi manual sulit Analisis DRP tidak SOAP memakan waktu Tindak lanjut rekomendasi sulit dipantau Temuan Utama Riwayat PTO sulit ditemukan Data obat dan pasien tersebar Apoteker perlu template baku Status rekomendasi tidak Fitur yang Dibutuhkan Fitur histori PTO Checklist DRP berbasis PCNE Template SOAP Rencana fitur tracking Perancangan dan Pengembangan Aplikasi PTO Perancangan aplikasi disesuaikan dengan masukan hasil analisis kebutuhan apoteker pelaksana PTO. Aplikasi ini diintegrasikan dengan rekam medis elektronik (RME) yang akan dijalankan di RSUDZA dengan tujuan menyederhanakan alur kerja apoteker dan menghasilkan inovasi RME yang mampu merekam pekerjaan kefarmasian dengan lengkap. Aplikasi ini diberi nama MedSIP yang merupakan singkatan dari AuMedication System for Information and Monitoring TherapyAy. Hasil rancangan aplikasi dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Workflow Aplikasi PTO Tahapan dalam penggunaan aplikasi mengikuti workflow seperti pada Gambar 3. Diawali dengan login menggunakan nomor induk pegawai (NIP) atau nomor registrasi yang telah terdaftar sebelumnya (Gambar 3 . Selanjutnya apoteker dapat mengakses daftar pasien rawat Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. inap dan dilakukan pemilihan nama dan nomor rekam medis pasien (Gambar 3 . Kemudian, apoteker memasuki halaman catatan medis pasien yang berisikan informasi menyeluruh pasien. Pada halaman ini bagian yang harus diisi oleh apoteker dimulai dari daftar instruksi medis farmakologis (DIMF) (Gambar 3 . Apoteker melakukan pengisian perkembangan pasien yang merupakan hasil visite dengan mengikuti aturan SOAP (Gambar 3 . Pada halaman DIMF, apoteker melakukan telaah ketepatan obat hingga potensi reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) (Gambar 3 . Setelah telaah, apoteker akan melakukan pemantauan terapi obat dengan halaman yang telah tersedia dalam aplikasi (Gambar 3 . Pengujian Aplikasi dan Evaluasi Kinerja Pengujian aplikasi dan evaluasi kinerja dilakukan dengan uji coba terbatas . ilot implementatio. pada ruang ZamAeZam untuk menilai kelayakan penggunaan awal, kesesuaian fitur dengan kebutuhan apoteker, serta indikasi awal efisiensi waktu pelaksanaan PTO. Terdapat beberapa penyesuaian terhadap aplikasi dengan kondisi lapangan dan kemudian menunjukkan penurunan waktu pelaksanaan PTO. Perbandingan durasi PTO sebelum dan sesudah implementasi MedSIP ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 2. Perbandingan Durasi PTO Sebelum dan Sesudah Implementasi Medsip Parameter Pasien dengan regimen tidak Pasien dengan regimen Durasi waktu PTO Sebelum Setelah Implementasi Implementasi 40 menit 20 menit 90 menit 40 menit Reduksi Waktu 55,6% Hasil pengujian menunjukkan penurunan durasi PTO sebesar 50Ae55,6% pada pasien dengan data klinis lengkap dan telah menggunakan rekam medis elektronik. Penurunan waktu ini diduga berkaitan dengan berkurangnya kebutuhan pencatatan ulang, kemudahan akses data pasien, tersedianya format SOAP terstruktur, serta klasifikasi DRP yang lebih sistematis melalui aplikasi. Temuan ini sejalan dengan Machado et al. , yang menekankan pentingnya sistem dokumentasi dan klasifikasi intervensi farmasis untuk meningkatkan standardisasi data dan keberlanjutan layanan farmasi klinis. Meskipun demikian, hasil diskusi lanjutan menunjukkan masih terdapat beberapa fitur yang perlu Responden mengharapkan integrasi referensi klinis . isalnya Lexicomp atau Drugs. , formularium rumah sakit, serta daftar restriksi obat untuk mendukung pengambilan keputusan terapi. Selain itu, pengembangan lanjutan berpotensi diarahkan pada fitur auto-flagging DRP berbasis data pasien, seperti dosis, interaksi obat, alergi, dan duplikasi terapi. Secara praktis, implementasi MedSIP berpotensi memperkuat dokumentasi pelayanan farmasi klinis, mendukung audit mutu, meningkatkan kesinambungan informasi antarprofesi, serta menyediakan basis data awal untuk evaluasi DRP. Agar implementasi berjalan optimal, rumah sakit perlu menetapkan regulasi penggunaan aplikasi, meningkatkan kepatuhan input data lintas profesi, dan memperkuat infrastruktur jaringan internal. Efisiensi waktu ini berpotensi meningkatkan jumlah pasien yang dapat dipantau oleh apoteker dalam satu hari pelayanan. Desiyana dkk. / Journal of Medical Science Vol. No. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, implementasi aplikasi masih terbatas pada satu ruang pilot, yaitu ruang Zam-Zam, sehingga belum merepresentasikan seluruh variasi pelayanan di rumah sakit. Kedua, pengisian data oleh berbagai profesi kesehatan belum konsisten, sehingga masih terdapat data yang tidak lengkap dan menyulitkan identifikasi pasien prioritas untuk Pemantauan Terapi Obat (PTO). Ketiga, evaluasi awal masih didominasi pendekatan deskriptif dan wawancara pengguna, sehingga hasil efisiensi waktu PTO perlu ditafsirkan secara hati-hati karena berpotensi dipengaruhi subjektivitas responden dan proses adaptasi pengguna. Keempat, kinerja aplikasi masih bergantung pada kualitas jaringan internal rumah sakit yang dapat memengaruhi akses dan sinkronisasi data. Dengan demikian, hasil penelitian ini merupakan temuan awal . ilot stud. yang perlu diperkuat melalui perluasan implementasi, peningkatan kualitas input data, penguatan infrastruktur, dan pengumpulan data prospektif pada tahap selanjutnya. Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan aplikasi MedSIP berbasis web dan Android untuk mendukung pelaksanaan PTO oleh apoteker rawat inap. Uji coba terbatas menunjukkan bahwa aplikasi berpotensi meningkatkan efisiensi PTO, ditandai dengan penurunan durasi telaah sebesar 50Ae 55,6%, dari 40Ae90 menit menjadi 20Ae40 menit pada pasien dengan data rekam medis elektronik yang lengkap. Selain itu, aplikasi memfasilitasi dokumentasi SOAP dan klasifikasi DRP secara lebih Secara keseluruhan. MedSIP berpotensi memperkuat pelayanan farmasi klinis di rumah Namun, implementasi lebih luas memerlukan dukungan regulasi, konsistensi input data lintas profesi, serta penguatan infrastruktur jaringan rumah sakit. Ucapan Terimakasih