Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Original Article Analysis of Posyandu Cadres' Skills at the Air Beliti Community Health Centre in Musi Rawas District Analisis Keterampilan Kader Posyandu Di Puskesmas Air Beliti Kabupaten Musi Rawas Hari Agus Pranata1. Akhmad Dwi Priyatno2. Lilis Suryani3. Helen Evelina4. Syarifah Nadya Assegaf5 1,2,3,4,5 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang *Corresponding Author: Hari Agus Pranata Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang Email: pranatahariagus@gmail. Keyword: Cadres. Posyandu. Skills Kata Kunci: Kader. Posyandu. Keterampilan A The Author. 2025 Article Info: Received : June 23, 2025 Revised : August 26, 2025 Accepted : September 3, 2025 Cendekia Medika: Jurnal STIKes AlMaAoarif Baturaja e-ISSN : 2620-5424 p-ISSN : 2503-1392 This is an Open Access article distributed under the terms of the Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License. Abstract In the era of Life Cycle Primary Care Confirmation, cadres are required to have Posyandu cadre skills. Posyandu cadre skills are very important to improve the quality of services in all life cycles ranging from infants and toddlers, pregnant women, adolescents, productive age and the elderly. Posyandu cadres in the Air Beliti Health Center area have never attended Posyandu cadre skills training. The research method uses a cross sectional design, the population is all posyandu cadres in 2025 using total sampling of 124 respondents. test used is chi square test and logistic regression and multiple linear regression. The results obtained pvalue variable age 0. 534 OR = 0. 787, variable education 0. 386 OR = 0. variable length of work 0. 260 OR = 0. 582, knowledge 0. 000 OR = 31. 182, cadre motivation 000 OR = 9. In conclusion, there is a significant relationship between the variables of knowledge and motivation of cadres, while the variables of age, education and length of service were not found to have a significant relationship with the skills of posyandu cadres. It is recommended that regular and continuous training be organized that focuses on the 25 basic skills of cadres, with a hands-on approach and evaluation of learning outcomes. Abstrak Era transformasi layanan primer siklus hidup, kader diwajibkan memiliki keterampilan kader posyandu. Keterampilan kader posyandu sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada semua siklus hidup mulai dari bayi dan balita, ibu hamil, remaja, usia produktif dan lansia. Kader Posyandu di Wilayah Puskesmas Air Beliti belum ada yang pernah mengikuti pelatihan keterampilan kader Posyandu. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional, populasi adalah seluruh kader posyandu tahun 2025 menggunakan total sampling berjumlah 124 responden. uji yang digunakan adalah uji chi square dan regresi logistik dan regresi linier berganda. Hasil penelitian didapatkan nilai pvalue variable usia 0,534 OR= 0,787, variable Pendidikan 0,386 OR= 0,642, variable lama kerja 0,260 OR= 0,582, pengetahuan 0,000 OR= 31,182, motivasi kader 0,000 OR= 9,701. Kesimpulannya ada hubungan yang significant antara variable pengetahuan dan motivasi kader, sedangkan variable usia. Pendidikan dan lama kerja tidak didapatkan hubungan yang significant dengan keterampilan kader posyandu. Sebaiknya diselenggarakan pelatihan rutin dan berkelanjutan yang fokus pada 25 keterampilan dasar kader, dengan pendekatan praktik langsung dan evaluasi hasil belajar PENDAHULUAN Posyandu Puskesmas mendekatkan layanan kesehatan umum kepada seluruh lapisan siklus hidup. Melalui peningkatan dan penguatan promosi dan pencegahan untuk sasaran seluruh siklus kehidupan serta peningkatan pemantauan wilayah setempat, posyandu berkontribusi pada transformasi layanan primer yang bertujuan untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam sistem kesehatan masyarakat Indonesia, masyarakat yang sangat penting adalah Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. Posyandu bertujuan untuk menyediakan layanan kesehatan dasar, terutama untuk siklus Posyandu terdiri dari kader yang kesehatan di tingkat desa. Kader posyandu memberikan vaksinasi, mengajarkan gizi, https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 dan mencegah dan mengobati penyakit . memenuhi standar sesuai dengan pedoman atau petunjuk teknis kesehatan. Peraturan Nomor 8 Tahun 2019 Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan menetapkan bahwa setiap orang yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan disebut sebagai kader. Kader posyandu memperoleh pengetahuan keterampilan dasar dibidang kesehatan. Mereka juga diberi tanda kecakapan yaitu terdiri dari tingkatan purwa, madya, dan utama. Pada Hari Kesehatan Nasional. Jambore Kader akan mengumumkan pemenang dari Lomba Kader dan Posyandu Berprestasi dalam bidang kesehatan. Pelatihan yang dirancang dengan baik, didukung oleh supervisi yang efektif dan keterlibatan komunitas, telah terbukti meningkatkan motivasi, kinerja, dan keberlanjutan program kader kesehatan Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Myller. , et al. Afrika Selatan menunjukkan bahwa CHWs yang menerima pelatihan tambahan dan supervisi yang lebih baik melaporkan peningkatan kepuasan kerja dan motivasi. Namun, tantangan seperti kurangnya sumber daya dan supervisi yang tidak konsisten masih menjadi hambatan dalam implementasi program yang efektif . Fakta bahwa jumlah Posyandu telah meningkat menjadi lebih dari 300. 000 pada tahun 2023 menunjukkan bahwa Posyandu muncul dari masyarakat oleh masyarakat untuk masyarakat. Bidang kesehatan memiliki potensi untuk menjangkau lebih dari 270 juta orang Indonesia melalui tindakan pencegahan dan promotif, mendekatkan layanan kesehatan kepada Posyandu memberikan layanan yang baik kepada semua orang selama siklus hidup mereka, termasuk ibu hamil, bayi balita, anak prasekolah, usia sekolah, remaja, dewasa, dan lansia. Pelayanan posyandu terintegrasi bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan sosial dasar kepada masyarakat dan untuk menata dan mengintegrasikan pos kesehatan yang bersifat programatik. Dengan demikian, jejaring Puskesmas yang terdiri dari Polindes. Poskesdes. Posyandu. Puskesmas Pembantu (Pust. dan Posyandu dapat disesuaikan dan diperkuat. Layanan sosial dasar diberikan kepada masyarakat oleh lembaga kemasyarakatan desa atau kelurahan posyandu. Posyandu telah pemerintah untuk meningkatkan kualitas Namun demikian, penerapan Di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan, peran kader Posyandu sangat penting untuk pelayanan kesehatan. Kader Posyandu adalah relawan yang terlatih untuk membantu dan memberi tahu orangorang tentang kesehatan, terutama tentang kesehatan ibu dan anak. Pos Pelayanan Terpadu, atau posyandu, memainkan peran penanggulangan masalah kesehatan di tingkat lokal . Kader sangat penting dalam program kesehatan berbasis masyarakat. Kader dapat mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan Kader Posyandu seringkali tidak memiliki kemampuan baik. Banyak kader tidak menerima pelatihan formal yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada mereka. Ini dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk kurangnya pelatihan yang terorganisir dan berkualitas, terbatasnya waktu yang disediakan untuk pelatihan, dan metode pelatihan yang tidak menarik dan interaktif. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kemampuan kader Posyandu agar mereka dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Puskesmas dan lembaga terkait sangat memperhatikan pentingnya pelatihan kader Posyandu yang efektif. Selain meningkatkan pengetahuan kader tentang pentingnya pelayanan kesehatan semua siklus hidup, keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung di lapangan . Data yang didapat di Puskesmas Air Beliti pada tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 27,41 % kader pernah dilatih terkait tanaman obat keluarga, namun untuk pelatihan 25 keterampilan yang harus dimiliki kader posyandu, dari 124 kader belum ada yang pernah mengikuti pelatihan Kader yang tidak terlatih akan mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya, pencatatan status gizi, penyuluhan, dan rujukan kasus. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan dalam penilaian kesehatan anak, keterlambatan deteksi stunting, serta terhadap perilaku hidup sehat . Sebagai memberikan pembinaan kepada Posyandu. Puskesmas Air Beliti harus menemukan solusi yang efektif untuk pelatihan kader. Puskesmas bertanggung jawab untuk masyarakat, sehingga harus memastikan bahwa kader dilatih dengan cara yang efektif, terorganisir, dan menyenangkan. Dengan demikian, implementasi pelatihan peningkatan keterampilan kader Posyandu memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia. Pelatihan yang terstruktur, kebutuhan lokal dapat memberdayakan kader, meningkatkan kualitas layanan, dan pada akhirnya, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kader yang lebih percaya diri dan terampil akan lebih baik membantu meningkatkan kesehatan semua siklus hidup di wilayah Puskesmas Air Beliti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan kader posyandu di Puskesmas Air Beliti. Penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi baru tentang faktor yang mempengaruhi keterampilan kader posyandu untuk meningkatkan kualitas kader Posyandu serta peran mereka dalam meningkatkan layanan kesehatan di Dengan memahami pentingnya keterampilan kader, diharapkan kader Posyandu yang lebih mahir, profesional, dan siap memberikan layanan yang lebih baik kepada semua siklus hidup di lingkungan METODE Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Air Beliti Tahun 2025 dan menggunakan total sampling didapatkan sampel berjumlah 124 kader. Analisa yang digunakan adalah univariat, bivariat mengeksplorasi hubungan antara dua variabel yang dianalisis yaitu hubungan antara usia, pendidikan kader, lama kerja kader, pengetahuan kader dan motivasi dengan keterampilan kader. Metode Analisis yang digunakan Adalah Analisa univariat dan pada analisa bivariat adalah uji statistik menggunakan chi square, variabel yang dianalisis yaitu hubungan antara usia, pendidikan kader, lama kerja kader, pengetahuan kader dan motivasi dengan keterampilan kader. Sedangkan analisa multivariat uji statistik yang digunakan regresi logistik dan regresi linier HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Hasil analisis univariat diperoleh variabel independen yaitu karakteristik responden https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 yaitu usia. Pendidikan, lama kerja sebagai peningkatan keterampilan kader posyandu, diperoleh hasil sebagai berikut. keterampilan kader posyandu, motivasi Variabel Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Kader di Puskesmas Air Beliti Kategori Usia Usia Muda Usia Tua Pendidikan Pendidikan Dasar Pendidikan Tinggi Lama Kerja Singkat . -10 tahu. Panjang ( lebih dari 10 Pengetahuan Baik Kurang Keterampilan Kader Baik Kurang Motivasi Kader Tinggi Rendah Jumlah Persentase % Dari tabel 1 dapat dilihat dari 124 kurang 67 . %) dan motivasi kader rendah 69 . ,6%). responden lebih banyak yaitu usia muda 84 . ,7%), pendidikan tinggi 105 . ,7%). Analisa Bivariat lama kerja singkat . Ae10 tahu. berjumlah 103 . ,1%), berpengetahuan yang kurang Analisa ini melihat hubungan antar variabel 64 . ,6%), keterampilan kader yang Tabel 2. Hubungan Karakteristik Kader Dengan Keterampilan Kader Keterampilan Kader Baik Usia Muda Tua Pendidikan Dasar Pendidikan Tinggi Lama Kerja Singkat Panjang Pengetahuan Baik Kurang Motivasi Kader Tinggi Rendah p Value Kurang Jumlah 0,534 0,787 0,386 0,642 0,260 0,582 0,000 31,182 0,000 9,701 https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 2: September 2025 Analisa Multivariat logistik sederhana tahap seleksi bivariat, dari ke dua variabel independen jika pvalue < 0,25, variabel tersebut dimasukkan secara langsung ke tahap permodelan analisis multivariat namun sebaliknya, jika pvalue > 0,25, variabel tersebut tidak dimasukkan ke analisis multivariat. Analisis multivariat digunakan untuk mengevaluasi lebih dari dua variabel secara bersamaan dan menentukan variabel yang keterampilan kader Dalam uji regresi Tabel 3. Analisis Regresi Logistik Sederhana Tahap Seleksi Bivariat Variabel p Value 0,534 0,386 0,260 0,000 0,000 Usia Pendidikan Lama kerja Pengetahuan Motivasi Kader Hasil analisis bivariat diatas, dua variable independen memiliki nilai p < 0,25, diperoleh dua variabel, maka dengan demikian dua variabel diatas memenuhi syarat untuk dilanjutkan dalam analisis Tabel 4. Permodelan Akhir Regresi Logistik Berganda Variabel Independen dengan Keterampilan Kader Posyandu Variabel Step 1a Pengetahuan Motivasi Konstanta 3,129 1,781 -7,223 Value 0,000 0,001 0,000 95% CI 22,847 5,935 0,001 8,015 Ae 65,127 2,086 Ae 16,890 Cox Snell Square Nagelkerke R Square = 0,620 Model Regresi logistiknya: Z = -7,223 3,129 (Pengetahua. 1,781 (Motivas. Z = -7,223 3,129 . 1,781 . Z = -2,313 Probabilitas keterampilan kader posyandu : Probabilitas = Pengetahuan Motivasi P = 1 / 1 yceOeyc = 1 / 1 2,72Oe(Oe2,. = 0,09005 . ,01%) Artinya, pengetahuan yang baik dan memiliki motivasi yang tinggi maka kemungkinan memiliki keterampilan baik adalah 9,01%. Pada tabel 4 diatas diperoleh nilai Cox & Snell R Square 0,46 atau 46 %. Hal ini berarti pengetahuan dan motivasi kader kemungkinan kejadian peningkatan keterampilan kader di puskesmas Air Beliti 0,464 Kecamatan Tuah Negeri tahun 2025, sebesar adalah 46%, sedangkan sisanya merupakan pengaruh faktor lain diluar penelitian ini. Analisis hubungan usia kader posyandu dengan keterampilan kader posyandu di Puskesmas Air Beliti Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,534 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia kader dan keterampilan. Odds Ratio (OR) = 0,787. Nilai ini menunjukkan bahwa kader muda memiliki kemungkinan 0,787 kali . tau 21,3% lebih renda. untuk memiliki keterampilan baik dibandingkan kader tua. Namun, karena p-value tidak signifikan, maka nilai OR ini tidak dapat dianggap bermakna secara statistik. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Meskipun secara persentase kader usia tua tampak sedikit lebih banyak memiliki keterampilan baik dibandingkan kader muda, namun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna . = 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa usia bukan faktor yang dominan dalam memengaruhi keterampilan kader posyandu pada penelitian ini Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wulandari . , yang menemukan bahwa tidak ada korelasi signifikan antara usia pelatihan . Penemuan ini diperkuat oleh penelitian Yuliana dan Setyowati . , yang menemukan bahwa kader yang lebih tua masih mampu menyerap materi pelatihan dengan baik selama mereka menerima dukungan dan motivasi yang tepat. Teori andragogi yang dibuat oleh Henschke . menyatakan bahwa orang dewasa belajar paling efektif ketika belajar bersifat Materi hubungan langsung dengan dunia kerja atau kehidupan nyata. Belajar didasarkan pada pengalaman sebelumnya, dan Mereka merasa dihargai saat belajar. Dalam konteks kader posyandu, baik kader muda maupun keterampilan apabila pelatihan melibatkan praktik langsung, diskusi kelompok, dan studi kasus yang relevan bukan hanya ceramah pasif. Peneliti mengasumsikan bahwa usia bukan Hal ini dapat disebabkan oleh pelatihan dan pengalaman yang merata antar usia, atau mungkin faktor lain seperti motivasi, atau partisipasi dalam kegiatan pelatihan lebih memengaruhi keterampilan kader daripada usia semata. Analisis hubungan pendidikan kader posyandu dengan keterampilan kader posyandu di Puskesmas Air Beliti Hasil analisis hubungan antara tingkat pendidikan kader posyandu dengan keterampilan kader. Nilai p sebesar 0,386 (> 0,. menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik keterampilan kader posyandu. Nilai Odds Ratio (OR) = 0,642, menunjukkan bahwa kader dengan pendidikan dasar memiliki kemungkinan 0,642 kali untuk memiliki keterampilan baik dibandingkan dengan kader berpendidikan tinggi. Namun karena nilai p tidak signifikan, perbedaan ini tidak bermakna secara statistik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Imansari dkk . menunjukkan bahwa sebelum intervensi pendidikan gizi dan kesehatan, tidak terdapat perbedaan signifikan dalam skor keterampilan antara kelompok intervensi dan kontrol . > 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor seperti pendidikan formal mungkin tidak keterampilan kader sebelum adanya intervensi khusus. Teori andragogi yang dijelaskan Malcolm Knowles. 2015 bahwa Orang dewasa belajar berdasarkan pengalaman, bukan sekadar dari pendidikan formal. Mereka lebih termotivasi jika pembelajaran relevan, aplikatif, dan berbasis pemecahan masalah. Faktor pengalaman kerja, dan pelatihan langsung lebih berpengaruh daripada tingkat pendidikan formal. Meskipun kader memiliki pendidikan rendah, jika mereka sering dilatih dan aktif, keterampilan mereka tetap bisa meningkat signifikan. Setelah penelitian, peneliti berasumsi posyandu, banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi keterampilan kader. Faktor lapangan, dan motivasi kader lebih dominan dalam memengaruhi keterampilan. Hal ini https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 dapat menjelaskan mengapa kader dengan pendidikan rendah pun masih bisa memiliki keterampilan baik. Analisis hubungan lama kerja dengan keterampilan kader posyandu di Puskesmas Air Beliti Hasil analisis Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,260, hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik kerja kader dengan keterampilan kader posyandu. Odds Ratio (OR) = 0,582, menunjukkan bahwa kader dengan lama kerja singkat memiliki kemungkinan 0,582 kali untuk memiliki keterampilan baik dibandingkan dengan kader yang memiliki lama kerja panjang. Meskipun secara numerik menunjukkan kecenderungan namun karena p-value > 0,05, maka hasil ini tidak signifikan secara Penelitian ini sejalan dengan temuan Yuliana . yang mengungkapkan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader tidak semata-mata melainkan lebih ditentukan oleh frekuensi pelatihan dan motivasi belajar kader . Teori pembelajaran berbasis kompetensi (Competency-Based Learning Theor. teori ini menyatakan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan tidak hanya dipengaruhi oleh pengalaman . ama kerj. , tetapi juga ditentukan oleh seberapa Kompetensi terbentuk bila seseorang mendapatkan pembelajaran berbasis tujuan yang jelas, evaluasi berkala, dan umpan balik yang berkelanjutan. Tanpa intervensi pembelajaran yang sistematis, seperti pelatihan berkala dan evaluasi karyawan tidak akan signifikan. Peneliti berasumsi bahwa lama kerja bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keterampilan kader. Kader dengan lama kerja singkat kemungkinan lebih aktif mengikuti pelatihan terbaru, lebih antusias belajar, atau lebih terbuka terhadap Perbedaan hasil ini bisa dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak pelatihan yang diikuti, atau motivasi Analisis hubungan Pengetahuan dengan keterampilan kader posyandu di Puskesmas Air Beliti Hasil analisis uji statistik . = 0,. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan kader dengan keterampilan kader posyandu. Nilai Odds Ratio (OR) = 31,182, artinya kader yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 31 keterampilan yang baik dibandingkan kader yang memiliki pengetahuan kurang. Nilai OR yang sangat tinggi ini mengindikasikan hubungan yang sangat kuat. Penelitian ini sejalan dengan Penelitian dilakukan oleh Sari et al. menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan keterampilan kader Posyandu, namun keterampilan lebih besar terjadi pada kader yang sebelumnya memiliki pengetahuan rendah, terutama setelah diberikan pelatihan intensif. Penelitian serupa juga Rahmawati . menemukan bahwa keterampilan kader tidak selalu linier dengan tingkat pengetahuan awal, melainkan lebih dipengaruhi oleh intensitas pelatihan dan motivasi kader itu sendiri. Peneliti pengetahuan merupakan faktor kunci dalam menentukan keterampilan kader Kader menerapkan informasi, mengikuti prosedur dengan benar, dan menangani tugas di lapangan secara efektif. https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 Analisis hubungan Motivasi dengan keterampilan kader posyandu di Puskesmas Air Beliti bermotivasi rendah mungkin disebabkan oleh kurangnya minat, kelelahan, atau tidak adanya insentif yang cukup. Hasil analisis Nilai p value = 0,000. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan secara statistik antara motivasi kader dengan keterampilan kader posyandu. Nilai Odds Ratio (OR) = 9,701, yang berarti kader dengan motivasi tinggi memiliki peluang 9,7 kali lebih besar dibandingkan kader dengan motivasi Nilai OR yang tinggi ini mengindikasikan hubungan yang kuat antara motivasi dan keterampilan. Faktor dominan yang berhubungan dengan keterampilan kader Setyawati et al. juga memiliki hasil yang sama pada penelitiannya, menemukan bahwa kader Posyandu dengan tingkat motivasi tinggi cenderung lebih aktif mengikuti pelatihan dan lebih mampu menerapkan keterampilan dalam pelayanan kesehatan Masyarakat . Penelitian lain juga menyatakan Indriyani et al. dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional menyebutkan bahwa motivasi kader sangat berperan penting dalam peningkatan kompetensi dan kualitas pelayanan Posyandu. Teori Self-Regulated Learning (SRL) Zimmerman . menyoroti kemampuan individu untuk mengatur sendiri proses belajar mereka, termasuk menetapkan memotivasi diri. Dalam SRL, motivasi adalah komponen kunci yang mengarahkan untuk pemilihan strategi belajar yang efektif, ketekunan saat menghadapi kesulitan, refleksi setelah belajar. Hasil Motivasi merupakan faktor kunci dalam peningkatan kapasitas kader Posyandu. Intervensi peningkatan motivasi seperti pelatihan, penghargaan, dan pendampingan rutin pelaksanaan tugas kader. Rendahnya peningkatan pengetahuan pada kader Dari hasil akhir analisis multvariat terdapat variabel yang paling dominan terhadap keterampilan kader posyandu di puskesmas Air Beliti Beliti Kecamatan Tuah Negeri Pengetahuan dan motivasi keterampilan kader posyandu, dengan pvalue < 0,05. Zahara. , & Syafitri. juga sejalan dengan hasil penelitian ini, ditemukan bahwa pengetahuan dan motivasi kader peningkatan kinerja, termasuk kemampuan dalam menerapkan keterampilan dasar Posyandu . Pengetahuan kader sebagai fondasi utama, serta motivasi sebagai pendorong internal, terbukti memiliki hubungan signifikan terhadap peningkatan kualitas layanan kader. Pengetahuan yang tinggi dimiliki oleh kader Posyandu akan meningkatkan kemampuan mereka dalam keterampilan dasar secara tepat dan efisien. Oleh karena itu, peneliti mengasumsikan bahwa pengetahuan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan kader dalam pelaksanaan tugasnya. Motivasi kader, baik intrinsik . eperti rasa tanggung jawab, kebanggaan menjadi kade. maupun ekstrinsik . eperti insentif, dukungan dari petugas kesehata. , berperan penting dalam mendorong kader untuk terus belajar, mengikuti pelatihan, dan mengaplikasikan keterampilan yang dimiliki. Peneliti mengasumsikan bahwa motivasi menjadi penguat dari pengetahuan yang sudah dimiliki kader KESIMPULAN Penelitian ini mendapatkan kesimpulan tidak pada hubungan usia, pendidikan, lama kerja terhadap keterampilan kader posyandu sedangkan untuk variabel lainnya https://jurnal. id/index. php/ cendekia_medika / Cendekia Medika: Jurnal STIKes Al-MaAoarif Baturaja Volume 10 Number 1: April 2025 didaptkan ada hubungan pengetahuan dan motivasi terhadap keterampilan kader Variabel paling dominan yang posyandu di Pukesmas Air Beliti Kecamatan Tuah Negeri Kab. Musi Rawas Tahun 2025 yaitu Pengetahuan dan Motivasi. Simulasi. Jmm (Jurnal Masyarakat Mandir. :678. Pratiwi N Et Al. Kinerja Kader Tanpa Pelatihan Dan Dampaknya Terhadap Kesalahan Pengukuran Gizi Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Wulandari R. Pengaruh Pelatihan Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Yuliana D, & Sa. Hubungan Usia Dengan Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu Setelah Pelatihan. Jurnal Keperawatan Indonesia, 22. 98Ae10. Henschke Ja. The Depth Of Andragogy For Lifelong Learning. In Adult Education And Lifelong Learning. Imansari A. Ms, & Kl. Pengaruh Pendidikan Gizi Dan Kesehatan Terhadap Keterampilan Kader Dalam Pemantauan Pertumbuhan Dan Konseling Di Posyandu. Sekolah Pascasarjana. Ipb University. Anderson Lw, & Kdr. Taxonomy For Learning. Teaching. And Assessing: A Revision Of BloomAos Taxonomy Of Educational Objectives. Sari Rp. H& Wa(. Hubungan Antara Motivasi Dengan Partisipasi Kader Dalam Kegiatan Posyandu. Jurnal Ilmu Keperawatan. :45Ae51. Rahmawati I. Pengaruh Pelatihan Terhadap Peningkatan Keterampilan Kader Posyandu Di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar. Jurnal Ilmu Kesehatan. :45Ae52. Setyawati R. Et Al. Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Kader Posyandu. SARAN Disarankan untuk meneliti lebih lanjut faktor-faktor memengaruhi keterampilan kader, seperti dukungan keluarga dan media informasi. DAFTAR PUSTAKA